Kampung Gelgel, Kampung Tertua Islam di Bali

Klungkung – 1miliarsantri.net : Jika anda berwisata ke Pulau Bali, jangan lewatkan untuk singgah ke Kampung Gelgel, Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung, Bali. Adalah salah satu pemukiman Islam tertua di wilayah Bali. Kawasan tersebut juga dikenal sebagai salah satu objek wisata religius. Desa Gelgel juga dikenal memiliki toleransi antarumat beragama yang kuat sehingga banyak dikunjungi oleh wisatawan asing ataupun domestik. Salah satunya bentuk toleransi yang masih dirawat hingga hari ini adalah aktivitas makan bersama yang dikenal dengan megibung. Tradisi megibung berasal dari kata gibung yang berarti kegiatan duduk dan makan bersama dalam satu wadah yang disebuh sagi. Sagi adalah nampan berbentuk lingkaran berbahan enamel. Sagi yang berisi makanan akan ditata rapi di atas deretan lantai ubin putih di teras depan Masjid Nurul Huda di Desa Gelgel. Megibung juga dikenal dengan nama ngaminang yakni setiap orang hanya boleh makan apa yang tersaji di depannya dan tidak boleh mengambil makanan milik teman sebelahnya. Jika sudah kenyang dan makan pun selesai, kita tak boleh beranjak dari sagi. Kegiatan tersebut bertujuan untuk duduk bersama dan saling berdiskusi serta berbagi pendapat tanpa tersekat oleh berbagai perbedaan status sosial dan kasta. Acara megibung dilakukan saat buka puasa bersama pada 10 hari kedua Ramadhan di masjid desa. Sigi akan diisi nasi beserta lauknya seperti ikan, ayam goreng, sate lilit berbahan daging ayam, sayur dan sambal matah juga kerupuk dan beberapa botol air mineral. Tak ketinggalan buah-buahan seperti beberapa sisir pisang ambon, jeruk, dan salak ikut disajikan di dalam sagi, kemudian ditutup dengan tudung atau saap warna merah yang di atasnya diletakkan sekotak kurma. Tak jarang Raja Klungkung juga berkunjung ke desa tersebut untuk ikut berbuka puasa dengan warga Desa Gelgel yang mayoritas beragama Islam. Tradisi kunjung sang raja telah dipertahankan sejak ratusan tahun silam. Desa Kampung Gelgel memang memiliki perhatian khusus dari Raja Klungkung. Hal ini tak lepas dari sejarah panjang yang dilewati Kerajaan Klungkung dan prajurit Majapahit yang dikirim ke Bali. Kedekataan Kerajaan Klungkung dengan masyarakat Muslim di Bali tak lepas dari kisah Dalem Ketut Nglesir, Raja Gelgel yang memerintah pada tahun 1383. Awalnya Kerajaan Gelgel berada di Samprangan Gianyar. Lalu oleh Dalem Ketuk Nglesir, pusat pemerintahan dipindah ke Klungkung. Dalem Ketut Ngelesir sendiri naik tahta menggantikan sang kakak, Dalem Samprangan. Kala itu kerajaan mereka berada di bawah pengaruh Kerajaan Majapahit. Dalam berbagai literasi disebutkan Dalem Ketut Ngelesir menghadiri sebuah konferensi di Majapahit yang diadakan Prabu Hayam Wuruk pada 1384. Raja Gelgel Dalem Ketut Ngelesir mendapat keistimewaan. Prabu Hayam Wuruk mempersembahkan 40 prajurit pilihan Majapahit untuk mengawal kepulangan Dalem Ketut Ngelesir ke Pulau Dewata. Ternyata 40 prajurit dari Majapahit ini beragama Islam. Sebagai bentuk terima kasih, Dalem Ketut Ngelesir memberikan sebidang tanah di sisi timur kerajaan di Klungkung untuk tempat tinggal 40 prajurit dari Majapahit. Pada awal abad ke-14, para prajurit Majapahit itu mendirikan Masjid Nurul Huda. Masjid itu sempat beberapa kali mengalami perbaikan sebelum akhirnya dibangun ulang berkonstruksi beton 2 lantai pada 1989. Mimbar khotbah masjid terbuat dari kayu jati berukir khas Bali, motif daun-daunan, dan sudah dipertahankan sejak 1836. Sementara itu, para prajurit yang sebagian menetap ini kemudian menikah dengan perempuan setempat. Dan seiring waktu, mereka tinggal menyebar karena beranak pinak dan menjadi penyebar Islam ke sejumlah kawasan di Bali. Misalnya, ke Kampung Lebah, Kamasan, Kusamba, Pagayamanan, dan Kampung Toyapakeh di Pulau Nusa Penida. Sementara itu dikutip dari buku Majapahit Sesudah Zaman Keemasannya, arkeolog Hasan Djafar menuliskan jika agama Islam diketahui sudah ada di Kerajaan Hindu-Buddha itu sejak 1281 Masehi dan 1368 Masehi. Hal tersebut berdasarkan penemuan makam Islam kuno di Desa Tralaya, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, yang lokasinya tak jauh dari pusat Kerajaan Majapahit. Mengingat pemakaman ini letaknya tak jauh dari kedaton, di dalam kota Majapahit, dapat disimpulkan ini adalah pemakaman bagi penduduk kota Majapahit dan keluarga raja yang telah beragama Islam,” tulis Hasan Djafar. Hingga saat ini toleransi di Kampung Gelgel terus bertahan. Terlebih sekitar 200 meter dari Masjid Nurul Huda yang berada di Jl Waturenggong berdiri pula Pura Kawitan Pusat Pasek Gelgel Dalem Siwa Gaduh. Toleransi tak hanya sebatas ngaminang. Warga juga kerap menjalankan tradisi ngejot atau saling berkirim makanan saat masing-masing memperingati hari raya keagamaan. Mereka seperti paham bahwa dalam setiap makanan, misalnya, tidak mengandung daging sapi ketika akan diberikan ke warga beragama Hindu. Begitu pun sebaliknya, warga Hindu atau agama lainnya hanya mengirimkan makanan halal kepada saudaranya yang Muslim. Saat warga Hindu memperingati Nyepi, maka warga Desa Kampung Gelgel akan membantu tugas para pecalang mengamankan wilayah. Sebaliknya, jika warga Muslim menggelar salat Idulfitri dan Iduladha, maka warga umat lain akan turun tangan mengatur arus lalu lintas di sekitar lokasi salat. (rch)

Read More

Ketika Penguasa Mataram Jatuh Cinta Kepada Putri Bupati Madiun

Yogyakarta – 1miliarsantri.net : Panembahan Senopati penguasa Mataram memiliki istri bernama Retno Dumilah. Sang penguasa Mataram ini konon kepincut oleh kecantikan sang anak dari Panembahan Madiun. Namun dikisahkan Retno Dumilah memiliki senjata rahasia yang membuat Senopati Mataram itu tergila-gila dengan Retno Dumilah. Pertemuan dua orang ini berawal ketika pertempuran antara Kerajaan Mataram dengan pasukan bupati di wilayah Madiun raya. Saat itu konon pasukan dari bupati-bupati di Madiun raya yang diistilahkan sebagai Brang Wetan telah berkumpul di Madiun. Pasukan itu sedianya akan bertarung melawan pasukan Mataram di bawah pimpinan Panembahan Senopati. Pasukan Panembahan Senopati berkemah di Desa Kalidadung, (yang kini tidak ada lagi) dekat Kali Madiun. Pada titik ini, Senopati menyadari bahwa dia dihadapkan pada force majeure [kekuatan yang tidak bisa ditembus] sehingga kemudian merancang sebuah siasat. Dikisahkan pada “Antara Lawu dan Wilis : Arkeologi, Sejarah, dan Legenda Madiun Raya Berdasarkan Catatan Lucien Adam Residen Madiun 1934 – 1938”, sang penguasa Mataram itu mengirim adisoro atau sebutan dari pelayan perempuan yang cantik ke Panembahan Madiun dengan pesan bahwa dirinya berniat menyerah. Panembahan Madiun kemudian mengizinkan pasukan besar bupati-bupati Brang Wétan untuk pergi dan membiarkan Senopati pindah ke dalam kota. Namun demikian, Senopati tiba-tiba menyerang dan pasukannya berhasil menembus keraton atau kediaman bupati. Panembahan Madiun kemudian melarikan diri dan meninggalkan putrinya yang cantik, Retno Dumilah. Meskipun sang putri memiliki keris sakti yang dapat melindunginya dia begitu dibutakan oleh Senopati Mataram, sehingga menjatuhkan keris itu, menyerah padanya, dan kemudian menjadi istrinya. Sementara itu, saudara laki-laki sang putri, Mas Lontang yang menikah dengan seorang putri dari Pangeran Surabaya, kemudian menjadi Bupati Japan atau kini berubah menjadi Mojokerto. Siapa yang ditunjuk Senopati sebagai penguasa di Madiun sesungguhnya tidak diketahui. Namun demikian, penerus Senopati, Mas Jolang atau Panembahan séda Krapyak, menunjuk seorang putra saudaranya, Pangeran Mangkubumi, yaitu Bagus Petak, menjadi Bupati Madiun. Selanjutnya, kisah tentang Madiun saat berada di bawah kekuasaan Sultan Agung, yang bertahta tahun 1613 – 1646, tidak banyak diketahui. Namun demikian, tampaknya banyak orang Madiun yang turut masuk dalam pasukan Sultan Agung untuk menyerang wilayah ujung timur atau Blambangan, kini Banyuwangi] (pada 1614, 1617, 1622, 1639), Madura pada tahun 1624, dan bahkan dalam pasukan besar yang mengepung Batavia, tetapi gagal menaklukkannya pada 1628 dan 1629. (yus)

Read More

Cuaca Panas Pasca Wukuf Membuat Jamaah Alami Kelelahan

Makkah – 1miliarsantri.net : Kementerian Kesehatan Arab Saudi mengonfirmasi pada Selasa (27/6/2023), jumlah jamaah yang mengalami kelelahan akibat panas setelah menyelesaikan wukuf di Arafah mencapai 500 orang. Sebanyak 166 ribu jamaah di antaranya telah diberikan layanan kesehatan. Juru bicara resmi kementerian Mohammed Al-Abdali, mengatakan jamaah telah menyelesaikan ibadah di Arafah pada Selasa malam dan melanjutkan untuk melakukan ritual tersisa, termasuk bermalam di Muzdalifah. Dia menyoroti keberhasilan persiapan Kementerian Kesehatan dan rencana operasinya untuk Arafah, yang merupakan puncak ibadah haji tahunan. Ia mencontohkan, persiapan kementerian memiliki beberapa aspek, antara lain partisipasi semua sektor dengan menerjunkan sekitar 36 ribu kader, 32 ribu di antaranya dari Kementerian Kesehatan saja. Jumlah relawan yang berpartisipasi dalam memberikan layanan kesehatan melebihi 7.600 tahun ini. Al-Abdali mengatakan Kementerian Kesehatan telah melengkapi beberapa rumah sakit lapangan di Arafah. Dia juga mengapresiasi upaya kesehatan Kementerian Pertahanan yang menghasilkan tiga rumah sakit lapangan. Sedangkan Kementerian Garda Nasional berfokus pada melengkapi pusat penanganan kasus kelelahan akibat panas. Dilansir dari Saudi Gazette, Rabu (28/6/2023) juru bicara Kementerian Kesehatan menunjukkan 400 jamaah dengan kondisi kesehatan yang lebih buruk diberikan dukungan untuk bergabung dengan konvoi kesehatan yang membawa mereka untuk tinggal di Arafah. Sementara itu, Juru Bicara Keamanan Kementerian Dalam Negeri Kolonel Talal Al-Shalhoub mengumumkan bahwa tahap pertama rencana keamanan haji telah berhasil dilaksanakan setelah pengangkutan jamaah haji dari Makkah ke tempat-tempat suci selama 24 jam terakhir Dia mengatakan kenaikan jamaah ke Arafah dan sholat mereka di sana dilakukan dengan tenang dan damai setelah mereka menghabiskan Hari Tarwiyah di Mina. Juru bicara menambahkan fase kedua dari rencana sedang dilaksanakan untuk mengangkut jamaah dari Arafah ke Muzdalifah untuk bermalam di sana. Setelahnya, mereka melanjutkan perjalanan mereka kembali ke Mina untuk melakukan lempar jumroh secara simbolis di Jamarat. Kemudian, jamaah akan kembali ke Masjidil Haram untuk melakukan Tawaf Al-Ifadah, mengelilingi Ka’bah. Al-Shalhoub memuji peran personel keamanan dalam melaksanakan tahap kedua dari rencana haji, yang memerlukan pengaturan lalu lintas dan pergerakan pejalan kaki antara Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Juru bicara itu meminta para peziarah untuk mematuhi peraturan selama pergerakan mereka di tempat-tempat suci. (dul)

Read More

Begini Niat Mandi Wajib Sebelum Sholat Idul Adha

Jakarta – 1miliarsantri.net : Sebelum melaksanakan ibadah Sholat Idul Adha dianjurkan untuk mandi besar atau mandi wajib. Seperti diketahui, mandi wajib dilakukan umat Islam untuk menghilangkan hadas besar sebelum melakukan ibadah. Niat Mandi Wajib نويت الغسلة لعيد الأضحى سناتن لله تعالى. Nawaitul ghusla li’idil adha sunnatan lillahi ta’ala. Artinya : “Aku niat mandi untuk merayakan Idul Adha sebagai sunah karena Allah ta’ala.” Tata Cara Mandi Besar Sebelum shalat Idul Adha Berikut tahapan melakukan mandi besar dari awal sampai akhir. Mandi besar sebelum melaksanakan shalat Idul Adha ini sebaiknya dilakukan pada pertengahan malam hingga setelah subuh. Seperti hadis Nabi Muhammad SAW : يُسَنُّ الْغُسْلُ لِلْعِيدَيْنِ، وَيَجُوزُ بَعْدَ الْفَجْرِ قَطْعًا، وَكَذَا قَبْلَهُ، ويختص بالنصف الثاني من الليل Yusanul ghuslu lil’idayni, wayajuzu ba’dal fajri qat’an, wakadzaa qablahu, wayakhtasu biannisfutsaani minal layl. Artinya: Disunahkan mandi untuk shalat Id, untuk waktunya boleh setelah masuk waktu subuh atau sebelum subuh, atau pertengahan malam. (pang)

Read More

Sejarah Sutowijoyo Dibelokkan Penjajah dan Akan Segera Diungkap Fakta Kebenarannya

Sukoharjo – 1miliarsantri.net : Pada saat itu ada seorang wali yang bernama Ki Ageng Sutowijoyo yang juga merupakan murid Sunan Kalijaga. Bermula dari pertemuan dengan Sunan Kalijaga saat dirinya melarikan diri dari kerajaan berakhir dengan ditugaskannya untuk menyebarkan agama Islam di bukit Maja Asto yang kini menjadi tempat pemakamannya. Ia membangun masjid yang juga ada di daerah tersebut dan menjadi peninggalan bersejarah. Sebuah peninggalan yang menjadi bukti dari adanya jejak penyebaran agama Islam di sana. Ada sebuah prasasti di gapura masjid yang diperkirakan sesuai dengan tahun pembangunannya yaitu pada tahun 1587-1653 Masehi. Bahkan, pembangunan masjid ini dijadikan sebagai tempat untuk melakukan dakwah memberikan pengetahuan tentang Islam kepada penduduk desa. Meskipun berlangsung secara perlahan, selain hanya ada sedikit penduduk yang memeluk agama Islam juga karena keterbatasan pengetahuan mereka tentang Islam sebelumnya. Dakwah yang dilakukannya adalah dengan selalu mengingatkan untuk menjadi orang yang menegakkan keadilan dengan amar ma’ruf nahi munkar. Makam Ki Ageng Sutawijaya merupakan peninggalan sejarah yang jadi jejak adanya penyebaran Islam di Desa Majasto. Berada di sebuah bukit batu yang makamnya hanya memiliki kedalaman yang dangkal, tidak membuat makam menimbulkan bau tidak sedap. Berdasar catatan naskah, Peguron Agung – Bumi Arum Majasta, yang berada di wilayah Desa Majasta, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, ternyata memberikan sumbangsih yang sangat luar biasa untuk perjuangan, bukan hanya Pangeran Dipanegara tatkala melawan penjajah, yang kemudian perjuangan tersebut kita kenal dengan sejarah “Perang Jawa.” (1825-1830) tapi juga konon sekaligus dijadikan nya Padepokan bagi mereka yang ingin mempelajari ilmu Persaudaraan dan Kecintaan Pada Sang Khalik. Nilai kecintaan tersebut terlihat dari loyalitas masyarakat pada saat itu, bukan hanya harta yang akan diserahkan! Bahkan Peguron Agung, Mesigit Bumi Arum, Ulama dan Santri, masyarakat setempat yang tidak seluruhnya beragama Islam, rela mempersembahkan nyawanya untuk mewujudkan cita-cita bersama sebagai masyarakat pribumi yang merdeka. Salah satu tokoh masyarakat Majasto yang menolak disebutkan namanya, mengungkap, Perihal “Perang Jawa” tentu bukanlah perang Agama, namun menyangkut kehormatan dan harga diri suatu bangsa yang hendak menegakkan kedaulatan. “Memang Wong Jawa sejak berabad-abad dicatat dalam sejarah, sangat anti pati penjajahan! Termasuk para Wong Majasta,” terangnya kepada 1miliarsantri.net, Selasa (27/06/2023) Terlebih lagi Ibunda Pangeran Dipanegara yakni Raden Ayu Mangkarawati berdarah pribumi Majasta, Putri dari seorang Ulama setempat yang tidak lain masih keturunan Ki Ageng Majasta (dalam naskah dicatat dengan nama Ki Ageng Para Ampelan) tentu merupakan hal yang lazim bila dukungan masyarakat pribumi Majasta terbilang bersih dari kepentingan politis. Artinya dukungan dahsyat tersebut sangatlah tulus atas azas sebagai sesama anak pribumi Majasta. “Sampai suatu hari paska penangkapan Pangeran Dipanegara, kemudian Peguron Agung Bumi Arum Majasta dan Masjidnya dibakar. Dihancurkan sehancur-hancurnya oleh Kolonial dibantu antek-anteknya. Sungguh tragis dan berdarah-darah!,” sambungnya. Tak hanya itu! Dibalik hitam kelamnya sejarah Peguron Agung Bumi Arum Majasta, dalam naskah juga diriwayatkan banyak para Begal bertobat dan minta di ajari Sholat dengan harapan diperbolehkan ikut perang melawan Penjajahan. Semboyannya: “Jika kami mati dalam peperangan, semoga dosa kami sudah terampuni dan meraih sahid.” Hingga saat ini, berbagai macam misteri sejarah masih menyelimuti adanya peranan penting Ki Ageng Sutowijoyo ini sebelum terbentuk nya Kerajaan Mataram Kuno. “Semua bukti sejarah yang sudah dibelokkan oleh Penjajah waktu itu, akan kami buka bulan Suro nanti, disertai adanya acara arak-arakan Pusaka Mbah Sutowijoyo dan beberapa peninggalan lain nya akan kami tampilkan kepada masyarakar dan kami berharap kebenaran sejarah ini bisa terungkap,” pungkasnya. (yus)

Read More

Menag : Ada 7 Jamaah Haji Indonesia Wafat Saat Wukuf

Makkah – 1miliarsantri.net : Tujuh jamaah haji Indonesia meninggal dunia saat puncak ibadah haji di Arafah. Mereka menghembuskan nafas terakhit saat menjalani perawatan di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI). “Innalillahi wa innailahi rajiun, tujuh jamaah kita wafat hari ini di Arafah di KKHI,” ujar Amirul Hajj sekaligus Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas mengunjungi KKHI sesaat sebelum meninggalkan Arafah menuju Muzdalifah dan Mina, Selasa (27/6/2023) malam waktu Arab Saudi. Dalam kunjungannya, Gus Yaqut, menyempatkan menyapa jemaah haji yang menjalani perawatan medis di KKHI. Gus Yaqut menjelaskan, cuaca saat wukuf Arafah memang cukup panas. Hal ini yang membuat banyak jamaah haji harus menjalani perawatan medis. “Ya tadi saya ke KKHI berdiskusi dengan Bu Dirjen (Direktur Jenderal Tenaga Kesehatan Kemenkes RI, Aryanti Anaya) dan Kapuskes. Memang cukup crowded pasca-wukuf. Kalau kata Bu Dirjen banjir itu pasca-wukuf. Jadi kapasitas yang harusnya 30 di KKHI karena cuaca wukuf tadi cukup panas jadi dimanfaatkan 50 pasien,” terangnya. Menurut Gus Yaqut, setelah berdiskusi dengan Kapuskes Haji, Liliek ada beberapa catatan yang perlu di waspadai di Mina. “Di Arafah yang diam saja, seperti itu yang terjadi. Padat KKHI dan yang wafat tujuh orang. Kita khawatir kalau di Mina tidak disiapkan betul, kejadian sama akan terulang. Banyak jamaah yang dirawat,” katanya. Gus Yaqut menyebut, saat ini tengah disiapkan skenario-skenario bagaimana agar jamaah yang mayoritas lansia ini dapat beribadah dengan baik. “Saya sudah minta ke Pak Dirjen skemanya seperti apa. Kondisi fisiknya seperti apa. Bagi yang tidak mungkin maka tidak boleh dipaksakan. Jadi yang benar-benar mungkin saja yang bisa lempar jumrah, yang lain itu dibadalkan. Pilihan skenarionya dibadalkan,” ucapnya. Begitu juga jamaah yang boleh tawaf wada’, kata Gus Yaqut, adalah jamaah yang bisa melaksanakan lempar jumrah sendiri. Sedangkan yang lainnya dibadalkan. “Intinya kita tidak mau jamaah ini dipaksakan kondisi fisiknya. Agama itu kan mempermudah. Kalau memang harus dibadalkan, badalkan. Saya kira kita memiliki petugas yang cukup untuk membadalkan jamaah haji. Lempar jumrah kan satu orang bisa mewakili beberapa orang,” lanjutnya. Dia menegaskan, pelaksanaan badal ini tidak dipungut biaya alias gratis. Tidak ada pungutan apa pun terkait badal. Baik tawaf ifadah bahkan badal haji juga tidak ada pungutan apa pun. (dul)

Read More

Wali Santri Al Zaytun Laporkan Pendiri NII Crisis Centre

Jakarta – 1miliarsantri.net : Sebanyak 113 wali santri Pondok Pesantren (Ponpes) Al Zaytun melaporkan Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center, Ken Setiawan ke Bareskrim Polri, Jakarta, Selasa (27/6/2023). Kuasa Hukum Wali Santri Ponpes Al Zaytun Sukanto menjelaskan bahwa Ken dilaporkan akibat ucapannya soal Ponpes Al Zaytun yang memperbolehkan zina asalkan membayar Rp 2 juta untuk penebusan dosa. “Yang jelas, di dalam konten YouTube nya, Ken Setiawan dan Herri Pras menyatakan dari pihak Al Zaytun itu memperbolehkan zinah dan dosanya itu bisa ditebus dengan Rp 2 juta,” ujar Sukanto kepada awak media di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Selasa. Sukanto menegaskan, pernyataan Ken merupakan hal yang menyesatkan. Ia juga tidak membenarkan bahwa sebuah perbuatan yang salah dapat dihapus dengan membayar uang tebusan. “Dengan tebusan Rp 2 juta itu, dosanya katanya hilang. Itu tidak benar, itu berita bohong,” jelasnya. Laporan wali santri tersebut diterima dan teregistrasi dengan nomor LP/B/168/VI/2023/SPKT/BARESKRIM POLRI tertanggal 27 Juni 2023. Ken dan Herri dilaporkan atas dugaan melanggar Pasal 311 KUHP, Pasal 27 ayat 3 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), Pasal 14 ayat 1 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE. Sementara itu, Ken Setiawan mengaku siap menghadapi laporan wali santri yang dilayangkan kepada dirinya. Dia juga mengaku tak mempersoalkan apabila dipolisikan. “Demokrasi sah-sah saja tidak apa. Jadi kami hormati. Kami saksi ada nanti, nanti kami tinggal lihat saja,” urai Ken. Sebab, ia memiliki sejumlah bukti atas apa yang disangkakan terhadapnya. Tidak hanya itu, Ken mengaku pernah mengantarkan 16 santri untuk dugem di sekitar Ponpes Al-Zaytun. “Itu fakta dan saya tidak sampaikan semua santri boleh berzina, yang punya duit kalau katanya dia bisa melakukan, bisa bayar denda, itu bisa dilakukan,” tegasnya. Meski begitu, sambung Ken, dirinya tidak pernah menuturkan bahwa semua santri boleh berzina. Menurut dia, hanya orang yang memiliki dana saat melakukan kesalahan di Ponpes Al Zaytun tak akan dikenakan sanksi. “Jadi, saya tidak sampaikan semua santri boleh berzina. Jadi, yang punya dana, nantikan di sana ketika melakukan kesalahan, memang teorinya tidak boleh pacaran, tidak boleh berzina, tidak boleh merokok, tapi kalau punya duit di sana bisa dilakukan,” ujar dia. Sebelumnya, Sabtu (24/6/2023), Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menyebutkan ada tiga tindakan dalam penanganan polemik kegiatan Pondok Pesantren Al Zaytun. Pertama, penanganan dugaan tindak pidana di Ponpes Al Zaytun diserahkan kepada pihak kepolisian. Kedua, pemberian sanksi administrasi kepada Ponpes Al Zaytun dilakukan secara berjenjang sampai tingkat perguruan tinggi. Ketiga, menjaga ketertiban dan keamanan selama berlangsungnya penanganan terhadap polemik Al Zaytun. Dalam hal itu, Kemenko Polhukam akan terus berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Pondok Pesantren Al Zaytun belakangan menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat karena kegiatannya dinilai tidak sesuai dengan ajaran agama Islam. Selain itu, Panji Gumilang selaku pimpinan ponpes juga diduga melakukan tindak pidana. (wink)

Read More

Masjid Babussalam (Kuzazo) Ende, Hari Ini Selenggarakan Sholat Iedul Adha 1444 H

Ende – 1miliarsantri.net : Sebagian umat Islam Kota Ende (Kota rahim Pancasila) menunaikan Sholat Iedul Adha 1444 H, yang dilaksanakan di Masjid Babussalam (Kuzazo), Rabu 28/6/2023. Ratusan jama’ah terpantau memenuhi bangunan utama Masjid Babussalam yang berlantai dua, adapula yang memadati halaman masjid, hingga meluber ke badan jalan di simpang Jalan Mahoni dan Jalan Masjid Kelurahan Kota Raja, Kecamatan Ende Utara.   Masjid Babussalam selenggarakan Sholat Iedul Adha berdasarkan hisab hakiki wujudul hilal yang dilakukan Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, dalam Maklumat PP Muhammadiyah Nomor 1/MLM/1.0E/2023 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1444 H, Senin 6/2/2023 lalu.   Sholat Iedul Adha diimami oleh H. Pua Ahmad. Sedangkan kutbah Iedul Adha disampaikan oleh H. Muhammad Ilham, ST, yang memaparkan tentang keihlasan dan kesabaran Nabiyullah Ibrahim dalam memenuhi janjinya kepada Allah, serta keihlasan, kesabaran dan ketaatan Nabi Ismail kepada orang tuanya untuk memenuhi janji berkurban kepada Allah.   Ketaatan, keikhlasan dan kesabaran Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail diabadikan dalam Al-Quran Surah 37 / As-Saffat ayat 102 : Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَا لَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْۤ اَرٰى فِى الْمَنَا مِ اَنِّيْۤ اَذْبَحُكَ فَا نْظُرْ مَا ذَا تَرٰى ۗ قَا لَ يٰۤاَ بَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِيْۤ اِنْ شَآءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ “Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” Manifestasi dari janji Nabi Ibrahim adalah hari tarwiyah dan wujud pelaksanaan janji adalah wukuf di padang Arafah pada 10 Dzulhijjah.   Pada kesempatan pelaksanaan Sholat Iedul Adha DKM Masjid Babussalam Kuzazo juga mengumumkan jumlah hewan qurban yang diperoleh dari jama’ah masjid dan sumbangan PT Telkomsel sebanyak 4 ekor, dengan rincian 3 ekor sapi dan 1 ekor kambing. ** (TAH/Redaksi)

Read More

Masjid Raya Sheikh Zayed Terima Sapi Pemberian Presiden Jokowi

Solo – 1miliarsantri.net : Masjid Raya Sheikh Zayed (MRSZ) Solo, tahun 2023 ini resmi menerima sapi qurban milik Presiden Joko Widodo. Sapi tersebut berjenis Limosin dengan berat 1.042 Kg. Sutrisno (44) pemilik sapi tersebut mengungkapkan bahwa hewan kurban yang dipesan Presiden Jokowi tersebut telah berusia 4 tahun. “Ini usianya sudah 4 tahun, ini sapi peliharaan,” katanya ketika ditemui di Masjid Raya Sheikh Zayed, Selasa (27/6/2023). Pihaknya mengaku sudah tiga kali menjual sapi untuk hewan qurban Jokowi. Namun, ia mengatakan bahwa mekanisme tetap melalui penyaringan dari Setpres. “Ya ini kan dari Setpres menghubungi dinas di provinsi, trus dari provinsi menyeleksi antar kabupaten ternak yang besar, bagus dan sehat, itu nanti yang dipilih dengan harga yang sesuai,” katanya. Pihaknya juga mengungkapkan bahwa sebanyak 5 ekor sapinya yang dipesan Jokowi untuk kurban di Kota Solo. “Tahun ini 5 ekor, untuk wilayah Solo semuanya,” katanya. Berikut daftar sapi qurban milik Sutrisno yang dipesan oleh Jokowi untuk qurban. Jenis sapi: limosin, berat: 1.042 kg, tujuan: Masjid Raya Sheikh Zayed Jenis: simental, berat: 1.008 kg, tujuan: masjid Agung Solo Jenis : Brangus, berat: 1.017 kg, tujuan: Masjid Al-Wustho Mangkunegaran Jenis: limosin, berat: 650 kg, tujuan: Ponpes Al Qurani Laweyan Solo (Gus Karim) Jenis: Peranakan Ongole, Berat: 639 kg, tujuan: Mbah Lepo (Mojosongo)

Read More

Beberapa Tokoh Yang Diduga Melindungi Al Zaytun

Jakarta – 1miliarsantri.net : Menko Polhukam Mahfud MD menegaskan ada tindak pidana di pondok pesantren Al-Zaytun. Hal itu berdasarkan laporan hasil pemeriksaan tim investigasi bentukan Gubernur Jabar Ridwan Kamil terhadap pimpinan Al-Zaytun, Panji Gumilang. Namun, Mahfud tak merinci tindak pidana apa yang dimaksud. “Pertama terjadinya tindak pidana, ada beberapa hal tindak pidana laporan masuk ke Menko Polhukam,” terang Mahfud MD di Kantor Kemenko Polhukam, Selasa (27/6/2023). Mahfud menegaskan, hasil laporan tersebut bakal diserahkan ke polisi untuk ditangani yang sesuai tupoksinya. “Polri akan mengambil tindakan karena dari semua pintu yang masuk laporan, pelanggaran pidananya dugaannya sudah sangat jelas dan unsur-unsurnya sudah diidentifikasi. Tinggal diklarifikasi nanti di dalam pemanggilan atau pemeriksaan,” kata Mahfud. Selain dugaan kuat tindak pidana, disebutkan juga akan memberikan sanksi berupa administratif baik kepada Pondok Pesantren Al Zaytun maupun kepada pihak Yayasan Pendidikan Islam (YPI). YPI sendiri merupakan lembaga pendidikan yang menaungi ponpes tersebut mulai dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) sampai dengan perguruan tinggi. Meskipun nantinya akan dikenakan sanksi administratif, Mahfud menyebut hak-hak daripada santri akan diupayakan untuk tetap terpenuhi. Kemudian muncul dugaan ada ‘orang besar’ yang membekingi ponpes yang dikenal kontroversi tersebut. Presiden Joko Widodo membantah kabar Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Zaytun dibekingi oleh orang dari lingkaran di Istana. “Saya dong istana? Ndak lah. Ndak, ndak, ndak,” tegas Jokowi ditemui wartawan di Pasar Palmerah, Jakarta, Senin (26/06/2023). Jokowi kembali membantah dengan tegas ada keterlibatan anak buahnya, Moeldoko yang membekingi Ponpes Al-Zaytun. “Ndak, ndak, ndak,” tegasnya. Pemerintah masih belum memutuskan sikap terhadap Ponpes Al-Zaytun yang dianggap menyimpang. Menko Polhukam Mahfud MD dan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas telah diminta Jokowi untuk mendalaminya. “Pak menko polhukam, pak menteri agama, sudah saya perintahkan untuk mendalami, untuk mendalami. Nanti kalau hasilnya sudah ada, saya sampaikan,” ujar Jokowi. Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko membantah rumor yang menyebut dirinya menjadi beking pondok pesantren (Ponpes) Al Zaytun, Indramayu. Moeldoko mengatakan dirinya bukan preman yang memiliki kemampuan untuk membekingi seseorang atau lembaga tertentu. “Emang preman kok jadi beking. Itu yang ngomong (membekingi) itu suruh sekolah dulu itu, biar pintar dikit,” jelas Moeldoko di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (26/6/2023). Kendati begitu, dia mengakui dekat dengan Pimpinan Ponpes Al Zaytun Panji Gumilang. Hanya saja, Moeldoko mengatakan kedekatannya dengan Panji Gumilang sebatas komunikasi politik dan publik. “Emang kenapa (dekat)? Enggak boleh apa dekat?” ucapnya. “Ya biasa saja (dekatnya dengan Panji). Kan kita itu harus pandai membangun. Apalagi tugasnya kepala KSP harus pandai berkomunikasi dengan siapapun. Kan gitu. Konteksnya komunikasi politik, komunikasi publik dan seterusnya,” kata Moeldoko. Dia meminta masyarakat tak mengartikan macam-macam soal kedekatannya dengan Ponpes Al Zaytun. Moeldoko menilai kedekatannya dengan Ponpes Al Zaytun justru sebagai hal yang positif. “Jadi jangan terus diartikan macam-macam. Dan semakin saya bisa dekat dengan, Pak Panji Gumilang kan saya bisa makin melihat apa yang dia akan lakukan,” ujarnya. Moeldoko sendiri pernah diundang dua kali untuk berceramah soal kebangsaan di Ponpes Al Zaytun. Dia melihat norma-norma kebangsaan di Ponpes Al Zaytun berjalan dengan normal. (wink)

Read More