Kisah Heroik Ketangguhan Sawunggaling

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Pasca mangkatnya Adipati Terung Raden Kusen di era Majapahit akhir, Adipati Surabaya di era Demak dipegang oleh Adipati Tranggana atau Pangeran Rekyana putra Raden Qasim Sunan Drajat dengan Dewi Sufiyah putri Sunan Gunung Jati. Putranya, Raden Panji Wiryakrama meneruskan sebagai Adipati Surabaya yang berkonflik dengan Pajang. Untuk mendamaikan konflik Pajang-Surabaya, Sunan Prapen dari Giri Kedhaton menikahkan putri Sultan Hadiwijaya dengan Panji Wiryakrama. Di era awal Mataram Islam Adipati Surabaya diteruskan oleh putra Panji Wiryakrama yaitu Panji Jayalengkara (1546-1625) murid Sunan Prapen. Di masanya Surabaya menjadi kota pelabuhan yang sangat ramai. Panembahan Senopati pun tergiur untuk menaklukan Surabaya. Sunan Prapen (1548-1605) kembali menjadi penengah Adipati Jayalengkara dan para adipati jawa tengah dan jawa timur yang menolak kekuasaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati (1586-1601). Putra Senopati, Panembahan Hanyakrawati (1601-1613) dari Mataram berusaha manaklukan Surabaya yang lebih makmur tetapi selalu gagal. Surabaya akhirnya takluk pada Mataram pada 1625 di era Sultan Agung. Putranya, Raden Pekik Jenggolo diangkat sebagai Adipati Surabaya (1625-1670) dan dinikahkan dengan adik Sultan Agung Ratu Pandan Sari. Beliau ditugasi untuk menggulingkan Panembahan Ageng Giri (1616-1636/cucu sunan Prapen) di Giri Kedhaton pada 1636. Pasca wafatnya Pangeran Pekik Jenggolo pada 1670, Adipati Surabaya dilimpahkan kepada Hangga Wangsa yang bergelar Djangrana I (1670-1678). Beliau adalah putra Sunan Boto Putih atau Pangeran Lanang Dangiran putra Prabu Tawang Alun, raja Blambangan di Kedhawung Jember. Adiknya, Mas Sanepo meneruskan tahta ayahnya bergelar Prabu Tawangalun II (1655-1690) di Macan Putih. Pangeran Lanang Dangiran gemar bertapa di laut sampai hanyut di pantai Sedayu Lamongan diasuh oleh Kyai Kendil Wesi dan dinikahkan dengan putri Ki Bimotjili (seorang ulama dari Cirebon). Pada tahun 1595 Pangeran Lanang Dangiran bersama istri dan anak-anaknya pergi ke Surabaya, menetap di timur kali Pegirian dukuh Botoputih untuk berguru kepada Sunan Prapen kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Botoputih sambil membantu Raden Pekik. Sunan Botoputih wafat pada 1638 di usia 70 tahun meninggalkan 7 anak, 2 putra laki-laki yang bernama Hanggawangsa dan Hanggadjaya telah dipersiapkan menjadi pemimpin. Hanggawangsa menggantikan Raden Pekik sebagai bupati Surabaya bergelar Djangrana I (1670-1678) sedangkan adiknya Hanggadjaya diangkat sebagai bupati di Pasuruan (1678-1686). Tercatat dalam sejarah Tumenggung Djangrana I dikenal sebagai bupati Surabaya yang berjasa besar membantu Amangkurat Amral melawan pemberontakan Trunajaya. Amangkurat Amral sejak kecil oleh Pangeran Pekik di Surabaya sebelum akhirnya berpindah ke kraton Plered sebagai putra mahkota. Pada 1677 Djangrana berhasil merebut meriam pusaka Nyai Setomi dari tangan pemberontak di Gresik. Beliau juga yang berhasil membebebaskan Pangeran Cakraningrat II bupati Madura yang dibuang Trunajaya di hutan Lodaya (dekat Blitar). Djangrana gugur di gapura benteng Kediri pada Desember 1678. Dimine Francois Valentina yang ikut dalam peperangan di Kediri mencatat: Satu-satunya pemberani dalam peperangan itu adalah Kiyahi Yangrono, pangeran Surabaya, yang dengan naik kuda serta menggenggam pistol terjun dalam sungai tanpa menghiraukan berondongan senapan dari musuh, menyusup dalam barisan musuh. Lima hari sesudah peristiwa itu pasukan kita dapat merebut benteng Kediri kira2 pada awal atau pertengahan Desember 1678, dan dalam penyerbuan Kediri itu, Sang Pahlawan Pangeran Surabaya tadi kedapatan mati dalam gapuro benteng kota. Adipati Jangrana lalu di makamkan di Boto Putih Surabaya. Adipati Jangrana I menurunkan 5 anak, yaitu: Adipati Djangrana II menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Adipati Surabaya. Ia diangkat oleh Amangkurat II sebagai Adipati Kliwon dari pesisir Wetan bersamaan dengan di angkatnya Cakraningrat II menjadi Panembahan Madura dan Adipati Wedono seluruh pesisir wetan Jawa. Pasca pemberontakan Trunajaya,Jangrana ll ditugasi memadamkan perlawanan Tawangalun ll dari Blambangan yang dituduh membantu dana bagi pemberontakan Trunajaya. Namun ia berperang setengah-setengah karena dalam hati ia memihak Tawangalun II yang masih terhitung kakeknya sendiri. Jangrana ll ini dikenal berdedikasi dan bereputasi tinggi dibuktikan dengan keberhasilannya memadamkan pemberontakan trah Giring-Kajoran yang dilakukan oleh Ki Ageng Wanakusuma dan dua putranya Jaya Lalana dan Jaya Purusa dari Gunungkidul yg dibantu oleh Kertanadi dan Kertinegoro dari trah Kajoran terhadap Amangkurat ll di Kertasura pada 1683, ia pulang dengan meminta residen Surabaya menyambut kedatangannya menggunakan tembakan salvo. Pada saat pemberontakan Untung Surapati di Kertasura, diam-diam ia dilindungi oleh Amangkurat II di dalam keraton yang berakhir dengan terbunuhnya Kapten Tack 8 Februari 1686 dengan 20 tusukan oleh tangan Untung Suropati, ia pun menjadi buron Belanda. Pada 1686 Untung Surapati mendapat restu Amangkurat II untuk pergi ke timur merebut Pasuruan yang saat itu dipimpin Hanggadjaya. Setelah berhasil, ia pun diangkat menjadi bupati Pasuruan bergelar Tumenggung Wiranegara. Adipati Hanggajaya melarikan diri ke Surabaya meminta bantuan pada keponakannya, Jangrana lI namun tidak ditanggapinya karena Jangrana II juga tidak suka terhadap VOC. Tetapi takdir tidak bisa ditolak, pada 1690 Jangrana ll dan Cakraningrat II (bupati Madura) akhirnya mendapat tugas Amangkurat II merebut kembali Pasuruan dari tangan Untung Surapati atas perintah VOC. Keduanya pun menyanggupinya dan terjadilah perang antara kedua belah pihak. Namun perang ini hanya perang sandiwara untuk menyenangkan VOC seakan Amangkurat II tetap setia pada perintah Belanda dg menyuruh dua adipatinya. Amangkurat II wafat pada 1703 dan terjadilah perebutan tahta di Kartasura antara Amangkurat lll (Sunan Mas) dengan Pangeran Puger, pamannya. Dalam hal ini Jangrana ll memihak pada Pangeran Puger (Pakubuwana I). Pada tahun 1705 Pakubuwana I dengan bantuan VOC di Semarang berhasil merebut istana Kartasura dan mengusir Amangkurat III ke Madiun. Pada 1706 Untung Suropati bupati Pasuruan mengirim bantuan untuk melindungi Sunan Amangkurat III. Pada tahun 1706 gabungan pasukan VOC, Kartasura, Madura, dan Surabaya bergerak menyerang Pasuruan karena Amangkurat III dilindungi Untung Surapati. Dalam perang tersebut Jangrana ll melakukan gerakan sabotase yang merugikan Belanda, karena ia sendiri adalah sahabat Untung Surapati. Pada akhirnya, perlawanan Untung Surapati berakhir. Ia tertangkap dan wafat di Pasuruan pada 1706. Adapun Amangkurat lll menyerah di Surabaya pada 1708 dan dibuang ke Sri Langka. Pasca peristiwa itu pihak VOC ganti melaporkan pengkhianatan Jangrana ll kepada Pakubuwana I pada 1709. Jangrana ll terbukti telah merugikan VOC dalam peperangan tersebut. Djangrana II ditunjuk sebagai pemandu perjalanan pasukan gabungan Kertasura dan VOC dalam penyerbuan ke Pasuruan. Ia dengan sengaja memilih jalur yang sulit dengan melewati rawa-rawa, sehingga banyak tentara Belanda yang jatuh sakit dan mati dalam perjalanan. Jangrana ll sendiri juga dinilai bertempur setengah hati, terbukti ada satupun prajurit Surabaya yang gugur melawan pasukan Untung Surapati di Pasuruan,…

Read More

Festival Kenduri Swarnabhumi, Merayakan Warisan Budaya di DAS Batanghari

Jambi — 1miliarsantri.net : Kegiatan kebudayaan Kenduri Swarnabhumi yang berlangsung di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari memasuki tahun ketiga, diluncurkan pada Rabu (5/6/2024). Kegiatan itu mengukuhkan posisinya sebagai upaya pemajuan kebudayaan dan pelestarian lingkungan di sepanjang DAS Batanghari yang melewati kabupaten/kota se-Provinsi Jambi dan Kabupaten Dharmasraya di Provinsi Sumatra Barat. Dengan tema ‘Menghubungkan Kembali Masyarakat dengan Peradaban Sungai’, Kenduri Swarnabhumi 2024 melibatkan lebih banyak tokoh lokal dalam penyelenggaraannya. Termasuk, dengan membentuk kurator lokal yang merancang hingga memastikan konsep penyelenggaraan kegiatan di masing-masing daerah tetap berakar kuat pada tradisi kebudayaan. Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Hilmar Farid mengatakan, Kenduri Swarnabhumi bukan hanya sekadar festival tahunan, melainkan sebagai cara masyarakat untuk memuliakan kembali Sungai Batanghari dengan terus menjaga ekosistemnya. “Kenduri Swanabhumi ini adalah ibarat sebuah kapal yang akan mengantarkan pada kebahagiaan di masa mendatang dan menuntun kita kepada kejayaan Jambi,” ucap Hilmar saat dikonfirmasi 1miliarsantri.net, Ahad (9/6/2024). Direktur Perfilman, Musik, dan Media Kemendikbudristek, Ahmad Mahendra, menuturkan, Kenduri Swarnabhumi adalah sarana penyadaran kembali kepada masyarakat luas bahwasanya pada masa lampau Jambi memiliki peradaban yang luar biasa maju. Pun beberapa kearifan lokalnya masih terus digunakan hingga saat ini.

Read More

Napak Tilas Sejarah Masjid Parit “Jami’ al-Khandaq” di Madinah

Madinah — 1miliarsantri.net : Kota Madinah, tempat suci bagi umat Islam dan rumah bagi Nabi Muhammad (SAW), menyimpan banyak situs bersejarah yang patut diketahui oleh umat Islam. Salah satu landmark terkenal di kota ini adalah Kompleks Tujuh Masjid, yang merupakan kumpulan masjid kecil bersejarah yang menandai lokasi Perang Khandaq (Pertempuran Parit). Kompleks ini terletak di tepi barat Gunung Sila’. Di belakang Masjid Tujuh terlihat jajaran pegunungan Sila’ yang menjulang tinggi, dengan pos-pos pengintaian yang masih tampak di puncaknya. Dulunya, parit yang dibangun oleh Rasulullah dan pasukan Muslim sekarang telah berubah menjadi jalan. Parit ini, dengan panjang tiga kilometer, kedalaman lebih dari tiga meter, dan lebar 4,6 meter, dibangun dalam waktu satu bulan. Pasukan Muslim harus mengeruk batu cadas keras, dengan setiap 10 orang menyelesaikan galian sepanjang 40 meter, sehingga kecepatan menggali hanya sedikit lebih dari satu meter per hari. Untuk mengenang keberanian para sahabat yang berjuang dalam Pertempuran Khandaq pada tahun 5 H, didirikanlah masjid-masjid di lokasi ini. Meski awalnya ada tujuh masjid, kini hanya ada enam yang tersisa, namun kompleks ini masih dikenal sebagai Tujuh Masjid atau al-Masjid al-Sab, yang berarti “tujuh” dalam bahasa Arab. Lokasinya di wilayah barat Gunung Sila’ di Madinah, Arab Saudi, menjadi tempat populer untuk ziarah dan dikunjungi jutaan umat Islam setiap tahun. Jika kita bergerak dari selatan ke utara, masjid-masjid tersebut adalah Jami’ al-Khandaq, Masjid Fatima (Saad bin Muadz), Masjid Ali, Masjid Umar, Masjid Abu Bakar, Masjid Salman Farisi, dan Masjid al-Fat’h. Masjid Al-Fat’h: Pos Komando Nabi Muhammad Masjid al-Fat’h, juga dikenal sebagai Masjid A’la atau Masjid Ahzab, adalah masjid terbesar di antara Tujuh Masjid. Dibangun di atas sebuah bukit di wilayah barat Gunung Sila, masjid ini menandai lokasi Pertempuran Ahzab dan mengenang kemenangan umat Islam di Madinah. Menurut sejarah, masjid ini pertama kali dibangun pada masa Kekhalifahan Umar (RA) di lokasi pos komando Nabi Muhammad (SAW) dan direnovasi oleh Saifuddin Abu al-Hija pada 1154 H, serta dipugar kembali pada masa pemerintahan Fahad bin Abdul Aziz al-Saud. Jabir (RA) meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad (SAW) berdoa selama tiga hari dalam Pertempuran Ahzab, salah satunya: “Ya Allah, Pengungkap Kitab, cepat dalam memperhitungkan, buatlah sekutu-sekutu itu melarikan diri, ya Tuhan kalahkan mereka dan goyahkan mereka.” Masjid Salman Farisi Masjid Salman Farisi terletak 20 meter di selatan Masjid al-Fat’h. Dinamai sesuai dengan nama Salman Farisi (RA), yang memimpin pembangunan parit selama Pertempuran Khandaq. Masjid ini dibangun pada masa kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz dan direnovasi pada 1154 H oleh Saifuddin Abu al-Hija serta oleh Sultan Ottoman Abd al-Majid I. Keistimewaan masjid ini adalah ukurannya yang kecil, dengan aula sepanjang 7 meter dan lebar 2 meter. Masjid Abu Bakar Masjid Abu Bakar, terletak 15 meter barat daya Masjid Salman Farisi, dibangun di tempat Khalifah pertama, Abu Bakar (RA), memimpin salat Idul Fitri bersama Nabi Muhammad (SAW). Masjid ini dibangun pertama kali pada masa pemerintahan Omar bin Abdul Aziz (705-709/89-91 H) dan kemudian direnovasi oleh Sultan Mahmoud II pada 1838 M/1254 H. Masjid Abu Bakar memiliki arsitektur berbentuk persegi dengan panjang sekitar sembilan meter, dibangun menggunakan batu basal hitam, dan bagian dalamnya dicat putih. Masjid ini juga memiliki menara setinggi 15 meter, halaman persegi panjang, dan kubah berornamen setinggi 12 meter.

Read More

Silsilah Kerajaan Islam Pertawa Gowa

Makassar — 1miliarsantri.net : Kerajaan Gowa Tallo atau Kerajaan Makassar merupakan kerajaan Islam di Sulawesi Selatan. Letak Kerajaan Gowa Tallo berada di wilayah Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Kerajaan Gowa Tallo merupakan gabungan dari dua kerajaan yang berasal dari keturunan Kerajaan Gowa, yang didirikan oleh Tumanurung Bainea sekitar awal abad ke-14. Pada awal abad ke-15, Kerajaan Gowa dibagi menjadi dua, yaitu Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo. Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo bersatu pada masa pemerintahan Raja Daeng Matanre Karaeng Tumapa’risi Kallonna, kemudian gabungan dua kerajaan itu disebut Kerajaan Gowa Tallo atau Kerajaan Makassar. Kerajaan Gowa Tallo memasuki masa Islam dan berubah menjadi kesultanan pada akhir abad ke-16. Sejarah Kerajaan Gowa Tallo pada Masa Islam Kerajaan Gowa Tallo berpusat di Sombaopu (Makassar). Lokasi Sombaopu yang strategis membuat pedagang Maluku senang singgah dan berdagang di Kerajaan Gowa Tallo. Pada akhirnya, Sombaopu menjadi penghubung Malaka, Jawa, dan Maluku. Kerajaan Gowa Tallo telah berhubungan dengan Sultan Ternate yang sudah memeluk agama Islam. Agama Islam mulai masuk ke wilayah Sulawesi Selatan disebabkan dakwah Datuk RI Bandang dan Datuk Sulaiman dari Minangkabau. Pemimpin Gowa Tallo yang pertama masuk Islam adalah I Mangarangi Daeng Manrabbia (1593-1639 M) yang bergelar Sultan Alaudiin I. Seluruh rakyat kemudian selesai diislamkan dua tahun setelahnya. Pada saat, Kesultanan Gowa-Tallo bercorak Islam, rakyat sangat patuh pada aturan berdasarkan ajaran Islam. Siapa Nama Tokoh yang Terkenal dari Kerajaan Islam Gowa Tallo Sultan Malikussaid (1639-1653 M) Kejayaan Kasultanan Gowa Tallo berawal dari peran Karaeng Patingalloang, seorang mangkubumi yang menjalankan kekuasaan pada tahun 1639-1654. Di mana, ia mendampingi Sultan Malikussaid yang saat itu masih kecil. Pada saat Karaeng Patingalloang menjabat sebagai mangkubumi, nama Kerajaan Makassar terkenal dan menjadi perhatian sejumlah negeri. Karaeng Patingalloang berkongsi bersama Sultan Malikussaid dengan sejumlah pengusaha dagang dari Portugis dan Spanyol. Karena kepandaiannya, Karaeng Patingalloang diuluki sebagai cendekiawan dari Kerajaan Makassar. Karaeng Patingalloang wafat pada tanggal 17 September 1654 pada saat turut serta dalam barisan Sultan Hasanuddin melawan Balanda. Karaeng Patingalloang telah menyiapkan sekitar 500 kapal untuk menyerang Ambon sebelum meninggal. Sultan Hasanuddin (1653-1669 M) Kerajaan Islam Gowa Tallo memasuki masa kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Hasanudin yang dijuluki Ayam Jantan dari Timur. Pada saat itu, Sultan Hasanuddin berhasil memperluas wilayah kekuasaan dengan menguasai daerah-daerah subur dan daerah penunjang perdagangan.

Read More

Mengenal Dokter Kamal, Arsitek Lantai Masjidil Haram dan Masjid Nabawi

Jakarta — 1miliarssntri.net : Bagi umat Islam yang sudah menunaikan ibadah haji ataupun umroh, tentu sering bertanya tentang lantai di masjidil Haram dan Masjid Nabawi mengapa tidak terasa panas saat cuaca sangat panas? Terutama jamaah yang sedang menunaikan ibadah tawaf mengelilingi Ka’bah di siang hari dengan panas yang sangat terik, kaki kaki para jamaah tetap tidak merasa kepanasan. Lantai yang bisa menahan panas tersebut, karena memang didesain sejak awal untuk para jamaah agar saat ibadah tidak merasa terganggu. Arsitek yang mendesain lantai tidak panas ini adalah, ilmuan asal Mesir. Namanya Dr.Muhamad Kamal Ismail. Dr.Kamal ini yang memiliki marmer dingin, kubah listrik dan payung megah yang berada di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Dr Kamal adalah anak muda dan lulusan termuda di sekolah setingkat SMA di Mesir. Dalam sejarah Mesir, dia anak muda yang terdaftar dalam sekolah teknik kerajaan pertama yang kemudian di sekolahkan ke Eropa. Ia memperoleh tiga gelar dokter di bidang arsitektur Islam. Selain itu, ia juga anak termuda yang mendapatkan sel nil dan pangkat besi dari raja. Dr Kamal, menikah di usia 44 tahun, dan istrinya melahirkan anak laki-laki, namun tidak lama kemudian istrinya meninggal dunia. Setelah ditinggal istrinya, Dr Kamal memilih menyendiri dn memfokuskan beribadah kepada Allah. Ia hampir menghabiskan usianya 100 tahun untuk melayani dua masjid suci, Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Apa yang dilakukan Dr Kamal ini jauh dari sorotan media massa. Ia asalah Insinyur pertama yang melakukan perencanaan pelebaran dua masjid suci di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi di Madinah. Yang juga mengagumkan, saat bekerja untuk dua masjid suci tersebut, ia menolak untuk mendapat cek pembayaran dari raja arab, Abdullah Abdul Aziz bin Saud maupun dari perusahaan bin laden atas desain arsitekturnya. Ia hanya bilang,” Untuk apa saya menerima bayaran untuk sebuah pekerjaan saya di dua masjid suci, bagaimana saya nanti kalau menghadap Allah kalau untuk dua pekerjaan di masjid suci ini saya menerima bayaran.” Dokter genius ini, adalah sosok yang menemukan bahan batu marmer yang bisa dipakai untuk melapisi lantai yang ada di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi agar lantai tersebut bisa menjadi lebih dingin sehingga membuat jamaah yang tawaf tidak merasa kepanasan. Batu marmer ini dideteksi doctor genius ini adanya hanya di gunung kecil di Yunani. Di gunung gunung lain tidak ada. Ia kemudian berangkat menuju Yunani untuk menandatangani kontrak pembelian batu marmer separo dari gunung tersebut. Meskipun marmer yang dibeli itu jumlahnya adalah separo dari satu gunung di Yunani, namun pemanfaatnya hanya untuk Masjidil Haram. Usai melakukan pembelian, Dr Kamal kembali ke Mekkah dan memulai melakukan pembangunan. Namun setelah selesai menuntaskan pembangunan di Masjidil Haram, Doktor genius ini diminta Raja Arab untuk melakukan pelapisan bahan marmer yang sama di Masjid Nabawi di Madinah. Setelah mendapat tugas dari Raja, ia merasa bingung karena bahan batu marmer itu hanya ada satu di gunung di Yunani dan separonya sudah dia beli. Tapi karena diperintah oleh Raja Arab, akhirnya ia berangkat kembali ke Yunani untuk menemui perusahaan yang menguasai gunung yang ada batu marmernya tersebut. Dia bertemu CEO perusahaan dan menyampaikan niatnya untuk membeli kembali separo sisa batu marmer dari gunung tersebut.

Read More

Pemerintah Beri Peluang Ormas Keagamaan Kelola Sumber Daya Alam untuk Kemakmuran Rakyat

Jakarta — 1miliarsantri.net : Wakil Ketua Umum MUI Anwar abbas mengatakan, dari pasal 33 ayat 3 jelas terlihat ada sebuah tugas yang diamanatkan oleh konstitusi kepada negara/pemerintah yaitu bagaimana caranya supaya lewat sumber daya alam yang ada itu pemerintah harus bisa menciptakan sebesar-besar kemakmuran rakyat. Di dalam pasal 33 ayat 3 uud 1945 dikatakan bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. “Dalam sejarah perjalanan bangsa terutama sejak zaman orde baru sampai dengan keluarnya SK nomor 25 tahun 2024 tentang Perubahan atas peraturan pemerintah nomor 96 tahun 2021 tentang pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan mineral dan batu bara yang dipercaya oleh pemerintah untuk mengelola tambang hanyalah badan usaha, koperasi atau perusahaan perseorangan saja,” terang Anwar dalam keterangan resmi, Senin (3/006/2024). Tetapi dengan keluarnya SK baru tersebut ada sebuah terobosan yang dilakukan oleh pemerintah yang perlu diapresiasi karena dalam SK itu ormas-ormas keagamaan yang selama ini sudah berbuat banyak bagi bangsa dan negara diberi kesempatan oleh pemerintah untuk ikut mengelola tambang. Hal ini jelas merupakan sesuatu yang menggembirakan karena lewat kebijakan tersebut berarti ormas-ormas keagamaan akan bisa memperoleh sumber pendapatan baru untuk mendukung kegiatan-kegiatan yang dilakukannya dimana kita tahu pada umumnya kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh ormas-ormas keagamaan tersebut juga terkait erat dengan tugas dan fungsi pemerintah yaitu melindungi, mencerdaskan dan mensejahterakan rakyat. Bahkan dalam hal yang terkait dengan usaha melindungi rakyat kita sangat sering melihat bila terjadi musibah berupa bencana alam misalnya para ormas keagamaan tersebut malah bisa lebih dahulu hadir di lokasi bencana dari pemerintah untuk membantu rakyat yang terkena musibah. Tetapi gerak mereka memang tampak terbatas karena ketiadaan dana sehingga mereka tidak mampu membeli dan menyiapkan peralatan serta hal-hal lain yang diperlukan. Begitu juga dalam hal yang terkait dengan upaya mencerdaskan bangsa. Kita tahu bahwa pemerintah sampai hari ini tampak belum sanggup untuk melakukan tugas ini secara sendiri.

Read More

Isu Salafi Dinilai Mengalihkan Energi Muhammadiyah dan NU

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Pakar Sosiologi Agama dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Abd Aziz Faiz menilai polemik salafi dan nasab Ba’alawi di Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) hanya mengalihkan energi Muhammadiyah dan NU. Padahal ada isu yang lebih penting yang harus menjadi perhatian, yakni kemiskinan, isu 10 juta anak muda pengangguran, pendidikan, dan pemberdayaan umat yang lambat. Aziz mengatakan secara umum polemik salafi dan Muhammadiyah sudah berlangsung lama. Keduanya dalam banyak hal memiliki persamaan terutama soal kembali ke Alquran dan hadits. “Namun, Muhammadiyah memiliki istilah ijtihad dan tajdid yang membuat Muhammadiyah sangat berbeda dengan salafi,” terang Aziz kepada 1miliarsantri.net, Ahad (2/6/2024) Aziz mengatakan, masalahnya belakangan salafi masuk pelan-pelan melalui masjid-masjid Muhammadiyah dan menguasainya. Dalam konteks-konteks tertentu, salafi mengubah tradisi Muhammadiyah di masjid-masjid milik Muhammadiyah, dari situ polemik salafi dan Muhammadiyah semakin meruncing. “Polemik Muhammadiyah dan salafi, kemudian polemik nasab Ba’alawi di NU tampak tidak produktif, sudah terlalu berkepanjangan,” imbuh Aziz.

Read More

Sejarah Pemegang Juru Kunci Ka’bah

Makkah — 1miliarsantri.net : Ka’bah sebagai kiblat umat Islam sedunia. Sangat wajar jika setiap muslim memiliki niatan baik dan cita-cita yang mulia untuk menggenapkan rukun Islam dengan melakukan haji atau setidaknya melaksanakan umrah. Pembahasan ini akan berbicara tentang salah satu bagian penting dari Ka’bah yang mungkin jarang diketahui banyak orang, yaitu tentang kunci Ka’bah. Lalu bagaimana sejarah, spesifikasi dan siapakah para penggenggam amanah sebagai juru kunci Ka’bah itu ? Sebagaimana kunci dan pintu pada umumnya, asal mula kunci Ka’bah selalu berkaitan erat dengan pintu Ka’bah yang bisa dibuka dan ditutup seperti yang tampak hari ini. Sedangkan secara pasti, belum ada satupun sumber yang secara rinci menyebut kapankah awal mulanya Ka’bah memiliki pintu dan kunci. Akan tetapi, keberadaan kunci Ka’bah ini diketahui ada sejak era Daulah Abbasiyah, dan masih ada hingga hari ini. Di era Abbasiyah, kunci Ka’bah terbuat dari besi dengan ukiran emas atau perak di atas gembok dan kuncinya. Begitu halnya yang ditemukan di era-era selanjutnya, seperti era Mamluk dan era Daulah Utsmaniyyah, dengan mutu ukiran yang semakin meningkat, terukir dalam gembok dan kunci tersebut ayat-ayat Al-Quran, nama penguasa masa itu dan nama pembuat ukiran. Di era Utsmaniyah, gembok dan kunci Ka’bah diketahui dibuat atas perintah dari Sultan Abdul Hamid Khan dengan angka tahun termaktub 1309 Hijriyah. Gembok dan kunci dengan ukiran nama sultan ini bertahan hingga hari ini. Kemudian di era Kerajaan Arab Saudi, Raja Khalid bin Abdul ‘Aziz memberikan perintah untuk mengganti pintu Ka’bah yang lama dengan yang lebih baru. Dengan tetap mempertahankan bentuk gembok dan kunci Ka’bah di era Sultan Abdul Hamid Khan. Ada sekitar 48 kunci Ka’bah sejak era Utsmaniyyah hingga sekarang, sebagian terbuat dari emas murni. Spesifikasi Gembok Gembok Ka’bah terbuat dari besi dengan bentuk tabung hexagonal dengan enam sisi. Panjangnya 38 cm. dan lebar keenam sisinya 3 cm. Sehingga keliling sisi-sisinya adalah 18 cm. Enam sisi tersebut terlapisi dengan kuningan yang tipis dengan panjang kuningan sekitar 8 cm dan lebar sekitar 2 cm, pada masing-masing sisi kuningan tersebut (kecuali sisi keenam) terdapat ukiran tulisan dengan tipe khat tsuluts yang diukir dengan sangat indah dengan tulisan setiap sisinya sebagai berikut: Pada lembaran kuningan yang pertama tertulis: “Laa ilaha illa Allah, Muhammadu Rasulullah”, yang bermakna “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah”. Pada bagian kedua: “nashrun min Allah wa fathun qarib” dan “inna fatahna laka fathan mubiina” yang bermakna “kemenangan dari Allah, dan kemenangan itu dekat”, dan “Kami telah memberimu kemenangan yang besar”.

Read More

Masjid Qiblatain, Saksi Awal Mula Perubahan Arah Kiblat ke Ka’bah

Madinah — 1miliarsantri.net : Kota Madinah sangat kaya dengan situs bersejarah yang sering dikunjungi jamaah umrah dan haji, maupun penduduk Arab Saudi. Kota ini mengingatkan mereka akan sejarah Nabi Muhammad Saw dan penyebaran Islam ke seluruh penjuru dunia. Salah satu situs di Madinah adalah Masjid Qiblatain. Masjid ini terletak sekitar 7 km di sebelah timur laut Masjid Nabawi dan menjadi tempat ziarah penting bagi umat Islam. Awalnya, masjid ini dikenal dengan nama Masjid Bani Salamah, karena dibangun di bekas rumah Bani Salamah. Masjid Qiblatain adalah masjid yang memiliki dua kiblat. Qiblatain artinya dua kiblat. Kiblat pertama yang menghadap ke Masjid Al-Aqsa di Baitul Maqdis (Palestina), dan kiblat kedua yang menghadap ke Ka’bah di Masjidil Haram, Makkah. Masjid ini dibangun oleh Sawad bin Ghanam bin Kaab pada tahun kedua hijriah, tempat ini secara historis menjadi penting bagi umat Islam karena di sanalah turunnya wahyu Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad untuk mengubah arah kiblat. Menurut Prof Dr KH Aswadi MAg, Konsultan Ibadah PPIH Daker Madinah, hal itu terjadi pada bulan Syakban, ketika Nabi Muhammad SAW memimpin para sahabatnya saat salat Zuhur, kemudian diturunkan wahyu untuk menghadap ke arah Ka’bah. Ketika sudah salat dua rakaat, turunlah wahyu yang memerintahkan untuk mengubah arah kiblat, maka Nabi langsung melakukan, sesegera mungkin untuk melakukan perubahan itu. “Karena itu merupakan perintah langsung di rakaat kedua atau dua rakaat bagian yang kedua. Dan langsung baginda Rasul itu mengalihkan kiblatnya itu dari Baitul Maqdis ke Ka’bah Baitullah. Ini kemudian diikuti oleh semua jema’ah,” katanya. Menurut Aswadi, ada perbedaan pendapat mengenai waktu perpindahan arah kiblat tersebut. “Itu tahun ke-2 Hijriah. Jadi, sebagian mufassir menyatakan bahwa itu terjadi di bulan Syakban. Ada yang mengatakan di bulan Rajab. Ada yang mengatakan itu adalah hari Senin. Ada yang mengatakan itu hari Selasa. Ada yang mengatakan salat zuhur, ada yang mengatakan salat Asar,” ujar guru besar UIN Sunan Ampel Surabaya ini. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari menyatakan bahwa itu terjadi saat Salat Zuhur. “Pendapat yang paling tepat adalah salat yang dikerjakan di Bani Salamah pada saat meninggalnya Bisyr bin Barra’ bin Ma’rur adalah Salat Zuhur. Sedangkan, salat yang pertama kali dikerjakan di Masjid Nabawi dengan menghadap Ka’bah adalah Salat Asar.” Kisah perpindahan arah kiblat ini bermula ketika Nabi Muhammad mengunjungi ibu dari Bisyr bin Barra’ bin Ma’rur dari Bani Salamah yang ditinggal mati keluarganya. Kemudian tibalah waktu salat. Nabi pun salat bersama para sahabat di sana. Dua rakaat pertama masih menghadap Baitul Maqdis, sampai akhirnya Malaikat Jibril menyampaikan wahyu pemindahan arah kiblat. Wahyu datang ketika baru saja menyelesaikan rakaat kedua. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman, “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Allah dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (Al-Baqarah: 144). Begitu menerima wahyu ini, Rasul langsung berpindah 180 derajat, diikuti oleh semua jemaah menghadap Masjidil Haram. Pada awalnya, kata Aswadi, kiblat salat untuk semua nabi adalah Baitullah di Makkah, seperti yang tercantum dalam Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 96: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk tempat beribadah manusia ialah Baitullah di Makkah yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.”

Read More

Bung Karno Lebih Memilih Membaca Al Qur’an Ketika Diancam Ditembak Mati

Surabaya — 1miliarsantri.net : Tangisan Bung Karno di pangkuan ibunya setelah memulangkan anak Tjokroaminoto, tidak seberapa. Masih kalah jauh dengan tangisan Karno dan istrinya saat tahu Bung Karno akan ditembak mati Belanda. Bung Karno mengangis tersedu-sedu bersama istrinya. Hari itu Bung Karno sudah ditahan di sebuah rumah di Brastagi, Sumatra. Istri Bung Karno, Musiah, sedang memasak serundeng ketika tentara Belanda masuk ke dapur. Mengetahui serundeng itu untuk Bung Karno, tentara itu berkata, “Heh, buat apa engkau membikin serundeng untuk Sukarno? Apakah engkau tidak tahu bahwa Sukarno besok pagi akan ditembak mati?” kata tentara Belanda itu. Setelah mendengar itu, Masiah lalu menemui Bung Karno. Lalu memeluk lutut Bung Karno dan menangis tersedu-sedu. “Kena apa engkau berdua menangis tersedu-sedu sambil memeluk-meluk lututku?” tanya Bung Karno. Masih pun lalu menceritakan kejadian di dapur saat ia didatangi tentara Belanda. Tentara Belanda itu sedang menunggu perintah resmi dari Medan untuk menghukum mati Bung Karno. “Besok pagi Sukarno akan kami tembak mati,” kata tentara Belanda itu. Bung Karno ditahan di Brastagi setelah Belanda merebut Yogyakarta pada 19 Desember 1948. Pada 22 Desember 1948, Bung Karno diterbangkan k eMedan dengan pesawat B25. Dari Medan ia kemudian dibawa ke Brastagi. Sebuah rumah yang dikelilingi pagar kawat berduri disiapkan untuknya. Di rumah itu ada dua suami istri yang ditugaskan untuk menyiapkan makanan untuk Bung Karno dan kawan-kawan. Nama suami istri itu Karno dan Musiah. “Yang laki namanya seperti nama saya,” kata Bung Karno. “Karno dan Musiah adalah orang-orang yang datangnya, atau asalnya dari Pacitan,” lanjut Bung Karno. “Saudara-saudara bisa menggambarkan bagaimana keadaanku pada saat itu. Dikatakan oleh Musiah dan Karno bahwa besok pagi aku akan ditembak mati,” kata Bung Karno. Bung Karno lalu berdoa. “Ya Allah ya Robi, kalau memang itu telah dikehendaki oleh Tuhan, yah apa boleh buat.” Ia ingin menenangkan hati agar siap ditembak mati Belanda, jika memang takdirnya demikian. Bung Karno kemudian mengambil air wudlu.

Read More