Ketika Sultan Agung Menjatuhkan Hukuman Mati kepada Panglima Penyerbuan Batavia

Dengarkan Artikel Ini

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Raja Mataram menjatuhkan hukuman mati kepada Tumenggung Suro Agul-agul. Panglima penyerbuan Batavia itu telah melakukan kesalahan besar karena salah menjalankan perintah raja.

Dalam penyerbuan Batavia, Suro Agul-agul membawahkan Adipati Pekalongan Mandurorejo dan adik Adipati Pekalongan, Adipati Upo Sonto. Dua saudara kakak-beradik ini memiliki hubungan dekat dengan Raja Mataram Sultan Agung.

Tapi, kedua kakak-beradik itu mendapat putusan hukuman mati dari Suro Agul-agul atas nama raja, karena dianggap telah gagal dalam perang di Batavia. Raja Mataram Sultan Agung sebenarnya memerintahkan Suro Agul-agul menjatuhkan hukuman kepada pasukan Mandurorejo, bukan kepada Mandurorejo.

Mandurorejo membawa anak cucu dan penduduknya di wilayah pesisir untuk menyerbu Batavia. Iajuga membawa meriam Mataram. ”Tetapi perasaanku mengatakan meskipun menang perang, aku tidak pulang. Pasti aku tidak pulang,” kata Mandurorejo kepada anak cucu.

Ketika Mandurorejo berangkat ke Batavia, ia berharap Batavia sudah hampir ditaklukkan oleh Tumenggung Baurekso yang datang terlebih dulu. Dengan begitu, Mandurorejo berharap tinggal menyita barang-barang Kompeni setibanya di Batavia.

Tetapi cerita berjalan lain. Tumenggung Baurekso meninggal dan pasukannya kalah dalam peperangan di luar benteng.

Pada 21 Oktober 1628, 2.866 prajurit Kompeni menyerang kemah-kemah pasukan Mataram untuk kedua kalinya. Kemah-kemah itu ada di luar benteng, yang hanya bisa dijangkau oleh Kompeni menggunakan kapal menyusuri Kali Ciliwung.

Mereka menyerang dari arah sungai dan darat, mengerahkan kapal-kapal yang setiap kapal memuat 150 prajurit. Kapal-kapal itu menyusuri Kali Ciliwung untuk mencapai kemah-kemah Mataram.

Kemah Tumenggung Baurekso diserang pada kesempatan kedua, dalam pertarungan jarak dekat. Sebanyak 200 tentara Mataram gugur, termasuk Tumenggung Baurekso dan putranya.

Kemah-kemah Mataram di Marunda juga diserbu Kompeni. Kompeni hanya kehilangan 60 prajurit, tetapi sebanyak 140 prajurit kehilangan senjata karena direbut oleh orang-orang Mataram.

Mataram mengalami kerugian lebih besar. Dari 200 kapal yang dibawa orang-orang Mataram, setelah serbuan itu tinggal 50 kapal.

Kekalahan ini membuat Mandurorejo memikirkan siasat membendung Kali Ciliwung. Sebanyak 3.000 anak buahnya ia kerahkan untuk membendungnya agar kapal-kapal Kompeni tidak bisa melintasinya lagi.

Pekerjaan membendung Kali Ciliwung membuat anak buah Mandurorejo kehabisan tenaga. Setok pangan juga semakin menipis.

Baru berjalan sebulan, pembendungan Kali Ciliwung dihentikan karena orang-orang Mataram semakin kelaparan. Maka, dengan kekuataan seadanya, Mandurorejo mencoba melakukan serangan.


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca