Pengertian dan Adab-adab Safar Menurut Rasulullah SAW

Jakarta — 1miliarsantri.net : Pengertian safar dalam fiqih Islam adalah keluar dari tempat tinggal untuk melakukan perjalanan jauh. Salah satu contoh safar yang identik dengan masyarakat Indonesia adalah mudik Lebaran. Dalam Islam, ada beberapa adab safar yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu: Jika tidak mendesak, maka bepergianlah pada hari Kamis karena itu sunnah. Disebutkan dalam hadits: Ka’ab Bin Malik Radhiallahu ‘anhu menceritakan “Jarang sekali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai melakukan safar di selain hari kamis” (HR Ahmad dan Ad-Darimi). Sebelum mudik Lebaran, dianjurkan untuk menyelesaikan urusan dengan sesama seperti utang, barang pinjaman, dan lainnya. “Sungguh Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak” (An-Nisa : 58) “Jika engkau keluar dari rumahmu maka lakukanlah shalat dua raka’at yang dengan ini akan menghalangimu dari kejelekan yang berada di luar rumah. Jika engkau memasuki rumahmu maka lakukanlah shalat dua raka’at yang akan menghalangimu dari kejelekan yang masuk ke dalam rumah.” (HR. Al-Bazzar) Ada seseorang yang mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan “Ya Rasulullah, saya hendak safar. Mohon nasihatilah saya.” Beliau bersabda, “Bertakwalah kepada Allah, dan bertakbirlah setiap melewati jalan menanjak.” Ketika orang tersebut pergi, beliau berdo’a “Ya Allah, Pendekkanlah jarak bumi untuknya dan mudahkanlah perjalanan safarnya.” (HR. Ahmad dan Turmudzi) “Aku titipkan kepada Allah Agamamu, amanahmu, dan ujung akhir amalmu.” (HR.Ahmad dan Abu Daud) Di antara pesan yang disampaikan Rasulullah kepada orang yang hendak safar. Kemudian yang hendak safar mengatakan kepada orang yang ditinggal “Aku titipkan anda kepada Allah. Ia tidak akan menyia-nyiakan titipan itu” (HR. Ibnu Majah). Saat safar hendaklah teman tidak kurang dari tiga orang. Ini merupakan kesempurnaan adab yang diajarkan Rasulullah. Sebagaimana hadits Nabi, “Satu pengendara (musafir) adalah syaitan, dua pengendara (musafir) adalah dua syaitan, dan tiga pengendara (musafir) itu baru disebut rombongan musafir”. Kadang-kadang dalam perjalanan timbul perselisihan di antara rombongan, maka dibutuhkan seorang pemimpin rombongan agar perjalanan berjalan lancar. Dari Abu Said Al Khudri, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “ Apabila tiga orang akan berangkat safar hendaklah mereka memilih salah seorang sebagai ketua rombongan.” (HR. Abu Daud). Dari Anas Bin Malik Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda “Hendaklah kalian melakukan perjalanan pada malam hari (tatkala safar) karena bumi ketika itu dilipat (dipendekan) pada malam hari.” (HR Abu Daud)

Read More

Kisah Rakyat Grobogan Iringi Kakek Sultan Agung Tantang Musuh Adipati Pajang

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Gara-gara suami dan kakaknya dibunuh oleh Adipati Jipang Aryo Penangsang, Ratu Kalinyamat bertapa telanjang. Ia akan terus melakukan hal itu selama orang yang kemudian menjadi musuh Adipati Pajang itu masih hidup. Dari Selo, Ki Ageng Pemanahan pergi untuk membunuh Adipati Jipang itu. Ia membawa anaknya, Danang Sutowijoyo yang kelak menjadi kakek Sultan Agung. Saudara-saudara sepupu Ki Ageng Pemanahan –Ki Juru Mertani, Ki Ageng Panjawi– mengiringinya bersama rakyat Grobogan dari Selo. Ki Ageng Pemanahan melakukan hal itu setelah Adipati Pajang Joko Tingkir membuat sayembara untuk membunuh Adipati Jipang. Joko Tingkir adalah adik ipar Ratu Kalinyamat. Ia juga menjadi sasaran pembunuhan Adipati Jipang, tapi ia selamat. Aryo Penangsang rupanya ingin menghabisi keluarga keraton Demak. Alasannya, dirinyalah yang seharusnya menjadi penerus tahta Demak. Joko Tingkir membuat sayembara karena merasa kesaktiannya masih jauh di bawah Aryo Penangsang. Isi sayembaranya: yang dapat membunuh Adipati Jipang akan diberi hadiah wilayah Pati dan hutan Mentaok di Mataram. Kelak, Sutowijoyo menjadi raja Mataram dengan nama Panembahan Senopati. Ia kemudian memiliki cucu yang menjadi raja ketiga Mataram, bernama Sultan Agung. Ki Ageng Pemanahan yang telah berangkat ke Jipang bersama rakyat Grobogan sengaja tak sampai keraton Jipang. Ia menunggu di tepi sungai, lalu mengirim surat tantangan. Ki Ageng Pemanahan memang tak ingin menyeberangi sungai. Ia percaya, orang yang sebelum berperang menyeberangi sungai dipastikan akan kalah. Ki Ageng Pemanahan merupakan cucu Ki Ageng Selo. Joko Tingkir pernah menjadi santri Ki Ageng Selo dan menjadikan Sutowijoyo sebagai anak angkatnya. Meski Ki Ageng Pemanahan mengirim surat tantangan, ia tidak menyebutkan namanya di surat itu. Surat tantangan dibuat seolah-olah itu surat dari Joko Tingkir. Surat itu dikirim dengan cara dikalungkan di leher prajurit Jipang yang telah dilukai. Isi suratnya sebagai berikut: “Permakluman perang. Peringatan bagi Aryo Jipang. Jika engkau memang prajurit dan laki-laki, ayo maju. Aku tunggu di tepi bengawan sore. Menyeberanglah, bertemu satu lawan satu dengan Adipati Pajang. Jangan mengandalkan pasukanmu. Akan aku hadapi satu lawan satu.” Aryo Penangsang mendidih darahnya setelah membaca surat itu. Mengambil kudanya, Gagak Rimang, ini pun segera menuju ke pinggir kali. Begitu Aryo Penangsang terlihat datang, orang-orang Selo pun bersorak menyambutnya. Berhenti di seberang sungai, Aryo Penangsang meminta orang-orang Selo segera menyeberang.

Read More

Mengenal Lebih Dekat Siapa Pembuat Doa Kamilin

Surabaya — 1miliarsantri.net : Ada yang khas dari sejumlah masjid dan mushalla disaat bulan Ramadhan. Salah satunya adalah digunakannya”Doa Kamilin” oleh imam setelah menyelesaikan shalat tarawih. Dan sudah selayaknya, semua mengetahui siapa pengarang dari doa fenomenal tersebut. Sekadar diketahui bahwa doa yang hampir selalu dibaca oleh umat Islam di Tanah Air ini juga termaktub dalam kitab-kitab doa ulama Nusantara. Salah satunya Majmû‘ah Maqrûât Yaumiyah wa Usbû‘iyyah karya Pengasuh Pondok Pesantren Langitan Tuban, Allahumma yarham, KH. Muhammad bin Abdullah Faqih. Pada lembar pengantar, sang ayah, KH. Abdullah Faqih, mengatakan bahwa doa-doa dalam kitab itu merupakan hasil ijazah dari Kiai Abdul Hadi (Langitan), Kiai Ma’shum (Lasem), Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki, dan Syekh Yasin bin Isa al-Fadani. KH. Abdullah Faqih memberikan restu atau ijazah kepada siapa saja yang mengamalkan (dengan ijâzah munâwalah). Sejumlah takmir masjid mencetak secara khusus doa yang hendaknya dibaca usai melaksanakan shalat tarawih. Bacaan sekaligus doa dan permohonan tersebut dikenal dengan istilah Doa Kamilin. Sebagai imam maupun jamaah, ada baiknya mengetahui arti dari doa yang diaminkan dengan sangat antusias tersebut. Dan berikut ini adalah doa yang lazim dibaca para ulama selepas shalat tarawih sekaligus artinya: اللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا بِالْإِيْمَانِ كَامِلِيْنَ، وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنَ، وَلِلصَّلَاةِ حَافِظِيْنَ، وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ، وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ، وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ، وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ، وَعَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضِيْنَ، وَفِي الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ، وَفِي الْاٰخِرَةِ رَاغِبِيْنَ، وَبِالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ، وَلِلنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنَ، وَعَلَى الْبَلَاءِ صَابِرِيْنَ، وَتَحْتَ لِوَاءِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ، وَعَلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْن، وَإِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ، وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ، وَعَلَى سَرِيْرِ الْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ، وَبِحُوْرٍعِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ، وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ، وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِيْنَ، وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفًّى شَارِبِيْنَ، بِأَكْوَابٍ وَّأَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِّنْ مَعِيْنٍ مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ أُولئِكَ رَفِيْقًا، ذٰلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا، اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا فِي هٰذِهِ لَيْلَةِ الشَّهْرِ الشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ اْلأَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاٰلِه وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Read More

Melihat Sepak Terjang Ratu Kalinyamat Dalam Melawan Penjajah Portugis

Jepara — 1miliarsantri.net : Putri tercinta Sultan Trenggana, mengalir darah biru pejuang dari leluhur tanah Jawa, yang lahir dari kawah candra dimuka pergolakan tanpa putus. Ia wanita pemberani yang menentang ketikadilan yang menerpanya dengan mata terbuka, tanpa secuil kekerdilan apalagi tetes air mata, bersumpah ia akan melakukan apapun sampai tumpas tampis. Pasemon, sanepa menulis, Ia tapa telanjang di Gunung Danaraja menuntut keadilan atas kematian kekasihnya Pangeran Kalinyamat. Sejatinya Ia bersumpah akan berjuang mengorbankan segala yang melekat ditubuhnya tanpa kecuali, Jiwa raga, harta, tahta untuk kemaslahatan Kawula dan negeri yang dipimpinya dengan istikomah dan iklas. Setelah kematian Harya Penangsang, taktha Jepara diserahkan Hadiwijaya kepada dirinya. Orang menyebutnya Ratu Kali Nyamat, Adipati Jepara melanjutkam tongkat estapet Pati Unus. Menyatakan perang terhadap Portugis. Pada tahun 1550, Bersama kesultanan Johor dan perserekatan Melayu. 4.000 Laskar Laut Jepara dalam 40 buah kapal Jung Jawa, Beliau kirimkan untuk memerangi Portugis, demi terbebasnya Malaka dari cengkeraman kekuasaan Portugis. Angin laut dan deburan ombak Sanudera belum perfihak kepada Perserekatan Melayu, merebut Malaka dari kekuasaan GOLD, GOSPEL ,GLORY Bangsa Portugis. Pada tahun 1565 beliau memenuhi permintaan orang-orang Hitu di Ternate untuk menghadapi gangguan bangsa Portugis dan kaum Hative. Beliau berlapang dada menyerahkan kembali armada lautnya mengempur Portugis yang coba menguasai sumber rempah rempah diujung samudera luas. Dan di tahun 1573, Ratu Kalinyamat bersama Armada laut kesultanan Aceh, berkolaborasi untuk menyerang portugis untuk merebut Malaka kembali.

Read More

Raden Kian Santang Penyebar Islam di Wilayah Pajajaran

Garut — 1miliarsantri.net : Prabu Kian Santang atau Raden Sangara atau dikenal dengan sebutan Syekh Sunan Rohmat Suci adalah putra Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran. Ketika dewasa, ia belajar agama Islam di Mekkah dan mengubah namanya menjadi Galantrang Setra. Meski berbeda keyakinan dengan sang ayah yang memeluk Hindu, Kian Santang tetap menjadi penyebar agama Islam di wilayah Pajajaran. Kehidupan awal Raden Kian Santang lahir pada sekitar abad ke-15 dan merupakan anak Prabu Siliwangi dari istrinya yang bernama Nyai Subang Larang. Ia memiliki dua saudara kandung yang bernama Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana (pendiri Kerajaan Cirebon) dan Rara Santang (ibu Sunan Gunung Jati). Sejak kecil hingga remaja, Kian Santang dilatih ilmu bela diri hingga tumbuh menjadi sosok ksatria Pajajaran. Ketika sudah mahir dalam bela diri, Kian Santang mengisi waktunya dengan berburu ke hutan. Ia pun mudah untuk mendapatkan hewan buruan menggunakan panahnya. Hal itu membuat Prabu Siliwangi sangat bangga dan mengangkatnya menjadi senopati Pajajaran. Kian Santang pun tumbuh menjadi ksatria yang gagah perkasa dan tidak ada yang bisa mengalahkannya. Selama hidup di istana, Kian Santang serba kecukupan, tetapi merasa kurang mengenal jati dirinya. Ia juga merasa jenuh karena tidak ada satu pun ksatria yang mampu mengalahkannya. Konon, Kian Santang kemudian mendatangi peramal untuk mengetahui lawan tangguh yang dapat menandinginya. Ia diberikan petunjuk bahwa orang yang dapat menandinginya adalah Sayyidina Ali dari Tanah Arab. Sebetulnya Sayyidina Ali hidup pada abad ke-7 dan telah wafat saat itu, tetapi mereka dapat dipertemukan secara goib dengan kekuasaan Allah. Selain itu, Kian Santang harus melakoni dua syarat agar dapat bertemu Sayyidina Ali, yaitu melakukan semedi di ujung kulon dan mengganti namanya menjadi Galantrang Setra (Galantrang berarti berani dan Setra berarti bersih atau suci). Setelah melakoni dua syarat tersebut, Kian Santang segera melakukan perjalanan ke Arab untuk menemui Sayyidina Ali. Sesampainya di Mekkah, ia bertemu seseorang dan kemudian menayakan keberadaan Sayyidina Ali. Orang tersebut mau memberi tahu keberadaan Sayyidina Ali, asalkan Kian Santang mau mengambil tongkatnya yang ditancapkan di tanah. Tidak disangka, Kian Santang kesulitan mencabut tongkat itu hingga keluar darah dari seluruh tubuhnya ketika berupaya untuk menyelesaikan tugas yang dianggap sangat mudah. Belakangan diketahui, sosok yang menancapkan tongkat itu adalah Sayyidina Ali.

Read More

Ketika Pangeran Diponegoro Tidak Jadi Membunuh Jenderal Belanda

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Pangeran Diponegoro marah ketika jenderal Belanda, Hendrik Markus de Kock, melarangnya pulang setelah selesai bersilaturahim. Hari itu, 28 Maret 1830, Diponegoro ditangkap lalu dibawa ke Semarang menggunakan kereta kuda. Diponenegoro sempat memberi kode kepada salahs atu panglima perangnya bahw aia berniat membunuh De Kock. Tapi ia mengurungkan niatnya karena mendapat nasihat dari Haji Isa Badarudin. Hari itu, untuk mencegah Diponegoro pulang usai bersilaturahim, De Kock berdalih persoalan Diponegoro dengan Belanda harus diselesaikan hari itu juga. Namun, Diponegoro mengaku datang pagi itu bukan untuk berunding. De Kock menegaskan memang tidak ada perundingan, karena tugas dia bukan untuk berunding. Melainkan menangkap Diponegoro, demikian perintah Gubernur Jenderal Hindia Belanda van den Bsoch kepadanya. De Kock kemudian memerintahkan prajuritnya masuk tempat pertemuan. Diponegoro semakin marah, ia memaki-maki De Kock dan memberi kode kepada Basah Martonegoro agar bersiaga. Tapi, Haji Isa Badarudin menasihatinya agar ingat kepada Allah. Diponegoro pun mengurungkan niat membunuh De Kock. Diponegoro lantas pasrah kepada kehendak Allah. Ia merasa seperti emas yang hanyut terbawa arus sungai. Jenderal De Kock berpesan kepada anak buahnya yang membawa Diponegoro agar bermalam di Ungaran semalam. Saat di Ungaran, melihat punakawannya menangis minta pulang, Diponegoro menghiburnya. Diponegoro memintanya agar pulang besok saja dari Semarang. “Aku ini sesungguhnya ingin naik haji, walau sendiri. Tidak sanggup aku tunda perihal keberangkatan ke Makkah,” kata Diponegoro menghibur Roto, punakawannya. Esok paginya, ada pasukan dari Semarang yang menjemput Diponegoro di Ungaran. Maka, Diponegoro tinggal di Semarang hingga 5 April 1830. Pada 5 April 1830, ia dinaikkan kapal untuk berangkat ke Batavia. Ia menjadi penumpang Kapal PS Van der Cappelen, kapal uap berdayung pertama yang dibuat di Hindia Belanda.PS merupakan singkatan dari paddle steamer. Kapal uap berteknologi dayung. Yang membuat kapal ini adalah pabrik kapal Isaac Burgess yang ada di Surabaya. Selama 4,5 tahun, dari Februari 1824 sampai Agustus 1829, pabrik ini mendapat hak monopoli memproduksi semua kapal uap di Hindia Belanda. Bahan baku kapal ini adalah kayu jati prima yang dilapisi tembaga. Memiliki tiga tiang selain cerobong kapal.

Read More

Perjuangan Kartini Dalam Memperjuangkan Hak dan Kesetaraan Perempuan

Jepara — 1miliarsantri.net : Raden Ajeng Kartini atau yang lebih dikenal sebagai RA Kartini merupakan seorang tokoh Jawa atau Pahlawan Nasional Indonesia karena dia memperjuangkan hak emansipasi bagi kaum perempuan. Berkat perjuanganannya, kini perempuan bisa bersekolah dan bekerja dengan sama/setara dengan laki-laki. Kartini lahir pada 21 April 1879 di Jepara. Kartini merupakan seorang putri keturunan bangsawan yang lahir dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan M.A. Ngasirah. Kartini merupakan anak ke-5 dari 11 bersaudara. Kartini dikenal sebagai pelopor emansipasi perempuan karena perjuangan yang telah beliau lakukan walau tidak secara langsung. Surat-surat yang Kartini kirimkan kepada teman-temannya di Belanda kemudian dijadikan buku yang berjudul Door Duisternis tot Licht yang artinya Dari Kegelapan menuju Cahaya yang diterbitkan oleh Mr. JH Abendanon (Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia-Belanda). Buku tersebut banyak memberikan implementasi dalam cara berpikir masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi Jawa. Kemudian tanggal 21 April diperingati sebagai hari Kartini. Kartini bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS) mulai dari tahun 1885, sekolah yang diperuntukan untuk orang Belanda dan orang Jawa yang kaya. Di ELS, Kartini belajar dan menguasai bahasa Belanda. Tetapi, Kartini hanya dapat bersekolah hingga umurnya yang ke-12 tahun, karena beliau sudah memasuki masa pingitan. Pingitan merupakan sebuah tradisi ketika perempuan Jawa harus dikurung dan tinggal di rumah. Namun, dipingit tidak menjadi halangan bagi Kartini. Berbekal pengetahuan bahasa Belanda yang cukup beliau kuasai karena bersekolah di ESL, beliau bertukar surat dengan teman-temannya dari Belanda. Kartini juga banyak membaca buku selain bertukar surat dengan teman-temannya yang lain. Karena banyaknya buku yang dibaca Kartini, beliau jadi mengetahui cara berpikir perempuan Eropa yang lebih modern dan bebas dibandingkan perempuan Jawa pribumi kala itu. Kartini yang hobi membaca mulai dari buku, surat kabar, hingga majalah menimbulkan ketertarikannya untuk memajukan perempuan pribumi. Karena pada saat itu, perempuan pribumi memiliki kedudukan atau stratifikasi sosial yang terbilang rendah. Menurut Kartini, perempuan pribumi harus mendapatkan kesetaraan, persamaan, dan kebebasan. Kartini yang pada saat itu sedang dipingit, tidak banyak hal yang dapat ia lakukan tetapi surat yang Kartini tulis menjadi salah satu bentuk perjuangannya. Beliau menuliskan gagasan-gagasannya mengenai emansipasi perempuan. Beliau menjelaskan penderitaan yang dirasakan perempuan Jawa yang tidak bebas menuntut ilmu dan harus dipingit sehingga hal tersebut mengekang kebebasan perempuan. Kemudian di tahun 1903, Kartini akhirnya menikah dengan Raden Adipati Joyodiningrat. Sedikit yang kita ketahui, rupanya Kartini memiliki jarak usia yang cukup jauh dengan suaminya. Kartini yang pada saat itu sudah berusia 24 tahun, dipaksa menerima perjodohan dari ayahnya. Sebab pada saat itu, usia 24 tahun dianggap perawan tua apabila belum menikah. Kartini akhirnya menerima perjodohan tersebut karena beliau menghormati dan ingin berbakti kepada ayahnya. Hanya saja Kartini memberi syarat bahwa beliau tidak ingin melakukan prosesi adat pernikahan dengan berjalan jongkok, berlutut dan mencium kaki suami. Dengan Kartini tidak melakukan prosesi adat tersebut, kita dapat melihat bahwa ini adalah bentuk keputusan Kartini yang menginginkan kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan. Kartini juga menegaskan bahwa dirinya ingin membuka sekolah Hindia-Belanda untuk para perempuan agar mereka bisa belajar.

Read More

Pangeran Diponegoro Ditangkap Saat Bulan Ramadhan

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Setelah memerintahkan anak buahnya membujuk Diponegoro agar mau berunding, Letnan Jenderal Hendrik Markus de Kock sempat berpesta. Pesta itu sengaja diadakan oleh Societat de Harmonie di Batavia untuknya. Pesta diadakan pada 17 Februari 1830, dihadiri 400 tamu undangan, termasuk Gubernur Jenderal Van den Bosch. Beberapa hari kemudian, datang laporan dari Kolonel Cleerens bahwa Diponegoro bersedia berunding dengan De Kock. Diponegoto tiba di Magelang pada 8 Maret, dan pada 28 Maret, bertepatan dengan hari kedua Lebaran, De Kock menangkap pemimpin Perang Jawa itu. Sejak 1826, De Kock memang memilih tinggal di Magelang setelah berselisih dengan Gubernur Jenderal Du Bus. Pada 1828, meski De Kock diangkat menjadi pejabat gubernur jenderal, ia memilih tetap berada di Magelang. Ia baru pergi ke Batavia pada 2 Februari 1828 setelah gubernur jenderal definitif tiba di Batavia pada 31 Januari 1828. Selama menjadi pejabat gubernur jenderal, De Kock menghibahkan tanah kepada Tarekat Freemason. Tarekat Freenason akan membangun kuil pemujaan. Selain menghibahkan tanah pemerintah kolonial, De Kock juga menyumbang 4.000 gulden. Anggaran pembangunan mencapai 12 ribu gulden. De Kock melakukdn peletakan batu pertama pembangunsn kuil Freemason itu pada 15 Februari 1830 sebagai presiden Tarekat Freemason. Ia juga merupakan wakil grand master Freemason di Hindia Belanda. Pesta yang diadakan untuknya adalah pesta untuk menghargai jasanya dalam pembangunan kuil Freenason itu. Tapi pesta dansa itu menjadi serba kebetulan karena pada 16 Februari 1830 Diponegoro menyatakan kesediaannya untuk berunding. Berkaitan dengan tugasnya untuk memulihkan keamanan di Jawa, berbagai cara telah De Kock lakukan. Gagal mengalahkdn Diponegoro lewat perang, ia mengubah taktik. Ia lakukan cara halus, yaitu mengendalikan perang saudara. Ia memilih tidak menaklukkan pangeran-pangeran Jawa, melainkan memenangkan hati mereka. Pengikut-pengikut Diponegoro yang memiliki niat baik ia rangkul, yaitu mereka yang bersedia bekerja sama dengan Belanda. Yang memiliki niat jahat ia buru tanpa ampun. Ia terus menjalin komunikasi di keraton Yogyakarta dan Surakarta. Itulah sebabnya, ketika di Jawa diadakan pesta ulang tahun Ratu Wilhelmina, ia membiarkannya, kendati di Batavia, Du Bus tidak mengadaksn perayaan demi penghematan. Tapi rupanya, Van den Bosch kurang setuju dengan langkah De Kock yang kurang progresif itu. Van den Bosch memutuskantak perlu lagi berunding dengan Diponegoro.

Read More

Sosok Raden Ayu Srimulat Yang Namanya Diabadikan Sebagai Grup Lawakan

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Mungkin sebagian besar orang belum mengenal sosok Raden Ayu Srimulat, sang primadona Jawa yang berjiwa modern.(7 Mei 1905 – 1 Desember 1968). Dia dalah pemain sandiwara panggung, pemain film dan penyanyi pada era akhir 50an hingga akhir 60an dan sekaligus tokoh berdirinya grup Srimulat yang sekarang ini masih menunjukkan eksistensi nya di tanah air. Raden Ayu Srimulat adalah anak dari R.M Aryo Rumpoko Tjitrosoma, seorang wedono di Bekonang, Mojolaban, Sukoharjo, Jawa Tengah dan R. Ayu Sedah. Lahir di Desa Botokan, Klaten pada 7 Mei 1905. Setelah ibu kandungnya wafat, pada usia 6 tahun Srimulat dibawa ke rumah kakak ayahnya, Raden Mas Sunarjo. Sunarjo waktu itu bekerja sebagai komisaris asisten residen di Klaten. Gadis kecil itu disekolahkan kakaknya di Hollandsch Inlandsche School, HIS, di kawasan Klaseman, Gatak, Sukoharjo. Baru setelah menginjak usia remaja, Srimulat kembali ke rumah ayahnya yang ditunjuk menjadi wedono di Bekonang, Sukoharjo. Ia melanjutkan sekolahnya di Koningin Emma School di Solo. Hanya beberapa bulan mengenyam pelajaran, Srimulat disuruh berhenti sekolah oleh ibu tirinya. Putri ningrat tak perlu sekolah tinggi tinggi, begitu kata ibu tirinya. Srimulat sangat terpukul. Apalagi ia tak mendapat pembelaan dari ayahnya. Srimulat lantas dipingit. Seperti kisah putri putri bangsawan yang menjalani pingitan, masa remaja Srimulat hanya dihabiskan dalam kungkungan dinding kewedanaan saja. Ia belajar berbagai macam keterampilan dari para abdinya. Usianya baru 12 tahun tapi sudah pintar menembang, menari, dan juga membatik. Kadang kadang kalau lagi senggang, ayahnya kadang kadang mendampingi Srimulat dan saudara saudaranya di saat belajar menari dan menembang. Hidup Srimulat penuh dengan suara tembang, bunyi gamelan dan gerak tari. Dibandingkan saudara saudaranya, Srimulat anak yang paling cepat menangkap ajaran kesenian yang diberikan ayah dan abdinya. Orang tuanya lalu menikahkan Srimulat dengan seorang kerabat dekat ayahnya bernama Raden Hardjowinoto. Usianya waktu itu baru 15 tahun. Rumah tangganya tak berlangsung lama. Srimulat diterpa kemalangan secara beruntun. Anaknya yang baru berusia 2,5 tahun meninggal dunia lalu disusul suaminya 3 bulan kemudian. Kesedihannya semakin bertambah saat ayahnya mencari selir selir baru. Muak akan kehidupan feodal priyayi dan praktik perseliran di dalam kompleks rumahnya sendiri Srimulat bertekad minggat. Suatu malam ia memutuskan kabur dari rumah. Berbekal uang 3,5 sen ia pergi ke Surakarta lalu ke Yogyakarta. Ia melamar kerja ke dalang Ki Tjermosugondo yang sedang kondang saat itu. Setahun kemudian, Srimulat bergabung dengan Ketoprak Candra Ndedari pimpinan Ki Retsotruno yang kebetulan sedang pentas di Alun alun Utara. R.A.Srimulat mengawali kiprahnya sebagai pemain rombongan ketoprak Mardi Utomo di Magelang dan Rido Carito. Ketenarannya menembus baik lapisan atas maupun bawah masyarakat. Srimulat tak segan menari bersama penari penari lokal di sejumlah daerah membawakan tari tarian daerah yang tak begitu dikenal. Ia juga bersedia diundang dalam acara tradisional penebangan pohon pohon jati tua di sebuah desa di Blora, Jawa Tengah. Srimulat pindah ke panggung Wayang Orang Ngesthi Rahayu yang dipimpin Nyi Murtiasih dari Jawa Timur. Kebetulan suami Murtiasih punya grup orkes yang sering tampil di pesta perkawinan. Srimulat pun diminta bernyanyi dengan iringan musik irama keroncong dan Hawaiian. Sewaktu digelar pasar malam di Magelang, ia berjuampa dengan Mannoek, bos penyelenggara pasar malam. Ia pun berkelana dari kota ke kota mengisi panggung hiburan pasar malam. Dalam waktu singkat Srimulat, anak priyayi dan gadis pingitan itu, menjelma menjadi perempuan yang mandiri. Ia menentang arus saat itu, menolak menjadi Raden Ayu dan memilih menjadi sri mahapanggung atau ratu panggung. Pendiriannya yang keras membuatnya membela mati matian seorang pesinden bernama Nyai Mas Sulandjari yang berhasil memenangkan lomba kontes batik di Pasar Malam Amal Yogyakarta pada 1938. Kemenangan Sulandjari itu diprotes keras para bangsawan Yogyakarta dan Surakarta. Apalagi Sulandjari berhasil mengalahkan putri putri ningrat. Mendengar Sulandjari dihina, Srimulat melawan para bangsawan itu. Melalui wawancara dengan mingguan Darmo Kondho dan Penjebar Semangat, Srimulat menyatakan dukungannya kepada Sulandjari sembari mengkritik keras para kaum ningrat. Siapa yang lebih berhak memberikan penilaian dalam kontes semacam itu, tanyanya sinis. Di sisi lain, Srimulat pernah dikontrak untuk masuk dapur rekaman oleh perusahaan piringan hitam Burung Kenari, Columbia dan His Master’s. Suara merdunya yang melantunkan lagu Kopi Susu, Padi Bunting, Janger Bali, dsb. Saat itu hanya kaum berpunya saja yang bisa memiliki gramofon untuk memutar piringan hitam. Budayawan Arswendo Atmowiloto menggambarkan Srimulat sebagai seorang penampil yang meletakkan dasar dasar seorang artis modern. Sikapnya terbuka pada segala jenis tarian.

Read More

Sosok Joko Tingkir Yang Memiliki Cucu Presiden Indonesia

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Meski hanya menantu Sultan Demak Trenggono, Joko Tingkir bisa naik tahta. Hal itu terjadi setelah Demak kehilangan raja, karena Sultan Demak Prawoto dibunuh oleh Adipati Jipang Aryo Penangsang. Aryo Penangsang membunuh Sultan Prawoto berdasarkan fatwa Sunan Kudus, Joko Tingkir naik tahta atas restu Sunan Giri dengan nama Sultan Hadiwijoyo. Benarkah Joko Tingkir masih cucu Raja Majapahit terakhir, Brawijaya V? Sebenarnya, Joko Tingkir juga menjadi sasaran pembunuhan Aryo Penangsang. Namun, Joko Tingkir selamat dari upaya pembunuhuan, lalu beranak-pinak, hingga di kemudian hari salah satu keturunannya menjadi presiden Indonesia. Pada masa remaja ia menjadi santri Ki Ageng Selo di Desa Selo, Grobogan. Ia adalah anak dari Ki Ageng Pengging II alias Kebo Kenongo dan kelak ia memiliki keturunan yang menjadi presiden Indonesia. Kebo Kenongo merupakan anak kedua dari Andayaningrat. Andayaningrat yang dijuluki sebagai Ki Ageng Penggging I inilah yang merupakan menantu Raja Majapahit Brawijaya V. Istrinya, Ratu Ratna Pembayun, merupakan anak pertama daru salah satu permaisuri Brawijaya V. Begitulah silsilah Joko Tingkir sebagai cucu Brawijaya V. Sebelum memiliki anak, Joko Tingkir memilih Danang Sutowijoyo sebagai anak angkatnya. Setelah itu, ia memiliki anak yang kemudian ia jadikan putra mahkota, yaitu Pangeran Benowo. Mengapa namanya Joko Tingkir, tidak Joko Pengging? Saat kecil, nama Joko Tingkir adalah Karebet. Ketika kedua orang tuanya meninggal, ia diangkat sebagai anak oleh Ki Ageng Tingkir. Ki Ageng Tingkir merupakan sahabat ayahnya yang tinggal di Desa Tingkir. Oleh sebab itulah, di kemudian hari Karebet memiliki nama Joko Tingkir. Ketika Joko Tingkir meninggal dunia, Pangeran Benowo menggantikannya sebagai Sultan Pajang. Sejak kecil Pangeran benowo menjadi santri Sunan Kalijaga, tetapi ia hanya menjadi raja sebentar, karena ia memilih melanjutkan dakwah yang dirintis gurunya, Sunan Kalijaga.

Read More