Kisah Bung Karno Ngaku Pelagak

Dengarkan Artikel Ini

Jakarta — 1miliarsantri.net : Hari ulang tahun pertama Angkatan Perang akan dilakukan pada 5 Oktober 1946. Perencanaannya penuh gegap gempita. Bung Karno sebagai panglima tertinggi Angkatan Perang akan melakukan inspeksi pasukan dengana cara yang megah dan mengagumkan dengan naik kuda. Padahal ia tak pernah naik kuda.

Mengaku sebagai pelagak, ia akan menunjukkan hal yang layak dilakukan oleh pelagak. “Untuk pawai besok berilah saya kuda yang paling lunak, paling tua, paling jinak dan yang hampir mendekati kematiannya,” perintah Bung Karno kepada seorang perwira kavaleri.

Di rumah, Fatmawati pun terheran-heran mendengar keinginan Bung Karno itu. Tentu saja, karena ia belum pernah melihat Bung Karno naik kuda.

Maka, kita pun layak heran. Sebab yang sering kita lihat di foto-foto adalah Bung Karno sedang naik sepeda ontel. Baik itu naik sepeda sendirian maupun berdua bersama Fatmawati yangduduk di boncengan belakang. Kenapa inspeksi pasukan tidak menggunakan sepeda saja?

Tidak. Bung karno ingin upacara peringatan Angkatan Perang itu bernagsung secara medah dan menganggumkan. Naik sepeda tidak memperlihatkan kemegahan yang ia inginkan. Maka, naik kuda menjadi pilihan utama.

“Jadi bagaimana caranya?” tanya Fatmawati.

“Aku hendak menghadapi kenyataan bahwa aku orang pelagak. Karena itu aku hendak melakukan apa yang diperbuat oleh orang yang pelagak. Aku akan belajar naik kuda,” kata Bung Karno.

“Kan pawainya besok?” sahut Fatmawati.

“Ya, saya akan belajar dalam satu hari,” jawab Bung Karno.

Seorang perwira kavaleri melatih Bung Karno naik kuda. Tetapi ketika perwira itu tidak setuju Bung Karno naik kuda tua, Bung Karno yang pelagak itu menjadi grogi.

“Tidak, Pak. Tidak pantas untuk Bapak. Kuda yang disediakan harus yang muda dan garang,” kata perwira itu. Sang perwira memiliki alasan kuat. Angkatan Perang harus memiliki semangat tempur.

“Dia harus memperlihatkan semangat tempur yang menyala-nyala dan kuda yanag terbaik dari seluruh kelompok,” kata perwira itu.

Bung Karno layak gugup mendengar pe njelasan perwira itu, karena ia memang berlum pernah naik kuda. “Di masa yang sudah-sudah, pergaulanku dengan kuda hanya sekadar menepuk-nepuk kuduknya saja,” kata Bung Karno.


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca