Ketika Panglima Perang Mataram Membuat Peluru dari Timah Panas dengan Tangan Kosong di Palembang

Dengarkan Artikel Ini

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Raja Mataram Sultan Agung sedang berkunjung ke Banten didampingi Panembahan Puruboyo. Saat di Banten itu, Panglima Perang Mataram Panembahan Puruboyo mendapat informasi jika Raja Palembang hendak menyerbu Mataram.

Kanjeng Adipati Gusti Pangeran Adipati Panembahan Puruboyo merupakan kakak beda ibu dari ayah Sultan Agung, Prabu Anyokrowati. Ia merupakan panglima perang Mataram yang sakti.

Babad menceritakan, ia bisa membuat peluru menggunakan tangan kosong. Ini berbeda dengan cara orang Palembang yang membuat peluru dengan cara dicetak.

Pasukan Palembang sudah berlatih siang malam, segala jenis senjata sedang dibuat. Meriam, bedil, peluru dari timah, baja, besi terus dibuat.

Mendapat informasi itu, Panembahan Puruboyo lalu menyamar menjadi pekatik (juru tuntun kuda raja). Ia diam-diam pergi ke Palembang.

Niat Raja Palembang menyerbu Mataram lantaran Raja Palembang telah mendengar kekuatan Sultan Agung yang sering menaklukkan daerah-daerah lain. Ia ingin menguji kekuatan Mataram.

Setiba di Palembang, ia mendengar banyak cerita dari rakyat Palembang mengenai persiapan Palembang menyerbu Mataram. Ia pun diam-diam mencari tahu tempat-tempat yang perlu ia datangi.

Salah satu yang harus ia datangi adalah tempat pandai besi membuat senjata. Ia begitu terkejut begitu melihat para pandai besi menyiapkan senjata yang dibutuhkan untuk perang.

Kehadiran Panembahan Puruboyo pun tidak ada yang mencurigainya. Begitu banyak pandai besi yang bekerja membuat senjata yang diperlukan.

Panembahan Puruboyo mendengar, para pandai besi itu selama bekerja selalu membicarakan rencana penyerbuan ke Mataram. Ia pun mendekati pandai besi yang sedang membuat meriam dan peluru.

Ia pun memulai pembicaraan. “Ternyata peribahasa desa mawa cara, negara mawa tata itu benar adanya. Di sini orang membuat peluru dicetak. Di tempat saya orang membuat peluru tidak dicetak,” kata Panglima Perang Mataram itu.

Yang diajak bicara tertawa mendengar pernyataan Panembahan Puruboyo. “Ki Sanak ini ada-ada saja, mana ada orang membuat peluru dicetak. Seberapa besar cetakan yang diperlukan untuk mencetak orang yang membuat peluru itu?” tanya pandai besi Palembang itu.

“Maksud saya, bukan orangnya yang dicetak. Di tempat saya kalau membuat peluru tidak dicetak,” kata Panembahan Puruboyo mengoreksi kata-katanya.

“ Di sini pun begitu, Kalau sudah jadi peluru yang tidka dicetak. Yang dicetak itu kan bakal peluru,” sahut pandai besi Palembang.

Panembahan Puruboyo merasakan pernyataannya salah lagi. Ia pun segera mengoreksinya.

“Betul Ki Sanak, memang berbeda. Di tempat saya membuat peluru itu dilakukan dengan cara timah yang masih mendidih dipelintir-pelintir pakai tangan sampai bulat. Bentuk memang kasar, tetapi lebih cepat pengerjaannya,” kata Panembahan Puruboyo.


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca