Menelusuri Jejak Sejarah Goa Selomangleng di Tulungagung

Tulungagung — 1miliarsantri.net : Goa Selomangleng, terletak di Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, menghadirkan kecantikan pahatan yang terukir di sebuah bukit di area hutan BKPH Kalidawir. Lingkungannya dikelilingi oleh perbukitan dan hutan, mencakup lahan seluas 29,5 x 26 meter dan memiliki status kepemilikan tanah perhutani. Goa Selomangleng ini terdiri dari dua bagian, dengan sisi barat memiliki dimensi panjang 360 cm, tinggi 130 cm, dan lebar 340 cm, sedangkan sisi selatan memiliki dimensi panjang 360 cm, tinggi 110 cm, dan lebar 210 cm. Menurut Bernet Kempers, goa Selomangleng diperkirakan dibuat pada abad X Masehi. Namun, pandangan lain dari Krom menyatakan bahwa goa ini berasal dari masa Majapahit, terlihat dari relief tokoh bermahkota kiritamahkuta yang diapit sepasang teratai keluar dari jamang, ciri khas Majapahit. Pendapat serupa disampaikan oleh Setyawati Sulaiman, yang menyatakan bahwa gaya pemahatan dan penataan rambut tokoh dalam goa ini dapat ditelusuri kembali ke masa awal Kerajaan Majapahit. Goa Selomangleng menjadi salah satu dari sejumlah goa di perbukitan Wajak, yang pada zaman dahulu digunakan oleh para Resi dalam kegiatan keagamaan. Para Resi cenderung memilih tempat tinggal yang jauh dari keramaian, seringkali terletak di hutan dan perbukitan. Agus Arismunandar, salah satu tokoh sejarah menyampaikan, goa Selomangleng menghubungkan goa-goa di perbukitan Wajak dengan Candi Dadi, yang menjadi pusat kegiatan keagamaan para resi pada masa itu. Keberadaan Goa Selomangleng merupakan bagian yang signifikan dari warisan sejarah dan kebudayaan yang layak dijaga dan dipelajari lebih lanjut. Sementara itu, Goa Selomangleng di Tulungagung, diperkirakan dibangun pada abad ke X, berlokasi di area Gunung Wajak. Terletak di Dusun Sanggrahan Kidul, Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu, letaknya yang dekat dengan pemukiman warga memudahkan aksesnya. Konon, goa ini sering digunakan untuk bertapa atau mencari tujuan tertentu. Goa Selomangleng di Tulungagung memiliki pemandangan klasik pedesaan yang damai dan sejuk, menjadikannya tujuan wisata populer. Bentuknya yang unik, seperti lubang pada batu andesit hitam dengan dua lubang di antara sisinya, menciptakan daya tarik tersendiri. Di dalamnya, terdapat hiasan ukiran atau relief yang menggambarkan tokoh-tokoh, seperti Arjuna, dan kisah-kisah dari Kakawin Arjunawiwaha.

Read More

Rayakan Hari Lahir, Negara Saudi Pertama Berkembang di Bawah Kepemimpinan Imam Mohammed bin Saud

Riyadh — 1miliarsantri.net : Pemerintah Kerajaan Arab Saudi saat ini tengah mempetingati Hari Lahir atau Founding Day Arab Saudi yang jatuh setiap 22 Februari. Peristiwa ini menandai hampir tiga abad sejak berdirinya negara Saudi pertama oleh Imam Muhammad bin Saud pada 1727. Kamis (22/2/2024) waktu setempat menandakan peristiwa penting, dan merayakan kedalaman akar sejarah serta warisan abadi Kerajaan di bawah kepemimpinan para pendiri dan pemimpin berturut-turut. Tempat lahirnya negara Kerajaan Arab Saudi adalah Diriyah. Kisah Diriyah dimulai dengan permukiman suku Banu Hanifa di Semenanjung Arab bagian tengah, berkembang menjadi pusat politik dan budaya yang menjadi landasan terbentuknya negara Saudi. Pembentukan Diriyah sebagai negara kota oleh Pangeran Manea bin Rabia Al-Muridy pada tahun 1446 M menandai titik balik yang penting, memperkenalkan model pemerintahan yang unik di wilayah tersebut. Dengan Diriyah sebagai ibu kotanya, negara Saudi pertama berkembang di bawah kepemimpinan Imam Mohammed bin Saud, menekankan prinsip-prinsip Islam yang sejati, pemerintahan yang rasional, dan komitmen terhadap kesejahteraan warganya dan komunitas Islam. Periode ini memperlihatkan Diriyah muncul sebagai mercusuar stabilitas, kemakmuran, dan kemandirian, menumbuhkan rasa persatuan dan identitas nasional di antara masyarakatnya. Keputusan Kerajaan yang dikeluarkan pada tanggal 27 Januari 2022, yang menetapkan tanggal 22 Februari sebagai “Hari Lahir”, mengakui makna sejarah yang mendalam dari Diriyah dan nilai-nilai dasar yang telah membimbing Kerajaan melalui pertumbuhan dan transformasi selama berabad-abad.

Read More

Kisah Pangeran Diponegoro Mendapat Gelar Panembahan Herucokro Senopati Ing Alaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Pada suatu kisah, setelah merebut keraton Kartosuro, cucu Sultan Agung, Pakubuwono I yang memerintah hingga tahun 1719 kemudian memindahkan keraton ke Surakarta Hadiningrat. Ia memiliki 11 anak, di antaranya adalah Pangeran Suryoputro, Pangeran Purboyo, Pangeran Suryokusumo, Pangeran Blitar, dan Pangeran Diponegoro. Suryoputro kemudian naik tahta menjadi Amangkurat IV pada 1719-1726. Amangkurat IV yang dekat dengan Kompeni harus berhadapan dengan saudara-saudaranya itu. Pangeran Diponegoro yang tinggal di Madiun lalu menjadi raja dengan gelar Panembahan Herucokro Senopati Ing Alaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama. Ia mendapat dukungan dari para adipati mancanegara. Adipati Joyopuspito dari Surabaya yang memimpin pasukan mancanegara melawan Kompeni dan Kartosuro diberi gelar Adipati Panatagama. Joyopuspito menjadi penguasa Surabaya diangjat oleh Amangkurat III. Amangkurat III menghukum mati penguasa sebelumnya, Jayengrono, yang merupakan kakak dari Joyopuspito. Jayengroni dibunuh atas permintaan Kompeni. Joyopuspito terharu dengan tugas yang diberikan kepadanya setelah kakaknya dihukum mati. Tapi, Joyopuspito tidak memilih tunduk kepada Kompeni dan Kartosuro. Ia memimpin perlawanan terhadap Kompeni dan Kartosuro. “Hamba tahu rahasia meninggalnya Kakang Adipati. Ada yang mengkhianatinya. Kalau Raja mengizinkan, sekarang ini juga saya akan maju perang,” kata Joyopuspito kepada Patih Mataram, Sumobroto. Sumobroto melaporkan ucapan Joyopuspito kepada Amangkurat III. Sumobroto kemudian memberi tahu jika Raja tidak suka jika Joyopuspito menyiapkan pasukan di hadapan raja. Joyopuspito membawa pulang pasukannya. Kemudian meneruskan langkah ke medan perang melawan Kompeni dan Kartosuro. Hingga akhirnya mendukung penobatan Pangeran Diponegoro sebagai raja. Karena Amangkurat IV memerintah hingga 1726. Berarti Pangeran Diponegoro yang berselisih dengan Amangkurat IV dan Konoeni ini bukan Pangeran Diponegoro yang meminpin Perang Jawa 1825-1830.

Read More

Mengulik Hubungan Kisah Ratu Adil dengan Pangeran Diponegoro

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Mengulik hubungan kisah Ratu Adil dengan sosok Pangeran Diponegoro. Padahal keduanya berada di zaman yang berbeda. Pasalnya Ratu Adil diibaratkan adalah munculnya Imam Mahdi atau Mesias. Risalah Jayabaya menunjukkan kehadiran Ratu Adil dengan lambang “Tunjung Putih semune pudhak sinumpet” (seorang berhati suci yang masih disembunyikan identitasnya oleh kegaiban Tuhan). Sedangkan Pangeran Diponegoro memiliki gelar Sultan Ngabdulkamid Erucakra Kabirul Mukminin Sayidina Panatagama Jawa Khalifat Rasulullah. Berikut hubungan kisah Ratu Adil dengan sosok Pangeran Diponegoro: Zaman Kala Bendhu merupakan zaman banyak orang mengejar kepentingan pribadi dan banyak dikuasai angkaramurka. Keadaan ini akan hilang dengan bergantinya jaman menjadi jaman Kala Suba, yang meruapakan jaman kegembiraan rakyat. Zaman Kala Suba dikenal dengan munculnya Ratu Amisan yang juga disebut Sultan Heru Cakra. Dalam sejarah jaman Kala Suba (1801-1900) dikenal tokoh Pangeran Diponegoro sebagai Ratu Adil yang melawan penjajah Belanda. Sebagaimana dikutip dari Peter Carey pada bukunya berjudul “Takdir : Riwayat Pangeran Diponegoro 1785 – 1855”, mengisahkan waktu itu sang pangeran masih sempat tinggal sepanjang malam bermain catur dengan kawan lamanya Raden Ayu Danukusumo sehari sebelum Gunung Merapi meletus. Tepat pada Minggu pagi buta 28 Desember 1822, serangkaian gempa terjadi, Gunung Merapi akhirnya mulai meletus. Aliran lahar terlihat menuruni lereng gunung diiringi hujan abu dan pasir. Pemandangan kepulan asap yang naik ke angkasa yang masih gelap itu kian pekat.

Read More

Kisah Pangeran Diponegoro Kecewa Dengan Kebijakan Pajak yang Dilakukan Pejabat Keraton Yogyakarta

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Pada suatu ketika, Pangeran Diponegoro merasa kecewa dengan kebijakan pajak yang dilakukan oleh pejabat Keraton Yogyakarta yang kemudian disetorkan ke pemerintah Inggris. Pada masa itu, Sultan Hamengkubuwono III berhasil mengumpulkan sejumlah besar uang yang kemudian diserahkan kepada pemerintah Inggris yang berkuasa di Nusantara saat itu. Sultan Yogya tersebut naik tahta pada bulan Februari 1679 dan berhasil menghimpun pajak sebesar 100 ribu dolar yang kemudian disalurkan kepada pemerintah Inggris. Di masa pemerintahannya, Sultan Hamengkubuwono III berhasil menjalankan pemerintahan dengan damai dan mencapai tingkat kemakmuran yang lumayan. Selama berkuasa di Kesultanan Yogyakarta, ia berhasil mengumpulkan sekitar 60 ribu dolar Spanyol. Menurut Peter Carey dalam karyanya “Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro: 1785 – 1855”, jumlah uang yang signifikan ini berhasil terkumpul dari sumber-sumber kekayaan Keraton dan pembayaran pensiun kepada anggota keluarga keraton yang dilakukan secara rutin. Pajak yang diterima dari pemerintah Inggris, termasuk pajak jalan negara dan pasar sebesar 100 ribu dolar Spanyol setiap tahun, memegang peran penting dalam keseimbangan keuangan. Berbagai rencana telah disusun untuk mengawasi pengumpulan pajak dan mengatur tindakan petugas polisi di pedesaan dan daerah terpencil, yang ingin dihapuskan oleh Pangeran Diponegoro. Bagi Pangeran Diponegoro, pejabat di Kesultanan Yogyakarta hanya menambah beban bagi pemerintahan desa. Oleh karena itu, ia berkeinginan untuk mengembalikan tatanan pemerintahan seperti pada masa pemerintahan Sultan Pertama. Meskipun Sang Ayah menyetujui usulan Pangeran Diponegoro dan memberikan waktu satu tahun untuk mengimplementasikan perubahan tersebut, Sultan Hamengkubuwono III meninggal sebelum periode tersebut berakhir.

Read More

Kisah Akhir Perjuangan Sultan Hasanuddin dalam Melawan Penjajah

Makassar — 1miliarsantri.net : Siapa yang tidak mengenal Sultan Hasanuddin. Beliau adalah raja Kerajaan Gowa-Tallo atau Kerajaan Makassar yang memerintah antara tahun 1653 hingga 1669. Pada saat memerintah, Sultan Hasanuddin melancarkan perlawanan terhadap VOC. Perlawanan Sultan Hasanuddin terhadap VOC terjadi pada tahun 1666 hinga 1669. Penyebab Sultan Hasanuddin melakukan perlawanan di Makassar adalah ambisi VOC untuk memaksakan monopoli perdagangan Perjuangan yang telah dilakukan oleh Sultan Hasanuddin berakhir dengan kekalahan. Pada 24 Oktober 1666, angkatan laut VOC berangkat ke Makassar di bawah pimpinan Laksamana Cornelis Spelman. VOC tiba di depan Benteng Somba Opu pada 15 Desember 1666, dengan kekuatan 21 kapal perang serta 600 pasukan. Segera setelah itu, pecah pertempuran antara VOC dan pejuang Makassar yang dipimpin oleh Sultan Hasanuddin. Pada saat perang berlangsung, VOC mencari sekutu dengan cara melancarkan politik devide et impera terhadap Aru Palaka, yang pernah menjadi tahanan bagi Kerajaan Gowa-Tallo bersama keluarganya. Setelah mendapat dukungan Aru Palaka, VOC semakin percaya diri untuk menggempur pertahanan Sultan Hasanuddin. Meski sempat kewalahan, VOC akhirnya unggul setelah mendapat kiriman bantuan dari Batavia. Pada 18 November 1667, Sultan Hasanuddin kemudian dipaksa menandatangani Perjanjian Bongaya, yang salah satu isinya Gowa harus mengakui hak monopoli VOC. Isi Perjanjian Bongaya yang sangat merugikan pihaknya, membuat Sultan Hasanuddin kembali melemparkan serangan.

Read More

Sebanyak 11 Masjid di Istanbul Buka Kelas Kebugaran untuk Jamaah Lansia

Istanbul — 1miliarsantri.net : Masjid Abdulhamid Han di Istanbul menggelar kelas kebugaran bagi orang lanjut usia. Kelas senam tersebut dibuka usai shalat jamaah zuhur dan ashar. Selain Masjid Abdulhamid Han, inisiatif yang dilakukan sejak Januari ini juga diterapkan oleh 10 masjid lainnya di distrik Bagcilar Istanbul, dimana kelas kebugaran ini sendiri terbuka untuk warga di komunitas padat penduduk dan masyarakat miskin. Belasan jamaah dan imam berjanggut panjang meletakkan kaki mereka di atas karpet tebal berwarna biru kehijauan di Masjid Abdulhamid Han. Jamaah mengikuti instruktur olahraga, mengangkat lutut, memutar bahu, dan melompat. Gerakan itu pun kerap diselingi tawa dan lirikan malu-malu. Kemudian mereka mengangkat lutut, memutar bahu, dan melompat ke tempatnya, saling tertawa terkikik dan melirik malu-malu. “Manusia itu ibarat kendaraan. Sama seperti kita membutuhkan perawatan kendaraan, ketika kita berolahraga, organ tubuh kita menjadi lebih baik,” terang Servet Arici, salah satu pengunjung masjid. Pria berusia 66 tahun itu, telah mengikuti kelas senam hariannya sejak Januari lalu, kali pertama inisiasi diluncurkan di 11 masjid di distrik Bagcilar Istanbul, salah satu kota besar dengan penduduk terpadat dan terpinggirkan. Veteran di kelompok tersebut, Huseyin Kaya (75), mengaku senang mengikuti pelatihan itu karena membuat setiap bagian tubuhnya bergerak. “Ini membuat perbedaan,” kata mantan sopir taksi berjanggut itu. Menurut para ahli, masyarakat di wilayah termiskin di Istanbul itu kurang melakukan olahraga dibandingkan dengan wilayah yang lebih kaya. Instruktur senam, Fatih Yamanoglu mengatakan olahraga yang dilakukan secara rutin dapat mencegah cedera di masa depan sehingga membuat hidup lebih mudah, khusus bagi para pria lansia. “Sekitar 25 dan 35 jamaah melakukan fleksibilitas mereka setiap hari setelah salat zuhur dan ashar,” kata Yamanoglu. Perempuan, yang di Turki lebih sering shalat di rumah, saat ini masih dikecualikan dari proyek tersebut. Namun dewan Bagcilar, yang dipimpin oleh seorang wali kota dari partai AKP yang berbasis Islam pimpinan Presiden Recep Tayyip Erdogan, mengatakan pihaknya terbuka untuk melihat perubahan nanti.

Read More

Otoritas Warisan Saudi Umumkan Penemuan Situs Arkeolog Baru di Jurash

Riyadh — 1miliarsantri.net : Otoritas Warisan Saudi mengumumkan penemuan situs arkeolog baru di Jurash, yang terletak di wilayah selatan Asir. Hal ini menandai langkah penting dalam penelusuran sejarah dan kekayaan budaya Arab Saudi. Dilansir dari Saudi Gazette, Kamis (15/2/2024), salah satu situs arkeologi terpenting di bagian selatan Arab Saudi, Situs Arkeologi Jurash, ditemukan pada akhir musim penggalian ke-15 pada tahun 2023. Tim ilmiah yang bekerja di lokasi menemukan bangunan arsitektur baru dengan dinding yang terbuat dari batu dan tanah liat. Otoritas tersebut menyatakan bahwa bangunan-bangunan ini merupakan lanjutan dari temuan penggalian selama empat belas musim sebelumnya, terutama musim panas. sisi utara lokasi tersebut. Selain itu, Otoritas Warisan mengumumkan penemuan teknologi irigasi baru yang dilakukan di lokasi tersebut untuk pertama kalinya, seperti sumur yang dibangun dengan teknik tumpukan batu. Kemudian saluran air dihubungkan ke pemukiman melalui dua baris batu dengan saluran di tengahnya untuk mengalirkan air ke pemukiman, dan saluran lain bercabang dari sumur yang mengalir ke cekungan air di sekitar lokasi. Selain itu, ditemukan kompor dan teras yang dibuat dari batu dan tanah liat. Selain itu, ditemukan koleksi manik-manik yang terbuat dari batu halus dan sejumlah peralatan batu yang digunakan untuk keperluan sehari-hari. Karena temuan arkeologis, ditemukan batu granit dengan prasasti Islam yang terdiri dari tiga baris. Ini dianggap sebagai prasasti kedua yang ditemukan di lokasi tersebut. Selanjutnya, banyak perkakas batu yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari ditemukan, seperti alat penumbuk, bubuk, penggiling, penggilingan, pecahan tembikar biasa dan yang berbahan kaca, kaca, cetakan steatite, tembikar dengan ganggang dan berstruktur, bejana batu dan kaca dengan berbagai ukuran dan bentuk, dan manik-manik yang terbuat dari batu mulia.

Read More

Grebeg Sudiro, Berawal Dari Tradisi Kelurahan Naik Kelas Jadi Event Nasional

Solo — 1miliarsantri.net : Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Kabaparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno mengapresiasi event Grebeg Sudiro 2024. Grebeg Sudiro merupakan sebuah tradisi yang digelar di Kelurahan Sudiroprajan, Solo, Jawa Tengah, sebagai bentuk akulturasi budaya antara Tionghoa dan Jawa. Sandiaga Uno saat berkunjung ke Kawasan Pasar Gede, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (10/2/2024) menjelaskan, Grebeg Sudiro menjadi salah satu bagian 100 Karisma Event Nusantara (KEN). Event yang memasuki tahun ke-15 ini merupakan simbol dan wujud aktualisasi, akulturasi, pembauran, dan harmoni dalam kebhinekaan di kawasan heritage Pasar Gede dan Kampung Pecinan yang menjadi bagian Kelurahan Sudiroprajan. “Grebeg Sudiro menjadi event KEN pertama tahun 2024 yang digelar. Saya mencari event-event seperti ini, yang bisa naik kelas dari event kelurahan naik menjadi event provinsi. Saya berharap ini bisa menjadi event internasional. Ini juga sebuah gerakan masyarakat yang menginspirasi kita untuk bangkit, ekonomi kita digerakkan dari sektor konsumsi dan di event ini kita melakukannya,” terang Sandiaga kepada 1miliarsantri.net, Ahad (11/2/2024). Presiden Joko Widodo, kata Menparekraf Sandiaga, telah berpesan bahwa pascapandemi harus dipastikan ada event-event yang berkualitas yang bisa mendatangkan dampak positif langsung bagi masyarakat. “Menariknya, selain ini adalah event pertama KEN. Event ini juga berdekatan dengan Imlek, keseruannya pas dengan budaya Jawa. Menjadi simbol bahwa kita semua saudara dalam kebhinekaan Indonesia,” sambungnya. Menparekraf juga mengarahkan agar event yang digelar mulai 27 Januari sampai 24 Februari 2024 dapat dikembangkan melalui platform digital. “Saya ingin strategi storynomicnya dikembangkan dan didokumentasikan dalam bentuk digital sehingga event ini bisa menjadi contoh event-event lain di Indonesia. Kalau bisa konten-kontennya terus ditingkatkan,” imbuhnya. Selain berbarengan dengan perayaan imlek. Tahun ini, Grebeg Sudiro berbarengan dengan kampanye salah satu paslon capres/cawapres di Solo dan ternyata masyarakat yang datang ke kampanye itu berbelanja dan berburu wisata kuliner.

Read More

Ini 3 Misteri di Arab yang Belum Terungkap

Abu Dhabi — 1miliarsantri.net : Sejarah negara-negara Arab mengandung banyak misteri yang selalu membangkitkan semangat para peneliti dan arkeolog untuk menemukannya. Ini sekaligus menghadirkan tantangan bagi mereka untuk menguraikannya dan memecahkan simbol-simbol menakjubkan. Misteri-misteri ini tersebar sepanjang zaman dan mencakup periode yang berbeda-beda, termasuk ada yang berhubungan dengan barang antik, ada yang berhubungan dengan peradaban kuno, dan juga termasuk makhluk asing. Ada beberapa misteri sejarah di negara-negara Arab yang rahasianya belum terpecahkan hingga saat ini, seperti makam Tutankhamun dan penjara Qara di Maroko. Namun, mereka masih menarik wisatawan dari berbagai negara di dunia. Tiga Misteri Belum Terpecahkan di Arab Pohon ini juga disebut dengan Pohon Naga, yang memiliki bentuk unik menyerupai tajuk atau mahkota, yang terdiri dari cabang-cabang. Pohon Darah Bersaudara ini terletak di Pulau Socotra di Samudera Hindia, dekat Teluk Aden. Wilayah tersebut merupakan bagian dari kepulauan bernama sama, yang terdiri dari empat pulau utama dan dua pulau kecil berbatu, dan sekitar 50.000 orang tinggal di sana. Pohon ini terkenal dengan cairan berwarna merah darah yang keluar jika kulit kayunya yang lembut tergores. Dam al-Akhawayn atau Pohon Darah Bersaudara dianggap sebagai salah satu spesies pohon langka karena hanya dapat ditemukan secara alami di Pulau Socotra. Pohon ini secara tradisional digunakan dalam pengobatan tradisional di Yaman. Cairan darahnya dianggap memiliki manfaat pengobatan. Cairannya diduga digunakan untuk mengobati infeksi kulit dan bisul, dan juga digunakan sebagai desinfektan gusi. Para ahli juga menunjukkan manfaatnya dalam mengobati beberapa masalah sistem pencernaan dan sakit maag. Kepulauan Socotra telah terdaftar dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO sejak 2008 karena keanekaragaman lingkungannya yang besar dan spesies unik yang ditemukan di wilayah tersebut. Kepulauan ini memiliki 825 spesies tumbuhan, lebih dari sepertiganya tergolong unik. Penjara Qara terletak di kota Meknes di Maroko tengah, dan sejarahnya dimulai pada abad ke-18 Masehi. Saat ini, penjara tersebut dianggap sebagai salah satu lokasi wisata yang menarik pengunjung dari seluruh dunia. Penafsiran berbeda mengenai penamaan Penjara Qara yang misterius dan kontroversial, begitu pula pendapat mengenai wilayahnya dan peristiwa yang terjadi di sana. Namun, yang pasti adalah ini adalah penjara yang menakutkan karena digambarkan mereka yang masuk akan tersesat dan mereka yang di luar akan lahir. Menurut salah satu catatan sejarah, Penjara Qara adalah nama seorang tahanan Portugis yang ahli di bidang teknik dan konstruksi. Tahanan ini mendapat janji dari Sultan Moulay Ismail dari dinasti Alaouite, yang memerintah Maroko pada periode antara 1672 dan 1727 M untuk membebaskan dirinya. Namun, dengan syarat yaitu dibuatkan untuk sultan bangunan penjara besar yang akan menampung lebih dari 40 ribu tahanan dan tahanan selama periode jihad maritim pada abad ke-18.

Read More