Masjid Tua ini Dibangun Pasukan Sultan Agung Ketika Kalah Perang Dengan VOC

Jakarta — 1miliarsantti.net : Masjid Al-Makmur di Jl KH Mas Mansyur, Tanah Abang, Jakarta Pusat, merupakan salah satu dari belasan masjid tua yang masih tersisa di Jakarta. Masjid ini dibangun pada 1704 oleh para keturunan bangsawan Kerajaan Islam Mataram pimpinan KH Muhammad Asyuro. Kini masjid yang berusia lebih tiga abad itu terkepung oleh hingar bingar pusat perdagangan Tanah Abang, salah satu pusat perdagangan terbesar di Jakarta. Di kiri kanan masjid jami ini sudah tidak ditemukan lagi perumahan penduduk karena hampir seluruh daerah sekitarnya menjadi pusat kegiatan bisnis. Sejarah masjid yang cukup tersohor di Jakarta itu terjadi ketika Sultan Agung dua kali menyerang kota Batavia (1618 dan 1619). Sekalipun mengalami kegagalan tapi para bangsawan Mataram merupakan juru dakwah yang handal. Di antara mereka kemudian menetap di Jakarta menjadi da’i dan membangun masjid sejumlah masjid, yang masih kita dapati di beberapa tempat di Ibu Kota. Masjid Al-Makmur mula-mula hanya sebuah mushola berukuran 12×8 meter. Pada 1915 diperluas oleh Habib Abu Bakar Alhabsyi, pendiri organisasi Jamiatul Chaer dan pendiri rumah yatim piatu Daarul Aitam di jalan yang sama. Luas masjid menjadi 1.142 m2 ketika Habib Abubakar memberikan tanah sebagai wakaf. Tahun 1932 masjid diperluas lagi atas tanah wakaf Salim Bin Muhammad bin Thalib. Kemudian pada tahun 1953 diperluas hingga luasnya menjadi 2.175 m2. Sayangnya, di depan masjid yang sangat bersejarah ini, di depannya tampak kumuh. Terutama oleh para pedagang kaki lima yang terkadang mangkal di depan masjid dan tumpah ruah ke jalan. Sementara mobil dan motor menjadikannya sebagai tempat parkir saat mereka hendak berbelanja ke pusat-pusat perdagangan Tanah Abang. Akibat pengembangan jalan, kini Masjid Al-Makmur hanya menyisakan (habis) beranda depan dengan tiga gerbang berpilar ramping berbentuk kelopak melati dan list-plang dengan lima lubang angin serta dua menara berkubah kecil bergaya mercusuar (dengan jendela dan teras) di kiri kanan bangunan utama. Sementara pedagang kaki lima kadang-kadang dengan enaknya menjajakan dagangannya di muka masjid.

Read More

Peristiwa Ketika Sultan Agung Mataram Tidak Menunaikan Puasa Ramadhan

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Kiai Penghulu di Keraton Mataram sedang bercengkerama dengan anak cucu di bulan Ramadhan. Dua abdi dalem (pembantu) keraton yang sedang menggunjingkan Sultan Agung mengeraskan suaranya saat melewati tempat Kiai Penghulu. Kiai Penghulu mendengar gunjingan itu dengan jelas bahwa Raja Mataram Sultan Agung tidak menunaikan ibadah puasa Ramadhan. Kiai Penghulu pun mendapatkan bahan untuk menguji Sultan Agung. Keesokan harinya, Kiai Penghulu menghadap Sultan Agung. Saat itu Sultan Agung sudah siap menyantap makanan. “Ah, baru tahu, ternyata ada Ratu Wali, Panatagama, di bulan Ramadhan tidak berpuasa. E-e-e-e, mana ada kalifah yang menjadi tuntunan malah tidak bisa dipatuhi. Kitab apa yang mengajarkan hal ini?“ cerocos Kiai Penghulu. Kiai Penghulu ini adalah orang Kramatwatu di Panarukan yang dulu pernah menitip pesan untuk Imam Syafii ketika Sultan Agung hendak berangkat ke Makkah untuk shalat Jumat. Sultan Agung lalu mengangkatnya menjadi penghulu keraton atas saran Imam Syafii. “Kakang Penghulu, aku kok kurang paham dengan perkataanmu. Maksud Kakang Penghulu bagaimana?” tanya Sultan Agung yang heran karena datang tiba-tiba Kiai Penghulu berkata menyerocos. “Sekarang bulan Ramadhan, Gusti. Mengapa Panjenengan tidak menjalankan puasa Ramadhan?” jawab Kiai Penghulu. Kemarin, Kiai Penghulu mendengar gunjingan dua abdi dalem keraton yang mempermasalahkan Sultan Agung karena tidak berpuasa di bulan Ramadhan. Salah satu abdi dalem bercerita bahwa Sultan AGung setiap hari makan seperti biasa. Bahkan, jumlah waktu makan di bulan Ramadhan ini melebihi jumlah waktu makan di hari-hari biasanya. “Kok malah makan sampai lima-enam kali. Apa tidak kasihan dengan para pembantu,” keluh di abdi dalem yang satu kepada temannya. “Aku tahu ini bulan puasa, namun yang berpuasa kan bulannya. Jadi, aku tak perlu ikut berpuasa,” jawab Sultan Agung. “Duh bagaimana ini, Gusti? Padahal semua abdi dalem, besar kecil, laki perempuan, yang sudah beragama Islam, menurut syariat Islam yang diajarkan Nabi Muhammad semua berpuasa. Saya yang mengajarkannya,” kata Kiai Penghulu. Kiai Penghulu pun menekankan bahwa ia mengajarkan hal itu karena perintah dari Sultan Agung yang menunjuknya sebagai penghulu keraton. “Jika rakyat mendengar bahwa Panjenengan tidak berpuasa, tentu saja nanti mereka juga tidak berpuasa,” lanjut Kiai Penghulu.

Read More

Ketika Panglima Perang Mataram Membuat Peluru dari Timah Panas dengan Tangan Kosong di Palembang

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Raja Mataram Sultan Agung sedang berkunjung ke Banten didampingi Panembahan Puruboyo. Saat di Banten itu, Panglima Perang Mataram Panembahan Puruboyo mendapat informasi jika Raja Palembang hendak menyerbu Mataram. Kanjeng Adipati Gusti Pangeran Adipati Panembahan Puruboyo merupakan kakak beda ibu dari ayah Sultan Agung, Prabu Anyokrowati. Ia merupakan panglima perang Mataram yang sakti. Babad menceritakan, ia bisa membuat peluru menggunakan tangan kosong. Ini berbeda dengan cara orang Palembang yang membuat peluru dengan cara dicetak. Pasukan Palembang sudah berlatih siang malam, segala jenis senjata sedang dibuat. Meriam, bedil, peluru dari timah, baja, besi terus dibuat. Mendapat informasi itu, Panembahan Puruboyo lalu menyamar menjadi pekatik (juru tuntun kuda raja). Ia diam-diam pergi ke Palembang. Niat Raja Palembang menyerbu Mataram lantaran Raja Palembang telah mendengar kekuatan Sultan Agung yang sering menaklukkan daerah-daerah lain. Ia ingin menguji kekuatan Mataram. Setiba di Palembang, ia mendengar banyak cerita dari rakyat Palembang mengenai persiapan Palembang menyerbu Mataram. Ia pun diam-diam mencari tahu tempat-tempat yang perlu ia datangi. Salah satu yang harus ia datangi adalah tempat pandai besi membuat senjata. Ia begitu terkejut begitu melihat para pandai besi menyiapkan senjata yang dibutuhkan untuk perang. Kehadiran Panembahan Puruboyo pun tidak ada yang mencurigainya. Begitu banyak pandai besi yang bekerja membuat senjata yang diperlukan. Panembahan Puruboyo mendengar, para pandai besi itu selama bekerja selalu membicarakan rencana penyerbuan ke Mataram. Ia pun mendekati pandai besi yang sedang membuat meriam dan peluru. Ia pun memulai pembicaraan. “Ternyata peribahasa desa mawa cara, negara mawa tata itu benar adanya. Di sini orang membuat peluru dicetak. Di tempat saya orang membuat peluru tidak dicetak,” kata Panglima Perang Mataram itu. Yang diajak bicara tertawa mendengar pernyataan Panembahan Puruboyo. “Ki Sanak ini ada-ada saja, mana ada orang membuat peluru dicetak. Seberapa besar cetakan yang diperlukan untuk mencetak orang yang membuat peluru itu?” tanya pandai besi Palembang itu. “Maksud saya, bukan orangnya yang dicetak. Di tempat saya kalau membuat peluru tidak dicetak,” kata Panembahan Puruboyo mengoreksi kata-katanya. “ Di sini pun begitu, Kalau sudah jadi peluru yang tidka dicetak. Yang dicetak itu kan bakal peluru,” sahut pandai besi Palembang. Panembahan Puruboyo merasakan pernyataannya salah lagi. Ia pun segera mengoreksinya. “Betul Ki Sanak, memang berbeda. Di tempat saya membuat peluru itu dilakukan dengan cara timah yang masih mendidih dipelintir-pelintir pakai tangan sampai bulat. Bentuk memang kasar, tetapi lebih cepat pengerjaannya,” kata Panembahan Puruboyo.

Read More

Sejarah Nama Jagakarsa dan Perkembangan nya Hingga Saat ini

Jakarta — 1miliarsantri.net : Disalah satu wilayah Jakarta terdapat sebuah tempat yang bernama Jagakarsa dan menjadi buah bibir setelah terbongkarnya penemuan empat jenazah yang diduga menjadi korban pembunuhan yang dilakukan ayah kandungnya sendiri PD (41 tahun). Keempat jasad tersebut adalah V (6 tahun), S (4 tahun), A (3 tahun), dan A (1 tahun) yang ditemukan di sebuah rumah kontrakan di wilayah Jagakarsa. Jagakarsa yang kini mencakut enam kelurahan, yakni Kelurahan Serengseng Sawah, Jagakarsa, Lenteng Agung, Cipedak, Tanjung Barat, dan Ciganjur, ternyata punya sejarah panjang. Nama Jagakarsa berasal dari nama seorang pangeran dari Kesultanan Mataram Yogyakarta. Seperti dirawikan Zaenuddin HM dalam buku karyanya berjudul “212 Asal-Usul Djakarta Tempo Doeloe,” yang diterbitkan Ufuk Press pada Oktober 2012, nama Jagakarsa berasal dari nama seorang panglima perang Kerajaan Mataram Yogyakarta yakni Raden Bagus Jagakarsa Surobinangun. Saat itu Raden Jagakarsa ikut berperang saat Kerajaan Mataram menyerang Belanda di Kota Batavia pada tahun 1628. Saat itu, Raden Jagakarsa menolak pulang karena gagal menaklukkan benteng Batavia. Dia menolak pulang ke Kerajaan Mataram karena takut kena hukuman penggal kepala. Ia pun memilih menetap di Batavia dan menikah dengan Putri Pajajaran yang saat itu tinggal di wilayah yang sekarang bernama Ragunan. Dari pernikahan tersebut lahir 2 anak yaitu Raden Mas Mohammad Kahfi dan Raden Mas Aria Kemang Yudhanegara. Rupanya Raden Jagakarsa mempunyai silsilah atau keturunan yang tinggal dan menetap di daerah tersebut. Pada masa lampau namanya begitu kesohor, sehingga orang-orang menyebut kawasan itu daerah Jagakarsa dan hingga kini diabadikan menjadi nama tempat tesebut. Jagakarsa dahulu adalah hutan belantara. Selepas penyerbuan tentara Kerajaan Mataram ke benteng VOC pada 1628 dan 1629, hutan-hutan di pinggiran Batavia dibabat. Pada 1628 saat pembukaan lumbung padi dari Karawang sampai wilayah selatan Batavia untuk mengepung VOC di Pasar Ikan, Jagakarsa termasuk wilayah yang dibuka. Awalnya, wilayah tersebut dijadikan sebagai tangsi dari pasukan Raden Prembun (De Haan, 1973) kemudian saat penyerbuan dan Mataram mengalami kegagalan, Jagakarsa dijadikan tempat pelarian pasukan Mataram. Pasukan VOC hanya mengejar pasukan Mataram hingga wilayah Jatinegara. Sisa-sisa pasukan di Jagakarsa dikenal sebagai istilah: Kaum Ganjuran, dari sinilah kemudian berkembang kata Ciganjur, Ganjuran adalah nama sejenis pohon Jati yang ada di sekitaran wilayah Jagakarsa.

Read More

Sejarah Ditemukannya Planet Kerdil

Surabaya — 1miliarsantri.net : Tata Surya memiliki delapan planet dan lima planet kerdil. Apa yang membedakan keduanya? Kata “planet” berasal dari kata Yunani kuno yang berarti “bintang pengembara”. Hal ini lantaran selama ribuan tahun, manusia telah menyaksikan planet-planet berubah posisinya di langit malam. Begitulah cara orang dahulu menemukan lima planet: Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, dan Saturnus. Para astronom menggunakan teleskop menemukan Uranus pada tahun 1781 dan Neptunus pada tahun 1846, dan Pluto pada tahun 1930. Sifat planet yang berubah posisinya tidak seperti bintang, yang tampak diam dan tidak bergerak jika dilihat dengan mata telanjang. Seiring waktu dan perkembangan teknologi, ilmuwan kemudian menemukan lebih banyak objek di luar Neptunus, di suatu tempat yang disebut sabuk Kuiper. Sabuk Kuiper adalah tempat di luar angkasa yang menyimpan “sisa-sisa” tata surya, khususnya benda-benda es kecil. Ilmuwan lantas menemukan tiga objek kecil yang diberi nama Eris, Haumea, dan Makemake yang ditemukan pada awal hingga pertengahan tahun 2000-an. Objek-objek ini cukup besar untuk dianggap sebagai planet. Tiga objek ini semuanya berukuran kira-kira sama dengan Pluto. Para astronom kemudian menduga bahwa kemungkinan terdapat lebih banyak benda es di sabuk Kuiper. Mereka mulai bertanya-tanya: berapa banyak planet yang bisa diidentifikasi di tata surya kita? Dua puluh? Tigapuluh? Seratus? Definisi planet kerdilPada tahun 2006, dan setelah banyak perdebatan, Persatuan Astronomi Internasional (IAU) menghasilkan definisi baru untuk sebuah planet. Pada tahun 2006 itulah istilah planet kerdil pertama kali digunakan. Menurut kesepakatan IAU, Sebuah planet harus mengorbit matahari secara langsung. Planet juga harus cukup besar untuk memiliki bentuk fisik bulat atau bulat. Selain itu, planet ini harus “membersihkan lingkungannya”. Artinya, selain bulan-bulan yang biasanya mengikutinya, planet tidak boleh berbagi orbit dengan objek lain yang berukuran sebanding. Objek yang hanya memenuhi dua kriteria pertama, namun tidak memenuhi kriteria ketiga kini disebut planet kerdil. Pluto diturunkan dari planet menjadi planet kerdilPada 2006 Pulo kehilangan statusnya sebagai planet dan kini tergolong sebagai planet kerdil. Pluto tidak memenuhi persyaratan ketiga karena ada benda-benda es lainnya di sabuk Kuiper yang berada dalam jalur orbit Pluto. Keputusan kontroversial itu masih diperdebatkan oleh para ilmuwan hingga hari ini. Pada saat yang sama Pluto diturunkan statusnya, ada objek-objek lain yang mendapat status baru. Ceres, yang dulunya dianggap sebagai asteroid, kini diklasifikasikan sebagai planet katai. Ceres berada di sabuk asteroid utama, mengorbit antara Mars dan Jupiter. Jika dijumlahkan Pluto, Ceres, Eris, Haumea, dan Makemake maka jumlah planet kerdil di tata surya kita menjadi lima. Namun kemungkinan daftar planet kerdil itu akan bertambah. Ada ratusan kandidat, hampir semuanya berada di sabuk Kuiper, berpotensi memenuhi kriteria sebagai planet katai. Karakteristik planet kerdil Planet kerdil tidak seperti Bumi. Sesuai dengan namanya, ukurannya jauh lebih kecil. Pluto dan Eris meruakan planet kerdil terbesar, memiliki diameter kurang dari seperlima Bumi. Massanya juga lebih sedikit. Bumi memiliki massa sekitar 6.400 kali lebih besar daripada Ceres. Karakteristik lain, planet kerdil memiliki sifat dingin. Suhu rata-rata Pluto sekitar minus 240 Celcius. Mungkinkah ada kehidupan di planet kerdil?Ada tiga hal yang dibutuhkan untuk kehidupan: air cair, sumber energi, dan molekul organik atau molekul yang mengandung karbon.

Read More

Perpustakaan Bayt Al Hikmah Bukti Islam Menguasai Pendidikan, Berdiri Pada Masa Khalifah Al-Ma’mun

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Pada saat Dinasti Abbasiyah masih berdiri, salah satu keberhasilannya ditunjukkan dengan pendirian perpustakaan terbesar dalam sejarah Islam, yaitu Bayt Al Ḥikmah. Lalu, apa saja Fakta sejarah tentang Bayt Al Ḥikmah? Islam pernah mengalami sebuah masa kejayaan. Di mana Islam memiliki semuanya, mulai dari kerajaan yang berpengaruh dan besar, pemeluk yang banyak, dan ilmuwan dengan pengetahuan jenius mereka. Salah satu bukti sejarah bahwa Islam pernah menjadi pusat pendidikan atau pemimpin dalam bidang ilmu pengetahuan, adalah didirikannya perpustakaan terbesar bernama Bayt Al Ḥikmah. Dinasti Abbasiyah pernah mengalami puncak kejayaannya dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan sains. Yakni pada masa khalifah ketujuh, Khalifa Al-Ma’mun yang berkuasa pada tahun 813-833 M. Hal ini sebagaimana dinukil dari buku Filsafat Sains: Menurut Ibn Al-Haytham karya Usep Mohamad Ishaq. Kejayaan ini ditandai dengan didirikannya perpustakaan bernama Bayt Al Ḥikmah atau sering disebut juga sebagai “House of Wisdom.” Kemudian, ini adalah perpustakaan terbesar yang dimiliki dunia Islam saat itu. Sebagai perpustakaan terbesar yang berisi lebih dari 601.000 buka, tentu saja Bayt Al Ḥikmah menyimpan banyak sekali buku-buku dan kitab berbagai ilmu. Lalu, apa saja isinya? Bayt Al Ḥikmah mengoleksi setidaknya 200.000 volume buku di dalamnya. Bahkan, sumber-sumber yang lain menyebutkan, Bayt Al Ḥikmah memiliki buku dengan 601.000 volume dan ditambah dengan mushaf Al-Qur’an sebanyak 2.400 buku. Selain menyediakan buku yang lebih beragam daripada perpustakaan-perpustakaan di Basrah, Bayt Al Ḥikmah juga memiliki balai pengamatan untuk pencerapan astronomi, biro penerjemahan, penyalinan manuskrip, dan lembaga penelitian ilmuah. Ada banyak sekali koleksi terjemahan karya sarjana Yunani di Bayt Al Ḥikmah, termasuk di bidang filsafat, geometri, mekanika, musik, aritmatika, dan pengobatan. Bahkan, dalam buku Sejarah Peradaban Islam karya Akhmad Saufi dan Hasmi Fadillah menyebutkan, di dalam Bayt Al Ḥikmah yang besar ini juga disediakan tempat ruangan untuk belajar.

Read More

Kisah Putri Kandita atau Nyi Roro Kidul yang Masih Kontroversial

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Indonesia memiliki banyak sekali dongeng atau cerita rakyat, salah satu nya cerita rakyat yang terkenal adalah Nyi Roro Kidul. Dalam legenda, Nyi Roro Kidul adalah sang penguasa Laut Selatan. Namun, kebenaran cerita tentang sosok Nyi Roro Kidul masih menjadi kontroversi.Menurut cerita yang beredar, Nyi Roro Kidul adalah seorang putri cantik bernama Kandita, putri kerajaan Pakuan Pajajaran. Kecantikannya sungguh tidak tertandingi oleh siapapun pada masa itu. Bahkan karena kecantikannya, ia juga dijuluki sebagai Dewi Srengenge, yaitu Matahari yang indah. Cerita versi lainnya mengatakan bahwa Nyi Roro Kidul adalah keturunan langsung Raja Airlangga dan juga merupakan keturunan Raja Kediri Jayabaya. Dikutip dari buku berjudul Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara Terpopuler yang ditulis oleh Lia Nuralia dan Lim Imadudin, Nyi Roro Kidul adalah anak dari Raja Prabu Siliwangi dari kerajaan Pakuan Pajajaran. Ibunya adalah permaisuri kinasih, permaisuri yang paling disayangi oleh Prabu Siliwangi. Nyi Roro Kidul yang semula bernama Putri Kandita, memiliki paras cantik melebihi ibunya. Oleh karena itu, tidak heran Kandita menjadi putri kesayangan ayahnya. Sikap Prabu Siliwangi tersebut menumbuhkan kecemburuan antara selir dan putra-putri raja lainnya. Akhirnya, mereka bersekongkol untuk menyingkirkan Kandita dan ibunya. Singkat cerita, Kandita dan ibunya terserang penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Semula mereka dikucilkan lalu diusir dari istana atas perintah Prabu Siliwangi karena desakan selir dan putra putrinya. Putri Kandita dan permaisuri pergi berkelana menuju selatan wilayah kerajaan. Dalam perjalanan, permaisuri meninggal dunia. Dalam pengembaraannya, Putri Kandita tiba di sebuah aliran sungai. Tanpa ragu, ia menikmati air sungai sepuas hatinya. Ia menyusuri aliran sungai ke arah hulu dan menemukan beberapa mata air yang menyembur deras. Lantas, ia berendam. Dengan kesendiriannya, ia menetap di dekat sumber air panas dan melatih olah kanuragan. Setelah sekian lama tinggal di sungai, tanpa disadari penyakitnya pun berangsur-angsur hilang. Setelah sembuh, Kandita melakukan perjalanan ke arah hilir sungai. Kandita terpesona saat tiba di muara sungai yang dekat dengan laut. Setelah itu, Putri Kandita memutuskan untuk bermukim di wilayah tepi laut sebelah selatan wilayah Pakuan Pajajaran. Selama menetap disana, Kandita dikenal luas hingga ke berbagai kerajaan di pulau Jawa sebagai seorang wanita yang cantik. Sejak saat itu, banyak pangeran yang ingin mempersuntingnya. Menghadapi para pelamar, ia mengajukan syarat yaitu para pelamar harus mengalahkan kesaktiannya termasuk bertempur dengan gelombang laut di pantai selatan pulau Jawa.

Read More

Wisata Peninggalan Kolonial Belanda di Bouwplan V Malang

Surabaya — 1miliarsantri.net : Ada banyak cara untuk menghabiskan waktu liburan. Salah satunya adalah dengan mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Kota Malang, Provinsi Jawa Timur (Jatim). Komunitas History Fun Walk Malang baru-baru ini melaksanakan kegiatan kunjungan ke tempat-tempat bersejarah di area Bouwplan V Kota Malang. Terutama di area dekat Mall Olympic Garden (MOG) dan Stadion Gajayana. Selain area Bouwplan V, kegiatan ini turut menghampiri beberapa peninggalan kolonial Belanda di Jalan Kelud, Kelurahan Bareng, Kecamatan Klojen. Pendiri History Fun Walk Malang, Yehezkiel Jefferson Halim, mengungkapkan kegiatan kali ini bertemakan “Sportpark Gebieb Bergenbuurt”. Sesuai dengan tema, kegiatan lebih menelusuri kawasan Bouwplan V yang mana dikenal sebagai “taman olahraga” di zaman kolonial Belanda. Menurut Yehezkiel, kawasan Bouwplan V dibangun oleh kolonial Belanda sekitar 1924 hingga 1926. Kompleks taman olahraga ini diyakini termasuk tertua di Indonesia. “Semula yang tertua itu di Menteng karena dibangun pada 1921. Namun sekarang sudah tidak ada. Oleh karena itu, yang di Kota Malang dianggap sebagai yang tertua di Indonesia,” jelasnya di Kota Malang, Selasa (04/12/2023). Wilayah tersebut tercatat memiliki fasilitas olahraga cukup lengkap. Beberapa di antaranya lapangan sepak bola, lapangan tenis, lapangan basket, lapangan voli, lapangan atletik, lapangan hoki dan kolam renang. Fasilitas ini semula dibangun di atas lahan seluas sembilan hektare (ha) dengan anggaran sekitar 85 ribu gulden. Selain area tersebut, rumah di Jalan Tenes Nomor 24 dan Nomor 14 turut dibahas oleh komunitas History Fun Walk Malang. Rumah di Jalan Tenes Nomor 24 ini diketahui telah dibangun sejak zaman Belanda. Rumah ini pernah dimiliki oleh tokoh militer Indonesia bernama Imam Soedja’i. Berdasarkan catatan sejarah, Imam Soedja’i termasuk salah satu dari tiga kandidat panglima TNI. Selain Imam, diketahui terdapat nama Jenderal Sudirman dan Jenderal Oerip Soemohardjo yang masuk dalam kandidat tersebut. Namun saat itu, Imam lebih memilih ikut perang di peristiwa 10 November Surabaya sehingga Jenderal Sudirman pun terpilih sebagai Panglima TNI. Sementara itu, bangunan di Jalan Tenes Nomor 14 (kini menjadi bistro My Kopi-O!) tercatat mulai dibangun pada 1929. Rumah ini pada awalnya dimiliki oleh administrator pabrik gula di Jombang, Sir Tom Thomas. Bangunan yang diyakini dijual kepada swasta pada 1950 ini masih mempertahankan struktur lama hingga sekarang. Komunitas History Fun Walk Malang turut mengunjungi area bozem yang kini terdapat Gedung KNPI Kota Malang. Area tersebut pada masa kolonial Belanda merupakan saluran penampungan air saat hujan lebat. Keberadaan tempat tersebut semula ditunjukkan agar air hujan tidak meluber ke wilayah publik. Di samping itu, juga terdapat bangunan sekolah rakyat yang kini menjadi SD Negeri Kauman 2 Malang. Saat ini bangunan yang masih mempertahankan sisi peninggalan sejarah tersebut digunakan sebagai perpustakaan dan ruang guru. Ada pula rumah pribumi bernama Sukowono yang kini menjadi bangunan Kimia Farma di Jalan Kawi, Kota Malang. Bangunan yang dahulunya mewah ini dianggap unik karena jarang sekali pribumi mampu mendirikan rumah bagus di kawasan elit Belanda. “Tidak ada bukti sejarah Sukowono itu orang penting atau bukan tetapi diyakini dia termasuk orang yang berpengaruh karena mampu memiliki rumah di kawasan tersebut,” jelasnya. Berikutnya, terdapat bangunan Gereja Kristen Indonesia (GKI) Bromo yang dahulunya merupakan rumah milik warga Eropa. Rumah mewah yang terdiri atas dua lantai itu selanjutnya dijual kepada saudagar gula bernama Han Tiauw An. Kemudian bangunan diserahkan kepada yayasan Tionghoa sehingga sempat menjadi sekolah kristen untuk berikutnya menjadi gereja mulai 1961. Hal yang paling menarik berikutnya adalah gedung BRI yang berada di Jalan Kawi. Bangunan ini dahulunya merupakan Bank Perkreditan Rakyat atau Volkcredietbank. Berdasarkan pengamatan dari luar, saat ini struktur kolonial Belanda sudah tidak terlihat jelas dari bangunan tersebut. Selain itu, rumah di kawasan Widodaren juga turut dibahas oleh komunitas. Pasalnya, area tersebut terdapat dua rumah yang memiliki satu atas bergaya Belanda. Bangunan ini diketahui pernah menjadi rumah dinas para pegawai Praja Malang yang biasa disewa sekitar tiga sampai enam bulan.

Read More

Esensi Asli Dunia Pendidikan Islam

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Pendidikan Islam merujuk pada apa yang dibawa oleh para nabi dalam risalah mereka. Alasannya, karena mereka adalah pendidik utama bagi umatnya, sesuai zaman, kondisi dan tempatnya. Kata pendidikan ditinjau dari aspek bahasa Arab adalah “Tarbiyah”. Kata tarbiyah itu sendiri seakar dengan kata “Rabb”:sering dimaknai sebagai Tuhan yang mencipta, memberi rezeki dan memelihara. Sehingga diantara makna utama pendidikan yang sejati adalah realisasi tumbuh kembang anak dan optmasinya sesuai fitrah ketuhanannya, sejalan dengan fungsinya sebagai makhluk(hamba). Maka dari aspek geniologi bahasa, pendidikan Islam berupaya membangun kesadaran si terdidik (formal dan tidak) agar selaras dengan tujuan penciptaannya. Yaitu mencapai level kesadaran ibadatullah dalam aspek hidupnya. Sehingga orientasi hidupnya bukan kesenangan dunia semata namun juga untuk kesenangan akhiratnya. Adapun secara praktis, saripati pendidikan Islam adalah melanjutkan tradisi kekhalifahan Nabi Adam. Yaitu sebagai pemakmur bumi dan melestarikan cita cita mulia manusia di bumi.

Read More

Kisah Si Pitung Punya Segudang Ilmu Kanuragan Bisa Menghilang Sampai Kebal Bacok

Jakarta — 1miliarsantri.net : Siapa yang tak pernah mendengar cerita Si Pitung, legenda silat sekaligus pahlawan dari Betawi. Jagoan asal Rawa Belong itu disebut memiliki segudang ilmu kanuragan yang membuat pening kompeni. Namun pada akhirnya Pitung mati setelah tubuhnya ditembak peluru emas. Bagaimana kisahnya? Batavia Oktober 1893. Rakyat Betawi di kampung-kampung tengah berkabung. Dari mulut ke mulut mereka mendengar si Pitung atau Bang Pitung meninggal dunia, setelah tertembak dalam pertarungan tidak seimbang dengan kompeni. Bagi warga Betawi, kematian si Pitung merupakan duka mendalam. Karena ia membela rakyat kecil yang mengalami penindasan pada masa penjajahan Belanda. Sebaliknya, bagi kompeni sebutan untuk pemerintah kolonial Belanda pada masa itu, Pitung adalah penjahat, pengacau, perampok, dan entah apa lagi. Jagoan kelahiran Rawa Belong, Jakarta Barat, ini telah membuat repot pemerintah kolonial di Batavia, termasuk gubernur jenderal. Bang Pitung dinilai berpotensi menimbulkan ancaman keamanan dan ketertiban. Karena itu berbagai macam strategi dilakukan pemerintah Hindia Belanda untuk menangkapnya hidup atau mati. Pitung ditetapkan sebagai orang yang kudu dicari dengan status penjahat kelas wahid di Betawi. Bagaimana Belanda tidak gelisah, dalam melakukan aksinya membela rakyat kecil Bang Pitung berdiri di barisan depan. Kala itu Belanda memberlakukan kerja paksa terhadap pribumi termasuk ‘turun tikus’. Dalam gerakan ini rakyat dikerahkan membasmi tikus di sawah-sawah di samping belasan kerja paksa lainnya. Belum lagi blasting (pajak) yang sangat memberatkan petani oleh para tuan tanah. Si Pitung, yang sudah bertahun-tahun menjadi incaran Belanda, berdasarkan cerita rakyat, Pitung mati setelah ditembak dengan peluru emas oleh Schout van Hinne dalam suatu penggerebekan karena ada yang mengkhianati dengan memberi tahu tempat persembunyiannya. Ia ditembak dengan peluru emas oleh Schout (setara Kapolres) van Hinne karena dikabarkan kebal dengan peluru biasa. Begitu takutnya penjajah terhadap Bang Pitung, sampai tempat ia dimakamkan dirahasiakan. Takut jago silat yang menjadi idola rakyat kecil ini akan menjadi pujaan. Si Pitung, berdasarkan cerita rakyat (folklore) yang masih hidup di masyarakat Betawi, sejak kecil belajar mengaji di langgar (mushala) di kampung Rawa Belong. Dia, menurut istilah Betawi, ‘orang yang denger kate’. Pitung juga ‘terang hati’, cakep menangkap pelajaran agama yang diberikan ustadznya, sampai mampu membaca (tilawat) Alquran. Selain belajar agama, dengan H Naipin, Pitung –seperti warga Betawi lainnya–, juga belajar ilmu silat. H Naipin, juga guru tarekat dan ahli maen pukulan. Suatu ketika di usia remaja –sekitar 16-17 tahun, oleh ayahnya Pitung disuruh menjual kambing ke Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Dari kediamannya di Rawa Belong dia membawa lima ekor kambing naik gerobak. Ketika dagangannya habis dan hendak pulang, Pitung dibegal oleh beberapa penjahat pasar. Mulai saat itu, dia tidak berani pulang ke rumah. Dia tidur di langgar dan kadang-kadang di kediaman gurunya H Naipan. Ini sesuai dengan tekadnya tidak akan pulang sebelum berhasil menemukan hasil jualan kambing. Dia merasa bersalah kepada orang tuanya.

Read More