Ketika Panglima Perang Mataram Membuat Peluru dari Timah Panas dengan Tangan Kosong di Palembang

Dengarkan Artikel Ini

Para pandai besi Palembang yang mendengar tentu pada tertawa. Bagi mereka tidak mungkin membuat peluru dilakukan dengan cara itu. Mereka pun menanyakan daerah asal dan jati diri Panembahan Puruboyo.

“Saya hanya orang desa di wilayah kekuasaan Mataram yang menjadi tetangga Palembang. Nama Saya Pak Jadhug,” jawab Panembahan Puruboyo.

Pandai besi Palembang lalu menduga yang bisa membuat peluru dengan tangan kosong bisa jadi hanya para pembesar di Mataram, seperti para bupati dan para panglima. “Kalau seperti Pak Jadhug mana mungkin bisa melakukannya? Beda kalau disuruh membuat klepon, pasi bisa,” kata pandai besi Palembang.

Panembahan Puruboyo pun membantahnya. Kata dia, tidak hanya pembesar yang bisa membuatnya. Rakyat biasa pun bisa membuat peluru dengan tangan kosong.

Mereka pun meminta bukti, lalu meminta Panembahan Puruboyo menunjukkan kebisaannya membuat peluru. Panembahan Puruboyo pun segera mengambil timah mendidih dengan kedua tangannya, lalu ia adon sampai membentuk perlu bundar.

Besarnya tidak berbeda dengan peluru yang mereka buat dengan cetakan. Dalam waktu sekejap, Panembahan Puruboyo telah membuat beberapa peluru, ketika pandai besi Palembang belum menyelesaikan satu peluru yang dicetak.

Pandai besi lainnya pun berkerubung melihat keahlian Panembahan Puruboyo. Mereka meninggalkan pekerjaan mereka.

Penanggung jawab di pembuatan senjata itu pun marah melihat hal itu. “Setan alas Mataram,” kata dia.

Ia pun menuduh Panembahan Puruboyo sebagai mata-mata Mataram. Mendengar teguran itu, Panglima Perang Mataram itu pun berusaha menjauh, seperti orang sedang ketakutan. Ia menyandar pada meriam-meriam yang ada di situ.

Meriam-meriam itu pun menjadi gepeng terkena tubuh Panembahan Puruboyo. Para pandai besi yang kemudian berganti gemetaran. Orang yang tadi menegur Panembahan Puruboyo segera meminta prajurit menangkap Panembahan Puruboyo.

Begitu prajurit berbondong-bondong hendak menangkapnya, Panembahan Puruboyo lalu menjentik meriam-meriam dengan jarinya. Meriam-meriam terlempar ke arah orang-orang yang mengepungnya.

“Hai, para prajurit Palembang, saya tidak bersalah. Jika kalian tunduk pada saya surga imbalannya. Jika tidak, tangkaplah meriam-meriam ini,” kata Panglima Perang Mataram itu sambil menjentik meriam.

Para prajurit itu pun tak berdaya. Yang masih bisa melarikan diri segera melapor ke Patih yang kemudian melapor ke Raja Palembang. (mif)

Baca juga :


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca