Iran Tunjukan Sikap Menantang Rencana Blokade Selat Hormuz oleh Angkatan Laut AS

Teheran, Iran – 1miliarsantri.net | Sikap tegas Iran menantang rencana Trump memblokade Selat Hormuz paska perundingan yang buntu antara utusan Iran dengan Amerika Serikat yang berlangsung di Islamabad, Pakistan. Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah gagalnya perundingan di Islamabad, Pakistan, yang diikuti dengan rencana Washington melakukan blokade di Selat Hormuz—jalur vital distribusi energi global. Pembicaraan damai yang gagal disikapi oleh Presiden AS, Trump pada hari Minggu 12/04/2026.  Presiden Donald Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat akan mulai memblokade Selat Hormuz dan mencegat kapal-kapal yang telah membayar tol kepada Iran, sebagaimana ditulis oleh iranintl.com. Ketua Parlemen Iran Ejek Rencana AS Presiden AS mengumumkan langkah tersebut sebagai upaya menekan Iran, termasuk membatasi lalu lintas kapal menuju pelabuhan Iran, meski kapal menuju negara lain disebut tetap diizinkan melintas. Langkah ini dinilai sebagai eskalasi besar yang berpotensi mengguncang pasar minyak dunia, mengingat pentingnya kawasan tersebut bagi pasokan energi internasional. Menanggapi hal itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengejek rencana blokade tersebut dan memperingatkan warga Amerika bahwa mereka bisa segera “merindukan harga bahan bakar saat ini”. Ia juga menegaskan bahwa Iran tidak akan tunduk pada tekanan atau ancaman dari pihak mana pun, sejalan dengan sikap tegas Teheran pasca kegagalan negosiasi dengan delegasi AS. Pernyataan ini mencerminkan meningkatnya retorika keras di kedua sisi yang memperbesar risiko konflik lebih luas di kawasan Timur Tengah.*** Sumber : iranintl.com Foto : iranintl.com, Reuters, The Guardian, English.Alarabiya.net Penuils dan Editor : Thamrin Humris

Read More

Gencatan Senjata: Pembicaraan antara Iran dan Amerika Berakhir Tanpa Terobosan di Islamabad

Islamabad, Pakistan – 1miliarsantri.net | Perundingan tingkat tinggi dalam momentum gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, Pakistan telah berlangsung dalam putaran pertama yang berakhir pada Sabtu 11/4/2026 waktu setempat. Mengutip IRANINTL.COM, putaran pertama perundingan perdamaian Iran-AS di Islamabad berakhir pada hari Sabtu, dan putaran negosiasi selanjutnya kemungkinan akan diadakan malam ini atau besok, menurut laporan media pemerintah Iran. Perundingan tersebut menemui jalan buntu terkait perebutan kendali Selat Hormuz. Sementara itu, Seorang pejabat AS membantah menyetujui pencairan aset Iran, bertentangan dengan laporan Reuters sebelumnya yang mengutip sumber Iran. Mojtaba Khamenei Terlibat Dalam Keputusan Isu-isu Penting IranIntl juga melaporkan, Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, terlibat dalam pengambilan keputusan mengenai isu-isu penting termasuk perang meskipun mengalami luka serius, demikian laporan Reuters mengutip tiga orang yang dekat dengan lingkaran dalamnya. Ini menandakan kepemimpinan Iran setelah syahidnya Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan udara AS-Israel, hingga saat ini sangat solid dan sulit untuk dipengaruhi oleh pihak luar. Pembicaraan Mencakup Sanksi dan Nuklir Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan pada hari Sabtu bahwa diskusi selama 24 jam terakhir mencakup topik-topik negosiasi utama seperti Selat Hormuz, program nuklir Iran, ganti rugi perang, pencabutan sanksi, dan penghentian permusuhan, demikian yang ia unggah di X. Baghaei menambahkan bahwa keberhasilan proses diplomatik bergantung pada keseriusan dan itikad baik pihak lain, serta menghindari “tuntutan maksimalis dan melanggar hukum” sambil menghormati hak-hak Iran.*** Sumber : iranintl.com Foto : iranintl.com Penuils dan Editor : Thamrin Humris

Read More

Perang Iran vs Amerika Serikat dan Israel Memasuki Hari ke-26, Simak Timeline Lengkapnya

Timeline Perang Iran vs Amerika & Israel 2026: 26 Hari yang Mengubah Timur Tengah, Dari “Epic Fury” hingga Ancaman Perang Regional Timur Tengah — 1miliarsantri.net: Konflik besar antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel pecah pada akhir Februari 2026 dan berkembang menjadi salah satu eskalasi militer (perang) paling berbahaya dalam sejarah modern Timur Tengah. Serangan udara, rudal balistik, pembunuhan tokoh penting, hingga ancaman penutupan jalur minyak dunia membuat situasi berubah cepat dari hari ke hari. Berikut timeline lengkap hari ke-1 hingga hari ke-26 yang menggambarkan bagaimana perang ini berkembang secara dramatis. Timeline Perang Iran vs Amerika & Israel 2026 Hari ke-1 — 28 Februari 2026 Operasi “Epic Fury” Dimulai, Pemimpin Tertinggi Iran Tewas Perang dimulai dengan operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel bernama Epic Fury. Dalam 12 jam pertama, hampir 900 target dihantam serangan udara dan rudal di berbagai wilayah Iran, termasuk di ibu kota Tehran. Target utama meliputi fasilitas militer, peluncur rudal, sistem pertahanan udara, hingga pusat komando IRGC. Dalam serangan awal ini, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas bersama puluhan pejabat senior. Iran langsung membalas dengan puluhan rudal balistik ke Israel, menghantam wilayah Tel Aviv dan Haifa. Rudal juga diarahkan ke Pangkalan AS di Bahrain, Qatar, UAE, Kuwait, dan Arab Saudi. Korban sipil pertama jatuh di kedua pihak. Hari ke-2 — 1 Maret 2026 Serangan Balasan Iran Membesar, Korban Sipil Meningkat Tajam Iran meluncurkan gelombang rudal besar ke Israel. Sebuah rudal menghantam shelter di Beit Shemesh, menewaskan sembilan warga Israel dan melukai puluhan lainnya. Serangan balasan AS-Israel berlanjut ke infrastruktur komando Iran. Korban sipil Iran meningkat drastis, termasuk insiden tragis di Minab yang menewaskan sekitar 170 orang, sebagian besar anak-anak. Kelompok Hezbollah mulai aktif membantu Iran dengan serangan roket ke Israel utara, menandai konflik mulai meluas secara regional. Hari ke-3 — 2 Maret 2026 Selat Hormuz Ditutup, Dunia Terancam Krisis Energi Iran mengumumkan penutupan total Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia. Harga minyak global langsung melonjak tajam. Serangan Iran ke pangkalan AS di negara Teluk terus berlanjut. Israel untuk pertama kalinya menyerang fasilitas nuklir Natanz. Korban tewas di Iran mencapai ratusan, sementara AS-Israel mengklaim superioritas udara mulai tercapai di beberapa wilayah. Hari ke-4 hingga Hari ke-7 — 3–6 Maret 2026 Tehran Dibombardir, Infrastruktur Energi Iran Hancur Serangan udara AS-Israel meningkat intensitasnya ke Tehran, pangkalan rudal, dan fasilitas energi. Pelabuhan serta depot minyak mengalami kerusakan besar. Iran tetap meluncurkan rudal meski jumlahnya menurun akibat banyak peluncur hancur. Beberapa serangan masih mencapai area Tel Aviv. Hezbollah meningkatkan serangan roket ke Israel utara, sementara evakuasi massal dimulai di Lebanon selatan. Hari ke-8 — 7 Maret 2026 Fasilitas Sipil Terseret, Korban Terus Bertambah Serangan Israel menghantam universitas dan rumah sakit di Tehran. Laporan korban sipil meningkat tajam. Iran membalas dengan menyerang kilang minyak di Haifa. Israel merespons dengan gelombang udara besar-besaran. Hari ke-9 hingga Hari ke-14 — 8–13 Maret 2026 Perang Meluas ke 20 Provinsi Iran Serangan AS-Israel menjangkau lebih dari 20 provinsi Iran. Kebakaran depot minyak memicu fenomena “hujan hitam” tercemar di Tehran. Iran menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru. Serangan rudal Iran terus berlanjut meski lebih sporadis. Konflik Hezbollah-Israel meningkat, dan Israel mulai menyiapkan invasi darat terbatas ke Lebanon selatan. Hari ke-15 hingga Hari ke-17 — 14–16 Maret 2026 Tokoh Senior Iran Dibunuh Serangan udara Israel di Tehran menewaskan pejabat keamanan nasional senior Ali Larijani. Iran membalas dengan 9–12 gelombang rudal ke Israel, beberapa menggunakan munisi cluster yang menyebabkan korban sipil. Serangan ke fasilitas rudal bawah tanah Iran semakin intensif. Hari ke-18 hingga Hari ke-20 — 17–19 Maret 2026 Invasi Darat Lebanon Dimulai Israel memulai operasi darat terbatas di Lebanon selatan. Lebih dari satu juta orang mengungsi. Iran meluncurkan hingga 12 gelombang rudal per hari ke Israel. Beberapa menghantam Dimona, Rishon Lezion, dan wilayah Tel Aviv. Korban kumulatif di Iran melewati angka 2.000–3.000 orang. Hari ke-21 — 20 Maret 2026 Serangan ke Selatan Israel Iran meluncurkan 11 gelombang rudal. Beberapa menghantam Arad dan Dimona, melukai puluhan orang termasuk anak-anak. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengunjungi lokasi serangan. Israel terus menghantam infrastruktur rezim Iran. Hari ke-22 — 21 Maret 2026 Intensitas Rudal Iran Menurun Iran meluncurkan delapan gelombang rudal ke Israel utara dan selatan. Serangan AS-Israel difokuskan pada pangkalan rudal tersisa di Iran tengah. Hari ke-23 — 22 Maret 2026 “Hujan Api” di Israel Tengah Iran meluncurkan serangan besar ke Tel Aviv dan wilayah tengah Israel. Beberapa rudal menembus pertahanan udara dan menyebabkan kerusakan bangunan serta korban luka. Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ultimatum 48 jam agar Iran membuka kembali Selat Hormuz. Hari ke-24 — 23 Maret 2026 Diplomasi Bayangan di Tengah Bom Israel melanjutkan serangan udara ke Tehran. Iran membalas dengan rudal terbatas. Trump menyebut ada pembicaraan produktif, namun Iran membantah. Hari ke-25 — 24 Maret 2026 Serangan Malam “Fire Raining” Iran meluncurkan serangan rudal besar pada malam hari ke Tel Aviv dan pusat Israel. Beberapa rudal menembus pertahanan dan menyebabkan kerusakan bangunan. Serangan Israel ke infrastruktur Iran terus berlanjut. Hari ke-26 — 25 Maret 2026 Perang Belum Berakhir Serangan udara AS-Israel masih menargetkan fasilitas militer Iran. Pemadaman listrik meluas di Tehran. Iran mempertahankan serangan rudal sporadis ke Israel. Korban di kedua pihak terus bertambah. Trump kembali menyebut peluang kesepakatan, namun pertempuran di front Israel-Lebanon dan udara Iran-Israel masih aktif. Situasi tetap sangat dinamis dengan risiko eskalasi regional yang jauh lebih besar. Perang yang dimulai oleh Amerika Serikat dan Israel dengan menyerang Iran akhirnya melebar dan berubah ari serangan udara cepat menjadi perang multi-front yang melibatkan Iran, Israel, Amerika Serikat, dan kelompok bersenjata regional. Penutupan Selat Hormuz, invasi Lebanon, dan pembunuhan tokoh penting menunjukkan konflik ini berpotensi berkembang menjadi perang besar Timur Tengah. Amerika terdesak dengan hancurnya 19 infrastruktur militer yang tersebar di Timur Tengah dan armada lautnya menjauh dari wilayah Iran.*** Penulis dan Editor : Thamrin Humris Foto dan Sumber : Channel Whatsapp Timur Tengah Update

Read More

Malam Mencekam Setelah Idul Fitri: Terjadi Kebakaran, Penembakan & Penggerebekan Terkoordinasi Teror Terhadap Warga Sipil di Tepi Barat

Gelombang kekerasan setelah Idul Fitri di Tepi Barat memanas dengan kebakaran, penembakan & penggerebekan terkoordinasi dalam satu malam mencekam di berbagai wilayah, teror terhadap warga sipil memicu ketakutan dan krisis kemanusiaan. Tepi Barat, Palestina — 1miliarsantri.net: Malam di Tepi Barat berubah menjadi mimpi buruk ketika kebakaran, penembakan, dan penggerebekan terkoordinasi terjadi hampir bersamaan di berbagai wilayah. Gelombang kekerasan ini menyapu permukiman warga Palestina, menciptakan suasana penuh ketegangan dan kepanikan. Untuk diketahui, Tepi Barat (bahasa Arab: الضفة الغربية, aḍ-Ḍiffä l-Ġarbīyä, bahasa Ibrani: יהודה ושומרון‎, Hagadah Hama’aravit, bahasa Inggris: West Bank), disebut demikian karena hubungannya dengan Sungai Yordan, merupakan wilayah yang lebih besar dari dua wilayah Palestina (yang lainnya adalah Jalur Gaza). Wilayah yang terkurung daratan di dekat pantai Laut Mediterania di wilayah Levant di Asia Barat, ini berbatasan dengan Yordania dan Laut Mati di sebelah timur dan Israel (melalui Garis Hijau) di sebelah selatan, barat, dan utara. Dari desa hingga jalur utama, terjadi kebakaran, penembakan, dan penggerebekan terkoordinasi ini memperlihatkan eskalasi konflik yang semakin brutal dan sistematis, meninggalkan warga sipil dalam ketakutan tanpa perlindungan memadai. Di Desa Al Funduqomiya, dekat Jenin, api berkobar hebat saat beberapa rumah dan kendaraan dibakar dalam waktu hampir bersamaan. Kobaran api dengan cepat menjalar di antara bangunan yang rapat, sementara warga berusaha memadamkan sendiri tanpa bantuan darurat. Asap tebal menutupi langit malam, menciptakan pemandangan mencekam yang mempertegas bagaimana kebakaran, penembakan, dan penggerebekan terkoordinasi telah menjadi ancaman nyata yang menghantui kehidupan sehari-hari di Tepi Barat. Ketegangan semakin meningkat ketika insiden meluas ke wilayah lain. Di dekat Tulkarm, suara tembakan memecah malam saat amunisi tajam digunakan terhadap warga sipil, menyebabkan dua orang terluka parah. Sementara itu, di Masafer Yatta dekat Hebron, penggerebekan berlangsung di bawah pengawasan pasukan bersenjata. Warga dilaporkan terluka, dan beberapa orang—including seorang anak—ditahan setelah rumah-rumah mereka diserbu. Dalam kekacauan itu, granat setrum diledakkan, memicu kepanikan saat keluarga dipaksa meninggalkan tempat tinggal mereka. Serangan tidak berhenti di sana. Di wilayah Lembah Yordan, kendaraan yang melintas menjadi sasaran lemparan batu, sementara warga sipil menghadapi paparan zat iritan kimia. Jalur-jalur utama berubah menjadi zona berbahaya, membuat mobilitas warga semakin terbatas. Pola serangan yang terjadi di berbagai lokasi ini dinilai bukan kebetulan, melainkan menunjukkan indikasi tindakan yang terorganisir dan meluas. Saksi mata menggambarkan malam itu sebagai rangkaian teror tanpa jeda—api, tembakan, dan teriakan memenuhi udara. Warga yang sudah hidup di bawah tekanan kini menghadapi situasi yang semakin tidak tertahankan. Banyak yang khawatir bahwa kekerasan ini bukan sekadar insiden sesaat, melainkan bagian dari tekanan sistematis untuk memaksa mereka meninggalkan tanah mereka. Sejumlah laporan dari media internasional juga menguatkan gambaran meningkatnya kekerasan di Tepi Barat dalam beberapa waktu terakhir, termasuk pembakaran rumah dan serangan terhadap warga sipil yang terjadi berulang kali. Pola ini menunjukkan bahwa konflik di wilayah tersebut terus mengalami eskalasi, dengan warga sipil sebagai korban utama. Malam penuh teror ini meninggalkan luka mendalam dan pertanyaan besar tentang masa depan wilayah tersebut. Di tengah kobaran api dan dentuman senjata, kehidupan normal terasa semakin jauh—digantikan oleh rasa takut yang terus membayangi setiap sudut Tepi Barat.*** Sumber : SAFA Press Agenci Foto : SAFA Press Agenci Penulis dan Editor : Thamrin Humris

Read More

Idul Fitri 1447 H: Arab Saudi dan Negara-Negara Teluk Serentak Rayakan Lebaran Hari Ini

Makkah – 1miliarsantri.net: Arab Saudi bersama Negara-Negara Teluk seperti UEA, Qatar, Kuwait, dan Bahrain merayakan Idul Fitri 1447 H hari ini, Jumat 20 Maret 2026, setelah hilal tidak terlihat dan Ramadan digenapkan 30 hari. Pemerintah Arab Saudi menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Keputusan ini diambil oleh Mahkamah Agung Arab Saudi berdasarkan hasil rukyatul hilal. Karena hilal tidak terlihat, bulan Ramadan digenapkan menjadi 30 hari. Pelaksanaan Sholat Ied di Kota Makkah disiarkan secara langsung dan dapat disaksikan di berbagai belahan dunia melalui Makkah Live. Pelaksanaan Sholat Idul Fitri 1447 Hijriah di Masjidil Haram berlangsung dengan penuh kekhusyukan dan kemegahan. Sejak dini hari, jutaan umat Islam dari berbagai negara telah memadati area dalam masjid hingga ke pelataran luar. Gema takbir menggema di seluruh penjuru Mekkah, menambah suasana haru dan kebersamaan di hari kemenangan. Sholat Ied tahun 2026 diperkirakan diikuti lebih dari tiga jutaan jamaah, Mengingat Kapasitas Masjidil Haram setelah perluasan bisa mencapai hingga ±3 juta orang dalam kondisi penuh, (termasuk area dalam dan pelataran). Jumlah tersebut bisa bertambah dengan puncak musim umrah Ramadan dan hadirnya jamaah umrah dari berbagai negara. Dalam khutbah Idul Fitri, imam Masjidil Haram menyampaikan pesan penting: “Bertakwalah kepada Allah dan jagalah persatuan umat Islam.” Khutbah juga menekankan pentingnya menjaga amal setelah Ramadan serta mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah perbedaan, dan juga mendoakan umat Islam di Gaza Palestina.*** Penulis dan Editor : Thamrin Humris Sumber : Berbagai Sumber Foto : Tangkapan layar Makah Live.Net

Read More

Trumph Meradang Karena Sekutunya Tak Satu Suara Lawan Iran, Tanda Kekalahan Amerika Serikat Atas Iran?

MIDDLE EAST – 1 miliarsantri.net: Serangan balasan Iran bukan sekadar simbolis. Rudal dan drone dilaporkan menghantam berbagai instalasi militer Amerika di kawasan Teluk—menciptakan dentuman yang tak hanya merobek langit malam, tetapi juga mengguncang dominasi lama Washington di wilayah panas tersebut. Alih-alih mendapat bantuan dari negara sekutunya, Amerika justru dibiarkan pusing menghadapi gelombang serangan balasan Iran yang menghancurkan berbagai fasilitas militernya di Qatar, Bahrain, hingga Uni Emirat Arab. Di tengah kekacauan itu, zionis Israel dilaporkan dalam kondisi porak-poranda setelah puluhan rudal dan drone kamikaze Iran menghantam Tel Aviv dan wilayah lainnya—menyisakan kepanikan dan puing-puing yang belum sempat dibersihkan. Tanda-tanda kekalahan Amerika mulai terasa nyata dan mengerikan. Serangan Iran tak hanya merusak pangkalan militer AS di Teluk, tetapi juga membuka fakta pahit: sekutu-sekutu utama memilih diam, menolak terlibat dalam konflik yang semakin tak terkendali. Sementara itu, Selat Hormuz—urat nadi energi dunia—mulai lumpuh, menciptakan efek domino yang mengguncang ekonomi global dan menebar ketakutan di pasar internasional. Di sisi lain, China dan Rusia berdiri di bayang-bayang konflik. Mereka tidak bergerak secara frontal, namun sikap diam yang condong kepada Iran menjadi sinyal kuat bahwa peta kekuatan dunia sedang bergeser secara perlahan namun pasti. Di media sosial, beredar luas meme yang menggambarkan kondisi Donald Trump saat ini—terlihat kebingungan di tengah tekanan yang kian menghimpit, namun tetap berusaha tegar mencari dukungan dari sekutu yang justru menjauh. Di balik layar, tekanan politik dan militer semakin menyesakkan. Sementara itu, Iran dengan tegas menyatakan tidak ada ruang untuk negosiasi gencatan senjata. Pesan itu menggema keras: konflik ini belum akan berakhir—justru bisa memasuki babak yang lebih gelap. Memasuki minggu ketiga perang yang ia pilih sendiri untuk dilancarkan, Presiden Trump kini berdiri di persimpangan berbahaya. Ia dihadapkan pada pilihan yang tak kalah mengerikan: tetap bertahan dalam pertempuran demi ambisi besar yang telah ia canangkan, atau menarik diri dari pusaran konflik yang kian meluas dan brutal—konflik yang telah menciptakan gelombang kejut militer, diplomatik, dan ekonomi yang mengguncang dunia. Di tengah dentuman rudal dan sunyinya dukungan sekutu, satu pertanyaan besar mulai menggantung di udara: apakah ini awal dari runtuhnya dominasi Amerika di Timur Tengah? Penulis dan Editor : Thamrin Humris Foto : kolase @PalestinaPost

Read More

Badai Pasir Dahsyat Melanda Gaza, Penderitaan Pengungsi Kian Memburuk

Gaza, Palestina — 1miliarsantri.net: Badai pasir dahsyat menyapu wilayah Jalur Gaza pada Sabtu (14/3/2026), memperparah kondisi kemanusiaan yang sudah sangat memprihatinkan di tengah konflik berkepanjangan. Angin kencang disertai debu tebal menerjang berbagai wilayah, merusak tenda-tenda pengungsi dan mempersulit kehidupan ribuan warga yang kehilangan tempat tinggal. Laporan dari sejumlah sumber lokal Palestina menyebutkan bahwa badai pasir tersebut melanda hampir seluruh wilayah Gaza sejak pagi hari. Debu pekat dan angin kencang menyapu kamp-kamp pengungsi, membuat banyak tenda darurat beterbangan dan rusak. Kondisi ini memperburuk penderitaan para keluarga yang sudah hidup dalam keterbatasan di tempat-tempat penampungan sementara. Tenda Pengungsi Rusak Diterjang Angin Banyak pengungsi di kamp-kamp darurat terpaksa menghadapi badai tanpa perlindungan memadai. Tenda yang digunakan sebagian besar merupakan tempat tinggal sementara yang rapuh dan tidak dirancang untuk menghadapi cuaca ekstrem seperti badai pasir. Akibatnya, angin yang membawa debu tebal dengan mudah menerobos celah-celah tenda, menimbulkan kerusakan pada tempat tinggal darurat serta mencemari makanan dan peralatan rumah tangga warga. Beberapa saksi mata melaporkan bahwa angin kencang membuat langit Gaza berubah menjadi kelabu karena debu yang berputar di udara. Banyak keluarga harus berjuang melindungi anak-anak mereka dari terpaan angin dan pasir yang masuk ke dalam tenda. Ancaman Kesehatan Meningkat Selain merusak tempat tinggal, badai pasir juga menimbulkan risiko kesehatan yang serius bagi warga Gaza. Debu halus yang terbawa angin dapat memicu gangguan pernapasan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis.Para petugas kesehatan memperingatkan bahwa kondisi ini dapat memperburuk penyakit seperti asma dan infeksi saluran pernapasan. Apalagi, fasilitas medis di Gaza saat ini berada dalam kondisi terbatas akibat konflik dan krisis kemanusiaan yang berkepanjangan. Krisis Kemanusiaan Kian Berat Badai pasir ini datang di saat yang sangat sulit bagi masyarakat Gaza. Jutaan warga Palestina telah mengungsi akibat konflik yang terus berlangsung, dan banyak di antaranya tinggal di kamp-kamp darurat dengan fasilitas yang minim.Angin berdebu yang menerjang kamp-kamp pengungsi disebut semakin menambah penderitaan puluhan ribu keluarga yang sudah hidup dalam kondisi serba kekurangan.*** Penulis dan Editor : Thamrin Humris Foto istimewa : Tangkapan layar YouTube QudsNPS

Read More

Ramadhan 2003 dan Ramadhan 2026: Amerika Rusak Ketenangan Ramadhan dengan Menyerang Irak dan Iran, Ayatollah Khamenei Syahid

Jakarta — 1miliarsantri.net: Ramadhan 2026 kembali dinodai oleh tindakan provokatif Amerika Serikat dengan menyerang Negeri Para Mullah “Iran” pada Sabtu 28/2/2026, yang menyebabkan syahidnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Seyed Ali Khamenei beserta beberapa keluarganya. Bulan Ramadhan dikenal sebagai momen spiritual, puasa, dan refleksi bagi umat Islam di seluruh dunia. Namun sejarah modern mencatat dua periode mengejutkan ketika konflik militer besar melibatkan Amerika Serikat dan negara-negara Muslim saat Ramadhan berlangsung: Invasi Irak 2003 dan serangan terhadap Iran pada Ramadhan 2026. Kedua peristiwa ini memicu kontroversi global dan penderitaan, terutama ketika kekerasan terjadi di tengah bulan suci. Berikut ulasan komprehensif tentang serangan militer Amerika Serikat terhadap Irak pada Ramadhan 2003 dan serangan bersama AS–Israel terhadap Iran pada Ramadhan 2026, serta dampaknya terhadap kaum Muslim, dan reaksi internasional dan kontroversinya. Invasi Amerika Serikat ke Irak (2003) di Bulan Ramadhan Masih membekas dalam ingatan kaum muslim di Irak dan dunia, pada 19 Maret 2003, Amerika Serikat memimpin koalisi untuk menyerang Irak dalam operasi yang dikenal sebagai Operation Iraqi Freedom atau Invasi Irak 2003. Invasi ini dilatarbelakangi oleh klaim pemerintah AS tentang adanya senjata pemusnah massal (WMD) di bawah rezim Saddam Hussein — klaim yang kemudian tidak terbukti. Konflik ini berlanjut selama bertahun-tahun, menyebabkan jatuhnya pemerintahan Saddam, kekosongan kekuasaan, munculnya pemberontakan sektarian, dan dampak kemanusiaan yang besar. Banyak pihak mengkritik invasi tersebut karena tanpa mandat jelas dari Dewan Keamanan PBB dan karena terjadi saat Ramadhan, menambah kerapuhan sosial dan tragedi bagi warga Irak yang menjalankan ibadah puasa. Invasi militer ini menjadi awal dari periode ketidakstabilan panjang di Irak, dengan ribuan warga sipil tewas serta menghancurkan banyak infrastruktur, dan masih diperdebatkan sampai hari ini. Serangan pada Ramadhan 2026 memicu kecaman internasional, termasuk reaksi keras dari Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menyebut agresi sebagai ancaman eskalasi besar di Timur Tengah, serta tekanan diplomatik agar kembali ke jalur negosiasi. Rusia dan beberapa negara kritis terhadap tindakan AS–Israel, menyebutnya sebagai pelanggaran hukum internasional dan agresi terhadap negara berdaulat. Kedutaan Iran bahkan membandingkan serangan tersebut dengan pengalaman Irak dan menunjukkan bahwa narasi “membantu rakyat” yang dipakai untuk membenarkan intervensi sering kali berujung pada penderitaan dan kerusakan bagi masyarakat sipil. Dampak terhadap Umat Islam di Timur Tengah Kedua peristiwa ini — serangan ke Irak (2003) dan serangan bersama ke Iran (2026) — terjadi pada bulan suci Ramadhan, ketika umat Islam secara tradisional berharap damai dan keteraturan sosial. Banyak jamaah dan publik internasional melihat aksi militer tersebut sebagai “penghancuran ketenangan Ramadhan”, memperdalam trauma kolektif dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Bagi warga Muslim di Irak dan Iran, Ramadhan yang seharusnya menjadi waktu ibadah dan kedekatan spiritual berubah menjadi suasana konflik, kehilangan anggota keluarga, kerusakan harta benda, dan ketidakpastian masa depan. Duka Cita dari Ulama Irak dan Dunia Syiah di Baghdad Di ibukota Irak, tokoh-tokoh Syiah serta aliansi ulama setempat berkumpul untuk menyampaikan duka cita besar. Sebagaimana dilaporkan untuk wilayah Baghdad, sejumlah pemimpin dan kelompok Syiah menyatakan: “…dengan kesedihan dan duka yang mendalam, kami berkabung atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei… darahnya akan tetap menjadi sumber inspirasi bagi semua generasi dan kutukan bagi para Zionis pembunuh selamanya.” Beberapa ulama di Irak bahkan menetapkan periode tiga hari berkabung nasional sebagai bentuk penghormatan atas peran Khamenei dalam perjuangan politik dan keagamaan mereka. Amerika Tidak Menghormati Bulan Suci Ramadhan Serangan militer di bulan Ramadhan memang sering menimbulkan sensitivitas besar, karena Ramadhan adalah bulan suci bagi umat Islam yang identik dengan ibadah, kedamaian, dan solidaritas. Peristiwa invasi Irak 2003 dan serangan terhadap Iran pada Ramadhan 2026 adalah pengingat pahit bahwa konflik modern tidak menghormati waktu sakral dan sering kali membawa akibat jangka panjang bagi rakyat Irak dan Iran. Kedua peristiwa sama-sama terjadi di bulan suci, sehingga dianggap sebagai “penghancuran ketenangan Ramadhan.” Serangan yang dilakukan Amerika Serikat pada Sabtu, 28/2/2026 telah menyebabkan sekitar 200 orang tewas termasuk anak-anak di sebuah sekolah di Minab.*** Penulis : Thamrin Humris Editor : Toto Budiman Foto : Tangkapan layar ArabNews dari khamenei.ir

Read More

Gaza di Ambang Krisis: Gencatan Senjata Tertekan Saat Hamas Tolak Pernyataan ‘Pemusnahan’ Israel

Gaza, Palestina — 1miliarsantri.net: Gencatan senjata di Gaza menghadapi tekanan serius setelah Hamas menolak pernyataan pejabat Israel yang dianggap mengancam, mengguncang upaya diplomasi untuk mengakhiri konflik yang berkepanjangan dan menghancurkan di wilayah itu. Kantor berita Safa News Agency melaporkan bahwa gencatan senjata yang rapuh di Gaza kini berada di bawah tekanan besar setelah gerakan perlawanan Palestina, Hamas, mengecam keras pernyataan pejabat senior Israel yang dianggap sebagai ancaman terhadap keberlangsungan gencatan senjata tersebut. Hamas Anggap Pernyataan zionis Israel Provokatif Dalam pernyataannya, juru bicara Hamas, Hazem Qassem, menyatakan bahwa komentar dari pejabat Israel — khususnya yang menyebutkan tujuan untuk “membongkar atau memusnahkan” Hamas — merupakan provokasi langsung terhadap proses damai yang sedang berlangsung Hamas menilai bahwa retorika semacam itu tidak hanya merusak diplomasi, tetapi juga mengabaikan komitmen terhadap perjanjian yang ada. Pernyataan tersebut dianggap bertentangan dengan semangat gencatan senjata, yang telah dimulai sebagai upaya untuk mengurangi permusuhan di tengah pertempuran yang telah menewaskan puluhan ribu warga sipil dan menghancurkan wilayah tersebut. Hamas menegaskan bahwa ancaman seperti itu memperburuk kondisi rakyat Palestina yang sudah menderita akibat konflik berkepanjangan. Reaksi Internasional dan Krisis Kemanusiaan yang Meningkat Pernyataan Hamas datang bersamaan dengan kritik kelompok negara internasional terhadap tindakan Israel di wilayah pendudukan Tepi Barat. Sekelompok sekitar 20 negara menyerukan sanksi nyata, bukan sekadar kecaman verbal, terhadap tindakan yang dinilai semakin memperburuk situasi kemanusiaan. Situasi kemanusiaan di Gaza tetap mengerikan — dengan jumlah korban sipil yang sangat tinggi dan kebutuhan mendesak akan bantuan medis, makanan, dan shelter — sementara akses bantuan kemanusiaan masih sering terhambat. Berbagai organisasi internasional terus mendesak pihak konflik untuk memastikan akses bantuan bagi warga sipil yang terjebak di tengah kekerasan. Kondisi Gencatan Senjata yang Rapuh Gencatan senjata yang awalnya membawa jeda bagi pertempuran kini menghadapi tantangan besar. Hamas tidak hanya menolak pernyataan yang dianggap mengancam eksistensi gerakannya, tetapi juga menekankan bahwa setiap perjanjian masa depan harus mencakup komitmen nyata untuk mengakhiri perang dan menarik pasukan dari Gaza. Sementara itu, pihak Israel bersikeras bahwa gencatan senjata hanya akan efektif jika keamanan mereka dan kembalinya sandera dijamin. Polisi militer Israel juga menegaskan bahwa mereka akan melanjutkan operasi militer jika syarat-syarat mereka tidak dipenuhi — sebuah dinamika yang memperumit prospek perdamaian jangka panjang. Perdamaian Masih Jauh Krisis di Gaza tetap menjadi salah satu konflik paling kompleks dan berdarah di dunia saat ini. Penolakan Hamas terhadap pernyataan yang dianggap mengancam dan tekanan diplomatik dari berbagai pihak internasional menunjukkan bahwa gencatan senjata saat ini masih rapuh dan rawan runtuh. Sementara warga sipil terus menderita, kunci untuk tahan lama hanyalah melalui jalur diplomasi yang menghormati hak asasi manusia serta perjanjian damai yang nyata dan adil bagi semua pihak.** Penulis : Thamrin Humris Editor : Toto Budiman Foto istimewa

Read More

Kabar Palestina: Kecaman Dunia terhadap Aneksasi Israel di Tepi Barat, Ancaman bagi Solusi Dua Negara dan Stabilitas Timur Tengah

Langkah aneksasi Israel di Tepi Barat memicu kecaman komunitas internasional. PBB, OKI, dan Liga Arab menilai kebijakan ini melanggar hukum internasional dan mengancam solusi dua negara Palestina–Israel. Gaza, Palestina — 1miliarsantri.net: Langkah terbaru pemerintah Israel terkait perubahan status hukum dan administrasi tanah di Tepi Barat kembali menuai kritik tajam dari berbagai negara dan organisasi internasional. Kebijakan tersebut dinilai sebagai bagian dari strategi aneksasi de facto terhadap wilayah Palestina yang diduduki sejak 1967. Laporan dari Safa News Agency menyebutkan bahwa komunitas internasional memandang langkah ini sebagai tindakan sepihak yang berpotensi mengubah komposisi demografis serta realitas politik di lapangan. PBB dan Organisasi Internasional Angkat Bicara Perwakilan di United Nations (PBB) menegaskan bahwa setiap upaya aneksasi wilayah pendudukan bertentangan dengan hukum internasional dan resolusi Dewan Keamanan. Prinsip non-akuisisi wilayah melalui kekuatan militer menjadi landasan utama dalam hukum internasional modern. Selain itu, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) serta Liga Arab secara resmi mengecam kebijakan tersebut. Kedua organisasi ini menyatakan bahwa tindakan tersebut dapat menggagalkan prospek solusi dua negara yang selama ini didukung komunitas global. Dampak terhadap Palestina dan Prospek Perdamaian Bagi rakyat Palestina, kebijakan ini dinilai semakin mempersempit peluang terbentuknya negara merdeka yang berdaulat dan berkelanjutan secara geografis. Sejumlah kelompok hak asasi manusia, termasuk Al-Haq, menilai kebijakan tersebut sebagai eskalasi sistematis dalam memperluas kontrol administratif dan hukum atas wilayah pendudukan. Analis politik menilai bahwa langkah ini dapat: Sorotan Hukum Internasional Dalam perspektif hukum internasional, aneksasi wilayah pendudukan dianggap ilegal berdasarkan Konvensi Jenewa dan berbagai resolusi PBB. Banyak negara menilai perubahan status tanah atau legalisasi pemukiman di wilayah pendudukan sebagai bentuk aneksasi bertahap yang bertentangan dengan norma global. Isu ini juga berkaitan erat dengan konsep hak penentuan nasib sendiri (self-determination), yang menjadi prinsip fundamental dalam Piagam PBB. Implikasi Geopolitik Jangka Panjang Jika kebijakan ini terus berlanjut, para pengamat memperkirakan: Krisis ini bukan hanya persoalan bilateral, tetapi telah menjadi isu global yang memengaruhi stabilitas kawasan dan tatanan hukum internasional. Gelombang Kecaman Global atas Kebijakan Israel Kecaman dunia terhadap langkah aneksasi Israel di Tepi Barat menunjukkan bahwa isu ini tetap menjadi perhatian utama dalam diplomasi internasional. Dengan dukungan luas terhadap solusi dua negara, komunitas global menilai bahwa setiap tindakan sepihak berpotensi memperdalam konflik dan menjauhkan peluang perdamaian yang adil dan berkelanjutan.*** Penulis : Thamrin Humris Editor : Thamrin Humris dan Toto Budiman Sumber : Berbagai Sumber Foto : SAFA Press Agency

Read More