Kisah Perjalanan Raden Wijaya Dalam Merebut Istana Singasari dari Jayakatwang

Mojokerto — 1miliarsantri.net : Suatu kisah menyebutkan, Raden Wijaya dan pasukannya nyaris kembali merebut istana Kerajaan Singasari usai diserang dan dikuasai Jayakatwang dan tentaranya. Hal ini karena kelengahan dan kurang siap siaganya pasukan Jayakatwang. Saat itu, pasukan Jayakatwang tengah menggelar pesta pora di istana Singasari ketika malam menjelang. Mereka mengira pasukan Singasari seluruhnya berhasil ditaklukkan. Terlebih ketika siang hari Raden Wijaya dan pasukannya melarikan diri. Di ibu kota kerajaan, sebagaimana dikutip dari buku “Menuju Puncak Kemegahan Sejarah Kerajaan Majapahit” karya dari Prof. Slamet Muljana, pengepungan istana Singasari dengan sisa-sisa tentara yang ada membuat banyak yang meninggal di kedua belah pihak. Tampaknya pasukan Raden Wijaya yang jumlahnya sedikit tak bisa dianggap remeh oleh lawan. Namun, putri Gayatri tertangkap oleh tentara musuh, kemudian diangkut ke Kediri. Putri Tribuwana tinggal bersembunyi. Pada petang itu ia keluar benteng akan melarikan diri. Ia melintasi api unggun, bekas bediang tentara musuh. Pada momen kegelapan yang ditembus nyala api itu putri Tribuwana terlihat oleh raden Wijaya, disangka musuh, kemudian dihampiri. Demikianlah ia dapat diselamatkan oleh Raden Wijaya. Selanjutnya atas nasehat Lembu Sores, Raden Wijaya bersama sang putri dan para pengikutnya mundur keluar kota, menuju arah utara. Tidak akan ada gunanya melanjutkan perang, yang pasti akan membawa kekalahan, karena jumlah tentara Kediri jauh lebih besar.

Read More

Kisah Putra Abu Lahab Tewas Diterkam Macan, Setelah Hina Rasulullah SAW

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Abu Lahab memiliki putra bernama Utbah. Putra Abu Lahab ini tewas diterkam singa setelah melakukan penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW. Kisah ini dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya. Suatu kali, Abu Lahab dan Utbah melakukan persiapan untuk pergi ke Syam (Levant). Lalu Utbah berkata, “Demi Tuhan, aku akan menemui Muhammad.” Utbah pun pergi hingga menemui Nabi Muhammad SAW. Setelah bertemu, Utbah berkata kepada Nabi SAW, “Ya Muhammad, aku telah kafir terhadap Allah.” Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi. Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi) (QS. An Najm ayat 8-9). Utbah meledek Nabi Muhammad SAW dengan menyebut bahwa dia ingkar terhadap firman Allah, yang dalam hal ini adalah Surat An Najm ayat 8-9. Riwayat lain menyebutkan, setelah itu Utbah meludahi Nabi SAW dan menceraikan putri Nabi SAW yang dinikahkan dengan Utbah saat masih di masa jahiliyah. Kemudian Nabi Muhammad SAW berdoa kepada Allah SWT dengan ucapan berikut ini: “اللهم سلِّط عليه كلبًا من كلابك” “Ya Allah, kirimkan kepadanya salah satu dari anjing-anjing-Mu.” Utbah pun pulang dan kembali menemui ayahnya, Abu Lahab. Abu Lahab bertanya soal apa perkataan yang disampaikan kepada Nabi Muhammad. Lalu Utbah menyebutkan apa yang dia katakan kepada Nabi SAW. Lantas Abu Lahab bertanya lagi, “Lalu apa yang dia katakan kepadamu?”

Read More

Mengetahui Suku Quraisy Sebagai Asal Usul Rasulullah SAW

Surabaya — 1miliarsantri.net : Suku Quraisy adalah suku yang menjadi asal usul Nabi Muhammad SAW. Suku Quraisy dikenal sebagai salah satu suku terhormat di kalangan masyarakat Arab pada masa itu. KH Moenawar Chalil dalam Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad SAW (2001) menjelaskan beberapa hipotesis tentang itu. Sebuah riwayat menyebut, perkataan quraisy berasal dari qarisy yang berarti ‘hiu.’ Sebab, kakek ke-12 Nabi SAW, yakni an-Nadhar bin Kinanah dikisahkan pernah naik kapal bersama suatu rombongan. Dalam pelayaran itu, tiba-tiba seekor hiu besar muncul. Para penumpang kapal panik, tetapi putra Kinanah ini dengan gagah berani menombak hewan tersebut. Kepala ikan karnivor itu dipotong, lalu dibawanya ke Makkah. Sejak itu, Nadhar digelari al-Quraisy karena berhasil membunuh hiu yang berbahaya. Allah SWT memuliakan suku Quraisy sebagaimana disebutkan dalam Alquran, berikut ini sejumlah fakta terkait dengan kemuliaan Quraisy. عن واثلة بن الأسقع رضي الله عنه ، قال: قال رسول اللالله صلى الله عليه وسلم : «إنَّ اللهَ اصْطَفى كِنانَة من وَلَد إسماعيل، واصْطَفى قُريشًا من كِنانة، واصْطَفى بَني هاشم مِنْ قُرَيش، واصْطَفاني مِنْ بني هاشم، فأنا سَيِّدُ وَلَد آدم ولا فَخْر، وأوَّلُ مَن تَنْشَقُّ عنه الأرض، وأوَّلُ شافع، وأوَّل مُشَفَّع Wāṡilah bin Al-Asqa’ -raḍiyallāhu ‘anhu- berkata, Rasulullah -ṣhallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Sungguh Allah telah memilih Kinānah di antara anak keturunan Ismail, lalu Allah memilih Quraisy di antara kabilah Kinānah, lalu memilih Bani Hāsyim di antara kabilah Quraisy, lalu memilihku di antara anak keturunan Hāsyim. Aku adalah pemimpin anak keturunan Adam, tanpa ada kesombongan. Aku adalah yang paling pertama dibangkitkan dari kubur, pemberi syafaat pertama, dan paling pertama diterima syafaatnya.”

Read More

Ponpes Al Hamid Jakarta Merupakan Gagasan Gus Miek

Jakarta — 1miliarsantri.net : Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengadakan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Al Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur. Di pesantren ini para ulama akan membahas sejumlah agenda penting menyangkut keumatan dan kebangsaan. Mengapa pesantren ini dijadikan tuan rumah munas dan konbes? Berikut profil Pesantren Al Hamid diolah dari berbagai sumber. Pesantren Al Hamid didirikan oleh seorang saudagar bernama H Hamid Djiman. Pendirian pesantren ini sebagai upaya memenuhi keinginan kiai yang sudah dianggap sebagai gurunya, yakni KH Chamim Thohari Djazuli atau yang dikenal dengan sapaan Gus Miek. Pesantren Al Hamid saat ini diasuh oleh KH Lukman Hakim Hamid, salah seorang putra H Hamid Djiman. Ia merupakan Katib Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta masa khidmah 2021-2026. Kiai Lukman pernah mengenyam pendidikan pesantren di Pondok Pesantren Tebuireng, Cukir, Jombang, Jawa Timur. Kiai Lukman juga merupakan menantu dari keluarga Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur. Ia menikah dengan seorang putri dari KH Munif Djazuli, adik dari Gus Miek, yang notabene merupakan guru dari orang tuanya. H Hamid sendiri merupakan seorang jamaah Jantiko Mantab, majelis semaan Al-Qur’an yang diasuh Gus Miek. Ketika sang guru punya keinginan untuk mendirikan pesantren di ibukota Jakarta, ia pun langsung berupaya untuk mewujudkannya. Ia pun berhasil membebaskan sejumlah tanah untuk didirikan pesantren harapan gurunya. Guna memenuhi administrasi, ia pun membuat Yayasan Mantab Sejahtera yang juga diambil dari nama pengajian gurunya, Jantiko Mantab. Pada 2007, nama yayasannya berubah menjadi Yayasan Mantab Al Hamid.

Read More

Menelusuri Sejarah Awal Diadakan Peringatan Maulid Nabi

Surabaya — 1miliarsantri.net : Memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW atau biasa dikenal sebagai Maulid Nabi telah menjadi tradisi bagi umat Islam di berbagai belahan dunia, tak terkecuali Indonesia. Peringatan Maulid Nabi pada 12 Rabiul Awal ini menjadi momen untuk membangkitkan dan menjaga semangat Nabi dalam diri umat. Kendati telah menjadi tradisi, namun masih terjadi silang pendapat tentang kapan sebenarnya Maulid Nabi mulai diperingati umat Islam. Jika ditelusuri dalam kitab tarikh (sejarah), perayaan Maulid Nabi tidak ditemukan pada masa sahabat, tabiin, hingga tabiit tabiin, dan empat imam mazhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii, dan Imam Ahmad). Mereka adalah orang-orang yang sangat mencintai dan mengagungkan Nabi Muhammad SAW. Mereka pula kalangan yang paling bersemangat dan menghayati setiap ajaran-ajaran yang diwariskan olehnya. Beberapa kalangan berpendapat bahwa Maulid Nabi pertama kali muncul pada zaman Shalahuddin al-Ayyubi (1193 M). Shalahuddin disebut menganjurkan umatnya untuk melaksanaan perayaan Maulid Nabi guna membangkitkan semangat jihad kaum Muslim. Kala itu, Shalahuddin dan umat Islam memang berada dalam fase berperang melawan pasukan atau tentara Salib. Kendati demikian, pendapat tersebut juga masih diperdebatkan. Mereka yang menolak bahwa Shalahuddin sebagai pelopor maulid beralasan, tidak ditemukan catatan sejarah yang menerangkan perihal Shalahuddin menjadikan Maulid Nabi sebagai bagian dari perjuangannya dalam Perang Salib. Menurut beberapa pakar sejarah Islam, peringatan dan perayaan Maulid Nabi dipelopori oleh Dinasti Ubadiyyun atau disebut juga Fatimiyah (silsilah keturunannya disandarkan pada Fatimah). Al Maqrizi, salah satu tokoh sejarah Islam mengatakan, para khilafah Fatimiyah memang memiliki banyak perayaan sepanjang tahun. Antara lain perayaan tahun baru, hari Asyura, Maulid (hari kelahiran) Nabi, maulid Ali bin Ali Thalib, maulid Hasan dan Husain, maulid Fatimah al Zahra, perayaan malam pertama bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Syaban, perayaan malam pertama Ramadan, perayaan Idul Fitri dan Idul Adha, perayaan malam Al Kholij, perayaan hari Nauruz (tahun baru Persia), dan lainnya. (Al Mawa’izh wal I’tibar bi Dzikril Khutoti wal Atsar, 1/490. Dinukil dari Al Maulid, hal. 20 dan Al Bida’ Al Hawliyah, hal. 145-146) Asy Syekh Bakhit Al Muti’iy, seorang mufti dari Mesir, dalam kitabnya Ahsanul Kalam (hal.44) juga menyebut, yang pertama kali mengadakan enam perayaan maulid, salah satunya adalah Maulid Nabi adalah Al Mu’izh Lidnillah (keturunan Ubaidillah dari Dinasti Fatimiyah) pada 362 Hijriah. Selain mereka, dalam beberapa buku sejarah juga disebutkan bahwa Dinasti Fatimiyah memang yang menginisiasi perayaan Maulid Nabi. Perlu diketahui sebelumnya, pemerintahan Fatimiyah berdiri pada 909 Masehi di Tunisia. Enam dekade kemudian, mereka memindahkan pusat kekuasaan ke Kairo, Mesir. Dua tahun setelah masuknya Shalahuddin al-Ayubbi ke Mesir, yakni sekitar tahun 1171, Dinasti Fatimiyah runtuh. Adanya perayaan Maulid Nabi oleh Dinasti Fatimiyah disebutkan antara lain oleh dua sejarawan dan ilmuwan pada masa Dinasti Mamluk, beberapa abad setelah masa hidup Shalahuddin. Salah satu sejarawan tersebut adalah yang telah disebutkan sebelumnya, yakni al-Maqrizi (1442) dan al-Qalqashandi (1418).

Read More

Kecemburuan Permaisuri Majapahit Terhadap Ibunda Raden Patah

Demak — 1miliarsantri.net : Siapa yang tidak kenal dengan Radeb Patah, putra Prabu Brawijaya, Raja Majapahit terakhir. Berkat dukungan dari Walisongo, Raden Patah akhirnya bisa menjadi raja pertama di Kesultanan Demak Bintoro. Namun demikian, diketahui Raden Patah bukan lah berasal dari garis permaisuri raja Majapahit. Berdasarkan Babad Tanah Jawi, ibunda Raden Patah adalah seorang perempuan Cina yang menjadi selir Prabu Brawijaya. Karena kurang disukai oleh permaisuri Brawijaya yang berasal dari Campa, selir Cina itu lantas dibuang ke Palembang, Sumatera. Karena permaisuri Prabu Brawijaya yang berasal dari Campa sangat cemburu dengan perempuan Cina yang dikisahkan sehari bisa berganti rupa tiga kali,” demikian dikutip dari buku Atlas Wali Songo (2016). Serat Carita Purwaka Caruban Nagari menyebut nama selir Cina Raja Majapahit yang dibuang ke Palembang itu adalah Siu Ban Ci. Ia adalah putri Tan Go Hwat yang menikah dengan Siu Te Yo, seorang muslim Cina asal Gresik Jawa Timur. Tan Go Hwat dikenal sebagai saudagar sekaligus ulama dengan nama Syekh Bantong. Trah Raden Patah sebagai cucu Tan Go Hwat juga dikuatkan pengembara Portugis Tome Pires dalam catatan Suma Oriental. Di istana Majapahit, Siu Ban Ci merupakan salah satu selir kesayangan Prabu Brawijaya. Selain elok rupawan Siu Ban Ci juga terkenal cerdas. Karenanya keberadaannya telah membakar api cemburu permaisuri Brawijaya yang berasal dari Campa. Saking cemburunya, permaisuri Majapahit meminta raja menjauhkan Siu Ban Ci dari istana. Seperti diketahui, permaisuri asal Campa tersebut merupakan bibi Raden Rahmat atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Ampel. Sunan Ampel merupakan Wali Songo yang mula-mula menyebarkan Islam di tanah Jawa, khususnya di wilayah Surabaya. Sementara karena desakan sang permaisuri, Prabu Brawijaya mengabulkan permintaan. Meski dalam keadaan mengandung (hamil), yakni kelak si jabang bayi bernama Raden Patah, Siu Ban Ci tetap dijauhkan dari istana Majapahit. Siu Ban Ci tidak kuasa menolak apa yang menjadi kehendak raja. “Selir yang dalam keadaan hamil itu dihadiahkan kepada putra sulungnya (putra Prabu Brawijaya), Arya Damar yang menjadi Raja Palembang”. Raden Patah lahir di Palembang. Pendiri Kerajaan Demak itu pertama kali mengenal ajaran Islam dari ibunya.

Read More

Sepak Terjang Raden Wijaya, Raja Pertama Sekaligus Pendiri Kerajaan Majapahit

Surabaya — 1miliarsantri.net : Raden Wijaya merupakan raja pertama sekaligus pendiri dari Kerajaan Majapahit yang berkuasa antara 1293-1309 M. Sebelum merintis Kerajaan Majapahit, Raden Wijaya pernah menjadi panglima perang di Kerajaan Singasari. Dalam sejarahnya, Majapahit menjadi salah satu Kerajaan Hindu Budha terbesar yang ada di Nusantara. Sebagai pendiri kerajaan terbesar, Raden Wijaya telah melalui proses yang sangat panjang. Mulai dari tahap pendirian hingga bisa mempertahankan keutuhan kerajaan dari serangan musuh. Raden Wijaya merupakan keturunan Raja Ken Arok, pendiri Kerajaan Singasari, melalui putranya Mahisa Campaka. Dia juga menikahi empat putri Kertanegara, raja terakhir Singasari, yaitu Tribhuwaneswari, Prajnaparamita, Narendraduhita, dan Gayatri Rajapatni. Pada saat itu, dia membangun benteng pertahanan di daerah Tarik dan Madura untuk melawan Jayakatwang, raja Kediri yang menggulingkan Singasari. Raden Wijaya juga bersekutu dengan pasukan Mongol yang dikirim oleh Kubilai Khan untuk menghukum Kertanegara karena menolak upeti. Raden Wijaya memanfaatkan kekacauan yang terjadi akibat serangan pasukan Mongol untuk mengalahkan Jayakatwang dan merebut kembali tahta Singasari pada tahun. Ia kemudian mengusir pasukan Mongol dengan tipu muslihat dan menetap di daerah Trowulan yang menjadi pusat Kerajaan Majapahit. Raden Wijaya diangkat sebagai raja pertama Majapahit dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana. Ia membangun candi-candi untuk menghormati leluhurnya dan mendirikan pemerintahan yang berdasarkan sistem wangsa. Kerajaan yang didirikannya itu langsung berkembang pesat menjadi sebuah kerajaan besar dan memiliki wilayah yang sangat luas. Sebab, Raden Wijaya terkenal sebagai pemimpin yang pandai mengambil hati para penduduk. Namun pada awal mendirikan kerajaan, ia telah menghadapi beberapa pemberontakan dari kerabat dan bawahan yang tidak puas dengan kebijakannya, seperti Ranggalawe, Sora, Nambi, dan Kuti. Namun, ia berhasil menumpas pemberontakan tersebut dengan bantuan pasukannya.

Read More

Mengapa Bangsa Romawi Sering Diabadikan dalam Alquran

Surabaya — 1miliarsantri.net : Allah SWT menyebutkan Bangsa Romawi dalam Alquran surat ar-Rum ayat 2-4. Penyebutan ini tentu mempunyai sejulah rahasia.  غُلِبَتِ الرُّومُ فِي أَدْنَى الْأَرْضِ وَهُمْ مِنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ “Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman.” (QS Ar-Rum [30]: 2-4)   Ayat di atas, sebenarnya mengungkapkan tentang kekalahan bangsa Romawi atas Persia. Ketika itu, peperangan antara kedua bangsa itu terjadi di masa Rasulullah SAW, yakni sekitar tahun ke-8 Hijriyah.  Seperti diungkapkan Ibnu Katsir dalam tafsirnya, Bangsa Persia dipimpin oleh Raja Sabur, dan Romawi dipimpin Heraclius. Saat peperangan berlangsung, Sabur berhasil mendesak Heraclius hingga membuatnya berlindung ke Konstantinopel. Mendengar kekalahan bangsa Romawi, kaum Muslim bersedih, sebaliknya bangsa Persia bergembira. Sebab, bangsa Romawi memeluk agama Nasrani dan dikenal sebagai kelompok Ahlul Kitab, sedangkan Persia beragama Majusi, menyembah api dan berhala-berhala.  Maka, selama masa perlindungan itu, Romawi menyusun kekuatan untuk kembali melawan Persia. Hasilnya, tak berselang lama sejak kekalahan tersebut, kurang lebih 7-8 tahun (Bidh’i sinin), Romawi akhirnya mampu mengalahkan Persia, di negeri terdekat (Adna al-Ardhi), yakni di dekat Laut Mati.  Penyebutan nama Romawi ini tentu memiliki makna tersendiri. Berikut ini beberapa fakta terkait dengan alasan mengapa Romawi disebutkan dalam Alquran. 1. Bangsa ini dikenal memiliki peradaban yang sangat tinggi. Dan, bukan hanya itu, salah satu surah dalam Alquran juga dinamakan dengan surah Ar-Rum [30]. Ini menunjukkan bahwa bangsa ini memang dikenal hebat dan terkenal sejak dahulu kala. 2. Romawi merupakan tempat kuno di Eropa yang menjadi sumber kebudayaan Barat. Bangsa Romawi terletak di Semenanjung Apenina, yakni Italia sekarang ini. Pada bagian sebelah Utara semenanjung Apenina bersambung dengan daratan Eropa yang terdapat pegunungan Alpen sebagi batas alam yang memanjang. Di sebelah Utara memisahkan Italia dengan Swiss dan Austria. Sedangkan di sebelah Barat Laut memisahkan Italia dengan Prancis dan sebelah Timur Laut dengan Yugoslavia.

Read More
Masjid Al-Utsmani, Masjid Tua di Jombang Yang Didirikan Ratusan Tahun Lalu

Masjid Al-Utsmani, Masjid Tua di Jombang Yang Didirikan Ratusan Tahun Lalu

Jombang — 1miliarsantri.net : Jombang Kota Santri, tampaknya memang layak disematkan pada kabupaten Jombang. Selain terdapat beberapa Pondok Pesantren (Ponpes) kuno, Kabupaten Jombang juga memiliki sejumlah bangunan tua yang menjadi bukti perjuangan kaum santri dalam syi’ar Islam. Salah satunya adalah Masjid Al-Utsmani yang beralamat di Tambakberas Timur, Desa Tambakrejo, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Masjid ini terlihat masih sangat kental mempertahankan model klasiknya. KH Fatkhullah Malik, Pimpinan sekaligus Masjid Al-Utsmani mengatakan, masjid ini diperkirakan dibangun sekitar 1830-an Masehi oleh KH Usman. Namun, dirinya tidak mengetahui persis tahun berdirinya masjid tersebut. Tapi dapat merujuk ke pendirinya yaitu Kiai Usman, menantu Kiai Abdus Salam atau Soihah yang mulai hidup Tambakberas di era tahun 1825 M. Sama dengan berdirinya Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. “Namun, kemungkinan lainnya yaitu Masjid Al-Utsmani ini berdiri di atas tahun 1830-an. Ada versi lain yaitu 1838 M,” terangnya kepada 1miliarsantri.net, Minggu (10/09/2023). Pengasuh Ribath al-Utsmani ini menambahkan, Masjid Al-Utsmani juga dikenal dengan nama Masjid Gedang. Saat ini posisinya berada di Kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang. “Dari depan terlihat atap masjid berbentuk limas, ciri khas bangunan-bangunan lama. Terdapat dua limas pada atap yakni, limas berukuran besar yang merupakan atap bagian luar dan dalam masjid, serta limas berukuran agak kecil yang merupakan atap tempat imam,” imbuhnya. Beberapa sisi masjid juga terdapat ornamen kayu ukiran menyerupai buah nanas. Ini terdapat di atas corong masjid. Bentuk kubah masjid terbuat dari logam berbentuk unik seperti mahkota bersusun tiga. Selain itu, sebelum di renovasi Masjid Al-Utsmani juga memiliki bentuk lengkungan khusus serta unik di serambi dan di tembok dalam masjid. “Keaslian bangunan masih dijaga hingga saat ini. Beberapa bagian memang direnovasi, karena termakan usia,” lanjutnya. KH Fatkhullah mengatakan, kubah masjid berbentuk bunga melati dan disangga enam kayu jati setinggi 6 meter dengan lebar 20×30 sentimeter sebagai pilar utama di bagian tengah masjid.

Read More

Kecantikan Dyah Petak Membuat Kepincutnya Raden Wijaya

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Siapa yang tidak pernah mendengar nama Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit ini dikenal memiliki drama kisah cinta yang sangat menarik diikuti. Ia memiliki lima orang istri, empat di antaranya merupakan anak dari Kertanagara, raja terakhir Kerajaan Singasari. Satu istri merupakan hasil durian runtuh dari ekspedisi di Kerajaan Singasari, dimana sebelum runtuh Kerajaan Singasari di bawah kekuasaan Kertanagara melakukan perluasan ke Semenanjung Melayu. Ekspedisi ini dikenal dengan nama Ekspedisi Pamalayu. Kepulangan pasukan yang ternyata tak tahu Kerajaan Singasari sudah lenyap membawa persembahan raja dari Melayu. Dua putri dari Raja Melayu memang sengaja dipersembahkan ke Raja Singasari. Namun karena Singasari sudah lenyap, Raden Wijaya pun akhirnya mengawininya tanpa sepengetahuan istri lainnya, sedangkan satu lagi yakni Dara Jingga dinikahi oleh pemimpin pasukan ekspedisi. Sosok Dyah Petak, putri dari Raja Melayu yang dinikahi Raden Wijaya memiliki paras cantik jelita. Kecantikannya konon mengundang nafsu sang Raja Majapahit ini hingga pernah mencumbunya di sebuah bangunan suci pura. Naskah kuno Kidung Panji Wijayakrama sebagaimana dituliskan Slamet Muljana pada bukunya ”Menuju Puncak Kemegahan Sejarah Kerajaan Majapahit”, mengisahkan bagaimana persaingan antara istri dan selir Raja Raden Wijaya. Kala itu Raden Wijaya memang memiliki seorang istri yang menjadi permaisuri yakni Tribhuwana. Tetapi di sisi lain sang raja juga tercatat memiliki empat selir dengan persaingan antar istri cukup keras. Kidung Panji Wijayakrama menyatakan bahwa Dyah Dara Petak dianggap sebagai istri tertua. Perempuan bergelar Indreswari ini memanaskan persaingan perempuan yang jadi istri – istri sang raja. Suatu ketika Dyah Dara Petak diterima dalam pura dan bercumbu – cumbu dengan sang raja Raden Wijaya di dalam pura, ia disebut Sri Tinuheng Pura. Sudah pasti bahwa Dyah Dara Petak memiliki persaingan dengan putri Gayatri yang terkenal sebagai kekasih Sri Baginda Raden Wijaya, putri bungsu raja Kertanegara dari Kerajaan Singasari. Tetapi putri Tribhuwana yang telah dikawin Raden Wijaya lebih dahulu. Persaingan itu pun juga tampak pada Dyah Dara Petak, putri Melayu, yang lebih pandai mengambil hati Raja Kertarajasa. Dyah Dara Petak alias Indreswari dijadikan istri tertua, meski status sebenarnya adalah selir.

Read More