Sayyidina Ali bin Ali Thalib Terlibat Perang Tanding dengan Jawara Kaum Musyrik

Surabaya — 1miliarsantri.net : Sayyidina Ali bin Ali Thalib adalah tokoh penting dalam sejarah Islam. Ia dikenal sebagai khalifah keempat setelah Nabi Muhammad SAW. Sayyidina Ali juga merupakan sepupu dan menantu Rasulullah serta suami dari Fatimah, putri Nabi. Dalam karyanya yang berjudul Al-Maktubat, ulama asal Turki, Badiuzzaman Said Nursi, menceritakan peristiwa yang penuh ibrah (pelajaran) yang dialami Sayyidina Ali. Dalam suatu peperangan, Sayyidina Ali radhiyallahu anhu terlibat perang tanding dengan salah seorang jawara kaum musyrik. Ia berhasil mengungguli dan menjatuhkan lawannya. Ketika Sayyidina Ali hendak membunuhnya, ia meludahi wajah beliau. Akhirnya, Sayyidina Ali membebaskan dan meninggalkannya. Orang musyrik itu pun memandang aneh sikap Sayyidina Ali dan bertanya, “Mengapa engkau tidak membunuhku?” Sayyidina Ali menjawab, “Awalnya, aku ingin membunuhmu karena Allah. Namun, ketika engkau meludahiku, aku pun marah. Karena pengaruh nafsu telah menodai keikhlasanku, aku pun tidak jadi membunuhmu.” “Semestinya kelakuanku lebih memancing kemarahanmu sehingga engkau segera membunuhku. Jika agamamu begitu suci dan tulus, sudah pasti ia adalah agama yang benar,” ujar orang musyrik itu. Dalam peristiwa yang lain, Said Nursi juga menceritakan seorang penguasa yang adil memecat seorang hakim ketika melihatnya marah saat melakukan eksekusi potong tangan terhadap pencuri.

Read More

Beberapa Tokoh Reformis Arab Saudi

Riyadh — 1miliarsantri.net : Arab Saudi merupakan sebuah negara kerajaan terbesar di Semenanjung Arabia. Secara geografis, negeri itu berbatasan dengan Laut Merah di barat; Yordania di barat laut; Irak dan Kuwait di utara; Oman di tenggara; Yaman di selatan; dan Teluk Persia, Qatar, dan Uni Emirat Arab di timur. Sekitar 75 persen penduduk kerajaan tersebut menetap di perkotaan. Hanya sebagian kecil masyarakat, yakni umumnya suku-suku Arab badui, yang hingga kini masih menjadi penggembala atau petani di daerah padang pasir. Selain Riyadh sebagai ibu kota, kota-kota pentingnya adalah Makkah al-Mukarramah, Madinah al-Munawwarah, Jeddah, dan Zahran. Seperti dijelaskan dalam Ensiklopedia Islam, sejarah panjang yang dilalui Arab Saudi dimulai ketika suku-suku bangsa keturunan Nabi Ibrahim AS tinggal di Semenanjung Arabia sejak ribuan tahun silam. Peran bangsa Arab Ismailiyah (keturunan Nabi Ismail bin Ibrahim) semakin penting dalam percaturan dunia sesudah Nabi Muhammad SAW mengembangkan Islam. Ketika Rasulullah SAW wafat, syiar agama tauhid telah menyebar ke seluruh penjuru Jazirah Arab. Dalam tiga fase pertama masa Khulafaur rasyidin, Semenanjung Arab masih menjadi pusat pemerintahan. Kondisi berubah ketika Ali bin Abi Thalib menjabat khalifah. Demi menghindari Madinah dari kecamuk konflik politik, menantu Rasulullah SAW itu memindahkan ibu kota daulah Islam ke Kufah (Irak). Menyusul dengan berakhirnya masa Khulafaur rasyidin dan dimulainya era Dinasti Umayyah, pusat pemerintahan kian “menjauh” dari Jazirah Arab. Demikian pula keadaannya ketika Kekhalifahan Abbasiyah, yang beribu kota di Baghdad (Irak), tegak selama lebih dari lima abad. Ketika Kekhalifahan Turki Utsmaniyah berkuasa sejak abad ke-14 M, Jazirah Arab bisa dikatakan semata-mata menjadi pusat keagamaan, alih-alih politik-pemerintahan dunia Islam. Pada awal abad ke-16 M, Turki menguasai Semenanjung Arabia, terutama bagian utara dan barat laut. Memasuki akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 M, bangsa-bangsa Barat—utamanya Britania Raya—mulai menanamkan pengaruhnya. Menjelang Perang Dunia I, tidak ada kekuasaan politik yang benar-benar kokoh di Semenanjung. Sebab, para penguasa (amir) setempat saling berebut kekuasaan dan wilayah satu sama lain. Dari sekian banyak keamiran di Jazirah Arab, yang paling menonjol dan akhirnya bertahan lama ialah Bani Saud. Dinasti ini berpusat di Dariyah, daerah dekat Kota Riyadh kini. Sejak abad ke-17 M, dinasti yang didirikan oleh Saud bin Muhammad al-Muqrin (wafat 1726) ini mulai meluaskan wilayahnya sedikit demi sedikit. Ekspansi yang dilakukannya terutama ke arah timur sehingga kekuasaannya mencakup negeri-negeri Bahrain, Uni Emirat Arab (UEA), dan sebagian Oman kini. Anak keturunan Saud menarget perluasan wilayah hingga Hijaz, tempat dua kota suci berada. Pada 1744, Muhammad bin Saud menggalang persekutuan dengan Muhammad bin Abdul Wahab (wafat 1792), seorang tokoh agama yang hendak memurnikan keimanan umat Islam. Wahabisme, demikian nama gerakannya populer disebut, berupaya membasmi penyelewengan atau bidah dalam praktik-praktik beragama, semisal berdoa di kuburan dengan mengharap “berkah” dan pemujaan “orang-orang suci.” Bani Saud tertarik dengan gagasan Wahabisme yang dalam pandangannya mengusung pembaruan. Di samping itu, paham ini dapat menguntungkannya dalam konteks politik regional di Jazirah Arab. Bertemunya dua kepentingan itu ternyata mendatangkan manfaat ganda. Pada satu sisi, khususnya antara tahun 1773–1818, gabungan kekuatan Bani Saud dan Wahabisme dapat mempersatukan masyarakat Islam di Jazirah Arab untuk pertama kalinya sejak masa-masa awal Kekhalifahan. Pada sisi lain, bagi seluruh dunia Islam, gerakan pemurnian ini bergema dengan timbulnya gerakan perang terhadap bid’aah di berbagai negeri Muslim. Keberhasilan Dinasti Saud untuk memperluas wilayahnya di Semanjung Arab menyebabkan Kekhalifahan Turki Utsmaniyah menerjunkan pasukan guna merebut daerah itu kembali. Serangan awal Turki sempat berhasil. Satu per satu daerah-daerah yang dikuasai Bani Saud dapat direbut kembali. Bahkan, pada 1818 Turki sukses merebut Dariyah walaupun tidak sampai lama. Hingga akhir abad ke-19 M, Dinasti Saud dilanda serangan dari luar, terutama Turki Utsmaniyah, dan juga dari dalam. Perpecahan internal dipicu intrik-intrik politik para bangsawan, terutama yang berambisi merebut kekuasaan tunggal. Pada 1891, tokoh-tokoh kunci Bani Saud bahkan terpaksa hijrah ke Kuwait untuk mempertahankan diri. Barulah pada fajar abad ke-20 M, situasi mulai menguntungkan Dinasti Saud. Kontrol Istanbul kian melemah atas Jazirah Arab karena semakin merebaknya hegemoni Barat. Kekhalifahan Turki Utsmaniyah tampak semakin tak berdaya menghadapi imperialisme dan kolonialisme, yang menggerogoti dunia Islam—terutama kawasan-kawasan yang jauh dari Turki. Pada 1910, Turki terpaksa menyerahkan satu kota penting di Hijaz, Jeddah, kepada Britania Raya. Hal itu memicu riak-riak “ketidakpatuhan” orang-orang Arab pada Istanbul kian membesar. Sementara, di Najd yakni pusat pengaruh Dinasti Saud, muncul pemimpin muda yang berbakat: Abdul Aziz bin Saud. Ia sukses menyusun kekuatan bersenjata yang berasal dari suku-suku Arab Badui di Najd. Mereka menamakan diri Ikhwan (saudara). Dan, waktu singkat Abdul Aziz dan pasukannya dapat menguasai Riyadh, Hasa (1913), dan Asir (1923). Tinggal “selangkah” lagi ambisinya merebut Hijaz dapat mewujud. Pada 23 September 1932, Abdul Aziz bin Saud memproklamasikan berdirinya Kerajaan Arab Saudi. Ia sendiri menjadi raja pertamanya. Kepemimpinan lelaki kelahiran Riyadh itu disambut negara-negara Barat—termasuk Inggris, Prancis, dan Belanda—yang langsung mengumumkan pengakuan resmi. Sebelumnya, antara Juli 1915 dan Maret 1916, Britania Raya melalui Letnan Kolonel Sir Henry McMahon telah berkorespondensi dengan penguasa (syarif) Makkah, Husain bin Ali. Disepakatilah bahwa Inggris akan mengakui kemerdekaan Arab setelah Perang Dunia I usai sebagai kompensasi dari gerakan revolusi yang melawan Utsmaniyah. Pada 10 Juni 1916 di Makkah, Husain bin Ali memproklamasikan kemerdekaan Arab. Lelaki keturunan Bani Hasyim ini mengeklaim diri sebagai pemimpin orang-orang Arab yang menghuni kawasan antara Halab (Aleppo) di Syam hingga Aden di Yaman. Tujuannya agar seluruh wilayah tersebut bebas dari kontrol Turki Utsmaniyah. Secara finansial dan persenjataan, ia dan pendukungnya ditaja Inggris melalui pangkalan militer yang berkedudukan di Mesir. Dalam konteks itulah, nyata bahwa Inggris bermain “dua kaki” dalam melemahkan pengaruh Turki Utsmaniyah di Jazirah Arab. Britania Raya bukan hanya mendukung Syarif Makkah, tetapi juga Dinasti Saud. Pada akhirnya, kedua kekuatan Arab (yang anti-Turki Utsmaniyah) itu saling berhadap-hadapan. Pada 1924, pecahlah perang antara pasukan Abdul Aziz bin Saud di satu sisi dan pasukan Husain bin Ali di sisi lain. Perlu waktu dua tahun untuk Abdul Aziz keluar sebagai pemenang sesungguhnya. Hijaz pun jatuh ke tangan Dinasti Saud. Momen itu ditandai dengan keberhasilannya merebut Jeddah pada 8 Januari 1926. Sesudah itu, Husain bin Ali diizinkan keluar dari Jeddah untuk menuju Aqaba. Namun, Inggris lalu mengintervensi sehingga (mantan) syarif Makkah itu diasingkan ke Siprus dan wafat di sana.

Read More

Kisah Umar bin Khattab Ketika Memimpin di Yerusalem

Jakarta — 1miliarsantri.net : Rasulillah shalallahu alaihi wasallam mengajarkan sikap toleransi kepada sesama dengan penuh kelembutan. Sikap toleransi yang ditunjukkan Rasulullah ialah memaafkan, bahkan mendoakan kaum yang berbuat jahat pada saat beliau berdakwah. Ajaran Nabi SAW ini pun tak pernah ditinggalkan oleh para sahabatnya, termasuk Umar bin Khattab. Budayawan muslim Salim A. Fillah mengungkapkan sikap toleransi Sayidina Umar saat dipercaya memegang kunci kota Yerusalem. Di bawah kepemimpinannya, penduduk kota Yerusalem hidup berdampingan dan penuh kedamaian. “Contoh paling utama ketika Umar bin Khattab diundang oleh Patriarkh Sophronius di Yerusalem untuk menerima kunci kota,” kata Salim A Fillah pada dr Richard Lee lewat unggahan video di media sosialnya, dikutip Sabtu (25/11/2023). Kala itu Khalifah Umar bersama asistennya, Aslam, menuju Yerusalem membawa seekor unta. Sepanjang perjalanan, Umar dan Aslam bergantian menaiki unta. Memasuki kota suci tersebut, giliran Umar yang menuntun Unta. Aslam pun sempat meminta bergantian, agar Umar naik di atas Unta. Permintaan tersebut ditepis Umar lantaran memang saat itu gilirannya untuk menuntun. Penduduk Yerusalem pun mengelu-elukan kedatangan Umar dan menyangka Umar yang berada di atas unta. Namun, Patriarkh Sophronius mengenali Umar sesungguhnya adalah yang menuntun unta. Keyakinannya tersebut berdasarkan penjelasan dalam kitab suci. Umar bin Khattab kemudian diajak Patriarkh Sophronius ke The Hollies Volker, gereja makam kudus yang ada di Yerusalem. Saat itu Patriarkh Sophronius bertanya pada Khalifah Umar tentang kebijakan yang dijalankan bagi penganut Kristen di kota tersebut. “Apa kebijakan Anda terhadap kami orang-orang Kristen yang ada di sini?” tanya Patriarkh Sophronius pada Umar bin Khattab. “Semua harus berjalan. Dan saya Umar memberikan jaminan keamanan bagi penduduk Elia, mereka terlindung gereja-gerejanya, semua hak milik mereka, rumah-rumahnya, tempat-tempat ibadahnya dan tempat sucinya harus dijaga oleh umat Islam,” jawab Sayidina Umar.

Read More

Ajian Lembu Sekilan Turunan Dari Para Wali Hingga ke Presiden Soekarno

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Gajah Mada dikenal sebagai patih yang perkasa. Tidak hanya secara fisik, Mahapatih Majapahit ini juga memiliki ilmu kanurangan yang unggul karena memilik ajian Lembu Sekilan. Ilmu sakti itu rupanya menurun hingga Sunan Kalijaga dan Presiden Soekarno. Presiden pertama Indonesia itu memiliki ajian tersebut sehingga dia bisa lolos dari ancaman pembunuhan lebih dari tujuh kali dan tidak ada yang berhasil. Setidaknya, hal itulah yang diungkapkanSoekarno dalam pidato pelengkap Nawaksara. Lolosnya Soekarno dalam upaya pembunuhan-pembunuhan ini dinilai sebagian orang, karena kesaktian yang dimilikinya. Soekarno dianggap memiliki banyak ajimat dan benda pusaka yang melindunginya. Namun, hal itu sering kali dibantahnya. Bahkan, dalam pidato pelengkap Nawaksara, Soekarno kembali menegaskan, bahwa lolosnya dia dari upaya pembunuhan itu hanya karena perlindungan Allah SWT semata. ”Syukur alhamdullilah, saya dalam semua peristiwa itu dilindungi oleh Tuhan. Kalau tidak, tentu saya sudah mati terbunuh. Dan mungkin, akan saudara namakan Tragedi Nasional,” kata Soekarno dalam pidatonya. Kendati keterangan itu sudah sering diungkapkan Soekarno, masyarakat tetap saja menganggapnya sebagai orang sakti. Apalagi, sudah bukan rahasia umum jika Soekarno dikenal sebagai pecinta benda pusaka. Beberapa ajimat yang diyakini sebagian orang dimiliki Soekarno adalah Aji Lembu Sekilan. Ajimat ini konon dimiliki Patih Gajah Mada. Kehebatan ajimat ini sanggup melindungi pemegangnya dari bahaya. Ajimat dan benda pusaka lain yang diyakini dimiliki Soekarno adalah Wesi Kuning. Beberapa orang dekat Soekarno meyakini, ke manapun dia pergi selalu mengantongi benda pusaka sebesar lidi ini di bajunya. Khasiat benda ini sama dengan Aji Lembu Sekilan. Ajimat ini konon pernah dimiliki oleh Adipati Menakjinggo yang melakukan perlawanan terhadap Majapahit untuk mengawini Ratu Majapahit Dewi Suhito. Pemegang benda pusaka ini, diyakini akan terlindung dari berbagai mara bahaya dan kejahatan musuh. Konon kabarnya, pusaka ini sudah dimusnahkan dan serpihan kecilnya saja yang dipegang Soekarno. Lolosnya Soekarno dalam berbagai upaya pembunuhan, mulai dari pelemparam granat di Cikini, serangan bom hingga penembakan saat salat Idul Adha, semakin menguatkan wacana ajimat dan pusaka itu. Benda keramat lain yang dimiliki Soekarno adalah tongkat komando yang selalu dibawa ke manapun dia pergi. Tongkat itu diyakini memiliki kekuatan gaib, karena berisi keris pusaka yang sangat sakti. Tongkat komando Soekarno dibuat dari Kayu Pucang Kalak. Kayu jenis ini dianggap memiliki khasiat kanuragan. Bila ditaruh di atas air, maka bayangan kayu ini akan menyerupai ular yang sedang berenang. Kelebihan keris pusaka ini sanggup melindungi pemegangnya dari bahaya yang mengancam. Keris ini juga sanggup meluluhkan hati para lawannya, menimbulkan rasa iba, dan bisa menambah kewibawaan. Benda pusaka lain yang diyakini dimiliki Soekarno adalah keris pusaka peninggalan Perang Puputan, Bali. Keris ini pernah digunakan Raja Singasara untuk berperang dan telah menelan banyak korban jiwa. Keris ini merupakan warisan dari Ibunda Soekarno, Idayu Nyoman Rai yang masih keturunan Raja Singasara. Ujung keris ini telah berkarat, karena terkena darah orang-orang Belanda yang tewas terbunuh. Suatu ketika, Soekarno pernah mengatakan dirinya selalu membawa keris itu ke manapun dia pergi agar selalu teringat dengan semangat Perang Puputan yang sangat melegenda dan antikolonialisme itu. Sebagai keturunan Raja Singasara dan Nyai Ageng Serang, Soekarno diyakini mewarisi keberanian dan kesaktian kedua pejuang itu. Sebagian orang Bali bahkan menganggapnya sebagai penjelmaan dewa.

Read More

Berlibur Sekaligus Belajar Mengenai Topeng Tari Panji di Dusun Bobung

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Musim liburan akhir tahun sebentar lagi akan tiba dan sudah pasti banyak lokasi wisata yang bakal menjadi pilihan tujuan berlibur nantinya. Nah, tidak ada salahnya jika kami tawarkan salah satu tempat spesial sekaligus edukatif untuk lokasi liburan anda yakni Dusun Bobung, sebuah dusun di wilayah Desa Putat, masih di Kecamatan Patuk, Gunung Kidul, Yogyakarta. Dari Desa Nglanggeran, dusun ini hanya berjarak sekitar 1,5 kilometer ke arah Sambipitu. Dusun dengan potensi kerajinan topeng serta berbagai kerajinan dari kayu lainnya ini telah dikelola menjadi sebuah desa wisata. Dari kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran, butuh waktu 10 menit untuk mencapai gapura Dusun Bobung. Gapura ini mudah ditemui, dari jalur utama Nglanggeran- Sambipitu posisinya ada di sisi kiri jalan. Pada gapura bercat biru ini tertulis jelas “Selamat Datang di Desa Wisata Kerajinan Kayu Dusun Bobung”. Sedangkan, di sisi kanan dan kiri gapura ini terdapat papan petunjuk arah bertuliskan “Bubung 0,5 km”. Berdasarkan papan petunjuk arah ini, kita bisa memasuki jalan utama dusun yang asri oleh rimbun pepohonan tanaman keras, seperti jati, mahoni, dan tanaman perkebunan rakyat lainnya. Sebelum sampai di pemukiman warga, anda akan disambut oleh suara gemericik air yang ditimbulkan oleh bendungan irigasi Desa Bobung. Jalan utama menuju pemukiman warga melintas di atas bendungan ini. Tiba di kawasan permukiman, suasananya sangat tenang dan tak jauh berbeda dengan pedukuhan atau pedesaan lainnya. Hanya saja saat melintas di jalan utama dusun ini, ada pemandangan khas yang jamak ditemui. Warga, baik tua, muda, laki- laki, maupun perempuan, tengah melakukan aktivitas membuat kerajinan kayu, seperti menatah, menyerut, hingga menyungging kayu untuk dijadikan kerajinan. Mereka melakukannya baik di teras-teras rumah maupun bengkel kerja sederhana di samping bangunan utama rumah mereka. Tangan- tangan mereka begitu terampil menyungkil, menyerut, dan memahat kayu untuk dijadikan barang bernilai seni dan ekonomis baginya. Yang tak kalah mengagumkan, mereka begitu ramah memberikan salam sebagai bentuk penyambutan terhadap tamu yang datang. Di antara mereka bahkan memersilakan untuk mampir, sekadar melihat produk kerajinan mereka.. Sebagai dusun yang telah dikelola menjadi sebuah desa wisata, warga Dusun Bubung, sepertinya, telah membudayakan untuk menyambut hangat tamu yang berkunjung. Ketua Badan Pengelola Desa Wisata Bobung Suroso (35 tahun) menyampaikan, industri kerajinan kayu telah berkembang di dusunnya sejak 1960-an. Khususnya, kerajinan topeng klasik untuk tari topeng Panji (cerita Panji Asmarabangun) atau cerita Klasik Jawa periode Kerajaan Kediri. Memasuki medio 1990-an, mereka tak hanya membuat topeng klasik, tetapi juga topeng untuk hiasan yang memadukannya dengan sentuhan kesenian membatik. “Ternyata, topeng hiasan produksi asal Bobung ini juga banyak diminati hingga produksi topeng jenis ini terus berkembang,” terang Suroso. Tak hanya topeng hiasan (topeng batik), sentra industri kerajinan kayu ini juga merambah pada pembuatan kerajinan kayu yang lain. Alhasil, berbagai jenis kerajinan kayu diproduksi di desa wisata Bobung ini. Seperti, topeng hiasan, patung loro blonyo, nampan, cermin, hingga berbagai kerajinan kayu. Hasil produksi dari dusun itu pun tak sebatas untuk memenuhi permintaan daerah Yogyakarta, tetapi juga berbagai daerah di Tanah Air, bahkan luar negeri. “Dari topeng, produk kerajinan tersebut berkembang mulai dari kayu gelondongan (mentahan) sampai siap jual. Namun, untuk produk unggulan kerajinan kayu Dusun Bobung, tetap topeng,” sambungnya. Ia menambahkan, hingga saat ini kapasitas produksi kerajinan kayu desa wisata Bobung ini mencapai 8.000 buah per bulan dengan total omzet mencapai Rp 3 hingga Rp 4 miliar per tahun. Tak hanya itu, jumlah perajin juga terus bertambah. Jika di Dusun Bobung sedikitnya ada 150 perajin, sekarang telah berkembang ke dusun lain di sekitarnya dengan jumlah total perajin mencapai 600 orang.

Read More

Sebanyak 16 Wanita Pernah Menjadi Anggota Balai Majelis Mahkamah Rakyat

Banda Aceh — 1miliarsantri.net : Kesultanan Aceh memiliki tiga tingkat balai musyawarah (parlemen), yaitu Balairung, Balai Gading, dan Balai Majelis Mahkamah Rakyat. Setidaknya terdapat 16 perempuan yang menjadi anggota Balai Majelis Mahkamah Rakyat. Di Balairung ada empat hulubalang terbesar di Aceh, di Balai Gading ada 22 ulama besar. Untuk Balai Majelis Mahkamah Rakyat ada 73 anggota wakil 73 mukim. Menurut Buya Hamka, Sultanah Syafiyatuddin memimpin Kesultanan Aceh, saat itu dibuat kebijaksanaan memasukkan perempuan sebagai anggota Balai Majelis Mahkamah Rakyat. Mereka mewakili mukim masing-masing. Dalam menjalankan pemerintahan, sultan didampingi jajaran eksekutif: wazir sultan, perdana menteri (panglima polim) dengan para menterinya, kadi malikul adil dengan empat ulamanya. Didampingi pula balai laksamana yang mengepalai tentara laut dan darat. Khusus menteri dirham (keuangan), pertanggungjawabannya tidak kepada perdana menteri, melainkan langsung kepada sultan. Urusan perbendaharaan negara menjadi tanggung jawab baitul maal, urusan cukai dan bea pelabuhan menjadi tanggung jawab balai furdhan. Di jajaran eksekutif ini, ulama memiliki posisi resmi. Yang diangkat menjadi perdana menteri adalah alim ulama ahli yang dalam adat istiadat, undang-undang (qanun), dan protokol (resam). Catatan dalam Qanun Al Asyi Darussalam (Undang-Undang Aceh Darussalam) menyebut ada 17 perempuan anggota Balai Majelis Mahkamah Rakyat. Tapi, ada satu nama yang menurut Hamka belum jelas identifikasi jenis kelaminnya berdasarkan nama, yaitu Si Nyak Tampli. Laki-laki atau perempuan? Balai Majelis Mahkamah Rakyat memiliki hak mengurus negeri dan rakyat. Tujuannya: “supaya rakyat hidup senang dan dapat banyak hasil, makmur, dan aman”. Balai Majelis Mahkamah Rakyat juga memiliki hak mengurus keamanan negara, menimbang urusan rakyat, menimbang perbuatan kebenaran dan keadilan. Supaya negeri aman dan rakyat taat. Sultan Iskandar Muda menetapkan Balai Majelis Mahkamah Rakyat ini pada 12 Rabiul Awal 1042 Hijriah, tahun 1632 Masehi. “Dalam perintah mendirikan itu Baginda berkata: ‘Supaya senang rakyat semuanya dan membahagiakan Aceh Drussalam’,” tulis Hamka. Lalu, atas perintah Sultanah Syafiyatuddin, anggota Balai Majelis Mahkamah Rakyat diperbarui dan dilengkapi dengan perempuan. Itu terjadi pada tahun 1649 Masehi (1059 Hijriah).

Read More

Al Ula, Area yang Dihindari Rasululullah Kini Jadi Tempat Wisata

Riyadh — 1miliarsantri.net : Pemerintah Arab Saudi sedang membangun sejumlah kota untuk menarik wisatawan mancanegara. Hal ini dilakukan dalam upaya mengurangi ketergantungan negara pada sektor minyak bumi atau dikenal Visi Saudi 2030. Di antara kawasan yang masuk dalam mega proyek kota bersejarah adalah Al Ula. Al Ula juga dikenal sebagai Madain Saleh (Rumah Tsamud). Dalam Islam, tempat ini adalah rumah bagi bangsa Tsamud, yaitu kaum Nabi Saleh (AS) yang terkenal dengan kekuatan dan keterampilannya yang ajaib dalam membuat ukiran gunung dan konstruksi. Dilansir Islamic Information, Sabtu (18/11/2023), konon daerah ini dulunya sangat subur dan hijau. Namun, kekayaan alam yang berlimpah ini membuat orang-orang kaya di kalangan kaum Tsamud menjadi sombong. Mereka menjadi kejam dengan menyiksa dan membunuh orang-orang miskin. Ketika Nabi Muhammad SAW melewati tempat ini saat hendak berperang Tabuk, beliau secara khusus menunjukkannya kepada para sahabat. Beliau memerintahkan mereka untuk minum air hanya dari satu sumur yang digunakan oleh unta Hazrat Saleh AS dan melarang mereka makan serta minum apa pun dari area tersebut dan melewatinya dengan cepat. Bagi Muslim, sebenarnya bolehkah mengunjungi tempat ini? Sheikh Assim atau Assim bin Luqman Al Hakeem membahas masalah tersebut. Dia mengatakan, sebelum mengetahui hukumnya, sebaiknya perlu mengetahui batas dari area Madain Saleh. Sebab, jika dilihat dari hadits, Rasulullah SAW melarang untuk memasukinya.

Read More

Said Nursi Seorang Ulama Hebat Yang Terlahir dari Nuriyah seorang Wanita Super

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Nama besar Said Nursi sebagai ulama agung di abad ke-19 masih menggaung hingga saat ini. Salah satu karya masterpiece-nya, Risale-i Nur (Risalah Nur), bahkan menjadi rujukan dan populer di kalangan santri modern. Di balik sosok sang ulama tersebut, ada kiprah seorang wanita yang telah membesarkan dan mendidiknya dengan cara luar biasa. Dialah Nuriye atau Nuriyah, ibunda dari Said Nursi. Dalam bukunya yang berjudul Nisaul Auliya, Ibnu Watiniyah menulis, Said Nursi lahir dari rahim seorang wanita yang beradab lagi saleh. Nuriyah laksana cahaya yang melahirkan cahaya pula bagi muslimin Turki, bahkan dunia. Bukan hal sederhana bagi Nuriyah hingga mampu melahirkan dan membesarkan seorang pun berjiwa ulama. Kisah perjuangannya bahkan telah dimulai sejak masa kehamilan Nursi. Di tengah letihnya mengandung. Nuriyah (Nuriye) selalu menjaga wudhunya. Dikisahkan bahwa tak pernah sekalipun ia menginjak tanah saat hamil, kecuali dalam kondisi suci telah berwudhu. Itu hanyalah kiasan bahwa betapa Nuriyah selalu menjaga wudu dan selalu dalam kondisi suci. Jika ia berhadas atau tertidur, ia segera memperbarui wudhunya. Hal itu dilakukannya pula saat masa menyusui Nursi. Sangat terkenal kisah pengorbanannya bagaimana Nuriyah selalu menyusui putranya dalam keadaan suci. Tak pernah sekalipun ia menyusui putranya dalam keadaan batal wudhu. Hal ini dilakukannya demi menjaga kehalalan air susu yang diminum putranya. Menyusui sudah sangat merepotkan bagi seorang ibu. Namun, Nuriyah tak merasa kerepotan meski harus berwudhu sebelum menyusui putranya. Padahal, seorang bayi yang baru lahir hampir tak pernah berhenti menyusu pada ibunya. Bahkan, ketika malam sekalipun, bayi selalu meminta haknya untuk menyusu. Sungguh kerepotan dan kelelahan yang hanya dirasakan para ibu. Pun demikian dengan Nuriyah, bahkan ketika ia mewajibkan dirinya bersuci acap kali menyusui, ia-lah yang merasakan kelelahan yang berlipat. Sungguh menakjubkan apa yang dilakukan Nuriyah demi air susu berkualitas iman bagi putranya. Tak heran jika kemudian putranya itu menjadi ulama ternama, terutama di ranah tasawuf. Bahkan karena bimbingan ayah dan ibundanya, Said Nursi mendapat berbagai macam julukan keistimewaan. Salah satunya, ia dijuluki sebagai Badiuzzaman, atau Sang Keajaiban Zaman. Julukan tersebut diberikan karena kemampuannya yang mengagumkan. Pada usia tujuh tahun, Said Nursi sudah hafal Al-Qur’an. Bahkan ketika usia 15 tahun, 80 kitab klasik dihafalkannya. Dan yang membuatnya makin dikagumi, sesuai dia mengalami tajalli, bermimpi bertemu dengan Rasulullah, kemampuannya menghafal laksana mesin foto kopi. Apa yang dilihat, dalam sekian detik, ia mampu menghafalkannya, bahkan tanda bacanya sekaligus. Layaknya mesin foto kopi, hafalannya sama persis dengan yang tercetak di buku atau lainnya.

Read More

Kisah Naga Yang Menjelma Menjadi Seorang Pemuda Gagah di Grobogan

Grobogan — 1miliarsantri.net : Aji Saka, raja Medang Kamulan, kerajaan di wilayah Grobogan sekarang, menyuruh anaknya untuk bertarung dengan buaya putih di laut selatan. Anak Aji Saka ini lahir dalam wujud naga dari sebuah telur. Ketika ia bertarung dangan buaya putih, laut selatan bergolak. Hal itu membuat Ratu Laut Selatan, Nyi Loro Kidul keluar dari istananya. Ia mendapati penyebab alam bergolak. Seekor nada telah bertarung dengan buaya putih dan berhasil mengalahkannya. Buaya putih adalah penjelmaan dari Dewata Cengkar, raja Medang Kamulan yang suka menyantap manusia. Setelah dikalahkan oleh Aji Saka, ia tinggal di laut selatan dalam wujud buaya putih. Nyi Loro Kidul bersyukur buaya putih telah dikalahkan oleh seekor naga yang bernama Jaka Linglung. Maka, Jaka Linglung pun dijamu di istananya. Setelah dinikahkan Nyi Blorong, barulah ia dibolehkan pulang. Setelah bisa mengalahkan buaya putih, sebenarnya Jaka Linglung masih memiliki tugas mencari istri ayahnya. Tapi Nyi Loro Kidul telah mengatakan bahwa Ny Loro Kidullah istri Aji Saka, maka ia pun segera pulang ke Medang Kamulan. Sebagai naga, seharusnya ia bisa terbang. Namun kenyataannya, ia tidak bisa terbang. Bisa jadi gara-gara ia lahir dari sebutir telur ayam. Jika ia lahir dari sebutir telur elang, pasti ia akan bisa terbang. Maka, ia pulang ke Medang Kamulan melalui alam bawah, yaitu dari dalam tanah. Risikonya, ia tidak bisa melihat terang lokasi Medang Kamulan, sehingga harus sering muncul ke permukaan tanah untuk melihat arah. Bekas kemunculannya di permukaan menjadi sumur-sumur berair asin. Sumur-sumur itu ada di banyak tempat, di setiap tempat ia muncul ke permukaan. Ada di Jono, ada di Bleduk Kuwu, dan sebagainya. Sumur-sumur itu di kemudian hari, menjadi sumber pendapatan bagi penduduk. Oleh penduduk setempat, air asin yang ada si sumur-sumur itu digunakan untuk membuat garam. Nama Jaka Linglung diberikan kepadanya karena ia seperti orang linglung saat pulang dari laut selatan. Harus selalu muncul ke permukaan bumi untuk mencari arah. Di istana, kedatangannya disambut Aji Saka. Lalu ia dihadiahi mahkota emas, sisik di badannya juga dilapis emas. Ekor, gigi, dan taringnya juga dilapis emas. Cupu astagina, yaitu air bertuah, disimpan di ekornya. Cupu astagina ini bermanfaat untuk menghidupkan kembali naga yang mati.

Read More

Etnolog Belanda PJ Veth Heran Ratu Kalinyamat Bisa Menjadi Pemimpin di Negeri Islam

Jepara — 1miliarsantri.net : Pada 1931 terdapat tulisan di De Locomotief, mengutip rasa heran etnolog Belanda PJ Veth mengenai Ratu Kalinyamat yang bisa menjadi pemimpin di negeri Islam. Referensi mengenai Islam yang dibaca Veth menyebutkan perempuan tidak dibolehkan menjadi pemimpin. Sumber-sumber tertulis Portugis dan babad-babad di Jawa menyebutkan hal itu. Hal itu bisa terjadi dimungkinkan karena masih adanya pengaruh pra-Islam. Pengaruh peradaban pra-Islam itu memungkinkan Ratu Kalinyamat bisa memerintah di Jepara setelah kekuasaan Demak surut. Hal yang aneh lainnya adalah, Ratu Kalinyamat bertapa dengan bertelanjang. Hanya rambut panjang lebatnya yang menutupi tubuhnya. Tidak diceritakan desain tempat ratu Kalinyamat bertapa telanjang. Tapi Babad Tanah Jawi memberitakan Ki Ageng Pemanahan bersama Joko Tingkir bisa bercakap-cakap dengan Ratu Kalinyamat di tempat bertapa. Joko Tingkir yang sudah menjadi Adipati Pajang menasihati Ratu Kalinyamat agar tidak bertapa telanjang. Ratu Kalinyamat pun berterima kasih atas kepedulian Joko Tingkir. Tapi ia menjelaskan bahwa sudah telanjur bernazar, selama Aryo Penangsang masih hidup, ia akan bertapa telanjang. Karenanya, agar ia bisa menyudahi tapa telanjangnya, ia meminta bantuan Joko Tingkir untuk membalas dendam atas kematian suaminya. Suami Ratu Kalinyamat, Pangeran Kalinyamat, telah dibunuh oleh Aryo Penangsang yang dikenal sakti. Joko Tingkir pun menyatakan tak sanggup melawan kesaktian Aryo Penangsang. Ratu Kalinyamat lalu menyindir adik iparnya itu. Percupa punya saudara laki-laki tetapi tidak bisa membantu balas dendam atas kematian Pangeran Kalinyamat. Ki Ageng Pemanahan pun segera menengahi perdebatan kakak-adik ini. Ia menyarankan agar Joko Tingkir memikirkan dulu permintaan Ratu Kalinyamat. Karenanya, Ki Ageng pemanahan meminta Joko Tingkir pulang dulu ke Pajang. Jika sudah mendapatkan jawaban, segera kembali ke Gunung Danaraja, tempat Ratu Kalinyamat bertapa. Setelah Joko Tingkir pergi, Ki Ageng Pemanahan memberi saran kepada Ratu Kalinyamat. Ia menjelaskan Joko Tingkir terlihat ada minat pada perempuan-perempuan yang menyertai Ratu Kalinyamat. Karenanya, ia meminta agar mereka disuruh dandan pada saat Joko Tingkir kembali berkunjung. Ratu Kalinyamat mengatakan, perempuan-perempuan yang menyertainya adalah selir-selir suaminya.

Read More