Kisah Tunggul Ametung Sang Adipati Tumapel

Semarang — 1miliarsantri.net : Alkisah di negeri Tumapel hidup seorang adipati yang menyukai perempuan-perempuan cantik. Sang adipati, walau usianya tak muda lagi, menganggap perempuan cantik sebagai aset berharga. Tiap kali berjalan ke desa-desa ia selalu mencari perempuan cantik. Tak peduli siapa orang tua perempuan itu dan bagaimana kondisi hidupnya, selama sang adipati menginginkannya, perempuan itu akan diangkut ke istana kadipaten. Bahkan bila perlu dengan kekerasan. Nama adipati Tumapel itu Tunggul Ametung. Ia menjadi adipati setelah menyatakan sumpah setia pada raja Kediri; Kertajaya. Pada waktu itu Kediri adalah kerajaan terbesar di Jawa. Wilayah kekuasaannya mencangkup seluruh Jawa dan sebagian Sumatra. Kesetiaan Tunggul Ametung pada Kertajaya tiada duanya. Tiap tahun ia mengirim upeti dengan jumlah luar biasa besar. Hasil panen terbaik, barang-barang antik, dan segepok emas ia kirim ke Daha sebagai tanda kesetiaan. Tunggul Ametung memiliki reputasi baik di mata sang raja. Ia diberi kebebasan oleh raja untuk mengelola wilayahnya, tanpa batas. Semua itu berkat kesetiaannya pada Raja Kertajaya. Tunggul Ametung bukan seorang bangsawan. Tak ada darah ksatria atau brahmana dalam dirinya. Dahulu ia adalah perampok yang sudah merapok lebih dari seratus kali dan sudah membunuh orang 150 kali. Ia adalah perampok berdarah dingin. Seluruh Kediri tahu itu. Reputasinya sebagai perampok ulung sampai juga di telinga raja Kediri yang kala itu baru naik tahta, Raja Kertajaya. Bukannya membasmi gerombolan Tunggul Ametung itu, Raja Kertajaya justru memanggilnya ke istana untuk memberikan tawaran menarik. Aneh memang, namun itulah yang terjadi. “Jadi kau yang bernama Tunggul Ametung itu?” Tunggul Ametung memandang raja baru itu dengan curiga. “Tenanglah. Aku tak bermaksud menangkap atau menghukummu. Bahkan aku mengizinkanmu memasuki istanaku bersama beberapa gerombolanmu itu, bukan? Kau lihat, tak ada perajuritku di sini.” “Apa yang kau inginkan?” tanya Tunggul Ametung, “jika kau akan menghentikanku, kau melakukan hal sia-sia. Jika kau pikir aku akan menyerah tanpa perlawanan, kau keliru.” Suasana hening. Para abdi kerajaan dan pejabat istana menjadi kaget dan was-was. Sebelum ini tak pernah ada orang yang berbicara pada raja Kediri tanpa menyembah terlebih dahulu. Mereka khawatir akan terjadi kekacauan di dalam istana. “Haha, berani juga kau. Tenanglah, aku Kertajaya raja Kediri bukan orang seperti itu. Aku berbeda dengan pendahulu-pendahuluku.” Suasana semakin mencekam. Di luar istana para perajurit kerajaan tiba-tiba datang dalam jumlah besar. Mereka berhadapan dengan gerombolan Tunggul Ametung, saling tatap penuh curiga seakan-akan di mata mereka ada api yang berkobar, api kebencian yang tiba-tiba menyala. “Pernah kah kau mendengar wilayah Tumapel?” “Aku tahu tempat itu. Dulu aku merampok orang kaya di wilayah itu” “Lalu?” “Aku dikejar sampai ke perbatasan Gelang-Gelang.” “Pasukan mereka memang kuat.” “Apa yang kau inginkan?” Kesabaran Tunggul Ametung kian menipis. “Aku ingin mengajakmu bekerja sama.” “Bekerja sama? Apa maksudmu?” “Setelah kematian ayahku, wilayah Tumapel menjadi kurang ajar. Tak ada upeti yang datang. Aku dengar sang adipati tak sudi mengakuiku sebagai raja baru.” “Lalu, apa hubungannya denganku?” Kertajaya diam sejenak, lalu senyum tipis merekah di wajahnya. “Aku ingin kau dan gerombolanmu membunuh adipati Tumapel.” Tunggul Ametung kaget. “Hah? Apa untungnya bagiku?” “Setelah kau menghancurkan adipati itu, aku akan menjadikanmu adipati Tumapel yang baru. Kau dan gerombolanmu akan bergerak atas namaku.” Tunggul Ametung nampak bimbang. Ia yang semula bersikap congkak di hadapan raja, kini mulai berubah. Ia menatap rombongan yang mengawalnya. Mata orang-orang itu seakan berkata ‘ini tawaran bagus, terimalah. Aku tak mau jadi perampok selamanya!’ “Setelah aku menggulingkan adipati Tumapel, apa yang harus kulakukan selanjutnya?” “Kau hanya harus menyatakan sumpah setia padaku dan mengirim upeti tiap tahun.” “Yang benar saja! Tak ada yang tersisa padaku jika kekayaan Tumapel mengalir kepadamu!” “Tumapel adalah wilayah kaya. Hasil buminya yang terbaik di Jawa. Di sana juga ada tambang emas yang tak akan habis ditambang. Kau akan menerima jauh lebih banyak dibanding yang kau berikan padaku.” Tunggul Ametung lagi-lagi terdiam. Pikirannya mengkalkulasi untung-rugi. Jika berhasil ia akan menjadi adipati. Tapi jika gagal ia akan menjadi pesakitan. “Kenapa kau bimbang? Bukankah kau itu kuat?” Perkataan Kertajaya semakin membuat Tunggul Ametung gelisah.

Read More

Islam di Krimea, Susunan Puzzle Dua Abad Terakhir Pasca Runtuhnya Kekhanan Krimea

Jakarta — 1miliarsantri.net : Buku Islam di Krimea yang ditulis oleh Yanuardi Syukur, Pengurus Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional MUI di mana dirinya pernah melakukan kunjungan ke Ukraina. Ia mengatakan, penulisan buku ini menjadi salah satu upaya untuk membuka fokus studi baru terkait wilayah Islam yang di luar Timur Tengah atau Asia Tenggara, melainkan sebuah wilayah di timur Eropa, yakni Krimea. “Dari studi Islam di Krimea, saya mulai menyusun puzzle dari informasi yang terserak tentang formasi sosial yang membentuk Krimea, serta dinamika regional yang terjadi sepanjang dua abad terakhir pasca runtuhnya Kekhanan Krimea yang pernah berkuasa hampir tiga abad,” tutur Yanuardi dalam peluncuran bukunya beberapa waktu lalu. Mengingat sejak abad ke-18, ketika Rusia pertama kali menduduki Krimea, pemerintah Moskow dengan baju Uni Soviet telah menganiaya umat Islam dan pendudukan Krimea sejak 2014. Pasukan keamanan mereka telah menekan budaya Muslim, memenjarakan banyak orang Tatar Krimea, hingga mempersulit berbagai kegiatan ibadah. Arif menyampaikan bahwa perang adalah pengingkaran terhadap perintah perdamaian dari agama. Tidak ada perintah dalam agama untuk saling berperang kecuali karena mempertahankan kebenaran. Hal serupa juga disampaikan oleh Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional, Bunyan Saptomo, yang mengatakan bahwa Islam adalah agama yang kaffah. “Coba lihat surat Al Hujurat ayat 13, Allah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal. Bisa kerjasama (itu idealis). Tapi Islam juga mengajarkan juga bahwa kita harus siap perang. Artinya, ada sisi realistis bahwa yang kuat akan menang melawan yang lemah. Boleh berperang (di jalan Allah) ketika diserang, tapi jangan melampaui batas,” tutur dia. MUI Pusat sebagai simbol kelembagaan ukhuwah, maka MUI Pusat menjadi lembaga penghubung. Indonesia harus jadi role model untuk memperkuat ukhuwah dengan berbagai negara, termasuk negara seperti Ukraina.

Read More

Abdullah bin Salam, Kepala Pendeta Yang Mengakui Kenabian Rasulullah SAW

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Abdullah bin Salam merupakan kepala pendeta Yahudi di Madinah. Dia terkenal di kalangan masyarakat dengan ketakwaan dan kesalehannya, tersohor dengan sikap istikamah dan kejujurannya. Setiap hari, Abdullah bin Salam mendalami isi Taurat. Saat mendapati penjelasan tentang kelahiran seorang Nabi di Makkah untuk menyempurnakan risalah para nabi terdahulu, dia tertegun. Pria yang dikenal dengan panggilan Al-Hushain bin Salam ini berharap kepada Allah SWT agar memanjangkan umurnya sehingga bisa menyaksikan kemunculan Nabi tersebut. Allah mengabulkan permohonannya. Allah SWT menunda ajal Abdullah bin Salam sampai Nabi Muhammad datang. Dalam buku Jejak Perjuangan dan Keteladanan Sahabat-sahabat Nabi yang ditulis Abdurrahman Ra’fat Al-Basya, Abdullah bin Salam menceritakan pertama kali dia mendengar kabar kedatangan Nabi Muhammad. Saat itu, Rasulullah meninggalkan Makkah menuju Madinah. Setiba di Yastrib, Rasulullah singgah di Quba. “Seseorang laki-laki datang kepada kami, dia mengumumkan kedatangannya (Rasulullah) kepada semua orang. Saat itu aku sedang berada di pucuk pohon kurma milikku. Bibiku Khalidah binti al-Harits sedang duduk di bawah pohon. Begitu aku mendengar berita, maka aku langsung berucap Allahu Akbar, Allahu Akbar,” ujarnya. Bibinya yang mendengar ucapan tersebut langsung berdoa agar Allah menggagalkan rencana Abdullah bin Salam masuk Islam. “Demi Allah, seandainya kamu mendengar kehadiran Musa bin Imran, niscaya kami tidak akan melakukan lebih dari itu,” kata sang bibi. “Bibiku, sesungguhnya dia demi Allah adalah saudara Musa bin Imran dan berada di atas agamanya. Dia diutus dengan apa yang Musa diutus dengannya,” timpal Abdullah bin Salam.

Read More

Kisah Masjid Quba yang Memiliki Dua Kiblat di Madinah

Jakarta — 1miliarsantri.net : Semua orang pasti sudah mengetahui masjid bersejarah yang penting, dimana dikenal sebagai salah satu masjid paling awal dalam Islam. Didirikan pada masa Nabi di lingkungan terpencil di Madinah. Maknanya terletak pada kenyataan bahwa setelah Nabi Muhammad SAW menerima perintah untuk mengubah kiblat atau arah shalat dari Masjid al-Aqsa di Yerusalem ke Masjidil Haram (Ka’bah) di Makkah, seluruh jamaah yang dipimpin oleh seorang pendamping di masjid ini berpindah haluan dalam shalat. Selanjutnya masjid ini dikenal dengan nama Masjid al-Qiblatayn (masjid dua kiblat) karena kedua kiblat tersebut berhadapan dalam satu shalat. Al-Bukhari dalam Shahihnya meriwayatkan kejadian tersebut sebagai berikut: “Ketika Nabi SAW datang ke Madinah, pertama-tama beliau tinggal bersama kakek atau paman dari pihak ibu yang berasal dari Ansar. Dia salat menghadap Baitul-Maqdis (Yerusalem dan Masjid al-Aqsa) selama enam belas atau tujuh belas bulan, namun dia berharap bisa salat menghadap Ka’bah (di Makkah). Sholat pertama yang dipanjatkannya menghadap Ka’bah adalah salat Asar dengan ditemani beberapa orang. Kemudian salah satu orang yang salat bersamanya keluar dan melewati beberapa orang di masjid yang sedang rukuk saat salat (menghadap Yerusalem). Dia berkata kepada mereka: ‘Demi Allah, aku bersaksi bahwa aku telah sholat bersama Rasul Allah menghadap Makkah (Ka’bah).’ Mendengar hal itu, orang-orang itu segera mengubah arahnya menuju Ka’bah. Orang-orang Yahudi dan ahli kitab dulu senang melihat Nabi menghadap Yerusalem dalam shalat, tetapi ketika beliau mengubah arahnya menuju Ka’bah, saat shalat, mereka tidak menyetujuinya (Sahih al-Bukhari). Secara arsitektural, masjid ini dengan cermat memperhatikan banyak kepribadian gaya sepanjang sejarah Muslim. Banyak program perluasan, pembangunan kembali dan renovasi dilakukan. Salah satu tokoh pertama yang melakukan hal ini adalah Umar II. Kesultanan Ottoman juga unggul dalam hal yang sama. Bentuk masjid yang sekarang berasal dari tahun 1987. Masjid ini dibangun sebagai bagian dari berbagai inisiatif pembangunan di Madinah oleh Raja Fahd. Denah dan desain masjid mengacu pada bahasa dan kosa kata arsitektur tradisional Islam sebagai sumber inspirasi.

Read More

Makna Bulan Ramadhan Bagi Calon Jamaah Haji Nusantara di Masa Lalu

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Pada zaman dahulu bulan Ramadhan bagi para haji adalah bulan impian. Selain soal ibadah puasa dalam rukun Islam, bagi para jamaah haji kala itu adalah waktu-waktu yang sangat nikmat. Mengapa? Ini karena saat itulah mereka sudah sampai ke Makkah setelah melalui perjalanan panjang yang berbahaya, dimana mereka naik kapal laut dan tiba di pelabuhan Jeddah, setelah melalui rute panjang mengarungi samudera luas, dari Nusantara menuju pelabuhan di India dari pelabuhan Aceh –ada yang singgah di Singapura – lalu berlayar ke Jeddah. Ini baru rute utamanya. Sedangkan kecilnya, rute dalam negeri, ketika di nusantara mereka pun menempuh dalam waktu panjang dan berbahaya. Mereka datang dari kampung-kampung dari seantero Nusantara lalu naik kapal besar –misalnya Nederland Loyd—dari pelabuhan yang ada di Sulawesi, Kalimantan, Surabaya, Batavia, lalu ke Singapura. Sungguh perjalanan yang rumit dan teramat panjang. Nah, ketika sampai ke Makkah pada bulan Ramadhan itulah mereka jelas merasa sangat bahagia. Selama waktu tinggal di Tanah Suci itu atau sembari menunggu bulan haji (Dzulhijah), mereka belajar aneka rupa ilmu agama Islam dan manasik haji. Mereka belajar pada mukimim nusantara yang ada di Makkah, yang lazim di kenal sebagai orang ‘Jawah’. Salah satu Madrasah legendaris yang dijadikan tempat menimba ilmu adalah Al-Shaulatiyah di Makkah. Salah satu tempat belajar utama para jamaah haji dan pelajar Nusantara di Makkah waktu itu. Dua orang lulusan madrasah ini sangatlah terkanal sampai kini, yakni KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari. Letaknya tak jauh dari pelataran Masjidil Haram. Sekarang gedung madrasah ini lokasinya sudah dipindahkan ke luar kota Makkah. Seorang Wakil konsul Belanda di Jeddah kala itu, Hoesin Iscandar pada tahun 1931 sempat menulis soal situasi jamaah haji ketika berada di Makkah. Dia berkisah begini: ‘’Orang Jawa adalah satu-satu komunitas di Makkah yang tidak mencari uang, melainkan membelanjakan uang di Tanah Arab. Kebanyakan mereka tidak mempunyai profesi yang menghasilkan upah, dan mereka yang berdagang pun hanya berlangganan sesama orang ‘Jawah’ saja, sehingga penduduk Makkah asli mendapat untung besar dari komunintas ini. Dari catatan arsip Belandadari Snouck Hurgronje, menyatakan bahwa komunitas Mukimin merupakan wujud hubungan paling konkret antara ‘Jawah’ dengan Haramain. Inti dari dari mereka (komuntas mukimin Jawah) adalah para guru dan siswa. Di Makkah, merekalah yang dipandang tertinggi. Mereka amat disanjung oleh sesama orang Nusantara yang nak haji, dan dari Makkah mereka memimpin kehidupan-keagamaan desa-desa asli mereka.” Jadi para haji zaman dahulu memanfatkan bulan Ramadhan hingga tibanya bulan haji untuk belajar agama. Bukan berdagang atau aktivitas lainnya. Mereka belajar dan menemui para ulama ‘Jawi’ yang mengajar di Makkah yang pada abad ke-19 jumlahnya banyak dan dipandang tinggi. Para ulama masyhur itu ternyata juga kebanyakan mengajar di rumah seperti Syekh Nawasi al Bantani.

Read More

Pasukan Mongol Ketika Dikalahkan Tentara Jawa Madura

Surabaya.– 1miliarsantri.net : Kerajaan Kediri dapat dihancurkan oleh tiga gabungan pasukan Mongol, pasukan Raden Wijaya, dan Arya Wiraraja, dari Madura. Langkah selanjutnya yakni bagaimana caranya mengusir tentara Mongol dari Pulau Jawa. Sekali lagi Raden Wijaya dan Arya Wiraraja menggunakan strategi licik dan cerdik. Kemenangan peperangan melawan Kediri ini konon membuat pasukan Tartar Mongol begitu senang. Selayaknya kemenangan perang, maka diadakanlah pesta yang melibatkan seluruh pasukan Mongol, Raden Wijaya, dan Arya Wiraraja. Tapi menariknya di sela-sela pesta itu Raden Wijaya dan pasukannya pamit pulang. Alasannya mereka kembali ke Desa Tarik, untuk mempersiapkan diri menyerahkan dirinya ke tentara Mongol. Dikisahkan pada “Sandyakala di Timur Jawa (1042 – 1527 M) : Kejayaan dan Keruntuhan Kerajaan Hindu dari Mataram Kuno II hingga Majapahit” pulangnya Raden Wijaya dan pasukannya ke Tarik disetujui oleh pimpinan pasukan Mongol. Bahkan pimpinan pasukan Mongol secara khusus mengutus sekitar ratusan pasukannya untuk mengawal kepulangan rombongan Majapahit ini. Pengawalan ini sebagai bentuk bagian dari skema penyerahan diri yang disepakati antara Raden Wijaya dengan pasukan dari Kekaisaran Mongol dari Cina. Sejarah Cina kemudian mencatat bahwa sebulan kemudian setelah penaklukan itu, Raden Wijaya yang kembali ke Tarik membunuh 200 orang prajurit Mongol yang mengawalnya ke Majapahit. Penumpasan pertama rombongan Mongol itu dilakukan oleh Sora dan Ranggalawe, dua panglima perang Majapahit yang merupakan paman dan keponakan tersebut. Setelah rombongan yang jadi penghalang itu telah habis, Raden Wijaya dan para panglimanya menyusun rencana lanjutan, yaitu untuk menyerang balik pasukan Mongol yang sedang dilanda ‘mabuk kemenangan’. Dengan membawa pasukan yang lebih besar, Raden Wijaya menggerakkan pasukannya menuju markas utama pasukan Mongol dan melancarkan serangan tiba-tiba. Pasukan Mongol yang masih larut dalam pesta pora usai menang perang tak menyangka bakal menerima serangan balasan, dari pasukan yang turut serta berperang melawan Kediri di Daha. Alhasil serangan gabungan Majapahit dan pasukan Madura dari Arya Wiraraja ini mampu membunuh banyak prajurit Mongol di markas utama.

Read More

Momentum Ramadhan Dimanfaatkan Pengurus DKM Sabilul Muttaqien Patra Sediakan Ifthar

Indramayu — 1miliarsantri.net : Bulan Suci Ramadan kembali menjadi momen bagi ummat Muslim untuk berlomba meraih berkah. Hal tersebut juga dilakukan di lingkungan PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Refinery Unit VI Balongan, yakni melalui penyediaan takjil dan ifthar bagi ratusan jamaah Masjid Sabilul Muttaqien Perumahan Pertamina Bumi Patra Indramayu, Jawa Barat. Setiap hari, setidaknya ada sekitar 150 hingga 200 orang yang berasal dari sekitar Kompleks Perumahan Bumi Patra dan mahasiswa hadir untuk berbuka puasa dan Sholat Maghrib berjamaah di Masjid kompleks pekerja Pertamina RU VI ini. Takjil yang sediakan Dewan kemakmuran Masjid (DKM) pun beraneka ragam, seperti kue tradisional, kurma, buah, dan teh manis hangat untuk membatalkan puasa, serta nasi kotak sebagai menu makan malam. Area Manager Communication, Relation and CSR PT KPI RU VI Balongan Mohamad Zulkifli menerangkan, penyediaan takjil dan iftar ini merupakan program kerja Badan Dakwah Islam (BDI) Pertamina RU VI yang rutin dilaksanakan saat Ramadan. Anggaran penyediaan ifthar ini, kata Zulkifli, bersumber dari donasi para pekerja di lingkungan Kilang Pertamina Balongan. “Silakan bagi masyarakat yang ingin berbuka puasa bisa ke Masjid di Kompleks Bumi Patra,” ungkap Zulkifli, Sabtu (16/3/2024). Sementara itu, Burhanudin, pengurus DKM Masjid Sabilul Muttaqin, mengatakan, hingga Ramadan ke-3 ini ada 64 pekerja RU VI yang telah mendonasikan dananya untuk kebutuhan ifthar dengan total donasi yang terkumpul sebesar Rp 33.970.000.

Read More

Kisah Ketika Sultan Agung Tidak Berpuasa di Bulan Ramadhan

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Dikisahkan ada dua abdi keraton tengah menggunjing Sultan Agung yang tidak berpuasa disaat bulan Ramadhan. Karena tidak berpuasa, Sultan Agung membuat repot para abdi keraton. Pagi-pagi para abdi harus menyiapkan hidangan untuk sarapan sang raja Mataram itu. Sultan Agung makannya cukup banyak, berbeda dengan hari-hari di luar bulan puasa. “Kok malah makan sampai lima-enam kali. Apa tidak kasihan dengan para pembantu,” kata salah satu abdi kepada temannya. Mereka tidak tahu alasan Sultan Agung tidak berpuasa. Dua abdi itu sengaja menggunjing saat mereka lewat depan rumah Kiai Penghulu Keraton. Saat itu, Kiai Penghulu sedang bercengkerama dengan anak cucu di halaman rumah. Keesokan harinya, Kiai Penghulu sengaja menyempatkan waktunya untuk menghadap Sultan Agung pada pagi hari. Tiba di keraton, ia melihat banyaknya makanan yang terhidang dan Sultan Agung siap menyantapnya. Kiai Penghulu pun langsung menyindir Sultan Agung karena sebagai panatagama tidak memberi contoh berpuasa selama Ramadhan. “Mana ada kalifah yang menjadi tuntunan malah tidak bisa dipatuhi. Kitab apa yang mengajarkan hal ini?” tanya Kiai Penghulu. Tidak paham maksud Kiai Penghulu, Sultan Agung mengajukan pertanyaan mengenai isi pernyataan Kiai Penghulu. “Sekarang bulan Ramadhan, Gusti. Mengapa panjenengan tidak berpuasa?” jawab Kiai Penghulu. “Aku tahu ini bulan puasa, namun yang berpuasa kan bulannya. Jadi, aku tak perlu ikut berpuasa,” jawab Sultan Agung bermain kata-kata. Kiai Penghulu pun menyesali hal itu. Sebab selama ia bertugas menjadi penghulu keraton, ia telah mengajarkan hal ihwal puasa kepada semua abdi dalem di keraton yang telah beragama Islam. “Duh. Bagaimana ini, Gusti?” kata Kiai Penghulu. Ia pun segera menyatakan bahwa ia mengajarkannya di keraton pun atas perintah Sultan Agung. Ia semula hanyalah petani biasa di Kramatwatu, Panarukan. Sultan Agung bertemu dengannya saat Sultan Agung hendak berangkat shalat Jumat ke Makkah. Kepada Sultan Agung ia yang saat itu sedang mengerjakan kebun menitip pesan kepada Sultan Agung untuk Imam Syafii di Makkah. Ketika bertemu Imam Syafii, Sultan Agung tahu jika petani yang menitip pesan itu justru lima kali sehari shalat di Makkah. Imam Syafii pun menyarankan agar Sultan Agung mengangkatnya sebagai penghulu keraton. Sultan Agung memintanya untuk mengajarkan Islam di lingkungan keraton, termasuk hal ihwal puasa Ramadhan. Kiai Penghulu pun menyatakan kekhawatirannya, jika rakyat mengetahui rajanya tidak berpuasa, tentu mereka akan ikut tidak berpuasa juga.

Read More

Alquran Cantumkan Kisah Tenggelam nya Firaun dan Bala Tentaranya

Jakarta — 1miliarsantri.net : Memang, orang mengetahui bahwa Firaun tenggelam di Laut Merah ketika mengejar Nabi Musa alaihissalam dan kaumnya. Tetapi menyangkut keselamatan badannya dan menjadi pelajaran bagi generasi sesudahnya merupakan satu hal yang tidak diketahui siapapun pada masa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, bahkan tidak disinggung oleh Perjanjian Lama dan Baru. Pakar Ilmu Tafsir Prof Quraish Shihab dalam buku Mukjizat Alquran mengatakan kisah Firaun di dalam Alquran banyak ditemukan. Salah satunya adalah kabar mengenai kematian Firaun yang tenggelam. Dalam Alquran ditemukan sekitar 30 kali Allah SWT menguraikan kisah Nabi Musa dan Firaun. Yang mana itu adalah suatu kisah yang tidak dikenal pada masa itu kecuali melalui kitab Perjanjian Lama. Tetapi satu hal yang menakjubkan adalah bahwa Nabi Muhammad SAW, melalui Alquran, telah mengungkap suatu perincian yang sama sekali tidak diungkap oleh satu kitab pun sebelumnya. Bahkan tidak diketahui kecuali yang hidup pada masa terjadinya peristiwa tersebut, yakni pada abad ke-12 SM atau sekitar 3.200 tahun yang lalu. Allah SWT berfirman dalam Alquran Surat Yusuf ayat 90-92: وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنْتُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً ۚ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ Yang artinya, “Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut. Mereka pun diikuti oleh Firaun dan tentaranya, karena mereka hendak menganiaya dan menindas (Bani Israil). Ketika Firaun telah hampir tenggelam berkatalah dia, ‘Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang disembah oleh Bani Israil dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya)’. (Allah menyambut ucapan Firaun ini dengan berfirman), ‘Apakah sekarang baru kamu percaya) padahal sesungguhnya kamu telah durhakasejak dahuu dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Hari ini Kami selamatkan badanmu, supaya kamu menjadi pelajaran bagi (generasi) yang datangsesudahmu dan esungguhnya kebanyakan manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” Prof Quraish mengatakan, yang perlu digarisbawahi dalam konteks ayat tersebut adalah firman-Nya yang berbunyi, “Hari ini Kami selamatkan badanmu, agar engkau menjadi pelajaran bagi generasi yang datang sesudahmu.” Seorang pakar sejarah Mesir Kuno, Maspero, menjelaskan dalam “Petunjuk bagi pengunjung Museum Mesir” setelah mempelajari dokumen-dokumen yang ditemukan di Alexandria Mesir bahwa penguasa Mesir yang tenggelam itu bernama Maneptah (Memptah). Yang mana kemudian oleh sejarawan Driaton dan Vandel—melalui dokumen-dokumen lain—membuktikan bahwa penguasa Mesir itu memerintah antara 1224 SM hingga 1214 SM atau 1204 (menurut pendapat lain).

Read More

Beberapa Sejarah Perang Islam Yang Dilakukan Dalam Bulan Ramadhan

Jakarta — 1miliarsantri.net : Umat Islam di dalam masa Ramadhan memang dilarang melakukan berbagai tindakan yang menyakiti pihak lain. Bahkan Rasullah SAW mengatakan perang yang terbesar adalah perang melawan diri sendiri. Ini dinyatakan beliau usai melakukan perang Badr melawan kaum Qurays di perbatasan Madinah Makkah pada tahun 624 M. Ajaran Islam sebenarnya melarang perang keculai untuk mempertahankan diri. Dan perang Badr yang dilakukan Rasullah adalah dalam rangka mempertahankan diri dan eksistensi ajaran Islam. Bila kalah perang kala itu ajaran Islam akan hilang. Perang Badr ini dilakukan tidak seimbang karena kala itu tentara Islam hanya sekitar 300 orang dan minim persenjataan. Sedangkan tentara Qurays jumlahnya ribuan atau 3-4 kali lipatnya. Mereka pun bersenjata lengkap dan didukung perbekalan yang berlimpah. Tapi ternyata yang kuat dan berlimpah, yakni tentara Qurays berhasil dikalahkan. Mereka melarikan diri kembali ke Makkah. Namun, kerugian di pihak tentara Islam kala itu juga cukup besar. Paman Nabi Muhammad, Hamzah bin Abi Thalib menjadi syahid dalam perang di tangan tentara Qurays bernamma Wahsyi. Namun, kala itu kematian Hamzah diketahui Hindun bin Utbah yang juga ikut dalam perang Badr. Dia sangat girang karena merasas hutang nyawa atas kematian suaminya, Utbah bin Rabiah, terbayangkan. Maka dia kemudian menunaikan sumpah pembalasannya dahulu ketika menemukan ayahnya dibunuh oleh Hamzah dalam sebuah percekcokan. Ketika menemukan jenazah Hamzah, Hindun kemudian memberlakukan tindakan biadab, Dia kemudian merobek perrut Hamzah. Hatinya di makan. Itulah tragedi perang Badr yang terjadi pada bulan Ramadhan. Terkait perang di bulan Ramadhan, berikut ini daftar pertempuran yang dilakukan selama Ramadhan oleh umat Islam sepenjang sejarah. 624 – Pertempuran Badar. Melawan penyembah berhala Makkah. “Pertempuran Besar Badar”, merupakan pertempuran pertama antara kaum muslim dan non-muslim. 627 – Pertempuran Parit. Umat Muslim dilatih untuk pertempuran ini pada bulan Ramadhan, meskipun terjadi pada bulan Syawal berikutnya. 630 – Pertempuran Tabouk (juga disebut Pertempuran Tabuk). Itu tentara Islam di bawah pimpinan Muhammad SAW mendirikan kamp pelatihan dan pertempuran di Tabouk selama bulan puasa. Tentara Bizantium tidak menunjukkan agresi sehingga umat Islam kembali dengan damai tanpa pertempuran. 653 – Penaklukan Rhodes. Penaklukan Maghreb oleh Kekhalifahan Rashidun dan Umayyah dimulai pada tahun 647 dan berakhir pada tahun 709, ketika Kekaisaran Bizantium kehilangan benteng terakhirnya yang tersisa di bawah kekuasaan Khalifah Al-Walid I. Kampanye di Afrika Utara adalah bagian dari abad penaklukan Muslim awal yang cepat. 710 – Umat Islam dipimpin oleh Tarek bin Ziyad, menyerbu Spanyol kota-kota perbatasan selatan di pantai Andalusia mengalahkan [[Raja Roderick]]. Mereka tinggal selama delapan ratus tahun, menyebarkan Islam. 1099 – Pertempuran Ascalon. Berlangsung pada tanggal 22 Ramadhan (12 Agustus), tentara salib yang baru didirikan Kerajaan Yerusalem mengalahkan Mesir Fatimiyah. 1187 – Pertempuran Hattin. Berlangsung saat fajar—setelah Malam Kekuasaan (Lailat ul-Qadr) (atau “Malam Takdir”). Sultan Saladin (Salah Al-Din Al-Ayubi) memusnahkan tentara Frank dan melanjutkan untuk merebut kembali Yerusalem untuk Islam. Pertempuran itu terjadi pada 4 Juli.

Read More