Masa-masa Kekalahan Pangeran Diponegoro Atas Belanda
Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Belanda dengan gemilang menguasai wilayah selatan dan tengah Yogyakarta pada awal 1828. Diponegoro terdesak ke barat. Ia bersembunyi di hutan Bagelen pada tahun 1829. Belanda mencoba membuka perundingan untuk bisa menangkap Diponegoro.
Kekalahan Diponegoro berawal pada 7 Januari 1828. Saat itu, wakil Jenderal De Kock, Kolonel Chochius, dibantu 120 prajurit Madura dan dan kolone kesultanan berhasil merebut Desa Tegalsari.
Sebanyak 30 prajurit Diponegoro ditawan. Sebanyak 100 ekor sapi dirampas. Setelah itu, Chochius membakar semua desa dekat Plered. Pasar Gede dan desa-desa sekitarnya pun dikuasai Belanda, 21 ekor sapi dirampas dari Desa Wonokromo.
Selama Maret 1828, Cochius berhasil menguasai desa-desa di perbatasan Yogyakarta-Kedu. Setelah itu merebut desa-desa di sekitar jalan Yogyakarta-Magelang pada April 1828.
Dalam waktu tiga bulan, wilayah utara Yogyakarta pun direbut oleh Belanda. Benteng-benteng pertahanan dibangun Belanda di wilayah-wilayah yang telah dikuasai.
Benteng-benteng itu menyulitkan Patih Abdullah Danurejo untuk memungut pajak. Akibatnya pasukan-pasukan Dipoengoro makin kesulitan mendapatkan perbekalan.
Pada November 1828, Kiai Mojo dan 500 prajuritnya yang kesulitan perbekalan dikalahkan oleh Belanda. Mereka ditawan.
Pasukan Diponegoro dipukul mundur, terdesak di tepi barat Kali Progo pada April 1828. Belanda beruntung bisa menangkap Kerto Pengalasan.
Pengalasan membantu membuka peluang perundingan Belanda-Diponegoro. Pada akhir Januari dimulai gencatan senjata, berlangsung hingga tiga bulan.
“Pada akhir Januari 1829 terjadi gencatan senjata sehubungan dengan rencana perundingan antara Ali Basah Sentot Prawirodirjo (utusan Diponegoro) dengan Kolonel Nahuys (utusan Jenderal De Kock),” tulis Saleh As’ad Djamhari.
Kerto Pengalasan pun memberikan informasi mengenai rencana Diponegoro mendirikan keraton baru, terpisah dari gubernemen.
“Kita tahu dari sumber-sumber lain bahwa yang pernah menjadi tempat markas besarnya di Sambiroto, daerah Adikarto, Kulon Progo, sebelah barat Kali Opak mungkin akan dipilih sebagai ibu kota kerajaan ini,” kata Peter Carey.
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


