Kisah Heroik Ketangguhan Sawunggaling
Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Pasca mangkatnya Adipati Terung Raden Kusen di era Majapahit akhir, Adipati Surabaya di era Demak dipegang oleh Adipati Tranggana atau Pangeran Rekyana putra Raden Qasim Sunan Drajat dengan Dewi Sufiyah putri Sunan Gunung Jati.
Putranya, Raden Panji Wiryakrama meneruskan sebagai Adipati Surabaya yang berkonflik dengan Pajang. Untuk mendamaikan konflik Pajang-Surabaya, Sunan Prapen dari Giri Kedhaton menikahkan putri Sultan Hadiwijaya dengan Panji Wiryakrama.
Di era awal Mataram Islam Adipati Surabaya diteruskan oleh putra Panji Wiryakrama yaitu Panji Jayalengkara (1546-1625) murid Sunan Prapen.
Di masanya Surabaya menjadi kota pelabuhan yang sangat ramai. Panembahan Senopati pun tergiur untuk menaklukan Surabaya.
Sunan Prapen (1548-1605) kembali menjadi penengah Adipati Jayalengkara dan para adipati jawa tengah dan jawa timur yang menolak kekuasaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati (1586-1601).
Putra Senopati, Panembahan Hanyakrawati (1601-1613) dari Mataram berusaha manaklukan Surabaya yang lebih makmur tetapi selalu gagal. Surabaya akhirnya takluk pada Mataram pada 1625 di era Sultan Agung.
Putranya, Raden Pekik Jenggolo diangkat sebagai Adipati Surabaya (1625-1670) dan dinikahkan dengan adik Sultan Agung Ratu Pandan Sari.
Beliau ditugasi untuk menggulingkan Panembahan Ageng Giri (1616-1636/cucu sunan Prapen) di Giri Kedhaton pada 1636.
Pasca wafatnya Pangeran Pekik Jenggolo pada 1670, Adipati Surabaya dilimpahkan kepada Hangga Wangsa yang bergelar Djangrana I (1670-1678). Beliau adalah putra Sunan Boto Putih atau Pangeran Lanang Dangiran putra Prabu Tawang Alun, raja Blambangan di Kedhawung Jember.
Adiknya, Mas Sanepo meneruskan tahta ayahnya bergelar Prabu Tawangalun II (1655-1690) di Macan Putih.
Pangeran Lanang Dangiran gemar bertapa di laut sampai hanyut di pantai Sedayu Lamongan diasuh oleh Kyai Kendil Wesi dan dinikahkan dengan putri Ki Bimotjili (seorang ulama dari Cirebon).
Pada tahun 1595 Pangeran Lanang Dangiran bersama istri dan anak-anaknya pergi ke Surabaya, menetap di timur kali Pegirian dukuh Botoputih untuk berguru kepada Sunan Prapen kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Botoputih sambil membantu Raden Pekik.
Sunan Botoputih wafat pada 1638 di usia 70 tahun meninggalkan 7 anak, 2 putra laki-laki yang bernama Hanggawangsa dan Hanggadjaya telah dipersiapkan menjadi pemimpin.
Hanggawangsa menggantikan Raden Pekik sebagai bupati Surabaya bergelar Djangrana I (1670-1678) sedangkan adiknya Hanggadjaya diangkat sebagai bupati di Pasuruan (1678-1686).
Tercatat dalam sejarah Tumenggung Djangrana I dikenal sebagai bupati Surabaya yang berjasa besar membantu Amangkurat Amral melawan pemberontakan Trunajaya.
Amangkurat Amral sejak kecil oleh Pangeran Pekik di Surabaya sebelum akhirnya berpindah ke kraton Plered sebagai putra mahkota.
Pada 1677 Djangrana berhasil merebut meriam pusaka Nyai Setomi dari tangan pemberontak di Gresik. Beliau juga yang berhasil membebebaskan Pangeran Cakraningrat II bupati Madura yang dibuang Trunajaya di hutan Lodaya (dekat Blitar).
Djangrana gugur di gapura benteng Kediri pada Desember 1678.
Dimine Francois Valentina yang ikut dalam peperangan di Kediri mencatat: Satu-satunya pemberani dalam peperangan itu adalah Kiyahi Yangrono, pangeran Surabaya, yang dengan naik kuda serta menggenggam pistol terjun dalam sungai tanpa menghiraukan berondongan senapan dari musuh, menyusup dalam barisan musuh.
Lima hari sesudah peristiwa itu pasukan kita dapat merebut benteng Kediri kira2 pada awal atau pertengahan Desember 1678, dan dalam penyerbuan Kediri itu, Sang Pahlawan Pangeran Surabaya tadi kedapatan mati dalam gapuro benteng kota. Adipati Jangrana lalu di makamkan di Boto Putih Surabaya.
Adipati Jangrana I menurunkan 5 anak, yaitu:
- Djangrana Il yang bernama kecil Surodirono
- Djajapuspita, Adipati Panatagama
- Wiradirja
- Surengrana, Natapura
- Kartayuda.
Adipati Djangrana II menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Adipati Surabaya. Ia diangkat oleh Amangkurat II sebagai Adipati Kliwon dari pesisir Wetan bersamaan dengan di angkatnya Cakraningrat II menjadi Panembahan Madura dan Adipati Wedono seluruh pesisir wetan Jawa.
Pasca pemberontakan Trunajaya,
Jangrana ll ditugasi memadamkan perlawanan Tawangalun ll dari Blambangan yang dituduh membantu dana bagi pemberontakan Trunajaya.
Namun ia berperang setengah-setengah karena dalam hati ia memihak Tawangalun II yang masih terhitung kakeknya sendiri.
Jangrana ll ini dikenal berdedikasi dan bereputasi tinggi dibuktikan dengan keberhasilannya memadamkan pemberontakan trah Giring-Kajoran yang dilakukan oleh Ki Ageng Wanakusuma dan dua putranya Jaya Lalana dan Jaya Purusa dari Gunungkidul yg dibantu oleh Kertanadi dan Kertinegoro dari trah Kajoran terhadap Amangkurat ll di Kertasura pada 1683, ia pulang dengan meminta residen Surabaya menyambut kedatangannya menggunakan tembakan salvo.
Pada saat pemberontakan Untung Surapati di Kertasura, diam-diam ia dilindungi oleh Amangkurat II di dalam keraton yang berakhir dengan terbunuhnya Kapten Tack 8 Februari 1686 dengan 20 tusukan oleh tangan Untung Suropati, ia pun menjadi buron Belanda.
Pada 1686 Untung Surapati mendapat restu Amangkurat II untuk pergi ke timur merebut Pasuruan yang saat itu dipimpin Hanggadjaya. Setelah berhasil, ia pun diangkat menjadi bupati Pasuruan bergelar Tumenggung Wiranegara.
Adipati Hanggajaya melarikan diri ke Surabaya meminta bantuan pada keponakannya, Jangrana lI namun tidak ditanggapinya karena Jangrana II juga tidak suka terhadap VOC.
Tetapi takdir tidak bisa ditolak, pada 1690 Jangrana ll dan Cakraningrat II (bupati Madura) akhirnya mendapat tugas Amangkurat II merebut kembali Pasuruan dari tangan Untung Surapati atas perintah VOC.
Keduanya pun menyanggupinya dan terjadilah perang antara kedua belah pihak. Namun perang ini hanya perang sandiwara untuk menyenangkan VOC seakan Amangkurat II tetap setia pada perintah Belanda dg menyuruh dua adipatinya.
Amangkurat II wafat pada 1703 dan terjadilah perebutan tahta di Kartasura antara Amangkurat lll (Sunan Mas) dengan Pangeran Puger, pamannya. Dalam hal ini Jangrana ll memihak pada Pangeran Puger (Pakubuwana I).
Pada tahun 1705 Pakubuwana I dengan bantuan VOC di Semarang berhasil merebut istana Kartasura dan mengusir Amangkurat III ke Madiun.
Pada 1706 Untung Suropati bupati Pasuruan mengirim bantuan untuk melindungi Sunan Amangkurat III.
Pada tahun 1706 gabungan pasukan VOC, Kartasura, Madura, dan Surabaya bergerak menyerang Pasuruan karena Amangkurat III dilindungi Untung Surapati.
Dalam perang tersebut Jangrana ll melakukan gerakan sabotase yang merugikan Belanda, karena ia sendiri adalah sahabat Untung Surapati.
Pada akhirnya, perlawanan Untung Surapati berakhir. Ia tertangkap dan wafat di Pasuruan pada 1706. Adapun Amangkurat lll menyerah di Surabaya pada 1708 dan dibuang ke Sri Langka.
Pasca peristiwa itu pihak VOC ganti melaporkan pengkhianatan Jangrana ll kepada Pakubuwana I pada 1709. Jangrana ll terbukti telah merugikan VOC dalam peperangan tersebut.
Djangrana II ditunjuk sebagai pemandu perjalanan pasukan gabungan Kertasura dan VOC dalam penyerbuan ke Pasuruan.
Ia dengan sengaja memilih jalur yang sulit dengan melewati rawa-rawa, sehingga banyak tentara Belanda yang jatuh sakit dan mati dalam perjalanan.
Jangrana ll sendiri juga dinilai bertempur setengah hati, terbukti ada satupun prajurit Surabaya yang gugur melawan pasukan Untung Surapati di Pasuruan, ini aneh bin ajaib.
Pakubuwono I dalam keadaan dilematis, ia dihadapkan pada perjanjian baru dengan VOC menggantikan perjanjian lama yg telah dilakukan oleh Amangkurat III.
Pada perjanjian lama Kertasura harus menebus utang perang Trunojoyo sebanyak 2,5 juta gulden.
Sementara pada perjanjian baru Kertasura diharuskan untuk mengirim beras sebanyak 13.000 ton beras setiap tahunnya kepada Belanda selama 25 tahun.
Rangkaian perjanjian tersebut membuat Pakubuwana I tersandera dan dengan terpaksa menjalankan perintah Belanda memberikan hukuman mati Adipati Djangrana II tim suskesnya yang telah membelanya matia-matian hanya demi menjaga harga diri raja di hadapan VOC.
Djangrana II wafat pada hari kamis 20 Februari 1709 jam 9 pagi di gapuro Kemandungan Kraton Kartasura setelah di hujani 25 tusukan keris oleh algojo Kartasura dan di makamkan di Astana Laweyan di Surakarta.
Peristiwa tersebut kontan membuat marah rakyat Surabaya. Sang adik Tumenggung Jayapuspita yang memimpin Kadipaten Kasepuhan bersama saudaranya Kyai Tumenggung Wiradirja yang memimpin Kadipaten Kanoman segera mengangkat senjata melawan Kertasura pada 1718.
Babad Tanah Jawi memberitakan kisah pemberontakan Arya Jayapuspita panjang lebar. Jayapuspita disebut sebagai pewaris sifat-sifat Jangrana, kakaknya, yaitu gagah berani, mencintai rakyat, dan taat beragama.
Selain pemimpin militer juga pemimpin agama dengan gelar Tumenggung Jaya Puspita Panatagama.
Pada tahun 1714 Jayapuspita menolak menghadap ke Kartasura. Ia menyusun pemberontakan sebagai pembalasan atas kematian kakaknya Jangrana II. Daerah-daerah pesisir seperti Gresik, Tuban, dan Lamongan jatuh ke tangannya.
Pada 1717 gabungan pasukan VOC dan Kartasura berangkat menyerbu Surabaya. Mereka bermarkas di desa Sepanjang. Perang besar terjadi.
Jayapuspita mendapat bantuan dari Bali dibawah pimpinan Dewa Kaloran yang membawahi tiga bupati yaitu Dewa Saka, Dewa Sade dan Dewa Bagus Bala.
Pada 1718 adik Jayapuspita yang memimpin Kadipaten Kanoman Tumenggung Wiradirja gugur di medan laga.
Pasca runtuhnya benteng pertahanan di Wonokromo, Jayapuspita bersama warga Surabaya melakukan bedhol negoro dan memindahkan pusat pemerintahannya ke Japan (dekat Mojokerto) dengan didampingi kedua adiknya yang masih hidup, yaitu Surengrana dan Kartayuda.
Pada Februari 1719, Pakubuwana I dari Mataram meninggal.
Penggantinya adalah Mas Suryanata (Amangkurat IV, 1719-1726).
Pangeran Arya Dipanegara kakak Amangkurat IV yang sedang diberi tugas oleh ayahnya PB I untuk menangkap Jayapuspita berbalik arah bergabung dengan kelompok Jayapuspita di Japan.
Tetapi Pangeran Blitar yang bermarkas di Kraton Kerta Sekar Pleret berhasil membujuk Jayapuspita untuk bergabung dengannya dan memanfaatkan kekuatannya di Japan untuk menggempur kubu Arya Dipanegara di Madiun.
Arya Dipanegara kalah dan menyingkir ke Baturatna sebelum akhirnya bergabung dengan kelompok Karta Sekar di Pleret bersama kakaknya, Pangeran Purbaya.
Pada bulan November 1720 gabungan pasukan Kartasura dan VOC dibawah pimpinan Patih Cakrajaya dan Admiral Bergman memutuskan untuk menyerang Mataram di Kerta.
Kota Karta Sekar dihancurkan, kelompok Pangeran Blitar menyingkir ke timur dan ia meninggal pada 1721 akibat wabah penyakit di daerah Malang.
Perjuangan dilanjutkan Pangeran Purbaya yang berhasil merebut Lamongan. Namun kekuatan musuh jauh lebih besar.
Perlawanan Jayapuspita yang mengangkat dirinya dengan gelar Adipati Panatagama berakhir ketika ia sakit keras dan meninggal di Japan tahun 1720.
Perjuangannya diteruskan oleh Tumenggung Surengrana (Natapura) di Lamongan yang kemudian bergabung dengan pasukan Pangeran Purbaya.
Namun kekuatan Tumenggung Surengrana di Japan tidak setangguh sebelumnya karena pasuksn Bali yang menyokong Jayapuspita memilih mrmbubarkan diri dan kembali ke daerah asalnya.
Temenggung Surengrana tidak mampu mempertahankan Japan dan menyerah pada tahun 1722. Japan kembali ke Kertasura, adapun Surabaya menjadi milik VOC. Pangeran Purbaya dibuang ke Batavia pada 1723.
Ditengah hiruk pikuknya perang Surabaya-Kertasura muncul kisah legenda yang selalu dikenang oleh warga Surabaya yaitu Sawunggaling.
Siapa beliau gerangan dan bagaimana kisah kepahlawanannya.
Menurut tedhak Dermayudan (CB 145-1-E No 2) Sawunggaling memerintah Surabaya pasca wafatnya Jayapuspita.
Adapun menurut Silsilah Pangeran Lanang Dangiran, Baba asal usul Keluarga Kasepuhan Kanoman Surabaya, halaman 49-50 oleh Raden Panji Ario Makmur, Surabaya 01 Agustus 1966, Sawunggaling tercatat sebagai putra Tumenggung Surengrana putra ke 4 Hanggawangsa putra Lanang Dangiran.
Ada juga yang menganggap Sawunggaling putra Djangrana II yang meninggal di Lawean, kakak Jayapuspita.
Menurut pendapat ini Sawunggaling terhitung keponakan Jayapuspita yang sama-sama melakukan perlawanan terhadap Belanda.
Sawunggaling bagaimanapun adalah tokoh legendaris semi-historis yang sulit untuk diidentifikasi sosoknya dalam historiografi Surabaya tetapi hadir dalam pikiran masyarakat terutama lewat tradisi tutur.
Sejarah yang tercecer mewakili semangat perlawanan rakyat Surabaya yang luput dari sejarah resmi.
Alkisah, pada pertengahan tahun 1686.
Rombongan Adipati Surabaya Jayengrana ll putra Hanggawangsa sedang berkuda berkeliling daerah Kadipaten dan singgah di Desa Lidah Wetan.
Waktu itu kawasan ini masih berupa hutan dan daerah rawa-rawa yang tidak begitu jauh dengan aliran sungai Kali Brantas.
Saat tiba di desa Lidah Wetan itu, sang Adipati berhenti di depan rumah Kepala Desa Lidah Wetan, Wangsadrana.
Adipati Jayengrana yang didampingi penasehat kadipaten Surabaya Arya Suradireja, masuk dan beristirahat di rumah kepala desa itu. Sedangkan pengawalnya tetap berada di luar.
Saat jamuan makan siang, Adipati Jayengrana dan Arya Suradireja dilayani anak semata wayang kepala desa bernama Rara Blengoh yang berusia 19 tahun.
Melihat kecantikan Rara Blengoh hati sang Adipati telah ditinggal mati isterinya selama 4 tahun yang lalu kembali bergelora.
Kegelisahan hati sang adipati ditangkap oleh Wangsadrana dan Arya Suradireja. Singkat cerita, sang Adipati melamar sang gadis. Rara Blengoh merasa terkejut dan bingung untuk menjawabnya.
Namun setelah diberi pengertian akan status Adipati yang sudah empat tahun menduda, Rara Blengoh menerima pinangan itu.
Setelah ditentukan waktunya, upacara pernikahan pun diselenggarakan di desa Lidah Wetan dan sengaja tidak dilaksanakan di Kadipaten Surabaya, untuk menjaga hati dan perasaan lima putera Jayengrana yaitu Raden Mas Sawungkarna (9 tahun), Raden Mas Sawungsari (7 tahun), Raden Mas Jaya Puspita (6 tahun) dan dua anak bungsu lahir kembar, Raden Mas Suradirana dan Raden Mas Umbulsangga (4 tahun).
Setelah pernikahan dan resmi menjadi isteri Raden Mas Jayengrana, Rara Blengoh mendapat gelar kehormatan Raden Ayu Dewi Sangkrah.
Namun, sang adipati tetap tidak membawa isterinya ke kadipaten. Justru sang Adipati lah yang sering menginap di rumah kepala desa Lidah Wetan itu.
Dan dari cinta keduanya terlahirlah seorang anak yang bernama Jaka Berek yang kemudian dikenal dengan Sawunggaling pada 1687. Zaman itu, keadaan situasi membuat kesibukan Jayengrana ll sebagai Adipati Surabaya luar biasa.
Inilah yang membuat sang adipati tidak sempat lagi mendatangi isterinya di desa Lidah Wetan, karena situasi yang cukup gawat dampak dari pemberontakan Untung Surapati terhadap Belanda.
Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, usia putra Jayengrana ll, Jaka Berek pun meningkat remaja.
Pertengahan tahun 1704, saat Jaka Berek memasuki usia 17 tahun, ia meminta izin kepada ibunya, untuk menemui sang ayah di kadipaten Surabaya.
Melihat kesungguhan hati si anak, maka kakeknya Wangsadrana berusaha meningkatkan ilmu dan kemampuan beladirinya serta sopan-santun kerajaan.
Setelah dianggap matang, Jaka Berek diizinkan berangkat ke kadipaten dengan berjalan kaki menyusuri pinggir anak sungai Kali Brantas, yakni Kali Surabaya, sampai ke Kalimas.
Di tengah perjalanan ketika melewati jalan desa sekitar Gunungsari.
Seekor kuda lewat dengan membawa seorang laki-laki berkulit putih dalam keadaan pingsan di punggungnya.
Kuda itu berhenti tatkala melihat Jaka Berek. Seolah-olah minta tolong, kuda itu menghampiri Jaka Berek.
Tidak menunggu lama, Jaka Berek mengangkat tubuh laki-laki berhidung mancung itu ke bawah pohon.
Kemudian Jaka Berek memberi minum dan membaca mantera yang pernah diajarkan kakeknya.
Tak lama kemudian bule itu siuman. Dia berterimakasih kepada jaka Berek yang sudah membantunya. Kedua anak muda yang berbeda ini berkenalan.
Nama saya Van Jannsen, kata anak muda itu dengan Bahasa Jawa.
Jaka Berek terkejut, ternyata Belanda ini sudah belajar Bahasa Jawa di Semarang.
Van Jannsen, ternyata perwira muda yang sedang mengikuti tugas militer dari negaranya.
Menurut Van Jannsen, dia bersama tiga temannya diutus ke Surabaya untuk menemui Adipati Jayengrana.
Tetapi, saat berada di sekitar Lamongan, mereka diserang warga setempat.
Mereka dikeroyok, namun Van Jannsen berhasil menyelamatkan diri dengan keadaan yang sangat payah.
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


