Pengertian dan Adab-adab Safar Menurut Rasulullah SAW

Dengarkan Artikel Ini

Jakarta — 1miliarsantri.net : Pengertian safar dalam fiqih Islam adalah keluar dari tempat tinggal untuk melakukan perjalanan jauh. Salah satu contoh safar yang identik dengan masyarakat Indonesia adalah mudik Lebaran.

Dalam Islam, ada beberapa adab safar yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu:

  1. Safar pada hari Kamis

Jika tidak mendesak, maka bepergianlah pada hari Kamis karena itu sunnah. Disebutkan dalam hadits:

Ka’ab Bin Malik Radhiallahu ‘anhu menceritakan “Jarang sekali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai melakukan safar di selain hari kamis” (HR Ahmad dan Ad-Darimi).

  1. Melunaskan semua hak-hak yang terbebankan

Sebelum mudik Lebaran, dianjurkan untuk menyelesaikan urusan dengan sesama seperti utang, barang pinjaman, dan lainnya.

“Sungguh Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak” (An-Nisa : 58)

  1. Melaksanakan shalat dua rakaat

“Jika engkau keluar dari rumahmu maka lakukanlah shalat dua raka’at yang dengan ini akan menghalangimu dari kejelekan yang berada di luar rumah. Jika engkau memasuki rumahmu maka lakukanlah shalat dua raka’at yang akan menghalangimu dari kejelekan yang masuk ke dalam rumah.” (HR. Al-Bazzar)

  1. Berwasiat

Ada seseorang yang mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan “Ya Rasulullah, saya hendak safar. Mohon nasihatilah saya.” Beliau bersabda, “Bertakwalah kepada Allah, dan bertakbirlah setiap melewati jalan menanjak.” Ketika orang tersebut pergi, beliau berdo’a “Ya Allah, Pendekkanlah jarak bumi untuknya dan mudahkanlah perjalanan safarnya.” (HR. Ahmad dan Turmudzi)

“Aku titipkan kepada Allah Agamamu, amanahmu, dan ujung akhir amalmu.” (HR.Ahmad dan Abu Daud)

Di antara pesan yang disampaikan Rasulullah kepada orang yang hendak safar. Kemudian yang hendak safar mengatakan kepada orang yang ditinggal “Aku titipkan anda kepada Allah. Ia tidak akan menyia-nyiakan titipan itu” (HR. Ibnu Majah).

  1. Teman dalam safar minimal 3 orang

Saat safar hendaklah teman tidak kurang dari tiga orang. Ini merupakan kesempurnaan adab yang diajarkan Rasulullah.

Sebagaimana hadits Nabi, “Satu pengendara (musafir) adalah syaitan, dua pengendara (musafir) adalah dua syaitan, dan tiga pengendara (musafir) itu baru disebut rombongan musafir”.

  1. Menunjukan pimpinan rombongan

Kadang-kadang dalam perjalanan timbul perselisihan di antara rombongan, maka dibutuhkan seorang pemimpin rombongan agar perjalanan berjalan lancar.

Dari Abu Said Al Khudri, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “ Apabila tiga orang akan berangkat safar hendaklah mereka memilih salah seorang sebagai ketua rombongan.” (HR. Abu Daud).

  1. Disunnahkan musafir berjalan di malam hari

Dari Anas Bin Malik Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda “Hendaklah kalian melakukan perjalanan pada malam hari (tatkala safar) karena bumi ketika itu dilipat (dipendekan) pada malam hari.” (HR Abu Daud)


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca