Baitul Maqdis, Tempat Isra Nabi Muhammad SAW Begitu Penting Bagi Umat Islam

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Syekh Muhammad Salih Al-Munajjid, seorang akademisi dan penulis asal Arab Saudi, menjelaskan, pentingnya Baitul Maqids (Al-Quds) bagi umat Islam termaktub dalam Al-Qur’an. Misalnya saat Allah SWT menceritakan peristiwa Isra dan Mi’raj Rasulullah SAW dalam Surah Al-Isra ayat pertama. “Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS Al-Isra: 1) Al-Quds menjadi tanah yang diberkati oleh Allah SWT. Hal ini bisa dilihat dalam Surah Al-Maidah ayat 21. Masjid Al-Aqsa terletak di Al-Quds, dan satu kali shalat di sana setara dengan 250 kali shalat di tempat lain. “Satu salat di Masjid Nabawi setara dengan 1.000 kali shalat di tempat lain, begitu pula satu shalat di Masjid Al-Aqsa setara dengan 250 salat di tempat lain,” kata Syekh Salih melalui laman About Islam, dikutip Kamis (8/2/2024). Selain itu, Baitul Maqdis merupakan kiblat pertama umat Islam. Rasulullah SAW shalat menghadap Masjid Baitul Maqdis selama 16 atau 17 bulan, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Read More

Ditemukan 25.000 Artefak Dua Abad Pertama Hijriah di Jeddah

Jeddah — 1miliarsantri.net : Program Distrik Bersejarah Jeddah, bekerja sama dengan Komisi Warisan, mengumumkan penemuan 25.000 artefak yang berasal dari dua abad pertama Hijriah, yakni abad ke-7 hingga ke-8 masehi. Program pencarian artefak tersebut telah dimulai pada Januari 2020 dengan cara eksplorasi dan survei geofisika. Tujuan program ini adalah untuk menjelaskan pentingnya empat lokasi utama: Masjid Utsman bin Affan, Al-Kidwah, Al-Shona, yang merupakan bagian dari Tembok Utara. Upaya ini termasuk dalam lingkup Program Distrik Bersejarah Jeddah. Penemuan artifak tersebut diumumkan sebagai bagian dari Proyek Kebangkitan Jeddah yang Bersejarah, yang diprakarsai oleh Putra Mahkota. Proyek ini bertujuan untuk melestarikan barang antik dan situs arkeologi nasional, mengungkap kekayaan sejarah kerajaan, dan mempromosikan Jeddah yang bersejarah sebagai tujuan budaya dan wisata, sejalan dengan Visi Saudi 2030. Lebih lanjut, laporan hasil survei dan penggalian arkeologi menghasilkan temuan penting, antara lain 11.405 pecahan gerabah seberat 293 kg, 11.360 tulang hewan seberat 107 kg, 1.730 cangkang kerang seberat 32 kg, 685 bahan bangunan seberat 87 kg, 187 artefak kaca seberat 5 kg, dan 71 artefak logam seberat 7 kg. Berat gabungan dari temuan arkeologis ini adalah 531 kg; mereka adalah kontribusi berharga bagi penemuan arkeologi Arab Saudi. Secara rinci, penyelidikan arkeologi di Masjid Utsman bin Affan menemukan artefak yang berasal dari dua abad pertama Hijriah abad ke-7 hingga ke-8 masehi. Artefak-artefak ini, terutama pilar-pilar kayu hitam yang ditemukan di dekat Mihrab, diperiksa dan ditelusuri kembali ke Ceylon (sekarang Sri Lanka), pulau di Samudera Hindia, yang menunjukkan adanya hubungan perdagangan luas Jeddah yang bersejarah. Penggalian di lokasi yang sama juga menemukan bejana dan pecahan keramik, termasuk porselen berkualitas tinggi, beberapa di antaranya berasal dari abad 16-19 masehi, dan pecahan tembikar yang lebih tua berasal dari era Abbasiyah. Sementara itu, banyak pecahan tembikar, termasuk porselen dan keramik dari Eropa, Jepang, dan Tiongkok dari abad ke-19 hingga ke-20 masehi, ditemukan di lokasi arkeologi di Al-Shona, yang setidaknya berasal dari abad ke-19.

Read More

Benarkah Husni Thamrin Meninggal Setelah Disuntik Dokter yang Dikirim Polisi Belanda

Jakarta — 1miliarsantri.net : Tentu masih ingat pada salah satu pahlawan Kemerdekaan kita Mohammad Husni Thamrin atau yang biasa dikenal MH Thamrin yang meninggal pada 11 Januari 1941. Menjelang Subuh, 11 Januari 1941 tersebut, Thamrin meninggal dunia. Sejak polisi menggeledah rumah Thamrin dan kemudian menetapkan Thamrin sebagai tahanan rumah, kondisi kesehatan Thamrin semakin memburuk. Tengah malam menjelang pergantian hari, dokter Kajadoe yang ditunjuk polisi Belanda memeriksa Moh Husni Thamrin lagi. Thamrin yang kondisinya semakin parah disuntik oleh dokter Kajadoe. Menurut Deetje, anak angkat Thamrin yang pada 1941 berusia 14 tahun, pihak keluarga meminta agar Thamrin diperiksa oleh dokter keluarga, dr Asikin, tetapi tak mendapat izin. Polisi mengirim dr Kajadoe untuk memeriksa Thamrin. Keluarga menyebut Asikin adalah dokter keluarga Thamrin, tetapi Bob Hering, penulis biografi Thamrin, dokter keluarga Thamrin adalah dr Kajadoe. Siapa dr Asikin, siapa dr Kajadoe? Pada 1932, Kajadoe tercatat bersama MH Thamrin, menjadi dewan pengawas kursus untuk ‘menabur dan mengembangkan patriotisme’ yang diadakan oleh Vereeniging Pergoeroean Kebangsaan Indonesia. Di dewan pengawas ini ada juga Koesoemo Oetojo, Mr Sartono, Dachlan Abdullah, dan Soepardi. Dokter Asikin tercatat duduk di dewan direksi bersama Mr Boentaran, dan O Baskara. Sebagai pengajar tercatat ada Amir Sjarifoeddin. Kursus diadakan di Gang Kenari. Kajadoe tercatat sebagai dokter swasta yang buka praktik di Gang Kwini 4A, Weltevreden (kini Jakarta Pusat). Ia cukup lama menjadi ketua Ikatan Dokter Hindia. Koran-koran tahun 1919 sudah memberitakan Kajadoe sebagai ketua Ikatan Dokter Hindia. Saat itu organisasinya masih bernama Perhimpunan Dokter Hindia di Batavia, Vereeniging van Indische Geneeskunde te Batavia. Koran-koran tahun 1926 juga memberitakan Kajadoe masih sebagai ketua Ikatan Dokter Hindia. Dalam nama Belanda sudah mulai dikenal juga sebagai Bond van Indische Artsen atau Indische Arstenbond. Saat sekolah tinggi kedokteran, Geneeskundige Hogeschool te Batavia, pada 1927 didirikan atas usulan Direktur STOVIA dokter Abdul Rivai, Kajadoe menjadi salah satu penasihat. Ia diangggap sebagai dokter yang kompeten. Tahun 1937, Ikatan Dokter Hindia berusia 25 tahun, menjadi periode terakhir (1937-1938) kepemimpinan Kajadoe di Ikatan Dokter Hindia. Pada Oktober 1937, Kajadoe mendapat penghargaan sebagai Ksatria Oranye-Nassau. Mungkin pemberian gelar inilah yang membuat masyarakat Indonesia menyebut Kajadoe sebagai dokter yang berpihak kepada Belanda. Untuk ukuran sekarang, jika Kajadoe diajukan sevagai calon pahlawan ansional, penghargaan Ksatria Oranye-Nassau ini bisa menghalangi dirinya menjadi pahlawan nasional. Kajadoe mulai memeriksa Thamrin pada 10 Januari 1941 siang. Thamrin sakit sejak 6 Januari 1941 dan malam harinya polisi menggeledah rumah Thamrin. Pada hari Jumat 10 Januari 1941 Kajadoe yang sudah biasa menangani pasien sakit malaria, mendapati Thamrin dengan panas badan tinggi dan dalam keadaan hampir tidak bisa bicara. Oleh Kajadoe, Thamrin disuntik. “Untuk menurunkan panasnya dengan memberi tahu keluarganya jika tidak membaik supaya segera menjemput dirinya,” tulis Bob Hering. Pada malam harinya, kondisi Thamrin terus memburuk. Menjelang tengah malam, disuntik lagi oleh Kajadoe. “Kemudian kepada kami dipesankan supaya jangan mengganggu tidur beliau yang sudah nyenyak. Tapi aneh, ayah makin tenang dan akhirnya menjelang Subuh tidak ada tanda bahwa beliau bernapas. Akhirnya kami mengetahui bahwa ayah sudah tidak ada lagi,” ujar Deetje kepada Merdeka, 29 April 1968, seperti dikutip Yasmine Zaki Shahab. Kepemimpinan Kajadoe di Ikatan Dokter Hindia ia akhiri pada 1938. Kongres Ikatan Dokter Hindia pada 24-25 Desember 1938 di Semarang mengubah nama Ikatan Dokter Hindia (Indische Artsenbond) menjadi Ikatan Dokter Indonesia (Bond van Indonesische Geneeskundigen). Kajadoe mengakhiri masa kepemimpinannya yang panjang di kongres ini.

Read More

Masjid Walidah Dahlan Universitas Aisyiah Yogyakarta Ciptakan Kondisi Ramah Lingkungan dan Hemat Energi

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Masjid Walidah Dahlan di kawasan kampus Universitas Aisyiah (Unisa) Yogyakarta, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, merupakan masjid yang terdapat nilai sejarah di kota Yogyakarta dan dibangun di arra Universitas Aisyiah Yogyakarta. Rektor Universitas Aisyiah Yogyakarta, Warsiti, yang mendampingi Presiden Jokowi menjelaskan, masjid tersebut dibangun tidak hanya untuk kepentingan civitas, tetapi juga masyarakat umum. “Masjid ini memang didirikan dalam rangka untuk pertama pastinya memenuhi kebutuhan civitas. Selain itu, karena letak yang strategis masjid ini juga bisa dimanfaatkan untuk masyarakat luas,” ungkapnya. Menurut Warsiti, Masjid Walidah Dahlan dirancang dengan desain yang ramah lingkungan, misalnya sirkulasi air wudlu yang bisa dipakai kembali. Selain itu, masjid juga didesain dengan sistem ventilasi udara yang memungkinkan penghematan energi. “Jadi memang kita desain untuk hemat energi dan itu memang salah satu dari visi Aisyiah Yogyakarta sebagai kampus berwawasan kesehatan,” imbuhnya. Masjid Walidah Dahlan sendiri diberi nama dari dua tokoh Muhammadiyah, yakni pendiri Muhammadiyah K.H. Ahmad Dahlan dan istrinya, Siti Walidah. Kedua tokoh tersebut dinilai telah memberikan inspirasi kepada umat, khususnya kaum perempuan. “Masjid ini kita beri nama Walidah Dahlan sebagai dua tokoh Muhammadiyah yang memberikan inspirasi kepada kita, kaum perempuan khususnya, untuk bisa terus berkemajuan,” tutur Warsiti. Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Unisa Yogyakarta, Siti Noordjannah Djohantini, menambahkan bahwa Presiden Jokowi mengapresiasi kehadiran Masjid Walidah Dahlan. Presiden juga mengapresiasi desain serta cepatnya pembangunan masjid tersebut.

Read More

Membawa Pesan Kemanusiaan dan Perdamaian, Peringatan Haul Gus Dur Digelar di Kairo Mesir

Kairo — 1miliarsantri.net : Peringatan Haul Ke-14 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) digelar di Andalus Hall, Al-Azhar Conference Center (ACC), Nasr City, Kairo, Mesir, Ahad (28/1/2024). Acara ini mengangkat tema Humanity and Peace, Gus Dur’s Day: Remembering Gus Dur’s Wisdom and Legacy Cairo. Peringatan Haul Gus Dur di Kairo ini menjadi upaya untuk menerjemahkan pesan kemanusiaan dan perdamaian, sekaligus refleksi terhadap situasi global akhir-akhir ini yang makin meminggirkan nilai-nilai kemanusian yang membawa kedamaian. Duta Besar Indonesia untuk Mesir Lutfi Rauf menyampaikan sambutan dalam acara ini. Ia menyebutkan tiga hal yang membuat Gus Dur sangat familier terhadap banyak kalangan. “Tiga hal yang membuat Gus Dur familier sebagai figur yang luar biasa yakni pergaulan yang lintas preferensi, khazanah keilmuan yang luas, dan selera humor yang tinggi sebagai penyederhanaan pesan agama,” ungkap Lutfi Rauf kepada media, Selasa (30/1/2024). Sementara itu, putri sulung Gus Dur, Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid menuturkan bahwa spirit ketauhidan merupakan lokus utama yang mengilhami segenap sikap, pemikiran dan pergerakan brilian Gus Dur selama hidup. “Beliau juga menyampaikan bahwa melalui Al-Azhar inilah, pemikiran Gus Dur telah berhasil menembus batas-batas teritorial negara,” ungkap Alissa. Sementara itu Deputi Grand Imam al-Azhar Syekh Abdurrahman al-Dluwaini memaparkan penyebab tragedi kemanusiaan yang terjadi di Palestina. Ia menjelaskan, tragedi kemanusiaan yang sampai saat ini terjadi di Palestina adalah bentuk kepicikan dan kebohongan Zionis yang sudah lama tersingkap oleh sejarah. “Cepat atau lambat, Palestina akan segera meraih kemerdekaannya. Relasi antara umat Islam dan Palestina berbasis asas ketauhidan yang berkelanjutan,” tegas Syekh Abdurrahman.

Read More

Mengungkap Sejarah Monumen 47 Tokoh Pendiri Selecta

Batu — 1miliarsantri.net : Taman Rekreasi Selecta Kota Batu meremajakan monumen 47 Tokoh pendiri pembangunan PT Selecta. Monumen yang sebelumnya berada di atas kolam ikan Koi, kini dibangun lebih mewah dan diletakkan di bagian depan area masuk Taman Rekreasi Selecta. Monumen tersebut menggunakan arsitektur bangunan Belanda lengkap dengan jam klasik diatas nama-nama 47 Tokoh. Warna putih mendominasi bangunan monumen itu, sementara nama 47 tokoh diukir diatas batu marmer hitam dengan tinta warna emas. Direktur Utama PT Selecta, Sujud Hariadi mengatakan, 47 tokoh tersebut adalah pendiri Selecta usai ditinggal oleh pemiliknya yaitu warga Belanda. Secara pembangunan, memang Selecta dibangun oleh warga Belanda pada tahun 1930. Namun, Selecta dibuka kembali melalui PT Selecta pada tahun 1950. “Sejak 1945 Selecta kosong tidak ada yang memiliki. Setelah agresi militer Belanda pada tahun 1949, pemuda dan tokoh masyarakat desa sekitar Selecta berinisiatif untuk menghidupkan Selecta kembali. Padahal Selecta sudah terbengkalai bahkan sudah ditanami sayuran oleh warga,” ungkapnya kepada 1miliarsantri.net, Sabtu (27/1/2024). Sujud menceritakan, Selecta saat akan diambil alih warga pada waktu itu sudah berbentuk PT yang dimiliki oleh warga Belanda. Sehingga tidak bisa serta merta bisa di miliki oleh warga. Oleh karena itu, 47 tokoh sepakat membentuk PT Selecta untuk membeli Selecta ke pemiliknya.  Kemudian, kata Sujud, PT Selecta menjual saham dengan harga Rp 100 perlembar waktu itu. Dan terkumpul 5000 ribu saham yang selanjutnya untuk membeli Selecta. “Pada tahun 1949 Selecta dibeli dengan harga 305 ribu rupiah. Jaman dulu sudah banyak banget. Jaman itu emas satu gram hanya 10 rupiah,” jelas Sujud. Setelah dibeli pada 1949, kemudian Taman Rekreasi Selecta diresmikan setahun kemudian yaitu pada tahun 1950. Dikatakan Sujud, saat ini saham PT Selecta dimiliki oleh 10100 Persero atau orang.

Read More

Kisah Heroik Sahabat Abbad ibn Bisyr Saat Menjaga Rasulullah SAW

Surabaya — 1miliarsantri.net : Abbad bin Bisyr bin Waqasy adalah sahabat Nabi Muhammad SAW dari kalangan Anshar. Abbad ibn Bisyr ibn Waqasy berasal dari suku Aus keturunan Bani Asyahli, biasa dipanggil Abu Bisyr atau Abu al-Rabi. Diriwayatkan dari sahabatnya sendiri, Ibn Yasar dari Uqail ibn Jabir bahwa Jabir ibn Abdullah al-Anshari berkata, “Kami keluar bersama Rasulullah dari tempat perlindungan kami di kebun kurma dalam perang Dzatur Riqa. Dalam perang itu, seorang wanita musyrik terkena anak panah seorang Muslim.” “Usai peperangan, dan setelah Rasulullah pulang ke markas, suami wanita musyrik itu datang dan melihat apa yang terjadi pada istrinya. la marah dan bersumpah akan membalas dendam hingga salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW bersimbah darah. Diam-diam, ia (suami wanita musyrik) mencari tahu di mana Nabi Muhammad SAW menginap malam itu.” Saat Nabi Muhammad SAW hendak masuk rumah, beliau bersabda, “Siapakah yang mau berjaga malam ini?” Amar ibn Yasar dan Abbad bin Bisyr bangkit dan berkata, “Kami (siap berjaga), wahai Rasulullah.” Berjagalah Amar bin Yasar dan Abbad bin Bisyr dekat gerbang Syi’ib. Saat itu Rasulullah SAW dan para sahabat menginap di Syi’ib, di sebuah lembah. Amar bin Yasar dan Abbad bin Bisyr pergi menuju gerbang Syi’ib. Abbad ibn Bisyr bertanya, “Kau ingin aku berjaga di awal atau di akhir malam?” Amar bin Yasar menjawab, “Kau berjaga di awal malam, dan aku di akhir malam.” Kemudian Amar bin Yasar berbaring dan tertidur pulas. Abbad bin Bisyr mendirikan sholat sunnah sambil berjaga. Ketika itulah suami wanita musyrik itu datang. Ketika melihat Abbad bin Bisyr yang sedang sholat, lelaki (suami wanita musyrik) itu tidak menyia-nyiakan kesempatan. la langsung melepaskan panah ke arah Abbad bin Bisyr dan tepat mengenai tubuhnya.

Read More

Pasar Ngrancah, Jejak Sejarah Pasar Pemerintah di Gunungkidul

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Pasar Ngrancah, sebuah pasar yang menjadi bagian dari pengelolaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Gunungkidul, memiliki daya tarik sejarah yang tak ternilai. Terletak di Kemantren Pasar Rongkop, sebuah wilayah yang dikelola oleh seorang mantri pasar, Pasar Ngrancah menjadi pusat kegiatan perdagangan yang menarik perhatian masyarakat sekitarnya. Menurut Supangadi (58 tahun) warga sekitar, pasar ini memiliki akar sejarah yang melibatkan masa kolonial Belanda. Dibangun pada masa tersebut, Pasar Ngrancah awalnya hanya terdiri dari dua los besi, yaitu Los B1 dan B2. Pasar ini bukan hanya tempat biasa untuk berjualan, namun juga menjadi pusat aktivitas ekonomi pada hari pasaran Kliwon dan Pahing. Supangadi mengungkapkan bahwa pada masa lalu, aktivitas pasar dimulai dari jam 6 pagi hingga jam 12 siang. Namun, seiring berjalannya waktu, pola jam pasaran berubah menjadi jam 3 pagi hingga jam 8 pagi. Fenomena ini mencerminkan perubahan kebiasaan masyarakat dan dinamika ekonomi di sekitar Pasar Ngrancah. Seiring dengan pertumbuhan dan keberlanjutan pasar, banyak perubahan terjadi. Los pasar bertambah jumlahnya karena Pasar Ngrancah tumbuh besar dan ramai. Di sekeliling pasar, berdiri banyak kios dari bahan kayu, memberikan nuansa tradisional dan kentalnya aroma pasar tradisional yang ramai. Wartiyem (54 tahun), menambahkan bahwa pada tahun 2012, pasar ini mengalami renovasi. Proses renovasi melibatkan penggantian bagian wuwung, genteng, usuk dan reng kayu, serta penambahan lisplang dan keramik. Renovasi ini menjadi bukti komitmen pemerintah dalam mempertahankan keberlanjutan dan kenyamanan pasar. Namun, seperti yang diungkapkan oleh Supangadi, Pasar Ngrancah yang dulu sangat ramai mulai mengalami sepi setelah tahun 2000. Pada masa tersebut, pasar ini menjadi sangat sibuk karena adanya terminal bus di sebelah barat pasar.

Read More

Moment Dimana Buya Hamka Menitipkan Sang Ayah Kepada Bung Karno Dengan Menitikkan Air Mata

Jakarta — 1miliarsantri.net : Kisah ini bermula dari kasus pengasingan yang menimpa Haji Abdul Karim Amrullah (HAKA), atau yang juga akrab disapa Haji Rasul. Laki-laki kelahiran Nagari Sungai Batang Maninjau Oud Agam pada 10 Februari 1879, adalah ayah kandung dari Haji Abdul Karim Amrullah – atau yang akrab disapa Buya HAMKA Residen Whitlaw dalam Memorandum van Overgave di Sumatra Westkust, merilis sebuah tulisan yang menguatkan peran HAKA dalam menggerakkan Muhammadiyah. Dalam laporannya untuk Penasehat Urusan Bumiputra di Batavia, Whitlaw menulis, bahwa Haji Rasul berada di belakang lahirnya Muhammadiyah di Padang Panjang (Sufyan, 2021). Meskipun digadang-gadang Whitlaw selaku pionir Islam Berkemajuan di ranah Minang – Residen Sumatra Barat itu juga menulis HAKA sebagai seorang dubbelhartig. Posisinya pun serba susah. Ia tidak mendapat tempat di mata murid-murid dan guru Sumatra Thawalib yang berafiliasi ke Kuminih, namun ia lebih tidak dipercayai Whitlaw karena tidak pernah menegaskan posisinya sebagai pembenci Kuminih. Dalam tulisan akhirnya, Whitlaw mengingatkan pada para penggantinya, untuk tidak mempercayai HAKA. Padahal, Whitlaw hanya berpedoman pada surat kaleng yang tidak jelas siapa pengirimnya. Dalam surat kaleng itu ditulis,”Lahirnya dia berpihak pada pemerintah, batinnya memihak pada Communisten. Buktinya paduka tuan mulia lihat sendiri, yaitu murid-muridnya hampir semuanya berhaluan merah.” (Mailrapport No.2488/1926). Dua tahun kemudian, pemerintah Kolonial Belanda kembali mencatat perlawanan dari pendiri Sumatra Thawalib dan majalah Al Munir Al Manar itu. HAKA memainkan peran penting dalam penolakan Ordonansi Guru tahun 1926. Bersama ratusan ulama dan guru agama dari sekolah Islam partikelir, ordonansi itu batal diterapkan. HAKA terus melawan kebijakan pemerintah Hindia Belanda. Selain kebijakan pemerintahan dan adat, ada juga Ordonansi Guru dan Sekolah. HAKA dicap berbahaya. Controleur di Maninjau, asisten residen di Fort de Kock, dan residen Sumatra Westkust telah memanggil dan meminta pertanggung jawabannya sebanyak dua belas kali. Sejumlah siswanya ditangkap karena berpartisipasi dalam aktivitas politik. Keluarganya, adiknya, anaknya, dan kemenakannya dianggap bersalah dan dihadapkan pada proses hukum. Semuanya dinilai berdasarkan ceramah dan tulisannya yang dianggap melawan pemerintah dan otoritas adat. Di hadapan Contrelur di Maninjau, HAKA menegaskan pendirinya, “Jangan tuan ancam saya!” Saya sudah bosan dengan ancaman. Tuan memiliki kekuatan! Saya dibuang jatuh dari ketinggian. Dengan pedang tuan yang tajam, leher saya genting. Namun, saya tidak dapat berhenti mengajar agama. Saya akan berhenti hanya jika saya dapat menghentikan setiap nafas yang saya ambil dari tubuh saya!” Sampai akhirnya, ia pun di bui dan dihadapkan ke meja hijau. Hoofddjaksa Oud Agam menegaskan, bahwa penyelidikan yang dilakukan terhadap HAKA tidak ada hubungannya dengan aliran agama (Islam modernis) yang disebarkan olehnya. Namun, penyelidikan itu semata-mata karena tindakan politik yang dilakukan oleh HAKA di sekitar Sungai Batang dan Tanjung Sani Maninjau. Penyelidikan yang dilakukan otoritas jaksa Oud Agam itu menyasar pada pengajian yang dilakukanya pada 10 Mei 1940 (Sumatra Bode, 17 Juli 1941). Haji Rasul dituding melakukan penghasutan, dan menyebar perlawanan terhadap otoritas adat dan pemerintahan di SungaiBatang dan Tandjung-Sani yang berpenduduk sekitar 11.000 orang. Ia pun dituding telah merusak rust en orde. “Haji Amarullah melakukan agitasi politiknya, hampir tidak dapat menegaskan dirinya lagi. Meskipun telah berulang kali diperingatkan, Haji Amarullah tetap melanjutkan aksinya, yang merugikan ketentraman dan ketertiban umum.” (de Sumatra post, 19 Juli 1941). Dari persidangan, Jaksa menuduh murid Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi telah melanggar pasal 153a Strafwetboek dan Regeeringsbesluit tertanggal 13 Januari 2010, No. 2x. Pasal dan tuduhan bertubi-tubi disematkan padanya. HAKA dituduh secara sistematis, merongrong kewibawaan negara, menyebar ujaran kebencian terhadap Pemerintah Hindia Belanda, dengan tujuan akhir menggulingkan pemerintah. Putusan akhir pengadilan menjatuhkan hukuman buang terhadap Haji Rasul. Keputusan itu kemudian dikuatkan dengan putusan Residen Sumatra Westkust,

Read More

Situs Goa Siluman, Peninggalan Cagar Budaya di Yogyakarta Yang Terlupakan

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Yogyakarta merupakan kota dengan sejarah panjangnya, menyimpan banyak cagar budaya yang menceritakan kejayaan masa lalu. Salah satunya adalah Situs Gua Siluman, sebuah pesanggrahan bekas pabrik senjata Sultan Hamengku Buwono II yang terletak di Jalan Wonocatur, Banguntapan, Bantul. Dari catatan sejarah, diketahui bahwa setidaknya ada 13 pesanggrahan yang dibangun olehnya, termasuk Pesanggrahan Wonocatur atau yang lebih dikenal sebagai Situs Gua Siluman. Menurut Budianto, Juru Pelihara BPK Wilayah X Yogyakarta, pesanggrahan ini bukan hanya tempat peristirahatan, melainkan juga fungsi pabrik senjata pada masa Sultan HB II. Keunikan Arsitektur dan Patung di Gua SilumanDi dalam kompleks Situs Gua Siluman, terdapat kolam yang dulunya dialiri air dari sungai yang melintasi pesanggrahan. Bangunan di tengah kompleks tersebut dulu menjadi saluran air yang mengalir ke kolam, memberikan nuansa sejuk dan indah. Patung berbentuk naga dan burung beri, atau garuda, di pojok timur dan barat situs juga menjadi bagian dari keunikan arsitektur Gua Siluman. Patung-patung tersebut dahulu mengeluarkan air dari mulutnya yang kemudian ditampung di dalam kolam. Himawan Prasetyo, Pamong Budaya Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X Yogyakarta, mengungkapkan bahwa situs ini menjadi pabrik pembuatan senjata pada era Sultan HB II. Dua meriam hasil produksi Gua Siluman dapat ditemukan di Keraton Yogyakarta, menjadi bukti sejarah penting yang diwariskan.

Read More