Makna Bulan Ramadhan Bagi Calon Jamaah Haji Nusantara di Masa Lalu

Dengarkan Artikel Ini

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Pada zaman dahulu bulan Ramadhan bagi para haji adalah bulan impian. Selain soal ibadah puasa dalam rukun Islam, bagi para jamaah haji kala itu adalah waktu-waktu yang sangat nikmat. Mengapa? Ini karena saat itulah mereka sudah sampai ke Makkah setelah melalui perjalanan panjang yang berbahaya, dimana mereka naik kapal laut dan tiba di pelabuhan Jeddah, setelah melalui rute panjang mengarungi samudera luas, dari Nusantara menuju pelabuhan di India dari pelabuhan Aceh –ada yang singgah di Singapura – lalu berlayar ke Jeddah. Ini baru rute utamanya.

Sedangkan kecilnya, rute dalam negeri, ketika di nusantara mereka pun menempuh dalam waktu panjang dan berbahaya. Mereka datang dari kampung-kampung dari seantero Nusantara lalu naik kapal besar –misalnya Nederland Loyd—dari pelabuhan yang ada di Sulawesi, Kalimantan, Surabaya, Batavia, lalu ke Singapura. Sungguh perjalanan yang rumit dan teramat panjang.

Nah, ketika sampai ke Makkah pada bulan Ramadhan itulah mereka jelas merasa sangat bahagia. Selama waktu tinggal di Tanah Suci itu atau sembari menunggu bulan haji (Dzulhijah), mereka belajar aneka rupa ilmu agama Islam dan manasik haji. Mereka belajar pada mukimim nusantara yang ada di Makkah, yang lazim di kenal sebagai orang ‘Jawah’.

Salah satu Madrasah legendaris yang dijadikan tempat menimba ilmu adalah Al-Shaulatiyah di Makkah. Salah satu tempat belajar utama para jamaah haji dan pelajar Nusantara di Makkah waktu itu. Dua orang lulusan madrasah ini sangatlah terkanal sampai kini, yakni KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari. Letaknya tak jauh dari pelataran Masjidil Haram. Sekarang gedung madrasah ini lokasinya sudah dipindahkan ke luar kota Makkah.

Seorang Wakil konsul Belanda di Jeddah kala itu, Hoesin Iscandar pada tahun 1931 sempat menulis soal situasi jamaah haji ketika berada di Makkah. Dia berkisah begini:

‘’Orang Jawa adalah satu-satu komunitas di Makkah yang tidak mencari uang, melainkan membelanjakan uang di Tanah Arab. Kebanyakan mereka tidak mempunyai profesi yang menghasilkan upah, dan mereka yang berdagang pun hanya berlangganan sesama orang ‘Jawah’ saja, sehingga penduduk Makkah asli mendapat untung besar dari komunintas ini.

Dari catatan arsip Belandadari Snouck Hurgronje, menyatakan bahwa komunitas Mukimin merupakan wujud hubungan paling konkret antara ‘Jawah’ dengan Haramain.

Inti dari dari mereka (komuntas mukimin Jawah) adalah para guru dan siswa. Di Makkah, merekalah yang dipandang tertinggi. Mereka amat disanjung oleh sesama orang Nusantara yang nak haji, dan dari Makkah mereka memimpin kehidupan-keagamaan desa-desa asli mereka.”

Jadi para haji zaman dahulu memanfatkan bulan Ramadhan hingga tibanya bulan haji untuk belajar agama. Bukan berdagang atau aktivitas lainnya. Mereka belajar dan menemui para ulama ‘Jawi’ yang mengajar di Makkah yang pada abad ke-19 jumlahnya banyak dan dipandang tinggi. Para ulama masyhur itu ternyata juga kebanyakan mengajar di rumah seperti Syekh Nawasi al Bantani.


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca