Masjid Suraya Diklaim Sebagai Masjid Tertua di Meksiko

Meksiko — 1miliarsantri.net : Hampir seluruh umat Islam di Meksiko tinggal di daerah perkotaan, seperti Mexico City, Coahuila de Zaragoza, dan Jalisco. Secara taraf sosial-ekonomi, masyarakat muslim di negara tersebut hidup cukup makmur. Mayoritas angkatan kerja mereka berprofesi sebagai pengusaha. Menurut penelitian de Castro dan Vilela, ada belasan masjid yang tersebar di penjuru Meksiko. Masjid yang sering disebut-sebut ialah Masjid Suraya (Mezquita Soraya) di Torreon, Coahuila. Rumah ibadah itu berdiri sejak 1989 dan menjadi masjid pertama yang berdiri secara resmi di Meksiko. Demikian berdasarkan keterangan dari lembaga Salafi Centre of Mexico. Wilayah sekitar Torreón didatangi imigran Timur Tengah sejak awal abad ke-20. Namun, baru pada tahun 1983, sekitar 35 orang, keturunan imigran generasi pertama, mendirikan rumah pertemuan umat Islam pertama di Meksiko. Gedung tersebut dipimpin oleh Hassan Zain Chamut. Salah satu jamaah yang hadir, Elias Serhan Selim, mengusulkan agar gedung pertemuan tersebut memiliki tempat ibadah yang didedikasikan untuk masyarakat. Dia mensponsori proyek tersebut dan meminta keahlian arsitek Zain Chamut untuk mendesain masjid yang mencerminkan tradisi arsitektur Islam dan Hispanik. Pemerintah Meksiko memperkirakan terdapat sekitar 3,700 Muslim di negeri tersebut. Sementara, Pew Forum on Religion and Public Life yang berbasis di Washington memperkirakan jumlah Muslim sekitar 110,000. Dikutip Fox News Latino, disamping soal jumlah, Louahabi, seorang guru di Meksiko, mengatakan, tak ada keraguan bahwa komunitas ini berkembang cepat. Menurutnya, Islam berkembang dengan sangat cepat. “Terdapat banyak kesamaan antara Nasrani dan Yahudi, sehingga tidak terlalu sulit untuk memahami dan memeluknya. Islam akan terus terkembang, pertumbuhannya sebanding dengan kelompok Evangelis dalam beberapa tahun terakhir ini,” ungkap Eduardo Luis Leajos Frias, seorang Meksiko yang memeluk Islam dan merubah namanya menjadi Lokman Idris. Di antara anggota paling penting komunitas Muslim di Meksiko adalah Mark Omar Weston, mualaf kelahiran Inggirs. Sebelumnya, dia adalah professional kelas dunia olah raga ski air. Dia mengelola hotel dan Islamic Center di negara bagian Morelos. Hotel ini menyediakan makanan halal. “Sebagian besar mualaf Meksiko menemukan Islam melalui internet. Fenomena ini seperti Evangelis, atau pengikut tradisi al Kitab lainnya yang sekarang ada di negeri ini,” ujarnya dalam wawancara dengan Fox News Latino. Menurut Zidane Zeraoui al Awad, profesor hubungan internasional di the Technological Institute of Monterrey, Islam di Mexico dapat dilihat sejak penaklukan oleh Spanyol. “Di seluruh Amerika Latin, Islam datang bersamaan dengan kolonialisme Spanyol,” imbuhnya.

Read More

Fawzy : Asal-Muasal Konflik Palestina-Israel, Juga Asal Muasal Nama Palestina.

Yerussalem — 1miliarsantri.net : Palestina sekarang sedang menjadi pembicaraan dunia. Konflik bangsa Palestina dan Israel kembali mencuat dalam beberapa hari terakhir. Bencana ini telah menyebabkan malapetaka terburuk dengan menyebabkan ribuan jiwa melayang. Namun, terlepas dari konflik berkepanjangan itu, kajian mengenai sejarah Palestina sendiri telah banyak dilakukan, termasuk oleh pengarang asal Tunisia Fawzy Al-Ghadiry. Dalam buku Sejarah Palestina: Asal-Muasal Konflik Palestina-Israel, Fawzy juga menjelaskan asal muasal nama Palestina. Palestina diketahui sejak sejarah kuno sebagai tanah Kan’an di mana disebutkan dalam laporan salah satu pemimpin tentara King Mary. Sebagai tambahan, nama ini ditemukan tertulis dengan jelas di tugu Admiri, yaitu seorang raja Alkha (Tal Al-A’tashenah) selama pertengahan abad kelima sebelum Kristus. Menurut Fawzy Al-Ghadiry, asal kata Palestina, seperti disebutkan dalam catatan atau rekaman Asiria selama masa raja Assyiria (Addizary III) sekitar tahun 800 SM, datang dari kata Philsta. Ia menuliskan kata tersebut di tugunya bahwa dalam tahun kelima kekuasaannya, tentaranya telah menyerahkan Palastu di bawah kontrolnya, dan memaksa orang-orangnya untuk membayar pajak. Juga kata Palestina disebutkan oleh Herodotus dalam basis Aramin, seperti kita temukan bahwa dia menggunakannya untuk mengacu pada sebuah tempat di bagian selatan Syra (Syria Palestina) dekat Finithya hingga batas-batas Mesir. Lebih lanjut, sejarawan Rumania, seperti Aghatar Chides, Strabo, dan Diodoru telah menggunakan penamaan semacam itu. Selama era Rumania, nama Palestina digunakan untuk menyebutkan semua tanah suci, lalu nama ini berkembang menjadi nama resmi di distrik ini sejak Era Hadrian. Oleh karenanya, nama ini digunakan dalam laporan-laporan sejarah Kristen.

Read More

Kisah Ketika Aisyah Menangis Mendengar Munculnya Dajjal di Palestina

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Masih terus bergejolaknya konflik antara Palestina dan Israel dalam kurun waktu belakangan ini, sepatutnya sebagai orang Muslim harus memperkaya diri dengan berbagai keutamaan yang dimiliki Palestina. Salah satu keutamaan Palestina terkait dengan peristiwa di hari kiamat kelak. Hal itu bisa diketahui dalam hadits yang diriwayatkan dari Aisyah RA, sebagaimana bunyi lengkap hadits berikut ini: أن عائشة أخبرته، قالت: دخل علي رسول الله صلى الله عليه وسلم وأنا أبكي، فقال لي : ” ما يبكيك؟ ” قلت: يا رسول الله، ذكرت الدجال فبكيت، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” إن يخرج الدجال وأنا حي كفيتكموه، وإن يخرج بعدي ، فإن ربكم عز وجل ليس بأعور، وإنه يخرج في يهودية أصبهان، حتى يأتي المدينة فينزل ناحيتها، ولها يومئذ سبعة أبواب على كل نقب منها ملكان، فيخرج إليه شرار أهلها حتى الشام مدينة بفلسطين بباب لد، وقال أبو داود مرة: حتى يأتي فلسطين باب لد، فينزل عيسى عليه السلام فيقتله، ثم يمكث عيسى عليه السلام في الأرض أربعين سنة إماما عدلا، وحكما مقسطا “ Aisyah berkata, “Rasulullah SAW datang kepadaku ketika aku sedang menangis.” Lalu beliau bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Aisyah RA menjawab, “Wahai Rasulullah SAW, aku teringat Dajjal, sehingga aku menangis.” Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Jika Dajjal muncul dan aku masih hidup di tengah kalian, aku yang menghadapinya. Namun jika dia muncul setelah (wafatnya) aku, ketahuilah bahwa Tuhan kalian tidaklah buta mata sebelah kirinya. Dajjal akan muncul di antara Yahudi Asbahan, kemudian datang ke Madinah, lalu dia berhenti di luarnya. Madinah punya tujuh pintu. Pada setiap pintu ada dua malaikat. Para penduduk Madinah yang jahat akan keluar, menuju Dajjal. Hingga tibalah Dajjal di Palestina, di daerah bernama Baab Ludd. Kemudian Isa bin Maryam turun dan membunuh Dajjal. Isa akan hidup di bumi selama empat puluh tahun, sebagai imam dan pemimpin yang adil.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban) Dalam Shahih Muslim, disebutkan tentang tanda-tanda datangnya hari kiamat. Di antaranya ialah kemunculan Dajjal, dan matahari yang terbit dari barat.

Read More

Masjid Agung Lamongan, Selain Sebagai Masjid Tertua, Juga Sebagai Destinasi Wisata Religi

Lamongan — 1miliarsantri.net : Masjid Agung Lamongan merupakan salah satu masjid yang berkaitan erat dengan sejarah dan diklaim sebagai yang tertua di Lamongan. Masjid tersebut didirikan pada tahun 1908 dengan gaya arsitektur Jawa yang khas, ternyata menyimpan Candra Sengkala berdirinya Kabupaten Lamongan. Lokasi Masjid Agung Lamongan (MAL) ini memang berada di pusat kota di mana pembangunannya tidak bisa dilepaskan dari tata ruang kota di masa lalu, di mana alun-alun sebagai pusatnya dan berada di sebelah barat alun-alun kota Lamongan. Saat ini, Masjid Agung sudah dipugar menjadi lebih modern dengan ciri khas menara kembar. “Masjid Agung Lamongan ini didirikan pertama kali pada tahun 1908. Pada saat itu masjid ini dibangun dengan gaya arsitektur Jawa, yaitu beratap tumpang 3 yang mengandung arti iman, islam dan iksan,” kata Sekretaris Takmir Masjid Agung Lamongan HM Yunani CH saat berbincang dengan 1miliarsantri.net, Senin (16/10/2023). Yunani menambahkan, tinggi 2 menara kembar di depan masjid agung Lamongan yang 53 meter, dibangun pada tahun 2012 dan ketinggian menara tersebut disesuaikan dengan usia Nabi Muhammad SAW saat hijrah. Beberapa kali renovasi dilakukan terhadap masjid ini sejak awal didirikan hingga ke bentuknya yang sekarang, namun tetap mempertahankan sejumlah benda yang adalaha objek cagar budaya, yaitu dua buah gentong, dua buah batu pasujudan (Prasasti) yang berada di depan masjid. “Dua gentong air dan 2 batu pasujudan tersebut masih ada di depan masjid dan konon katanya gentong dan batu pasujudan tersebut berkaitan erat dengan kisah Panji Laras dan Panji Liris dengan Andansari dan Andanwangi, Wallahu alam,” ujar Yunani. Masuk ke dalam masjid, kita akan melihat di tengah-tengah bangunan masjid ini masih mempertahankan bangunan asli atau bangunan awal ketika masjid ini didirikan, yaitu tiang besar penyangga masjid yang terbuat dari kayu jati. Menara awal yang dibangun pada sekitar tahun 1970-an juga masih tetap dipertahankan. Lokasi tempat mengumandangkan azan yang berada di loteng atau ketinggian juga masih ada meski sudah tidak digunakan kembali. “Ada beberapa kali pengembangan dengan tetap mempertahankan nilai awal hingga ke bentuk seperti yang ada saat ini,” paparnya. Di dalam masjid ini juga terdapat mushaf Al-Qur’an terbesar yang berada di sisi kanan masjid. mushaf Al-Qur’an ini memiliki ukuran 240 x 155 sentimeter buah karya dari Ustaz Rusdi Aliuddin, pengasuh Madrasah Diniyah Nurul Iman, Desa Sidorejo, Kecamatan Deket. Mushaf Al-Qur’an yang memiliki ketebalan 17 cm itu memiliki berat sekitar 350 kg dan untuk melindunginya, mushaf Al-Qur’an raksasa itu disimpan dalam kotak kaca. “Setiap hari mushaf Alquran besar itu selalu dibaca,” imbuhnya. Masjid Agung Lamongan yang berada di jantung kota Lamongan ini menjadi satu dari sekian masjid di Lamongan yang kerap menjadi pilihan wisata religi di Lamongan. Lokasinya yang strategis dan keindahan arsitekturnya membuat kita kerasan untuk berlama-lama di masjid ini. Di samping itu kini masjid agung terus berbenah. Kalau dulunya pusat masjid berada di empat tiang itu, kini diperluas ke barat masjid dengan pembangunan mimbar masjid serta teras masjid. Masjid Agung Lamongan didirikan pada 1908 di atas tanah wakaf milik Mbah Yai Mahmoed. Ketika itu Lamongan dipimpin oleh seorang Adipati yang bernama Djojodinegoro.Berdasarkan catatan sejarahnya, Masjid Agung Lamongan didirikan tahun 1908 didirikan oleh Mbah Yai Mahmoed yang mewakafkan tanahnya untuk didirikan masjid pada masa Lamongan dipimpin seorang adipati bernama Djojodinegoro. “Ini adalah masjid tertua di Lamongan, didirikan pertama 1908 dengan status wakaf dari ulama mbahyai Mahmud, yang menurut sejarah adalah orang asli Bojonegoro, yang kemudian oleh Mbahyai Mahmoed diserahkan untuk dikelola ke KH Mastur Asnawi usai mukim selama 20 tahun mukim di Mekah,” lanjut Yunani. Setelah dikelola oleh Mbah Yai Mastur, ungkap Yunani, Mbah Yai Mastur mengajak bersama para kiai, ulama dan tokoh masyarakat di Lamongan untuk gotong royong membangun masjid tersebut. Cikal bakal masjid yang menggunakan empat buah kayu jati yang dipergunakan sebagai soko guru masjid itu didatangkan dari berbagai daerah. Tiga buah kayu jati di antaranya didatangkan dari Asembagus, Situbondo dan 1 lagi berasal dari Demak, Jawa Tengah. “Kayu jati tersebut diangkut dengan cikar atau pedati dan sudah disambut dengan meriah begitu tiba di perbatasan kota,” kisah Yunani.

Read More

Pesantren Gebang Tinatar Merupakan Cikal Bakal Berdirinya Pesantren di Nusantara

Ponorogo — 1miliarsantri.net : Salah satu pesantren yang terkenal sekaligus dijadikan lokasi wisata religi di Ponorogo adalah Pesantren Gebang Tinatar. Pesantren ini dikenal dengan sebutan Pesantren Tegalsari karena berada di Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis, Ponorogo.Seorang peneliti Belanda Martin Van Bruinessen menyebut pesantren ini merupakan cikal bakal seluruh pesantren yang ada di Indonesia. Bahkan KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur pun juga mengucapkan hal senada. Pasalnya sebelum adanya Pesantren Tegalsari, belum ditemukan satu bukti pun yang menunjukkan adanya sistem pesantren di Indonesia. Penasihat masjid sekaligus generasi kedelapan, Kunto Pramono (63), mengatakan pada tahun 1669, Kiai Ageng Muhammad Besari babat alas di wilayah timur sungai Jetis. Tahun itu, beliau mendirikan sebuah masjid pertama di Desa Coper, Kecamatan Jetis, Ponorogo. Lambat laun, masjid itu berkembang menjadi pesantren. Pesantren yang diasuh Kiai Ageng Muhammad Besari tersebut memiliki banyak santri. “Tahun 1680 resmi didirikan Pesantren Gebang Tinatar,” terang Kunto kepada 1miliarsantri.net, Sabtu (14/10/2023). Kunto menambahkan karena semakin banyaknya jumlah santri, akhirnya tahun 1724 Kiai Ageng Muhammad Besari mendirikan masjid kedua yang hingga saat ini jadi jujugan wisata religi. “Lalu tahun 1747 Kiai Ageng Muhammad Besari meninggal dunia, kepemimpinan pondok diteruskan ke putra dan cucunya,” jelas Kunto. Hingga pada masa Kiai Hasan Besari tahun 1800-1862 M Pesantren Tegalsari mengalami masa keemasannya. Tercatat 3000-an santri menimba ilmu di pesantren tersebut. Para santri pun ditempatkan di pondokan beratap dua sirap dan memiliki satu serambi. Lantainya setinggi empat kaki dan diberi tangga. Pesantren ini menjadi tempat penggemblengan para pejuang kemerdekaan. Baik dari kalangan Islam ataupun nasionalisme pada masa depan. Sepeninggal Kiai Ageng Muhammad Besari tampuk kepemimpinan Pesantren ini secara berturut-turut dipegang oleh Kiai Hasan Ilyas (1773-1800), Kiai Hasan Yahya (1800), Kiai Hasan Besari (1800-1862), dan Kiai Hasan Anom. “Saat kepemimpinan Kiai Hasan Anom, pesantren mengalami kemunduran. Saya kurang tahu penyebabnya, apa mungkin karena banyak perkawinan dengan Keraton Solo, akhirnya lebih milih soal darah kebiruan dan tidak belajar agama. Sehingga banyak penyurutan sampai sekarang,” papar Kunto. Pesantren Gebang Tinatar di Ponorogo menjadi tempat penggemblengan para pejuang kemerdekaan. Yang menimba ilmu dari pesantren yang dikenal dengan nama Pesantren Tegalsari itu baik dari kalangan Islam ataupun nasionalisme pada masa lalu. Penasihat masjid sekaligus generasi kedelapan, Kunto Pramono (63) mengatakan pesantren ini pernah ‘menampung’ Pakubuwono II, raja Kasunanan Kartasurya. Dia mengenyam pendidikan di Pesantren Gebang Tinatar-Tegalsari ketika Kerajaan Kartasura sedang menghadapi ‘Geger Pecinan’. Karena kewalahan, Pakubuwono II terpaksa menyingkir ke arah timur dan kemudian berlindung di pesantren yang diasuh oleh Kiai Ageng Mohammad Besari ini. Setelah ‘nyantri’ di sana beberapa lama, Pakubuwono II akhirnya dapat menduduki tahta kembali pada tahun 1743 M. “Lalu ada juga HOS Cokroaminoto, yang pernah nyantri di sini,” imbuh Kunto.

Read More

Makam Ibunda Gajah Mada Dipercaya Berada di Kabupaten Lamongan Jawa Timur

Lamongan — 1miliarsantri.net : Kabupaten Lamongan, Jawa Timur dikenal memiliki beragam sejarah peradaban leluhur yang masih dilestarikan hingga saat ini. Selain makam Sunan Drajat, terdapat juga Makam ibunda Gajah Mada yang dipercaya berada di puncak bukit Gunung Ratu di Dusun Cancing, Desa Sendangrejo, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan Jawa Timur. Nama ibu Gajah Mada adalah Dewi Andongsari. Untuk menuju makam yang sudah direhab oleh Pemkab Lamongan itu, peziarah harus menaiki tangga undakan jumlahnya ratusan anak tangga harus yang dilewati untuk sampai di puncak Gunung Ratu. Setelah sekitar 30 menit, pengunjung akan sampai pada puncak bukit. Dari pusat kota Lamongan, lokasi situs Gunung Ratu berjarak sekitar 65 kilometer ke arah selatan, sementara untuk akses jalan menuju lokasi juga sudah terbilang bagus dan jalan menuju makam sudah direhab oleh pemerintah. “Situs Makam Dewi Andongsari ini dikenal oleh banyak masyarakat sebagai makam Ibunda Gajah Mada ,” terang Kepala Desa Sendangrejo, Suwaji kepada 1miliarsantri.net, Jumat (13/10/2023). Di bawah pohon besar dan dikelilingi tembok dengan atap tertutup, di sanalah makam Dewi Andongsari. Makam itu membujur ke utara dan selatan, dengan dilengkapi tiga payung warna emas dan juga berhias bendera merah putih. “Sebelum dipugar, makam ini hanya ditandai dengan tumpukan batu-batu kuno saja,” ungkap Suwaji. Selain makam Dewi Andongsari, di kompleks pemakaman yang berada di kawasan perbukitan ini juga ada 2 pusara lain berjajar. Dua pusara tersebut adalah pusara Kucing Condromowo dan Garangan (musang) Putih yang berada tepat sebelum masuk ke makam Dewi Andongsari. Kedua pusara ini, menurut Suwaji, dalam cerita yang diketahui warga, merupakan teman atau hewan peliharaan Dewi Andongsari selama dalam pengasingan di bukit itu.

Read More

Masjid Jami’ Nurul Huda Bekasi, Berdiri Sejak Tahun 1882 Masehi

Bekasi — 1miliarsantri.net : Tahukah anda Masjid paling tua di Bekasi yang berdiri tahun 1882 masehi yakni Masjid Jami’ Nurul Huda yang berada di daerah Jati Makmur Pondok Gede, Bekasi Selatan. Ketua DKM Masjid Jami’ Nurul Huda, KH Abi Najwa mengatakan bahwa masjid ini didirikan turun temurun dari pihak keluarganya. “Didirikan pertama kali oleh Kiyai Haji Mukharom, kemudian anak beliau Kiyai Haji Arba’in, Kiyai Haji Abu Salam, Kiyai Haji Akhi, Kiyai Haji Abu Bakar hingga sampai saat ini turun kepada beliau,” ungkapnya kepada 1miliarsantri.net, Selasa (10/10/2023) Masjid tersebut baru pertama kali di bangun karena belum banyak masjid yang tersedia dan hanya ada di wilayah tertentu khususnya di Pondok Gede. Sementara itu untuk perawatan masjid mengutaman kebersihan yang di heandle oleh marbot serta adanya imam. Pada perkembangan nya, di awal tahun 1994 hingga sekarang, masjid ini banyak melakukan perbaikan dari bangunan dan kegiatan. Contohnya dengan adanya kegiatan pada bulan Ramadan, seperti i’tiqaf atau malam lailatul qadar, kondisi masjid akan lebih ramai. Hingga sebagain masyarakat mengetahui bahwa Masjid Jami’ Nurul Huda adalah masjid tertua yang ada di Bekasi. Kondisi jama’ah sholat Jum’at pun terlihat cukup padat. Lokasinya juga mudah karena terletak dipinggir jalan raya. Kapasitas daya tampung masjid tersebut bisa mencapai 1000 jama’ah, dan ketika memasuki bulan Ramadhan, jamaah lebih banyak yang hadir.

Read More

Saksi Sejarah G30S PKI Yang Selamat, Meski Sempat Mendapat Siksaan

Jakarta — 1miliarsantri.net : Peristiwa berdarah G30S PKI merupakan peristiwa kelam di Indonesia. Namun ada satu sisi menarik pada malam berdarah G30S PKI di Lubang Buaya. Seorang polisi, Sukitman, secara luar biasa, selamat dari pembunuhan. Padahal, dia tertangkap dan sempat disiksa. Dalam narasi yang beredar, Sukitman bersembunyi di kolong truk. Pasca insiden berdarah yang merenggut 6 Jenderal TNI dan disaat pagi menjemput, Sukitman baru keluar dan meminta bantuan. Itu setelah gerombolan PKI, Gerwani dan Pemuda Rakyat, pergi dari Lubang Buaya. Namun, dalam versi kisah ini, selamatnya Sukitman tak sesederhana itu. Ada sosok penyelamat yang rupanya alpa dari catatan sejarah, atau sengaja dilupakan. Dia adalah Ishak Bahar. Seorang alumni pesantren alias santri anggota pasukan pengawal Presiden Soekarno, yang kebetulan jadi sopir komandan Cakrabirawa Letkol Untung pada malam G30S PKI. Suaranya masih merdu dan tartil, meski sedikit bergetar saat melafalkan Surat Al Hadid. Siapa sangka, dia mantan anggota Cakrabirawa, kesatuan elite pengawal presiden yang disangka terlibat G30S/PKI. Namanya Ishak Bahar, lahir di Purbalingga. Ishak berlatar belakang agama yang kuat. Namun, perjalanan hidupnya membuatnya sempat dicap sebagai PKI, gara-gara menjadi anggota Cakrabirawa. Dia merupakan anak Kayim. Masa kecilnya diisi dengan banyak mengaji. Ishak juga belajar di tiga pesantren, di Jawa Tengah. Dia adalah sosok santri tulen. Usai lulus sekolah, dia mendaftar tentara. Belakangan, setelah bertugas di Kodam IV Diponegoro, dia terpilih menjadi salah satu anggota pasukan Cakrabirawa. Tugasnya di ring 1 adalah menjaga keselamatan presiden, sebagai unit yang selalu menempel ke mana pun presiden bergerak. Sebelum menjadi pengawal paling dekat Sukarno, dia adalah ajudan Letkol Untung, Komandan Cakrabirawa yang akhirnya divonis mati karena dinyatakan bersalah melakukan kudeta dan menggerakkan pasukan untuk membunuh enam jenderal dan satu perwira AD pada peristiwa G30S PKI. Ishak berkisah pada Jumat, 1 Oktober 1965, sedianya ia akan mengawal Presiden Sukarno ke Bogor, Jawa Barat. Ia tak terlalu paham agendanya. Namun, berdasarkan informasi yang diperolehnya waktu itu, presiden hendak hadir di sebuah acara olahraga. “Sebagai prajurit, informasi detailnya yang seperti itu baru akan diberitahukan ketika akan berangkat. Kita kalau akan berangkat baru diberi pembagian tugas,” ucapnya kepada 1miliarsantri.net, Sabtu (07/10/2023) Tetapi, ia batal mengawal Presiden Sukarno. Pasalnya, pada sore 30 September 1965, tiba-tiba Letkol Untung, Komandan Cakrabirawa memintanya untuk mendampinginya ke Lubang Buaya. Tempatnya digantikan oleh pengawal lainnya, Bagyo. “Kamu ikut saya saja,” Ishak menirukan perintah Letkol Untung. Pada 1 Oktober 1965 dini hari, tugasnya adalah mengantar Letkol Untung, tak ada yang lain. Ketika satu kompi Cakrabirawa bertugas menjemput para jenderal, ia tetap berada di Lubang Buaya.

Read More

Assikalaibineng Kitab Kuno Suku Bugis Makassar

Makassar — 1miliarsantri.net : Suku Bugis-Makassar memiliki kitab kuno yang membahas tentang etika bercinta bagi pasangan suami istri. Kitab itu adalah Assikalaibineng. Assikalaibineng adalah kitab tuntunan malam pertama bagi pengantin baru. Kitab ini tak hanya berisi tentang cara hubungan seksual antara suami-istri, tetapi juga berisi tentang teknik sebelum dan sesudah berhubungan badan termasuk doa-doanya, teknik untuk berhubungan badan untuk untuk menentukan jenis kelamin anak atau bahkan waktu yang baik dan buruk untuk berhubungan badan. Assikalaibineng merupakan manuskrip kuno dengan tulisan aksara Lontara. Secara harafiah, Assikalaibineng terdiri dari dua suku kata bahasa bugis, yaitu Lai yang berarti lelaki atau suami, dan Bineng atau Bene yang berarti perempuan atau istri. Namun, jika diartikan secara utuh, Assikalaibineng berarti cara berhubungan suami-istri. Assikalaibineng mulanya adalah ajaran eksklusif yang hanya diajarkan secara turun-termurun di kalangan bangsawan Bugis-Makassar. Manuskripnya pun tidak utuh dan tersebar di berbagai daerah di Sulawesi Selatan. Profesor dari Universitas Hasanuddin, Muhlis Hadrawi, menjelaskan, Assikalaibineng merupakan kitab literasi seksualitas suku Bugis. Secara etimologi ungkapan tersebut artinya hubungan laki-laki dan perempuan (suami-istri). “Teks assikalaibineng secara umum membahas terkait konsep seksualitas, pengetahuan alat reproduksi, prosedur/ tahapan hubungan, teknik sentuhan 12 titik, teknik bertahan (hati+pikiran+gerakan), menentukan jenis kelamin, kualitas anak (generasi), tata cara pembersihan tubuh, pengendalian kehamilan, waktu yang baik hubungan suami-istri, pengobatan dan perawatan kelamin, doa-doa, dan hal-hal lainnya,” ujar Mulis dikutip Senin (02/10/2023). Sementara, Periset dari Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban (PR KKP), Abu Muslim, menjelaskan kasih sayang Tuhan dalam sistem pengetahuan seksualitas masyarakat Bugis melalui pembacaan kontekstual lontara Assikalaibineng. Dia menyampaikan, manuskrip assikalaibineng sebagai pusaka dalam bentuk tulisan tangan yang berisi tentang pola dan pengetahuan seksualitas masyarakat Bugis. Hal itu merupakan warisan turun temurun. Assikalaibineng ditujukan sebagai sebuah pengetahuan yang malebbi, yaitu sesuatu yang harus ditempatkan dengan cara-cara bijaksana dan mulia. Sehingga jika terdapat hal-hal yang dapat membuat sistem pengetahuan assikalaibineng ini melenceng dari sifat malebbi’ nya, maka hal tersebut dapat merancukan atau mengurangi aspek kebaikan yang ditimbulkannya. “Manuskrip Assikalaibineng secara kontekstual sebagai upaya rekonstruksi sosial budaya, intelektual, dan keagamaan yang berkembang di Tanah Bugis,” ujar Muslim. Assikalaibineng mulanya adalah ajaran eksklusif yang hanya diajarkan secara turun-termurun di kalangan bangsawan Bugis-Makassar. Manuskripnya pun tidak utuh dan tersebar di berbagai daerah di Sulawesi Selatan. Belakangan, Muhlis Hadrawi mengumpulkan manuskrip itu lalu menerjemahkannya dan menjadikannya sebuah buku panduan bercinta yang diterbitkan pada 2009. Buku dengan judul Assikalaibineng, Kitab Persetubuhan Bugis itu didedikasikan sebagai tesis untuk meraih gelar magister Muhlis di Universitas Indonesia pada waktu itu. Pada bagian awal buku ini, Muhlis Hadrawi menyebut ada 44 manuskrip Lontara yang dikumpulkannya dan lalu dijadikan sebagai rujukan utama penulisan buku tersebut. Ke-44 naskah itu terdiri dari 28 manuskrip beraksara Lontara Bugis dan 16 lainnya beraksara Lontara Makassar.

Read More

Sunan Bejagung Lor, Sosok Yang Bisa Mengalahkan Maha Patih Gajah Mada

Mojokerto — 1miliarsantri.net : Pada abad ke-14, Nusantara memiliki seorang maha patih dari Kerajaan Majapahit yang menjadi legenda di masyarakat pada masa itu hingga saat ini. Dialah Gajah Mada. Selain seorang Mahapatih, Gajah Mada dikenal juga sebagai ahli strategi perang dengan kesaktian dan kekuatan yang mampu menaklukkan berbagai wilayah di Nusantara. Pencetus Sumpah Palapa ini memegang peranan penting dalam masa kejayaan Majapahit di bawah kepemimpinan Raja Hayam Wuruk untuk misinya menyatukan Nusantara. Mengarungi berbagai pertarungan dan kemenangan, Gajah Mada ternyata pernah mengalami kekalahan ketika hendak menjalankan misinya. Lantas, siapakah yang bisa mengalahkan Gajah Mada, sang maha patih yang terkenal dengan taktik jitunya itu? Sosok itu ialah Sunan Bejagung Lor atau Syekh Abdullah Asyari, seorang wali yang mampu mengalahkan Gajah Mada dengan kesaktiannya. Sunan Bejagung Lor merupakan seorang penyebar agama Islam pada masanya yang tinggal di Desa Bejagung, Semanding, Tuban. Keduanya memulai pertarungan setelah diturunkannya titah Raja Majapahit, Hayam Wuruk, kepada Gajah Mada untuk menjemput Kusumawardhani, putri sang Raja yang akan meneruskan tahta, karena ia tidak terima putrinya berguru kepada Sunan Bejagung Lor. Gajah Mada akhirnya datang ke Bejagung untuk menjemput Putri Kusumawardhani dengan membawa pasukan gajah dan menyerang padepokan Sunan Bejagung Lor. Saat itu, Gajah Mada percaya diri dapat mengalahkan sang wali sehingga pertarungan pun tak terhindarkan. Namun, ia tak pernah mengira kalau ternyata Sunan Bejagung Lor memiliki ilmu kanuragan dan kesaktian tinggi. Setelah terlibat dalam pertarungan yang sengit, Sunan Bejagung Lor menggunakan kesaktiannya untuk mengubah pasukan gajah yang dibawa oleh Gajah Mada sehingga menjadi batuan besar.

Read More