Masjid Al Muharram Brajan Yogyakarta, Pelopor Gerakan Sedekah Sampah

Yogyakarta – 1miliarsantri.net : Banyak tempat yang selalu memberikan kesempatan kepada jamaah nya untuk bersedekah di Masjid atau Musholla, tapi berbeda dengan Masjid Al Muharram yang menjadikan sampah menjadi salah satu upaya untuk bersedekah sekaligus berkontribusi pada pelestarian lingkungan sekitar. Masjid yang berada di Kampung Brajan, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, ini telah menginisiasi Gerakan Sedekah Sampah (GSS) sejak 2013 silam. Gerakan ini diinisiasi oleh Ustaz Ananto Isworo, Takmir Masjid Al Muharram tepat pada 1 Ramadhan. Keprihatinannya mengenai sampah sudah dirasakan Ananto sejak pindah ke Brajan pada 2005 silam. Saat itu, Kampung Brajan dikenal sebagai kampung yang kumuh. Banyak anak jalanan yang menghuni kampung tersebut. Ustad Ananto terkejut mengetahui bahwa ia pindah ke lokasi yang tidak ramah. “Kampung tempat saya tinggal ini volume sampah nya cukup besar dan tidak terkelola dengan baik. Sebelumnya kalau buang ke kebun dan tanah, ketika hujan ya jadi banjir, ada angin sampah jadi nggak karuan,” terangnya. Awal mencetuskan program ini tidaklah mudah mengingat kata ‘sedekah’ tidak sebanding dengan ‘sampah’. Warga merasa heran dengan nama program tersebut. Ustad Ananto harus menunjukkan ke orang-orang bahwa semiskin apa pun, mereka tetap bisa bersedekah, yakni dengan memberikan sampah yang bisa didaur ulang ke masjid. Dana hasil pengumpulan sampah dari gerakan tersebut kemudian dikembalikan lagi ke masyarakat. Ada tiga program yang dikelola dengan menggunakan dana gerakan ini. Pertama, santunan beasiswa pendidikan yatim piatu dan dhuafa. Ini merupakan program yang pertama kali digerakkan melalui dana GSS. Awalnya dari tidak percaya dengan gerakan ini, tetapi ketika mereka merasakan SPP anak-anak mereka dibantu, warga pun mulai ikut membesarkan GSS. “Target kami waktu itu membebaskan mereka dari persoalan tidak bisa bayar SPP. Sekarang alhamdulillah rata-rata ekonominya sudah membaik, jadi tidak diutamakan lagi, kami cari yang benar-benar membutuhkan,” ujarnya.

Read More

Jamaah Haji Indonesia Gelombang Dua Tiba di Jeddah dan Langsung Mengenakan Ihram

Jeddah – 1miliarsantri.net : Jelang pelaksanaan Wukuf Arofah, jamaah calon haji Indonesia sudah mulai banyak berdatangan dan memasuki Fase perdana kedatangan Jamaan haji Indonesia gelombang dua di Tanah Suci. Ada dua kelompok terbang (kloter) yang mendarat perdana di Bandara King Abdulaziz International Airport (KAIA) Jeddah pada Kamis (8/6/2023) waktu Arab Saudi (WAS). Kloter 42 Embarkasi Jakarta Pondok Gede (JKG-42) membuka rangkaian kedatangan jamaah haji gelombang dua di Bandara Jeddah pada pukul 04.05 WAS. Selang lima menit kemudian giliran Kloter 46 Embarkasi Solo-Yogyakarta (SOC-46) tiba di Bandara Jeddah melalui Terminal D. Kedatangan jamaah kloter JKG-42 yang keluar melalui Terminal Fast Track langsung disambut Direktur Bina Haji Kemenag Arsad Hidayat, Kepala Kantor Urusan Haji Arab Saudi Nasrullah Jassam, dan Kadaker Bandara Haryanto. “Alhamdulillah kedatangan jamaah hari ini berjalan lancar. Jemaah haji juga sudah menggunakan kain ihram saat turun pesawat. Ini kami harapkan bisa ditiru kloter lainnya,” terang Arsad kepada media. Para jamaah haji gelombang dua ini semuanya telah mengenakan pakaian ihram sejak dari embarkasi di Tanah Air. Mereka juga telah berniat ihram di pesawat saat berada di atas wilayah Yalamlam. Hal ini dilakukan sesuai imbauan Kemenag. Tujuannya agar jamaah haji tidak perlu waktu lama mengantre dan memakai ihram di Bandara Jeddah. Sebab lalu lintas kedatangan jamaah haji di Bandara Jeddah sudah mulai padat dan tidak hanya berasal dari Indonesia.

Read More

Syi’ir Kiai Ahmad Rifa’i Kalisalak Sebagai Bentuk Perlawanan Terhadap Penjajah

Yogyakarta – 1miliarsantri.net : Berbagai bentuk perlawanan menghadapi penjajah selalu ditempuh dengan berbagai cara oleh para ulama Nusantara jaman dulu. Selain mengangkat senjata seperti di Perang Padri (1821-1835) di Sumatera dan Perang Diponegoro (1825-1830) di Jawa, ulama Nusantara juga mengangkat pena (dakwah karya tulis) sebagai salah satu bentuk perlawanannya. Salah satu ulama Nusantara yang menggunakan metode tersebut ialah Kiai Ahmad Rifa’i. Beliau ulama yang gigih melakukan perlawanan melalui dakwah dan protes sosial sampai akhir hayatnya. Ia merupakan seorang ulama yang lahir pada hari Kamis tanggal 9 Muharram 1200 H, atau 12 November 1785 Masehi di desa Tempuran, Kabupaten Kendal. Kiai Ahmad Rifa’i dilahirkan dari rahim seorang wanita bernama Siti Rahmah, buah cintanya dengan Raden KH Muhammad Marhum. Jika melihat tahun kelahirannya, ia seangkatan dengan Pangeran Diponegoro (lahir 1785). Ahmad Rifa’i diasuh oleh kedua orang tuanya kandungnya sendiri sejak lahir hingga ayahnya wafat saat ia berusia enam tahun. Menurut kalangan Rifa’iyah, ia kemudian diasuh dan dididik oleh pamannya yang bernama KH Asy’ari, seorang ulama terkemuka di daerah Kaliwungu. Diasuh oleh KH Asy’ari menjadikan Ahmad Rifa’i tumbuh dewasa kental dengan ilmu agama Islam. Sejak kecil ia sudah memiliki kecerdasan yang luar biasa. Tak heran jika kelak ia menjadi ulama besar. Perjuangan dakwah Kiai Ahmad Rifa’i dilakukan sejak beliau muda. Pada usia 30-an tahun, tepatnya tahun 1833 ia menunaikan ibadah haji ke Makkah dan menetap di sana selama delapan tahun untuk menimba ilmu. Ia bertemu dengan para ulama besar di sana. Saat itu jaringan ulama dunia berpusat di Makkah. Pertemuan tersebut membuatnya semakin bersemangat menimba ilmu. Salah satu gurunya adalah Isa al-Barawi. Iai juga pernah berguru kepada Ibrahim al-Bajuri, seorang ulama dari Mesir meskipun kepergian Kiai Ahmad Rifa’i ke Mesir masih diragukan. Namun, karena pada masa itu banyak ulama yang beraktivitas di Makkah dan Madinah, bisa jadi Kiai Rifa’i bertemu Syaikh Ibrahim al-Bajuri di sana. Pada saat Kiai Ahmad Rifa’i menimba ilmu di tanah haram, beliau bertemu dengan beberapa ulama Nusantara, seperti Syaikh Nawawi Banten dan Syaikh Kholil Bangkalan. Ketiga ulama tersebut menjadi sahabat karib dan sempat melakukan diskusi terkait dakwahnya kelak. Dari hasil diskusi tersebut ketiganya bersepakat, Syaikh Kholil Bangkalan akan fokus pada masalah tasawuf dalam dakwahnya, Syaikh Nawawi Banten pada masalah usuluddin, sementara Kyai Ahmad Rifa’i pada masalah fiqih. Sesampai di tanah air Kiai Ahmad Rifa’i memulai dakwahnya di sebuah desa terpencil yakni Kalisalak, sekarang masuk di Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang. Pada masa itu Nusantara sedang terpuruk karena penjajahan dan kebodohan. Ia sangat prihatin melihat kondisi masyarakat. Karena saat kehidupan sosial rakyat sangat tertindas oleh penjajah, para birokrat pribumi banyak yang bersekutu dengan penjajah. Melihat kondisi tersebut ia mendirikan pondok pesantren di Kalisalak yang digunakan sebagai tempat berdakwah dan mengajar agama Islam. Ia menilai bahwa budaya Islam di masyarakat harus diubah agar terhindar dari budaya yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan sunah. Selain mengajar di pondok, ia juga sering berdakwah ke tempat lain seperti Wonosobo, Pekalongan, Kendal. Dari dakwahnya tersebut menjadikan pondok pesantrennya diketahui banyak orang. Hal itu membuat banyak orang berbondong-bondong ke pondok pesantren Kalisalak untuk menyantri pada Kiai Ahmad Rifa’i. Melihat kondisi tersebut ia mendirikan pondok pesantren di Kalisalak yang digunakan sebagai tempat berdakwah dan mengajar agama Islam. Ia menilai bahwa budaya Islam di masyarakat harus diubah agar terhindar dari budaya yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan sunah. Selain mengajar di pondok, ia juga sering berdakwah ke tempat lain seperti Wonosobo, Pekalongan, Kendal. Dari dakwahnya tersebut menjadikan pondok pesantrennya diketahui banyak orang. Hal itu membuat banyak orang berbondong-bondong ke pondok pesantren Kalisalak untuk menyantri pada Kiai Ahmad Rifa’i. Materi dakwahnya tidak selalu tentang hukum Islam, tapi juga protes sosial karena ia melihat pemerintah kolonial yang selalu menindas masyarakat. Protes sosial ia masukkan dalam ajaran dan kitab yang ditulisnya. Ia meyakini pemerintah kolonial adalah kafir dan harus diperangi. Keyakinan tersebut diajarkan kepada santri-santrinya agar tidak tunduk terhadap penjajah dan birokrat pribumi yang bersekutu dengannya. Tidak hanya itu, Kiai Ahmad Rifa’i juga mengajarkan kepada santrinya bahwa melawan pemerintah kolonial merupakan Perang Sabil. Kiai Rifa’i termasuk ulama yang sangat produktif dalam bidang penulisan. Kebanyakan karyanya adalah syi’ir atau nazam. Salah satu syi’ir ini menggambarkan pendapatnya pada pribumi yang mau bekerjasama dengan penjajah. “Ghalib alim lan haji pasik pada tulung, marang raja kafir asih pada junjung. Ikulah wong alim munafik imane suwung, Dumeh diangkat drajat dadi tumenggung. Lamun wong alim weruho ing alane wong takabur, mengko ora tinemu dadi kadi miluhur.” Artinya:

Read More

Perbedaan Hari Raya Menurut Buya Hamka

Jakarta – 1miliarsantri.net : Perbedaan waktu ketika Hari Raya, terutama dalam penentuan Idul Fitri, tampaknya bukan hanya terjadi pada kurun waktu terakhir ini, namun sudah pernah terjadi dibeberapa tahun sebelumnya, seperti pada suatu hari di tahun 1975, Buya Hamka pernah ditanya soal perbedaan waktu Idul Adha di Indonesia dengan negara Arab Saudi? Buya Hamka menerangkan, ketika waktu itu Departemen Agama memutuskan Hari Raya Idul Adha 1395 H, jatuh pada Sabtu 13 Desember 1975. Tiba-tiba Kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta menyiarkan bahwa Idul Adha jatuh hari Jumat, 12 Desember 1975. Perbedaan tersebut mengakibatkan terjadi dua kubu di masyarakat. Ada golongan yang menganjurkan agar Sholat Idul Adha dilaksanakan pada Jumat, dikarenakan sudah wukuf pada Kamis. Ada yang berkeras mempertahankan keputusan semula, yaitu sholat Hari Raya Haji hari Sabtu, 13 Desember 1975, sesuai keputusan Departemen Agama setelah mendengar pertimbangan dari pimpinan majelis ulama dan ahli-ahli hisab dan rukyah di Indonesia. Hamka mengawali jawaban dengan mengatakan, jika bersatu permulaan puasa, Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha di seluruh dunia Islam, sehingga sama puasa kaum Muslimin, sama berbuka dan sama Hari Raya Haji, adalah satu hal yang baik sekali. Apalagi pada zaman sekarang dengan adanya alat-alat telekomunikasi yang cepat dapat menyampaikan berita di seluruh dunia, hal yang seperti itu mungkin bisa dicapai. Itulah sebabnya, jumhur ulama memandang persatuan umat dalam mengerjakan ibadah puasa dan hari raya adalah sangat dituntut. Menurut Hamka, sangat sulit tercapai seluruh umat bisa berbarengan waktunya melaksanakan awal Ramadhan, sholat Idul Fitri, dan Idul Adha. Hanya pada negara-negara yang berdekatan saja yang bisa sama, yaitu yang satu mathla’. Adapun yang berjauhan mathla’, seperti antara Andalus (sebelah barat) dan Khurasan (sebelah timur) tidak dapat dipersamakan. Pendapat ini diperkuat melalui hadits yang pernah terjadi pada zaman sahabat-sahabat Rasulullah, yaitu sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Kuraib. Bahwa ia datang ke Syam. la sampai di sana pada akhir bulan Sya’ban menjelang masuk bulan Ramadhan, la sendiri turut melihat bulan (rukyah hilal) ketika berada di Syam. “Saya melihat bulan itu pada malam Jumat.” Setelah beberapa hari di Syam, Kuraib kembali ke Madinah pada ujung bulan Ramadhan. Ia berkata, “Lalu bertanya kepadaku Ibnu Abbas dan dibicarakannya juga soal hilal itu. la bertanya, “Kapan kalian melihat hilal Saya jawab, “Malam Jumat.” Lalu Ibnu Abbas bertanya lagi, “Engkau sendiri melihat?” Kuraib menjawab, “Ya, saya lihat dan orang ramai pun melihatnya, maka puasalah orang ramai pada besoknya dan puasa pula Muawiyah itu sendiri?” Lalu, Ibnu Abbas berkata, “Namun, kami melihat hal itu pada malam Sabtu, dan kami teruslah puasa sampai kami cukupkan bilangan tiga puluh hari, atau kami lihat hilal nanti.” Lalu Kuraib bertanya, “Tidakkah kallan padukan saja dengan Rukyah Muawiyah dan puasanya.” Ibnu Abbas menjawab, “Tidak. Karena begitulah diperintahkan Rasulullah SAW kepada kita. Hadits ini disalin secara bebas, dirawikan oleh Imam Ahmad, Muslim, dan at -Tirmidzi. “Hadits ini adalah hassan, shahh, dan gharib. Amalan menurut hadis ini pada sisi ahli ilmu, yaitu bahwa tiap tap negeri dengan rukyahnya sendiri.”

Read More

Jejak Langkah Syekh Maulana Malik Ibrahim di Gresik

Gresik – 1miliarsantri.net : Diantara deretan nama-nama para Waliyyullah (Wali Songo) penyebar agama Islam di Pulau Jawa, Syekh Maulana Malik Ibrahim merupakan wali senior di antara para Wali Songo lainnya. Meski bukan orang Islam pertama yang datang ke Jawa, Syekh Maulana Malik Ibrahim boleh dikata sebagai pelopor penyebar Islam di tanah Jawa. Syekh Maulana Malik Ibrahim yang juga dikenal dengan sebutan Syekh Maghribi tiba di Desa Leran, Gresik, Jawa Timur pada 1404 Masehi. Asal-usul Syekh Maulana Malik Ibrahim ada yang mengatakan berasal dari Arab. Tapi, juga ada yang menyampaikan berasal dari Gujarat, India. Syekh Maulana Malik Ibrahim berdakwah melalui perdagangan dan pendidikan pesantren. Pada awalnya, ia berdagang di tempat terbuka dekat pelabuhan agar masyarakat tidak kaget dengan ajaran baru yang dibawanya. Selain itu, Syekh Maulana Malik Ibrahim juga mengajarkan cara bercocok tanam kepada masyarakat kelas bawah yang selama ini dipandang sebelah mata oleh ajaran Hindu. Karena strategi dakwah inilah, ajaran agama Islam secara berangsur-angsur diterima oleh masyarakat setempat. Pada suatu hari, Syekh Maulana Malik Ibrahim dan muridnya berkeliling kampung untuk melihat dari dekat keadaan penduduk sekitar pesantren. Saat tiba di pinggir lapangan, Syekh Maulana Malik Ibrahim terkejut menyaksikan dua orang pemuda yang saling memukul. Kedua pemuda itu, dengan dikelilingi penduduk setempat terus saja saling memukul, hingga akhirnya pingsan lah keduanya. Setelah kedua pemuda itu disingkirkan dari arena perkelahian, tiba-tiba seorang ketua adat dengan angkuhnya maju di tengah kerumunan penduduk. Tangan kanannya mengacungkan sebilah keris dan mulutnya komat-kamit membaca mantra. Setelah diselidiki, rupanya sang ketua adat itu hendak membunuh seorang gadis remaja sebagai persembahan kepada dewa hujan. “Hentikan …..!” kata Syekh Maulana Malik Ibrahim melerai. Agaknya mereka tidak mendengarkan kata yang diucapkan Syekh Maulana Malik Ibrahim. Bahkan para penduduk semakin kuat memegangi sang gadis yang hendak mereka korbankan. Gadis itu pun meronta dan menjerit ketakutan. Apa yang kisanak kehendaki dengan mempersembahkan gadis yang tak berdosa ini?” suara Syekh Maulana Malik Ibrahim kembali terdengar. Mereka pun menoleh ke arah Syekh Maulana Malik Ibrahim. “Kami mengharapkan hujan,” serentak mereka menjawab. “Untuk itukah kisanak hendak mengorbankan gadis sebagai persembahan?” kata Syekh Maulana Malik Ibrahim. Merasa dihalangi maksudnya, ketua adat marah dan memerintahkan kedua orang kepercayaannya untuk mengusir Syekh Maulana Malik Ibrahim. Kedua suruhan itu bangkit hendak menendangnya. Tapi yang terjadi, sungguh di luar dugaan. Kedua orang itu berdiri kaku bagaikan patung. Menyaksikan peristiwa itu, mereka mulai memperhatikan ucapan Syekh Maulana Malik Ibrahim. Mereka memang sangat mengharapkan hujan. Lepaskan dulu gadis itu, dan setelahnya baru kami akan memohon hujan kepada Allah,” pinta Syekh Maulana Malik Ibrahim. Singkat cerita Syekh Maulana Malik Ibrahim dan muridnya melakukan sholat istisqa (sholat minta hujan). Selang beberapa waktu, hujan turun dengan derasnya.

Read More

MUI Bentuk Tim Investigasi Terkait Ponpes Al Zaytun

Jakarta – 1miliarsantri.net : Heboh kontroversi yang dilakukan pimpinan Pondok Pesantren Al Zaytun Indramayu yang diduga sudah menyimpang dari syariat Islam, mulai dari dugaan mencampur adukkan barisan sholat laki-laki dan perempuan, membawakan lagu Yahudi hingga adzan dengan gerakan yang tidak seperti biasanya. Bahkan kontroversi yang terbaru yakni memperbolehkan para santri berzina karena dosanya bisa ditebus dengan sejumlah uang. Hal inilah yang akhirnya membuat Majelis Ulama Indonesia (MUI) segera mengambil sikap daj diketahui akan segera melakukan investigasi langsung ke Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Zaytun Indramayu. Karena hal itu, Ketua MUI Bidang Pengkajian dan Penelitian, Prof Utang Ranuwijaya mengatakan, pihaknya sudah membentuk tim investigasi yang terdiri atas pengurus pusat, provinsi, sampai kabupaten untuk bisa mengunjungi Pondok Pesantren Al Zaytun. “Sekarang tim sedang bekerja, mempersiapkan untuk mulai turun ke lapangan ke Al-Zaytun langsung, sudah dibentuk sub-sub timnya, yang ke lapangan itu ada 9 orang yang nanti langsung menuju ke sasaran ke Al-Zaytun,” kata Prof Utang kepada media, Kamis (8/05/2023)

Read More

Mengenal 10 Bahasa Kuno Yang Masih Dipergunakan Sekarang Ini

Jakarta – 1miliarsantri.net : Setiap negara atau mungkin bisa setiap daerah selalu memiliki bahasa tersendiri. Kalimat demi kalimat atau Kata-kata yang diucapkan tersebut tidak bisa lepas meninggalkan jejak fisik di dunia. Jadi jika ingin mencari asal usul bahasa manusia bisa menjadi urusan yang rumit, karena bahasa juga terus berubah, dengan kata-kata dan maknanya berubah dan terus berubah setiap generasi. Karenanya sulit menentukan bahasa apa yang tertua di dunia. Ada banyak bahasa dari zaman purba yang masih dituturkan sampai hari ini, diantaranya : Sekitar tahun 400 M, bahasa Ibrani tidak lagi menjadi bahasa sehari-hari dan hampir menjadi bahasa mati. Namun, kebangkitan Zionisme di era modern memastikan kebangkitan bahasa tersebut dan sekarang digunakan oleh 9 juta orang, terutama di Israel yang menjadi bahasa resmi. Bahasa Ibrani modern berbeda dari versi Alkitab. Sansekerta masih dituturkan hari ini dalam beberapa bentuk, utamanya oleh pendeta Hindu selama upacara keagamaan. Diperkirakan kurang dari 1 persen orang India dapat berbicara Sansekerta, dengan hanya 14.000 orang menggambarkannya sebagai bahasa utama mereka. Bahasa ini juga ditemukan dalam prasasti di candi-candi yang ada di Indonesia. Namun, warisannya tetap hidup. Bahasa Sanskerta milik keluarga besar yang dikenal sebagai bahasa Indo-Eropa, yang berarti memiliki hubungan yang jelas dengan bahasa Inggris, Prancis, Portugis, Spanyol, Rusia, dan banyak bahasa lain yang digunakan secara luas di Eropa. Tamil ini dituturkan sebagian besar oleh orang India di bagian selatan, di negara bagian Tamil Nadu. Selain itu, bahasa Tamil juga digunakan di Sri Lanka. Yang paling menarik, karya sastra bahasa Tamil paling awal, Tolkappiyam, berasal dari tahun 300 SM. Bentuk klasik bahasa ini jauh berbeda dari yang dituturkan hari ini di Yunani, meskipun sebagian besar penutur fasih harus dapat memahami bahasa Hellenistik atau Yunani “Koine” yang diucapkan di masa lalu.

Read More

Kemajuan Perekonomian Kerajaan Perlak di Tangan Putri Nurul A’al

Aceh Timur – 1miliarsantri.net : Sejarah tentang kerajaan-kerajaan Nusantara memang tak akan ada habisnya untuk dipelajari. Karena hingga sekarang ini belum banyak tergali informasi-informasi penting yang berguna untuk generasi mendatang, termasuk diantara nya adalah Kesultanan Perlak. Kesultanan Perlak merupakan kerajaan Islam pertama di Nusantara. Dalam berbagai catatan sejarah disebutkan bahwa kerajaan ini berkuasa antara 840 hingga 1292 M. Sultan pertama yang memimpin kerajaan ini adalah Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Aziz Shah. Di Kesultanan Perlak, selain para Sultan, ada juga sosok perempuan yang perannya tak kalah dari Sultan. Ia merupakan srikandi sebelum lahirnya tokoh Kartini, Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, dan tokoh-tokoh perempuan lainnya yang lahir setelahnya. Seperti Puteri Nurul A’al. Ia salah satu tokoh penting di dalam sejarah Kesultanan Perlak. Tidak banyak yang mengangkat kiprahnya secara detil baik dalam bentuk tulisan maupun lainnya. Sehingga sedikit yang mengetahui tentang sejarak sosok ini. Ismail Fahmi Arrauf Nasution dan Miswari dalam artikel pendahuluannya yang dimuat di Paramita: Historical Studies Journal menyebutkan bahwa Kesultanan Perlak terkenal dengan daerah penghasil kayu perlak. Kualitasnya bagus dan cocok untuk pembuatan kapal. Kualitas kayu tersebut yang menarik para pedagang dari berbagai daerah di luar Nusantara untuk membelinya. Seperti dari Gujarat, Arab, dan India. Mereka berbondong-bondong pergi ke daerah Kesultanan Perlak. Daerah ini kemudian menjelma menjadi kawasan bandar niaga yang sangat maju pada awal abad ke-8. “Kondisi ini membuat maraknya perkawinan campuran antara para saudagar Muslim dengan penduduk setempat,” tulisnya. Perkawinan campur ini menjadi faktor berkembang pesatnya Islam di Kerajaan Perlak. Dan pada masa Puteri Nurul A’la ini Islam disebut-sebut mencapai puncaknya. Saat itu, dia menjabat sebagai Perdana Menteri perempuan.

Read More

Hitungan Masehi, Tanggal 8 Juni 632 Rasulullah SAW Wafat

Jakarta – 1miliarsantri.net : Secara hitungan masehi, tepat hari ini, 1.391 tahun lalu, umat Islam kehilangan sosok pemimpin yang menjadi panutan untuk selama-lamanya. Baginda Rasulullah Muhammad shallalahu ‘alaihi wassalam (SAW) wafat pada Senin, 8 Juni 632 Masehi (12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriyah). Rasulullah SAW lahir di Makkah dari keluarga yang sangat sederhana. Ia menikah dengan seorang janda kaya pada usia 25 tahun dan hidup 15 tahun berikutnya sebagai pedagang biasa. Rasulullah SAW mendapat wahyu dari Allah SWT melalui malaikat Jibril di sebuah gua di Gunung Hira di utara Makkah pada 610 M. Wahyu-wahyu yang diterimanya kemudian terkumpul menjadi kitab suci Alquran yang menjadi pedoman hidup umat Islam. Rasulullah SAW merupakan nabi terakhir sekaligus sebagai nabi penyempurna tradisi Yahudi-Kristen. Baginda mengadopsi teologi agama-agama lebih tua sambil memperkenalkan ajaran baru, yaitu Islam. Ajarannya juga membawa persatuan bagi suku Baduy di Arab. Pada musim panas 622 M, Rasulullah SAW hijrah ke Madinah sejauh 200 mil sebelah utara Makkah. Di sana ia diberi kekuatan politik yang cukup besar. Di Madinah, Rasulullah SAW membangun sebuah pemerintahan teokratis dan mengelola kerajaan yang berkembang dengan sangat pesat. Setelah wafat, Rasulullah SAW diakui sebagai pemimpin yang sangat sukses di seluruh Arab selatan hingga aktif di Kekaisaran Timur, Persia, dan Ethiopia. Pada perjalanannya, Islam menjadi kepercayaan terbesar yang pernah ada di dunia, yang terbentang dari India ke Timur Tengah dan Afrika Utara serta sampai ke Semenanjung Iberia di Eropa Barat. Penyebaran Islam berlanjut setelah berakhirnya penaklukan di Arab. Banyak agama di Afrika dan Asia mengadopsi agama tersebut. Saat ini, Islam adalah agama terbesar kedua di dunia. Rasulullah meninggal di usia 63 tahun. Rasul terakhir bagi umat Islam sekaligus sebagai nabi akhir jaman itu mengembuskan napas terakhirnya di pangkuan istrinya, Aisyah. Nabi Muhammad wafat setelah kesehatannya menurun hingga ia jatuh sakit lebih dari dua pekan. Aku menyandarkan Rasulullah ke dadaku atau pangkuanku. Beliau meminta bejana untuk dijadikan tempat beliau membuang air kecil. Setelah itu, beliau wafat,” kata Aisyah diriwayatkan dari Humaid bin Mas’adah Al-Bashri yang dikutip dari buku Mengenal Pribadi Agung Nabi Muhammad SAW oleh Imam At-Tirmizi.

Read More