Sejarah Perjalanan Haji Waktu Tempo Dulu

Jakarta — 1miliarsantri.net : Pada abad ke-17 dan ke-18, terdapat jamaah haji (umat Islam) dari Nusantara (Indonesia) yang menunaikan ibadah haji. Hal ini tidak terlepas dari hubungan pelayaran yang terjalin antara masyarakat kepulauan Nusantara dan pedagang dari jazirah Arab yang berjualan hingga Nusantara. Akan tetapi, perjalanan haji di masa lalu dan sekarang berbeda. Dalam perjalanan menuju Tanah Suci Makkah, banyak bahaya yang harus dihadapi jamaah haji, bahkan bahaya yang bisa merenggut nyawa. Umumnya rute pelayaran menuju Makkah ditempuh melalui Selat Malaka, Samudera Pasai, dan Pidie. Wilayah tersebut sudah terkenal sejak dahulu kala sebagai pusat perdagangan internasional. Pada permulaan abad ke-16 telah dijumpai pribumi Nusantara di Makkah. Kemungkinan besar adalah pedagang yang datang ke Makkah dengan kapalnya. Sebelum abad ke-16, bangsawan dari Nusantara memang sudah melakukan pelayaran untuk melaksanakan ibadah haji ke Makkah, misalnya Sunan Gunung Jati yang dikenal sebagai Syekh Syarif Hdayatullah. Berdasarkan Hikayat Hasanuddin yang merupakan terjemahan bebas dari Hikayat Banten Rante-Rante yang ditulis pada 1662, 1663 dan Sajarah Banten menyebutkan bahwa dua orang penguasa kerajaan Islam di Nusantara yaitu Sunan Gunung Jati (Syekh Syarif Hidayatullah) dari Cirebon dan putranya Maulana Hasanuddin yang merupakan Sultan Banten sempat menunaikan ibadah haji bersama-sama. Dikutip dari buku Sejarah Ibadah Haji Indonesia dari Masa ke Masa yang diterbitkan BPKH tahun 2023. Dijelaskan, menurut Dien Madjid, Hikayat Hang Tuah yang merupakan salah satu naskah yang ditulis pada akhir abad ke-17 mencatat rihlah orang Nusantara ke Tanah Suci, menceritakan tentang perjalanan Hang Tuah ke Istanbul dengan armadanya. Ketika itu Hang Tuah menyempatkan berhaji ditemani syahbandar pelabuhan Jeddah bernama Malik rasal. Perjalanan haji saat itu harus dilakukan dengan perahu layar yang sangat bergantung pada musim. Biasanya para musafir menumpang pada kapal dagang, sehingga harus sering berpindah kapal saat sandar di sebuah pelabuhan tertentu. Perjalanan itu membawa mereka melalui berbagai pelabuhan di Nusantara.

Read More

Kisah Sedih Pangeran Diponegoro Saat Lebaran Tiba

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Pada 10 Maret 1830, dua hari setelah Diponegoro tiba di Magelang, terjadi gerhana rembulan. Bisik-bisik pun berkembang di lingkungan pengikut Diponegoro bahwa akan terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan. Hingga tiba Lebaran hari pertama semua berjalan lancar. Dari waktu sahur hingga tiba waktu Tarawih, tidak terjadi sesuatu. Tapi di hari Lebaran kedua, nelangsa amat hati Diponegoro. Ia tidak merasakan kebahagiaan di hari penuh berkah itu. Letnan Jenderal De Kock yang begitu ramah selama bulan puasa, mebjadi tidak bersahabat sama sekali. Salah satu keramahan De Kock adalah menyediakan lima ekor kerbau per hari untuk keperluan lauk makan sahur dan berbuka. Pada hari pertama Lebaran, Diponegoro berlebaran di pesanggrahan. Baru pada hari kedua, 28 Maret 1830, Diponegoro melakukan silaturahim ke Letnan Jenderal De Kock. Karena tujuannya untuk silturahim Lebaran, Diponegoro hanya mengenakan pakaian santai. Tidak mengenakan pakaian kebesarannya. Salah satu panglimanya mengusulkan dikawal oleh banyak prajurit, tapi Diponegoro menolaknya. Ia hanya diiringi beberapa orang. Tapi rupanya, De Kock sudah melsngkah jauh di depan Diponegoro. Ia sudah menunggu-,nunggu pertemuannya dengxn Diponegoro usai puasa. Sejak jauh hari ia membuat rencana tipu daya untuk menyambut Diponegoro pada hari kedua Lebaran itu. Ia siapkan tentara untuk berjaga di pesanggarah yang ditinggal Diponegoro dan di tempat pertemuan Diponegoro-De Kock. Pada waktu yang tepat, prajurit Belanda melucuti senjata para pengikut Diponegoro di pesanggrahan. Pengawal Diponegoro di tempat pertemuan juga diringkus. Diponegoro menjadi marah ketika ia tak boleh pulang setelah bersilaturahim. Letjen Hendrik Markus de Kock melarangnya pulang karena harus menyelesaikan urusan hari itu juga. Berkali-kali Diponegoro mengaku tidak siap untuk berunding. Ia meminta waktu perundingan ditentukan di lain hari, tetapi De Kock tak peduli. Ia memang tak ada rencana untuk berunding dengan Diponegoro. Karena perintah dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda adalah menangkap Diponegoro.

Read More

Indonesia Uzbekistan Memilik Sejarah Yang Tak Terlupakan

Jakarta — 1miliarsantri.net : Berbicara Uzbekistan, negara di Asia Tengah tersebut punya kaitan erat dengan Indonesia, salah satu kisah yang paling diingat adalah ditemukannya Makam Imam Bukhari di negara tersebut atas permintaan Presiden pertama RI, Ir Soekarno. Kisahnya bermula di era awal 1960-an di tengah situasi geopolitik global yang diwarnai Perang Dingin antara Blok Barat dan Blok Timur. Indonesia sebagai negara yang baru merdeka dan memiliki posisi geografis yang strategis sehingga menjadi rebutan dua negara adidaya saat itu, Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet. Akibat kekecewaan terhadap pemerintah AS di masa Presiden Dwight D. Eisenhower, Presiden Soekarno merapat ke Blok Kiri yang dipimpin Uni Soviet dan Republik Rakyat Tiongkok. Bung Karno pernah dibuat murka karena saat melakukan lawatan ke Amerika Serikat, dia harus menunggu lebih dari satu jam di Gedung Putih sebelum ditemui Eisenhower. ”Mengapa presidenmu menolakku dengan kasar? Mengapa presidenmu dengan sengaja menampik dan menghinaku?” Bung Karno melampiaskan kemarahannya kepada Cindy Adam, seorang wartawan AS saat mewawancarainya untuk menulis buku biografi Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat. Kemarahan Soekarno itu menjadi PR bagi Presiden John F Kennedy yang menggantikan Eisenhower pada 1961. Saat Soekarno kembali datang ke Washington DC pada 24 April 1961, Kennedy berusaha menyambut Soekarno dengan sepenuh hati. Bahkan, Kennedy menyambut langsung saat pesawat yang membawa rombongan Presiden Soekarno mendarat di Andrews Air Force Base, Maryland. Kemesraan Bung Karno dengan Kennedy membuat Pemimpin Tertinggi dan Perdana Menteri Uni Soviet Nikita Khruschev kebakaran jenggot. Tak mau kalah mengambil hati Soekarno, Uni Soviet mengundang Soekarno datang. Saat itu, Soekarno sadar, sebagai Presiden Indonesia yang dianggap sebagai pemimpin negara-negara Non Blok harus bersikap netral terhadap Blok Timur maupun Blok Barat. Tapi pada sisi lain, Soekarno juga menyadari Indonesia butuh dukungan Soviet untuk melegitimasi eksistensi negara-negara non-blok dan kesepakatan yang telah dicapai dalam Konferensi Asia Afrika I 1955. Soekarno juga menyadari membutuhkan dukungan Soviet untuk menghadapi berbagai upaya negara-negara Barat yang masih terus berusaha menjajah dan menguasai kembali Indonesia. Namun Soekarno tidak bisa begitu saja menerima undangan Uni Soviet yang berhaluan komunis, apalagi mengingat penduduk Indonesia mayoritas adalah Muslim. Bung Karno pun meminta syarat kepada Khruschev yang mengundangnya. ”Temukan makam Imam Bukhari dan saya akan ke Moskow,” pinta Soekarno. Permintaan itu disampaikan Soekarno karena beliau mengaku ingin berziarah kepada perawi hadist Rasulullah tersebut. “Aku sangat ingin menziarahinya,” kata Soekarno kepada Khruschev. Permintaan itu membuat Khruschev kelimpungan. Dia tidak mengenal siapa Imam Bukhari yang disebut Soekarno itu. Dipanggillah seluruh pejabat pemerintah Uni Soviet, termasuk pimpinan KGB (Badan Intelijen Nasional), untuk menemukan makam Imam Bukhari. Hasilnya: nihil.

Read More

Kisah Leluhur Sultan Agung Gagal Jadi Tamtama Demak

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Dikisahkan, Ki Ageng Selo, leluhur Sultan Agung, gagal menjadi tamtama Kerajaan Demak. Ia tidak lulus tes. Tapi, cucunya, Ki Ageng Pemanahan, menjadi pimpinan tamtama Kerajaan Pajang. Cucunya yang lain, Ki Juru Martani menjadi patih saat Sutowijoyo, anak Ki Ageng Pemanahan, menjadi adipati Mataram. Bagaimana orang-orang Selo itu menjadi pembesar di Kerajaan Pajang? Bagaimana pula akhirnya menjadi raja Mataram? Ki Ageng Pemanahan bersama saudara sepupunya — Ki Ageng Panjawi dan Ki Juru Martani — bertemu dengan Joko Tingkir ketika sama-sama menjadi murid Sunan Kalljaga. Saat Joko Tingkir menjadi santri kakek mereka, Ki Ageng Selo, mereka belum lahir. Karena Joko Tingkir pernah menjadi santri Ki Ageng Selo, maka Sunan Kalijaga meminta tiga murid dari Selo itu menganggap Joko Tingkir sebagai kakak mereka. Joko Tingkir kemudian meminta anak Ki Ageng Selo yang juga ayah Ki Ageng Pemanahan, yaitu Ki Ageng Ngenis, pindah ke Pajang. Ki Ageng Ngenis, diberi tanah di Laweyan. Ketika meninggal, Ki Ageng Ngenis juga dimakamkan di Laweyan. Ki Juru Martani menjadi penasihat bagi Pemanahan dan Panjawi. Ki Juru Martani juga menjadi pengasuh Raden Bagus Srubut, anak Pemanahan. Raden Bagus Srubut ini di kemudian hari dikenal sebagai Sutowijoyo. Pada akhirnya dikenal pula sebagai Panembahan Senopati setelah menjadi raha Mataram. Raden Bagus Srubut diangkat menjadi anak oleh Joko Tingkir. Saat itu Joko Tingkir belum memiliki anak. Maka, hubungan Joko Tingkir semakin erat dengan tiga tokoh dari Selo, Grobogan, itu. Joko Tingkir sangat menyukai orang-orang Selo itu.

Read More

Anggapan Orang Jawa Dahulu, Ikut Garebek (Grebeg) Besar di Demak Disebut Setara dengan Naik Haji

Demak — 1miliarsantri.net : Hingga tahun 1930-an, orang Jawa masih mempunyai anggapan: menghadiri Garebek (Grebeg) Besar di Masjid Demak setara dengan naik haji. Lho lho lho, bagaimana urusannya? Pada masa lalu, Demak disepadankan dengan Makkah. Babad Sengkala memberitakan, ada pemberontakan di Mataram pada tahun 1522 Jawa yang dilakukan Adipati Mesir. Apakah Mesir di bawah kekuasaan Mataram? Tentu saja bukan. Jika Demak adalah Makkah, maka Mesir digunakan untuk menjuluki Pati. Jika dihitung dalam kalender Masehi, pemberintakan Adipati Mesir itu tetjadi tahun 1600. Mataram masih dipimpin oleh Panembahan Senopati, kakek Sultan Agung. Ada pula Madinah dan Al Quds untuk menyebut Kadilangu dan Kudus. Pada masa Kerajaan Demak, Sunan Kudus tak puas hanya menjadi penghulu keraton. Peran penghulu kurang luas. Ia menginginkan para wali memiliki peran yzng luas seperti yang berlaku di Giri. Ia mengundurkan diri sebagai penghulu lalu membangun negeri baru yang ia sebut Kudus. Kota suci ini diambil dari nama Al Quds yang ada di Palestina. Jika Kudus adalah Al Quds, mana Makkah yang menjadi kiblat bagi orang Jawa? Mana pula Madinah? Mana Mesir? Pati dirujuk sebagai Mesirnya orang Jawa. Kadilangu, tempat tinggal dan tempat makam Sunan Kalijaga sebagai Madinah. Lalu Demak menjadi Makkah bagi orang Jawa. Hingga tahun 1930-an, orang Jawa masih mempunyai anggapan: tujuh kali berturut-turut menghadiri Garebek Besar di Masjid Demak sepadan dengan naik haji. Pada 1922, penerintah kolonisl Belanda menetapkan kebutuhan minimal untuk naik haji sebesar 600 gulden-850 gulden. Pada 1927, untuk bisa makan di warung milik pengurus Muhammadiyah di Kramat, mahasiswa STOVIA di Batavia mengeluarkan 15 gulden per bulan. Penetapan kebutuhan minimal itu dilakukan agar tak ada yang nekat naik haji lalu mengandalkan belas kasihan orang lain selama hidup di Tanah Suci. Jadi, hanya orzng-orang yang mampu yang bisa pergi ke Makkah, Arab Saudi. Maka, orang-orang yang tak mampu ke Arab Saudi cukup menghadiri Garebek Besar di Makkah, Jawa Tengah, eh, di Demak, Jawa Tengah. Hingga 1937, Garebek (Grebeg) Besar di Demak itu yercatat masih selalu ramai didatangi orang. Di Demak ada masjid yang dibangun pada masa Raden Patah menjadi sultan Demak di abad ke-15. Pendirinya adalah para wali.

Read More

Kisah Sunan Kalijogo Nyamar Jadi Marbot Masjid dan Menemukan Emas di Kullah Masjid

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Meninggal pada tahun 1592 Masehi, ia menampakkan diri di depan Sultan Agung yang menjadi raja Mataram sejak 1613. Guru Panembahan Senopati itu memang dikenal bisa menampakkan diri di berbagai tempat dalam sekali waktu ketika masih hidup. Panembahan Senopati, kakek Sultan Agung, pernah dikritik soal rumah tanpa pagar. Sebab itu tanda kesombongan. Guru kakek Sultan Agung itu adalah Sunan Kalijaga, yang pada masa mudanya adalah seorang perampok. Sebelum menjadi wali, ia suka bertapa di pinggir sungai. Dari situlah ia mendapat nama Kalijaga sebelum kemudian pergi ke Cirebon menyamar menjadi marbot masjid dan menemukan emas di kulah masjid. Apa yang kemudian ia lakukan? Saat bersemedi, jika diserang kantuk, ia mengambang menghanyutkan diri di sungai, sambil memegang obor dan seludang kelapa yang sudah kering. Ia memperoleh kesaktian berkat rajin bertapa itu. Karena kesaktiannya itu pula, obor yang ia bawa saat menghanyutkan diri di sungai, tetap menyala kendati terbenam di dalam air. Jangan salah sangka bahwa kegiatan bertapa itu selama 24 jam dalam sehari terus bersemedi. Tidak. Bertapa adalah hidup menyepi dari keramaian. Sehari-hari melakukan aktivitas biasa: makan, tidur, berkegiatan, shalat, dan sebagainya. Di sela kegiatan itu, ada kegiatan bersemedi. Sunan Kalijaga bersemedi di pinggir kali pada malam hari, sehingga ia kemudian mendapat nama Kalijaga. Semula ia adalah seorang pemuda yang hidupnya mengandalkan dari merampok. Nama kecilnya adalah Raden Said. Sebelum menjadi pertapa, Raden Said pernah mengadang Sunan Bonang di tengah jalan. “Aku sedang bekerja, pekerjaanku ialah menyamun,” kata dia sewaktu ditanya Sunan Bonang. Tak mau dirampok, Sunan Bonang lalu menyarankan Raden Said agar merampok orang yang lewat besok pagi. Sunan Bonang memberi tahu, besok pagi akan lewat seorang berpakaian hitam dengan bunga wura wari di telinga. Orang itulah yang pantas dirampok oleh Raden Said. Raden Said memenuhi saran Sunan Bonang, tapi tiga pagi berlalu tak juga lewat itu orang. Baru pada pagi keempat, orang dengan ciri-ciri yang disebutkan oleh Sunan Bonang itu melintas. Raden Said, yang kelak menjadi guru kakek Sultan Agung itu, pun mengadangnya. Tiba-tiba, orang itu menjadi empat, datang dari arah yang berbeda. Ketika Raden Said memandang ke timur, ke utara, ke barat ke sekatan, ia selalu terlihat sosok yang sama. Ia terduduk lemas. Lalu meminta ampun kepada empat sosok berpakaian hitam bersumping bunga wura-wari itu, lalu meminta izin dibolehkan menjadi muridnya, dan berhentik sebagai perampok. Orang sakti berpakaian hitam itu tak lain adalah otang yang empat lagi hari hendak dirampok Raden Said. Dialah Sunan Bonang. Sebelum menerima Raden Said sebagai muridnya, Sunan Bonang memberinya tombak pendek. Ia meminta Raden Said menjaganya selama ia pergi. Kepada Raden Said –yang kelak menjadi guru kakek Sultan Agung, Sunan Bonang mengatakan, jika Raden Said bersungguh-sungguh hendak berguru, ia tidak boleh pergi dari tempat itu. Raden Said menyanggupi.

Read More

Ketika Sultan Agung Menjatuhkan Hukuman Mati kepada Panglima Penyerbuan Batavia

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Raja Mataram menjatuhkan hukuman mati kepada Tumenggung Suro Agul-agul. Panglima penyerbuan Batavia itu telah melakukan kesalahan besar karena salah menjalankan perintah raja. Dalam penyerbuan Batavia, Suro Agul-agul membawahkan Adipati Pekalongan Mandurorejo dan adik Adipati Pekalongan, Adipati Upo Sonto. Dua saudara kakak-beradik ini memiliki hubungan dekat dengan Raja Mataram Sultan Agung. Tapi, kedua kakak-beradik itu mendapat putusan hukuman mati dari Suro Agul-agul atas nama raja, karena dianggap telah gagal dalam perang di Batavia. Raja Mataram Sultan Agung sebenarnya memerintahkan Suro Agul-agul menjatuhkan hukuman kepada pasukan Mandurorejo, bukan kepada Mandurorejo. Mandurorejo membawa anak cucu dan penduduknya di wilayah pesisir untuk menyerbu Batavia. Iajuga membawa meriam Mataram. ”Tetapi perasaanku mengatakan meskipun menang perang, aku tidak pulang. Pasti aku tidak pulang,” kata Mandurorejo kepada anak cucu. Ketika Mandurorejo berangkat ke Batavia, ia berharap Batavia sudah hampir ditaklukkan oleh Tumenggung Baurekso yang datang terlebih dulu. Dengan begitu, Mandurorejo berharap tinggal menyita barang-barang Kompeni setibanya di Batavia. Tetapi cerita berjalan lain. Tumenggung Baurekso meninggal dan pasukannya kalah dalam peperangan di luar benteng. Pada 21 Oktober 1628, 2.866 prajurit Kompeni menyerang kemah-kemah pasukan Mataram untuk kedua kalinya. Kemah-kemah itu ada di luar benteng, yang hanya bisa dijangkau oleh Kompeni menggunakan kapal menyusuri Kali Ciliwung. Mereka menyerang dari arah sungai dan darat, mengerahkan kapal-kapal yang setiap kapal memuat 150 prajurit. Kapal-kapal itu menyusuri Kali Ciliwung untuk mencapai kemah-kemah Mataram. Kemah Tumenggung Baurekso diserang pada kesempatan kedua, dalam pertarungan jarak dekat. Sebanyak 200 tentara Mataram gugur, termasuk Tumenggung Baurekso dan putranya. Kemah-kemah Mataram di Marunda juga diserbu Kompeni. Kompeni hanya kehilangan 60 prajurit, tetapi sebanyak 140 prajurit kehilangan senjata karena direbut oleh orang-orang Mataram. Mataram mengalami kerugian lebih besar. Dari 200 kapal yang dibawa orang-orang Mataram, setelah serbuan itu tinggal 50 kapal. Kekalahan ini membuat Mandurorejo memikirkan siasat membendung Kali Ciliwung. Sebanyak 3.000 anak buahnya ia kerahkan untuk membendungnya agar kapal-kapal Kompeni tidak bisa melintasinya lagi. Pekerjaan membendung Kali Ciliwung membuat anak buah Mandurorejo kehabisan tenaga. Setok pangan juga semakin menipis. Baru berjalan sebulan, pembendungan Kali Ciliwung dihentikan karena orang-orang Mataram semakin kelaparan. Maka, dengan kekuataan seadanya, Mandurorejo mencoba melakukan serangan.

Read More

Anak Sultan Agung Ini Membunuh 60 Orang Termasuk Mertua

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Anak Sultan Agung, Amangkurat I, menetapkan Pangeran Anom sebagai putra mahkota. Ibu Pangeran Anom, yaitu Kanjeng Ratu Pangayun, adalah putri Pangeran Pekik dari Surabaya. Pada 1659, Amangkurat I membunuh Pangeran Pekik –sang mertua sekaligus paman. Pangeran Pekik juga menikahi saudara perempuan Sultan Agung. Setelah istri Amangkurat I yang bernama Ratu Wetan meninggal, ia minta dicarikan calon istri lagi. Dapatlah Roro Oyi putri bangsawan tinggi di Mataram, tapi, suatu hari Roro Oyi diculik. Cucu Pangeran Pekik, yang merupakan putra mahkota Mataram, sangat mencintai Roro Oyi. Sang kakek, yang merupakan mertua anak Sultan Agung, membantu sang cucu mendapatkan Roro Oyi. “Kakeknya yang lembut hati itu berusaha sekuat tenaga menyuap Ngabei Wirorejo dan istrinya yang bertugas menjag agadis itu, agar Putra Mahkota dapat bersatu dengan jantung hatinya,” tulis Dr HJ de Graaf. Tapi catatan-catatan Belanda menyebut, penculikan itu dilakukan Pangeran Anom bekerja sama dengan Pangeran Purboyo. De Graaf menyebut Purboyo sebagai saudara Sultan Agung, meski sebenarnya Sultan Agung tidak memiliki saudara bernama Purboyo. Yang ada, Purboyo adalah paman Sultan Agung, yang dikenal sebagai Panembahan Purboyo atau Panembahan Puruboyo, yang ikut menyerbu Batavia. Purboyo anak Prabu Anyokrowati dengan istri dari Giri. Amangkurat I, masih menurut catatan Belanda, menyebut perbuatan Pangeran Anom dan Pangeran Purboyo sebagai tindakan yang tidak baik dan akan membawa kibat buruk. Meski mencela, tetapi ia tidak menyelahkan Pangeran Anom. Ia menyebut Pangeran Anom dalam pengaruh Pangeran Purboyo. Tindakan Amangkurat I ini tujuannya adalah menjauhkan Putra Mahkota dari Pangeran Purboyo, tetapi ia salah perhitungan. Pangeran Anom mengadu kepada Pangeran Purboyo. Anak Sultan Agung pun memberi hukuman kepada Pangeran Anom, membakar tempat tinggalnya. Sumber Jawa mempunyai versi lain. Penculikan Roro Oyi itu lakukan atasdukungan para ulama. Pangeran Pekik pergi bersama istrinya, Ratu Pandan, membawa banyak hadiah untuk Wirorejo. Mereka kemudian membawa Roro Oyi menggunakan tandu, mengantarnya ke kadipaten, tempat tinggal Putra Mahkota. Cinta sang kakek kepada cucu itu berakibat fatal. Anak Sultan Agung setelah tahu kejadian itu menjatuhkan hukuman mati kepada sang mertua beserta anggota keluarganya, sebanyak 40 orang. Tempat tinggal Pangeran Anom dibakar, Pangeran Anom dibuang ke Lipuro. Sedangkan Wirorejo dan keluarganya dibuang ke hutan Lodaya di Ponorogo.

Read More

Muhammad Ahmed Faris Kosmonot Pertama Suriah Yang Membawa Tanah Bumi ke Luar Angkasa

Jakarta — 1miliarsantri.net : Muhammad Ahmed Faris, kosmonot pertama dari Suriah dan orang Arab kedua yang terbang ke luar angkasa, meninggal dunia pada usia 72 tahun. Kematian Faris pada Jumat, 19 April 2024 diberitakan media Suriah. Menurut laporan, dia meninggal karena sakit yang berkepanjangan di Turkiye, tempat dia tinggal sebagai pengungsi sejak 2012. Dipilih pada tahun 1985 sebagai bagian dari program Interkosmos Uni Soviet, Faris lepas landas pada 22 Juli 1987 bersama kosmonot Aleksandr Viktorenko dan Aleksandr (Pavlovich) Aleksandrov dengan pesawat Soyuz TM-3. Faris menjadi orang di luar Rusia ke-12 yang terbang dengan penerbangan luar angkasa Rusia. Selama sepekan misinya, Faris melakukan observasi Suriah dari orbit dan mengambil bagian dalam penyelidikan sains, termasuk pemrosesan material dan eksperimen biologis. “Kami kini terbang di atas negara tercinta kami, Suriah. Pada momen bahagia ini, saya mengirimkan seluruh rasa hormat dan cinta saya yang terdalam… kepada seluruh rakyat saya di mana pun,” urai Faris dalam siaran langsung nya saat itu. Faris juga menjadi orang pertama yang membawa tanah Bumi ke luar angkasa. “Saya membawa botol berisi tanah dari Damaskus,” ungkapnya dalam wawancara tahun 2015 dengan The National, surat kabar Uni Emirat Arab (UEA). Pada 30 Juli 1987, Faris mendarat kembali di Bumi dengan Soyuz TM-2 bersama Viktorenko dan Aleksandr Laveykin. Itu adalah pertama kalinya kru Mir meluncurkan satu pesawat ruang angkasa dan mendarat di pesawat ruang angkasa lainnya. Faris mencatat total 7 hari, 23 jam dan 4 menit di luar angkasa. Menurut Pendaftaran Penjelajah Luar Angkasa dari Asosiasi Penjelajah Luar Angkasa, Faris adalah manusia ke-209 yang terbang ke luar angkasa dan yang ke-202 yang mengorbit Bumi. “Butuh waktu berhari-hari bagi saya untuk menggambarkan perasaan pergi ke sana, melihat planet bumi, melihat Suriah dari atas, dan rasa bangga mencapai sesuatu yang bersejarah bagi negara saya dan bangsa Arab,” katanya kepada The National.

Read More

KH Soleh Darat Diusulkan Menjadi Pahlawan Nasional

Semarang — 1miliarsantri.net : Rektor Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, Prof KH Mudzakir Ali mengusulkan Mahaguru KH Soleh Darat dijadikan sebagai pahlawan nasional. Universitas Wahid Hasyim Semarang (Unwahas) saat ini tengah menyiapkan naskah akademik untuk melengkapi dokumen pengusulan mahaguru ulama Nusantara tersebut. Prof KH Mudzakir Ali mengatakan draft naskah akademik dibedah dalam seminar bertajuk Genealogi Nasionalisme Indonesia dalam Kitab-Kitab KH Sholeh Darat yang dilaksanakan di aula Rektorat Lantai 6 Kampus I Unwahas, Jl Menoreh Tengah X/22 Sampangan, Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (19/4/2024) lalu. “Salah satu perwujudan nasionalisme Kiai Sholeh Darat Semarang tercermin dari karya-karyanya berupa sejumlah kitab yang dijadikan pegangan murid-muridnya dalam menanamkan semangat cinta Indonesia pada saat Indonesia masih di bawah cengkeram penjajah,” ungkap Prof Mudzakir. Sholeh Darat dikenal sebagai guru dari para ulama Nusantara. Di antara murid-muridnya, di kemudian hari jadi ulama terkenal dan berpengaruh. Di antarannya, KH Hasyim Asy’ari pendiri NU dan KH Ahmad Dahlan pendiri Persarikatan Muhammadiyah. Dalam kitab-kitab yang ditulisnya, dia acap menggunakan nama Syeikh Haji Muhammad Shalih ibn Umar Al-Samarani. Sematan nama Darat karena beliau tinggal di kawasan dekat pantai utara Semarang, yakni tempat berlabuhnya orang-orang dari luar Jawa, yang lantas juga menjadi nama pesantren, Ponpes Darat.

Read More