Tata Ruang Hunian Sekarang Banyak Mengadopsi Konsep Bangunan Jaman Majapahit

Dengarkan Artikel Ini

Mojokerto — 1miliarsantri.net : Sejak jaman dahulu, masyarakat Majapahit dalam mendirikan rumah dikenal dengan menggabungkan nilai filosofis dan fungsi efisiensi. Dimana bangunan yang baik-baik seperti tempat ibadah ada di bagian depan, yang buruk semacam kamar mandi dan tempat sampah letaknya di belakang. Mirip konsep interior rumah sekarang.

Menurut Budayawan Putut Nugroho, konsep penataan secara terperinci itu bahkan sudah berkembang sejak sekitar 200 tahun sebelumnya. Tata ruang bangunan rumah di era abad ke 13 sampai 16 itu mengadopsi tata ruang kota Kerajaan Majapahit.

’’Konsep arsitektur dalam penataan posisi bangunan berikut isinya mengacu pada tataran filosofis tiga penyebab kebahagiaan,’’ ungkapnya.

Tiga nilai penting dalam ajaran Hindu-Budha itu meliputi hubungan harmonis antara manuasia dengan tuhan, antarmanusia, dan manusia dengan alam. Nilai ini diterapkan dalam konsep pembagian area tiga zona yang oleh masyarakat Bali disebut dengan Tri Mandala.

Pedoman pembagian ruang itu menyangkup bagian utama, madya, dan nista. Utama adalah bagian bangunan yang berhubungan dengan spiritualitas, yakni tempat ibadah. Bangunan ini biasanya menjadi satu area dengan rumah dan posisinya berada di depan.

’’Masyarakat saat itu punya keyakinan bahwa posisi tempat ibadah harus pakem,’’ ujarnya.

Putut mengatakan, konsepsi yang berpadu dengan kultur Jawa kuno melahirkan gaya baru arsitektur.

Dalam tradisi rumah adat Joglo misalnya, bisa ditemui bagian senthong yang memiliki fungsi sakral sebagai tempat sembahyang atau bermeditasi

Selanjutnya, area madya yang berupa pelatan utama rumah atau sekarang mirip dengan ruang tamu, kamar, sampai dapur.


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca