Sejarah Emas Hingga Dijadikan Alat Pertukaran dan Transaksi Jual Beli

Dengarkan Artikel Ini

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Dalam sejarah Islam, emas memiliki peran penting, baik secara ekonomi maupun budaya. Emas dianggap sebagai salah satu bentuk kekayaan yang legal dan dihargai. Mata uang emas telah digunakan dalam sejarah Islam sebagai standar nilai dan alat tukar. Salah satu contoh yang terkenal adalah dinar emas dan dirham perak.

Sebelumnya, bangsa Arab hanya berdagang dengan menerapkan sistem barter dan tidak pernah memproduksi mata uang sendiri. Bangsa Arab lalu mengadopsi dinar dan dirham sebagai sistem mata uang dan hal ini berlangsung hingga zaman Rasulullah SAW.

Dalam proses penimbangan bobot dinar dan dirham tersebut, Rasulullah SAW dibantu oleh seorang sahabatnya, yaitu Arqam bin Abi Arqam yang merupakan seorang ahli tempa emas dan perak pada masa itu.

Namun, pada awal abad ketujuh masa Rasulullah SAW koin belum ada. Sementara, koin emas dari kekaisaran Bizantium dan koin perak dari Persia saat itu sudah beredar.

Orang-orang Arab kemudian menyebar ke Timur Dekat atau Kawasan Levant pada pertengahan abad ketujuh. Mereka menjalin hubungan erat dengan masyarakat yang telah mengeluarkan koin selama berabad-abad tersebut.

Dinar emas Islam pertama baru dicetak sekitar setengah abad setelah wafatnya Nabi SAW oleh khalifah Bani Umayyah kelima, Khalifah Abdul Malik bin Marwan (68 M-705 M). Khalifah Abdul Malik mulai mencetak koin emas pada 697 M. Koin emas yang dicetak tersebut berbobot 4,4 gram dengan mencantumkan tulisan dinar.

Dua tahun berikutnya, pemerintahan Khalifah Abdul Malik kembali mencetak dinar yang bobotnya berubah menjadi 4,25 gram emas karena mengikuti standar yang diletakkan Khalifah Umar bin Khattab.

Koin emas pada zaman itu dicetak secara khusus di Damaskus, ibu kota kekhalifahan Umayyah. Khalifah Abdul Malik menggantikan sosok kaisar Bizantium di dalam koin emas yang selama ini telah digunakan.

Lambang salib juga dihilangkan, dan untuk pertama kalinya kata-kata dari Alquran dimunculkan di dalam koin. Setiap koin yang dicetak pada saat itu bertuliskan kalimat tauhid.

Sejak saat itu, dilakukan penghentian penggunaan gambar wujud manusia dan binatang dari mata uang peradaban Islam itu. Sebagai gantinya, digunakan huruf-huruf.


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca