Moment Dimana Buya Hamka Menitipkan Sang Ayah Kepada Bung Karno Dengan Menitikkan Air Mata
“Rasul Gelar Dr Haji Abdul Karim Amarullah, yang dijuluki Hadji Rasul, guru agama di Sungai Batang (Sumatra Westkust) Demi kepentingan ketenangan dan keamanan masyarakat, Sukabumi telah ditetapkan sebagai tempat tinggal. Perlu dicatat bahwa pengasingan Dr Amrullah tentu saja didasarkan pada upaya politiknya” (Bataviaasch nieuwsblad, 21 Juli 1941).”
Tiga tahun berlalu. Hamka masa itu berusia 36 tahun. Ia masih ingat dengan kisah ayahnya yang diundang makan oleh Bung Karno.
HAKA tidak lagi berada di pengasingan, berkat bantuan Bung Karno, ia dibebaskan serdadu Jepang, dan dipindah ke Jakarta.
HAKA diundang untuk bersantap siang di kediaman Soekarno, yang beralamat di Jalan Pegangsaan Timur. Ia telah berada di ruang makan bersama dengan suami dari Fatmawati itu.
Sedang makan, Soekarno berkata: “Inyik tetap sajalah di Jakarta, Soekarno ini anggap sajalah sebagai ganti Hamka, untuk mengurus Inyik”. HAKA, hanya mengangguk pelan.
Ayahnya menceritakan kisah itu. Dan Bung Karno pun menceritakan sebaliknya kepada penulis Tenggelamnya Kapal vander Wijk itu.
Hamka pada bulan April 1944 telah berada di Jakarta dan menemui sang ayah yang dirindukannya. Ia pun hendak kembali ke Medan, beberapa hari kemudian.
Hatinya remuk redam meninggalkan ayahnya yang sudah sepuh dan sakit-sakitan di Jakarta. Ia membatin, barangkali hari itu lah akhir dari pertemuannya dengan Sang Ayah.
“Saya tidak bisa melihat wajah ayah lagi.” Hamka membatin. Dengan tertatih-tatih karena tuanya, Haji Rasul mengantarkan putra yang telah ditunggu-tunggu sepuluh tahun kelahirannya itu, ke stasiun Tanah Abang.
Soekarnopun turut mengantar Hamka. Ketika kereta api akan berangkat, Hamka pun meciumi ayahnya. Dengan berbisik lirih ke Soekarno, Hamka pun berpesan,
“Ayah kita Bung! Bung ganti saya”.
“Jangan kuatir, berangkatlah”
Mereka pun berpelukan. Tanpa terasa airmata keduanya pun menetes, dan disaksikan oleh Haji Abdul Karim Amrullah yang telah berusia 65 tahun dan sakit-sakitan. Mata itu berair, menyaksikan kepergian anaknya, seiring menjauhnya kereta api yang membawa Hamka. (yan)
Baca juga :
- RUU Pengaturan Reforma Agraria Resmi Jadi UU, Pemerintah Dorong Keadilan Penguasaan Tanah
- Persija Sementara Unggul 1-0 Atas Persib dalam Super Big Match
- Lowongan Kerja Product Representative di DepoProyek.id untuk Penempatan Bekasi Raya dan DKI Jakarta
- SPEK Dukung Penguatan Tata Kelola YPK dan Masa Depan IKOPIN University
- Turnamen Sepak Bola U-16 ‘H Jalal Cup 2026’ Digelar di Jatimulya-Kabupaten Bekasi
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


