Indologi, studi mengenai India, dirintis oleh ilmuwan Muslim bernama al-Biruni.

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : George Sarton dalam magnum opus-nya, Introduction to the History of Science, memuji sosok al-Biruni. Ilmuwan Muslim serba bisa dari abad ke-10 M itu dipandangnya turut meletakkan tonggak penting bagi kemajuan ilmu pengetahuan, serta merintis era modern. “Semua pasti sepakat bahwa al-Biruni adalah salah seorang ilmuwan yang sangat hebat sepanjang zaman,” tulis profesor Harvard University itu. Tokoh ini bernama lengkap Abu Rayhan Muhammad bin Ahmad al-Biruni. Ia lahir pada tahun 362 H/973 M di Beruniy, sebuah distrik region Asia tengah. Pada masa itu, daerah tersebut termasuk wilayah Negeri Khwarazmi—kini Republik Uzbekistan. Salah satu peran penting al-Biruni terletak pada upaya merintis Indologi. Sebutan ini mengacu pada kajian ilmiah mengenai Anak Benua India. Saat berusia 44 tahun, al-Biruni mendampingi Sultan Mahmud Ghazni dalam ekspedisi ke Anak Benua India. Kala itu, raja tersebut baru saja mendirikan ibu kota baru bagi negerinya, Ghaznawiyah, di Kabul (kini Afghanistan). Kepergian sang sultan ke India tentunya bertujuan meneguhkan ekspansi wilayahnya. Bagaimanapun, al-Biruni memiliki agenda yang agak berbeda. Saintis tersebut menggunakan kesempatan ini untuk melakukan studi lapangan mengenai masyarakat dan kebudayaan India. Ia juga mulai belajar menguasai Sanskerta, yakni bahasa kebanyakan masyarakat setempat. Perjalanan selama beberapa tahun itu membuahkan karya, Kitab fii Tahqiq maa li’l Hind min Ma’qulatin fil ‘Aql aw Mardhula (Kajian atas Hal yang Disampaikan Masyarakat India, Baik Rasional Maupun yang Tertolak). Dengan menulis buku ini, al-Biruni membuka jalan bagi Indologi sebagai sebuah studi keilmuan baru. Ia tetap menegakkan kaidah-kaidah ilmiah dalam menyelidiki kebudayaan setempat. Dalam arti, subjek masyarakat didekatinya tanpa menaruh prasangka terlebih dahulu (free of prejudices). Karena itu, kecenderungannya selalu objektif dan imparsial dalam menulis. Dalam menulis buku tersebut, al-Biruni menerapkan metode kronologis. Ia pun mengkritik cara sejumlah cendekiawan India pada masanya yang kurang begitu tertarik pada penulisan sejarah yang rasional, objektif, dan merujuk pada urutan waktu terjadinya peristiwa-peristiwa historis. “Sayangnya, orang-orang India tidak begitu memerhatikan urut-urutan (peristiwa) sejarah. Mereka kurang hati-hati dalam menghubungkan secara kronologis, misalnya, suksesi kepemimpinan raja-rajanya. Saat dicecar mengenai informasi atau gagap menjelaskan (mengenai sebuah peristiwa masa lalu –Red), mereka cenderung akan mendongeng,” tutur al-Biruni dalam karyanya, Kitab fii Tahqiq maa li’l Hind, seperti dinukil dari MS Khan dalam artikelnya, “Al-Biruni and the Political History of India” (1976). Para peneliti pada era modern memuji al-Biruni. Sebab, dirinya begitu teliti dalam memilah antara yang fakta dan yang fiksi ketika mempelajari kultur masyarakat India. Ketelitian itu tentu lebih jelas ketika sang sarjana Muslim melakukan riset non-humaniora, semisal fisika, astronomi, atau matematika. Karena itu, banyak sejarawan mengakuinya sebagai peletak dasar metode ilmiah. Menurut al-Biruni, metode yang tepat untuk menulis historiografi, di samping kronologi, adalah komparasi. Peradaban India pun dibandingkannya dengan peradaban atau kebudayaan lain yang pernah dipelajarinya, semisal Yunani Kuno, Persia pra-Islam, Kristen, atau Yahudi. Dalam pengamatannya, kebudayaan India tidak jauh berbeda dengan beberapa tradisi tersebut. Umpamanya, panteisme yang ditemukan dalam kepercayaan Hindu, juga tampak indikasinya dalam tradisi Yunani. Fenomena kasta yang diterapkan masyarakat India ditemukan pula polanya dalam Persia. Keduanya meyakini bahwa manusia terbagi ke dalam strata sosial sejak lahir. Tentunya, al-Biruni tidak melewatkan topik sumbangsih peradaban India bagi khazanah ilmu secara global. Contohnya, sistem angka India, anka, yang dibaca secara deretan—dari kiri ke kanan. Ia menilai, sistem numeral itu jauh lebih praktis dibandingkan sistem bilangan Romawi.

Read More

Cucu Pangeran Antasari ini Sangat Tangguh Melawan Belanda

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Ratu Zaleha atau Djaleha lahir di Muara Lawung, tahun 1880. Dia adalah putri dari Sultan Muhammad Seman bin Pangeran Antasari, yang gigih berjuang mengusir Belanda dalam Perang Banjar, melanjutkan perjuangan Pangeran Antasari. Sejak kanak-kanak, Zaleha telah merasakan getirnya perjuangan bersama ayahnya dan kakeknya melawan penjajah Belanda. Saat ditinggal mati kakeknya, Pangeran Antasari, Zaleha sangat kehilangan. Ketika beranjak dewasa, Zaleha bersama ayahnya gencar mengusir penjajah dan selalu dikejar-kejar Belanda sampai masuk hutan ke luar hutan. Sebelum ayahnya meninggal, Gusti Zaleha diberi cincin kerajaan dari ayahnya. Sejak itu pula dia menggantikan ayahnya sebagai Sultan dan Pemimpin Perang Tertinggi, lalu diberi gelar Ratu Zaleha. Bersama sang suami, Gusti Muhammad Arsyad, Zaleha melanjutkan perjuangan ayahnya. Ratu Zaleha dapat menghimpun kekuatan dari suku-suku Dayak Dusun, Kenyah, Ngaju, Kayan, Siang, Bakumpai, Suku Banjar. Dia berjuang bersama seorang wanita pemuka Dayak Kenyah bernama Bulan Jihad atau Wulan Djihad. Ada juga nama Illen Masidah dan lain-lain. Selama masa perjuangan fisik, Ratu Zaleha bersama Bulan Jihad juga memberikan pelajaran baca tulis (Arab Melayu) dan ajaran agama Islam kepada anak-anak Banjar. Keduanya juga memberi penyuluhan kepada perempuan-perempuan Banjar tentang peranan perempuan, ajaran agama Islam, dan ilmu pengetahuan. Ratu Zaleha sangat murka ketika suami dan pasukannya dilumpuhkan Belanda. Suaminya ditangkap, lalu diasingkan ke Buitenzorg atau Bogor pada 1 Agustus 1904. Zaleha tidak patah arang. Bersama pengikutnya, dia membangun pertahanan di Benteng Manawing dan Tambang Batu Bara Oranje Nassau untuk mengadang gempuran pasukan Belanda yang memiliki persenjataan lengkap. Meski menderita kelelahan fisik dan batin luar biasa karena menjadi buruan Belanda, Ratu Zaleha menolak menyerah. Ia terus melawan. Bahkan, senjata kelewang Ratu Zaleha disebut pernah memotong leher serdadu Belanda dalam suatu pertempuran di Barito. Anggraini Antemas dalam artikelnya di Harian Utama edisi 26 September 1970 yang berjudul “Mengenang Kembali Perjuangan Pahlawan Puteri Kalimantan Gusti Zaleha” menyebutkan, dalam suatu medan perang di lembah Barito, Ratu Zaleha terkepung pasukan Belanda. Hutan di sekitarnya dibakar oleh pasukan Belanda hingga menjadi lautan api. Di bawah desingan peluru dan kepungan api yang membakar, Ratu Zaleha keluar mempertahankan hidupnya yang terakhir.

Read More

Kisah Kesaktian Mbah Gendon yang Tak Bisa Ditembus Peluru

Pekalongan — 1miliarsantri.net : Sosok ulama asal Kabupaten Pekalongan yang dikenal sakti pada zaman dahulu yakni Mohammad Arshal atau Wali Gendhon. Ulama yang lebih dikenal sebagai Mbah Gendhon tersebut dikenal sakti karena tirakatnya yang luar biasa. Ahli waris Makam Mbah Gendhon, M Arifin, menceritakan, kehidupan Mbah Gendhon sekitar tahun 1868-1960 Masehi. Mbah Gendhon merupakan anak pasangan Tarab dan Takumi. “Beliau (Mbah Gendhon) lahir di Desa Kesesi, Kecamatan Kesesi, Pekalongan. Mbah Gendhon merupakan anak satu-satunya,” katanya. Menurutnya, sejak kecil Mohammad Arshal dikenal sebagai sosok yang pendiam, mengalah dan pemaaf. Kedua orang tuanya juga mendidik Mbah Gendhon dengan cara sederhana dan mandiri. “Sehari-hari menggembala ternak milik orang lain. Sampai remaja dan dewasapun sifatnya tidak berubah. Bahkan malah semakin menjauhi duniawi,” terangnya. Sampai pada akhirnya, lanjut dia, kedua orang tua Mohmmad Arshal mengenalkannya kepada seorang perempuan sebagai pendamping hidupnya. Namun tidak seperti pernikahan pada umumnya, setelah menikah Mohammad Arshal bersama rombongan pengantar malah kembali ke rumah orang tuanya. “Ternyata beliau (Mbah Gendhon) belum memiliki keinginan untuk berumah tangga. Namun masih ingin memperdalam ilmu agama atau mondok,” ungkapnya. Sehingga, Mbah Gendhon kemudian berpamitan kepada kedua orang tua serta sanak saudara untuk berangkat mondok ke Babakan, Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat. Akhirnya kedua orang tuanya merestui kepergiannya dengan memberikan bekal dan sedikit uang. “Mbah Gendhon mondok di Kyai Munir. Selama di pondok, sifatnya juga tidak berubah. Hal itu juga membuat sejumlah teman tidak menyukainya,” terangnya. Sekitar lima tahun menimba ilmu di rantau tersebut, lingkungan sekitar terserang wabah gatal-gatal. Sehingga pengasuh ponpes setempat menyarankan untuk mandi di sebuah sendang yang berair hangat. “Namun Mohammad Arshal hanya ditepian saja. Sehingga teman-temannya yang iseng lantas mendorongnya ke dalam sendang. Namun setelah tercebur ke dalam sendang, beliau tak muncul kembali. Teman-temannya sudah mencari, bahkan air sendang sudah dikeringkan, namun Mohammad Arshal tidak ditemukan,” jelasnya. Sehingga, hal itu membuat pengasuh pondok pesantren berkunjung ke Desa Kesesi, untuk memberikan kabar tersebut kepada keluarga Mbah Gendhon. Kedua orang tuanya tetap tawakal dan sabar mendapat kabar tersebut dan berharap masih hidup. “Namun hingga puluhan tahun tak ada kabar keberadaan Mohammad Arshal tersebut. Sampai suatu saat musim kemarau tiba, tanaman kering dan mati semua. Bisa dikatakan saat itu paceklik,” ungkapnya. Tiba-tiba, lanjut dia, saat malam saat sunyi muncul angin kencang menerbangkan semua yang dilewatinya. Kedatangan angin disertai kilat dan suara keras petir. Sehingga tidak ada warga yang berani keluar rumah. “Kemudian rumah kedua orang tuanya tiba-tiba terdengar suara diketuk-ketuk. Karena ketakutan, pintu tetap tidak dibuka. Baru setelah mengucapkan salam dan menyebutkan namanya, ayahnya membukakan pintu,” paparnya. Hal itu membuat kedua orang tuanya terkejut bercampur bahagia. Sebab, anaknya yang hilang puluhan tahun akhirnya pulang. “Namun saat pulan itu pakaian beliau (Mbah Gendhon) tak lazim, yakni auratnya hanya tertutup oleh akar-akaran yang dianyam. Jenggotnya lebat dan rambutnya terurai panjang,” terangnya. Selama menghilang, Mbah Gendhon tinggal di hutan dan goa ditemani sejumlah hewan. Dia hanya mengkonsumsi petai cina dan bunga pohon jati. “Selama perjalanan, dia ditemani seorang harimau dan ular yang membantunya menyeberangi sungai,” katanya. Kedatangan Mohammad Arshal itu membuat warga setempat berbondong-bondong mendatangi rumahnya karena penasaran. Namun tiba-tiba dan tanpa sebab, Mbah Gendhon malah naik ke pohon kelapa. “Beliau tidak makan dan minum di atas pohon kelapa itu selama berbulan-bulan. Meskipun dirayu keluarga, tetap tidak bersedia turun. Hingga sekitar setahun kemudian turun tanpa ada yang meminta, dan beliau turun menaiki pelepah kelapa yang sudah kering dan meluncur ke bawah. Pelepah itupun yang digunakannya untuk duduk selama berbulan-bulan lagi. Musim hujan juga tidak menggoyahkannya. Hingga keluarga membuatkan tempat untuk berteduh,” ungkapnya.

Read More

Kisah Keperkasaan Hang Tuah Menjaga Kerajaan Malaka

Surabaya — 1miliarsantri.net : Sebagian besar masyarakat pasti sudah pernah mendengar nama Hang Tuah, seseorang pahlawan dan tokoh legendaris Melayu pada masa pemerintahan Kesultanan Malaka. Diceritakan bahwa dirinya adalah seorang pelaut dengan pangkat laksamana, dan juga petarung yang hebat di laut maupun di daratan. Pada cerita Sulalatus Salatin disebutkan, bahwa ia dahulunya adalah seorang nelayan miskin. Dimasa mudanya, Hang Tuah beserta empat teman seperjuangannya yakni Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu membunuh sekelompok bandit-bandit dan dua orang yang berjaya menghancurkan desa dengan amarahnya. Bendhara atau yang sederajat dengan Perdana Menteri dalam sistem pemerintahan sekarang, dari Melaka mengetahui kehebatan mereka, dan mengambil mereka untuk berkerja di istana. Dari sinilah Hang Tuah mendapatkan nama besar dan menjadi seorang pahlawan legenda berbangsa Melayu, pada masa pemerintahan Kesultanan Melaka pada abad ke-15, yakni di Kesultanan Melayu Melaka yang bermula pada abad ke-15. “Tak akan Melayu hilang di bumi,” begitu sumpah Hang Tuah dalam Sulalatus Salatin. Semasa ia bekerja di istana, Hang Tuah membunuh seseorang petarung dari Jawa, yang terkenal dengan sebutan Taming Sari. Dari kejadian inilah Hang Tuah tidak terlepas dengan Keris Taming Sari, senjata yang dikenal dimiliki Hang Tuah. Keris ini sendiri awalnya adalah keris yang dipunyai oleh Taming Sari. Hang Tuah mengambil keris ini dari Taming Sari, setelah dia berhasil mengalahkannya dalam sebuah pertempuran. Ketika Melaka diserang Portugis pun, Melaka meminta bantuan ke Kesultanan Demak penerus Majapahit setelah runtuh. Hang Tuah difitnah berzinah dengan pelayan raja, dan di dalam keputusan yang cepat, raja menghukum mati laksamana yang tidak bersalah. Namun, hukuman mati tidak pernah dikeluarkan, karena Hang Tuah dikirim ke sebuah tempat yang jauh untuk bersembunyi oleh Bendhara. Setelah mengetahui bahwa Hang Tuah akan mati, teman seperjuangan Hang Tuah yakni Hang Jebat, dengan murka ia membalas dendam melawan raja. Hal tersebut mengakibatkan semua rakyat menjadi kacau-balau. Raja menyesali hukuman mati yang dijatuhkannya pada Hang Tuah. Namun, pada kejadian ini, Hang Jebat justru mengambil kesempatan atas ketidakberdayaan raja melawannya, karena Hang Jebat memegang Keris Taming Sari dari sahabatnya yakni Hang Tuah.

Read More

Kisah Hudzaifah, Pemegang Rahasia Rasulullah SAW

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Diantara sekian banyak sahabat Rasulullah SAW terdapat satu nama yang cukup dikenang oleh para sahabat lain. Namanya Hudzaifah bin Hasal bin Jabir Al-Absi, berjuluk Abu Abdullah, sedang Al-Yaman adalah gelarnya Hasal. Beliau adalah Sahabat yang termasuk pemimpin penakluk negeri dan pemegang rahasia Rasulullah SAW tentang nama-nama orang-orang munafik. Tidak satupun yang mengetahui kecuali ia. Ketika Umar radhiyallahu anhu memegang jabatan khilafah, ia berkata, “Apakah bawahanku ada orang munafik?” Hudzaifah radhiyallahu anhu menjawab, “Ya, satu.” Umar bertanya, “Siapakah ia?” Hudzaifah radhiyallahu anhu menjawab, “Aku tidak bersedia mengatakannya.” Sesudah itu Hudzaifah radhiyallahu anhu menyampaikan pembicaraan tersebut setelah beberapa lama, ia berkata, “Orang tersebut telah dicopot oleh ‘Umar radhiyallahuanhu, seolah-olah ada yang menunjukkan kepada ‘Umar”. Dan apabila ada orang yang meninggal dunia, ‘Umar bertanya apakah Hudzaifah menshalatkannya? Jika ia menshalatkannya, maka ‘Umar radhiyallahu anhu menshalatkannya. Namun jika tidak, maka ia tidak menshalatkannya.

Read More

Makam Imogiri Yang Dianggap Makam Ghaib Sultan Agung

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Keberadaan Keraton Yogyakarta yang sampai saat ini berdiri tidak bisa lepas dari sejarah Kerajaan Mataram. Perjalanan Kerajaan Mataram dimulai dari raja pertama Panembahan Senopati hingga raja yang cukup terkenal yaitu Sultan Agung . Dalam kepemimpinan Sultan Agung, tercatat Mataram sempat menyerbu Batavia, yang menjadi pusat pemerintahan kolonial Belanda, di tanah Nusantara, dan pusat gurita bisnis VOC yang mencengkeram kekayaan Nusantara, selama ratusan tahun. Sebuah sejarah besar dari Sultan Agung ini juga berkaitan dengan rencana makam yang diidam-idamkan sang raja. Untuk menentukan tanah yang akan dijadikan pemakaman dirinya, Sultan Agung pun melempar batu yang berasal dari Makah. Batuan yang dilempar dengan kekuatan besar ini akhirnya sampai di Giriloyo , Wukirsari, Imogiri, Kabupaten Bantul. Sebuah bukit kecil ini akhirnya menjadi menjadi idaman Sultan Agung untuk menjadi tempat peristirahatan kekalnya kelak. Karena lokasi yang sejuk dan juga penuh daya magis, serta lokasi jatuhnya batu yang dilemparnya, paman Sultan Agung , yakni Pangeran Juminah pun meminta izin untuk bisa dimakamkan di komplek tersebut. Keeinginan sang paman meskipun tidak mengenakkan, akhirnya juga diizinkan. Akhirnya Pangeran Juminah meninggal terlebih dahulu dan dimakamkan di lokasi tersebut. Sultan Agung sedikit kecewa, akhirnya dia memilih lokasi di Pajimatan atau dikenal dengan makam raja-raja Imogiri. Menurut Juru kunci makam Giriloyo, Muh Syifa, makam Giriloyo didirikan tahun 1628-1829. Makam ini terdiri atas empat bagian, yaitu makam di sayap kiri (barat), makam di sayap kanan (timur), makam di luar pagar keliling, dan masjid. Untuk menuju makam sayap kiri (barat) harus melewati 25 anak tangga. Tokoh Kerajaan Mataram , yang dimakamkan di sayap kanan (timur) antara lain Kiai Ageng Giring, Kiai Ageng Sentong, dan Sultan Cirebon V. Tokoh yang dimakamkan di sayap kiri (barat) antara lain Kanjeng Ratu Pembayun (istri Amangkurat), makam Kanjeng Ratu Mas Hadi (ibu Sultan Agung ), dan Kanjeng Panembahan Juminah (paman Sultan Agung ).

Read More

Kegigihan Sultan Agung dalam Melawan VOC

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Kisah Sultan Agung Hanyokrokusumo tentu sudah cukup sering kita dengar, raja ke-3 Kerajaan Mataram yang sangat disegani pada zamannya. Saat memerintah Mataram, Sultan Agung berhasil membawa kerajaan menuju era kejayaan. Seiring waktu, Mataram terus berkembang pesat dan menjadi salah satu kerajaan terkuat di Nusantara kala itu. Sultan Agung memiliki nama asli Raden Mas Jatmika atau biasa dikenal juga sebagai Raden Mas Rangsang. Dia merupakan putra pertama dari Prabu Hadi Hanyakrawati dan Ratu Mas Adi Dyah Banowati. Mengutip laman Dinas Kebudayaan Jogja, Sultan Agung lahir di Kotagede pada 14 November 1593. Naik takhta sekitar tahun 1613, tepatnya ketika masih berusia 20 tahun. Di era kepemimpinan Sultan Agung, Mataram berkembang pesat dan menjadi kerajaan besar. Mataram Islam mencapai puncak kejayaan pada 1627, tepatnya sekitar empat belas tahun Sultan Agung memimpin kerajaan tersebut. Seiring perkembangannya, Mataram juga memperluas pengaruh dan kekuasaannya. Bahkan, selama kurun 1613-1645 wilayah kekuasaan Mataram Islam telah meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur dan sebagian Jawa Barat. Berkembang pesatnya Mataram bukan tanpa alasan. Hal ini tak terlepas dari keberadaan Sultan Agung sebagai penguasanya. Saat era kepemimpinannya, Sultan Agung dikenal dengan berbagai keahliannya di berbagai sektor. Sebut saja seperti bidang militer, politik, ekonomi, sosial dan budaya, serta lain sebagainya. Hal inilah yang mengantarkan peradaban Mataram pada tingkat yang lebih tinggi. Sultan Agung sangat berani Menentang VOC, terlepas dari statusnya yang disegani sebagai penguasa Mataram, Sultan Agung juga pernah mencatatkan perjuangan kala melawan VOC di Batavia. Dalam hal ini, dia menganggap keberadaan Belanda di Batavia dapat membahayakan negara. Sultan Agung menggunakan berbagai strategi berbeda untuk menekan pengaruh VOC sebagai bentuk perlawanannya. Dalam sejumlah serangan militer yang dilakukan, pasukan Mataram cukup memberikan perlawanan yang cukup sengit bagi VOC. Meski tidak membawa keberhasilan seperti merebut Batavia secara menyeluruh, tekad dan semangat Sultan Agung untuk mengusir VOC menjadi pemantik para pejuang lain untuk mempertahankan Tanah Air. Sampai akhir hayatnya, Sultan Agung tidak sudi berdamai dengan Belanda meski diberikan banyak tawaran menggiurkan. Tak hanya memiliki strategis jenius dalam membawa Mataram menuju kejayaan, Sultan Agung juga dikenal sebagai raja yang sakti mandraguna. Dari sekian banyak kisah kesaktiannya, salah satu yang cukup menarik adalah dikatakan mampu mengendalikan makhluk gaib menjadi abdi dalem.

Read More

Surban Hitam Sunan Kalijogo Luluhkan Amarah Sultan Agung

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Sultan Agung Hanyokrokusumo atau Raden Mas Rangsang (1593), merupakan Raja Mataram yang mengantarkan kejayaan puncak agama Islam di Tanah Jawa. Selain kisahnya mengusir penjajah Belanda di Batavia, ada beberapa kisahnya menarik untuk dibahas. Sultan Agung digambarkan sebagai raja yang digdaya, sakti, cerdas, dan pintar itu dikisahkan pernah mengguncang dan menaklukkan Kota Makkah, Arab Saudi dengan mengirimkan sebuah malapetaka wabah penyakit mematikan dipicu atas murka dari sang raja. Raja Mataram itu murka lantaran tersingung atas penolakan keras dari pemegang otoritas Kota Makkah saat itu, yakni Imam Syafi’i. Wabah penyakit sengaja dikirimkan lewat Penguasa Pantai Selatan, yakni Ratu Nyi Roro Kidul untuk meredakan amarah Sultan Agung. Murkanya Sultan Agung itu bisa reda setelah Kanjeng Sunan Kalijaga turun tangan ikut menenangkan dengan memberinya sebuah hadiah istimewa berupa serban hitam bekas Nabi Muhammad SAW. Serban itu dikirim Imam Syafi’i lewat Sunan Kalijaga sebagai permintaan maaf. Dalam Babad Nitik Sarta Cabolek diceritakan berawal kebiasaan Sultan Agung salat Jumat di Makkah berujung membuat terjadinya malapateka besar. Atas kesaktiannya itu, Sultan Agung bisa sekejap mata berada di Kota Makkah untuk menunaikan ibadah salat. ”Sultan Agung salat di Masjid Makkah setiap hari Jumat,” demikian tertulis di Babad Nitik Sarta Cabolek seperti diringkas de Grave (2001. 176-177). Usai salat Jumat di Makkah, Sultan Agung menemui Iman Supingi, ulama besar pemegang otoritas di Makkah. Iman Supingi yang dimaksud adalah Imam Syafi’i, salah satu Imam yang dikenal dari empat madzab dalam ajaran agama Islam. Pelafalan nama Imam Syafi’i menjadi Iman Supingi, karena menyesuaikan dengan lidah orang Jawa kala itu. Usai salat, Sultan Agung saat itu meminta izin kepada Iman Supingi untuk mendirikan sebuah pesarean (makam) di Kota Makkah. Sultan Agung berharap ketika tutup usia nanti, dia bisa bermakam di Makkah yang lokasinya berdekatan dengan makam para nabi. Namun permintaan yang disampaikan baik-baik itu, ditolaknya. Dalam cerita legenda yang disampaikan Babad Nitik Sarta Cabolek, Iman Supingi melakukan penolakan itudengan alasan bahwa Sultan Agung tidak layak untuk bermakam dekat makam nabi. Musababnya, Sultan Agung diketahui terlahir dari sebuah pertemuan seorang manusia dengan bangsa jin atau dewa, sehingga keberadaanya dapat meresahkan para nabi. Alhasil, Sultan Agung tidak bisa menerima alasan yang diutarakan Iman Supingi tersebut. Raja Jawa itu seketika tersinggung. “Sultan Agung murka,” demikian yang tertulis dalam buku “Naik Haji di Masa Silam, Tahun 1482-1890”. Saat itu langsung Sultan Agung bertolak ke tanah Jawa dengan penuh kekecewaan dengan penuh amarah. Kala itu, dia mendatangi Pantai Selatan tempat di mana Kanjeng Ratu Kidul atau Nyi Roro Kidul bertakhta. Sultan Agung di sana mengadu. Dalam legenda sejarah Mataram Islam, Kanjeng Ratu Kidul merupakan istri dari raja-raja Jawa. Kanjeng Ratu Kidul lantas mengusulkan untuk menyerang Makkah dengan cara menyebarkan wabah penyakit. Sultan Agung yang dalam keadaan emosi, langsung mengiyakan. Alhasil, Kanjeng Ratu Kidul kemudian mengirimkan wabah secara gaib ke Makkah. “Maka Ratu Kidul memerintahkan kepada dua panglimanya, Nyai Ira Kidul dan Nyai Kidul untuk mengepalai pasukan “lelembut dan teluh” ke Mekkah dan menyebarkan penyakit di sana”. Dalam riwayat cerita Babad Nitik Sarta Cabolek, disebutkan bahwa Kota Makkah kemudian geger. Malapetaka yang berupa pagebluk meneror tanah suci. Maut tiba-tiba merajalela, di mana tiap hari banyak orang mati tanpa sebab yang jelas.

Read More

Umat Muslim Afrika Menjaga Al Qur’an Tertua yang Ditulis Imam Indonesia

Jakarta — 1miliarsantri.net : Umat Muslim Cape Town menjaga Al-Qur’an berusia lebih dari dua abad di sebuah masjid di distrik bersejarah Bo Kaap. Al-Qur’an tertua di Afrika Selatan itu ditulis rapi dengan tangan oleh imam asal Indonesia. Imam ini diasingkan oleh Belanda ke ujung selatan Afrika. Para peneliti percaya bahwa Imam Abdullah ibn Qadi Abdus Salaam, yang dikenal sebagai Tuan Guru, menulis Al-Quran berdasarkan ingatannya. Saat itu ia diasingkan dari Pulau Tidore ke Cape Town sebagai tahanan politik pada tahun 1780. Imam Abdullah menjalani pengasingan akibat bergabung dalam gerakan melawan penjajah Belanda. Al-Qur’an ini ditemukan di dalam kantong kertas di loteng Masjid Auwal oleh para pekerja bangunan saat membongkar dan merenovasi masjid di pertengahan 1980-an. “Loteng itu sangat berdebu, sepertinya tidak ada seorang pun yang pernah berada di loteng itu selama lebih dari 100 tahun. Pekerja bangunan juga menemukan sekotak teks keagamaan yang ditulis oleh Tuan Guru,” kata anggota komite masjid, Cassiem Abdullah, kepada BBC, dikutip Selasa (29/08/2023). Al-Qur’an yang tidak dijilid, terdiri dari halaman-halaman lepas, tanpa nomor halaman, ditemukan dalam kondisi baik. Kerusakan, robek bagian tepi, hanya dijumpai di beberapa halaman pertama. Tulisan kaligrafi Arab yang dibuat dari tinta hitam dan merah pun masih terbaca jelas dan kondisinya masih sangat baik. Tantangan terbesar bagi komunitas Muslim setempat dalam melestarikan artefak yang berasal dari tahun 1694 ini adalah memastikan bahwa semua halaman yang terdiri dari 6.000 ayat Al-Quran ditempatkan dalam urutan yang benar. Tugas ini dilakukan oleh mendiang Maulana Taha Karaan, ketua ahli hukum Dewan Peradilan Muslim di Cape Town, bersama beberapa ulama setempat. Proses penyelesaian penjilidan halaman-halaman Al-Qur’an itu memakan waktu hingga tiga tahun lamanya. Saat ini Al-Qur’an tersebut dipajang di Masjid Auwal, yang didirikan oleh Tuan Guru pada 179 sebagai masjid pertama di Afrika Selatan. Teks berharga ini hampir tiga kali dicuri. Sehingga komunitas setempat mengamankannya dalam kotak anti api dan peluru 10 tahun yang lalu. Penulis biografi Tuan Guru, Shafiq Morton, percaya bahwa cendekiawan tersebut kemungkinan besar mulai menulis salinan pertama dari lima salinannya saat ditahan di Pulau Robben – tempat ikonik anti-apartheid Nelson Mandela juga dipenjarakan dari tahun 1960an hingga 1980an – dan terus dilakukan hingga pembebasannya. Sebagian besar salinan ini diyakini ditulis ketika ia berusia antara 80 dan 90 tahun. Pencapaiannya terbilang luar biasa karena bahasa Arab bukanlah bahasa pertamanya. Menurut Morton, Tuan Guru dipenjara di Pulau Robben dua kali. Pertama dari tahun 1780 hingga 1781 ketika dia berusia 69 tahun, dan terakhir antara tahun 1786 dan 1791. “Saya percaya salah satu alasan dia menulis Al-Quran adalah untuk membangkitkan semangat para budak di sekitarnya. Dia menyadari bahwa jika dia menulis salinan Al-Quran, dia bisa mendidik umatnya lewat Al-Quran dan sekaligus mengajari mereka martabat,’ kata Morton. “Kalau kita lihat di arsip, kertas yang dipakai Belanda mirip sekali dengan yang dipakai Tuan Guru. Mungkin kertasnya sama. Penanya dibuatnya sendiri dari bambu dan tinta hitam dan merahnya mudah diperoleh dari pemerintah kolonial,” lanjutnya. Dosen sejarah Islam Afrika Selatan, Syekh Owaisi, melakukan penelitian ekstensif pada Al-Quran dengan tulisan tangan di Cape Town itu.

Read More

Makam Gatotkoco di Temukan di Wilayah Malang Raya, Jalur Antara Cangar Mojokerto dan Kota Batu

Surabaya — 1miliarsantri.net : Di wilayah Malang Raya, tepatnya di kawasan Cangar yang menjadi jalur penghubung Batu-Mojokerto tersimpan sebuah misteri yang menggemparkan. Tak jauh dari jalur yang terkenal sepi dan cukup berbahaya tersebut terdapat dua makam kuno yang berbentuk panjang. Makam yang panjangnya mencapai tiga meteran itu lokasinya tersembunyi di atas jurang. Karena berada di area hutan, di sekeliling makam yang dikeramatkan oleh warga sekitar ini banyak ditemui tanaman anggrek liar yang menambah indah pemandangan sekitar. Pemandangan semacam ini memang wajar karena kawasan tersebut memang berada di Taman Hutan Rakyat Raden Suryo yang berada di lereng Gunung Welirang. Selain itu, di dekat makam tersebut juga tumbuh sebuah pohon besar yang menjulang tinggi. Konon, menurut kepercayaan warga sekitar, dua sosok yang terkubur di bawah dua makam keramat ini dipercaya adalah Raden Gatotkaca dan istrinya. Sebagaimana diketahui, Gatotkaca adalah seorang tokoh dalam kisah Mahabharata. Ia merupakan keturunan Bima, tokoh pewayangan yang menjadi anggota Pandawa Lima. Gatotkaca digambarkan sebagai sosok pria yang memiliki kekuatan luar biasa, hingga disebut-sebut memiliki otot seperti kawat dan tulang bagaikan besi. Sulit dipercaya memang karena tak diketahui secara pasti apakah benar Gatotkaca yang dimaksud adalah tokoh pewayangan yang selama ini kita ketahui.

Read More