Kisah Tukang Rumput Damaikan Sunan Amral dan Pakubuwono I yang Perang Berebut Keraton Mataram

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Perang kakak adik berebut keraton Mataram tak terhindarkan. Hal itu terjadi karena laporan palsu utusan Pakubuwono I yang dikirim untuk menemui Amangkurat II. Amangkurat II alias Sunan Amral, berkeraton di Kartosuro, Pajang. Ia menyerbu keraton Mataram di Plered yang sudah dikuasai adiknya, Pangeran Puger alias Pakubuwono I. Tukang rumput mendamaikan kakak adik yang perang berebut keraton Mataram akibat kesalahpahaman itu. Untuk menyudahi kesalahpahaman itu, Sunan Amral mengirim utusan untuk menemui Pakubuwono I. Ia diutus untuk membujuknya. “Jangan membawa teman seorang pun. Bujuklah adindaku itu,” kata Sunan Amral alias Amangkurat II. Utusan itu berangkat dengan menanggalkan pakaian kebangswanannya. Ia lalu mengenakan pakaian santri. Utusan itu lalu berbaur dengan tukang rumput. Tukang rumput yang mengurusi kuda-kuda Pakubuwono I pun bertanya kepada tukang rumput gadungan itu. Ia menjawab sebagai tukang rumput Ki Tambakboyo. Ia harus melarikan diri karena habis dipukuli. Oleh karena itu ia bergabung dengan para tyjang rumput raja. Jika ia kembali, ia takut akan dipukuli lagi. Tukang rumput raja merasa kasihan, sehingga menerimanya bergabung. Ia diminta membawa dedak. Saat tiba di pesanggrahan, Pakubuwono I sedang memeriksa kudanya . Selama perang, Pakubuwono I telah meninggalkan keraton Mataram di Plered. Tukang rumput gadungan utusan Sunan Amral alias Amangkurat II itu segera menyembah. “Aduh Gusti, abdi Paduka seperti bermimpi,” kata tukang rumput gadungan itu sambil menangis. Pakubuwono I kaget melihat orang yang sedang menyembah di hadapannya. Ia kenal dengan orang itu. “Apa tugasnya sehingga sakit menangis?” tanya Pakubuwono I, yang telah melakukan perang melawan kakaknya berebut keraton Mataram. “Duhai Gusti, bunuhlah hamba kalau Paduka masih berselisih dengan kakanda Paduka. Bagaimana jadinya bumi ini?” kata tukang rumput gadungan. Sebelum Pakubuwono I menyela, ia melanjutkan perkataannya. “Siapa yang akan mengurusi Tanah Jawa selain Paduka Gusti bersama kakanda Paduka?” tanya tukang rumput gadungan.

Read More

Turki Kembali Jadikan Gereja Kuno Ikonik Menjadi Masjid

Istanbul — 1miliarsantri.net : Turki kembali membuka gereja kuno bernama Chora, salah satu bangunan Bizantium paling terkenal di Istanbul, untuk ibadah umat muslim setelah sebelumnya digunakan sebagai museum selama lebih dari 70 tahun. Presiden Turki Tayyip Erdogan telah meresmikan pembukaan Gereja Chora, atau Kariye sebagai mesjid pada Senin (6/5/2024) setelah dilakukan restorasi. Gereja yang dibangun pada abad ke-4 ini sempat menjadi museum pada 1945. Meskipun dijadikan Mesjid, Erdogan tetap menjadikan aula luar sebagai museum, sehingga pengunjung dapat melihat mosaik berharga yang menghiasi langit-langit Turki. Salah satu turis asal Inggris, Ferdy Simon mengatakan, dia lebih suka bangunan itu tetap dijadikan museum agar orang bisa melihat mosaik dan lukisan dinding di sana. “Sepertinya ini merupakan langkah politik,” katanya, berbicara di luar Chora. “Agak disayangkan kalau melihat perempuan-perempuan taat datang ke sini untuk salat dan mereka diberitahu tidak boleh masuk ke area utama narthex,” imbuhnya merujuk pada fakta bahwa bagian area utama diperuntukkan bagi laki-laki, seperti di semua masjid. Di sisi lain, seorang pria Turki yang datang untuk salat bernama Ugur Gokgoz, mengatakan bahwa digunakannya Gereja Chora sebagai masjid adalah hak masyarakat Turki. Pemerintah pun tidak menghilangkan artefak yang ada dan tetap melestarikannya. “Ada bagian kecil yang diperuntukkan untuk salat. Bahkan mereka (pemerintah) tidak merobohkan semua bangunan dan mengubahnya menjadi masjid secara utuh,” ujarnya.

Read More

Keturunan dari Raja yang Punya Banyak Anak Jadi Raja tanpa Cawe-cawe Orang Tua

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Anak-anak muda ini jadi raja tanpa bantuan orang tua. Sebut saja nama Pangeran Jimbun, Joko Tingkir, Sutowijoyo, Raden Wijaya, Ken Arok, dan Jayakatwang. Pangeran Jimbun meniadi Raja Demak dikenal dengan nama Raden Patah. Joko Tingkir menjadi Raja Pajang dengan nama Sultan Hadiwijoyo, dan Sutowijoyo menjadi raja Mataram dengan nama Panembahan Senopati. Raden Wijaya menjadi raja Majapahit, Ken Arok menjadi raja Singosari, dan Jayakatwang menjadi raja Kediri. Mereka keturunan dari raja yang punya banyak anak, sehingga mereka bukan putra mahkota. Lantas, bagaimana mereka bisa menjadi raja tanpa cawe-cawe orang tua, bahkan menjadi pendiri kerajaannya? Tapi ada yang memakai cara licik. Pangeran Jimbun adalah anak raja terakhir Majapahit, Brawijaya V. Ibunya diuang oleh Brawijaya V saat mengandung dirinya, diberikan kepada Adipati Palembang Arya Damar. Joko Tingkir juga masih keturunan dari Brawijaya V. Kakeknya, Ki Ageng Pengging I (Andayaningrat) merupakan menantu Brawijaya V. Sutowijoyo juga masih keturunan dari Brawijaya V. Brawijaya V memiliki anak yang diramalkan akan mengalahkan nama besar Brawijaya V, karenanya ia dibuang ke Tarub, Grobogan, semasa masih kecil. Nama anaknya Bondan Kejawan, yang kemudian diambil menantu oleh Joko Tarub yang menikahi bidadari. Sutowijoyo merupakan keturunan kelima dari Bondan Kejawan. Raden Wijaya merupakan keturunan keempat dari Ken Arok dan Ken Dedes dari pihak ibu. Sedangkan Ken Arok merupakan anak dari pembantu adipati pada masa Kerajaan Kediri. Ayahnya bernama Gajah Para dan ibunya bernama Ken Endok. Dari nama-nama yang disebut di atas, hanya Ken Arok yang bukan keturunan dari raja. Ken Arok harus berjuang keras untuk bisa menjadi raja setelah hidup dalam pengasuhan penjudi karena bapaknya meninggal saat ia masih di kandungan. Tapi cara yang ia lakukan untuk ukuran sekarang dianggap cara licik. Saat raja terakhir Singosari Kertanegara mendapat perlawanan dari Bupati Gelang-gelang Jayakatwang, Raden Wijaya mendapat tugas menumpas pemberontakan itu. Tetapi para pemberontak berhasil membunuh Kertanegara. Jayakatwang yang merupakan keturunan dari raja terakhir Kediri, Kertajaya. Kertajaya dikalahkan oleh Ken Arok. Ken Arok berjuang cukup lama dengan cara untuk ukuran sekarang disebut licik. Kediri surut, ken Arok menjadi Singosari tanpa cawe-cawe orang tua. Raja terakhir Singosari, Kertanegara, adalah mertua Raden Wijaya. Empat putri Kertanegara dinikahi oleh Raden Wijaya. Raden Wijaya bukan termasuk raja yang punya banyak anak. Saat Jayakatwang merebut Singosari, Raden Wijaya melarikan diri. Di kemudian hari ia menyusun siasat, mengaku menyerahkan diri kepada Jayakatwang. Jayakatwang menerimanya. Raden Wijaya lalu meminta kawasan hutan untk berburu, yaitu hutan tarik di sebelah timur Kediri.

Read More

Perlawanan Budak di Masyarakat Kolonial Batavia

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Kompeni menguasai Jayakarta. JP Coen menghancurkan lokasi penguasa Jayakarta dan masjid-masjid, lalu membangun benteng untuk masyarakat kolonial. Orang Sunda dan Jawa yang semula menjadi penghuni Jayakarta sejak 1619 dikeluarkan dari Batavia, nama baru untuk Jayakarta. Penduduk pribumi yang tinggal hanyalah para budak dan gundik. Kehidupan para budak ini memprihatinkan, banyak yang meninggal karena kekurangan gizi. banyak yang melakukan perlawanan, tapi mendapat hukuman berat, yang terkenal adalah Untung Suropati. Yang bisa bebas adalah mereka yang digaji cukup sehingga bisa membeli kekebasannya. Atau mereka telah memeluk agama Kristen lalu dibebaskan oleh tuannya, atau seperti Untung Suropati. Budak didatangkan oleh para pedagang senior di Batavia, baik itu budak laki-laki ataupun budak perempuan. Budak perempuan ada yang kemudian menjadi gundik. Pada 1620, JP Coen mencatat, penduduk yang tinggal di dalam tembok Batavia hanya 2.000 orang. Sebanyak 10 ribu sampai 15 ribu tinggal di luar tembok. Budak-budak yang merdeka diberdayakan sebagai milisi Kompeni sejak 1622. Tugasnya melakukan jaga malam. Maka, budaya dominan orang-orang Eropa yang memiliki gundik adalah budaya Asia. Bukan budaya Eropa. Maka, anak-anak mereka akan kehilangan hak untuk pulang ke Belanda dan kehilangan hak mendapat pendidikan di Eropa. Perempuan pribumi yang semula menjadi budak, kemudian menjadi nyonya di keluarga laki-laki Eropa yang menikahinya. Tapi, mereka yangtetap sebagai budak, selain kekurangan gizi, juga tidak mendapat tinggal yang layak. Akibatnya, banyak budak yang melawan tuannya. Budak yang melawan biasanya akan mendapat hukuman yang berat. Untung Suropati, yang semula menjadi perwira Kompeni yang baik. Suropati berasal dari Bali. Ia dibeli oleh Kapten Van Beber di Makassar saat ia masih berusia tujuh tahun. Kompeni menguasai Makassar pada 1669, Kapten Van Beber pulang, membawa Untung Suropati ke dalam kehidupan masyarakat kolonial di Batavia. Van Beber kesulitan keuangan, Van Beber menjual budak-budaknya. Untung Suropati dijual kepada Kapten Moor. Kapten Moor di kemudian hari dikenal sebagai perwira Kompeni yang bersahabat dengan raja Mataram. Kapten Moor naik pangkat dan menjadi anggota Dewan Hindia. Moor juga menyukai Suropati yang pekerja keras. Tapi setelah remaja, Untung Suropati mencintai anak Moor, tetapi mengapa kemudian melakukan perlawanan? Rupanya, Moor marah kepada Untung Suropati yang tidak tahu diri itu. Maka, Untung Suropati dijebloskan ke penjara bawah tanah.

Read More

Ketika Pejabat Belanda Berkelakuan Buruk

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Pejabat-pejabat Belanda di Yogyakarta berkelakuan buruk. Sebelum meletus Perang Jawa, Asisten Residen PFH Chevallier memiliki hubungan gelap dengan wanita-wanita keraton. Residen Yogyakarta Baron de Salis disebut selingkuh dengan Ratu Ageng. Residen AH Smissaert juga diisukan selingkuh dengan wanita-wanita keraton. Diponegoro juga pernah memergoki Residen Nahuys van Brugst pada 1821 sedang bercumbu dengan istri Asisten Residen RCN d’Abo. Di sisi lain, Asisten Residen PFH Chevallier seljngkuh dengan salah satu selir Diponegoro. “Diponegoro agak jengah dan kikuk, hingga Ny. D’Abo sambil tertawa kecil mengecup Nahuys, satu hal yang membuat Pangeran Jawa itu terheran-heran …,” kata Vincent JH Houben. Nahuys menjadi residen Yogyakarta dan Surakarta pada 1816-2822. Baron de Salis menjadi residen pada 1825-1826. Salis menggantikan Antonie Hendrik Smissaert yang menjadi residen pada 1823-1825. Chevallier menjadi asisten residen pada masa residen Yogyakarta dijabat oleh Smissaert (1823-1825). Isu tentang Smissaert, pernah diungkap lewat surat kaleng. Isinya menyebut Smissaert memiliki hubungan, salah satunya dengan Raden Ayu Gondoresmi. Smissaert kemudian dicopot dari jabatannya. Tetapi ia membantah tuduhan itu. Sekretaris sekaligus penerjemah di kantor Residen Yogyakarta, JG Dietree juga disebut selingkuh dengan wanita-wanita keraton. Pergaulan Dietree dengan wanita-wanita keturunan raja disebut-sebut sebagai sangat berbahaya. Kelakuan-kelakuan seperti yang pernah disaksikan langsung oleh Diponegoro itu tak melulu milik orang-orang Belanda. Ratu Ageng disebut memberi contoh untuk lingkungan keraton. “Kecabulan yang terjadi di keraton, yaang mendapat teladan dari Ratu Ageng, yang menjalankan segala macam kemaksiatan,” kata KRT Hatdjonagoro mengutip catatan Belanda. Babad Cakranegara, menurut Hardjonagoro, juga mencatat isu selngkuh pejabat Belanda dengan wanita keraton. Ratu Ageng, ibunda Hamengkubuwono V, sering disebut mengundang Residen Yogyakarta ke keraton. Bagaimana Ratu Ageng melakukannya di masa Diponegoro memimpin perang? Ia akan mengirim utusan untuk mengundang Residen Yogyakarta. Babad Cakranegara menyebutnya Residen Bongos. Ketika Residen Bongos tiba, Ratu Ageng meminta para abdi keraton menyiapkan tempat yang sepi untuk menerima Residen. “(Mereka) duduk berdekatan,Segala tinggah lau mereka menimbulkan curiga, …,” kata Hardjonagoro mengutip Babad Cakranegara.

Read More

Selo Grobogan Istimewa, tak Bisa Diambil Belanda Setelah Diponegoro Ditangkap

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Setelah Diponegoro ditangkap, Belanda mengambil wilayah mancanegara dari Keraton Yogyakarta fan Surakarta. Residen Semarang mengusulkan agar wilayah Kuwu, Selo, Wirosari, yang ada di wilayah Grobogan juga diambil. “Menjelang akhir Oktober 1830 Sunan Pakubuwono VII dibujuk untuk menyetujui pfngambilalihan atas gugus-gugus wilayah itu,” kata Vincent JH Houben. Tapi akhirnya Selo yang luas wilayahnya hanya 150 cavah itu tak bisa diambil oleh Belanda. Apa yang membuat Selo menjadi istimewa dan tak bisa diambil oleh Belanda? Pada mulanya, Gubernur Jenderal Van den Bosch menginginkan wilayah mancanegara dengan batas sebelah barat Kali Progo fan sebelah timur Kali Madiun. Van fen Bosch menginginkan batas wilayah yang sederhana: aliran sungai. Tapi keinginan ini harus berhadapan dengan keklgigihan dua keraton. Wilayah sebelah barat Kali Progo dianggap Yogyakarta sebagai wilayah inti Mataram seekum dipecahmenjadi Yogyakarta dan Surakarta. Akhirnya Belanda mendapat wilayah Kediri dan Madin, Begelen, dan Banyumas. Belanda memberi kompensasi atas wilayah-wilayah itu. Untuk Kediri dan Madiun, Belanda memberi 64 tibu gulden kepada Surakarta dan 27 ribu gulden kepada Yogyakarta. Untuk Begelen, Surakarta dan Yogyakarta masing-masing mendapat 120 gulden. Sedangkan untuk Banyumas, Belanda memberi 80 ribu gulden kepada Surakarta. Yogyakarta mendapat 10 ribu gulden untuk kompensasi Banyumas. Jumlah kompensasi itu di bawah dari hasil perhitungan lapangan yang dilakukan Komisi Kerajaan-Kerajaan. Komisi ini dipimpin oleh Jenderal HM de Kock untuk melakukan perundingan dengan Yogyakarta dan Surakarta. “Tentu saja kondisi keuangan pemerintah Hindia Belanda yang dangat memalukan pada waktu itu berperan dalam hal ini,” ujar Vincent JH Houben. Belanda kemudian memberikan pembayaran senentara. Belanda untung dengan cara ini: pertama, mencegah pemberontakan baru; kedua, meringankan keuangan yang sedang tidak bagus setelah Perang Jawa yang dimulsi oleh Diponegoro. Kesulitan keuangan yang dialami Belznda mendorong Belanda mencari keuntungan dari wilayah-wilayah mancanegara. Itulah sebabnya Belanda mengambil wilayah-wilayah di pinggiran Keraton Surakarta dan Yogyakarta itu setelah Diponegoro ditangkap, tapi Selo di Grobogan tak bisa diambil oleh Belanda Belanda juga mendapat keuntungan lain dari pembayaran semfntara kompensasi wilayah yang diambilnya. Jika hasil perhitungan dari keraton lebih tinggi dari perhitungan dari Komisi, pemerintah Hindia Belanda akan memakai hasil perhitungan Komisi. Hasil perhitungan Surakarta atas kompensasi Bageln dan Banyumas memang lebih tinggi dari hasil perhitungan Komisi. Tapi Surakarta tak mendapatkan kompensasi senilai hasil perhitungan mereka.

Read More

Kompeni Bunuh 15 Calon Haji yang Dibiayai Sultan Agung

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Peristiwa 11 Juli 1642 itu benar-benar membuat Sultan Agung marah besar. Ia lalu membalasnya dengan melempar tawanan ke kolam buaya. Belum sebanding memang, 15:1. Sebanyak 15 orang Jawa tak bersalah dibunuh Kompeni, hanya satu tawanan yang dibunuh Sultan Agung sebagai balasan. Kompeni memang biadap. Sultan Agung mengirim 18 jamaah calon haji (calhaj) ke Tanah Suci, Kompeni menyergapnya: tiga ditawan, 15 dibunuh. Sungguh biadab. Apa salah 18 calhaj yang berangkat ke Tanah suci atas biaya Sultan Agung itu? Tak ada. Tapi, orang Belanda yang jadi tawanan itu dilrmpar ke kolam buaya karena memberi cincin sebagai hadiah kepada Sultan Agung, dan Sultan Agung jatuh sakit. Konpeni menyergap 18 calhaj itu hanya karena mereka diberangkatkan menggunakan kapal Inggris, Reformation. Padahal sebelumnya, Kompeni sudah tiga kali menawarkan diri akan mengirim calhaj Mataram ke Tanah Suci. Tapi Sultan Agung mengabaikannya. Kompeni menggunakan penawaran itu sebagai imbalan jikaSultan Agung bersedia membebaskan tawanan. Sultan Agung memilih menggunakan kapal Inggris untuk memberangkatkan 18 calhaj itu. Utusan Inggris telah menawarinya untuk mengirimkan calhaj ke Surat, India, lalu lanjut ke Tanah Suci. Tentu saja Inggris mengatakan bukan Inggris yang menawarkan diri. Inggris menyebut, Sultan Agung yang meminta bantuan. Tawanan di Mataram, Antonie Paulo, mendengan rencana ini. Ia lalu berkirim informasi ke Batavia. Maka, ketika kapal Inggris tiba di sebelah barat Pulau Onrust pada 11 Juli 1642, Kompeni menyergapnya. Satu orang Inggris dibunuh dan empat lainnya luka-luka. Saat Kompeni menangkap 18 calhaj yang diberangkatkan oleh Sultan Agung di atas kapal, 15 calhaj melawan. Akhirnya, 15 calhaj itu dibunuh Kompeni di kapal. Sungguh biadab. Tiga calhaj lagi dibawa turun. Mereka menjadi tawanan di Batavia, tapi diberi tunjangan. Calhaj disergap, sehingga gagal berangkat naik haji. Ini membuat Sultan Agung marah besar, apalagi 15 di antaranya dibunuh.

Read More

Sejarah dan Perkembangan Musik Dalam Peradaban Islam

Jakarta — 1miliarsantri.net : Belakangan, marak perdebatan soal kebolehan bermusik dalam Islam. Sudah awam sejak seribu tahun lalu, para ulama punya pandangan berbeda-beda soal tersebut. Faktanya, musik jarang sekali absen dari peradaban Islam. Menurut Philip K Hitti dalam History of The Arabs, lantunan hymne keagamaan primitif telah memberikan pengaruh saat Islam datang. Hal tersebut nampak dalam talbiyyah ritual haji, yakni ucapan “Labbaika” para jamaah haji. Selain itu, tampak juga dalam lantunan tajwid saat membaca Alquran. Dalam hal alat musik, kata Hitti, masyarakat Arab pra-Islam di Hijaz telah menggunakan duff yakni tambur segi empat, qashabah atau seruling, zamr yakni suling rumput, serta mizhar atau gambus yang terbuat dari kulit. Para penyair juga menggubah syair mereka ke dalam sebuah lagu. Ketika Rasulullah diutus mendakwahkan Islam, sebagian besar musisi justru menyeru pada berhala. Bahkan ada seorang seniman yang ingin menandingi wahyu Allah yang disampaikan Rasulullah. “Kecaman Muhammad terhadap para penyair muncul bukan karena mereka penyair, tapi karena mereka menjadi corong para penyembah berhala. Nabi mendiskreditkan musik, juga karena musik diasosiasikan dengan ritual ibadah kaum pagan,” kata sejarawan ternama itu. Dalam beberapa hadis, Rasulullah hanya memperbolehkan musik didendangkan pada dua momen saja, yakni pernikahan dan hari raya. Saat Aisyah binti Abu Bakar menikahkah seorang wanita dengan laki-laki Ansar, Rasulullah bersabda, ‘’Wahai Aisyah, tidak adakah kalian mempunyai hiburan (nyanyian). Sesungguhnya orang-orang Ansar menyukai hiburan (nyanyian).’’ (HR Bukhari dan Muslim). Hal serupa juga terjadi saat hari raya. Berdasarkan Hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, Aisyah mendengarkan permainan rebana (duff) anak perempuan kecil saat Idul Adha. Melihat hal itu, Rasulullah membiarkannya karena saat itu hari raya. Selain pada dua momen itu, Rasulullah diriwayatkan sangat mencegah musik dimainkan. Hal itu karena bangsa Arab menggunakannya sebagai ajakan untuk melakukan ritual berhala. Pada awal perkembangannya, jenis musik dalam Islam bisa dibedakan menurut alat musik yang digunakan. Kala itu, musik Islam hanya mengenal alat sederhana seperti rebana, rebab, seruling dan bedug. Nah, jenis musik yang berkembang pada masa ini adalah kasidah. Karena itu, kasidah bisa disebut sebagai salah satu jenis musik tertua dalam Islam. Selain itu ada gazal yang biasanya dimainkan hanya dengan menggunakan qanun dan rebab. Tema gazal adalah cinta dan kerinduan. Di kawasan Hijaz, berkembang luas musik qabus atau qanbus. Di Indonesia, musik yang melibatkan banyak alat ini dikenal dengan sebutan gambus. Di awal perkembangan musik Islam, dikenal pula nasyid, yakni jenis musik yang lebih menonjolkan lirik daripada musik. Lawannya adalah naubah, yang lebih menonjolkan unsur instrumen daripada lirik. Pada abad ke-7, hadir seorang musikus handal dari Baghdad yang kemudian hijrah ke Andalusia. Namanya Abul-Hasan Ali bin Nafi. Hitam kulitnya, merdu suaranya sehingga ia dijuluki Ziryab alias Burung Hitam. Dalam teori musik, Ziryab banyak melakukan revolusi besar. Dia, misalnya, mengatur ulang parameter dalam musik dan irama musik. Dia juga menciptakan cara-cara baru terkait ekspresi di dalam bermusik. Ziryab pernah menyusun repertoar dengan 24 nabaat. Setiap nabaat terdiri dari potongan berbagai vokal dan instrumental yang dilakukan pada sembilan gerakan. Setiap gerakan tersebut memiliki ritme tersendiri.

Read More

Sepak Terjang Pendiri Hamas Syeikh Ahmad Yassin

Gaza — 1miliarsantri.net : Kelompok militan Palestina, Hamas, banyak menarik perhatian dunia setelah melancarkan serangan militer ke Israel pada Sabtu, 7 Oktober 2023. Kekuatan Hamas untuk melawan Israel demi kemerdekaan Palestina tentu tidak bisa dilepaskan dari sosok pendiri Hamas yakni Syeikh Ahmad Yassin. Meski mengalami disabilitas, namun Syeikh Ahmad Yassin memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap pengikutnya. Syeikh Ahmad Yassin menjadi aktor penting di balik gerakan Hamas. Berkat arahannya, Hamas kini menjadi kelompok dengan kekuatan politik maupun militer di Palestina. Lantas, seperti apa profil Syeikh Ahmad Yassin yang merupakan pendiri Hamas? Simak informasi lengkapnya di bawah ini. Mengutip buku Hamas, Ikon Perlawanan Islam Terhadap Zionisme, Syeikh Ahmad Yassin adalah pria keturunan Arab-Palestina yang lahirkan pada 1936 di desa Al-Jaurah, pinggiran kota Al- Majdal, sekitar 20 kilometer sebelah utara Jalur Gaza. Saat usianya belum genap 3 tahun, ayah Yassin wafat. Sewaktu kecil, Yassin dipanggil dengan nama Ahmad sa’dah. Nama tersebut diambil dari nama ibunya yang bernama Sa’dah Abdullah Al-Hubael. Hal ini dilakukan untuk membedakan nama Ahmad yang banyak dipakai di keluarga Yassin. Pada tahun 1948, kelompok-kelompok bersenjata Yahudi mengusir ribuan warga Palestina. Akibatnya, Yassin yang saat itu baru berusia 12 tahun bersama puluhan ribu warga Palestina lainnya pindah ke Gaza. Peristiwa pengusiran itu kemudian sangat memengaruhi gaya pemikiran dan politiknya. Sejak peristiwa itu, Yassin berpandangan bahwa berjuang di atas kaki sendiri jauh lebih berharga dibandingkan harus berpangku tangan pada bantuan negara-negara lain. Sebagai keluarga pengungsi Palestina, masa kecil Yassin dipenuhi dengan getirnya kemiskinan dan kelaparan. Demi menyambung hidup, Yassin harus putus sekolah dan bekerja sebagai pelayan sebuah restoran di Gaza. Beruntung, ia dapat melanjutkan kembali studinya yang sempat terputus. Pada 1952, Yassin mengalami sebuah kecelakaan saat berolahraga bersama teman-temannya. Kecelakaan itu menyebabkan Yassin mengalami patah tulang leher hingga mengalami kelumpuhan permanen. Meski begitu, dengan segala keterbatasan fisik, akhirnya Yasin dapat menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas pada 1958. Pada 1956, tepat di usia 20 tahun, Yassin ikut serta dalam aksi unjuk rasa di Gaza untuk menentang persekutuan segitiga musuh terhadap Mesir. Dalam peristiwa itu, ia memperlihatkan kepiawaiannya dalam berorasi dan mengorganisasi massa. Sejak saat itu, kemampuan orasi Yassin mulai melambungkan namanya di Gaza. Sayangnya, ketenaran Yassin justru menimbulkan rasa curiga para intelijen Mesir. Pada tahun 1965, ia ditangkap bersamaan dengan gelombang penangkapan besar-besaran yang dilakukan oleh pemerintah Mesir terhadap anggota gerakan Ikhwanul Muslimin. Setelah menjalani satu bulan di penjara, Yassin akhirnya dibebaskan karena tidak ditemukan bukti keterlibatannya dengan Ikhwanul Muslimin. Sejak saat itu, secara tidak langsung Yassin mulai mengenal Ikhwanul Muslimin. Setelah kekalahan Arab dalam Perang 1967, agresi Israel di Palestina semakin meningkat, terutama di wilayah Gaza. Hal ini mendorong Yasin untuk kembali ke jalur perlawanan dan memberikan pidato-pidato. Pada saat yang sama, Yassin juga aktif dalam mengumpulkan dana bantuan untuk keluarga korban dan tahanan Palestina. Perkenalannya dengan Ikhwanul Muslimin ketika berada di penjara Mesir dulu telah membuka jalan baginya Yassin untuk menimba ilmu di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Yassin semakin aktif dalam gerakan tersebut. Sejak saat itulah konstruksi pemikirannya Yassin tentang gerakan perlawanan terhadap hegemoni Zionis Israel mulai terbentuk.

Read More

Gus Kikin : Hadratusyaich KH. Hasyim Asyari Ilmuwan dan Ulama Unggul

Malang — 1miliarsantri.net : Ketua PWNU Jatim, KH Abdul Hakim Mahfudz menjadi keynote speaker Workshop Peningkatan Mutu Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama di Kampus Universitas Islam Malang (Unisma), Kamis (2/5/2024). Kegiatan yang diinisiasi Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jatim ini sekaligus memperingati Hari Pendidikan Nasional 2024. Workshop menghadirkan 3 narasumber, yaitu Rektor Unisma, Prof. Dr. Maskuri, M.Si; Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) Prof. Jazidie, M.Eng., Ph.D dan Prof. Slamet Wahyu, M.T., guru besar Universitas Brawijaya (Unibraw). KH. Abdul Hakim Mahfudz dalam sambutan pembukaan menegaskan sejak didirikan oleh Hadratusyaikh KH. Hasyim Asy’ari, NU selalu melakukan transformasi dalam rangka mengantisipasi perkembangan zaman. Menurut Gus Kikin (sapaan KH. Abdul Hakim Mahfudz), meski NU didirikan oleh para ulama dan menjadi tempat beraktifitas para ulama alim, namun tidak pernah berhenti melakukan transformasi. Hal ini dilakukan dalam rangka menjawab tantangan dan perubahan zaman. Ilmu-ilmu agama ditekuni secara fokus dan bersanad, sedangkan ilmu umum juga dipelajari di pesantren-pesantren agar NU selalu mengikuti perkembangan zaman sesuai dengan prinsip “almuhafadzatu ‘alal qadimis sholih wal ahdu biijadidil ashlah” yang artinya, segala sesuatu yang baik akan tetap dipertahankan dengan mengadaptasi hal-hal baru yang lebih baik. Gus Kikin berharap perguruan tinggi juga melakukan transformas-transformasi dalam rangka menghadapi perkembangan zaman, termasuk menjadi perguruan tinggi yang unggul. “Hadratussyaikh sangat fokus menekuni keilmuan agama, tapi bukan berarti meninggalkan urusan berbangsa dan bernegara. Mudah-mudahan para peserta mendapatkan banyak pencerahan supaya semakin kaya khazanah keilmuan untuk bertransformasi sesuai perkembangan zaman,” ungkap pengasuh pondok pesantren Tebuireng Jombang ini.

Read More