Ketika Sultan Agung Serbu Batavia, Hingga Gubernur Jenderal Meninggal Dunia

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Boleh saja Sultan Agung kalah dalam perang melawan Kompeni. Namun patut diakui, perang itu telah membuat Gubernur Jenderal Kompeni JP Coen kalah. Ketika untuk kedua kalinya Sultan Agung menyerbu Batavia pada 1829, Gubernur Jenderal JP Coen jatuh sakit. Alih-alih berobat, JP Coen malah memimpin perang melawan tentara Mataram. Akibatnya, sakit Gubernur Jenderal JP Coen semakin parah. “Pada tanggal 20 September 1829 mendadak sakit parah dan akhirnya meninggal,” kata L van Rijckevorsel, direktur Normaalschool Ambarawa. Andai Sultan Agung tidak menyerbu Batavia saat itu, JP Coen tentu memiliki waktu untuk berobat dan beristirahat. Serbuan Sultan AGung membuat gubernur jenderal itu tidak mendapatkan perawatan memadai. Takdir berkata lain. Kalah dalam perang 1828 tak membuat Sultan Agung berhenti, hingga pada 1829 ia mengirim pasukan lagi ke Batavia. Pasukan pertama berangkat dari Ukur, dipimpin oleh Adipati Ukur pada Mei 1829. Dari Mataram, pasukan dipimpin oleh Penambahan Juminah pada Juni 1829. Pada 21 Agustus 1829, pasukan Adipati Ukur meghalau ternak milik Kompeni untuk mengacau perhatian Kompeni agar bisa selamat mendekati Batavia. Pada 31 Agustus, pasukan di bawah Panembahan Juminah juga mendekati Batavia. Mereka berkemah di sebelah barat, selatan, dan timur Batavia. Sebelum mereka tiba di sekitar Batavia, JP Coen sudah mendapat bocoran mengenai pasukan Mataram yang ini dari Raja Cirebon. Mendapat informasi Mataram akan menyerbu Batavia lagi, Gubernur Jenderal Kompeni itu kemudian juga menyiapkan diri, kendati ia sedang sakit. Tapi persiapan JP Coen ini “terganggu” oleh kedatangan Warga, utusan Sultan Agung dari Tegal. Pada 20 Juni 1829, ketika Panembahan Juminah bersama pasukananya berangkat dari Mataram, Warga sudah tiba di Batavia. Bersama Warga, ada orang tawanan yang dibawa Warga. Warga juga membocorkan informasi bahwa Sultan AGung akan menyerbu lagi Batavia. Warga juga menceritakan bahwa Tegal akan dijadikan pusat gudang perbekalan pasukan Mataram. Gubernur Jenderal JP Coen pun mengubah prioritas tindakan. Ia mengirim tiga kapal ke Tegal. Pada 4 Juli 1829 kapal-kapal Kompeni itu memusnahkan 200 kapal Sultan Agung. Kompeni juga aturun ke darat untuk memakar 400 rumah dan satu gunungan padi. Dari Tegal, tiga kapal dari Batavia itu bergerak ke Cirebon. Gunungan padi di Cirebon juga dimusnahkan oleh Kompeni. Tak ada laporan prajurit Sultan Agung yang meninggal di Cirebond dan Tegal.

Read More

Beberapa Makanan Kesukaan Sunan Kalijogo yang Masih Melegenda

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Garang asem merupakan salah satu menu masakan yang sangat disuka oleh Sunan Kalijaga. Tapi bukan garang asem daging ayam, melainkan garang asem daging kerbau. Bisa terbayang, Sunan Kalijaga yang pernah berdakwah pada abad ke-15 menyukai makanan garang asem tersebut. Artinya masakan seperti sup bernama garang asem itu sudah berumur berabad-abad. Hingga kini menu tradisional Jawa ini biasanya disajikan saat rangkaian prosesi penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga, terdapat makanan yang selalu tersaji di Pendopo Pangeran Wijil V, Kadilangu, Demak, Jawa Tengah. Makanan tersebut dinamakan caus dahar, yang berisi garang asem tersebut. “Biasanya syukuran dilakukan setelah penjamasan bertujuan sebagai bentuk rasa syukur (ahli waris), karena telah melaksanakan tugasnya (penjamasan) yang berjalan dengan lancar,” terang Pelaksana Tugas Penjamasan Peninggalan Pusaka Sunan Kalijaga, Raden Krisnaedi, di Pendopo Pangeran Wijil V, di Kadilangu, Demak kepada 1miliarsantri.net, Selasa (28/5/2024). Seperti diketahui, ahli waris Sunan Kalijaga rutin menggelar prosesi penjamasan atau mencuci pusaka peninggalan Sunan Kalijaga dengan minyak jamas, setiap 10 Dzuhijah atau Hari Raya Idul Adha. Krisnaedi menyebutkan, selain garang asem, makanan kesukaan Sunan Kalijaga yang selalu ada usai prosesi penjamasan, dan makanan jenis lain. Seperti rasulan, atau nasi gurih. Bahan dari caus dahar tersebut, lanjutnya, yakni terdiri dari mengkudu, gereh petek (ikan asin), lele, sambel goreng, nasi dan sayur-sayuran lain. “Caus dahar ini merupakan karemenan atau kesukaan Eyang Sunan Kalijaga,” imbuhnya.

Read More

Ketika Danau Tiberias Kekeringan

Yordan — 1miliarsantri.net : Danau Tiberias dan Thabariyah yang mengering dikaitkan dengan kemunculan Yajuj dan Majuj . Pasalnya keringnya danau Tiberias disinyalir sebagai akan datangnya Yajuj dan Majuj sebagai tanda akhir zaman atau kiamat. Seperti dituliskan dalam dari Researchgate, faktanya, penyedot air di Danau Tiberias saat ini adalah Israel. Sejak tahun 1964 air danau sudah dieksploitasi secara besaran oleh perusahaan nasional Israel HaMovil haArtzi. Air danau Tiberias dialirkan ke seluruh penjuru Israel melalui pipa raksasa, pemompaan dengan skala besar, kanal dan danau buatan. Rata-rata per hari dikuras 1,7 juta m3 air dari danau itu atau 400 juta m3 per tahun. Danau Tiberias sebelumnya berada di wilayah Palestina. Tapi saat ini, telah diklaim Israel sebagai bagian wilayahnya. Danau ini pun berganti menjadi beberapa nama, yaitu Danau Galilea, Danau Genesaret, Danau Kineret, Danau Kinerot, dan disebut juga sebagai Danau Tiberias. Berbeda dengan danau laut mati atau Dead Sea yang berada di sebelah selatan danau ini, Danau Thabariyah berair tawar. Sementara, danau laut mati berair asin. Israel menjadikan danau ini sebagai suplai air minum mereka. Memiliki luas 166 km persegi. Kedalaman danau ini mencapai 43 meter. Menariknya, danau ini berada pada 211 meter di bawah permukaan laut. Karena itulah, dijuluki danau air tawar terendah di dunia.

Read More

Kisah Bung Karno Ngaku Pelagak

Jakarta — 1miliarsantri.net : Hari ulang tahun pertama Angkatan Perang akan dilakukan pada 5 Oktober 1946. Perencanaannya penuh gegap gempita. Bung Karno sebagai panglima tertinggi Angkatan Perang akan melakukan inspeksi pasukan dengana cara yang megah dan mengagumkan dengan naik kuda. Padahal ia tak pernah naik kuda. Mengaku sebagai pelagak, ia akan menunjukkan hal yang layak dilakukan oleh pelagak. “Untuk pawai besok berilah saya kuda yang paling lunak, paling tua, paling jinak dan yang hampir mendekati kematiannya,” perintah Bung Karno kepada seorang perwira kavaleri. Di rumah, Fatmawati pun terheran-heran mendengar keinginan Bung Karno itu. Tentu saja, karena ia belum pernah melihat Bung Karno naik kuda. Maka, kita pun layak heran. Sebab yang sering kita lihat di foto-foto adalah Bung Karno sedang naik sepeda ontel. Baik itu naik sepeda sendirian maupun berdua bersama Fatmawati yangduduk di boncengan belakang. Kenapa inspeksi pasukan tidak menggunakan sepeda saja? Tidak. Bung karno ingin upacara peringatan Angkatan Perang itu bernagsung secara medah dan menganggumkan. Naik sepeda tidak memperlihatkan kemegahan yang ia inginkan. Maka, naik kuda menjadi pilihan utama. “Jadi bagaimana caranya?” tanya Fatmawati. “Aku hendak menghadapi kenyataan bahwa aku orang pelagak. Karena itu aku hendak melakukan apa yang diperbuat oleh orang yang pelagak. Aku akan belajar naik kuda,” kata Bung Karno. “Kan pawainya besok?” sahut Fatmawati. “Ya, saya akan belajar dalam satu hari,” jawab Bung Karno. Seorang perwira kavaleri melatih Bung Karno naik kuda. Tetapi ketika perwira itu tidak setuju Bung Karno naik kuda tua, Bung Karno yang pelagak itu menjadi grogi. “Tidak, Pak. Tidak pantas untuk Bapak. Kuda yang disediakan harus yang muda dan garang,” kata perwira itu. Sang perwira memiliki alasan kuat. Angkatan Perang harus memiliki semangat tempur. “Dia harus memperlihatkan semangat tempur yang menyala-nyala dan kuda yanag terbaik dari seluruh kelompok,” kata perwira itu. Bung Karno layak gugup mendengar pe njelasan perwira itu, karena ia memang berlum pernah naik kuda. “Di masa yang sudah-sudah, pergaulanku dengan kuda hanya sekadar menepuk-nepuk kuduknya saja,” kata Bung Karno.

Read More

Sejarah Pertama Kali Haji Dilaksanakan

Jakarta — 1miliarsantri.net : Haji adalah ibadah yang diwajibkan kepada setiap umat Islam yang mampu menjalankannya. Siapa yang pertama kali menunaikan ibadah haji? Berikut beberapa pendapat mengenai hal tersebut. Perintah melakukan haji dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Ali ‘Imran ayat 97. Allah SWT berfirman, فِيْهِ اٰيٰتٌۢ بَيِّنٰتٌ مَّقَامُ اِبْرٰهِيْمَ ەۚ وَمَنْ دَخَلَهٗ كَانَ اٰمِنًاۗ وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًاۗ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ Artinya: “Di dalamnya terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) Maqam Ibrahim. Siapa yang memasukinya (Baitullah), maka amanlah dia. (Di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, (yaitu bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Siapa yang mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu pun) dari seluruh alam.” Menukil buku Menuju Umrah dan Haji Mabrur karya Syaiful Alim, pendapat mengenai sejarah pelaksanaan haji dapat dirujuk dari kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau-i al-Mashadir al-Ashliyah karya Mahdi Rizqullah Ahmad, Akhbar Makkah wa Ma Ja’ala min al-Atsar karya Muhammad bin Abdullah al-Azraqi, dan Tarikh Makkah al-Mukarramah Qadiman wa Haditsan karya Muhammad Ilyas Abdul Ghani. Sejarah Haji Dimulai dari MalaikatDikisahkan bahwa sejarah haji dimulai ketika para malaikat menggugat kebijakan-Nya dalam menciptakan manusia. Hal ini tertera dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 30. وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.’ Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’ Dia berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’.” Pada akhirnya, malaikat merasa bersalah. Mereka mengelilingi Arsy (tawaf) seraya menangis dan memohon ampun atas kelancangan kepada-Nya. Allah SWT pun membuat miniatur Arsy bernama Baitul Makmur (Ka’bah). Di tempat ini, para malaikat melanjutkan tawaf. Nabi Adam AS Melakukan Haji Mengikuti MalaikatDikisahkan pula bahwa setelah Nabi Adam AS dan Hawa diturunkan ke bumi, mereka segera bertobat dan memohon ampunan kepada Allah SWT. Menurut riwayat dari Ibnu Abbas RA, Nabi Adam AS juga melakukan tawaf. Melihat Nabi Adam AS yang tengah melakukan tawaf, para malaikat menemuinya seraya berkata, “Semoga hajimu mabrur, wahai Adam. Sesungguhnya kami telah melaksanakan ibadah haji di Baitullah ini sejak 2.000 tahun sebelum kamu.” Nabi Adam AS pun bertanya kepada para malaikat, “Pada zaman dahulu, apa yang kalian baca ketika tawaf?” Mereka menjawab, “Dahulu, kami mengucapkan Subhaanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar.”

Read More

Sosok RA Kartini yang Memiliki Hobi Gemar Membaca

Jepara — 1miliarsantri.net : RA Kartini salah satu tokoh pejuang dsn pergerakan emansipasi wanita memiliki hobi gemar membaca. Banyak buku yang sudah ia baca, tetapi ia menolak untuk membaca buku karya PJ Veth. Padahal buku karya etnolog Belanda itu mendapat penghargaan dari Kongres Geografi di Paris pada 1873. Lalu mendapat penghargaan lagi dari Kongres Geografi di Venesia pada 1881. Selain itu, Yayasan Thorbecke juga memberi penghargaan pada 1882. Buku itu, Java, terdiri dari tiga jilid terbit sejak 1875 hingga 1882. Tapi, begitu ia menemukan buku yang ia suka, ia akan membaca buku itu tanpa jeda dengan cara mengurung diri di kamar. Alasannya tentu bukan karena buku itu berbahasa Belanda, sebab RA Kartini cukup mahir berbahasa Belanda. Ia, misalnya, membaca buku De Wapens Neergelegd karya Bertha von Suttner yang pada 1905 menerima Nobel. Buku itu berbicara tentang perjuangan memenangkan perdamaian sosial. RA Kartini memang menyukai tema-tema sosialisme. Karenanya, ia juga membaca buku roman berjudul De Vrouw en het Socialisme karya August Bebel. Ia bahkan pernah mengurung diri di kamar untuk menuntaskan membaca buku roman setebal 567 halaman tanpa jeda. Roman itu berbicara tentang emansipasi perempuan, judulnya Hilda van Suylenburg, karya C Goekoop de Jong. Bahkan ia sampai mengulang membaca hingga tiga kali. “Mau aku mengorbankan segala-galanya kalau saja diperoleh hidup di masa Hilda van Suylenburg,” tulis Kartini 25 Mei 1899. Buku bertema emansipasi perempuan yang pertama ia baca ya Hilda van Suylenburg itu. Ia kagum pada dampak gerakan emansipasi perempuan di Eropa yang digambarkan buku itu. “Percayakah kau, kalau Hilda van Suylenburg itu aku tamatkan tanpa berhenti? Aku kurung diriku di dalam kamar terkunci, lupa segala-galanya, tak dapat aku melepaskan dia dari tangan, dia begitu menyeret hatiku,” tulis Kartini pada 12 Januari 1900. Setelah RA Kartini menikah, ia mengutarakan niatnya melakukan sesuatu ala Hilda van Suylenburg. Sebelumnya ia juga telah membaca buku Moderne Vrouwen terjemahan dalam bahasa Belanda dari buku Prancis. Namun, ia tidak menyukai buku itu. Ia kembali ke buku Hilda van Suylenburg. “Sekarang kami akan melakukan sesuatu ala Hilda van Suylenburg: seorang ibu dengan bayi dalam gendongan pergi bekerja,” tulis Kartini pada 8 Juni 1904. Menyukai karya-karya Barat, bukan berarti RA Kartini tidak menyukai buku yang membahas mengenai Jawa. Ia membaca Wedhatama dan Centhini, sehingga mendapat wawasan mengenai nilai-niai Jawa. Ia juga membaca buku-buku hikayat wayang. Ia pun membaca buku-buku Multatuli. Setelah menuntaskan Max Havelaar, RA Kartini lalu membaca Minnebrieven, yang diterbitkan setelah Max Havelaar. Ia membaca dua kali Minnebrieven.

Read More

Ketika Bung Karno Memulangkan Istri Pertamanya, Putri HOS Cokroaminoto

Surabaya — 1miliarsantri.net : Ketika bersekolah di HBS Surabaya, Bung Karno tinggal di rumah HOS Tjokroaminoto. Pemimpin Sarekat Islam itu pun kemudian menjodohkan anaknya, Siti Utari, dengan Bung Karno. Lulus dari HBS, Bung karno melanjutkan sekolah di Technische Hoogeshool te Bandoeng (THB). Namun, setelah lulus dari THB mengapa ia ceraikan Siti Utari, istri pertamanya itu? Setelah memulangkan Siti Utari ke orang tuanya, Tjokroaminoto, Bung Karno pulang ke Blitar. Ia sungkem kepada ibunya sebelum mengutarakan isi hatinya, “Ibu, saya tidak beruntung.” Baru mengungkapkan satu kalimat, air matanya meleleh. Ibu Bung karno menjadi gusar, karena belum memahami maksud kalimat Bung Karno. “Ya anakku, kau kenapa? Bicaralah yang terang,” kata ibu Bung Karno. Lama Bung Karno tak menjawab pertanyaan ibunya. Dadanya membuncah. Ibunya terus mendesak, “Karno, bicaralah yang terang. Ibu tidak marah, ada apa?” “Utari sudah pulang kepada orangb tuanya,” jawab Bung Karno. “Oh, kenapa ia pulang? Apa kau kurang berharga untuknya?” tanya ibu Bung Karno. “Bukan begitu, Ibu. Hanya saya yang antarkan pulang,” jawa Bung Karno. “Apa ia bersalah?” “Tidak Ibu, jauh dari itu.” “Dan kenapa diantarkan pulang?” “Oh, buat keberuntungannya Utari sendiri,” jawab Bung Karno. “Oh, Kusno, engkau membuat aku jadi bingung. Tuturkanlah duduk perkaranya,” kata Ibu Bung Karno menyapanya dengan nama kecil anaknya, Kusno. Mendengar ibunya menyapanya dengan nama kecil, Bung Karno mengangkat kepalanya dari pangkuan ibunya. Setelah itu ia arahkan pandangannya ke luar jendela, lalu menarik napas panjang. Setelah mengatur hatinya, ia mendapatkan kekuatan untuk melanjutkan perkataannya. Ia lalu menjelaskan kepada ibunya alasan ia ceraikan anak Tjokroaminoto, istri pertamanya. “Ibu, tentu Ibu tidak kejam untuk kemudian menyalahkan saya dalam hal ini,” kata Bung Karno. Ia lalu bercerita saat ia meminta restu kepada ibunya untuk menikahi Siti Utari. Ia menyatakan saat itu ia masih terlalu muda untuk memikirkan arti pernikahan. “Ibu, Utari juga tidka bisa disalahkan karena ia juga masih terlkalu muda,” kata Bung Karno. Tak ada yang salah dalam cinta mereka. Bung Karno mengaku sangat mencintai Utari kendati pernikahan itu karena dijodohkan oleh ayah Utara, Tjokroaminoto.

Read More

Setelah Bertemu Wahidin, Lahirlah Budi Utomo dan Hari Kebangkitan Nasional

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Setelah berkeliling ke berbagai wilayah, dokter Wahidin Soedirohoesodo beristirahat di Batavia pada pertengahan 1907. Dokter Soetomo berkesempatan bertemu dengannya. Soetomo menyimak cerita Wahidin dengan penuh seksama. Pertemuan inilah yang mendorong Soetomo mewujudkan pendirian Budi Utomo pada 1908. Delapan pendiri Budi Utomo tindak tanduknya dinilai Douwes Dekker sangat tenang, kurang cocok dengan kondisi zaman saat itu. Tapi, sekarang tanggal lahir Budi Utomo diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Wahidin bercerita mengenai upaya penggalangan beasiswa yang dihalang-halangi pihak Belanda. Saat ia tiba di suatu daerah sudah tersiar kabar para priyayi tak akan menghadiri pertemuan dengan Wahidin. Para priyayi itu dihalang-halangi oleh asisten residen agar tidak menemui Wahidin. Wahidin pun bergegas menghadap asisten residen itu. Soetomo, yang dikutip Ketua Budi Utomo periode 1917-1918, menceritakannya sebagai berikut: Sesoedahnja masoek didalam kantor toean Ass.-Resident itoe, tinggallah beliau berdiri dengan diam, hingga toean Ass.-Resident menengok padanja. Toean Ass.-Resident mendjadi sabar, seketika itu djoega, moekanja mendjadi manis dan tersenjoem poela. Maka kata Toean Ass.-Resident padanja: “Dokter, maksoedmoe haroes ditoendjang sekoeat-koeatnja. Baiklah berbitjara pada hari malam conferentie, hingga sekalian ambtenaar saja dapat mendengarnja.” Maka dengan bantoean toean Ass.-Resident ini, jang moela asalnja bermaksoed akan merintangi kemaoeannja itoe, dapatlah beliau perhatian jang loear biasa besarnja. Kesediaan Wahidin menghadap asisten residen dan berdiam diri selama belum disapa, memberikan gambaran bahwa sebagai orang Jawa Wahidin bisa menunjukkan sikap anak kepada bapak agar keinginannya dituruti orang tua. Demikianlah, sebab orang-orang Belanda memang memosisikan dirinya sebagai “bapak” bagi bangsawan Jawa. Dengan kesadaran barunya, Soetomo bersama tujuh pemuda bangsawan Jawa yang menempuh studi di STOVIA mendirikan Budi Utomo pada 20 Mei 1908. Di kemudian hari, tanggal kelahiran Budi Utomo diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Budi Utomo yang tenang menggambarkan karakter para pendirinya. Dengan tenang, Budi Utomo memperjuangkan perluasan pendidikan bagi orang Indonesia seperti yang telah diperjuangkan oleh dokter Wahidin Soedirohoesodo, tapi tujuh tahun kemudian, mulai 1915, menekuni urusan politik juga. Ketenangan Budi Utomo yang didirikan dokter Soetomo itu khas bangsawan Jawa. Itu membuat EFE Douwes Dekker perlu menyentilnya. Douwes Dekker menganjurkan agar anggota Budi Utomo tidak memakai kain saat mengadakan pertemuan. Sebagai anak bangsawan, mereka selalu mengenakan kain dan blangkon dengan mondolan di bagian belakang ketika belajar di STOVIA dan di dalam pertemuan-pertemuan Budi Utomo. Itu merupakan cara berpenampilan yang baik bagi bangsawan muda Jawa yang mau bangkit pada saat itu, sehingga tanggal lahir Budi Utomo dijadikan sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Read More

Kisah Sunan Amral Mengenakan Baju Kompeni Saat Menjemput Pakubuwono 1

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Pakubuwono I menuruti permintaan Adipati Urawan mengirim utusan untuk menghadap Amangkurat II. Urawan saat itu menyamar sebagai tukang rumput menemui Pakubuwono I sebagai utusan Amangkurat II untuk menghentikan perang kakak adik berebut keraton Mataram. Dalam suratnya yang dititipkan kepada utusan, Pakubuwono I menyerahkan hidup matinya kepada Sunan Amral alias Amangkurat I. Setelah membaca surat itu Sunan Amral pun berniat menjemput adiknya, Pakubuwono I. Saat menjemput, Sunan Amral mengenakan pakaian Kompeni. Prajurit Mataram pengiring Pakubuwono I pun bersiaga, Sunan Amral hampir fiserbu lagi karena dikira musuh. Sebelum penjemputan dilakukan, Sunan Amral memerintahkan kepada Patih Nerangkusumo untuk menyiapkan tempat tinggal untuk Pakubuwono I. Tempat tinggal itu tidak boleh jauh dari keraton. Selama tujuh hari tempat tinggal dipersiapkan di sebelah barat pasar. Semua perlengkapan didatangkan dari keraton. Saat hari penjemputan tiba, Sunan Amral naik gajah. Pakubuwono I meminta para prajurit mengikat tombak. Tembang kodhok ngorek bergema dari gamelan, genderang bergemuruh. Gara-gara Sunan Amral datang dengan mengenakan pakaian Kompeni, prajurit Pakubuwono I melepas tombak-tombak dari ikatannya. Mereka bersiap menyerbu Sunan Amral, membuat prajurit Kartosuro yang mengiring Sunan Amral kalang kabut. Pakubuwono I kaget dibuatnya sehingga bertanya kepada punggawanya. Ia mendapat jawaban jika ada yang datang mengenakan pakian Kompeni. Itulah yang membuat para prajurit bersiaga. Pakubuwono I pun segera meminta Adipati Urawan menemui Sunan Amral untuk memberi tahu bahwa penampilannya membuat prajurit Mataram terkejut. Mereka menganggap yang datang adalah musuh. Prajurit Kartosuro yang sudah melarikan diri menduga, Pakubuwono I hanya pura-pura menyerah. Mereka menduga Pakubuwono I akan mengamuk begitu sudah dekat dengan Sunan Amral.

Read More

Ketika Sultan Agung Buatkan Kelompok Orang Kalang Permukiman

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Di Jawa ada kelompok masyarakat yang disebut sebagai orang Kalang, dimana mereka hidup di tengah hutan yang berprofesi sebagai tukang kayu yang dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah undagi. Kelompok masyarakat ini sudah ada sejak abad ini ke-8, pada masa Sultan Agung Mataram mereka dibuatkan permukiman. Tujuannya agar mereka tidak berpindah-pindah tinggal di hutan. Permukiman itu dibangun pada 1636. Lokasinya ada di dalam dan di luar ibu kota Mataram. Selama abad ke-8 hungga ke-15, mereka tunggal berpindah-pindah di tengah hutan. Meski mengasingkan diri, mereka berknteraksi juga dengan masyarakat luar hutan. Kemahiran mereka mengolah berbagai peralatan dari kayu dibutuhkan oleh masyarakat di luar kelompok mereka. Dalam perkembangannya, wilayah jelajah mereka mskin berkurang, setelah terjadi pembabatan hutan untuk berbagai keperluan. Hutan di wilayah pesisir semakin terbuka setelah diperlukan banyak kayu untuk membuat kapal. Maka mereka yang pelan-pelan semakin masuk ke dalam hutan skhirnya ke luar hutan juga setelah hutan semakin berkurang. Sultan Agung memahami kesulitan mereka sehingga membuatkan permukiman. Kampung mereka disebut Kalangan atau Pekalangan. Di antara mereka ada juga yang dijadikan sebagai abdi dalem di keraton. Sebagai abdi dalem, tugasnya membangun rumah, masjid, mrmbuat gerobak pedati, dan sebagainya. Dengan tugas itu, maka mereka juga harus mencari kayu jati di hutan. Lalu membawanya keluar hutan untuk dipakai sebagai bahan berbagai peralatan dan bangunan. Sebelum digunakan, kayu-kayu itu dikumpulkan di alun-alun. Kayu-kayu itu kemudian mereka olah sesuai kebutuhan. Tapi di lingkungan masyarakat keraton saat itu, keberadaan orang Kalang dianggap hina. Meski sudah dibuatkan perkampungan sejak zaman Sultan Agung, mereka masih biasa berpindah-pindah.

Read More