Masa-masa Kekalahan Pangeran Diponegoro Atas Belanda

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Belanda dengan gemilang menguasai wilayah selatan dan tengah Yogyakarta pada awal 1828. Diponegoro terdesak ke barat. Ia bersembunyi di hutan Bagelen pada tahun 1829. Belanda mencoba membuka perundingan untuk bisa menangkap Diponegoro. Kekalahan Diponegoro berawal pada 7 Januari 1828. Saat itu, wakil Jenderal De Kock, Kolonel Chochius, dibantu 120 prajurit Madura dan dan kolone kesultanan berhasil merebut Desa Tegalsari. Sebanyak 30 prajurit Diponegoro ditawan. Sebanyak 100 ekor sapi dirampas. Setelah itu, Chochius membakar semua desa dekat Plered. Pasar Gede dan desa-desa sekitarnya pun dikuasai Belanda, 21 ekor sapi dirampas dari Desa Wonokromo. Selama Maret 1828, Cochius berhasil menguasai desa-desa di perbatasan Yogyakarta-Kedu. Setelah itu merebut desa-desa di sekitar jalan Yogyakarta-Magelang pada April 1828. Dalam waktu tiga bulan, wilayah utara Yogyakarta pun direbut oleh Belanda. Benteng-benteng pertahanan dibangun Belanda di wilayah-wilayah yang telah dikuasai. Benteng-benteng itu menyulitkan Patih Abdullah Danurejo untuk memungut pajak. Akibatnya pasukan-pasukan Dipoengoro makin kesulitan mendapatkan perbekalan. Pada November 1828, Kiai Mojo dan 500 prajuritnya yang kesulitan perbekalan dikalahkan oleh Belanda. Mereka ditawan. Pasukan Diponegoro dipukul mundur, terdesak di tepi barat Kali Progo pada April 1828. Belanda beruntung bisa menangkap Kerto Pengalasan. Pengalasan membantu membuka peluang perundingan Belanda-Diponegoro. Pada akhir Januari dimulai gencatan senjata, berlangsung hingga tiga bulan. “Pada akhir Januari 1829 terjadi gencatan senjata sehubungan dengan rencana perundingan antara Ali Basah Sentot Prawirodirjo (utusan Diponegoro) dengan Kolonel Nahuys (utusan Jenderal De Kock),” tulis Saleh As’ad Djamhari. Kerto Pengalasan pun memberikan informasi mengenai rencana Diponegoro mendirikan keraton baru, terpisah dari gubernemen. “Kita tahu dari sumber-sumber lain bahwa yang pernah menjadi tempat markas besarnya di Sambiroto, daerah Adikarto, Kulon Progo, sebelah barat Kali Opak mungkin akan dipilih sebagai ibu kota kerajaan ini,” kata Peter Carey.

Read More

Sejarah Emas Hingga Dijadikan Alat Pertukaran dan Transaksi Jual Beli

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Dalam sejarah Islam, emas memiliki peran penting, baik secara ekonomi maupun budaya. Emas dianggap sebagai salah satu bentuk kekayaan yang legal dan dihargai. Mata uang emas telah digunakan dalam sejarah Islam sebagai standar nilai dan alat tukar. Salah satu contoh yang terkenal adalah dinar emas dan dirham perak. Sebelumnya, bangsa Arab hanya berdagang dengan menerapkan sistem barter dan tidak pernah memproduksi mata uang sendiri. Bangsa Arab lalu mengadopsi dinar dan dirham sebagai sistem mata uang dan hal ini berlangsung hingga zaman Rasulullah SAW. Dalam proses penimbangan bobot dinar dan dirham tersebut, Rasulullah SAW dibantu oleh seorang sahabatnya, yaitu Arqam bin Abi Arqam yang merupakan seorang ahli tempa emas dan perak pada masa itu. Namun, pada awal abad ketujuh masa Rasulullah SAW koin belum ada. Sementara, koin emas dari kekaisaran Bizantium dan koin perak dari Persia saat itu sudah beredar. Orang-orang Arab kemudian menyebar ke Timur Dekat atau Kawasan Levant pada pertengahan abad ketujuh. Mereka menjalin hubungan erat dengan masyarakat yang telah mengeluarkan koin selama berabad-abad tersebut. Dinar emas Islam pertama baru dicetak sekitar setengah abad setelah wafatnya Nabi SAW oleh khalifah Bani Umayyah kelima, Khalifah Abdul Malik bin Marwan (68 M-705 M). Khalifah Abdul Malik mulai mencetak koin emas pada 697 M. Koin emas yang dicetak tersebut berbobot 4,4 gram dengan mencantumkan tulisan dinar. Dua tahun berikutnya, pemerintahan Khalifah Abdul Malik kembali mencetak dinar yang bobotnya berubah menjadi 4,25 gram emas karena mengikuti standar yang diletakkan Khalifah Umar bin Khattab. Koin emas pada zaman itu dicetak secara khusus di Damaskus, ibu kota kekhalifahan Umayyah. Khalifah Abdul Malik menggantikan sosok kaisar Bizantium di dalam koin emas yang selama ini telah digunakan. Lambang salib juga dihilangkan, dan untuk pertama kalinya kata-kata dari Alquran dimunculkan di dalam koin. Setiap koin yang dicetak pada saat itu bertuliskan kalimat tauhid. Sejak saat itu, dilakukan penghentian penggunaan gambar wujud manusia dan binatang dari mata uang peradaban Islam itu. Sebagai gantinya, digunakan huruf-huruf.

Read More

Punakawan Roto Menangis Saat Mendampingi Diponegoro yang Jadi Tawanan Belanda

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Saat itu Punakawan Roto mengiringi Diponegoro ketika Belanda membawa Diponegoro ke Semarang. Saat menginap di Ungaran, Roto menangis, dikarenakan sebagai tawanan, Diponegoro dilarang Jenderal De Kock mengajak serta anak, panglima, dan prajuritnya. Punakawan yang boleh ikut hanya Roto. Pada hari kedua Lebaran, Diponegoro berniat baik melakukan silaturami. Tapi De Kock tidak mengizinkan Diponegoro pulang dengan dalih ingin menuntaskan pembahasan persoalan perang. Tapi sebenarnya ini hanya dalih, ksrena De Kock sudah mendapat perintah dari Gubernur Jenderan Van den Bosch. Perintahnya menangkap Dipinegoro, bukan melakukan perundingan. Diponegoro kemudian dibawa ke Semarang untuk kemudian ke Batavia. Saat De Kock menahan, Diponegoro mengungkit janji Kolonel Cleerens. “Kolonel Cleerens dahulu juga mempunyai janji kepadaku kalau musyawarah gagal aku dipersilakan krmbali ke Gejawan,” kata Diponegoro. “Kalau Paduka pulang pun sudah tidak berani perang lagi,” kata De Kock. Pernyataan De Kock terdengar bernada hinaan. Diponegoro pun segera menyergahnya. “Mengapa taku perang kalau semua prajurit memang jantan,” kata Diponegoro. De Kock lantas mengaku tidak memiliki wewenang mengizinkan Diponegoro melanjutkan perang. De Kock keluar, meminta prajuritnya masuk ke loji. Dipinegoro pun memberi kode kepada Basah Martonegoro yang mendampinginya. Ia lalu menegur De Kock. “He, kau, Jenderal De Kock. Kau membuat kisruh,” kata Diponegoro. Diponegoro pun lalu meraih tangan De Kock. Dipinegoro mengajaknya duduk di kursi panjang.

Read More

Penyebar Agama Islam di Afrika Didominasi Orang-orang Indonesia

Cape Town — 1miliarsantri.net : Di ujung benua Afrika, tepatnya di selatan negara Afrika Selatan, terletak pesisir Cape Town. Wilayahnya yang beragam terbentang pada gabungan gugusan pegunungan tinggi yang mengelilingi kota dan dua lautan luas yang melindunginya dari beberapa sisi. Di sana terdapat makam umat Islam pertama yang datang ke Cape Town. Kota ini menjadi saksi kedatangan pertama mereka yang tercatat dalam sejarah negara tersebut. Ini terjadi setelah Belanda menetap di wilayah tersebut pada abad ke-17. Kedatangan kaum Muslimin ini ada di bawah pengawasan dan pimpinan Perusahaan Hindia Timur Belanda. Hal itulah yang menjadikan Cape Town sebagai tempat peristirahatan dan transit bagi kapal-kapal yang melakukan perdagangan antara Belanda dan Indonesia. Belanda, karena perdagangan tersebut, membutuhkan tenaga kerja dan budak untuk mendukung ekspansinya. Penjajahan Belanda di Indonesia telah membantu kelompok dagang saat itu dalam memperoleh para tahanan politik, pejuang perlawanan, dan budak yang dipenjarakan atas tuduhan menghasut kerusuhan terhadap pemerintah Belanda. Ini didorong putusan Mahkamah Agung di Batavia (kini Jakarta) yang menjatuhkan hukuman pengasingan dan deportasi kepada mereka. Karena itu, pada abad ke-18, ada sebuah lingkungan di kaki Table Mountain atau Gunung Meja di Afrika Selatan, yang ditinggali untuk pertama kalinya oleh orang-orang asal Indonesia, Malaysia, dan orang Asia lainnya yang pernah menjadi budak Belanda. Lingkungan tersebut kini terkenal dengan nama Bo-Kaap, sebuah daerah pemukiman yang memiliki pesona warna-warna cerah pada rumah-rumah di sana. Di antara mereka yang datang ke kawasan itu adalah para politikus di pengasingan dan mereka yang dihukum karena kejahatan, serta pengrajin terampil, pemimpin agama, dan cendekiawan yang mewariskan pengetahuan mereka kepada generasi baru di Afrika Selatan. Sejarawan Afrika Selatan, Shafiq Morten mengatakan Muslim pertama yang tercatat dalam sejarah Afrika Selatan adalah Ibrahim Batavia yang datang sebagai tawanan dan tahanan politik. Kemudian, umat Islam terus masuk, dan kebanyakan dari mereka adalah tahanan politik yang dilarang menampakkan agamanya atau mengajak orang lain kepadanya. Dia melanjutkan umat Islam yang datang ke Afrika Selatan sebagai budak tidak hanya datang dari Indonesia, tetapi dari Afrika Utara bagian barat, Madagaskar, dan Sri Lanka. Bahkan pada akhir periode pendudukan Inggris, lebih dari 50 persen populasi Muslim adalah orang Afrika. Morton mengatakan maraknya shalawat di kota Cape Town menjadi bukti kehadiran ulama dan dampak positifnya terhadap masyarakat Muslim dan non-Muslim. Makam mereka masih ada dan dirawat sebagai pengingat terhadap sejarah dan tonggak hidup mereka. Mantan wali kota Cape Town dan mantan duta besar Afrika Selatan untuk Amerika Serikat Ibrahim Rasool mengatakan kelompok Muslim yang dideportasi dari Indonesia ke Cape Town kemudian mendatangi Syekh Sayed Mahmud, beserta anggota keluarga dan teman-temannya. Mahmud, pendiri tarekat sufi, berasal dari keluarga terpandang di Indonesia sehingga tidak dipenjara, tetapi diasingkan jauh dari kota. Di mata Belanda, cukuplah mengasingkan Sayed Mahmud dari kampung halamannya agar tidak mengancam pemerintahan mereka di Indonesia. Namun, Belanda tetap mengawasi Sayed Mahmoud. Dari sinilah bermula pertama kali munculnya komunitas Islam di Afrika Selatan.

Read More

Beberapa Doa Yang Dibaca Para Nabi Ketika Menghadapi Kesulitan

Surabaya — 1miliarsantri.net : Berdoa merupakan cara seorang hamba memohon pertolongan kepada Allah. Berdoa juga merupakan cara kita untuk selalu dekat dengan Allah dan mencegah dari sifat sombong. Karena dengan berdoa, kita mengakui bahwa manusia sejatinya hanyalah makhluk yang sering kali lalai dan minim rasa syukur. Karenanya, berdoa merupakan media untuk berkomunikasi dengan Allah, menceritakan kesulitan hidup yang dialami, dan memohon bantuan-Nya untuk mengangkat kesusahan itu. Bahkan para Nabi Allah pun menjadikan doa sebagai senjata mereka untuk menyelamatkan mereka dan melawan orang-orang kafir. Dikutip dari buku “Perbaiki Dirimu, Mengucurlah Rezekimu” Abdul Qosim menyebutkan, bahwa doa bukanlah rentetan kalimat permohonan verbal semata, melainkan menyatunya hati, pikiran, ucapan, dan tindakan. Yahya bin Muadz ra berkata, “siapa yang berdoa kepada Allah dengan penuh konsentrasi, maka Dia tidak menolaknya.” Ibnu al-Qayyim juga berkata, “Jika hati seseorang berkonsentrasi saat berdoa, betul-betul merasa butuh dan harapannya kuat, maka doanya dikabulkan.” Maka, sebaik-baiknya doa adalah yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya, baik yang terdapat di dalam Alqur’an maupun hadits. Berikut ini doa-doa para Nabi terdahulu: Dengan berdoa, Allah menyelamatkan Nabi Nuh as فَدَعَا رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَغْلُوْبٌ فَانْتَصِرْفَفَتَحْنَآ اَبْوَابَ السَّمَاۤءِ بِمَاۤءٍ مُّنْهَمِرٍۖوَّفَجَّرْنَا الْاَرْضَ عُيُوْنًا فَالْتَقَى الْمَاۤءُ عَلٰٓى اَمْرٍ قَدْ قُدِرَ ۚوَحَمَلْنٰهُ عَلٰى ذَاتِ اَلْوَاحٍ وَّدُسُرٍۙتَجْرِيْ بِاَعْيُنِنَاۚ جَزَاۤءً لِّمَنْ كَانَ كُفِرَ Artinya, “Dia (Nuh) lalu mengadu kepada Tuhannya, “Sesungguhnya aku telah dikalahkan, maka tolonglah (aku). Lalu, Kami membukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Kami pun menjadikan bumi menyemburkan banyak mata air. Maka, berkumpullah semua air itu sehingga (meluap dan menimbulkan) bencana yang telah ditetapkan.Kami mengangkut dia (Nuh) ke atas (kapal) yang terbuat dari papan dan paku, yang berlayar dengan pengawasan Kami sebagai balasan (kebaikan) bagi orang yang telah diingkari (kaumnya).” (QS Al Qamar ayat 10-14). Melalui doa pula, Nabi Ayyub as terbebas dari musibah وَاَيُّوْبَ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ ۚ فَاسْتَجَبْنَا لَهٗ فَكَشَفْنَا مَا بِهٖ مِنْ ضُرٍّ وَّاٰتَيْنٰهُ اَهْلَهٗ وَمِثْلَهُمْ مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَذِكْرٰى لِلْعٰبِدِيْنَ ۚ Artinya: “(Ingatlah) Ayyub ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “(Ya Tuhanku,) sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang. Maka, Kami mengabulkan (doa)-nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya, Kami mengembalikan keluarganya kepadanya, dan (Kami melipatgandakan jumlah mereka) sebagai suatu rahmat dari Kami dan pengingat bagi semua yang menyembah (Kami).“ (QS Al Aniya yat 83-84) Dengan berdoa, Nabi Musa diselamatkan Allah dari kejaran Firaun dan pasukannya.

Read More

Kisah Pangeran Diponegoro Menendang Komandan Pasukan Keraton Yogyakarta di Depan Sultan

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Kala itu, Diponegoro menjewer telinga Tumenggung Wiroguno. Tak hanya itu, Diponegoro pun menendang komandan pasukan keraton itu. Diponegoro melakukannya di depan Sultan Hamengkubuwono IV. Saat itu, Tumenggung Wiroguno dipanggil untuk urusan pengangkatan 60 pemungut pajak yang gajinya diambil dari pajak yang dipungut itu. Tumenggung Wiroguno dan Patih Danurejo sangat patuh Residen Yogyakarta Nahuys. Mereka membuat surat pengangkatan 60 pemungut pajak lalu meminta Sultan Hamengkubuwono IV membubuhkan cap. Kepada Hamengkubuwono IV disampaikan jika para pangeran dan bupati sudah menyetujui. Residen Nahuys juga sudah mengizinkan. Atas dasar itulah Hamengkubuwono IV membuhukna capnya. Namun, Diponegoro menerima keluhan dari para pangeran dan bupati. Mereka belum diajak bicara mengenai pengangkatan pemungut pajak yang mereka nilai akan menambah kesengsaraan rakyat itu. Diponegoro pun lalu menanyakan hal itu kepada Hamengkubuwono IV, yang merupakan adiknya sendiri. Hamengkubuwono IV dinobatkan menjadi sultan ketika berusia 10 tahun dan Pakualam ditunjuk sebagai walinya. Hamengkubuwono IV sejak kecil tidka pernah lepas dari Diponegoro. Namun, ketika perwalian Pakualam sudah selesai, Hamengkubuwono IV lebih banyak dapat pengaruh dari Danurejo dan Wiroguno. Dari Danurejo dan Wiroguno pula Hamengkubuwono IV mengenal pesta-pesta ala Barat dengan mauk-mabukan. Resah dengan kelakuan Sultan yang mendapat pengaruh buruk dari Danurejo dan Wiroguno, para pangeran dan bupati melapor kepada Diponegoro. “Ini ada masalah apa? Ibu kenapa tidak memberi tahu saya? Menyusahkan semua orang,” tanya Diponegoro ketika tiba di keraton bertemu dengan sang ibu. Sang ibu mengaku tidak mengetahui adanya kesepakatan yang dibuat Danurejo dan Wiroguno serta Residen dalam hal pengangkatan pemungut pajak. Diponegoro pun lantas menanyakan keberadaan Sultan, adiknya. Mendapat informasi mengenai keberadaan Hamengkubuwono IV, Diponegoro pun segera menghampirnya di bangsal panggung. Lalu ia menanyakan pengangkatan pemungut pajak. Hamengkubuwono IV pun menjawab pengangakatan pemungut pajak itu atas usul Danurejo dan Wiroguno, karena petugas yang ada tidak mencukupi. Ia menyetujui karena katanya sudah atas persetujuan Diponegoro juga. “Itu pasti menipu,” kata Diponegoro. “Sultan, kalau kau tidak tahu, menurut perasaanku itu sangat kelewat durjana. Pada akhirnya besok akan membuat kesusahan pada rakyat kecilnya,” lanjut Diponegoro. Diponegoro membuat perumpaaan mengenai kesengsaraan yang akan ditimbulkan. Para pemungut pajak itu, jika tidak mengeruk hasil bumi pasti akan mengeruk gunung. Karenanya, ia meminta Hamengkubuwono IV membatalkannya. “Sudah telanjur itu. Cap saya ini sudah dipakai untuk mengecap surat perintah kepada desa-desa,” jawab Sultan.

Read More

Pangeran Abdullah Qadhi Abdussalam Pendiri Masjid Pertama di Afrika Selatan

Cape Town — 1miliarsantri.net : Pada tahun 1767, Pangeran Abdullah Qadhi Abdussalam dari Indonesia diasingkan ke Tanjung Harapan (Cape Town Ibukota Afrika Selatan saat ini) oleh Belanda, yang sedang menjajah wilayah sejumlah wilayah di Nusantara. Pangeran Tuan Guru Imam Abdullah Qadhi Abdussalam lahir di Tidore pada tahun 1712 dan meninggal di Cape Town pada tahun 1807 pada usia 95 tahun. Tidore adalah kota yang berada di wilayah Provinsi Maluku Utara, Indonesia. Dulu berdiri Kesultanan Tidore atau Kerajaan Islam Tidore yang berpusat di kota Tidore. Selama Tuan Guru Imam Abdullah Qadhi Abdussalam diasingkan di Afrika Selatan, dia menulis salinan Alquran dari hafalannya. Musfah Alquran yang dia tulis masih disimpan di Cape Town hingga saat ini. Setelah dibebaskan dari status tahanan pada tahun 1793, Tuan Guru Imam Abdullah Qadhi Abdussalam mendirikan madrasah pertama di Afrika Selatan. Madrasah itu menjadi sangat populer di kalangan budak dan komunitas pribumi kulit hitam saat itu. Pada era kolonial itu, orang kulit putih masih menjadikan sebagian orang kulit hitam dan asia sebagai budak. Dilansir dari laman Muslim Hands, diriwayatkan bahwa Tuan Guru Imam Abdullah Qadhi Abdussalam kemudian menjadi imam pertama di Masjid Auwal, yang terletak di lingkungan Bo-Kaap di Cape Town. Masjid Auwal dikenal sebagai masjid pertama yang didirikan di Afrika Selatan. Masjid ini dibangun di atas tanah milik Coridon Van Ceylon, seorang budak Muslim kulit hitam yang telah dibebaskan. Masjid Auwal adalah masjid pertama yang melaksanakan sholat berjamaah, sekaligus sebagai tempat bahasa Arab-Afrika pertama kali diajarkan. Tuan Guru Imam Abdullah Qadhi Abdussalam dimakamkan di Pemakaman Tana Baru, di Bo-Kaap, Cape Town, Afrika Selatan yang merupakan pemakaman Muslim pertama di negara tersebut. Kemudian, imigrasi umat Islam dari India pada awal tahun 1800-an yang dimotori oleh Inggris membantu penyebaran Islam ke seluruh Afrika Selatan. Umat ​​Islam ini segera mendirikan Masjid Jumu’ah, masjid pertama di Jalan Gray di Kota Durban, Afrika Selatan pada tahun 1881. Kemudian Masjid Jalan Kerk juga dikenal sebagai Masjid Jumu’ah di Kota Johannesburg, Afrika Selatan didirikan pada tahun 1906.

Read More

Tata Ruang Hunian Sekarang Banyak Mengadopsi Konsep Bangunan Jaman Majapahit

Mojokerto — 1miliarsantri.net : Sejak jaman dahulu, masyarakat Majapahit dalam mendirikan rumah dikenal dengan menggabungkan nilai filosofis dan fungsi efisiensi. Dimana bangunan yang baik-baik seperti tempat ibadah ada di bagian depan, yang buruk semacam kamar mandi dan tempat sampah letaknya di belakang. Mirip konsep interior rumah sekarang. Menurut Budayawan Putut Nugroho, konsep penataan secara terperinci itu bahkan sudah berkembang sejak sekitar 200 tahun sebelumnya. Tata ruang bangunan rumah di era abad ke 13 sampai 16 itu mengadopsi tata ruang kota Kerajaan Majapahit. ’’Konsep arsitektur dalam penataan posisi bangunan berikut isinya mengacu pada tataran filosofis tiga penyebab kebahagiaan,’’ ungkapnya. Tiga nilai penting dalam ajaran Hindu-Budha itu meliputi hubungan harmonis antara manuasia dengan tuhan, antarmanusia, dan manusia dengan alam. Nilai ini diterapkan dalam konsep pembagian area tiga zona yang oleh masyarakat Bali disebut dengan Tri Mandala. Pedoman pembagian ruang itu menyangkup bagian utama, madya, dan nista. Utama adalah bagian bangunan yang berhubungan dengan spiritualitas, yakni tempat ibadah. Bangunan ini biasanya menjadi satu area dengan rumah dan posisinya berada di depan. ’’Masyarakat saat itu punya keyakinan bahwa posisi tempat ibadah harus pakem,’’ ujarnya. Putut mengatakan, konsepsi yang berpadu dengan kultur Jawa kuno melahirkan gaya baru arsitektur. Dalam tradisi rumah adat Joglo misalnya, bisa ditemui bagian senthong yang memiliki fungsi sakral sebagai tempat sembahyang atau bermeditasi Selanjutnya, area madya yang berupa pelatan utama rumah atau sekarang mirip dengan ruang tamu, kamar, sampai dapur.

Read More

Kisah Mpu Sindok dan Selirnya Membangun Tiga Bendungan

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Perintah pembangunan di masa Kerajaan Mataram kuno era Mpu Sindok, konon tak hanya datang dari sang raja saja. Bahkan dikisahkan permaisuri atau seorang selir Raja Mpu Sindok konon pernah memerintahkan pembangunan tiga bangunan bendungan. Bangunan bendungan ini tercantum dalam Prasasti Wulig tahun 856 Saka atau sama dengan 935 Masehi. Di dalam Prasasti Wulig itu disebutkan perintah Rakryan Binihaji Rakryān Mangibil, permaisuri atau salah seorang selir Pu Sindok, kepada Samgat Susuhan agar memerintahkan penduduk Desa Wulig, Pangiketan, Padi Padi, Pikatan, Panghawaran, dan Busuran untuk membuat bendungan. Menariknya dalam perintahnya itu permaisuri Mpu Sindok memperingatkan jangan ada yang berani mengusik atau mengganggu pembangunan dan selama beroperasi, dengan menyatukan bendungan tersebut. Tak hanya itu, peringatan agar penduduk sekitar tidak mengambil ikan di bendungan tersebut sewaktu siang juga menjadi isi dari prasasti tersebut. Dikutip dari “Sejarah Nasional Indonesia II : Zaman Kuno” pada tanggal 8 Januari 935 M, Rakryan Binihaji meresmikan ketiga bendungan yang ada di Desa Wuatan Wulas dan Wuatan Tamya. Nama permaisuri Mpu Sindok ini pun muncul pula di dalam prasasti Géwég tahun 855 Saka atau sama dengan 933 M dan prasasti Cunggrang tahun 851 Saka atau sama dengan 929 M. Di dalam prasasti Geweg itu Mpu Sindok tidak memakai gelar mahārāja, tetapi rakryan sri mahamantri dan sang permaisuri disebut Rakryan Sri Parameswari Sri Warddhani pu Kbi. Di dalam prasasti Cunggrang sang permaisuri disebut Rakyan Binihaji Sri Parameswari Dyah Kbi. Tapi ada tafsiran dari sejarawan Stutterheim yang berpendapat, tokoh Rakryan Binihaji, bukanlah permaisuri Mpu Sindok, melainkan neneknya. Akan tetapi, karena kata kbi itu didahului oleh pu dan dyah, yang biasa mendahului nama orang, agak sulit menerima tafsiran Stutterheim itu. Sebab di sini lebih condong untuk menerimanya sebagai permaisuri atau rakryan binihaji parameswari, yang namanya Pu atau Dyah Kebi. Prasasti Cunggrang juga menyatakan bagaimana Mpu Sindok memerintahkan Desa Cunggrang, yang masuk wilayah Bawang, di bawah pemerintahan langsung dari Wahuta Wungkal, dengan penghasilan pajak sebanyak 15 süwarna emas, dan kewajiban kerja bakti.

Read More

Kisah Ibnul Mubarak yang Berguru Pada 4.000 Ulama

Surabaya — 1miliarsantri.net : Abdullah ibnu Al Mubarak bin Wadlih Al Handzali Al Marwazi atau dikenal dengan sebutan Ibnul Mubarak, adalah seorang ulama besar yang lahir di Kota Marwa, Khurasan, pada tahun 118 H. Dalam kitab Siyar A’lam an-Nubala, Syamsuddin az-Zahabi, Jilid 8, halaman 379, dijelaskan bahwa Ibnu Mubarak merupakan ulama terkemuka pada masanya, yang dikenal dengan keilmuannya yang luas, kesalehannya, dan sifat zuhudnya. Ayahnya, Al Mubarak, berasal dari Turki, sedangkan ibunya berasal dari Khwarezmia (sekarang Khiva) yang dulunya termasuk bagian Khurasan atau sebelah barat Uzbekistan. Ibnul Mubarak lahir dari pasangan suami istri yang taat dalam menjaga dan mengamalkan nilai-nilai ketakwaan agamanya. Ibnul Mubarak tumbuh menjadi anak yang cerdas dan gemar belajar. Sejak kecil, ia sudah mempelajari ilmu agama dari ayahnya dan ulama-ulama lainnya di Marwa. Ia juga berguru kepada ulama-ulama besar di berbagai kota di dunia Islam, seperti Basrah, Baghdad, dan Damaskus. Guru pertama yang ditemui Ibnul Mubarak adalah Rabi’ bin Anas al-Kharasyi. Ia berusaha untuk menemuinya di penjara dan mendengar sekitar 40 hadits darinya. Kemudian, melakukan perjalanan pada tahun 141 H dan mengambil hadits dari para tabi’in yang ditemuinya. Menurut catatan Syamsuddin az Zahabi, dalam kitab Siyar A’lam an-Nubala, Ibnul Mubarak berguru kepada banyak ulama, bahkan lebih dari 4.000 orang. Sementara Imam bin Hanbal menuturkan bahwa Ibnul Mubarak adalah ulama yang sangat giat mencari ilmu. Ia rela merantau ke berbagai negeri untuk belajar kepada para ulama. Sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk menimba ilmu. Imam Ahmad bin Hanbal juga berkata, “Pada zamannya, tak ada seorang pun yang lebih giat menimba ilmu melebihi Ibnu Al-Mubarak.” Ibnu Al-Mubarak pernah belajar kepada 4.000 orang guru di berbagai negeri. ad Di antara gurunya dari kalangan tabi’in lainnya, seperti Sulaiman at-Taimi, ‘Ashim al-Ahwal, Humaid at-Tawwal, Hisyam bin ‘Urwa, al-Jariri, Ismail bin Abi Khalid, al-A’masy, Buraidah bin Abdullah bin Abi Burdah, Khalid al-Khudhari, Yahya bin Sa’id al-Anshari.

Read More