Moment Dimana Buya Hamka Menitipkan Sang Ayah Kepada Bung Karno Dengan Menitikkan Air Mata

Dengarkan Artikel Ini

Jakarta — 1miliarsantri.net : Kisah ini bermula dari kasus pengasingan yang menimpa Haji Abdul Karim Amrullah (HAKA), atau yang juga akrab disapa Haji Rasul. Laki-laki kelahiran Nagari Sungai Batang Maninjau Oud Agam pada 10 Februari 1879, adalah ayah kandung dari Haji Abdul Karim Amrullah – atau yang akrab disapa Buya HAMKA

Residen Whitlaw dalam Memorandum van Overgave di Sumatra Westkust, merilis sebuah tulisan yang menguatkan peran HAKA dalam menggerakkan Muhammadiyah. Dalam laporannya untuk Penasehat Urusan Bumiputra di Batavia, Whitlaw menulis, bahwa Haji Rasul berada di belakang lahirnya Muhammadiyah di Padang Panjang (Sufyan, 2021).

Meskipun digadang-gadang Whitlaw selaku pionir Islam Berkemajuan di ranah Minang – Residen Sumatra Barat itu juga menulis HAKA sebagai seorang dubbelhartig. Posisinya pun serba susah. Ia tidak mendapat tempat di mata murid-murid dan guru Sumatra Thawalib yang berafiliasi ke Kuminih, namun ia lebih tidak dipercayai Whitlaw karena tidak pernah menegaskan posisinya sebagai pembenci Kuminih.

Dalam tulisan akhirnya, Whitlaw mengingatkan pada para penggantinya, untuk tidak mempercayai HAKA. Padahal, Whitlaw hanya berpedoman pada surat kaleng yang tidak jelas siapa pengirimnya. Dalam surat kaleng itu ditulis,”Lahirnya dia berpihak pada pemerintah, batinnya memihak pada Communisten. Buktinya paduka tuan mulia lihat sendiri, yaitu murid-muridnya hampir semuanya berhaluan merah.” (Mailrapport No.2488/1926).

Dua tahun kemudian, pemerintah Kolonial Belanda kembali mencatat perlawanan dari pendiri Sumatra Thawalib dan majalah Al Munir Al Manar itu. HAKA memainkan peran penting dalam penolakan Ordonansi Guru tahun 1926. Bersama ratusan ulama dan guru agama dari sekolah Islam partikelir, ordonansi itu batal diterapkan.

HAKA terus melawan kebijakan pemerintah Hindia Belanda. Selain kebijakan pemerintahan dan adat, ada juga Ordonansi Guru dan Sekolah. HAKA dicap berbahaya.

Controleur di Maninjau, asisten residen di Fort de Kock, dan residen Sumatra Westkust telah memanggil dan meminta pertanggung jawabannya sebanyak dua belas kali.

Sejumlah siswanya ditangkap karena berpartisipasi dalam aktivitas politik. Keluarganya, adiknya, anaknya, dan kemenakannya dianggap bersalah dan dihadapkan pada proses hukum. Semuanya dinilai berdasarkan ceramah dan tulisannya yang dianggap melawan pemerintah dan otoritas adat.


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca