Perbedaan Sifat Dua Pemimpin Muda Mataram

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Sultan Agung naik tahta menjadi pemimpin muda Mataram pada tahun 1613. Gubernur Jenderal Kompeni JP Coen menduga Sultan Agung berusia 20 tahun saat naik tahta. Pada usia 45 tahun, tahun 1628, Sultan Agung mengirim pasukan untuk menyerbu Batavia. Sebelum menyerbu Kompeni di Batavia, Sultan Agung rajin melakukan penaklukan, hingga wilayah kekuasaannya mencapai luar Jawa. Baru setahun naik tahta, pada 1614 ia menyerbu Surabaya, tetapi tidak langsung ke Surabaya, melainkan ke wilayah-wiayah sekutu Surabaya. Maka, sejak itu, penaklukan demi penaklukan dilancarkan. “Pada 1620 akan dimulai perang habis-habisan dengan Surabaya yang kuat,” tulis HJ de Graaf. Hingga akhirnya Surabaya takluk pada 1625, berarti Sultan Agung melakukan peperangan dengan Surabaya selama lima tahun. Bahkan ia sempat meminta bantuan Kompeni untuk bisa mengalahkan Surabaya, kendati Kompeni menolak permintaan itu. Sumber-sumber Jawa menyebut Sultan Agung meninggal pada 1645, tetapi De Graaf memperkirakan Sultan Agung meninggal pada pertengahan Februari 1646, setelah 32-33 tahun memerintah. “Di bawah penjagaan ketat pengawal pribadi, putra mahkota diumumkan menjadi Susuhunan Ingalaga Matara,” tulis De Graaf. Putra Mahkota Pangeran Adipati Anom telah menjadi Susuhunan Amangkurat I. Ia menjadi pemimpin muda Mataram, naik tahta pada pertengahan Februari 1646 di usia 26 tahun. Perilaku amoral pada usia 18 tahun ketika menculik istri Tumenggung Wiroguno lalu menikahinya tanpa sepengetahuan Sultan Agung tidak menghalanginya untuk menjadi raja baru. Ia tetap dipertahankan menjadi putra mahkota, lalu naik tahta setelah Sultan Agung meninggal dunia. “Mengenai putranya yang muda ini … diusahakannya dengan sangat hati-hati dan bijaksana, supayakekuasaan putranya atas kerajaan Jawa bahkan juga mendapat dukungan dari Wiroguno,” tulis De Graaf mengutip catatan utusan Kompeni Van Goens. Menurut De Graaf, van Goens memuji Sultan Agung yang meminta Wiroguno mendukung Amangkurat I kendati ia pernah punyamasalah dengan Amangkurat I. “Sebab, Sultan Agung merasa khawatir akan terjadi pertikaian antara kedua putranya dan paman mereka, Pangeran Purboyo, kakak sulungnya sendiri,” tulis De Graaf. Pada awal menjadi raja, Amangkurat I memupuk kesenangan. Ia memindahkan keraton, membangun danau disekeliling istana agar ia bisa menghabiskan waktu dengan bermain perahu di danau.

Read More

Setelah Membunuh 7.000 Santri dan Kiainya, Amangkurat I Beri Imbalan 3.000 Pikul Beras kepada Kompeni

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Susuhunan Amangkurat I marah besar, lalu menangkapi para kiai dan para santrinya yang mendukung upaya kudeta. “Yang banyaknya tidak kurang dari 7.000 orang. Kemudian menyuruh mereka naik tiang gantungan,” tulis Hamka. Kemarahan Amangkurat I muncul setelah ada kudeta di Mataram yang dilakukan Pangeran Danupoyo. Namun kudeta itu gagal. Setelah pembunuhan terhadap para kiai dan santri, ketidakpuasan terhadap Amangkurat I pun muncul di mana-mana. Di Madura, misalnya, ketidakpuasan itu juga diperparah oleh Adipati Madura Cakraningrat II yang lebih berpihak kepada Mataram, mengabaikan Madura. Itulah yang melatari Trunojoyo melakukan pemberontakan terhadap Mataram. Tindakan Kompeni yang merugikan Sulawesi juga memunculkan ketidakpuasan, sehingga membuat Arung Palaka dari Sopeng dan Karaeng Galesong dari Makassar memilih lari ke Jawa mendukung pemberonatakan di Jawa. Karaeng Galesong bertemu Trunojoyo. Mereka lalu bersekutu, bersama Pangeran Giri yang mewakili kalangan ulama. Amangkurat I pun meminta bantuan kepada Kompeni. Amangkurat I menawarkan imbalan berupa 3.000 pikul beras (setara dengan 180 ton) dan uang 250 ribu riyal. Jika perangnya tidak bisa cepat selesai, Amangkurat I siap menambah imbalan 20 ribu riyal. Kompeni tidak langsung menerima. Kompeni mengajukan syarat agar dibebaskan dari pungutan cukai untuk barang-barang yang akan dimasukkan ke seluruh pelabuhan di Jawa. Itu pun belum cukup. Kompeni juga minta dibebaskan untuk membangun loji dan mendapatkan imbalan lagi 4.000 pikul beras dari pembangunan loji itu. Setelah Amangkurat I menyetujuinya, barulah Belanda membantu Mataram menumpas pemberotakan Trunojoyo dan sekutunya. Di Keraton Plered, rakyat mendukung Trunojoyo. Ada pula petinggi keraton yang memilih mendukung Trunojoyo. Tertekan, Amangkurat I diam-diam keluar dari istana Plered. Maka, posisi yang ia tinggalkan diisi oleh Pangeran Anom, menjadi Amangkurat II.

Read More

Sejarah Ibnu Abu Ushaibiah, Seorang Dokter dan juga Menjadi Pionir Dalam Pengembangan Ilmu Oftalmologi

Jakarta — 1miliarsantri.net : Dalam kilas balik sejarah Islam, terdapat sosok yang menonjol sebagai dokter muslim spesialis mata di abad ke-13. Dia adalah Ibnu Abu Ushaibiah. Beliau tidak hanya memimpin dalam bidang medis pada zamannya, tetapi juga menjadi pionir dalam pengembangan ilmu oftalmologi. Kiprah Ibnu Abu Ushaibiah sebagai spesialis mata mencerminkan kontribusi luar biasa dari dunia Islam dalam menggali pengetahuan kesehatan, khususnya dalam merawat dan memahami kompleksitas masalah mata. Mengutip buku 147 Ilmuan Terkemuka Dalam Sejarah Islam karya Muhammad Gharib Gaudah, Ibnu Abu Ushaibiah nama lengkapnya adalah Abu Abbas Ahmad bin Qasim bin Khalifah bin Yunus Al-Khazraji. Dia dikenal dengan nama Ibnu Abu Ushaibiah. Ibnu Abu Ushaibiah dilahirkan di Damaskus sekitar tahun 596 Hijriyah atau sekitar tahun 1200 Masehi, dan wafat di Sharkhand (Khan Shaykhun), Suriah pada 668 Hijriyah. Ibnu Abu Ushaibiah belajar kedokteran kepada bapaknya, Abu Hasan Al-Qasim As-Sa’di yang pernah menjabat sebagai kepala spesialis dokter mata di Rumah Sakit An-Nuri Suriah. Ibnu Abu Ushaibiah juga belajar dari Muhdzibuddin Ad-Dakhwar dan ilmuwan lainnya. Sumber sejarah lain menyebutkan bahwa, Bimaristan Al Nuri Damaskus adalah rumah sakit tertua pertama yang didirikan di kawasan Damaskus, Suriah. Bangunan utamanya didirikan pada tahun 1154 Masehi pada masa Sultan Zangid Nuruddin Mahmud bin Zangi. Ibnu Abu Ushaibiah menggeluti spesialis mata di rumah sakit An-Nuri di Suriah dan An-Nashiri di Kairo. Pada akhir karirnya sebagai dokter dia menjabat sebagai dokter pribadi pangeran Sharkhand. Ibnu Abu Ushaibiah telah menulis beberapa buku, di antaranya At Tajarub Wa Al-Fawaid, Hikayat Al-Athibba Fi’Ilajat Al-Adwa, dan lshabat Al-Munajjimin. Buku-buku tersebut berisikan kesaksian dan hal-hal langka dalam dunia kedokteran yang disadur dari pengalamannya sebagai dokter.

Read More

Syekh Abdul Karim Amrullah, Tokoh Pembawa Muhammadiyah Pertama di Sumatera

Jakarta — 1miliarsantri.net : Memasuki abad ke-20 muncul gerakan modernisme Islam di Minangkabau. Peran kaum ulama dan saudagar signifikan sekali. Mereka tidak hanya sibuk berdagang, tapi juga mendukung lalu lintas keilmuan para kaum terpelajar untuk menimba ilmu di Tanah Suci. Di lingkup internal, kalangan ulama menghadapi beberapa kecenderungan adat yang tidak sejalan dengan ajaran Islam. Secara eksternal, tantangan terbesarnya adalah kolonialisme yang kian pesat di masa itu. Salah seorang tokoh Minangkabau yang termasuk kalangan pembaru adalah Syekh Abdul Karim Amrullah. Dia lahir di Nagari Sungai Batang, Maninjau, Sumatra Barat, pada 1879. Sebagaimana anak-anak dari keluarga Minangkabau waktu itu, dia dahulu tidak menempuh pendidikan formal yang dikelola pemerintah kolonial Belanda di Sumatra Barat. Saat berusia 15 tahun, Muhammad Rasul, demikian nama kecilnya, berangkat ke Makkah bukan hanya untuk beribadah haji, melainkan juga melanjutkan pengembaraan menuntut ilmu. Di Masjid al-Haram, dia belajar kepada ulama sekaligus imam besar asal Minangkabau, Syekh Ahmad Khatib. Selain Abdul Karim Amrullah, ada pula tiga nama lain yang merupakan murid termasyhur dari Syekh al-Minangkabawi. Mereka adalah Syekh Tahir Jalaluddin al-Azhari (sepupu Abdul Karim Amrullah, lahir 1869), Syekh Muhammad Jamil Jambek (lahir 1860), dan Haji Abdullah Ahmad (lahir 1878). Tujuh tahun lamanya Abdul Karim Amrullah muda menimba ilmu-ilmu agama di Tanah Suci. Dia sempat pulang ke Tanah Air, tetapi berangkat lagi ke Makkah pada 1903. Tiga tahun kemudian, sosok reformis Islam ini kembali ke kampung halamannya di Sumatra Barat untuk mengamalkan ilmunya dan berdakwah. Ayahanda Buya Hamka ini termasuk yang paling awal memperkenalkan sistem pendidikan modern Islam di Sumatra Barat. Di sana Abdul Karim Amrullah pernah belajar tartil Alquran dengan Haji Muhammad Salih, tata bahasa Arab dengan Haji Hud at-Tarusan, Sutan Muhammad Yusuf, serta fikih dan tafsir Alquran dengan ayahandanya sendiri, Syekh Muhammad Amrullah. Syekh Abdul Karim Amrullah merupakan yang pertama memperkenalkan Muhammadiyah ke Sumatra Barat. Dia memang gemar berpergian ke luar Minangkabau, semisal, Semenanjung Malaya atau Jawa. Dalam perjalanan ke Malaya, menurut Murni Djamal, Syekh Abdul Karim kurang mendapat sambutan yang baik dari masyarakat setempat. Sebab, otoritas setempat menganggap gaya mengajarnya kurang ortodoks. Sebaliknya, di Jawa dia mendapatkan banyak sahabat, khususnya setelah menemui para pemuka Sarekat Islam dan Muhammadiyah. Ini wajar karena, umpamanya, KH Ahmad Dahlan selaku pendiri ormas Islam itu pun pernah satu guru dengannya selama di Makkah, yakni di bawah bimbingan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Sejak 1925, Muhammadiyah tumbuh dan berkembang dengan pesat di Bumi Minangkabau berkat rintisan Syekh Abdul Karim. Buya Hamka dalam bukunya, Ayahku, menjelaskan, sebenarnya Syekh Abdul Karim Amrullah pernah bertemu dengan HOS Tjokroaminoto pada 1917 dalam sebuah lawatan di Jawa. Sosok berjulukan raja Jawa tanpa mahkota itu kemudian menawarkan agar Syekh Abdul Karim memimpin Sarekat Islam di Sumatra. Namun, dia menolak tawaran ini. Sebab, kata Buya Hamka, dia tidak suka politik, meskipun cukup banyak murid-muridnya di Minangkabau yang terjun dalam pergerakan politik. Bukan hanya menyemarakkan Muhammadiyah di Sumatra Barat. Syekh Abdul Karim Amrullah juga merancang dan mempraktikkan cara pengajaran Islam yang lebih modern di masyarakat Minangkabau. Keberadaan surau sebagai tempat ibadah sekaligus pusat kegiatan Islami direformasinya. Hasilnya berujung pada kemunculan lembaga Sumatra Thawalib, sebuah sistem sekolah yang banyak memunculkan insan-insan Muslim yang cerdas, kritis, dan berkiprah besar bagi pergerakan Muslim antikolonialisme. Sebut saja, Persatuan Muslim Indonesia (Permi) yang kerap menyuarakan kecaman keras terhadap praktik-praktik penjajahan Belanda atas Pribumi. Syekh Abdul Karim Amrullah juga ikut kerap menyuarakan antikomunisme di Sumatra Barat. Menurut Buya Hamka, sikap antikomunisme itu mulai menguat sejak Syekh Abdul Karim Amrullah tamat membaca buku Arradu ‘alad Dahriyin karya Jamaluddin al-Afghani. Pada 1920, Syekh Abdul Karim Amrullah menjadi penasihat Persatuan Guru Agama Islam (PGAI). Atas inisiatifnya, berdirilah Sekolah Normal Islam di Padang pada 1931 yang menyediakan pendidikan dasar. Pada masa itulah pemerintah kolonial Belanda mulai bersikap keras terhadap sekolah-sekolah yang didirikan swadaya masyarakat pribumi. Keluarlah peraturan ordonansi yang mengecap sekolah-sekolah itu berstatus “liar”. Syekh Abdul Karim memimpin gerakan yang mendesak pemerintah kolonial untuk mencabut aturan tersebut pada 1932. Hingga 1939, dia kerap mengadakan lawatan ke pelbagai daerah di Sumatra untuk mengajar, berceramah, dan membangun jaringan alim ulama. Sebagai pereformasi dakwah Islam, dia memiliki karakteristik keras dan tegas, tetapi mengimbau para muridnya untuk menjaga daya kritis. Menurut uraian Murni Djamal, dia tidak berkompromi terhadap otoritas lokal (adat) dan kaum tua sehubungan dengan praktik-praktik agama. Dia pun bersikap keras terhadap pemerintah kolonial Belanda. Dia dapat secara terang-terangan mengecam orang yang mempraktikkan bid’ah. Kemudian, dia banyak mengkritik sikap taklid kaum Muslim pada umumnya dan tarekat Naqshabandiyah di zamannya. Bersama dengan Syekh Abdullah Ahmad di Padang dan Syekh Djamil Djambek di Bukittinggi, Syekh Abdul Karim di Padang Panjang berdakwah untuk membersihkan Islam dari kecenderungan taklid, bid’ah, dan keterpurukan.

Read More

Amangkurat 1 Pekerjakan Secara Paksa 300 Ribu Orang di Ibu Kota Baru Mataram, Pasca Penggantian Sultan Agung

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Kerajaan Mataram bangkit berkat watak kuat Panembahan Senopati dan Sultan Agung. Tetapi demikianlah keruntuhan kerajaan tersebut disebabkan oleh sifat-sifat kejam anak-cucu mereka, yaitu Sunan Tegalwangi yang selalu curiga dan membawa malapetaka. Sunan Tegalwangi adalah julukan untuk Susuhunan Amangkurat I. Sifat kejam Amangkurat I yang dimulai dengan membunuh Tumenggung Wiroguno, berlanjut pada proyek pemindahan ibu kota mulai 1648. Saat Amangkurat I memindahkan ibu kota Mataram dari Kartosuro ke Plered, pejabat-pejabat yang tidak menyetujuinya, ia beri hukuman. Ia juga mempekerjakan secara paksa 300 ribu orang di ibu kota baru. “Beberapa pejabat tinggi yang tidak mau turut membantu dalam pekerjaan itu disuruhnya … ikat dan dibaringkan di paseban, dijemur dalam panas matahari,” tulis De Graaf mengutip catatan Winrick Kieft, utusan Kompeni yang dikirim ke Mataram pada November 1655. Untuk pembangunan ibu kota baru yang berkepanjangan itu, Amangkurat I juga mengerahkan 300 ribu tenaga kerja paksa pada 1661. Mereka diperkerjakan untuk meneruskan pembangunan danau yang belum tuntas. Danau untuk kesenangan Amangkurat I itu –tempat Amangkurat I bermain perahu– telah dibangun sejak 1651. Danau ini mengelilingi istana, sehingga tempat tinggal Amangkurat itu seperti pulau di tengah danau. Para penguasa dari pesisir juga dilibatkan dalam proyek ini. Mereka diberi tugas sebagai pengawas, sehingga tidak diperbolehkan pulang ke negerinya masing-masing. Pembuatan danau ini dilakukan dengan membendung sungai. Pada musim hujan 1661-1662, muncul banjir besar pada tengah malam, bendungan jebol. Pengerjaan danau pun berantakan, membuat Amangkurat I pusing kepala. Setahun sebelum membangun ibu kota baru, Amangkurat I menemukan kesempatan untuk menghabisi Tumenggung Wiroguno. Ini tumenggung yang istrinya pernah diculik oleh Amangkurat I sebelum naik tahta. Begitu naik tahta, ia mengambil hati Tumenggung Wiroguno dengan menaikkan jabatannya. Wiroguno menganggapnya sebagai anugerah raja, tetapi Amangkurat I menganggapnya sebagai taktik. Pada 1647 daerah taklukan Mataram di ujung timur Jawa, Blambangan, diserbu orang Bali. Amangkurat I berpura-pura marah dan menyatakan hendak berkunjung ke Blambangan. Namun, pejabat-pejabat pendukungnya tahau keinginan Amangkurat I yang sebenarnya, Mereka pun bermain drama, lalu menyarankan cukup mengutus Wiroguno untuk melihat Blambangan.

Read More

Bayt Al Qur’an Kembangkan Mushaf Digital di Museum Istiqlal

Jakarta — 1miliarsantri.net : Pengelola Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal (BQMI) sedang mengembangkan mushaf Al-Qur’an Istiqlal menjadi koleksi interaktif yang dapat dinikmati oleh pengunjung. Inovasi berbasis teknologi digital ini diciptakan untuk memberikan pengalaman yang memuaskan bagi pengunjung BQMI dalam menikmati keindahan setiap halaman mushaf Istiqlal. “Untuk melihat keindahan mushaf Istiqlal, pengunjung cukup melambaikan tangan di atas sensor layar digital. Tanpa ada sentuhan, secara otomatis lembaran-lembaran mushaf dalam bentuk digital akan terbuka. Jadi, lebih interaktif,” terang Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf AL-Qur’an (LPMQ), Abdul Aziz Sidqi, yang sekaligus sebagai penanggungjawab pengelolaan BQMI kepada 1miliarsantri.net, Ahad (17/12/2023). Aziz mengatakan, selama ini bagian dari mushaf Istiqlal yang didisplay di ruang pamer BQMI hanya surah Al Fatihah dan beberapa halaman surah lainnya dalam bentuk foto. Namun sekarang, dengan kemajuan teknologi, pengunjung bisa menikmati seluruh keindahan mushaf 30 juz dalam bentuk digital. “Untuk membuka ke kanan, tangan kanan yang dilambaikan, begitu juga sebaliknya, untuk membuka halaman ke kiri,” tambah Aziz. Mushaf Al Qur’an Istiqlal merupakan salah satu koleksi masterpiece BQMI. Teknik dan pola penulisan mushaf dirancang oleh tim yang terdiri dari ahli kaligrafi, ahli seni rupa, ulama Al-Qur’an, budayawan, dan pakar desain grafis dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Hingga saat ini, mushaf Istiqlal dianggap sebagai salah mushaf terindah yang dimiliki bangsa Indonesia. Keindahan mushaf Istiqlal terletak pada desain iluminasi (hiasan pinggir) mushaf yang merepresentasikan ragam budaya dari 27 provinsi di Indonesia. Dalam proses penulisannya, goresan awal teks mushaf ini dimulai oleh Presiden H. Muhammad Soeharto pada 15 Oktober 1991 M.Iluminasi mushaf ini sangat indah, mewakili kekhasan budaya dari 27 provinsi di Indonesia.

Read More

Trunojoyo Dibesarkan di Keraton Mataram, Tapi Justru Melakukan Pemberontakan

Surabaya — 1miliarsantri.net : Meski Raden Trunojoyo lahir di Madura, tetapi semenjak kecil ia diasuh di lingkungan Keraton Mataram. Ia dikenalkan kepada Putra Mahkota Mataram, yang di kemudian hari menjadi Amangkurat II dan membunuh Trunojoyo dengan keris. Pada 1656, Trunojoyo masih berusia tujuh tahun ketika ayahnya dibunuh saat Madura berperang dengan Mataram. Trunojoyo yang selamat, kemudian dibawa ke ibu kota Mataram, Plered. Pangeran (Adipati) Sampanglah yang membawa Trunojoyo masuk Keraton Mataram. Ia telah tinggal di Plered, di kemudian hari menjadi Cakraningrat II menggantikan ayahnya sebagai bupati Madura. Setelah dewasa, Trunojoyo melakukan pemberontakan terhadap Mataram. Alasannya, seperti yang ia kemukakan kepada perwira Kompeni Jacob Couper, ia mempunyai hak di Madura. Ayahnya, Demang Mloyo, jika tidak dibunuh, memiliki hak sebagai pengganti Cakraningrat I sebagai penguasa Madura. Pangeran Sampang, yang merupakan kakak dari Demang Mloyo lantas menjadi Cakraningrat II, meski sebenarnya ia tidak memiliki hak untuk itu. Terlebih, Cakraningrat II memimpin Madura dari Plered, tidak di Madura. Selain itu, ternyata juga ada persoalan pribadi antara Trunojoyo dengan Pangeran Sampang. Pangeran Sampang mencurigai Trunojoyo menjalin hubungan rahasia dengan keponakannya. Ketika Pangeran Sampang hendak menghabisi Trunojoyo, orang-orang Madura di Plered menyelamatkannya. Kepada perwira Kompeni Cornelis Speelman, Trunojoyo mengaku, “Dicurigai berbuat salah terhadap paman saya, yang ingin membunuh saya, padahal saya tidak bersalah.” Kepada perwira Jacob Couper, Trunojoyo mengaku, Pangeran Sampang hendak membunuhnya tanpa ia tahu kesalahannya. “Raja Mataram tidak menyelidiki masalah itu … tetapi juga ingin membunuh saya,” tulis Trunojoyo dalam suratnya untuk Couper. Trunojoyo juga menceritakannya kepada Putra Mahkota Pangeran Adipati Anom. “Mengapa mereka ingin merusakkan diri saya di Mataram? Saya juag diburu dan hendak dibunuh, dan itulah yang dilakukan Adipati Sampang tanpa membawa masalahnya kepada raja Mataram untuk diselidiki,” tulis Trunojoyo kepada Putra Mahkota. Dalam catatannya, Couper menyebut alasan Trunojoyo memberontak kepada Mataram. Adalah Demang Angantaka yang menjadi penyebabnya. Demang dari Balega, Madura, ini tidak mau menyerah kepada Pangeran Sampang.

Read More

Goa Sentono Blora Menjadi Saksi Perang Sunan Bonang dengan Pasukan Majapahit

Blora — 1miliarsantri.net : Blora adalah kabupaten yang didirikan pada 11 Desember 1749. Dengan usianya yang kini sudah menginjak 274 tahun, tak heran jika Blora memiliki tempat-tempat wisata yang menyimpan berbagai sejarah menarik. Salah satunya adalah sebuah gua yang sering dikunjungi untuk mengisi libur akhir pekan di Kabupaten Blora. Meskipun lokasinya cukup jauh dari pusat kota, yakni sekitar 40 km, namun gua ini cukup dikenal masyarakat. Pasalnya, selain jadi tempat healing, gua tersebut juga cocok dijadikan destinasi wisata untuk mempelajari kisah-kisah sejarah yang terjadi di tempat itu. Dengan keunikan serta kisah sejarahnya itulah, gua tersebut berhasil tercatat sebagai salah satu cagar budaya di Kabupaten Blora. Terlebih, tempat bersejarah yang kini telah dibuka sebagai objek wisata itu sudah diatur dan ditata rapi untuk memberikan kenyamanan bagi para pengunjung. Gua ini sebenarnya sangat cantik, ada beberapa lubang kecil yang menjadi salah satu keunikannya. Namun, minimnya penerangan membuat pengunjung harus berhati-hati saat menyusuri gua sedalam 10 meter ini. Terlebih, bagian dalam gua yang bentuknya mengerucut membuat pengunjung harus membungkuk agar bisa menyusurinya lebih dalam. Gua yang terbentuk dari batuan karst ini lebarnya sekitar 3 meter dengan ketinggian 2,5 meter. Pada zaman dahulu, gua ini diperkirakan pernah dijadikan sebagai tempat pertapaan umat Hindu. Pendapat ini didukung dengan adanya relief atau gambar Dewa umat Hindu yang bisa ditemukan di bagian dinding gua. Gua yang terletak di kawasan lembah Bengawan Solo ini dinamakan Gua Sentono. Secara administratif, lokasinya terletak di Dukuh Sentono, Desa Mendenrejo, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora. Karena lokasinya di tepi aliran Bengawan Solo, lahan di sekitar gua tersebut dimanfaatkan penduduk lokal untuk pertanian. Oleh sebab itu, tak heran jika sekeliling gua didominasi oleh hamparan sawah yang sangat luas. Ada sebuah kisah tentang terbentuknya Gua Sentono yang masih dipercaya masyarakat sampai saat ini. Pada zaman dahulu, konon di sekitar aliran Bengawan Solo ada sebuah padepokan kecil bernama “Sentono” yang dipimpin oleh Ki Blacak Ngilo.

Read More

Prasasti Kuno di temukan di Desa Keben Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan

Lamongan — 1miliarsantri.net : Sebuah prasasti kuno kembali ditemukan di Lamongan. Prasasti tersebut dinamakan Prasasti Keben karena ditemukan di kawasan Desa Keben, Kecamatan Turi, Lamongan tengah yang selama ini memang jarang ditemukan. Lokasi penemuan prasasti ini tidak jauh dari balai desa setempat, tepatnya di belakang balai desa dan berdekatan dengan lapangan desa. Hanya berjarak sekitar 50 meter dari belakang balai desa, kawasan dimana prasasti ini ditemukan dikenal dengan nama Telogo Watu (telaga batu). “Dulu kawasan ini dikenal warga sebagai telogo watu dan memang dikeramatkan oleh warga,” kata Kepala Desa Keben H Abdul Kholik kepada 1miliarsantri.net, Kamis (14/12/2023). Berada di sebuah tempat yang dikenal warga dengan sebutan telogo watu, prasasti Keben memang berada di sebuah telaga kecil di belakang balai desa dan dekat dengan lapangan desa. Sebelum terlihat penampakan batu prasasti, kata Kholik, batu prasasti tersebut hanya nampak bagian atasnya saja. “Kalau musim penghujan terendam air karena memang dikenal sejak dulu sebagai telogo watu,” ujarnya. Kondisinya yang tertimbun tanah dan kerap kebanjiran memang membuat prasasti ini aman tanpa ada gangguan. Apalagi, warga masyarakat sekitar mengkeramatkan lokasi di mana telogo watu tersebut berada meski bersebelahan dengan tambak. Kholik menyebut, ada beberapa kali penggalian yang dilakukan oleh warga namun karena banjir sehingga batu prasasti tersebut kembali tertimbun tanah. “Penggalian terakhir ya waktu mau sedekah bumi sekitar bulan Oktober kemarin hingga saat ini masih bisa terlihat,” jelasnya. Kekeramatan telogo watu ini memang diakui oleh Kholik. Ia menyebut, lokasi dimana prasasti Keben berada ini kerap menjadi lokasi shooting untuk acara TV lokal yang berbau mistis. Batu prasasti yang ditemukan di Desa Keben ini memang sudah tidak utuh dan pecah menjadi beberapa bagian. Bagian atasnya pun sudah hilang dan tidak berada di tempatnya. Banyak pula peneliti yang datang ke Prasasti Keben ini. “Kalau dulu kabar-kabarnya yang ada di sana itu adalah tumbal milik dari Syeh Subakir,” imbuhnya.

Read More

Karomah Sultan Agung Bisa Sholat di Mekah Dengan Hanya Melompat

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Sultan Agung merupakan raja Mataram pertama yang mengirim pasukan ke Batavia untuk menyerbu Kompeni. Ia mendapat julukan Nata Binathara ing Tanah Jawa, Raja Agung di Tanah Jawa, yang dikisahkan bisa shalat Jumat di Makkah meski berangkat dari Mataram pukul 11.00. Nama kecilnya Raden Mas Jatmiko dan ketika dewasa bernama Pangeran Rangsang. Naik tahta pada 1613, sebagai Sultan Agung Prabu Anyokrokusumo Senopati ing Ngalogo Ngabdurahman Sayidin Panata Dinan Nata Binathara ing Tanah Jawi. Ia merupakan anak pertama dari Adi Prabu Anyakrawati Senopati ing Ngalogo Mataram, raja kedua Mataram. Anyakrawati memiliki nama kecil Raden Mas Jolang, anak dari Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram. Sultan Agung dikishkan sering bepergian sendirian, bahkan sampai ke Aceh, Makassar, Siam, Ternate, dan Turki. Ia juga sering bertapa di gunung-gunung. Cerita babad menyebut, ia berpindah dari gunung yang satu ke gunung lainnya dengan cara melompat. Yaitu, dari Gunung Lawu melompat ke Gunung Merapi, melompat lagi ke Lawu lalu melompat ke Gunung Semeru. Dari Semeru melompat ke Gunung Merbabu, lalu pulang ke keraton. Suatu ketika, dalam aktivitas bertapa dari gunung ke gunung di hari Jumat, Sultan Agung bertemu dengan sosok Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga pun menanyakan aktivitas Sultan Agung berkali-kali melompati dari gunung ke gunung. “Tidak untuk maksud apa-apa. Daripada berdiam diri, sehabis sembahyang Subuh saya mencoba meniru kebiasaan Raden Arjuno. Ketika Raden Arjuno mencari kesenangan, selalu melompat dari gunung ke gunung,” jawab Sultan Agung. Sunan Kalijaga menyatakan, zaman sudah berubah, agama di Jawa sudah berganti. Lalu ia menyarankan kepada Sultan Agung, daripada melompat dari gunung ke gunung, lebih baik melompat ke Makkah untuk shalat Jumat. “Siapa tahu mendapat kemuliaan,” kata Sunan Kalijaga. Sultan Agung pun menerima saran Sunan Kalijaga itu. Ketika Sunan Kalijaga sudah menghilang dari tempat duduknya, hari itu sudah pukul 11.00. Bergegaslah Sultan Agung melompat ke Makkah.

Read More