Perang Salib Bentuk Agresi yang Cenderung Melakukan Pembantaian Muslim

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Kebanyakan sejarawan Muslim pada akhir Abad Pertengahan menilai Perang Salib sebagai serangan brutal yang dilakukan orang asing (alien intruders) kepada penduduk lokal, yakni warga Baitul Makdis dan sekitarnya. Perang Salib merupakan serangkaian pertempuran yang terjadi secara periodik antara 1095 dan 1291 Masehi. Palagan yang memakan waktu nyaris dua abad itu dilatari ambisi para pemimpin agama dan politik Kristen Eropa Barat. Mereka berhasrat merebut Baitul Makdis atau Yerusalem dari tangan Muslimin. Pasukan Salib yang memasuki Yerusalem (1099) kemudian melakukan pembantaian besar-besaran terhadap penduduk Kota Suci itu. Haddad Wadi Z dalam artikelnya, The Crusaders through Muslim Eyes, menjelaskan para ahli sejarah itu juga menyoroti perbedaan Salibis dengan agresor lainnya pada masa itu. Kaum penjajah dari Eropa Barat ini terkesan datang bukan untuk merampas suatu wilayah, lalu memerintah dan menarik pajak dari seluruh masyarakat lokal. Alih-alih begitu, mereka justru lebih suka mendirikan koloni di wilayah taklukannya setelah membantai semua orang setempat yang berlainan iman dengannya. Dapat disimpulkan, tentara Salibis dalam perspektif sejarawan Muslim adalah gerombolan ekstremis. Bagaimanapun, yang cukup menarik perhatian adalah bahwa tidak satu pun ahli sejarah itu yang menyebut mereka sebagai pasukan salib atau namanama lain yang menunjukkan identitas keagamaan tertentu, semisal Kristen. Para agresor itu disebutnya bangsa Frank (al-Faranj atau al-Ifranj) yang menandakan asal negeri, bukan agama, mereka. Dengan demikian, apa yang dinamakan sejarawan modern kini sebagai tentara Salib, itu diidentifikasi para sarjana Muslim abad pertengahan lebih sebagai orang asing. Walaupun memang, lanjut Haddad Wadi, ada kalanya balatentara itu disebut sebagai orang kafir, seperti pada saat pertempuran berlangsung antara kedua belah pihak. Haddad meneruskan, banyak dinasti Muslim yang memerangi Romawi Timur (Bizantium) sebelum gelombang Salibis terjadi. Artinya, pertempuran melawan bangsa asing yang non-Islam bukanlah sesuatu yang luar biasa. Akan tetapi, fenomena yang dihadirkan Pasukan Salib membuka mata mereka tentang perangai barbar yang datang dari luar dunia Islam. Mereka menyaksikan dengan sedih, bagaimana Salibis tidak beretika dalam melancarkan perang.

Read More

Kerusuhan Aksi SARA Sudah Terjadi di Era Cokro Aminoto Tahun 1920 di Surabaya

Surabaya — 1miliarsantri.net : Persoalan penistaan ajaran agama di Indonesia semenjak dahulu itu sangat serius. Soal ini yang termasuk dalam isu sangat sensitif, SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan), telah terbukti memicu kerusuhan. Kasus Arya Dwikarma misalnya harus segera diselesaikan. Di zaman kolonial pemerintah Hindia Belanda kala itu pun bertindak sangat tegas, bahkan keras ketika muncul soal ini. Persoalan ini misalnya terjadi pada tahun 1920-an tatkala meletus isu SARA di Surabaya. Waktu itu kalangan umat Islam membuat aksi besar-besaran memprotesnya. Kalau dipadankan mirip aksi 212 yang terjadi beberapa tahun silam. Rusuh di Surabaya itu terjadi pada bulan Februari 1920. Keributan sudah berubah menjadi aksi kekerasan yakni berupa pembakaran tempat ibadah. Golongan etnis tertentu jadi sasaran amuk massa. Untunglah saat itu ‘Pak Tjokro’ (HOS Tjokro Aminoto) sebagai pemimpin Islam turun tangan. Tjokro pun berusaha keras untuk menentramkan suasana. Aparat keamanan pemerintah kolonial saat itu pun bertindak sangat tegas dengan menangkap banyak orang dan memasukannya ke bui. Tak hanya pemerintah kolonial Hindia Belanda, rezim yang sekuler pun di zaman Orde Baru. Presiden Soeharto tak pernah mau mentoleransi soal isu SARA. Pak Harto memang semenjak awal kekuasaannya dia selalu bertindak tegas bila muncul soal SARA. Pak Harto menjalankan aturan dengan melaksanakan Peraturan Presiden (Pepres) N0 1 tahun 1965 yang dibuat oleh Presiden Soekarno. Isi aturan hukum ini adalah tentang pencegahan penyalahgunaan dan/atau penodaan agama.

Read More

Sejarah dan Legenda Candi Prambanan

Sleman — 1miliarsantri.net : Candi Prambanan atau yang dikenal juga sebagai Candi Roro Jonggrang merupakan situs bersejarah yang berlokasi di Sleman, Yogyakarta. Candi ini dibangun dengan arsitektur yang indah dan ramping dengan memiliki ketinggian yang mencapai 47 meter. Prambanan sebagai candi Hindu terbesar di Indonesia dan salah satu yang tercantik di Asia Tenggara, Candi Prambanan telah diakui sebagai warisan dunia oleh organisasi Internasional yang bergerak pada bidang pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan (UNESCO). Candi Prambanan dikaitkan dengan legenda tentang kutukan Bondowoso terhadap Roro Jonggrang. Di mana, legenda Roro Jonggrang menceritakan tentang candi-candi yang dibangun oleh Bandung Bondowoso dan tidak selesai. Salah satu candinya dikenal sekarang sebagai Candi Sewu. Dalam legenda ini, Arca Durga yang berada di ruang utara candi utama dianggap sebagai perwujudan Rara Jonggrang yang dikutuk menjadi batu karena tidak memenuhi janji. Tidak hanya cerita Roro Jonggrang, candi ini juga dikaitkan dengan sejarah perebutan kekuasaan antara Dinasti Syailendra dan Sanjaya untuk berkuasa di Jawa Tengah. Pada tahun 850 Masehi, Rakai Pikatan memulai pembangunan candi ini sebagai tandingan untuk Borobudur dan Candi Sewu. Kemudian, Raja Lokapala dan Raja Balitung Maha Sambu melakukan perluasan kompleks candi ini. Selain itu, Prasasti Siwagrha pada tahun 856 M menyebutkan bahwa pembangunan ini untuk memuliakan Dewa Siwa sehingga menjadikan kompleks ini dikenal juga sebagai Siwagrha atau Rumah Siwa dan Siwalaya yang berarti Ranah Siwa atau Alam Siwa. Diketahui, Candi Prambanan dibangun secara berkelanjutan disempurnakan oleh raja-raja Medang Mataram, seperti raja Daksa dan raja Tulodong hingga menjadikannya kompleks. Para raja-raja tersebut tidak hanya memperluas kompleks dengan pembangunan ratusan candi tambahan di sekitar candi utama, namun juga menggunakan kawasan ini untuk menyelenggarakan berbagai upacara penting bagi kerajaan Mataram. Kompleks candi Prambanan sendiri terdapat sebuah kumpulan bangunan suci yang memiliki berbagai fitur dan struktur yang tersusun secara khusus.

Read More

Mengenang Presiden Pelukis yang Fenomenal, Penyampai Gerakan Demokrasi

Jakarra — 1miliarsantri.net : KP Hardi Danuwijoyo (1951-2023). Lahir di Blitar, 6 Mei 1951. Ia kuliah di STSRI ASRI Yogyakarta dan mendapat beasiswa untuk kuliah di Jan Van Eyc Academie, Maastricht, Belanda. Ia adalah salah seorang perancang “Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia”. Namun pada 28 Desember 2023, pelukis Hardi yang ekspresif dan fenomenal meninggalkan dunia yang fana ini. Ia wafat pukul 09.00 WIB di rumahnya, di kawasan Joglo, Jakarta Barat. Namanya menjadi populer saat ditangkap oleh Laksuda Jaya pada Desember 1978, karena lukisan foto dirinya, dengan pakaian jendral berbintang berjudul “Presiden tahun 2001, Soehardi”. Lukisan tersebut sebagai bentuk protes yang sangat lantang di tengah pemerintah Orde Baru yang sangat represif dan militeristik, juga sebuah perlawanan, sekaligus tantangan yang cukup menantang kepada penguasa. Ia juga begitu peduli dengan kondisi sosial, politik dan hukum serta hak asasi manusia. Acara diskusi kebudayaan ini adalah sebuah upaya untuk mengenang kiprah beliau dalam pergerakan sosial melalui kiprahnya dalam dunia Senirupa . Menurut sang putri Oriana Titisari, ayahnya meninggal dalam keadaan tidur. Penyakit radang meningitis menyerang Hardi. Penyakit radang selaput otak ini merupakan peradangan pada meningen, yaitu lapisan pelindung otak dan saraf tulang belakang, gejala awalnya mirip dengan flu, demam dan sakit kepala. Penyebabnya bisa infeksi bakteri, virus, jamur atau parasit sehingga membuat daya tahan tubuh melemah. Hardi dimakamkan di TPU Tanah Kusir ba’da azar. Pelukis yang mahir ilmu silat Bangau Putih itu, wafat dengan kondisi yang berbeda dari tubuh sebelumnya di mana Hardi terlihat gempal, berotot, sehat berkat ilmu silat yang ditekuninya. Akibat penyakit meningitis itu, ingatan Hardi mulai menurun. Ia sempat dirawat di RS Pusat Otak Nasional (PON) dan dirawat di sana selama sepuluh hari akibat terjatuh dari tangga. Sepeninggal sang istri, Susan yang wafat Oktober tahun lalu, kesehatannya mulai menurun. Hardi merupakan tokoh seni rupa penting Indonesia. Ia merupakan Pelopor Gerakan Seni Rupa Indonesia yang mewarnai dinamika kesenian khususnya seni lukis di Tanah Air. Anggota Gerakan Seni Rupa, terdiri dari FX Harsono, Bonyong Munni Ardhi, Siti Adiyati, Jim Supangkat, dan Nanik Mirna.

Read More

Kisah Arungbinang dan Cikal Bakal Menjadi Kota Kebumen

Kebumen — 1miliarsantri.net : Kisah Arungbinang di Kebumen ini dikutip Nusantara62 dari buku Cerita Rakyat Jawa Tengah, yang diterbitkan Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah (2013). Berikut Kisah Arungbinang di Kebumen, Cerita Rakyat Jawa Tengah: Di wilayah Kebumen, nama Tumenggung Arungbinang menjadi tokoh yang melegenda. Tumenggung Arungbinang adalah cikal bakal bupati Kebumen yang memerintah secara turun temurun. Setelah meninggalnya Sultan Agung Hanyokrokusumo di tahun 1645, kekuasaan Mataram diserahkan kepada Sunan Amangkurat I. Sunan Amangkurat I bersifat otoriter, keras kepada siapa saja yang menentangnya. Keadaan ini menjadikan Mataram tidak menentu. Melihat kondisi kerajaan yang tidak menentu, para pemimpin Mataram, termasuk dewan penasihatnya, berjalan sendiri-sendiri. Ada yang setuju dan ada yang tidak setuju dengan kebijakan raja. Kelompok yang setuju hidup dengan nyaman tinggal di wilayah kerajaan. Kelompok yang tidak setuju, sebagian berdiam diri dan lainnya menyingkir ke luar kota supaya terhindar dari hukuman. Salah satu anggota dewan penasihat yang menyingkir adalah Pangeran Bumidirjo yang merupakan salah satu adik Sultan Agung Hanyokrokusumo. Pangeran Bumidirjo pergi ke arah barat. Tujuannya untuk menghindari pengejaran dan penangkapan petugas kerajaan. Salah satu caranya adalah dengan melepaskan seluruh jabatan dan pakaian kerajaan serta mengganti nama dirinya dengan sebutan Ki Bumi. Perjalanan Ki Bumi sampai ke wilayah Panjer yang saat itu dipimpin oleh Ki Gede Panjer II. Oleh Ki Gede Panjer II, ia diberi tanah di sebelah utara Sungai Luk Ulo untuk dijadikan tempat tinggal. Kepergian Pangeran Bumidirjo diketahui oleh Sunan Amangkurat I. la lalu mengirim utusan untuk mencari Pangeran Bumidirjo dengan tugas membawanya kembali ke Mataram. Perjalanan utusan itu sampai ke wilayah Panjer. Mereka menyebar orang untuk mencari informasi keberadaan Pangeran Bumidirjo. Akhirnya salah satu dari mereka pun menemukannya di wilayah Panjer. “Maafkan kami, Pangeran, Sunan Amangkurat menghendaki Pangeran kembali ke Mataram,” kata utusan tersebut. “Engkau pasti tahu, Prajurit. Aku tidak mungkin kembali ke Mataram selama Sunan Amangkurat masih bersikap sewenang- wenang” jawab Pangeran Bumidirjo atau Ki Bumi tegas. “Tetapi kami harus membawa Pangeran pulang” kata utusan itu lagi. “Pulanglah kalian! Sia-sia kalian membujukku kembali ke Mataram. Aku tidak mungkin kembali,” ucap Pangeran Bumidirjo. Utusan itu semakin bingung. Di satu sisi, sebenarnya ia sangat menghormati Pangeran Bumidirjo, namun di sisi lain ia juga takut dengan hukuman Sunan Amangkurat I jika pulang tanpa membawa hasil. Akhirnya karena takut dihukum mati, utusan tersebut memilih tidak kembali ke Mataram. la kemudian menjadi pengikut Pangeran Bumidirjo atau Ki Bumi. Karena sudah diketahui keberadaannya, Ki Bumi dan pengikutnya pindah ke arah timur dan sampai di Lerep. Sepeninggal Ki Bumi, pimpinan di daerah itu diserahkan kepada pembantu setianya, yaitu Diporejo, Basek, Tromo, Taman, Banar, Mangun, dan Ketug. Diporejo tinggal di rumah Ki Bumi, sedangkan yang lainnya tersebar di sekitarnya. Bekas tempat tinggal Ki Bumi dinamakan Kabumian. Awalan ka- dan akhiran -an itu dalam bahasa Jawa berarti tempat. Dengan demikian, kata kabumian berarti tempat Ki Bumi. Selanjutnya, Kabumian dalam lidah Jawa disebut Kabumen, atau Kebumen. Tempat tinggal Basek menjadi Kebasekan. Tempat tinggal Tromo menjadi Ketraman. Tempat tinggal Taman menjadi Ketamanan. Tempat tinggal Ba- nar menjadi Kebanaran.

Read More

Ketika Sultan Agung Mataram Merenungkan Pilihan ‘Sunat atau Mati’ untuk Tawanan

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Para utusan Kompeni yang pernah bertemu dengan Sultan Agung menggambarkan Raja Mataram itu dalam catatan-catatan mereka. Ada yang menyebut Sultan Agung memiliki keingintahuan yang tinggi, seperti singa ketika melihat sekeliling, lamban berbicara, tetapi bersifat tegas. Ketika pilihan “sunat atau mati” yang diberlakukan Sultan Agung terhadap para tawanan diprotes oleh juru mudi kapal Kompeni yang juga menjadi tawanan, Sultan Agung merenungkan isi protes itu. Para tawanan yang sedang dijemur itu kemudian diperintahkan untuk duduk di tempat yang teduh. “Ini sudah merupakan tanda pengampunan. Kemudian ia bertanya kepada apakah mereka bersedia dikhitan bila hidup mereka diperpanjang satu bulan,” tulis HJ de Graaf. Para tawanan itu lalu menyampaikan rasa terima kasihnya karena tidak jadi dihukum mati hari itu. Namun mereka tetap menyatakan memilih mati daripada harus disunat. Setelah satu bulan berlalu, ketika putusan hukuman mati belum dilakukan, para tawanan itu melarikan diri. Tetapi mereka tertangkap. Mendengar adanya tawanan yang berusaha melarikan diri, Sultan Agung meminta nama-nama mereka. Setelah membaca nama-namanya, pandangan Sultan Agung menerawang ke atas. Lalu berkata, “Orang Belanda tidak bersalah, tetapi orang-orang saya yang ditahan di Jakatra yang tidak berusaha datang kembali pada saya itu yang salah.” Lalu Sultan Agung memerintahkan agar orang-orang Belanda yang menjadi tawanan itu dijaga baik-baik. Adalah Abraham Verhulst, orang Belanda yang menjadi salah satu tawanan Mataram, yang membuat Sultan Agung merenugkan ketetapannya terhadap tawanan. Ia merupakan anak muda yang menjadi juru mudi kapal Kompeni. “Apakah agama Islam mengajarkan membunuh atau mengkhitan seseorang yang membawa hadiah bagi Raja, yang mencari damai dan yang ingin menganggap Raja sebagai sahabatnya? Raja akan berbuat aib di kalangan semua raja Islam, sebab ini bukan dalam keadaan perang,” kata Verhulst. Verhulst menyampaikan menyampaikan kata-kata protesnya itu kepada juru bahasa. Ia meminta juru bahasa meneruskannya kepada Sultan Agung.

Read More

Begini Gambaran Batavia pada 1670 Yang Dituangkan Dalam Kanvas

Jakarta — 1miliarsantri.net : Sejarah ketika Batavia dikepung 10 ribu prajurit Mataram pada 1629, dituangkan dalam kanvas oleh seorang pelukis Belanda, Peter van den Boeche, yang kemudian melukis Batavia in Vogelvlucht (Batavia dalam Pandangan Mata Burung). Pada abad ke-17 itu ada beberapa pelukis Belanda yang datang. Ada Andrian Minden yang melukis Batavia in Vogelvlucht pada 1627 pada masa gubernur jenderal Kompeni JP Coen. Bagaimana gambaran kota Batavia yang dua kali diserbu pasukan Raja Mataram Sultan Agung itu? Dalam dua kali penyerbuan itu, Sultan Agung mengalami kekalahan. JP Coen berhasil mempertahankan Batavia, kendati kemudian ia jatuh sakit dan meninggal dunia. JP Coen, yang menjadi gubernur jenderal pada 1619-1623 dan 1627-1629, merupakan salah satu gubernur jenderal Kompeni yang wajahnya digambar oleh pelukis Van Meer. Pelukis lainnya, ada Andries Beekman yang datang di Batavia sebagai serdadu biasa. “Ia memberi gambaran yang bagus sekali mengenai kasil, benteng, dan loji di Banten, serta Batavia dan Jepara,” tulis sejarawan Universitas Gadjah Mada Djoko Soekiman. Ada pula pelukis J Rach yang melukis rumah dinas gubernur jenderal Kompeni Reinier de Klerck di Moleenvlet. Reinier menjabat pada 1777-1780, rumahnya sekarang menjadi Gedung Arsip Nasional di Jalan Gajah Mada, Jakarta Barat. Pelukis lainnya, ada Jacob Jansen Coeman, yang menikahi putri pelukis Rembrant, tiba di Batavia pada 1663. Ada pula pelukis Johan Nienhofs yang melukis tokoh-tokoh penting Kompeni di Batavia pada 1670-an. “Dari hasil lukisan para pelukis, ditambah keterangan tertulis para musafir atau karya sastra pada waktu itu, kita dapat merekonstruksi kembali peninggalan-peninggalaan bangunan dan gaya hidup masyarakat Indis,” tulis sejarawan Universitas Gadjah Mada Djoko Soekiman. Gambaran mengenai Batavia dikutip oleh Djoko Soekiman dari karya pelukis Johan Nienhofs pada 1670, Ini adalah tahun ketika Amangkurat II sewaktu masih menjadi putra mahkota Mataram, untuk kedua kalinya mengirim utusan persahabatan ke Batavia. Begini keterangan Nienhofs yang dikutip Djoko Soekiman:

Read More

Ketika Kenduri di Kraton Tiba-tiba Bubar

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Ambengan (nasi hidangan untuk kenduri) sudah tersaji dengan segala lauk-pauknya. Patih, para sentana, para adipati, para bupati, sudah hadir. Namun, kenduri belum juga bisa dimulai karena penghulu belum datang. Sultan Agung pun segera meminta abdi dalem untuk menjemput Penghulu Keraton. Ketika Penghulu Keraton memimpin doa, kenduri malah bubar setelah mendapat sahutan amin yang ketiga kalinya. Sebelum penghulu datang, beberapa abdi dalem berangkat ke rumah penghulu memenuhi perintah Sultan Agung untuk menjemputnya. Tiba di rumah penghulu, keadaan sangat sepi. Pendopo rumah kosong, tak ada orang. Hal itu membuat mereka langsung menuju ke rumah utama di belakang pendopo. Namun, mereka mendapati pintu yang terkunci rapat. Memberi salam tak ada jawaban, mencoba membuka pintu tak ada yang berhasil. Melihat ke sekeliling, mereka juga tidak menemukan sesuatu. Hewan piaraan yang biasanya ada di kandang, juga tidak ada. Tiba-tiba ada suara dari dalam rumah utama. Pintu utama terbuka, disusul pintu samping dan belakang juga terbuka. Tetapi, mereka juga tidak menemukan siapa-siapa, selain rodayang terus berputar. Rumah yang biasanya ada perabot, kali ini pun kosong. Para abdi dalem itu tentu saja heran. Kemudian memutuskan untuk segera pulang, melapor kepada Sultan Agung. Ketika mereka melaporkan bahwa tidak bisa menemukan penghulu, Sultan Agung menyatakan jika penghulu sudah hadir di acara kenduri. Para abdi dalem semakin heran. Sultan Agung segera meminta Penghulu Keraton memulai kenduri. Artinya Penghulu Keraton harus segera membacakan doa. Namun, penghulu itu menolak berdoa. Ia menyatakan hanya bersedia menghadiri kenduri, tetapi tidak mau berdoa, lalu menyarankan kepada Sultan Agung agar menunjuk khatib yang berdoa.

Read More

Menelusuri Sejarah Hari Ibu dan Dilaksanakan nya Kongres Perempuan Pertama di Indonesia

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Di Indonesia setiap tanggal 22 Desember kita memperingati Hari Ibu. Di berbagai postingan status bisa dipastikan diwarnai dengan puja puji kita atas jasa dan pengorbanan ibu kita. Tidak lupa disertai doa penuh cinta dari anak kepada orang tua khususnya ibu. Tentu ini harus diapresiasi dihargai karena merupakan hal yang terpuji dan juga mulia. Tapi tahukah kita bahwa Hari Ibu ditetapkan oleh SK Presiden RI Sukarno no 316 16 Desember tahun 1959. Berdasarkan penghormatan atas Kongres Perempoean Pertama 22 Desember 1928 di Pendapa Djojodipoeran Yogyakarta yang sekarang dipakai sebagai Kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional DIY. Kongres tersebut yang pesertanya 1000 orang, tidak hanya dihadiri oleh para perempoean ibu-ibu, tapi tapi juga para gadis bahkan juga laki-laki sebagai peninjau. Kongres Perempoean pertama tersebut didorong oleh semangat Kaoem Perempoean atas kehidupan bangsa dan nasib perempuan pada masa itu. Semangat nasionalisme dan dorongan kepekaan atas masalah sosio kultural peran perempuan sangat menonjol. Ini bisa kita amati dengan judul pidato pidato pada Konggres tersebut. Melihat judul judul pidato diatas yang menjadi kepedulian perempoen pada waktu itu tidak hanya masalah domestik tapi juga masalah sosial, kultural bahkan kebangsaan.

Read More

Siti Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan, Pejuang Wanita Aisyiyah

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Tokoh ini dikenal setelah pernikahannya dengan pendiri Persyarikatan Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Beliau lahir dengan nama Siti Walidah di Kauman, Yogyakarta, pada tahun 1872. Setelah menikah, namanya lebih dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan. Siti Walidah merupakan putri dari Kyai Haji Muhammad Fadli. Ayahnya merupakan seorang penghulu keraton Yogyakarta. Sejak kecil Walidah selalu menjaga kehormatan sang ayah sebagai ulama yang disegani. Walidah kecil memang membatasi pergaulan dan hanya mengenyam pendidikan di rumah saja. Sebagai putri ulama keraton, ajaran Islam telah dia kenyam sedari dini. Beliau tidak belajar di sekolah formal seperti anak laki-laki pada umumnya. Namun, tekadnya untuk menuntut ilmu sangat kuat. Hampir setiap hari beliau menuntut ilmu keislaman dengan kitab-kitab agama berbahasa Arab Jawa (pegon). Kemudian beliau menikah dengan sepupunya sendiri, KH Ahmad Dahlan. Keingintahuannya mengenai ilmu agama Islam semakin meningkat sejak menikah. Sebagai seorang wanita, beliau tidak hanya menjadi ibu rumah tangga biasa yang hanya di rumah saja. Walidah selalu ikut serta untuk berdiskusi dan menyampaikan pandangannya bersama tokoh Indonesia lainnya, seperti Jenderal Sudirman, Bung Karno, Kyai Haji Mas Mansur, dan Bung Tomo. Kepiawaiannya dalam berorganisasi dirintisnya dalam kelompok pengajian wanita dengan nama Sopo Tresno pada 1914. Meskipun belum berbentuk organisasi dengan segala macam aturannya, kelompok ini telah fokus pada kajian dakwah bagi kaum perempuan. Dalam pengajian itu, diterangkan ayat-ayat Alquran dan hadis yang membahas hak dan kewajiban perempuan. Perempuan diharapkan dapat mengetahui dan menerapkan kewajibannya sebagai manusia, istri, dan hamba Allah. Kelompok pengajian kemudian berubah nama menjadi Aisyiyah yang dicetuskan oleh beberapa tokoh Muhammadiyah, antara lain, KH Muhtar, KH Ahmad Dahlan, KH Bagus Hadikusuma, KH Fakhruddin. Nama Aisyiyah diresmikan sebagai organisasi wanita Muhammadiyah pada 22 April 1917. Aisyiyah ketika itu diketuai oleh Siti Bariyah dan Nyai Dahlan duduk sebagai penasihat dan pelindung. Perjuangan Nyai Dahlan saat itu, yakni menghilangkan kepercayaan kolot yang dimiliki masyarakat Indonesia. Ajarannya, perempuan seharusnya dapat berjuang bersama dan duduk dalam posisi berdampingan, baik dalam institusi formal maupun dalam pendidikan. Beliau tidak hanya berdakwah, tetapi juga mengajari kaum perempuan dengan membuka asrama dan sekolah-sekolah putri serta kursus pemberantasan buta huruf bagi perempuan.

Read More