Sejarah Partai Syarikat Islam, Sebelum Terlahirnya Boedi Oetomo dan Sumpah Pemuda

Solo — 1miliarsantri.net : Pada 118 tahun lalu, dentuman meriam Jepang yang bertalu-talu dalam pertempuran dengan Angkatan Laut Rusia di Selat Thusima yang menyebabkan AL Rusia bertekuk lutut kepada Jepang di Port Arthur pada 1905. Kemenangan Jepang atas Rusia itu telah membangkitkan semangat dan harga diri bangsa-bangsa Timur bahwa mereka juga mampu melawan penjajahan (Barat) dan mengusir mereka dari bumi Timur. Peristiwa itu dijadikan momentum oleh seorang pemuda Lawean, Solo, asal Klaten, untuk mencetuskan ide yang selama ini tersimpan dalam jiwanya: menyusun kekuatan guna mengusir penjajah Belanda dari bumi Indonesia. Pemuda itu kemudian dikenal sebagai tokoh Perintis Kemerdekaan: Kiai Haji Samanhudi. “Dialah hero yang sebenarnya bagi pergerakan Indonesia,” tulis mantan tokoh Masyumi 1950-an, KH Firdaus AN dalam buku Dosa-dosa Politik Orla dan Orba. Samanhudi atau sering disebut Kiai Haji Samanhudi lahir di Laweyan, Surakarta, Jawa Tengah, 1868. Beliau adalah pendiri Sarekat Dagang Islam, sebuah organisasi massa di Indonesia yang awalnya merupakan wadah bagi para pengusaha batik di Surakarta. Nama kecilnya ialah Sudarno Nadi. Semasa hidupnya, Samanhudi menimba ilmu di sejumlah pesantren. Seperti Pontren KM Sayuthy (Ciawigebang), Pontren KH Abdur Rozak (Cipancur), Pontren Sarajaya (Kab Cirebon), Pontren (di Kab Tegal, Jateng), Pontren Ciwaringin (Kab. Cirebon) dan Pontren KH Zaenal Musthofa (Tasikmalaya). Samanhudi dikenal sebagai santri yang sangat tadzim terhadap guru-gurunya, terlebih terhadap Asysyahid KH Zainal Mushtofa (Pahlawan Nasional). Ia banyak bercerita tentang heroisme perjuangan gurunya yang satu ini ketika berjuang melawan penjajah Jepang, hingga beliau gugur sebagai pahlawan kusuma bangsa di depan regu tembak serdadu Jepang. Makbaroh gurunya ini telah dipindahkan ke Taman Pahlawan Sukamanah, Tasikmalaya. Dalam dunia perdagangan, Samanhudi merasakan perbedaan perlakuan oleh penguasa Hindia Belanda antara pedagang pribumi yang mayoritas beragama Islam dengan pedagang Tionghoa pada 1905. Karena itu Samanhudi merasa pedagang pribumi harus mempunyai organisasi sendiri untuk membela kepentingan mereka. Pada 1905, ia mendirikan Sarekat Dagang Islam untuk mewujudkan cita-citanya. KH Samanhudi meninggal di Klaten, Jawa Tengah, 28 Desember 1956 dan dimakamkan di Banaran, Grogol, Sukoharjo. Sejarah Indonesia merayakan Hari Kebangkitan Nasional yang ditandai dengan kelahiran Budi Utomo, 20 Mei 1908, telah diperingati secara meriah. Padahal sebenarnya tiga tahun sebelum lahirnya Budi Utomo telah berdiri Syarikat Dagang Islam pada 16 Oktober 1905 di kota Solo. Beberapa tahun kemudian untuk menonjolkan Islam, kata ‘dagang’ dihilangkan. Setelah HOS Tjokroaminoto masuk dalam jajaran pimpinan Syarikat Islam (SI), kemajuan SI makin hebat dengan semangat berkobar-kobar sehingga SI dipandang sebagai ‘Ratu Adil’. Kemajuan Syarikat Islam yang pesat saat itu membuat penasehat pemerintah kolonial, Snouck Hurgronye, menulis dalam majalah Indologen Blad, meminta pemerintah mewaspadai kebangkitan gerakan Islam ini dan jangan sampai lengah. Belanda awalnya menolak kehadiran SI. Namun mereka kemudian mengakui Syarikat Islam sebagai badan hukum pada 10 September 1912.

Read More

Perang Quraidhah terjadi Karena Pengkhianatan Kaum Yahudi Bani Quraidhah

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Perang Bani Quraidhah terjadi pada tahun ke-5 Hijriyah, Dzulqaidah. Perang terjadi karena pengkhianatan yang dilakukan kaum Yahudi Bani Quraidhah. Seperti dikutip dari Sejarah Hidup dan Perjuangan Rasulullah SAW disarikan dari kitab ar-Rahiq al-Makhtum, sehari setelah kepulangan Rasulullah di Madinah, tepat pada waktu Zuhur, datang malaikat Jibril menemui Rasulullah SAW yang sedang akan mandi di rumah Ummu Salamah. Diapun berkata : “Apakah kamu sudah meletakkan senjata? Sesungguhnya malaikat belum meletakkan senjata mereka dan saya tidak akan kembali sebelum menyerang suatu kaum. Bangunlah engkau sekarang bersama sahabat sahabatmu menuju Bani Quraidhah, saya akan berjalan di depanmu untuk menggoncangkan benteng benteng mereka dan menebarkan ketakutan di dada mereka.” Maka berangkatlah Jibril bersama pasukannya dari kalangan malaikat. Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan seseorang meng umumkan kepada masyarakat untuk segera berangkat ke perkampungan Bani Quraidhah dan berpesan agar mereka tidak sholat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraidhah. Beliaupun memerintahkan Abdullah bin Ummi Maktum untuk menjaga kota Madinah, lalu beliau menyerahkan bendera perang kepada Ali bin Thalib. Rasulullah SAW segera berangkat bersama beberapa orang pasukannya. Para sahabat yang masih berada di Madinah bergegas pergi menyusul Rasulullah menuju Bani Quraidhah agar mereka dapat sholat Ashar di sana. Namun di tengah perjalanan (sebelum tiba di Bani Quraidhah), waktu Ashar telah tiba. Mengingat pesan Rasulullah SAW di atas, maka sebagian di antara para sahabat menunda sholat Ashar mereka hingga tiba di Bani Quraidhah di akhir waktu Isya. Sementara sebagian lainnya melakukan sholat Ashar saat itu juga karena berpendapat bahwa yang dimaksud Rasulullah SAW, adalah untuk segera berangkat, (bukan untuk mengakhirkan shalat). Walaupun telah terjadi perbedaan pandangan, hal itu tidak membuat mereka saling bertikai. Begitulah, sekelompok demi sekelompok tentara kaum Muslimin berangkat menuju Bani Quraidzah. Mereka berjumlah 3.000 orang. Setibanya di sana, mereka segera melakukan pengepungan terhadap suku tersebut. Pengepungan terus berlangsung selama 25 hari. Sebenarnya Bani Quraidzah dapat bertahan dalam pengepungan tersebut dalam waktu lebih lama, mengingat kuatnya benteng mereka dan tersedianya bahan makanan dan minuman di dalamnya. Sementara di sisi lain, udara dingin tanpa perlindungan menghadang kaum muslimin disertai rasa lapar yang sangat. Namun peperangan ini lebih bersifat perang urat saraf dan karena mereka telah dihantui rasa takut oleh kekuatan kaum Muslimin, akhirnya kaum Yahudi Bani Quraidzah tunduk dan mereka menyerahkan keputusannya kepada Rasulullah SAW.

Read More

Kesaktian dan Kedigdayaan Ki Ageng Selo, Cicit Raja Brawijaya V

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Cicit Raja Majapahit Brawijaya V, Ki Ageng Selo, dikenal sebagai sosok sakti. Ia selalu memakai ikat kepala, yang hingga dikini masih disimpan di Desa Selo, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan. Pada waktu masih remaja, dengan tangan kosong ia bisa mengalahkan banteng dalam sekali hantam. Kemudian ia juga bisa menangkap petir yang sering mengganggu petani. “Kepada siapa saja yang mempunyai niat jelek kepada Ki Ageng Selo, jika Ki Ageng Selo menarik tunggul wulung dari kepalanya kemudian dikebutkan di muka orang yang berniat jahat, seketika sang penjahat menjadi buta,” tulis T Wedy Utomo. Tunggul wulung adalah nama ikat kepala Ki Ageng Selo. Tapi tidak ada yang bisa menceritakan bagaimana bentuk ikat kepala itu. Pun tak ada yang tahu sebesar besar ukurannya. Untuk warna, dipastikan berwarna hitam, karena wulung –yang berasal dari bahasa Jawa– hitam. Jika ikat kepala Aji Saka ketika dibuka bisa melebar menutupi Pulau Jawa, tidak ada cerita demikian mengenai ikat kepala Ki Ageng Selo. Aji Saka adalah tokoh legenda yang menjadi Raja Medang Kamulan di wilayah Grobogan. Ia meminta sebidang tanah seluas ikat kepalanya. Permintaan itu ia ajukan kepada RaJa Medang Kamulan sebelumnya, sewaktu Aji Saka pertama kali datang di Medang Kamulan. Setelah dibuka, ternyata ikat kepala itu terus melebar, menutup Pulau Jawa. Raja Medang Kamulan yang memegangnya ketika harus mengukir bidang tanah dengan ikat kepala itu akhirnya terlempar ke laut selatan. Namun, ikat kepala Ki Ageng Selo berbeda dengan ikat kepala Aji Saka. Ki Ageng Selo tidak bisa menggunakan ikat kepalanya untuk mendapatkan kekuasaan. Yang mendapatkan kekuasaan justru cucunya. Sutowijoyo, sang cucu, mendirikan Kerajaan Mataram, tapi juga tidak dengan menggunakan ikat kepala warisan kakeknya. Ikat kepala Ki Ageng Selo tetap disimpan di Selo. Kotak yang digunakan untuk menyimpan ikat kepala itu dikunci rapat. Tidak ada yang berani membukanya. Jadi, tidak ada yang tahu bagaimana kondisi ikat kepal itu sekarang. “Mungkinkah telah begitu hancur dimakan ngengat?” tanya T Wedy Utomo.

Read More

Sejarah Syiar di Kepulauan Maluku

Ternate — 1miliarsantri.net : Kalangan sejarawan umumnya sepakat, Islam sudah berkembang pesat di Maluku ketika Portugis datang pada 1512 M. Salah satu kerajaan terbesar di sana, Ternate, telah diperintah oleh seorang raja Muslim. Kesultanan itu akhirnya mengetahui bahwa Portugis tidak hanya menjalankan perdagangan rempah-rempah secara curang, tetapi juga berkedok menyebarkan agama Kristen. Pemimpin dan rakyat setempat pun bahu-membahu untuk memerangi bangsa Eropa tersebut. Jejak kejayaan Islam di Maluku tampak dari pelbagai bangunan setempat yang telah berumur ratusan tahun. Salah satunya ialah Masjid Wapauwe di Kaitetu, Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah. Hingga kini, tempat ibadah tersebut masih tegak berdiri walau usianya telah melewati enam abad. Inilah masjid tertua se-Indonesia timur. Untuk sampai ke sana, pengunjung dari pusat Kota Ambon bisa menggunakan transportasi darat dengan menempuh waktu satu jam perjalanan. Masjid Wapauwe didirikan pada 1414 M. Semula, namanya adalah Masjid Wawane. Disebut begitu karena lokasi pendiriannya ada di lereng Gunung Wawane. Pendirinya merupakan Pernada Jamilu, seorang bangsawan Kesultanan Jailolo dari Moloko Kie Raha (empat gunung Maluku). Jamilu tidak hanya bertindak sebagai elite kerajaan. Bahkan, perannya besar sebagai mubaligh di tengah masyarakat. Sekitar tahun 1400 M, ia menyambangi Tanah Hitu untuk menyebarkan Islam. Ada lima desa (negeri) di kaki Gunung Wawane yang menerimanya, yakni Assen, Wawane, Atetu, Tehala dan Nukuhaly. Sebelumnya, agama tauhid cenderung dikenal hanya di daerah pesisir, khususnya yang berinteraksi dengan para pedagang Arab. Perpindahan Masjid Wawane ke lokasi yang ada sekarang tak lepas dari konteks perang melawan kolonialisme. Pada 1580, Belanda di bawah bendera Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) mulai berupaya menguasai Tanah Hitu. Memasuki tahun 1600-an, kongsi dagang yang juga disebut Kompeni itu tidak mengurangi gangguannya terhadap penduduk lokal. Akhirnya, pada 1634 perang pun pecah antara kedua belah pihak. Dengan alasan keamanan, Muslimin di kaki Gunung Wawane bersepakat untuk memindahkan Masjid Wawane ke lokasi baru. Tempat ibadah itu pun dipindah pada 1614 ke Kampung Tehala yang berjarak sekira 6 km arah timur Wawane. Nama baru pun dipilih untuk bangunan tersebut. Antara lereng Gunung Wawane dan Tehala terdapat bentangan daratan yang marak ditumbuhi pepohonan mangga hutan atau mangga berabu. Buah itu dalam bahasa Kaitetu disebut sebagai wapa. Terinspirasi dari itu, masyarakat setempat pun menyebut masjid ini sebagai Masjid Wapauwe. Artinya, masjid yang didirikan di bawah pohon mangga berabu. Pada tahun 1646 Belanda akhirnya dapat menguasai seluruh Tanah Hitu. Dalam rangka kebijakan politik ekonominya, Belanda kemudian melakukan proses penurunan penduduk dari daerah pegunungan, tidak terkecuali warga kelima negeri tadi. Proses pemindahan itu berlangsung hingga tahun 1664. Pada saat itu pula, Desa Kaitetu dibentuk. Corak arsitektur yang ditampilkan Masjid Wapauwe barangkali tampak sederhana. Akan tetapi, ada keunikan di sana bila diperhatikan dengan saksama. Masjid ini dibangun tanpa paku. Sebagai gantinya, pasak-pasak kayu digunakan untuk menyambung antarsetiap bagian bangunan. Alhasil, setiap bagian-bagiannya dapat dibongkar pasang. Inilah salah satu keunikannya sehingga memungkinkan masjid tersebut bisa dipindah-pindah dari satu area ke area lain.

Read More

Mengenal Sosok Maulana Syekh Abdurrahman bin Abdullah al-Khalidi, Kakek Proklamator Mohammad Hatta

Jakarta — 1miliarsantri.net : Maulana Syekh Abdurrahman bin Abdullah al-Khalidi lahir pada 1783 M di Desa (Nagari) Batuhampar–kini bagian dari Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatra Barat. Ada pula yang menyebut, tahun kelahirannya ialah 1777 M. Sang alim wafat pada 23 Oktober 1899. Seperti tampak pada gelarnya, tokoh tersebut merupakan seorang pemimpin aliran tarekat, tepatnya Naqsyabandiyyah Khalidiyah. Dalam sejarah, namanya juga dicatat sebagai kakek sang proklamator RI, Mohammad Hatta. Maulana Syekh Abdurrahman al-Khalidi merupakan anak tunggal dari pasangan Abdullah alias Rajo Intan dan Ibu Tuo Tungga. Menurut Mansur Malik dalam buku Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat (1981), sejak kecil Abdurrahman sudah menunjukkan tanda-tanda kecerdasan. Abdurrahman muda mengadakan rihlah intelektual ke berbagai kota pusat keagamaan Islam; mulai dari daerah Minangkabau hingga Aceh Darussalam. Bahkan, dirinya pun pernah belajar di Makkah al-Mukarramah, Jazirah Arab. Abdurrahman pertama kali berpamitan kepada ibundanya untuk pergi menuntut ilmu saat berusia 15 tahun. Setelah mendapat restu dari sang ibu, ia pun berangkat ke Batusangkar untuk belajar kepada Syekh Galogandang. Bekal yang ia bawa saat itu hanya berupa sedikit beras, uang sepiak, dan satu mushaf Alquran. Setelah bertahun-tahun belajar kepada Syekh Galogandang, Abdurrahman kemudian pamit, untuk menuju Tapak Tuan, Aceh. Dirinya hendak berguru kepada Syekh Abdurrauf Singkil. Usai delapan tahun belajar kepada Syekh Abdurrauf, pemuda ini memulai perjalanan haji. Kemudian, ia berguru pada sejumlah masyayikh termuka di kota kelahiran Nabi Muhammad SAW. Hingga tujuh tahun lamanya, putra daerah Batuhampar tersebut menuntut ilmu di Tanah Suci. Bila ditotal, 48 tahun lamanya Syekh Abdurrahman belajar dari satu guru ke guru lainnya. Usai nyaris setengah abad menghabiskan usia dalam tholabul ‘ilmi, ia akhirnya pulang ke kampung halaman. Kala itu, umurnya mencapai 63 tahun. Satu hal yang merisaukannya, masyarakat Batuhampar saat itu masih jauh dari akhlak Islam. Banyak warga setempat yang sering bermaksiat secara terang-terangan. Sebagai seorang alim, hatinya tergerak untuk membina umat. Dalam berdakwah, Syekh Abdurrahman melakukan pendekatan secara bertahap. Sikap ramah dan pemurah menjadi langkah awal baginya untuk mendekati masyarakat. Syekh Abdurrahman menjalankan misi dakwahnya dengan lembut. Syiar Islam disampaikannya dengan sopan santun. Alhasil, orang-orang yang diajaknya untuk berbuat baik tak merasa sedang dihakimi. Dalam tulisannya yang berjudul “Dakwah Kelembutan Maulana Syekh Abdurrahman bin Abdullah al-Khalidi Batuhampar”, Apria Putra menuturkan sebuah kisah. Pernah suatu ketika, ada segerombolan pemuda datang kepada Syekh Abdurrahman. Mereka membawa beberapa ayam aduan. Kepada sang alim, mereka meminta doa agar ayam-ayam itu nantinya menang di gelanggang.

Read More

Benarkah Lahirnya Ratu Adil Berasal dari Solo

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Setelah HOS Tjokroaminoto masuk dalam jajaran pimpinan Syarikat Islam (SI), kemajuan SI makin hebat dengan semangat berkobar-kobar sehingga SI dipandang sebagai ‘Ratu Adil’. Kemajuan Syarikat Islam yang pesat saat itu membuat penasehat pemerintah kolonial, Snouck Hurgronye, menulis dalam majalah Indologen Blad, meminta pemerintah mewaspadai kebangkitan gerakan Islam ini dan jangan sampai lengah. Belanda awalnya menolak kehadiran SI. Namun mereka kemudian mengakui Syarikat Islam sebagai badan hukum pada 10 September 1912. Anggota Syarikat Islam sendiri memandang tanggal 16 Oktober 1905 sebagai kelahiran SI yang sejati. Tanggal inilah yang diperingati kaum SI setiap tahun. Setelah menjadi badan hukum, SI bertambah maju, melompat-lompat ke depan menuntut kemerdekaan Indonesia di bawah pimpinan Tjokroaminoto yang bergelar ‘raja tanpa mahkota’. Kaum reaksioner Belanda menjadi saling menyalahkan satu sama lain. Mereka menyalahkan Gubernur Jenderal Indenburg yang mengakui Syarikat Islam secara resmi dalam politik. Mereka bahkan memelesetkan SI sebagai Salahnya Indenburg. Berbeda dengan Syarikat Islam yang sejak 1912 telah menuntut kemerdekaan Indonesia, Budi Utomo (BU), menurut mantan tokoh Masyumi 1950-an, KH Firdaus AN dalam buku Dosa-dosa Politik Orla dan Orba, merupakan perkumpulan kaum ambtenaar, yaitu para pegawai negeri yang setia kepada pemerintah kolonial Belanda. Pertama kali Budi Utomo diketuai Raden T Tirtokusumo, Bupati Karanganyar, yang dipercaya Belanda. Ia memimpin Budi Utomo sejak 1908 sampai 1911. Kemudian dia digantikan oleh Pangeran Arjo Noto Dirojo dari Istana Paku Alam, Yogyakarta. Dengan dipimpin oleh kaum bangsawan yang inggih selalu, tidak mungkin BU akan dapat melangkah maju untuk mengadakan aksi massa. Sulit rasanya BU berjuang guna mengubah nasib mereka yang menderita di bawah telapak kaki penjajah Belanda. Dengan sifat kebangsawanan yang pasif dan setia kepada Belanda itu, juga membuat BU terjauh dari rakyat. Menurut Firdaus AN, BU bukan bersifat kebangsaan yang umum bagi seluruh Indonesia, tetapi bersifat regional, kedaerahan dan kesukuan yang sempit. Keanggotaan Budi Utomo selalu terbatas bagi kaum ningrat aristokrat. Anggota mereka hanya terbatas bagi suku Jawa dan Madura.

Read More

Benarkah Kekuasaan Kerajaan Majapahit Hanya Manipulasi Sejarah

Mojokerto — 1miliarsantri.net : Selama ini Kerajaan Majapahit yang dipercaya memiliki kekuasaan yang sangat luas di era puncak kejayaannya, disebut sebagai rekayasa alias manipulasi sejarah. Kekuasaan Majapahit yang terus direproduksi melalui pelajaran sejarah di sekolah dan penataran ideologi menyebabkan orang-orang terdidik sulit melepaskan diri dari manipulasi yang diciptakan penguasa. Pendapat itu disampaikan sejarawan Universitas Negeri Medan, Dr Ichwan Azhari. Beberapa tahun lalu seperti dinukil dari Antara, Dr Ichwan berpendapat, penulisan dan pengajaran sejarah nasional dengan mengangkat teks Jawa sebagai fakta sejarah diperkirakan tidak dapat dipertahankan lagi dan harus dihilangkan. “Hanya saja, meski penempatan kekuasaan Majapahit yang dijadikan sebagai simbol persatuan Indonesia sejak lama ditolak sebagian cendekiawan Indonesia dan juga segi historisnya diragukan sejarawan, tapi penguasa seperti tidak peduli dan tetap menggunakan citra tentang hegemoni Majapahit sebagai dasar persatuan masa lalu Indonesia,” ungkapnya. Ia mengatakan dalam sistem penulisan yang sentralistik, wacana-wacana yang hidup di luar Jawa seolah-olah diabaikan. Tapi gelombang perubahan yang saat ini terus berlangsung di Indonesia seharusnya memunculkan orientasi penulisan sejarah yang desentralistik, pusat kekuasaan tidak bisa lagi memonopoli satu wacana yang dianggapnya benar.

Read More

PWNU Jatim Gelar Pembacaan 1 miliar Sholawat Nariyah di Gedung ex MBO

Sidoarjo — 1miliarsantri.net : Rangkaian Hari Santri Nasional (HSN) 2023 diisi dengan pembacaan 1 miliar Shalawat Nariyah oleh jajaran warga NU dari pusat hingga ranting desa pada Sabtu (21/10/2023) jam 18.30 WIB. Pembacaan Shalawat Nariyah dipusatkan di dua titik, yakni di eks gedung Markas Besar Oelama (MBO) Waru, Sidoarjo, dan di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS). Pembacaan 1 Miliar Shalawat Nariyah dalam rangka Hari Santri 2023 itu merupakan instruksi PBNU kepada PWNU (provinsi), PCNU (kabupaten/kota), dan MWC NU (kecamatan) serentak se-Indonesia. Kalau PWNU lainnya mengadakan acara itu di kantor masing-masing, berbeda dengan PWNU Jatim yang mengadakan di MBO dan MAS. PWNU Jatim menempatkan lokasi “Pembacaan 1 Miliar Shalawat Nariyah” di eks gedung MBO yang bersejarah. Alasannya dipilih gedung MBO karena Hari Santri memiliki kaitan dengan sejarah perjuangan kaum santri untuk membela kemerdekaan negara yang dikenal dengan Pertempuran 10 November 1945. Dalam sejarahnya, MBO merupakan markas perjuangan para ulama, seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, dalam menggembleng spiritualitas santri agar memiliki semangat juang. Semua itu terbukti dengan kemenangan Arek-Arek Suroboyo dan pemuda daerah lainnya untuk membela kemerdekaan yang sudah diproklamasikan Soekarno-Hatta. Spirit itu diperkuat dengan keluarnya Resolusi Jihad. Peristiwa Pertempuran 10 November 1945 itu ada kaitannya dengan peran kaum santri, yang hal itu bukan hanya di garda depan di kota Surabaya, tapi juga berangkat dari markas-markas perjuangan para ulama di daerah-daerah perbatasan ke arah Surabaya, seperti di Waru, Sidoarjo. Gedung MBO pun rencananya akan direvitalisasi. Dalam buku “Perjuangan Laskar Hizbullah” karya Isra Kayyis (cetakan 1 Tahun 2015, Unit Penerbitan Pesantren Tebuireng, Jombang) pada halaman 193 dijelaskan pada 3 Desember 1945, Laskar Hizbullah dipindahkan ke Waru, menempati perumahan bekas Pabrik Gula. Catatan itu menguatkan adanya markas ulama yang menjadi tempat penggemblengan pejuang-pejuang santri yang turut bertempur di Kota Pahlawan Surabaya, pada Pertempuran 10 November 1945. Bahkan, disebutkan markas itu merupakan tempat melakukan konsolidasi kekuatan yang ditempatkan di daerah di luar jangkauan artileri Sekutu. Sementara dalam buku “TRI Hizbullah Berjuang” karya Abdul Jalal SH yang terbit pada 11 September 1982 disebutkan, pasukan Hizbullah meminta agar surat undangan disebar kepada para ulama sekitar Jawa, minta doa ke kiai di markas Waru, Sidoarjo, Jatim. Catatan lain yang menguatkan keberadaan MBO itu juga ditulis putra KH Hasyim Latief, yakni dr H Fathoni Rozi, dalam buku “Kyai Hasyim Latief, Pejuang dan Pendidik” (Penerbit Yayasan Pendidikan dan Sosial Ma’arif Sepanjang, Sidoarjo, cetakan Mei 2005, halaman 20) bahwa Kiai Hasyim Lathief siaga di markas kiai, Desa Pagerwojo, Waru, Sidoarjo, (barat Kota Surabaya). Artinya, sejarah yang terkait Hari Santri perlu direvitalisasi untuk menunjukkan peran santri dan ulama dalam perjuangan bangsa. Lebih dari itu, Hari Santri juga penting untuk dimaknai dengan pentingnya semangat cinta Tanah Air.

Read More

Ketika Terjadinya Kesepakatan Membunuh Rasulullah SAW

Surabaya — 1miliarsantri.net : Ketika kesepakatan membunuh Rasulullah SAW telah diambil, malaikat Jibril segera memberitahu Rasulullah SAW tentang rencana makar mereka. Dia juga memberitahukan bahwa Allah SWT telah mengizinkannya untuk melakukan hijrah. Seperti dikutip dari Sejarah Hidup dan Perjuangan Rasulullah SAW disarikan dari kitab ar-Rahiq al-Makhtum, Rasulullah SAW segera menuju rumah Abu Bakar, di siang hari yang terik dan pada waktu yang biasanya jarang orang lalu lalang. Sesampainya di rumah Abu Bakar, Rasulullah SAW meminta kepadanya agar tidak ada seorangpun keluarganya yang berada di dalam, karena dia akan menerangkan rencana perjalanan Hijrahnya kepadanya. Abu Bakar sangat gembira dengan dipilihnya dia sebagai teman yang mendampingi hijrah Rasulullah SAW. Setelah itu Rasulullah SAW kembali ke rumahnya, menunggu datangnya malam. Pada saat yang bersamaan para pembesar suku Quraisy sudah bersiap-siap untuk melaksanakan rencana mereka. Rencana sudah mereka susun di siang harinya secara matang. Mereka telah memilih 11 orang dari masing-masing suku untuk menunaikan tugas tersebut. Ketika gelap malam mulai tiba, mereka bergerak dengan mengintai rumah Rasulullah SAW, jika mereka melihat beliau telah tertidur, maka ekskusi tersebut akan mereka lakukan. Berdasarkan kesepakatan, eksekusi tersebut akan mereka lakukan pada pertengahan malam. Mereka sangat yakin ekskusi tersebut akan berhasil dilaksanakan. Namun di balik semua itu ada Allah Ta’ala yang selalu melindungi hamba-Nya dan berbuat sesuai kehendak-Nya. Dia berfirman : وَاِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِيُثْبِتُوْكَ اَوْ يَقْتُلُوْكَ اَوْ يُخْرِجُوْكَۗ وَيَمْكُرُوْنَ وَيَمْكُرُ اللّٰهُ ۗوَاللّٰهُ خَيْرُ الْمٰكِرِيْنَ “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (QS al-Anfal ayat 30). Maka pada waktu yang sangat kritis tersebut, Rasulullah SAW memerintahkan Ali bin Abi Thalib radhiyallahuanhu untuk tidur di tempat tidurnya dengan menggunakan selimut yang biasa beliau gunakan.

Read More

Kisah Asal Usul Telaga Sarangan Magetan, Jawa Timur

Magetan — 1miliarsantri.net : Semua orang pasti sudah mengenal dan mengetahui Telaga Sarangan, atau yang dikenal juga sebagai Telaga Pasir. Sebuah telaga alami yang berada di ketinggian 1.200 mdpl, terletak di lereng Gunung Lawu, Kecamatan Plaosan, berjarak sekitar 16 kilometer arah barat Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Di balik keindahan danau di lereng gunung lawu ini ternyata danau telaga Sarangan menyimpan legenda cerita rakyat tentang asal-usul nya. Pada zaman dahulu di kaki gunung Lawu hiduplah sepasang suami istri yang hingga usia senja belum memiliki keturunan. Setiap harinya hanya satu yang mereka minta kepada Sang Pencipta yaitu segera diberikan seorang anak. Pasangan suami istri itu bernama Ki pasir dan Nyi Pasir. Aktivitas keseharian mereka adalah berkebun di ladang dan berburu binatang untuk mencukupi kebutuhan hidup. Hingga suatu hari datanglah sebuah kabar yang menggembirakan bahwa Nyi pasir akhirnya mengandung. Mereka berdua sangat bahagia serasa semesta mendukung mereka dan mengabulkan keinginan yang sudah lama mereka harapkan. Setelahnya Nyi pasir mengandung selama 9 bulan lahirlah anak laki-laki yang kemudian diberi nama Joko Lelung. Terasa lengkaplah kebahagiaan mereka sebagai pasangan suami istri. Singkat cerita Joko Lelung telah tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas dan cekatan, namun sayangnya dia jarang berada di rumah. Joko Lelung selalu berkelana ke berbagai tempat baru yang belum pernah ia datangi. Joko Lelung juga mendalami ilmu kebatinan dengan bersemedi. Joko Lelung hanya sesekali mampir ke rumah kemudian esoknya pergi lagi entah ke mana. Kian hari tubuh Ki pasir mulai terlihat lemah dia berharap anaknya Joko lelung pulang dan membantunya bekerja di ladang. Namun, harapan itu hanya dipendam oleh Ki pasir dan dia pun memilih untuk bersemedi di dalam gua. Ki pasir menginginkan supaya tubuhnya yang sudah lama ini bisa menjadi kuat dan kembali sehat serta memiliki umur yang panjang melebihi Manusia biasa. Tak diangka-sangka dalam semedinya Ki pasir mendapatkan sebuah wangsit. Dalam wangsit itu Ki pasir menemukan sebuah telur yang sangat besar dalam waktu tersebut ia diberitahu harus memakan telur tersebut agar keinginannya untuk hidup abadi tercapai. Ki Pasir mencari arti dari wangsit itu hingga tubuhnya semakin rental sampai-sampai dia lupa dengan wangsit yang pernah dia dapat dahulu. Suatu ketika sepulang dari ladang dia tak sengaja melihat sebuah benda bulat di bawah pohon tua benda itu seperti telur namun memiliki ukuran yang lebih besar daripada telur biasanya. Ki pasir kemudian kembali teringat dengan wangsit yang pernah ia dapatkan. Ki pasir terlihat sangat bahagia dan berniat memakan telur itu setibanya di rumah nanti. Keesokan harinya Ki pasir memasak telur itu menggantikan istrinya yang sudah lebih dulu berangkat ke hutan untuk mencari kayu bakar. Ki pasir kemudian membagi telur itu menjadi dua bagian setengahnya untuknya dan setengahnya lagi untuk istrinya Nyi pasir. Usai Ki pasir merasa kenyang setelah menyantap telur berangkatlah Ki pasir menuju ladangnya. Suasana begitu cerah Ki pasir sangat bahagia, dia merasa dapat menyatu dengan alam. Alam pun seakan melukiskan keindahannya yang tak terbatas untuk di pasir. Ki pasir juga merasa tubuhnya semakin segar dan kuat bahkan terasa puluhan tahun lebih muda dari umur yang sebenarnya saat ini. Tiba-tiba kepala Ki Pasir terasa sangat pening dan sekujur tubuh mulai gatal-gatal. Semakin Ki pasir menggaruk semakin mengelupas pula kulitnya dan dari bekas luka itu mengeluarkan uap yang panas. Ki pasir pun mulai panik dan segera mencari mata air terdekat untuk berendam agar panas dan gatal di tubuhnya mereda. Sebelum berhasil berendam justru kulitnya berubah menjadi bersisik seperti hewan yang menyeramkan dan menakutkan.

Read More