Ramadhan 2003 dan Ramadhan 2026: Amerika Rusak Ketenangan Ramadhan dengan Menyerang Irak dan Iran, Ayatollah Khamenei Syahid
Jakarta — 1miliarsantri.net: Ramadhan 2026 kembali dinodai oleh tindakan provokatif Amerika Serikat dengan menyerang Negeri Para Mullah “Iran” pada Sabtu 28/2/2026, yang menyebabkan syahidnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Seyed Ali Khamenei beserta beberapa keluarganya. Bulan Ramadhan dikenal sebagai momen spiritual, puasa, dan refleksi bagi umat Islam di seluruh dunia. Namun sejarah modern mencatat dua periode mengejutkan ketika konflik militer besar melibatkan Amerika Serikat dan negara-negara Muslim saat Ramadhan berlangsung: Invasi Irak 2003 dan serangan terhadap Iran pada Ramadhan 2026. Kedua peristiwa ini memicu kontroversi global dan penderitaan, terutama ketika kekerasan terjadi di tengah bulan suci. Berikut ulasan komprehensif tentang serangan militer Amerika Serikat terhadap Irak pada Ramadhan 2003 dan serangan bersama AS–Israel terhadap Iran pada Ramadhan 2026, serta dampaknya terhadap kaum Muslim, dan reaksi internasional dan kontroversinya. Invasi Amerika Serikat ke Irak (2003) di Bulan Ramadhan Masih membekas dalam ingatan kaum muslim di Irak dan dunia, pada 19 Maret 2003, Amerika Serikat memimpin koalisi untuk menyerang Irak dalam operasi yang dikenal sebagai Operation Iraqi Freedom atau Invasi Irak 2003. Invasi ini dilatarbelakangi oleh klaim pemerintah AS tentang adanya senjata pemusnah massal (WMD) di bawah rezim Saddam Hussein — klaim yang kemudian tidak terbukti. Konflik ini berlanjut selama bertahun-tahun, menyebabkan jatuhnya pemerintahan Saddam, kekosongan kekuasaan, munculnya pemberontakan sektarian, dan dampak kemanusiaan yang besar. Banyak pihak mengkritik invasi tersebut karena tanpa mandat jelas dari Dewan Keamanan PBB dan karena terjadi saat Ramadhan, menambah kerapuhan sosial dan tragedi bagi warga Irak yang menjalankan ibadah puasa. Invasi militer ini menjadi awal dari periode ketidakstabilan panjang di Irak, dengan ribuan warga sipil tewas serta menghancurkan banyak infrastruktur, dan masih diperdebatkan sampai hari ini. Serangan pada Ramadhan 2026 memicu kecaman internasional, termasuk reaksi keras dari Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menyebut agresi sebagai ancaman eskalasi besar di Timur Tengah, serta tekanan diplomatik agar kembali ke jalur negosiasi. Rusia dan beberapa negara kritis terhadap tindakan AS–Israel, menyebutnya sebagai pelanggaran hukum internasional dan agresi terhadap negara berdaulat. Kedutaan Iran bahkan membandingkan serangan tersebut dengan pengalaman Irak dan menunjukkan bahwa narasi “membantu rakyat” yang dipakai untuk membenarkan intervensi sering kali berujung pada penderitaan dan kerusakan bagi masyarakat sipil. Dampak terhadap Umat Islam di Timur Tengah Kedua peristiwa ini — serangan ke Irak (2003) dan serangan bersama ke Iran (2026) — terjadi pada bulan suci Ramadhan, ketika umat Islam secara tradisional berharap damai dan keteraturan sosial. Banyak jamaah dan publik internasional melihat aksi militer tersebut sebagai “penghancuran ketenangan Ramadhan”, memperdalam trauma kolektif dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Bagi warga Muslim di Irak dan Iran, Ramadhan yang seharusnya menjadi waktu ibadah dan kedekatan spiritual berubah menjadi suasana konflik, kehilangan anggota keluarga, kerusakan harta benda, dan ketidakpastian masa depan. Duka Cita dari Ulama Irak dan Dunia Syiah di Baghdad Di ibukota Irak, tokoh-tokoh Syiah serta aliansi ulama setempat berkumpul untuk menyampaikan duka cita besar. Sebagaimana dilaporkan untuk wilayah Baghdad, sejumlah pemimpin dan kelompok Syiah menyatakan: “…dengan kesedihan dan duka yang mendalam, kami berkabung atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei… darahnya akan tetap menjadi sumber inspirasi bagi semua generasi dan kutukan bagi para Zionis pembunuh selamanya.” Beberapa ulama di Irak bahkan menetapkan periode tiga hari berkabung nasional sebagai bentuk penghormatan atas peran Khamenei dalam perjuangan politik dan keagamaan mereka. Amerika Tidak Menghormati Bulan Suci Ramadhan Serangan militer di bulan Ramadhan memang sering menimbulkan sensitivitas besar, karena Ramadhan adalah bulan suci bagi umat Islam yang identik dengan ibadah, kedamaian, dan solidaritas. Peristiwa invasi Irak 2003 dan serangan terhadap Iran pada Ramadhan 2026 adalah pengingat pahit bahwa konflik modern tidak menghormati waktu sakral dan sering kali membawa akibat jangka panjang bagi rakyat Irak dan Iran. Kedua peristiwa sama-sama terjadi di bulan suci, sehingga dianggap sebagai “penghancuran ketenangan Ramadhan.” Serangan yang dilakukan Amerika Serikat pada Sabtu, 28/2/2026 telah menyebabkan sekitar 200 orang tewas termasuk anak-anak di sebuah sekolah di Minab.*** Penulis : Thamrin Humris Editor : Toto Budiman Foto : Tangkapan layar ArabNews dari khamenei.ir
Gaza di Ambang Krisis: Gencatan Senjata Tertekan Saat Hamas Tolak Pernyataan ‘Pemusnahan’ Israel
Gaza, Palestina — 1miliarsantri.net: Gencatan senjata di Gaza menghadapi tekanan serius setelah Hamas menolak pernyataan pejabat Israel yang dianggap mengancam, mengguncang upaya diplomasi untuk mengakhiri konflik yang berkepanjangan dan menghancurkan di wilayah itu. Kantor berita Safa News Agency melaporkan bahwa gencatan senjata yang rapuh di Gaza kini berada di bawah tekanan besar setelah gerakan perlawanan Palestina, Hamas, mengecam keras pernyataan pejabat senior Israel yang dianggap sebagai ancaman terhadap keberlangsungan gencatan senjata tersebut. Hamas Anggap Pernyataan zionis Israel Provokatif Dalam pernyataannya, juru bicara Hamas, Hazem Qassem, menyatakan bahwa komentar dari pejabat Israel — khususnya yang menyebutkan tujuan untuk “membongkar atau memusnahkan” Hamas — merupakan provokasi langsung terhadap proses damai yang sedang berlangsung Hamas menilai bahwa retorika semacam itu tidak hanya merusak diplomasi, tetapi juga mengabaikan komitmen terhadap perjanjian yang ada. Pernyataan tersebut dianggap bertentangan dengan semangat gencatan senjata, yang telah dimulai sebagai upaya untuk mengurangi permusuhan di tengah pertempuran yang telah menewaskan puluhan ribu warga sipil dan menghancurkan wilayah tersebut. Hamas menegaskan bahwa ancaman seperti itu memperburuk kondisi rakyat Palestina yang sudah menderita akibat konflik berkepanjangan. Reaksi Internasional dan Krisis Kemanusiaan yang Meningkat Pernyataan Hamas datang bersamaan dengan kritik kelompok negara internasional terhadap tindakan Israel di wilayah pendudukan Tepi Barat. Sekelompok sekitar 20 negara menyerukan sanksi nyata, bukan sekadar kecaman verbal, terhadap tindakan yang dinilai semakin memperburuk situasi kemanusiaan. Situasi kemanusiaan di Gaza tetap mengerikan — dengan jumlah korban sipil yang sangat tinggi dan kebutuhan mendesak akan bantuan medis, makanan, dan shelter — sementara akses bantuan kemanusiaan masih sering terhambat. Berbagai organisasi internasional terus mendesak pihak konflik untuk memastikan akses bantuan bagi warga sipil yang terjebak di tengah kekerasan. Kondisi Gencatan Senjata yang Rapuh Gencatan senjata yang awalnya membawa jeda bagi pertempuran kini menghadapi tantangan besar. Hamas tidak hanya menolak pernyataan yang dianggap mengancam eksistensi gerakannya, tetapi juga menekankan bahwa setiap perjanjian masa depan harus mencakup komitmen nyata untuk mengakhiri perang dan menarik pasukan dari Gaza. Sementara itu, pihak Israel bersikeras bahwa gencatan senjata hanya akan efektif jika keamanan mereka dan kembalinya sandera dijamin. Polisi militer Israel juga menegaskan bahwa mereka akan melanjutkan operasi militer jika syarat-syarat mereka tidak dipenuhi — sebuah dinamika yang memperumit prospek perdamaian jangka panjang. Perdamaian Masih Jauh Krisis di Gaza tetap menjadi salah satu konflik paling kompleks dan berdarah di dunia saat ini. Penolakan Hamas terhadap pernyataan yang dianggap mengancam dan tekanan diplomatik dari berbagai pihak internasional menunjukkan bahwa gencatan senjata saat ini masih rapuh dan rawan runtuh. Sementara warga sipil terus menderita, kunci untuk tahan lama hanyalah melalui jalur diplomasi yang menghormati hak asasi manusia serta perjanjian damai yang nyata dan adil bagi semua pihak.** Penulis : Thamrin Humris Editor : Toto Budiman Foto istimewa
Masjid Pantai Bali, Ikon Smart Masjid di Pesisir Jembrana: Wisata Religi, Manasik Haji, dan Motor Ekonomi Umat
Masjid Pantai Bali di Desa Cupel, Jembrana, hadir sebagai Smart Masjid dengan fasilitas manasik haji terlengkap di Bali. Ikon wisata religi dan pusat transformasi sosial ekonomi pesisir. Jembrana, Bali — 1miliarsantri.net: Masjid Pantai Bali merupakan simbol peradaban dan transformasi pesisir yang mengusung visi sebagai “Smart Masjid” hadir bukan sekadar sebagai tempat ibadah. Masjid ini tumbuh menjadi ikon peradaban, pusat edukasi keislaman, destinasi wisata religi, sekaligus motor penggerak ekonomi masyarakat pesisir Bali. Berlokasi di kawasan pantai Desa Cupel, Kabupaten Jembrana, masjid ini menjadi simbol harmoni antara spiritualitas, budaya, arsitektur, dan pembangunan berkelanjutan. Keberadaannya memperlihatkan integrasi nilai-nilai keagamaan dengan penguatan sosial dan ekonomi masyarakat setempat. Dukungan Tokoh Nasional dan Internasional Masjid Pantai Bali mendapatkan dukungan luas dari berbagai tokoh nasional dan internasional. Di antaranya Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla, Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon, almarhum Kyai Muhammad Jazir, Imam Besar Islamic Cultural Center New York Shamsi Ali, dai kondang Mamah Dedeh, mantan Menpora Adhyaksa Dault, pakar ekonomi syariah Adiwarman Karim, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, da’i nasional Bachtiar Natsir, novelis Habiburrahman El Shirazy, Omar Mitha, serta musisi sekaligus pendakwah Derry Sulaiman. Dukungan ini menunjukkan bahwa Masjid Pantai Bali tidak hanya bernilai lokal, tetapi memiliki makna strategis secara nasional bahkan global. Pelopor Manasik Haji Pertama di Bali Masjid Pantai Bali menjadi pelopor fasilitas manasik haji terlengkap di Pulau Bali. Fasilitas tersebut dilengkapi dengan replika Ka’bah, Hijr Ismail, Maqam Ibrahim, replika bangunan Masjidil Haram, Jamarat, serta area Sa’i antara Shafa dan Marwah. Keberadaan sarana ini menjadikan Masjid Pantai Bali sebagai pusat edukasi ibadah haji dan umrah terpadu yang representatif, edukatif, dan bernilai spiritual tinggi bagi umat Islam di Bali dan sekitarnya. Kolaborasi Penthahelix: Model Pembangunan Lintas Sektor Masjid Pantai Bali merupakan hasil kolaborasi model Penthahelix yang melibatkan berbagai unsur strategis. AkademisiAlumni ITB, UI, UGM, IPB, ITERA, Trisakti, STIAMI, dan sejumlah perguruan tinggi lainnya. PemerintahKementerian Pariwisata, Kementerian Kebudayaan, Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Pemerintah Kabupaten Jembrana, serta Balai Pantai PUPR Provinsi Bali. Dunia UsahaBank Indonesia, Bank Syariah Indonesia, Bank Tabungan Negara, Perusahaan Listrik Negara (PLN), serta Paragon Technology and Innovation (Wardah). Lembaga dan KomunitasDewan Masjid Indonesia (DMI) Pusat, DMI dan MUI Provinsi Bali, Yayasan Masjid Pantai Nusantara (YMPN), Wakaf Salman ITB, DT Peduli, Kitabisa, Badan Wakaf Indonesia (BWI) serta DKM Masjid Pantai. Media MassaRadio Rasil, Minanews, Republika, Diskominfo Jembrana, Mudanews, 1miliarsantri.net, dan berbagai media lainnya. Kolaborasi ini menjadikan Masjid Pantai Bali sebagai model pembangunan berbasis kerja sama lintas sektor yang terintegrasi dan berkelanjutan. Arsitektur Ikonik dan Simbolisme Spiritual Masjid Pantai Bali memiliki kubah berwarna hijau yang terinspirasi dari kubah Masjid Nabawi di Madinah. Warna hijau tersebut menjadi simbol kesucian, keberkahan, kedamaian, serta harmonisasi. Sentuhan arsitektur ini memperkuat identitas masjid sebagai ruang ibadah yang tidak hanya fungsional, tetapi juga sarat makna spiritual. Dua Masjid, Dua Zaman, Dua Kisah Peradaban Kawasan Masjid Pantai Bali memiliki dua masjid yang merepresentasikan perjalanan sejarah umat Islam pesisir Bali. Pertama, masjid lama yang dibangun pada 1961. Masjid ini menjadi simbol sejarah dakwah dan peradaban Islam di wilayah pesisir Bali. Kedua, masjid baru yang menjadi simbol transformasi dan modernisasi peradaban Islam kontemporer dengan konsep Smart Masjid. Konsep ini mengusung misi 5E: Edukasi, Ekonomi, Ekologi, Empati, dan Entertain. Keduanya menghadirkan story telling peradaban yang kuat, merepresentasikan perjalanan sejarah, sosial, dan spiritual masyarakat Muslim pesisir Bali. Pusat Pertumbuhan Ekonomi Wisata Religi Masjid Pantai Bali juga berkembang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis wisata religi. Berbagai kegiatan digelar secara inovatif dengan memadukan aktivitas daratan, lautan, hingga udara. Di daratan, kegiatan meliputi pengajian, pemberdayaan UMKM, pawai nelayan, serta pentas seni budaya. Di lautan, digelar lomba balap perahu layar (jukung), balap dayung sampan (omplok), hingga lomba memancing. Bahkan pemanfaatan teknologi drone turut memperkuat daya tarik visual kawasan ini. Dampaknya mulai terlihat dengan tumbuhnya UMKM lokal, berdirinya kafe, serta pengembangan hotel dan penginapan di sekitar kawasan masjid. Masjid Pantai Bali diharapkan menjadi pusat gravitasi spiritual sekaligus ekonomi yang mengintegrasikan ibadah, edukasi, pariwisata, dan seni budaya. Keberadaannya diharapkan memberi manfaat luas bagi masyarakat serta menjadi model pengembangan masjid berbasis peradaban di Indonesia.** Sumber : Yayasan Masjid Pantai Nusantara (YMPN) Editor : Thamrin Humris
Pesantren Ramadhan Rumah Tahfidz Opung, Full Charge: Beriman Kepada Allah Subhanahu Wata’ala
Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi momentum mengisi ulang iman — full charge menuju ridha Allah Subhanahu Wata’ala. Bekasi — 1miliarsantri.net: Ramadhan selalu menjadi momentum istimewa untuk memperkuat iman, memperbanyak ibadah, dan memperdalam interaksi dengan Al-Qur’an. Semangat itulah yang kini terasa kuat di lingkungan Rumah Tahfidz Opung (RTO), sebuah lembaga pendidikan non-formal yang fokus pada pembinaan hafiz dan hafizah Al-Qur’an di wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Memasuki Ramadhan 1447 Hijriyah, Rumah Tahfidz Opung menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Pesantren Ramadhan Santriwan-Santriwati RTO”, yang berlangsung setiap hari Senin hingga Jumat, mulai 23 Februari hingga 10 Maret 2026, pukul 16.00 WIB. Program ini dirancang sebagai upaya “full charge” spiritual, yaitu mengisi kembali energi keimanan para santri agar semakin kokoh dalam beriman kepada Allah Subhanahu Wata’ala. “Full Charge: Beriman kepada Allah SWT” dengan : Full Charge Iman: Mengisi Ulang Energi Ruhani Tema “Full Charge: Beriman Kepada Allah Subhanahu Wata’ala” mengandung makna mendalam. Seperti halnya perangkat yang membutuhkan pengisian daya, hati manusia juga membutuhkan pengisian iman secara berkala. Ramadhan menjadi waktu terbaik untuk itu.Melalui interaksi intensif dengan Al-Qur’an, ibadah puasa, dan kebersamaan dalam lingkungan yang saleh, iman para santri diharapkan semakin kuat. Sebab, iman bukan sesuatu yang statis, melainkan harus terus dipupuk melalui ilmu, ibadah, dan amal saleh. Rumah Tahfidz Opung berkomitmen menjadikan Pesantren Ramadhan sebagai sarana pembinaan generasi Qur’ani yang tidak hanya kuat dalam hafalan, tetapi juga kokoh dalam akidah dan mulia dalam akhlak. Partisipasi dan Dukungan Rumah Tahfidz Opung berdiri sejak tahun 2017 yang diinisasi oleh Hajah Zuraedah (Hajah Ida) bersama keluarga besar almarhumah Opung Hj. Maryani Gani bt Haji M. Ali Ociem, didukung oleh Pimpinan RTO Ustadz Fauzi Rahman, Hajah Enny dan Zurdin Gani (Pendiri dan Pembina Yayasan Asa Bestari Mulia Rabbani), telah melaksanakan berbagai macam kegiatan rutin dalam membina para penghafal Qur’an dari usia balita, anak hingga remaja. Kegiatan Pesantren Ramadhan yang telah dibuka dan dimulai secara resmi pada Senin 23 Februari 2026 atau bertepatan dengan 5 Ramadhan 1447H memerlukan dukungan dari semua pihak, untuk itu eksponen Yayasan Asa Bestari Mulia Rabbani mengajak segenap Umat Islam, para donatur perorangan maupun kelembagaan untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Bantuan dapat dikirimkan melalui rekening: Bank BSI, No. Rekening : 1235101234, atas nama Yayasan Asa Bestari Mulia Rabbani Pesantren Ramadhan ini menjadi bukti bahwa pendidikan Al-Qur’an tetap menjadi prioritas utama dalam membentuk generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Dengan semangat Ramadhan, Rumah Tahfidz Opung mengajak seluruh santri untuk memanfaatkan bulan suci ini sebagai momentum perubahan, memperkuat hubungan dengan Allah, dan menjadi pribadi yang lebih baik.** Penulis dan Editor : Thamrin Humris Foto Istimewa
Irsyad Muchtar Wafat: Tokoh Koperasi Nasional dan Jurnalis Senior Tutup Usia, Wariskan Dedikasi untuk Ekonomi Kerakyatan
Irsyad Muchtar Wafat: Tokoh Koperasi Nasional dan Jurnalis Senior Tutup Usia, Wariskan Dedikasi untuk Ekonomi Kerakyatan Jakarta — 1miliarsantri.net: Hari ini dunia koperasi dan jurnalistik tanah air kehilangan seorang Tokoh Pegiat Koperasi Indonesia dan pejuang di bidang jurnalistik sekaligus Pemimpin Umum Majalah Peluang berpulang ke Rahmatullah. Irsyad Muchtar yang lahir di Padang, Sumatera Barat pada 1 September 1958 wafat hari ini. Beliau mengembuskan napas terakhir setelah dirawat di RSK Darmais Jakarta pada Sabtu, 21 Februari 2026 atau bertepatan dengan 3 Ramadhan 1447 H. Kepergian Irsyad Muchtar meninggalkan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga dan sahabat, tetapi juga bagi gerakan koperasi nasional dan komunitas pers Indonesia. Sosoknya dikenal sebagai figur yang konsisten memperjuangkan ekonomi kerakyatan melalui koperasi serta menghadirkan jurnalisme yang berpihak pada pemberdayaan usaha kecil dan menengah. Kiprah di Dunia Koperasi Sepanjang hidupnya, Irsyad Muchtar dikenal sebagai salah satu motor penggerak koperasi di Indonesia. Ia aktif mengedukasi masyarakat tentang pentingnya koperasi sebagai soko guru perekonomian nasional sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 33 UUD 1945. Dalam berbagai forum nasional, ia kerap menegaskan bahwa koperasi bukan sekadar badan usaha, melainkan gerakan ekonomi berbasis kebersamaan dan keadilan sosial. Komitmennya terhadap penguatan koperasi diwujudkan melalui berbagai kegiatan advokasi, pelatihan, serta literasi publik mengenai tata kelola koperasi yang profesional dan modern. Ia mendorong transformasi koperasi agar mampu bersaing di era digital tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar gotong royong. Dedikasi di Dunia Jurnalistik Di bidang jurnalistik, Irsyad Muchtar dikenal luas sebagai Pemimpin Umum dan figur sentral di balik Majalah Peluang, media yang secara konsisten mengangkat isu-isu koperasi, UMKM, dan ekonomi kerakyatan. Melalui platform tersebut, ia menghadirkan ruang informasi, edukasi, sekaligus inspirasi bagi pelaku koperasi di seluruh Indonesia. Sebagai jurnalis senior, Irsyad menempatkan media bukan hanya sebagai penyampai berita, tetapi juga sebagai alat perjuangan. Ia memadukan idealisme pers dengan misi pemberdayaan ekonomi rakyat. Di bawah kepemimpinannya, media yang ia kelola berkembang menjadi rujukan penting dalam pemberitaan seputar koperasi dan kewirausahaan nasional. Warisan Pemikiran dan Keteladanan Irsyad Muchtar dikenal sebagai pribadi yang sederhana, tegas dalam prinsip, dan konsisten dalam perjuangan. Ia percaya bahwa koperasi adalah jalan strategis untuk memperkuat kemandirian bangsa. Gagasan-gagasannya tentang modernisasi koperasi, tata kelola transparan, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi warisan berharga bagi generasi penerus. Tidak sedikit tokoh koperasi dan insan pers yang menyampaikan penghormatan atas dedikasi dan integritasnya. Bagi banyak kalangan, Irsyad bukan hanya pemimpin media atau aktivis koperasi, tetapi juga mentor dan inspirator. Doa dan Harapan Kepergian Irsyad Muchtar di bulan suci Ramadhan menambah haru bagi para kolega dan sahabatnya. Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadahnya, mengampuni segala khilafnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Dunia koperasi dan jurnalistik Indonesia telah kehilangan salah satu putra terbaiknya. Namun semangat, gagasan, dan jejak perjuangan Irsyad Muchtar akan terus hidup, menginspirasi upaya membangun ekonomi kerakyatan yang berkeadilan dan bermartabat di negeri ini.** Segenap Jajaran Redaksi 1miliarsantri.net mengucapkan Turut Berbela Sungkawa Yang Sedalam-dalamnya atas wafatnya Bapak H. Irsyad Muchtar. Semoga Allah Subhanahu Wata’ala menerima segala amal ibadahnya, diampuni segala dosanya. Diterangi, diluaskan dan dilapangan kuburnya, serta diringankan hisabnya hingga yaumil akhir. Dan menempatkannya di tempat terbaik Jannah-Nya. Aamiin Thamrin Humris (Pemimpin Redaksi) dan Toto Budiman (Pimpinan Umum)
Ghibah Itu Membahayakan: Ancaman Hilangnya Pahala Ibadah karena Lisan
Ghibah bukan sekadar dosa lisan, tetapi dapat menghapus pahala puasa dan memindahkan amal kepada orang lain. Simak kisah teladan dan dalil Al-Qur’an serta hadits tentang bahaya ghibah. Oleh: Ibnu Hajar Mahbub Ada lima perkara yang dapat menghapus pahala puasa, dan di antara lima hal tersebut adalah ghibah. Dikisahkan dalam Kitab Majalisus Saniyyah, syarah Kitab Arbain Nawawie, dari Ikrimah bahwa seorang wanita yang bertubuh pendek masuk menemui Rasulullah ﷺ. Ketika wanita itu keluar, Siti Aisyah berkata: “Alangkah fasih bicaranya, hanya sayang dia pendek.” Maka Rasulullah ﷺ menegurnya: “Engkau telah menggunjingnya, wahai Aisyah.” Siti Aisyah berkata: “Saya mengatakan apa adanya.” Rasulullah ﷺ bersabda: “Tetapi engkau telah mengatakan apa yang paling buruk padanya.” Kisah ini menjadi pelajaran besar bahwa menyebutkan kekurangan seseorang, meskipun benar adanya, tetap termasuk ghibah apabila hal tersebut tidak disukainya. Dalil Al-Qur’an tentang Ghibah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an, Surah Al-Hujurat ayat 12: “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya…” (QS. Al-Hujurat: 12) Ayat ini menggambarkan betapa menjijikkannya perbuatan ghibah, diumpamakan seperti memakan bangkai saudara sendiri. Perumpamaan ini menunjukkan beratnya dosa tersebut di sisi Allah. Hadits tentang Hakikat Ghibah Dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda: “Tahukah kalian apa itu ghibah?”Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”Beliau bersabda, “Engkau menyebut tentang saudaramu sesuatu yang ia tidak sukai.”Ditanyakan, “Bagaimana jika yang aku katakan itu benar ada pada dirinya?”Beliau menjawab, “Jika benar ada padanya, maka itulah ghibah. Jika tidak ada padanya, maka engkau telah berdusta (fitnah).” Hadits ini menegaskan bahwa mengatakan sesuatu yang benar tentang kekurangan seseorang tetap termasuk ghibah apabila ia tidak menyukainya. Gambaran di Hari Kiamat Konon, pada hari kiamat kelak seorang hamba diberi catatan amalnya. Ketika dilihatnya, ternyata di dalam catatan itu tidak terdapat sedikit pun catatan amal kebaikannya. Maka hamba itu bertanya kepada Allah: “Ya Rabb, mana pahala sholatku, mana pahala puasaku, dan mana pahala-pahala ketaatanku lainnya?” Lalu dikatakan kepadanya: “Semua amalmu lenyap dikarenakan oleh perbuatan ghibahmu ketika di dunia.” Di pihak lain, ada orang yang menerima catatan amalnya dengan tangan kanan. Ketika dibuka dan dilihatnya, terdapat banyak kebaikan yang tidak pernah dilakukannya di dunia. Lalu dikatakan kepadanya: “Ini adalah kebaikan yang diberikan dan dikirimkan oleh orang yang menghibahmu ketika di dunia.” Hal ini sejalan dengan hadits tentang orang yang bangkrut (muflis), di mana Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa orang yang bangkrut adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan pahala shalat, puasa, dan zakat, namun ia pernah mencaci, menuduh, memakan harta orang lain, dan menumpahkan darah. Maka pahala-pahalanya diberikan kepada orang-orang yang dizaliminya hingga habis, lalu dosa mereka dipikulkan kepadanya. Renungan: Menjaga Lisan, Menjaga Pahala Ghibah sering dianggap ringan karena hanya berupa ucapan. Padahal, dampaknya sangat berat. Ia bukan hanya melukai kehormatan sesama, tetapi juga dapat memindahkan pahala kebaikan kita kepada orang yang kita gunjing. Lisan yang tidak dijaga bisa menjadi sebab bangkrutnya amal di akhirat. Karena itu, menjaga ucapan adalah bagian dari menjaga ibadah. Semoga Allah menjaga lisan kita dari perkataan yang sia-sia, dari ghibah yang membinasakan pahala, serta menjadikan kita hamba-hamba yang selamat dunia dan akhirat. Aamiin.** Pondok ArenKamis, 19 Februari 202601 Ramadhan 1447 H Sumber : WAG Manajemen Masjid Umat Sejahtera (Pemosting : Abdul Syukur) Foto : Gambar ilustrasi Editor : Thamrin Humris
Kabar Palestina: Kecaman Dunia terhadap Aneksasi Israel di Tepi Barat, Ancaman bagi Solusi Dua Negara dan Stabilitas Timur Tengah
Langkah aneksasi Israel di Tepi Barat memicu kecaman komunitas internasional. PBB, OKI, dan Liga Arab menilai kebijakan ini melanggar hukum internasional dan mengancam solusi dua negara Palestina–Israel. Gaza, Palestina — 1miliarsantri.net: Langkah terbaru pemerintah Israel terkait perubahan status hukum dan administrasi tanah di Tepi Barat kembali menuai kritik tajam dari berbagai negara dan organisasi internasional. Kebijakan tersebut dinilai sebagai bagian dari strategi aneksasi de facto terhadap wilayah Palestina yang diduduki sejak 1967. Laporan dari Safa News Agency menyebutkan bahwa komunitas internasional memandang langkah ini sebagai tindakan sepihak yang berpotensi mengubah komposisi demografis serta realitas politik di lapangan. PBB dan Organisasi Internasional Angkat Bicara Perwakilan di United Nations (PBB) menegaskan bahwa setiap upaya aneksasi wilayah pendudukan bertentangan dengan hukum internasional dan resolusi Dewan Keamanan. Prinsip non-akuisisi wilayah melalui kekuatan militer menjadi landasan utama dalam hukum internasional modern. Selain itu, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) serta Liga Arab secara resmi mengecam kebijakan tersebut. Kedua organisasi ini menyatakan bahwa tindakan tersebut dapat menggagalkan prospek solusi dua negara yang selama ini didukung komunitas global. Dampak terhadap Palestina dan Prospek Perdamaian Bagi rakyat Palestina, kebijakan ini dinilai semakin mempersempit peluang terbentuknya negara merdeka yang berdaulat dan berkelanjutan secara geografis. Sejumlah kelompok hak asasi manusia, termasuk Al-Haq, menilai kebijakan tersebut sebagai eskalasi sistematis dalam memperluas kontrol administratif dan hukum atas wilayah pendudukan. Analis politik menilai bahwa langkah ini dapat: Sorotan Hukum Internasional Dalam perspektif hukum internasional, aneksasi wilayah pendudukan dianggap ilegal berdasarkan Konvensi Jenewa dan berbagai resolusi PBB. Banyak negara menilai perubahan status tanah atau legalisasi pemukiman di wilayah pendudukan sebagai bentuk aneksasi bertahap yang bertentangan dengan norma global. Isu ini juga berkaitan erat dengan konsep hak penentuan nasib sendiri (self-determination), yang menjadi prinsip fundamental dalam Piagam PBB. Implikasi Geopolitik Jangka Panjang Jika kebijakan ini terus berlanjut, para pengamat memperkirakan: Krisis ini bukan hanya persoalan bilateral, tetapi telah menjadi isu global yang memengaruhi stabilitas kawasan dan tatanan hukum internasional. Gelombang Kecaman Global atas Kebijakan Israel Kecaman dunia terhadap langkah aneksasi Israel di Tepi Barat menunjukkan bahwa isu ini tetap menjadi perhatian utama dalam diplomasi internasional. Dengan dukungan luas terhadap solusi dua negara, komunitas global menilai bahwa setiap tindakan sepihak berpotensi memperdalam konflik dan menjauhkan peluang perdamaian yang adil dan berkelanjutan.*** Penulis : Thamrin Humris Editor : Thamrin Humris dan Toto Budiman Sumber : Berbagai Sumber Foto : SAFA Press Agency
Muhammadiyah Terbitkan Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1447 H/2026 M, Link Lengkap Cek Di Sini
Muhammadiyah resmi menerbitkan Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1447 H/2026 M untuk seluruh kota di Indonesia. Yogyakarta — 1miliarsantri.net: Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1447 H/2026 M, Muhammadiyah melalui Suara Muhammadiyah telah menerbitkan jadwal imsakiyah lengkap yang bisa diunduh oleh umat Muslim di Indonesia. Jadwal ini dirancang sebagai panduan waktu sahur (imsak), waktu subuh, serta waktu berbuka puasa. Dasar Perhitungan Waktu Imsak dan Subuh Mengutip suaramuhammadiyah.com, Jadwal Imsakiyah disusun oleh Dr. Oman Fathurohman SW, M.Ag, Ketua Bidang Hisab dan Iptek Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Perhitungan waktu subuh dan imsak menggunakan kriteria hisab dengan posisi matahari minus 18 derajat, sesuai keputusan Munas Tarjih Muhammadiyah ke-31 tahun 2020. Link Download Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1447 H/2026 M Berbagai Kota Di Indonesia Jadwal yang tersedia mencakup hampir seluruh kota besar di Indonesia, termasuk wilayah Papua hasil pemekaran seperti Papua Barat Daya, Papua Pegunungan, dan Papua Tengah. Tahun ini juga ada tambahan kota lain seperti Tasikmalaya, Cirebon, dan Cilacap yang dimasukkan ke dalam daftar. Muhammadiyah memberikan tautan unduhan untuk jadwal imsakiyah dalam format PDF berdasarkan kota. Kamu bisa klik tautan di: Jadwal Imsakiyah 1447 H/ 2026 M Tautan di atas mengarah ke file PDF yang bisa diunduh langsung dari situs resmi Suara Muhammadiyah.*** Editor : Thamrin Humris dan Toto Budiman Sumber : Suara Muhammadiyah, KHGT
Muhammadiyah Mulai Melaksanakan Puasa Ramadhan 1447 H pada 18 Februari 2026: Penetapan, Metode dan Imbauan Sikap Bijak
Muhammadiyah resmi menentukan awal puasa Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026 berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Artikel ini membahas dasar penetapan, perbedaan dengan pemerintah, serta ajakan sikap bijak umat. Jakarta — 1miliarsantri.net: Organisasi Islam terbesar kedua di Indonesia, Muhammadiyah, telah menetapkan awal ibadah puasa Ramadhan 1447 Hijriyah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026 Masehi. Keputusan itu tertuang dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 H. Penetapan tersebut juga telah diikuti pelaksanaan Salat Tarawih di sejumlah masjid di berbagai daerah pada Selasa malam (17/2/2026) sebagai malam pertama Ramadhan bagi warga Muhammadiyah. Dasar Penetapan: Kalender Hijriah Global Tunggal Muhammadiyah menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagai dasar perhitungannya, menggantikan metode wujudul hilal yang sebelumnya digunakan. Metode ini memadukan tiga unsur utama yaitu prinsip, syarat, dan parameter (PSP) untuk menentukan awal bulan Hijriah secara global. Menurut KHGT, parameter tinggi hilal minimal 5 derajat dan elongasi minimal 8 derajat setelah ijtimak (konjungsi) harus terpenuhi di mana saja di permukaan bumi. Untuk awal Ramadhan 1447 H, ketentuan ini telah terpenuhi di wilayah Alaska, Amerika Serikat, sehingga Muhammadiyah memutuskan 18 Februari 2026 sebagai 1 Ramadhan. Pakar falak Muhammadiyah juga mencatat bahwa konjungsi jelang Ramadhan terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 12.01 UTC. Perbedaan dengan Pemerintah dan Saran Sikap Umat Berbeda dengan Muhammadiyah, pemerintah melalui sidang isbat yang melibatkan hisab dan rukyatul hilal menetapkan awal puasa Ramadhan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Hal ini didasarkan pada ketentuan rukyat di wilayah Indonesia yang belum terpenuhinya posisi hilal secara visual. Perbedaan penetapan ini mendapat perhatian publik. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengajak umat Islam bersikap bijaksana menanggapi perbedaan tersebut. Ia menekankan pentingnya saling menghormati pilihan ijtihad dan tidak saling menyalahkan, sebab tujuan puasa adalah untuk meningkatkan takwa. Makna Puasa dalam Perspektif Al-Qur’an dan Sunnah Islam mewajibkan puasa Ramadhan sebagaimana ditegaskan Allah SWT: Al-Qur’an menjelaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi sebuah ibadah yang melatih ketakwaan kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Hadis ini menegaskan dimensi spiritual puasa sebagai sarana pembinaan akhlak dan pengampunan dari Allah SWT. Respons Masyarakat dan Kegiatan Ramadhan Di berbagai daerah, warga Muhammadiyah telah menjalankan tarawih malam sebelumnya sebagai bagian dari menyambut puasa Ramadhan 1447 H. Di Jawa Barat, misalnya, lebih dari 400 masjid menggelar tarawih dengan 11 rakaat pada Selasa malam (17/2/2026). Sementara di Jawa Timur, diperkirakan jutaan warga Muhammadiyah akan melaksanakan tarawih dan puasa sejak 18 Februari 2026 sesuai ketetapan PP Muhammadiyah. Saling Menghormati Ijtihad Penetapan awal Ramadhan 1447 H oleh Muhammadiyah pada 18 Februari 2026 diwarnai perbedaan dengan pemerintah yang menetapkan 19 Februari 2026. Perbedaan ini terjadi akibat metode perhitungan yang berbeda dalam menentukan awal bulan Hijriah. Meskipun demikian, pimpinan Muhammadiyah mengimbau umat Islam untuk saling menghormati ijtihad tiap pihak. Dengan pemahaman yang matang dan sikap arif, umat Islam diharapkan menyambut puasa Ramadhan sebagai momentum meningkatkan ketakwaan dan kebersamaan.*** Editor : Thamrin Humris dan Toto Budiman Foto : Istimewa Sumber : Berbagai sumber
Ramadhan 1447 H: Semarak Pawai Tarhib Ramadhan, Santri RTO/RTQ Opung Sambut Bulan Suci dengan Penuh Sukacita
RTO/RTQ Opung menggelar Pawai Tarhib Ramadhan 1447 H di Perumahan Jatimulya, diikuti ratusan santri dan orang tua. Kegiatan edukatif ini menjadi syiar menyambut Ramadhan tahun 2026. Bekasi — 1miliarsantri.net: Menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriyah, RTO/RTQ Opung menggelar Pawai Tarhib Ramadhan pada Selasa (17/2/2026) bertepatan dengan 29 Sya’ban 1447 H. Kegiatan ini berlangsung meriah dan penuh semangat keislaman di lingkungan Perumahan Jatimulya. Sekitar 90 peserta didik dari Lembaga Pendidikan Opung, yang terdiri atas santri RTQ Opung dan siswa Bimba Opung ASA Kidz Station, turut ambil bagian. Selain itu, sekitar 40 orang pengurus, pengajar, serta orang tua santri dan siswa juga hadir memeriahkan kegiatan tersebut. Pawai Tarhib Ramadhan 1447 H dimulai pukul 08.00 WIB dari Gedung RTO di Jalan Rambutan Raya No. 5 dan menyusuri jalan-jalan sekitar Perumahan Jatimulya Kabupaten Bekasi sebelum kembali ke titik awal pada pukul 09.00 WIB. Para santri tampak membawa poster-poster kreatif bertema penyambutan Ramadhan. Bahkan, dua santri tampil mencuri perhatian dengan sepeda hias bernuansa Islami. Poster dan sepeda hias tersebut akan dilombakan sebagai bentuk apresiasi terhadap kreativitas santri. Syiar Ramadhan dan Penguatan Iman Kegiatan ditutup pada pukul 09.30 WIB dengan tausiyah pembina RTO, Hj. Zuraedah yang akrab disapa Bunda Hj. Ida. Dalam arahannya, beliau mengingatkan pentingnya mempersiapkan diri menyambut Ramadhan dengan memperkuat keimanan kepada Allah SWT. Beliau mencuplik kandungan Surat Al-Ikhlas sebagai penguatan tauhid: “Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa.” (QS. Al-Ikhlas: 1) Menurutnya, Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi momentum memperteguh keyakinan bahwa hanya Allah SWT satu-satunya yang berhak disembah. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183) Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa Ramadhan adalah membentuk pribadi bertakwa. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini menjadi motivasi bagi seluruh peserta didik untuk menyambut Ramadhan dengan penuh keimanan dan harapan akan ampunan Allah SWT. Doa menyambut Ramadhan juga dipimpin oleh pengajar RTO, memohon agar Allah SWT menyampaikan usia hingga Ramadhan serta diberi kekuatan dalam menjalankan ibadah puasa. Relaksasi Edukatif dan Persiapan Pesantren Ramadhan Mudir RTO, Ustadz Rahman Harun, menyampaikan bahwa Pawai Tarhib Ramadhan merupakan bagian dari program kegiatan santri. Selain sebagai syiar Islam, kegiatan ini juga menjadi sarana relaksasi dari rutinitas belajar. “Melalui kegiatan ini, anak-anak belajar mengekspresikan kecintaan mereka kepada bulan suci Ramadhan dengan cara yang positif dan kreatif,” ujarnya. Ia menambahkan, setelah pawai ini, santri akan mengikuti rangkaian kegiatan Pesantren Ramadhan yang telah dipersiapkan. Lembaga Pendidikan Opung yang menaungi RTQ dan Bimba berada di bawah Yayasan Asa Bestari Mulia Rabbani. Para pengurus, di antaranya Bapak Ahmad Zurdin dan jajaran lainnya, turut mendukung penuh terselenggaranya kegiatan ini. Menanamkan Cinta Ramadhan Sejak Dini Pawai Tarhib Ramadhan bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi bagian dari pendidikan karakter Islami bagi anak-anak. Dengan menanamkan kecintaan terhadap Ramadhan sejak dini, diharapkan tumbuh generasi yang memahami makna ibadah secara mendalam. Rasulullah SAW sendiri memberi kabar gembira tentang datangnya Ramadhan. Dalam hadis disebutkan: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah…” (HR. Ahmad) Semangat keberkahan itulah yang tampak dalam wajah-wajah ceria para santri RTO/RTQ Opung pagi itu. Dengan langkah kecil namun penuh makna, mereka mengumandangkan syiar, meneguhkan iman, dan menyambut Ramadhan 1447 H dengan suka cita.** Sumber : RTO/RTQ Opung Foto : Istimewa Editor : Thamrin Humris



