Masa-masa Kekalahan Pangeran Diponegoro Atas Belanda

Dengarkan Artikel Ini

Ketika masa gencatan senjata akan usai, Diponegoro memindahkan pasukan ke Pajang. Diponegoro memilih ke Bagelen ketika Belanda terus menyerbunya

De Kock terus melanjutkan revana perundingan dengan dibantu oleh Pengalasan. Namun, Johannes van den Bosch, gubernur jenderal baru yang datang pada awal Januari 1830, menegaskan tidak ada ruang perundingan untuk Diponegoro.

Perintah Raja Willem I yang ia bawa adalah menangkap Diponegoro. “Kehendak mutlak raja itu, tidak bileh ada perundingan lagi, hanya penyerahan diri tanpa syarat yang diizinkan,” kata De Kock kepada Kolonel Cochius.

“Jika mungkin menangkap atau membunuh Diponegoro, hal itu tentunya sangat menyenangkan […] jangan mengikat perjanjian apa pun dengan dia,” kata Van den Bosch kepada De Kock.

Maka, De Kock merancang perundingan sebagai alasan agar bisa menangkap Diponegoro. Nasib Diponegoro berarti sudah dientukan sebelum perundingan dimulai

“Jangan melakukan perundingan apa pun dengan dia […] hanya dengan syarat pemenjaraan seumur hidup penyerahan diri dan penangkapannya diizinkan. Tidak ada syarat lain apa pun,” kata Van den Bosch kepada De Kock.

Pada 8 Maret 1830 Diponegoro telah tiba di Magelang atas undangan De Kock. Pada tanggal itu juga Van den Bosch menulis surat untuk De Kock:

Sekalipun berkemampuan … [Diponegoro] tetaplah seorang kriminal yang menimbulkan cercaan […]. Memberi hati kepada oang srperti itu tentu saja akan dipandang kelak sebagai kelemahan yang tak bisa dimaafkan […].
Apa anggapan orang jika kita sampai menunjukkan perkenan kepada seseorang yang sejauh ini sudah dikalahkan sehingga dia terpaksa berkeliaran di hutan belantara dengan hanya dua orang pengikut?

(mif)

Baca juga :


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca