Kisah Heroik Ketangguhan Sawunggaling
Setelah saling bersalaman, Van Jannsen pamit untuk meneruskan perjalannya menuju Kadipaten Surabaya dengan menunggang kuda.
Tidak lama kemudian, Jaka Berek juga berjalan menyusuri sungai Kali Surabaya.Ia berjalan terus sesuai petunjuk, berjalan menyusuri sungai Kalimas. Jaka Berek akhirnya sampai juga di Alun-alun Contong, tidak jauh dari kadipaten.
Di sana ia duduk-duduk dengan melepaskan lelah sembari memberi makan ayam jago yang dibawanya dari rumah. Ayam jago itu diberi nama si Galing atau Cinde Puspita.
Sesaat setelahnya Jaka Berek diketahui dan diinterogasi oleh petugas keamanan Kadipaten. Ketika diinterogasi itu, Jaka Berek menyatakan dia berasal dari Lidah Wetan.
Kakeknya Wangsadrana mantan kepala desa di sana dan ibunya bernama Rara Blengoh dan juga dikenal dengan nama Raden Ayu Dewi Sangkrah.
Maksud kedatangannya ke Surabaya untuk mencari ayahnya yang bekerja di kadipaten. Akhirnya petugas keamanan melapor kepada staf ahli kadipaten Arya Suradireja.
Melihat pancaran sinar dari wajah Jaka Berek, Arya Suradireja terhenyak. Ia teringat kepada peristiwa di Lidah Wetan 19 tahun yang silam. Ia melihat bayangan wajah kepala desa Wangsadrana dan gadis bernama Rara Blengoh.
Tanpa berpikir panjang, Arya Suradireja melapor kepada Adipati Djangrana yang sedang memimpin rapat di pendapa kadipaten.
Sang Adipati terkejut dan juga terharu saat melihat seorang anak muda tampan di depannya.
Jaka Berek dibawa ke dalam kamar kerja Adipati diiringi oleh Arya Suradireja.
Dari dialog singkat di kamar pribadi sang adipati itu, diyakini bahwa Jaka Berek adalah anak kandung Raden Mas Jayengrana.
Tanpa basa-basi, Jaka Berek diajak ke pendapa kadipaten yang sedang ramai dengan pejabat kadipaten.
Jayengrana menyatakan kegembiraannya pada hari itu, karena dipertemukan dengan anak bungsunya, bernama Jaka Berek.
Semua yang hadir terkejut. Anak-anak Djangrana, serta-merta protes. Sawungkarna memperlihatkan kemarahan kepada ayahnya.
Secara kasar Sawungkarna menantang Sawunggaling untuk menguji kesaktiannya di alun-alun Kadipaten.
Sawunggaling hanya diam. Dengan merunduk dia berfikir untuk tidak melayani. Namun batinnya berkata dan seolah-olah menerima bisikan dari kakeknya Wangsadrana.
Perkelahian satu lawan satu antara Sawungkarna dengan Jaka Berek berlangsung seru. Akibat kemarahan Sawungkarna yang memuncak, ia lepas kendali.
Dan dalam sekejap, saat Sawungkarna lengah, Jaka Berek berhasil menangkap tubuh Sawungkarna dan mengunci gerakannya.
Melihat kesaktian Jaka Berek dan khawatir anak-anaknya cedera, Adipati memberi isyarat agar perkelahian itu dihentikan.
Semua yang melihat pun kagum atas kesaktian Jaka Berek. Mereka semua kemudian diajak ke pendapa kadipaten.
Hanya Sawungkarna yang tidak mau, saudara tirinya yang lain menyalami Berek sebagai tanda pernyataan bersaudara.
Sore harinya, di pendapa Kadipaten Surabaya diselenggarakan acara pengangkatan secara resmi Jaka Berek menjadi putera ke 6 Adipati Jayengrana. Empat saudara tirinya ikut menyaksikan, kecuali Sawungkarna.
Pada upacara di sore hari itu, secara resmi Jaka Berek mendapat kehormatan menggunakan nama Sawunggaling.
Setelah selesai menangani masalah Untung Suropati dan Amangkurat lll di Pasuruan, pada pertengahan 1715, Adipati Jayengrana yang merasa sudah tua, di usia 70 tahun mengirim surat kepada Susuhunan Pakubuwana I di Surakarta. Meminta pertimbangan siapa calon penggantinya sebagai Adipati Surabaya.
Setelah membaca surat dari Adipati Surabaya itu, Susuhunan Pakubuwana I berunding dengan patihnya Raden Mas Nerangkusuma.
Akhirnya diputuskan untuk menyelenggarakan sayembara berupa lomba memanah dengan panah pusaka kerajaan bernama Gendhewa Sakti.
Siapa yang berhasil memenangkan lomba ini, akan diangkat menggantikan Adipati Jayengrana selaku penguasa di Surabaya.
Tidak hanya itu, sang pemenang juga berhak menjadi menantu Susuhunan Pakubuwana I, mempersunting Bendara Raden Ayu (BRA) Pembayun, putri sulung penguasa keraton Kartasura.
Pada tanggal 17 Agustus 1715, lomba memanah dengan menggunakan pusaka kerajaan Mataram yang bernama, Gendhewa Sakti siap dilaksanakan.
Dalam suatu upacara yang diikuti 30 peserta yang berasal dari 17 kadipaten di tanah Jawa. Mereka adalah putera para adipati yang masih bujangan, termasuk putra Adipati Jayengrana. Setelah 25 peserta maju dan berupaya melaksanakan lomba, semuanya gagal.
Tibalah giliran putera-putera Adipati Jayengrana, dimulai dari yang bungsu, Raden Mas Umbulsangga, Raden Mas Suradirana, Raden Mas Jaya Puspita, Raden Mas Sawungsari, dan yang terakhir Raden Mas Sawungkarna.
Sawunggaling yang datang kemudian mendaftar pada giliran kedua.
Dengan tenang pemuda yang menyamar dengan sebuah topeng dan mengaku bernama Pangeran Menak Ludra, itu maju ketengah dengan memberi hormat kemudian mengangkat busur dan memegang anak panah lalu menarik tali busur, anak panah dilepas dan tepat mengenai tali pengikat cindhe puspita.
Kain selendang warna merah-putih itu melayang ditiup angin dan jatuh persis di pangkuan Menak Ludra.
Tepuk tangan dan sorak-sorai membahana memuji keterampilan anak muda yang mengaku dari Ujung Blambangan, Banyuwangi itu.
Pemuda yang mengaku Pangeran Menak Ludra itu berdiri dan dengan langkah tegap ia mendekati panggung kehormatan.
Sesampainya di depan para tamu istimewa yang duduk di panggung kehormatan, anak muda yang mengaku bernama Menak Ludra itu membuka topengnya.
Adipati Jayengrana yang duduk di samping Susuhunan Pakubuwana I benar-benar terkejut. Begitu juga rombongan dari Surabaya lainnya.
Mohon ampun gusti Patih, hamba sesungguhnya adalah Sawunggaling, putera ramanda Adipati Jayengrana, katanya terbata-bata menghadap kepada pemimpin upacara Patih Nerang Kusuma.
Antara terkejut bercampur gembira, Adipati Jayengrana menyatakan rasa syukur, karena yang bakal menjadi penggantinya, bukan dari luar Surabaya, tetapi adalah putera dan darah dagingnya sendiri.
Setelah Sawunggaling berada di mimbar utama, Patih Nerang Kusuma mengumumkan, bahwa pengganti Adipati Jayengrana sebagai Adipati Surabaya, adalah Raden Mas Sawunggaling yang kemudian dijodohkan dengan BRA Pembayun.
Pesta pernikahan itu tanggal 17 Agustus 1715 dilangsungkan di keraton Kartasura.
Upacara dipimpin Patih Nerang Kusuma dan dihadiri para adipati dan tokoh masyarakat dari berbagai daerah di Pulau Jawa dan perwakilan petinggi Kompeni Belanda.
Pada tanggal 20 Agustus 1715, Adipati Surabaya yang baru Raden Mas Sawunggaling dilepas Susuhunan Pakubuwana I dari Kartasura berangkat menuju ke Surabaya.
Saat melewati hutan di kawasan Sragen, rombongan Sawunggaling diserang oleh gerombolan perampok Gagak Mataram yang dipimpin Gagak Lodra.
Walaupun kewalahan menghadapi gerombolan yang tidak seimbang dengan rombongan kecil Sawunggaling ini, akhirnya berkat kesaktian Sawunggaling, mereka menang.
Perjalanan diteruskan ke Surabaya melewati Magetan, Madiun, Nganjuk, Jombang, Mojokerto, dan akhirnya sampai di keraton Surabaya pada tanggal 23 Agustus 1715.
Sejak hari itu, resmilah Raden Mas Sawunggaling melaksanakan tugasnya sebagai adipati di Kadipaten Surabaya.
Pada tanggal 4 Januari 1719, BRA Pembayun melahirkan anak laki-laki.
Bayi mungil yang sehat ini atas anugerah dari kakeknya Susuhunan Pakubuwana I, diberi nama Raden Mas Arya Bagus Narendra.
Sebagai seorang adipati, Sawunggaling tetap membina hubungan dengan mertuanya yang menjadi penguasa keraton Kartasura. Saat itu, sikap Susuhunan Pakubuwana I terhadap Belanda sudah berubah.
Sejak ayah Sawunggaling dihukum mati karena permintaan Belanda, Pakubuwono I mulai menjaga jarak dengan pihak kompeni Belanda.
Pakubuwono I merasa menyesal telah membiarkan Tumenggung Djangrana, Adipati Surabaya mati dieksekusi Belanda.
Saat itu Djangrana yang diundang ke keraton Kartasura ketika melewati bangunan Srimenganti dikeroyok oleh gerombolan berpakaian penjaga keraton atas perintah G.Knol pimpinan pasukan Belanda di Semarang.
Kendati mendapat 25 tikaman, namun Jayengrana masih bertahan hidup, kemudian dibawa ke Desa Lawean. Di sanalah Jayengrana menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Ada yang menyatakan, jenazah almarhum dimakamkan di Lawean, ada pula yang menyebut dibawa ke Surabaya.
Seminggu setelah kelahiran anaknya Raden Mas Arya Bagus Narendra, Adipati Sawunggaling diundang ke keraton Kartasura untuk menghadiri upacara pemberian penghargaan atas keberhasilan Sawunggaling menghentikan pemberontakan Cakraningrat III di Madura.
Walaupun ada rasa curiga dan kejanggalan, setelah berunding dengan staf ahli Kadipaten Surabaya Arya Suradireja, Sawunggaling tetap berangkat ke Kartasura.
Di keraton Kartasura Sawunggaling langsung menghadap sang mertua Susuhunan Pakubuwana I dan melaporkan tentang kelahiran anak yang dikandung BRA Pembayun.
Benar saja, pesta yang seolah-olah memberi penghargaan kepada Adipati Sawunggaling, tidak lain adalah jebakan dari Sawungkarna dan Van Hoogendorf Sebagai tuan rumah hendak meracun Adipati Sawunggaling dengan segelas anggur beracun tetapi gagal karena naluri yang tajam dari Adipati Sawunggaling.
Merasa malu akan kelicikannya, Van Hoogendorf segera berlari masuk ke sebuah ruangan. Di sana ia mengambil pistol dan diarahkan kepada Adipati Sawunggaling.
Begitu jari telunjuk Hoogendorf memegang pelatuk, seorang perwira muda Belanda bernama Van Jannsen melompat ke tengah dan peluru pistol Van Hoogendorf menembus dada letnan Van Jannsen.
Saat melihat Jannsen terkapar, Van Hoogendorf, kembali mengokang pistolnya.
Bersamaan dengan itu dengan gerak reflek Sawunggaling mencabut keris dan menghunuskan ke dada Van Hoogendorf. Setelah menembus jantung Hoogendorf, keris itu langsung dicabut.
Hal yang tidak diduga itu membuat Van Hoogendorf limbung dan terjerembab dekat tubuh Van Jannsen.
Para petinggi kompeni Belanda yang hadir berlarian meninggalkan ruangan untuk menyelamatkan diri.
Tidak larut dengan menyaksikan dua jasad tak bernyawa di ruangan itu, Sawunggaling berdiri dan bersama rombongan menuju ke tempat parkir kuda.
Tanpa pamit kepada sang mertua, Susuhunan Pakubuwana I, Sawunggaling yang didampingi Arya Suradireja segera meninggalkan Kartasura.
Sesampainya di Surabaya, Adipati Sawunggaling benar-benar menaruh dendam kepada kompeni Belanda.
Menyadari, perbuatannya membunuh Van Hoogendorf akan berbuntut pada penyerangan Belanda ke Surabaya, Sawunggaling langsung mengatur strategi.
Adipati mengumpulkan para pejabat pemerintahan kadipaten Surabaya untuk menghadapi segala kemungkinan.
Benar saja, kematian dua perwira Belanda di Kartasura itu membuat Gubernur Jenderal Belanda di Batavia Hendrik Zwaardeckroom marah besar.
Ia langsung mengangkat Pieter Speelman sebagai pengganti Van Hoogendorf. Saat itu juga ia mengeluarkan Surat Perintah untuk menangkap Sawunggaling.
Walaupun berduka, atas mangkatnya Ingkang Sinuwun Susuhunan Pakubuwana I, tanggal 13 Maret 1719, Sawunggaling maupun BRA Pembayun terpaksa tidak bisa menghadiri upacara pemakaman sang mertua.
Pieter Speelman yang ditunjuk menggantikan Van Hoogendorf, mendapat laporan tentang kehebatan Laskar Sawunggaling menumpas anak buahnya di perbatasan Lamongan dan Mojokerto.
Salah satu peperangan yang seru terjadi tanggal 10 Februari 1723. Pasukan Belanda yang dikomandani Letnan Bernard van Aken benar-benar terpukul. Kalah telak. Pasukan yang dipimpinnya berhasil terpaksa mundur sampai Bojonegoro dan Tuban.
Apalagi waktu itu, Adipati Sawunggaling berhasil menjalin kerjasama dengan pasukan laut Portugis pimpinan Kapten Laut Francisco Santos Rodriguez yang berada di Laut Jawa.
Dalam pertempuran di sekitar pelabuhan Sedayu Gresik, pasukan gabungan Laskar Sawunggaling dengan pasukan Portugis, berhasil mengalahkan armada laut Belanda. Seluruh pasukan Belanda di kapal dinyatakan tewas, kecuali ABK.
Tidak tahan mendengar laporan kekalahan demi kekalahan yang diderita pasukannya dari pembantaian Laskar Sawunggaling, Speelman langsung mengambialih pasukan.
Ia memimpin sendiri divisi tempur yang didatangkan dari Eropa, Batavia dan Semarang menyerbu pertahanan Laskar Sawunggaling di Lamongan dan Mojokerto.
Dalam pertempuran sengit itu di pinggir Bengawan Solo, di wilayah Lamongan, Raden Mas Umbulsangga bersama 20 orang pasukannya gugur sebagai pahlawan.
Komandan Laskar Sawunggaling diserahkan kepada Raden Mas Suradirana, saudara kembar Raden Mas Umbulsangga.
Namun, dalam pertempuran akhir Maret 1723, Raden Mas Suradirana juga gugur sebagai pahlawan.
Ia menghembuskan nafas terakhir saat terkepung musuh dan tubuhnya dihujani puluhan ujung bayonet pasukan Belanda yang haus darah.
Dari hari ke hari pasukan Kompeni Belanda terus bertambah. Pertempuran atara pasukan Kompeni dengan Laskar Sawunggaling semakin gencar.
Adipati Sawunggaling yang kehilangan dua saudaranya di medan tempur makin terdesak. Ia berunding dengan staf ahli kadipaten Surabaya Arya Suradireja. Mereka sepakat meninggalkan kadipaten untuk menyelamatkan keluarganya.
Tempat berlindung yang dianggap cukup aman waktu itu adalah Benteng Providentia (benteng miring) di daerah Ujung Surabaya, dekat muara Sungai Kalimas.
Adipati Sawunggaling membawa ibundanya Raden Ayu Dewi Sangkrah bersama isterinya Bendara Raden Ayu Pembayun, serta puteranya Raden Mas Arya Bagus Narendra ke Benteng Providentia.
Dalam serangan besar-besar yang dilakukan pasukan Pieter Speelman ke Benteng Providentia, Adipati Sawunggaling yang memimpin sendiri Laskar Sawunggaling terkepung.
Di sinilah, akhirnya sang adipati mendapat hadiah timah panas, dari senapan pasukan Speelman. Anehnya, tubuh Sawunggaling yang sempoyongan lenyap, saat tersandar di dinding benteng.
Konon beberapa prajurit setia Laskar Sawunggaling sempat menyembunyikan jenazah Sawunggaling, kemudian melarikan jasadnya menuju desa Lidah Wetan.
Agar tidak diketahui Belanda, Sang Adipati dimakamkan malam hari di tanah kelahirannya, berdampingan dengan kakeknya Wangsadrana alias Raden Mas Karyosentono.
Paman Arya Suradireja menyelamatkan Raden Ayu Dewi Sangkrah ibunda Sawunggaling beserta BRA Pembayun dan Raden Mas Arya Bagus Narendra yang saat itu berusia empat tahun.
Tatkala BRA Pembayun keluar dari gerbang benteng Providentia sembari mengendong Arya Bagus Narendra menuju kereta kuda, para petinggi Kompeni Belanda yang berbaris di depan benteng sertamerta memberi hormat dengan membuka topinya.
Di antara petinggi kompeni Belanda itu adalah Pieter Speelman yang mengetahui BRA Pembayun adalah puteri almarhum Susuhunan Pakubuwana l.
Konon, ketika diberitahu kalau jasad Sawunggaling sudah dibawa ke Lidah Wetan, Raden Ayu Sangkrah minta diantarkan ke rumahnya di Lidah Wetan.
Sedangkan BRA Pembayun bersama Raden Mas Arya Bagus Narendra dibawa ke Kartasura.
Dengan gugurnya Adipati Sawunggaling sebagai pahlawan bangsa di benteng Providentia itu, maka pimpinan pemerintahan Kadipaten Surabaya kosong.
Kekuasaan sementara diambil alih oleh pihak Belanda. Tidak berapa lama, Kadipaten Surabaya dipimpin oleh Ki Tumenggung Panatagama.
Perjuangan Sawunggaling sampai titik darah penghabisan itu tidak dilupakan oleh Arek Suroboyo. Ia mewakili ketangguhan budaya Arek menghadapi hegemoni budaya Mataram. (jeha)
Baca juga :
- Piala Dunia FIFA 2026: Korea Selatan Imbangi Meksiko 0-0 Babak Pertama
- Thomas Tuchel: Pemain Timnas Inggris Perlihatkan Karakter Tim Sebenarnya di Babak Kedua, Inggris 4-2 Kroasia
- Tasmi Al-Qur’an Rumah Tahfidz Al-Qur’an Opung (RTO), Dalam Munaqosyah Semester Santriwan dan Santriwati
- INFO LOKER DKI Jakarta 2026: Program Padat Karya dengan Gaji Setara UMP Rp5,7 Juta per Bulan
- MTs dan SMP Islam Al Huda Rawasapi: Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


