Kisah Musailamah Sang Pendusta

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Musailamah al-Kadzab mengaku dirinya sebagai nabi pada masa Nabi Muhammad SAW masih hidup. Awalnya, ia pemeluk Islam dari Yamamah di Jazirah Arab, yang dikenal sebagai orang yang memiliki sifat lemah lembut dalam bertutur, pandai bicara, dan menarik simpati. Bahkan di lingkungan sekitarnya, Musailamah al-Kadzab didukung oleh Bani Hanifah dan memiliki pengaruh cukup besar. Karena klaimnya sebagai nabi, Musailamah al-Kadzab terlibat dalam Pertempuran Yamamah bersama pasukan Amirul Mukminin Abu Bakar dan tewas di tangan Wahsyi bin Harb. Wahsyi telah mendapat hidayah sehingga dia menyatakan keimanannya. Dia yang menewaskan paman Nabi SAW, yaitu Hamzah. Adapun Musailamah bin Habib memperoleh julukan al-Kadzab karena dia seorang pembohong atau pendusta. Perkembangan pengikut Musailamah makin hari makin besar. Dengan kepercayaan diri, dia membuat kitab dengan harapan ada legitimasi. Namun para ahli seni menilai kitab tersebut tidak mempunyai nilai seni. Ajaran Musailamah al-Kadzab semakin berkembang hingga Nabi Muhammad SAW wafat pada 632 H. Selepas Nabi Muhammad SAW wafat, Musailamah dan pengikutnya makin membuat tidak menyenangkan pemimpin Islam di Madinah yang dipimpin oleh Amirul Mukminin Abu Bakar. Bahkan Musailamah menyerukan akan memerangi Madinah, yang saat itu menjadi pusat pemerintahan Islam. Menanggapi hal itu, Amirul Mukminin Abu Bakar kemudian mengutus panglima perangnya, Khalid bin Walid, beserta pasukannya untuk menumpas Musailamah dan pengikutnya. Rasulullah SAW bersabda, “Seorang hamba yang senantiasa berdusta dan terbiasa berdusta, akhirnya dicap di sisi Allah SWT sebagai pendusta.” Kemudian Nabi SAW melanjutkan, “Celakalah bagi orang-orang yang berbicara, kemudian dia berdusta, kemudian dia ditertawakan oleh manusia. Celakalah dia. Celakalah dia.” Seseorang bertanya pada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, mungkinkah seorang Mukmin itu berzina? Mungkinkah seorang Mukmin itu mencuri?” Rasulullah SAW menjawab, “Kadang-kadang bisa terjadi hal yang demikian itu (berzina dan mencuri).” Kemudian Rasulullah ditanya lagi, “Mungkinkah dia berdusta?” Beliau menjawab, “Tidak. Sesungguhnya dusta itu dibuat oleh orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah SWT.” Jelas dalam hadis tersebut ditegaskan bahwa pendusta itu disamakan sebagai hamba yang tidak mengimani ayat-ayat-Nya. Sedangkan orang mencuri dan berzina, merupakan tindakan khilaf (maksiat), tapi dia meyakini ayat-ayat-Nya.

Read More

Benarkah Ratu Kalinyamat Melakukan Tapa Telanjang

Jakarta — 1miliarsantri.net : Babad Tanah Jawi menyebut Ratu Kalinyamat melakukan tapa telanjang setelah suaminya dibunuh. Tim Pakar Ratu Kalinyamat menyatakan hal ini tidak bisa dimaknai secara harfiah. Tim pakar untuk pengusulan Ratu Kalinyamat sebagai pahlawan nasional ini diketuai oleh Prof Dr Ratno Lukito. Anggotanya terdiri dari Dr Alamsyah, Dr Chusnul Hayati, Dr Connie Rahakundini Bakrie, dan Dr Irwansyah. Menurut Tim Pakar Ratu Kalinyamat, tapa telanjang tidak ada dalam tradisi masyarakat Jawa. Ada 11 jenis tapa yang biasa dilakukan orang Jawa di masa lalu, di dalamnya tidak ada tapa telanjang. Orang Jawa memiliki pepatah: Jawa tapa, Landa guna, Cina banda, Arab agama. Artinya Orang Jawa memilih meninggalkan urusan duniawi, orang Belanda menginginan manfaat, orang Cina mencari kekayaan, orang Arab menyebarkan agama. Tim Pakar Ratu Kalinyamat mengutip catatan arkeolog Belanda J Knebel pada 1897 menyebutkan 11 jenis tapa yang dilakukan orang Jawa pada abad ke-16: Di daftar itu tidak ada tapa wuda (telanjang). Di daftar itu juga tidak ada tapa ngrowot, yaitu tapa dengan cara tidak makan nasi. Juga tidak ada tapa pati geni, yaitu bertapa dengan cara menghindari cahaya. Tapa ngebleng juga tidka masuk dalam daftar itu. tapa ngebleng adalah bertapa dengan cara tidak makan minum di tanggal-tanggal ganjil. Tapa berendam di pertemuan arus sungai, yang disebut tapa kungkum, juga tidak masuk dalam daftar itu. Pun tapa pendem, yaitu bertapa di dalam tanah, juga tidak ada dalam daftar. Apakah jenis tapa yang tidak ada dalam daftar yang disusun Knebel belum ada di abad ke-16? Tapa kungkum jelas sudah tua juga, karena Sunan Kalijaga melakukannya. Tapa, menurut Bausastra Jawa karya Poerwadarminta: nglakoni matiraga sarta sumingkir saka ing alam rame (menjalani matiraga dan menjauh dari pergaulan masyarakat). Matiraga artinya menahan hawa nafsu atau menjauhkan diri dari kesenangan duniawi. “Jadi, tapa wuda merupakan makna simbolik keikhlasan Ratu Kalinyamat untuk meninggalkan kemewahan duniawi yang didorong oleh penyerahan total kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,” tulis Tim Pakar Ratu Kalinyamat. Penulis Portugis Tome Pires yang bercerita mengenai Jawa, sedikit membahas tapa yang dilakukan orang Jawa. Menurut dia, ada sekitar 50 ribu oertapa laki-laki di Jawa pada masa itu. Tomes Pires mengumpulkan catatan pada 1512-1515 pada saat Jepara dipimpin Dipati Unus. Ratu Kalinyamat lahir pada tahun 1514 dan melakukan tapa telanjang pada 1549 atau 1550. Ternyata tapa ada alirannya. Meski tidak menyebutkan nama-nama alirannya, Tome Pires menyebut jumlahnya, ada 3-4 aliran.

Read More

Kajian Peran Ulama Dalam Sejarah Indonesia Menurut Beberapa Penulis

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Di Indonesia, kontribusi kaum ulama diakui sangat besar dalam konteks perjuangan, baik di lini pendidikan, sosial, dan bahkan politik kebangsaan. Sejarah mencatat, mereka berperan strategis, baik pada masa tumbuhnya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara pra-kolonial, masa penjajahan, maupun era kemerdekaan bahkan hingga saat ini. Ulama dan Kekuasaan merupakan salah satu buku yang merangkum narasi perjuangan ulama di Nusantara secara bernas dan mendalam. Karya guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Prof Jajat Burhanudin, ini mulanya merupakan disertasi yang dibuat sang penulis ketika menempuh studi S-3 di Leiden University (Belanda). Dengan karyanya itu, Prof Jajat bermaksud merevisi sejumlah historiografi Islam Indonesia modern yang muncul sebelumnya, yakni buah tangan para sejarawan sebelumnya yang telah menulis ihwal ketokohan ulama dalam pentas sejarah nasional. Sebut saja, The Modernist Muslim Movement in Indonesia 1900-1942 karya Deliar Noer (1973) atau Muhammadiyah: The Political Behavior of a Muslim Modernist Organization Under Dutch Colonialism karya Alfian (1989). Maka, Ulama dan Kekuasaan berusaha mengemukakan aspek-aspek yang sempat terabaikan dari studi-studi terdahulu tentang ulama Nusantara. Fokusnya mengungkapkan bagaimana proses historis yang membuat ulama memiliki fondasi intelektual dan sosial yang mapan. Buku tersebut diawali dengan pembahasan tentang peran ulama saat Nusantara masih berupa kerajaan-kerajaan Islam. Nusantara pra-kolonial—atau kerap disebut the lands below the wind (‘negeri di bawah angin’)—menampilkan eratnya hubungan antara kalangan raja (penguasa politik) dan ulama. Hal ini merujuk pada kesaksian para pengelana yang mengunjungi negeri-negeri Muslim di kepulauan tersebut. Misalnya, Ibnu Battuta yang melawat ke Samudra Pasai—kerajaan Islam pertama di Nusantara—pada 1345/1346. Penjelajah terbesar Arab itu, menurut Jajat, melaporkan bahwa Raja Samudra Pasai saat itu, Sultan Malik al-Zahir, amat gemar belajar Islam pada ulama. Di istana raja tersebut, kerap berlangsung diskusi keilmuan antara elite kerajaan dan alim ulama. Jajat berkesimpulan, Islam merupakan faktor yang tak terpisahkan dalam pembentukan kerajaan-kerajaan di Nusantara sebelum datangnya masa kolonialisme Eropa. Hasilnya, lanjut dia, pandangan politik yang berpusat pada raja menjadi basis kultural bagi pembentukan diskursus intelektual Islam sepanjang periode pra-kolonial. Otoritas politik raja pun diwarnai narasi-narasi agama. Dalam membahas Nusantara era kerajaan-kerajaan Islam, Jajat juga menghubungkan keadaan saat itu dengan Tanah Suci. Bagi raja-raja dan alim ulama Muslim Nusantara, Makkah dan Madinah memiliki posisi penting dalam horizon pemikiran mereka. Jajat membahas ketokohan beberapa ulama Nusantara pada masa itu yang mengadakan rihlah keilmuan hingga ke Tanah Suci. Mereka antara lain adalah al-Raniri (wafat 1608), Abdurrauf al-Sinkili atau Abdurrauf Singkel (1615-1693), serta Yusuf al-Makassari (1627-1699). Menurut Jajat, mereka menjadikan daulat kerajaan sebagai tempat untuk melancarkan misi pembaruan agama Islam. Ide-ide pembaruan itu pun diperoleh terutama saat masing-masing menuntut ilmu di kota kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada masa ini, pengaruh alim ulama di lingkungan istana kerajaan tak lepas dari adanya jabatan kadi. Menurut Jajat, lembaga kadi kian mapan pada abad ke-17, misalnya di Aceh atau Banten. Dalam kasus Kerajaan Aceh, di samping kadi juga terdapat lembaga lain yang bertugas memberi nasihat kepada raja. Syaikhul Islam, demikian nama lembaga itu, menunjukkan besarnya pengaruh intelektual Muslim di lingkungan istana. Salah satu tokoh syaikhul Islam yang terkemuka di Aceh ialah Hamzah Fansuri (wafat 1590). Memasuki era kolonialisme, Jajat menunjukkan adanya pembentukan elite Muslim baru. Keadaan itu tak lepas dari peran jaringan ulama Nusantara yang mengadakan rihlah atau bahkan mengajar di Tanah Suci. Mereka berkontribusi dalam mengintegrasikan Islam di Hindia Belanda—sebutan bagi Nusantara kala dicengkeram kolonialisme—ke dalam arus perkembangan Islam di Timur Tengah. Ulama-ulama Jawi yang pulang ke Tanah Air kerap membentuk suatu kelompok sosial yang berorientasi pada pemahaman Islam. Kalangan ulama juga turut andil dalam upaya melawan kolonialisme. Pada akhir abad ke-18, Makkah menjadi pusat gerakan puritan Wahhabi. Jajat menjelaskan, gerakan tersebut menjadi wadah intelektual dan politik Islam di Makkah. Pada gilirannya, Wahhabi mengilhami munculnya “gerakan reformis Islam pra-modern”—demikian Jajat meminjam istilah dari Fazlur Rahman (1966). Ulama-ulama Nusantara yang terpengaruh Wahhabi memunculkan peristiwa-peristiwa letupan perlawanan terhadap pemerintah kolonial. Misalnya, kasus Gerakan Padri di Sumatra Barat (1807-1832). Gerakan itu muncul saat tiga ulama Minangkabau kembali dari Makkah pada 1803. Mereka adalah Haji Miskin, Haji Sumanik, dan Haji Piobang.

Read More

Beberapa Tokoh Muhammadiyah Yang Mendapat Gelar Pahlawan Nasional

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Persyarikatan Muhammadiyah yang berdiri pada 18 November 1912 tercatat sebagai salah satu organisasi Islam yang berjasa besar dalam mencapai kemerdekaan Republik Indonesia. Organisasi yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan ini melahirkan banyak tokoh pahlawan nasional yang kiprahnya sangat penting bagi bangsa baik saat masa perjuangan kemerdekaan dan pasca kemerdekaan. Siapa saja mereka? 1)KH. Ahmad Dahlan Pendiri Persyarikatan Muhammadiyah ini ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada tanggal 27 Desember 1961 dalam SK nomor 657 tahun 1961. Data pahlawan nasional Kementerian Sosial menyebut Kiai Dahlan memilih lapangan sosial dan pendidikan sebagai medan bakti. Ahmad Dahlan juga terkenal sebagai tokoh yang berpikiran terbuka. Sebelum mendirikan Muhammadiyah, Kiai Dahlan aktif di organisasi yang berdasarkan nasionalisme Budi Utomo juga berkecimpung di Sarikat Islam. Dari kiprah dan pengabdiannya, Kiai Dahlan dikategorikan sebagai pelopor kebangkitan dan kesadaran rakyat yang menyadari nasib dirinya sebagai bangsa terjajah dan tertinggal dalam berbagai hal. 2)Nyai Hj. Walidah Dahlan Ia diangkat menjadi pahlawan nasional karena turut membangkitkan pembaharuan Islam, pergerakan perempuan, dan pendidikan nasional melalui organisasi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Data pahlawan nasional Kementerian Sosial menyebut Siti Walidah sebagai pemrakarsa perkumpulan Sopo Tresno (1914) yang mementingkan 3 bidang yaitu dakwah, pendidikan, dan sosial. Sopo Tresno ini kemudian melebur menjadi Aisyiyah. Bagian wanita dari Persyarikatan Muhammadiyah. Aisyiyah terus berkembang dengan berbagai aksi sosial lewat badan-badan yatim-piatu, fakir miskin, pemberantasan buta huruf dan sebagainya. Saat ini Aisyiyah sudah mempunyai 3 Perguruan Tinggi dan beberapa Rumah Sakit. Siti Walidah banyak menginspirasi dan menyadarkan kaum perempuan agar terus menuntut ilmu dan berbuat lebih banyak untuk sesama. Kodrat diri sebagai perempuan tidak boleh menjadi penghalang untuk berbakti kepada sesama. Siti Walidah biasa memberikan ceramah ke berbagai daerah yang jauh dari kediamannya di Yogyakarta. Siti Walidah ditetapkan sebagai pahlawan nasional sepuluh tahun setelah Kiai Dahlan ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Yaitu lewat SK nomor 042 / TK / 1971 yang bertarikh 22 September 1971. 3)H Agus Salim Diplomat yang menguasai banyak bahasa ini adalah Ketua Syarikat Islam setelah HOS Tjokroaminoto. Jelang kemerdekaan Agus Salim menjadi anggota BPUPKI dan anggota Panitia Sembilan. Sejak awal kemerdekaan Agus Salim aktif dalam bidang diplomasi sebagai Menteri Luar Negeri. Diplomat cerdas berjenggot khas ini, dikenal sebagai anggota Muhammadiyah. Pada zaman kepemimpinan Kiai Dahlan, dalam suatu forum Agus Salim mengusulkan agar Muhammadiyah mengubah dirinya menjadi Partai Politik. Usul itu ditolak oleh Kiai Dahlan. Agus Salim dikukuhkan sebagai pahlawan nasional melalui SK nomor 657 Tahun 1961 bertanggal 27 Desember 1961. 4)dr. Soetomo Jamak diketahui kalau nama Dokter Soetomo tidak dipisahkan dengan Perkumpulan Budi Utomo yang dirintisnya. Di balik itu pengetahuan umum itu, Dokter Sutomo juga akrab dengan Ketua Umum PB Muhammadiyah, Mas Mansyur. Bahkan, sejak tahun 1925 hingga akhir hayatnya Dokter Sutomo tercatat sebagai medisch adviseur (penasehat urusan kesehatan) Muhammadiyah. Tokoh yang namanya tidak dapat dipisahkan dari proses pendirian RS PKU Muhammadiyah Surabaya ini dikukuhkan sebagai pahlawan nasional melalui SK nomor 657 Tahun 1961 bertanggal 27 Desember 1961. 5)H. Djuanda Kartawidjaya Kesempurnaan kedaulatan wilayah NKRI adalah jasa Djuanda lewat apa yang dikenal dengan deklarasi Djuanda (1957). Deklarasi yang mengubah hukum laut internasional sekaligus mengutuhkan kedaulatan NKRI. Berkat deklarasi Djuanda, seluruh wilayah NKRI menjadi bulat dan utuh dalam satu kesatuan wilayah NKRI. Wilayah NKRI tidak lagi terpisahkan perairan international. Guru Sekolah Muhammadiyah yang sangat mencintai Muhammadiyah ini dikukuhkan sebagai pahlawan nasional dengan SK bertanggal 29 November 1963, nomor 244 Tahun 1963. 6)KH. Mas Masyur Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah (1937-1942) ini merupakan Pemrakarsa berdirinya Partai Islam Indonesia (bersama Dr Sukiman Wiryasanjaya). Di masa pergerakan kemerdekaan, Mas Mansyur dikenal sebagai salah satu dari tokoh empat serangkai tokoh nasional yang sangat diperhitungkan. Tiga tokoh lain anggota empat serangkai yang melegenda itu adalah: Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ki Hadjar Dewantara. Di Muhammadiyah, Mas Mansyur dikenang sebagai tokoh yang menekankan disiplin organisasi dan pelopor gerakan tepat waktu. Karena PB Muhammadiyah telah memiliki kantor tersendiri juga perlengkapannya, maka segala urusan Muhammadiyah harus diselesaikan di kantor Muhammadiyah, bukan di rumah pribadi pengurus. Demikian juga ketika suatu acara sudah terlambat dimulai lebih dari dua puluh menit, maka acara itu lebih baik dibubarkan dan harus diagendakan ulang di waktu yang lain. Ketua Majelis Tarjih Muhammadiyah Pertama ini dikukuhkan sebagai pahlawan nasional dengan SK nomor 162 Tahun 1964 bertanggal 26 Juni 1964. 7) KH. Fakhruddin Pahlawan Nasioal yang dikukuhkan lewat SK tanggal 26 Juni 1964 nomor 162 Tahun 1964 ini merupakan Pemimpin Redaksi Majalah Suara Muhammadiyah yang pertama. Majalah Suara Muhammadiyah sendiri terbit pertama kali pada bulan Agustus tahun 1915 (Syawal 1333H). Fakhrudin juga dikenal sebagai perintis berdirinya Badan Penolong Haji Indonesia. Sekaligus perunding dalam Negosiasi untuk Perlindungan Jamaah Haji dari Indonesia. Di dunia pergerakan rakyat, murid Kiai Dahlan juga sering memimpin pemogokan kaum buruh, oleh karenanya Fakhrudin juga dikenal sebagai Si Raja Mogok. 8) Jenderal Soedirman Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia Pertama ini adalah kader sejati Muhammadiyah, tergembleng lewat Kepanduan Hizbul Wathan. Panglima Perang yang sulit diajak berkompromi ini juga Guru dan Kepala Sekolah Hollandsch-Inlansche School (HIS) Muhammadiyah Cilacap. Juga tercatat sebagai Wakil Ketua Pemuda Muhammadiyah Karesidenan Banyumas. Pada tanggal 19 Desember 1948, Belanda melancarkan Agresi Militer II untuk menduduki Yogyakarta. Namun, pada saat para pemimpin politik nasional berlindung di Kraton Kasultanan Yogyakarta. Sudirman beserta sekelompok kecil tentara, memilih hengkang ke luar kota, ke arah selatan dan memulai perlawanan gerilya. Perlawanan ini merupakan perlawanan paling bersejarah yang tercatat dalam masa perang pasca proklamasi 1945. Kader Pandu HW ini dikukuhkan sebagai pahlawan Nasional melalui SK nomor 314 Tahun 1964 bertangga 10 November 1964. 9) Otto Iskandardinata Pejuang Kemerdekaan Indonesia ini tercatat sebagai Anggota BPUPKI dan Sekretaris PPKI serta Menteri Negara membantu membentuk BKR. Pada tahun 1930 saat menjadi anggota Volksraad, Otto Iskandardinata mendapat julukan sebagai “Sijalak Harupat” karena keberaniannya. Otto Iskandar tercatat sebagai anggota PPKI yang mengusulkan agar Soekarno dan Hatta menjadi Presiden dan Wakil Presiden dalam sidang 18 Agustus 1945. Jagoan dari Bojongsoang Bandung yang juga Guru HIS Muhammadiyah Jakarta ini dikukuhkan sebagai pahlawan nasional melalui SK nomor 088 / TK / 1973 bertanggal 6 November 1973 10) Ir. Sukarno Presiden Pertama sekaligus Proklamator Kemerdekaan Indonesia ini merupakan Ketua Bagian Pengajaran Muhammadiyah Bengkulu, sekaligus Guru Sekolah Muhammadiyah di bumi raflesia tersebut. Saat di…

Read More

Agar Indonesia Mau Membuka Hubungan Diplomatik, Israel Pernah Merayu Gus Dur

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Selama merdeka, Indonesia konsisten menentang penjajahan Israel terhadap rakyat Palestina. Namun, Indonesia berkali-kali dirayu untuk membuka hubungan diplomatik dengan Israel, seperti permintaan kepada Presiden Gus Dur. Sejumlah negara di dunia memberikan dukungan kepada Israel, terutama yang memiliki hubungan mesra dengan negeri penjajag tersebut. Dukungan kepada Israel datang menyusul situasi di Jalur Gaza dan perbatasan wilayah pendudukan Zionis Israel sedang memanas, di mana Pejuang Hamas melancarkan serangan ke Tel Aviv yang dibalas oleh tentara Israel. Israel juga tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia. Karena itu, banyak rakyat Indonesia menentang penjajahan Israel terhadap bangsa Palestina. Bicara penolakan Israel, ada kisah lucu dari Presiden keempat RI, KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang disebut pernah berhasil “menggocek” Negeri Zionis tersebut. Diceritakan Ustadz Tengku Zulkarnain tentang kekagumannya kepada Gus Dur yang dinilainya sebagai sosok cerdas dan murah hati. Kecerdasan Gus Dur menurut Ustadz Tengku Zul bisa dilihat dari cara menjalin hubungan dengan negara-negara lain, termasuk Israel. “Saya tidak melihat Gus Dur pro Zionis,” tegas Ustadz Tengku Zul dalam sebuah video. Pernyataan Ustadz Tengku Zul berlandaskan kabar jika Gus Dur dekat dengan Israel, sampai-sampai cucu KH Hasyim Asyari itu disebut mendapatkan dana hibah dari Israel. Menurut Ustadz Tengku Zul, Gus Dur memang mendapatkan dana untuk membuat hubungan diplomatik dengan Israel. “Tapi, sampai beliau wafat dia enggak buat. Itu cerdasnya Gus Dur. Dia menolak halus dengan tidak membuat hubungan diplomatik antara RI-Israel,” kata Ustadz Tengku Zul. Israel pernah mendesak Gus Dur membuka hubungan diplomatik antara Israel-Indonesia. Namun Gus Dur berkilah dengan mengatakan bisa tapi sudah dan lama.

Read More

Warga Yahudi Sejak Kolonial Belanda Banyak Berdiam di Indonesia,

Surabaya — 1miliarsantri.net : Dengan judul Sahabat Akrab, foto Reuters yang dimuat sejumlah harian ibu kota pada 2006 memperlihatkan Menlu AS Condoleeza Rice berjabatan tangan dengan PM Israel Ehud Omert di Jerusalem. Keduanya tertawa-tawa, seolah-olah puas karena pasukan Israel berhasil melakukan pembunuhan massal terhadap rakyat Lebanon dan Palestina — kebanyakan di antaranya wanita dan anak-anak. Israel yang mendapat dukungan AS juga mempergunakan senjata-sernjata pemusnah massal yang dinyatakan terlarang oleh konvensi Jenewa. Amerika Serikat yang kini terus membela Israel, menolak gencatan senjata dan menghendaki penyerbuan sekutunya itu ke Lebanon tanpa menghiraukan berapa pun korban jiwa. Pakar hukum dari sebuah universitas ternama di AS tidak menyebutkan serangan Israel itu sebagai kejahatan perang. Itulah sikap negara imperialis yang mengklaim kampiun hak azasi manusia (HAM). HAM memang milik mereka, bukan milik kita. Sementara PBB tidak berdaya melihat kekejamaan di luar perikemanusiaan itu. Bung Karno pernah menyatakan PBB nyata-nyata menguntungkan Israel dan merugikan negara-negara Arab. Pernyataan itu dikemukakan saat Indonesia keluar dari organisasi dunia tersebut. Konon, warga Yahudi sudah sejak kolonial Belanda banyak berdiam di Indonesia, khususnya di Jakarta. Pada abad ke-19 dan 20 serta menjelang Belanda hengkang dari Indonesia, ada sejumlah Yahudi yang membuka toko-toko di Noordwijk (kini Jl Juanda) dan Risjwijk (Jl Veteran) — dua kawasan etlie di Batavia kala itu — seperti Olislaeger, Goldenberg, Jacobson van den Berg, Ezekiel & Sons dan Goodwordh Company. Mereka hanya sejumlah kecil dari pengusaha Yahudi yang pernah meraih sukses. Mereka adalah pedagang-pedagang tangguh yang menjual berlian, emas dan intan, perak, jam tangan, kaca mata dan berbagai komoditas lainnya. Sejumlah manula yang diwawancarai menyatakan, pada tahun 1930-an dan 1940-an jumlah warga Yahudi di Jakarta banyak. Jumlahnya bisa mencapai ratusan orang. Karena mereka pandai berbahasa Arab, mereka sering dikira keturunan Arab. Sedangkan Abdullah Alatas (saat saya wawancarai berusia 75 tahun) mengatakan, keturunan Yahudi di Indonesia kala itu banyak yang datang dari negara Arab. Maklum kala itu Zionis Israel yang merampas tanah Palestina belum terbentuk. Seperti keluarga Musri dan Meyer yang datang dari Irak. Di masa kolonial, warga Yahudi ada yang mendapat posisi tinggi di pemerintahan. Termasuk Gubernur Jenderal AWL Tjandra van Starkemborgh Stachouwer (1936-1942). Sedangkan Ali Shatrie (87) menyatakan kaum Yahudi di Indonesia memiliki persatuan yang kuat. Setiap Sabat (hari suci umat Yahudi), mereka berkumpul bersama di Mangga Besar, yang kala itu merupakan tempat pertemuannya.

Read More

Terdapat 3 Tokoh Ulama Indonesia Yang Menjadi Rujukan Umat Islam Dunia

Jakarta — 1miliarsantri.net : Sejak abad ke-18, Indonesia mengirimkan banyak ulama untuk belajar di wilayah Hijaz, termasuk ke Tanah Suci. Mereka dikirim untuk menimba ilmu, bermukim, hingga menjadi imam di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi. Setidaknya ada tiga ulama Nusantara yang dihormati dunia Islam. Tidak hanya di Tanah Air, namun ketiga ulama itu juga disegani masyaraka Arab Saudi hingga menjadi rujukan umat Islam dunia, diantaranya : Syeikh Junaid bermukim di Mekkah sejak 1834 dan meninggal dunia pada 1840 di usia 100 tahun. Berkat keluasan ilmunya, ia dikenal sebagai syaikhul masyaikh para ulama mazhab Syafi’i. Syekh Ahmad Khatib memilih tetap tinggal di Makkah untuk menyelesaikan hafalan Alquran. Awal kisahnya menjadi Imam Masjidil Haram saat ia sholat berjamaah di belakang Syarif Aunur Rafiq yang saat itu menjadi imam.

Read More

Angklung Sebagai Warisan Budaya Indonesia Yang Mendunia Hingga Dibuat Tampilan Google Doodle

Jakarta — 1miliarsantri.net : Google Doodle menampilkan alat musik angklung untuk memperingati Hari Angklung. Pada 18 November 2010 di Nairobi Kenya, Organisasi Pendidikan Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-bangsa (UNESCO) secara resmi menyatakan angklung sebagai warisan budaya dunia. UNESCO mengukuhkan angklung sebagai warisan budaya dunia asli Indonesia. “Doodle animasi ikut merayakan Angklung, alat musik Indonesia yang terbuat dari bambu,” tulis Google. Google Doodle adalah tampilan di beranda halaman pencarian Google. Bisanya Doodle memberikan penampilan khusus untuk mengenang tokoh atau perayaan hari besar. Dalam tampilan Google Doodle hari ini terlihat ada enam orang pria dan perempuan yang sedang memainkan angklung. Yang menarik, Google Doodle menyelipkan satu orang difabel yang duduk di kursi roda sebagai bentuk respek. Keenam orang itu terlihat sedang menggetarkan angklung secara bergantian. Jika Sedulur klik gambar Doodle tersebut, Sedulur akan diarahkan ke pencarian dengan kata kunci “Angklung”. Angklung adalah alat musik dari budaya Sunda yang terdiri dari dua bagian tabung dan satu bagian atas. Angklung berbentuk tabung dengan ukuran berbeda yang pada akhirnya menentukan nada angklung. Cara memainkan angklung dengan menggoyangkan dan mengetuk pangkal bambu dengan lembut. Cara ini akan menghasilkan nada yang lembut. Namun memainkan angklung tidak bisa sendiri. Sebab, satu angklung hanya bisa mengeluarkan satu nada bunyi, sehingga angklung harus dimainkan secara berkelompok untuk menciptakan melodi yang berbeda. Angklung sendiri bukan alat musik baru, sebab sudah ada sejak empat abad atau 400 tahun lalu di Jawa Barat. Penduduk di bumi Parahyangan percaya suara bambu bisa menarik perhatian Dewi Sri, dewi padi dan kemakmuran. Karena itu, saban tahun pengrajin terbaik di masing-masing desa menggunakan bambu hitam khusus untuk membuat angklung guna menghasilkan nada lembut dan indah. Di musim panen, angklung tersebut dimainkan dengan harapan dewa akan memberkati mereka dengan hasil panen yang subur.

Read More

Perjanjian Hudaibiah Memiliki Dampak Yang Sangat Besar

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Perjanjian Hudaibiah antara kaum kafir Quraisy dan Muslim memiliki dampak yang sangat besar. Secara umum perjanjian ini menunjukkan diakuinya keberadaan kaum Muslimin di Madinah dan ini merupakan kemenangan tersendiri bagi kaum Muslimin. Seperti dikutip dari Sejarah Hidup dan Perjuangan Rasulullah SAW disarikan dari kitab ar-Rahiq al-Makhtum, Sekaligus dengan adanya perjanjian tersebut dapat menghalangi keangkuhan dan kezaliman kaum musyrikin yang selalu berupaya menyerang kaum Muslimin. Di sisi lain, dengan adanya perjanjian tersebut, membuka peluang yang sangat besar bagi kaum Muslimin untuk melancarkan dakwahnya yang selama ini banyak disibukkan peperangan-peperangan bersama kaum Quraisy. Dan nyatanya kemudian hal tesebut terbukti, di mana kaum muslimin sebelum perjanjian tersebut berjumlah tak lebih 3.000 orang, namun dua tahun setelah perjanjian tersebut pada peristiwa Fathu Makkah pasukan kaum Muslimin sudah berjumlah 10 ribu orang. Adapun pasal yang menyatakan bahwa penduduk Makkah yang kabur ke Madinah harus dikembalikan oleh Rasulullah SAW ke Makkah, sedangkan penduduk Madinah yang kabur ke Makkah tidak dikembalikan, sepintas perjanjian tersebut menguntungkan kaum musyrikin. Namun jika diamati dengan seksama, hal tersebut ternyata dapat dipahami. Karena orang yang beriman tidak mungkin akan kabur ke Makkah untuk minta perlindungan, maka jika ada yang kabur, pastilah dia orang kafir yang telah nyata kekafirannya. Untuk orang seperti itu, tidak ada ruginya bagi kaum Muslimin jika mereka kabur dari Madinah. Sedangkan kaum Muslimin di Makkah jika dia hendak kabur, maka Madinah bukanlah satu satunya tujuan untuk itu. Bumi Allah SWT amatlah luasnya, maka dia dapat mencarinya selain Madinah. Hal itu kemudian terbukti, ada seorang sahabat yang bernama Abu Bashir kabur dari Mekkah ke Madinah. Namun Rasulullah SAW berdasarkan perjanjian tersebut tidak menerimanya, maka beliau menyerahkannya kepada dua utusan Quraisy yang menjemputnya. Tetapi di tengah perjalanan Abu Bashir berontak, tidak bersedia kembali ke Makkah, dua orang utusan Quraisy tersebut dibunuh olehnya.

Read More

Menara Syahbandar Sleko, Bukti Kejayaan Kota Semarang

Semarang — 1miliarsantri.net : Pemerintah Kota Semarang, Jawa Tengah selesai merevitalisasi Menara Syahbandar Sleko di Kawasan Kota Lama Semarang, Jawa Tengah. Bangunan cagar budaya besejarah yang dibangun pemerintah kolonial Hindia Belanda pada 1825 tersebut direvitalisasi PT Pertamina Gas Negara Tbk (PGN). Tujuan revitalisasi sebagai upaya menghidupkan pelestarian cagar budaya dan meningkatkan kunjungan wisatawan di Kota Semarang. Menara Syahbandar Sleko diharapkan mampu menjadi ikon baru dan daya tarik wisata Kota Semarang. Sebelum direvitalisasi, kondisi bangunan Menara Syahbandar Sleko mengenaskan. Seluruh atap menara, jendela, dan pintu telah hilang dan hanya tersisa bangunan batu bata rapuh. Dari arah Kali Semarang, terlihat lahan bangunan Menara Sleko semakin menyempit. Alasannya karena munculnya bangunan-bangunan baru yang berdiri di pinggir kali. Dalam peresmian revitalisasi, Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu datang bersama Direktur Utama PT Pertamina Gas Negara (PGN) Arief Setiawan Handoko. Mereka datang untuk meninjau ruangan bangunan cagar budaya Menara Syahbandar Sleko yang menjadi saksi kejayaan jalur perdagangan di Kota Semarang. Menara Syahbandar Sleko merupakan salah satu bangunan di Kota Lama Semarang yang berdiri pada 1825. Bangunan saksi sejarah pada masa kolonial Belanda ini terletak di Jalan Sleko tepat di tepi Kali Semarang dan dijadikan titik 0 kilometer. Disitat dari situs resmi Kemendikbud, keberadaan Menara Syahbandar Sleko di Semarang menjadi sebuah bukti bahwa dahulu Kota Semarang adalah kota niaga yang ramai. Kota pesisir di Indonesia merupakan bagian dari sebuah jalur gerbang alami untuk perdagangan antarpulau (Asnan, 2011). Semarang sebagai kota pesisir utara Jawa juga dijadikan pelabuhan terkenal pada masa kolonial. Sungai dijadikan jalur transportasi yang dilengkapi dengan kanal-kanal. Pelabuhan Semarang bermuara di Laut Jawa dan terbentuk dari Kali Semarang yang membelah Kota Semarang. Peranan Kali Semarang sebagai jalur perdagangan sudah ramai sejak masa kekuasaan Kerajaan Demak. Di pelabuhan yang terletak di tepi Kali Semarang inilah terjadi aktivitas perdagangan dengan banyak pedagang lokal dan bangsa luar, seperti Cina, Arab, India, dan Portugis. Karena ramainya perdagangan di Semarang, dibangunlah sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan perdagangan, salah satunya Menara Syahbandar Sleko.

Read More