Benarkah Ratu Kalinyamat Melakukan Tapa Telanjang
Para pertama ini dipuja oleh orang-orang Moor. Yangd isebut orang Moor adalah orang-orang di Jawa yang menganut Islam, bangsa Moro, yang berasal dari Andalusia.
Orang-orang Moor ini senang memberi mereka sedekah. Akan lebih senang lagi jika para pertapa mengunjungi rumah mereka, meski para pertapa itu tidak akan makan di dalam rumah mereka, melainkan di luar rumah.
Para pertapa itu jika bepergian, mereka melakukannya dengan berkelompok, 2-3 orang. “Saya pernah beberapa kali melihat 10 atau 12 pertapa ini di Jawa,” tulis Tome Pires.
Dengan penjelasan ini, tergambar jika bertapa itu tidak seperti yang digambarkan di film-film, duduk bersila melakukan semedi. Mereka juga melakukan aktivitas. Jadi, semedi hanya merupakan bagian dari tapa.
Bagaimana dengan pertapa perempuan? Tome Pires menyebut jumlahnya dua kali lipat dari pertapa pria. Ada lebih dari 100 ribu pertapa perempuan di Jawa pada masa itu.
Tentu ada sebabnya sehingga pertapa perempuan lenih banyak. Para pertapa perempuan ini ada yang tidak menikah ada yang bertapa setelah kehilangan suami.
Dalam tradisi Jawa pra-Islam, perempuan yang ditinggal mati suaminya akan ikut mati juga dengan cara membakar diri atau menenggelamkan diri atau bunuh diri dengan keris. Tapi ada juga yang menolak ikut mati, lalu bertapa.
Para pertapa mengasingkan diri di pegunungan. Mereka membangun tempat tinggal.
“Mereka membangun rumah di pegunungan dan tinggal di sana hingga akhir hayatnya,” tulis Tome Pires.
“Mereka hidup dalam kesucian hingga mati. Mereka membangun rumah-rumah mereka di tempat terpencil,” ulang Tome Pires.
Babad Tanah Jawi tidak menggambarkan detail tempat tapa Ratu Kalinyamat. Tapi diceritakan ada banyak pembantu yang menyertainya, artinya tentu ada pesanggrahan di tempat bertapa itu.
Jika kemudian Joko Tingkir, adik ipar Ratu Kalinyamat, disertai oleh Ki Ageng Pemanahan, bisa mengunjungi Ratu Kalinyamat, kita juga menjadi tidak heran meski Ratu Kalinyamat sedang bertapa telanjang. Jika di lokasi pertapaan ada rumah, maka ia telanjang di dalam rumah itu, sehingga tidak merendahkan martabat perempuan.
Dialog dengan Joko Tingkir dan Ki Ageng Pemanahan bisa dilakukan dengan tidak saling bertemu muka. Sebab ada batas dinding atau tirai sebagai pembatasnya. (yan)
Baca juga :
- Piala Dunia FIFA 2026: Korea Selatan Imbangi Meksiko 0-0 Babak Pertama
- Thomas Tuchel: Pemain Timnas Inggris Perlihatkan Karakter Tim Sebenarnya di Babak Kedua, Inggris 4-2 Kroasia
- Tasmi Al-Qur’an Rumah Tahfidz Al-Qur’an Opung (RTO), Dalam Munaqosyah Semester Santriwan dan Santriwati
- INFO LOKER DKI Jakarta 2026: Program Padat Karya dengan Gaji Setara UMP Rp5,7 Juta per Bulan
- MTs dan SMP Islam Al Huda Rawasapi: Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


