Makna Bulan Ramadhan Bagi Calon Jamaah Haji Nusantara di Masa Lalu

Dengarkan Artikel Ini

Para calon jamaah haji mendalami berbagai risalah dan kitab. Mereka belajar juga soal kitab fiqih karangan ulama ‘Jawi’ di Makkah selama ini yang ada di pesantren. Pada Ramadhan itu mereka belajar langsung pada sumbernya,

Memang dibanding para pelajar yang bermukim di Makkah, para calon haji ini belajar dalam waktu relatif singkat, yakni dari dari bulan Ramadhan sampai ke bulan Dzulhijah, yakni ketika waktu berhaji telah tiba.

Namun, arti kehadiran mereka di Makkah yang sekitar tiga sampai empat bulan, sangat penting artinya. Sebab, dari merekalah ajaran ulama yang ada di Makkah tersebar. Jamaah haji zaman dahulu selain berguru dan membawa kepingan ajaran ulama Makkah, mereka juga pulang dengan membawa sejumlah kitab dalam bentuk naskah.

Di antara naskah-naskah agama dari para jamaah haji yang membawa pulang itu, kini tersimpan dalam berbagai perpustakaan umum di Indonesia, Malaysia, serta luar negeri lainnya. Ketika mereka tiba di rumah ternyata kemudian menyalin nya dan menyebarkannya ke masyarakat.

Jadi itulah arti bulan Ramadhan bagi jamaah haji zaman dahulu. Mereka memanfatkan masa tinggalnya ketika menunggu bulan haji, dengan memperdalam ilmu agama dan ilmu Alquran. Mereka ternyata di sana tidak untuk mencari kerja atau uang. Mereka mencari ilmu ternyata,

Maka itulah cerminan pada haji zaman dahulu ketika memanfatkan datangnya bukan Ramadhan ketika sudah tiba di Makkah. Aktivitas mereka selama itu – sekitar tinggal tiga bulan– dipakai untuk belajar dan menyalin naskah karya para ulama termashur tersebut. (mif)

Baca juga :


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca