Benarkah Ratu Kalinyamat Melakukan Tapa Telanjang

Dengarkan Artikel Ini

Jakarta — 1miliarsantri.net : Babad Tanah Jawi menyebut Ratu Kalinyamat melakukan tapa telanjang setelah suaminya dibunuh. Tim Pakar Ratu Kalinyamat menyatakan hal ini tidak bisa dimaknai secara harfiah.

Tim pakar untuk pengusulan Ratu Kalinyamat sebagai pahlawan nasional ini diketuai oleh Prof Dr Ratno Lukito. Anggotanya terdiri dari Dr Alamsyah, Dr Chusnul Hayati, Dr Connie Rahakundini Bakrie, dan Dr Irwansyah.

Menurut Tim Pakar Ratu Kalinyamat, tapa telanjang tidak ada dalam tradisi masyarakat Jawa. Ada 11 jenis tapa yang biasa dilakukan orang Jawa di masa lalu, di dalamnya tidak ada tapa telanjang.

Orang Jawa memiliki pepatah: Jawa tapa, Landa guna, Cina banda, Arab agama. Artinya Orang Jawa memilih meninggalkan urusan duniawi, orang Belanda menginginan manfaat, orang Cina mencari kekayaan, orang Arab menyebarkan agama.

Tim Pakar Ratu Kalinyamat mengutip catatan arkeolog Belanda J Knebel pada 1897 menyebutkan 11 jenis tapa yang dilakukan orang Jawa pada abad ke-16:

  1. Tapa ngalong, dengan bergantung terbalik, dengan kedua kaki diikat pada dahan sebuah pohon.
  2. Tapa nguwat, yaitu bersemedi di samping makam (nenek moyang anggota keluarga atau orang keramat, dalam suatu jangka waktu tertentu).
  3. Tapa bisu, dengan menahan diri untuk tidak berbicara. Cara bertapa semacam ini ini biasanya didahului oleh suatu janji.
  4. Tapa bolot, yaitu tidak membesihkan diri selama jangka waktu tertentu.
  5. Tapa ngidang, dengan jalan menyingkir sendiri ke dalam hutan.
  6. Tapa ngramban, dengan menyendiri di dalam hutan dan hanya makan tumbuh-tumbuhan.
  7. Tapa ngambang, dengan jalan merendam diri di tengah sungai selama beberapa waktu yang sudah ditentukan.
  8. Tapa ngeli, adalah cara bersemedi dengan membiar diri dihanyutkan arus air di atas sebuah rakit.
  9. Tapa tilem, dengan cara tidur untuk suatu jangka waktu tertentu tanpa makan apa-apa.
  10. Tapa mutih, yaitu hanya makan nasi saja, tanpa lauk pauk.
  11. Tapa mangan, dilakukan dengan jalan tidak tidur, tetapi boleh makan.

Di daftar itu tidak ada tapa wuda (telanjang). Di daftar itu juga tidak ada tapa ngrowot, yaitu tapa dengan cara tidak makan nasi.

Juga tidak ada tapa pati geni, yaitu bertapa dengan cara menghindari cahaya. Tapa ngebleng juga tidka masuk dalam daftar itu. tapa ngebleng adalah bertapa dengan cara tidak makan minum di tanggal-tanggal ganjil.

Tapa berendam di pertemuan arus sungai, yang disebut tapa kungkum, juga tidak masuk dalam daftar itu. Pun tapa pendem, yaitu bertapa di dalam tanah, juga tidak ada dalam daftar.

Apakah jenis tapa yang tidak ada dalam daftar yang disusun Knebel belum ada di abad ke-16? Tapa kungkum jelas sudah tua juga, karena Sunan Kalijaga melakukannya.

Tapa, menurut Bausastra Jawa karya Poerwadarminta: nglakoni matiraga sarta sumingkir saka ing alam rame (menjalani matiraga dan menjauh dari pergaulan masyarakat). Matiraga artinya menahan hawa nafsu atau menjauhkan diri dari kesenangan duniawi.

“Jadi, tapa wuda merupakan makna simbolik keikhlasan Ratu Kalinyamat untuk meninggalkan kemewahan duniawi yang didorong oleh penyerahan total kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,” tulis Tim Pakar Ratu Kalinyamat.

Penulis Portugis Tome Pires yang bercerita mengenai Jawa, sedikit membahas tapa yang dilakukan orang Jawa. Menurut dia, ada sekitar 50 ribu oertapa laki-laki di Jawa pada masa itu.

Tomes Pires mengumpulkan catatan pada 1512-1515 pada saat Jepara dipimpin Dipati Unus. Ratu Kalinyamat lahir pada tahun 1514 dan melakukan tapa telanjang pada 1549 atau 1550.

Ternyata tapa ada alirannya. Meski tidak menyebutkan nama-nama alirannya, Tome Pires menyebut jumlahnya, ada 3-4 aliran.


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca