Biografi Abu Yazid al Bustami
Jakarta – 1miliarsantri.net : Nama lengkapnya adalah Abu Yazid Thaifur bin ‘Isa bin Surusyan Al-Bustami dan yang lahir pada tahun 874-947 M. Al Bustami adalah nama yang diberikan untuk tempat kelahirannya, kota kecil di barat Bustan. Khurasan, Persia, atau tenggara Laut Kaspia. Namanya kecil Abu Yazid Al-Bustami adalah Taifur. Ayahnya Surusyan awalnya adalah pengikut orang Majusi, tetapi kemudian masuk Islam. Pendidikan dasar yang diterima Abu Yazid Al-Bustami, belajar dari Abu Ali al-Sindi para pengkut mazhab figih Hanafi, begitu juga dengan ilmu tauhid dan ilmu realitas, serta ilmu dunia fana. Keluarga Abu Yazid termasuk orang-orang dari masyarakat setempat, tetapi dia lebih suka hidup sederhana. Abu Yazid dikatakan memiliki kelainan sejak lahir. Ibunya berkata bahwa Abu Yazid dalam kandungannya dan dia makan makanan halal atau meragukan, dia akan memberontak sampai dia muntah. Setelah menginjak dewasa, Abu Yazid Al-Bustami dikenal sebagai murid dan anak yang baik yang mengikuti amanat agama dan berbakti kepada orang tuanya. Ketika gurunya menjelaskan sebuah puisi dari Surat Luqman: “Terima kasih untukku dan orang tuamu”. Ayat ini sangat menyentuh hati Abu Yazid. Kemudian dia berhenti belajar dan pulang menemui ibunya. Sikap ini memperjelas bahwa ia selalu berusaha memenuhi semua panggilan Tuhan. Butuh waktu puluhan tahun bagi Abu Yazid untuk menuju ke Sufi. Dia pertama kali menjadi seorang penganut fiqih Hanafi sebelum membuktikan dirinya sebagai seorang Sufi. Salah satu gurunya yang terkenal adalah Abu Ali As-Sindi. Dia mengajarkan Abu Yazid ilmu tauhid, ilmu yang hakiki, dan ilmu lainnya. Pengetahuannya yang mendalam tentang Fiqih Hanafi membuatnya menjadi penganut Syariah Islam yang kuat. Dia pernah mengatakan bahwa ini bisa dimengerti dari beberapa pernyataan yang dia buat. kalau kamu melihat seseorang telah mampu melakukan hal-hal keramat yang besar-besar, walau ia sanggup terbang di udara, namun janganlah kamu tertipu sebelum kamu melihat bagaimana ia mengikuti perintah dan menghentikan larangan dan menjaga batas-batas syari’at. Namun demikian, Abu Yazid Al-Bustami wafat tanpa meninggalkan karya tertulis riwayat hidup dan pemikiranya hanya diketahui Isa B. Adam Musa b Isa dan Thufaur b Isa dan tokoh lain yang pernah berjumpa dengan Yazid Abu Musa Al-Dabili, Abu Ishak Al-Harawi dan lain-lain. Pengikutnya tergabung kedalam tarekat Thaifuriyyah yang merupakan pelanjut dari ajarannya. Ia meninggal dunia tahun 261 H/ 874 M di kota kelahiranya Busthan. Ajaran Fana’, Baqa’ dan Al-Ittihad Abu YazidAjaran al-fana’, al-baqa’, dan al-ittihad Abu Yazid adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Secara bahasa, fana’ berasal dari kata faniya yang artinya musnah atau raihb. Syai’ (sesuatu) negara tidak ada habisnya, yang berarti jika keberadaan negara telah berakhir, dikatakan telah mencapai fana. Dalam hal ini, Abu Bakar Al-Kalabadzi (378 H/988 M) mendefinisikan “hilangnya semua nafsu, tanpa syarat yang melekat pada semua aktivitas manusia, sehingga ia kehilangan semua emosinya dan secara sadar dapat membedakan sesuatu, dan ia menghilangkan semua minat dalam melakukan sesuatu yang berbu duniawi. Sebenarnya, dia masih ada dan makhluk lain juga, tetapi dia tidak lagi menyadari mereka atau dirinya sendiri. Di antara para Sufi, beberapa orang mengklaim bahwa manusia dapat dipersatukan dengan Tuhan. Seorang sufi yang mencapai tingkat ma’rifah akan melihat Tuhan dengan mata hatinya. Menurut al-Syathi, proses yang merusak sifat basyariah disebut Fana ‘al-alam dan proses yang menghancurkan irodahnya disebut Fana’ al-irodah dan proses yang menghancurkan keberadaan dirinya dan zat lain di sekitarnya disebut Fana ‘al-nafs. Menurut Al-Thusi : Fana’ adalah berarti sirnanya pandangan seseorang terhadap tindankan-tindakannya yang berbau duniawi. Fana dalam pengertian umum dapat dilihat dari penjelasan al-Junaidi, yaitu : ذهاب قلب عن حسن المحسوسات بمشاهدة ماشاهد ثم يذهب عن ذهابه والذهاب عن ذهاب هذا مالا نهاية له. يعنى قد غابت المحاضر وتلفت الاشياء فليس شيء يوجد ولا يحس بشيء يفقد Hilangnya daya kesadaran hati dari hal-hal yang bersifat inderawi karena adanya sesuatu yang dilihatnya. Situasi yang demikian akan beralih karena hilangnya sesuatu yang terlihat itu dan berlangsung terus secara slilih berganti sehingga tiada lagi yang disadaridan dirasakan oleh indera. Sebelum sampai kepada tingkatan al-ittihad, seorang sufi terlebih dahulu menghancurkan dirinya sendiri, selama dia tidak bisa menghancurkan dirinya sendiri, dia tidak bisa menyatu dengan Tuhan. Hal ini karena al-fana’adalah proses yang mula-mula dan kemudian berlanjut dengan al-baqa yang secara bersama-sama merupakan kembaran yang tidak dapat dipisahkan. Hancurnya Ruh Suci bukan berarti kehilangan, melainkan kehancuran yang akan menyadarkan para sufi. Kesadaran ini disebut al-fana ‘alan nafs wa al baqa’ billah, yaitu kesadaran diri dihancurkan dan kesadaran diri Tuhan muncul. Dengan munculnya fana, maka baqa dengan sendirinya akan terjadi dalam kondisi demikian, ittihad pun terjadi. Abu Yazid Al-Bustami memiliki pemahaman yang berbeda dengan Junaid, terutama dalam kaitannya dengan sakit, yaitu tentang hasrat cinta Tuhan. Abu Yazid al-Bustami menegaskan bahwa manusia pada hakekatnya adalah esensi Tuhan, mampu menyatu dengan-Nya jika ia dapat menyatukan keberadaan-Nya sebagai manusia sehingga ia sendiri tidak menyadarinya (fana an nafs). Jika seorang sufi tiba di tingkatan Fana ‘al-nafs, yaitu dia tidak menyadari bentuk fisiknya, yang tersisa adalah bentuk spiritualnya dan kemudian dia secara spiritual menggabungkan dirinya dengan Tuhan. Dari berbagai uraian tersebut diketahui bahwa yang dimaksud Fana ‘dan Baqa’ adalah mencapai kesatuan spiritual dan ruhani dengan Tuhan, sehingga yang dicapainya hanyalah Tuhan dalam dirinya. . Dengan demikian, materi manusianya tetap, sama sekali tidak rusak, seperti halnya alam sekitarnya, hanya kehilangan atau menghancurkan rasa kemanusiaannya, ia tidak lagi merasakan kesempatan apa pun. Ketika seseorang menjadi Fana’ atau tidak lagi menyadari wujudnya sendiri dan wujud lain yang mengelilinginya, maka ia pergi ke Baqa’ dan melanjutkan ke Ittihad. Fana’ dan Baqa’ menurut para sufi adalah saudara kembar dan tidak terpisahkan sebagaimana dikatakan: “Barangsiapa yang membuang sifat-sifatnya, maka yang ada adalah sifat-sifat Tuhan”. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa realitas Abu Yazid Al-Bustami dalam tahap fana tercapai setelah ia meninggalkan semua keinginan selain dari Allah SWT. Adapun salah satu jalan untuk mencapai fana’ fillah disamping mendalamnya cinta rindu, adalah dengan meditasi (pemusatan kesadaran) dengan perantaraan zikir, dalam kitab hikam diterangkan: والذكر أعظم باب أنت داخله
Asal Usul Tradisi Yasinan – Tahlilan
Surabaya – 1miliarsantri.net : Membaca Surah Yasin atau yang dikenal dengan istilah Yasinan setiap Kamis malam atau malam Jumat, sudah menjadi tradisi bagi sebagian umat Islam di Indonesia. Tradisi Yasinan dan tahlilan ternyata lahir bukan serta merta, melainkan ada proses akulturasi budaya dengan ajaran Islam yang masuk ke Indonesia di era Wali Songo. Islam diterima masyarakat Nusantara, khususnya di tanah Jawa lewat produk budaya, seperti kesenian wayang. Islam masuk ke Indonesia tanpa lewat peperangan melainkan akulturasi budaya dengan ajaran Islam yang dibawa para ulama dari Wali Songo. Saat itu, para wali menjadikan sejumlah tradisi secara perlahan dimodifikasi agar bisa tetap berjalan tanpa melanggar syariat Islam. Tradisi Yasinan dan pembacaan tahlil yang masih diamalkan sebagian umat Islam ketika malam Jumat termasuk modifikasi dari tradisi mendoakan arwah leluhur. Rapalan mantra yang sebelumnya jadi syarat digantikan lantunan bacaan ayat suci Alquran, dan Surah Yasin jadi pilihan. Ada syair legendaris dari Abu Nawas tentang merayu Tuhan yang digubah menjadi bahasa Jawa dan di sejumlah wilayah dilantunkan dari sohibul hajat. Syair ini dilantunkan sembari menunggu sekaligus mempermudah jamaah mengetahui rumah mana yang menggelar acara Yasinan dan tahlil. “Duh Pengeran kula sanes ahli suwarga. Nanging kula mboten kiyat wonten neraka. Mugi Tuhan paring taubat dumateng kula. Estu Tuhan kang ngapura agunge dosa. Dosa kula kados wedhi ing segara. Mugi gusti kersa nampi taubat kula. Saben dinten dosa kula tambah umur suda. Kados pundi anggenipun kula nyangga. Duh Gusti kawula sowan dhateng Paduka Sarana ngakeni dosa kelawan ndunga.” Akhirnya Yasinan menjadi produk kebudayaan bernuansa Islam yang berkembang di masyarakat Islam Jawa. Di awal-awal Islam mulai merangkul masyarakat Jawa di era Kerajaan Demak, Yasinan dipakai untuk mendoakan para leluhur yang sudah meninggal dunia. Tradisi ini dilakukan untuk menggantikan kebiasaan masyarakat di era tersebut yang masih terikat dengan kepercayaan animisme dan dinamisme, serta ajaran Hindu dan Budha. Biasanya juga tradisi mengirimkan rapalan mantra kental dengan penganut Kejawen. Dalam kepercayaan masyarakat sebelum Islam, arwah seseorang masih berada di sekitar rumah hingga tujuh hari, sebelum akhirnya pergi. Arwah itu akan kembali di hari ke-40, hari ke-100, dan hari ke-1.000. Karena itu, masyarakat yang percaya mereka biasanya menyediakan ancak yang berisi makanan dan minuman serta kembang atau kemenyan di ruang tamu untuk arwah keluarganya. Saat ajaran Islam mulai diterima, tradisi tersebut tidak lantas langsung hilang. Rapalan doa digantikan bacaan Surah Yasin dengan harapan doanya sampai kepada arwah keluarga yang sudah meninggal. Selain itu, tradisi memberikan sesaji digantikan dengan tahlilan di hari pertama, ketiga, ketujuh, empat puluh harian, seratus harian, hingga seribu harian. Akulturasi ini menunjukkan masyarakat Jawa terbuka terhadap tradisi-tradisi baru, atau perubahan/modifikasi tradisi lama. Hingga tanpa disadari muncul identitas baru dalam tatanan masyarakat Jawa. Identitas itu dirawat menjadi kearifan lokal sehingga menjadi tanda kultural bagi masyarakat Islam-Jawa.
Gus Baha : LGBT Itu Hukumnya Haram
Jakarta – 1miliarsantri.net: Kaum Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) kembali berulah. Terbaru sejumlah pemuda yang sedang melakukan aksi unjuk rasa membentangkan bendera pelangi yang menjadi lambang LGBT di depan Monas, Jakarta Pusat. Persoalan LGBT memang tidak pernah selesai dari zaman Nabi Luth alahisalam hingga Nabi Muhammad shalallu alahi wasalam. Polemik LGBT di Indonesia kian kembali meruncing setelah Menko Polhukam Mahfud MD yang menyebut LGBT sebagai kodrat Tuhan. Mahfud MD berkata pemerintah tidak bisa melarang orang yang berstatus sebagai homo atau lesbian karena perilaku LGBT merupakan ciptaan Tuhan. Karena itu, dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) baru yang berlaku pada 2026, kelompok LGBT tidak bisa dilarang. Pendapat berbeda disampaikan KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha yang menegaskan jika LGBT haram. Meski memfatwakan haram, Gus Baha meminta kaum LGBT tidak dikucilkan. Kiai asal Rembang tersebut menjelaskan pada dasarnya kelainan seks itu hukumnya haram dalam Islam. “Pada dasarnya kelainan seks itu hukumnya haram dalam Islam. Namun, jika itu adalah takdir dari Allah, maka hukumnya lain lagi, meskipun yang sudah ditakdir kita tidak ikut-ikutan,” terang Gus Baha.
Sudah Tiba di Madinah, Minta Pulang ke Rumah Karena Teringat Belum Kasih Makan Ayam nya
Madinah – 1miliarsantri.net : Sebagian besar jamaah calon haji tahun 2023 asal Indonesia telah sampai di Madinah. Berbagai macam kelucuan dan kejadian aneh dialami oleh beberapa jamaah, diantara Kakek Juhani (97 tahun), asal Desa Batujaya, Kecamatan Cigasong, Kabupaten Majalengka yang tergabung rombongan kloter 1, berangkat dari bandara Kertajati, Minggu (28/05/2023). Ketika hendak turun dari pesawat, Kakek Juhani tiba-tiba minta kembali ke rumah nya karena lupa belum ngasih makan ayam peliharaan di rumah. Kisah ini pun membuat para jamaah tertawa. Tim Pemandu Haji Daerah Ust Yuyud Aspiyudin, menjelaskan, beberapa menit ketika akan turun dari pesawat di Bandara Pangeran Mohammad bin Abdul Aziz Madinah sekira pukul 08.20 waktu setempat, Juhani nampaknya teringat semasa muda bahwa dia harus memberi makan ayam peliharaanya. “Kakek Juhani tiba-tiba minta ijin untuk pulang dulu ke rumah. “Dia berkata, ‘ka imah heula rek marab heula hayam’. Mungkin karena lansia, perasaan dia masih di kampungnya,” ungkap Yuyud. Yuyud menambahkan, berulang kali membuat video dan foto Kakek Juhani karena dianggap jamaah lansia. Dia pun sering mengajak untuk ngobrol termasuk ketika hendak turun dari pesawat saat pramugari mempersilahkan para penumpang turun. “Ketika akan turun, saya meminta ijin pramugari untuk difoto dan memvideokannya bersama Abah Juhani dan pramugari berkenan,” jelas Yuyud. Begitu turun dari pesawat, di sela – sela sedang mengobrol dengan pramugari, nampaknya tas selempang yang dipegang Kakek Juhani diambil oleh petugas penjemput dengan maksud membantunya. Namun, Kakek Juhani tidak sadar jika tasnya yang berisi berisi dokumen pribadi seperti paspoor, KTP, visa dan lain-lain yang harus selalu dipegang. Karena tas dianggap hilang sedangkan semua dokumen tersimpan di sana serta semua jamaah sudah berada di tempat pemeriksaan Imigrasi, maka petugas kebingungan dan berusaha mencarinya. Sekitat 30 menit kemudian tas berhasil diketemukan dan diamankan oleh peugas penjemput tadi.
UAH : LGBT Semakin Meresahkan
Jakarta – 1miliarsantri.net : Ustad Adi Hidayat (UAH) angkat bicara terkait semakin marak nya isu kaum Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) yang tiap hari semakin meresahkan masyarakat. Dampaknya di Indonesia pun tidak lepas dari jeratan kaum pecinta sesama jenis tersebut. UAH menyebut LGBT bukan fitrah yang melekat pada manusia. “LGBT itu bukan fitrah yang melekat pada manusia, LGBT adalah dampak dari pengaruh-pengaruh lingkungan, pengaruh-pengaruh sikap, dan sifat dalam interaksi yang menjadikan beberapa kalangan manusia merasa seakan-akan bergeser dari keadaan mula dia diciptakan,” kata UAH dalam satu ceramahnya. Ustadz yang baru saja mendapat gelar kehormatan akademik Doktor Honoris Causa (HC) dari Universitas Muhammadiyah Jakarta itu menegaskan jika LGBT bisa disembuhkan dan dikembalikan ke fitrahnya sebagai laki-laki atau perempuan. “Ini bisa kok disembuhkan, ini bisa dibantu, ini bisa segera ditangani, dikembalikan dan jangan pernah difasilitasi atau kemudian ditampilkan pesan seakan-akan ini benar, ini sesuai dengan fitrah, ini legal. Jadi, mana mungkin ada seseorang yang terlahir dari hubungan antar laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan. Toh misalnya, bila adapun seseorang yang terjangkiti penyakit LGBT ini, tentu sebelumnya ia terlahir dari rahim seorang ibu yang punya hubungan dengan seorang ayah, pun demikian ada laki-laki ada perempuannya,” papar UAH UAH menambahkan, menjadi seorang LGBT bukanlah situasi yang normal dan bukan fitrah. Sebab menurut dia dengan mempertahankan keberadaan LGBT akan menghambat kemajuan generasi yang diharapkan akan muncul di kemudian hari. Bahkan, LGBT berpengaruh kepada aktivitas-aktivitas yang telah kita bangun berdasarkan fitrah dalam berkehidupan. “Karena itu, cara menghormati LGBT adalah dengan mengembalikannya kepada fitrah. Tetap, kita tidak boleh memandang rendah teman-teman, sahabat-sahabat, saudara-saudara kita yang terkontaminasi dengan penyakit yang dimaksudkan,” terang UAH. Wakil Ketua I Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini berkata jika Indonesia tidak ingin generasi ke depan terputus karena hadirnya LGBT, UAH meminta rakyat Indonesia menghargai nilai-nilai kemanusiaan yang melekat pada para pelaku LGBT. “Yang dengan penghargaan itu kita membantu mendoakan untuk sembuh, membantu secara medis untuk kembali, membagikan terapi-terapi yang sesuai dengan fitrah-fitrah saat dia diciptakan,” ucap UAH.
Gus Baha : Tepis Cemas, Selalu Gembirakan Hati
Yogyakarta – 1miliarsantri.net : Sangat dianjurkan oleh para ulama, ketika menjalani kehidupan, kita harus selalu senang. Jangan bersedih terus dan senantiasa berpositif thinking dalam segala hal. Jika fokus kepada kesedihan, lama-lama manusia tidak ridha dengan ketentuan Allah SWT. Manusia harus memaksakan diri untuk gembira dan bersyukur. Sebab kalau merasa susah terus, lama-lama kita tidak percaya qadha dan qadar. Demikian disampaikan Gus Baha dikutip dari channel Ngaji Ben Aji Official, dengan judul “Gus Baha Motivasi Hidup”. Jika sering dipaksakan senang, lama-lama kita jadi terbiasa bersyukur. “Rasa senang itu ibadah. Kita tidak perlu merasa takut dan gelisah. Kalau muncul kekhawatiran dalam hidup itu wajar. Saya juga kadang khawatir bagaimana nasib anak-anak kalau saya wafat nanti,” terang Gus Baha. Namun Gus Baha menerapkan bahwa kita harus kembali kepada ketentuan Allah SWT bahwa semua yang ada di dunia ini ada dalam kekuasaan-Nya. “Kita hidup, soal rezeki juga karena Allah. Yang menciptakan anak menjadi kaya bukan saya. Buktinya, mereka yang bukan anak saya juga kaya,” ujarnya. Allah itu pemberi rezeki dari sejak Nabi Adam hingga akhir zaman. Allah juga Al Hadi yang artinya Pemberi Petunjuk.
Beberapa Kejadian Bersejarah di Bulan Dzulqaidah
Yogyakarta – 1miliarsantri.net : Saat ini kita hampir berada di pertengahan bulan Dzulqaidah 1444 Hijriyah. Ada beberapa peristiwa penting di bulan ini -pada masa lalu, yang perlu diketahui umat Muslim. Dzulqaidah merupakan bulan ke-11 yang dimuliakan Allah (Asyhurul Hurum) bersama Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Bulan ini juga disebut Dzulqa’dah karena orang-orang Arab pada masa lalu tidak melakukan perang (qu’uud ‘anil qitaal) di bulan ini. Kebiasaan masyarakat Arab di bulan Dzulqaidah yaitu berdiam diri di rumah (tidak bepergian). Mereka beristirahat guna menyambut datangnya bulan Haji yaitu bulan Dzulhijjah. Dalam Alquran, Allah memerintahkan manusia untuk tidak menganiaya diri sendiri di bulan ini. Berikut beberapa peristiwa penting dan bersejarah yang terjadi di bulan Dzulqaidah. Pada tanggal 2 Zulqaidah 311 H (924 M), Imam Ibnu Khuzaimah, ulama penyusun kitab Hadis Shahih Ibn Khuzaimah wafat di usianya yang ke-89 tahun. Pada tanggal 6 Dzulqaidah Tahun ke-10 Hijriyah, Rasulullah s.a.w berangkat dari Madinah menuju Makkah untuk melaksanakan Haji Wada’ (Haji perpisahan). Ada yang menyebut tanggal 10 Dzulqaidah Tahun 10 Hijriyah. Di Padang Arafah Nabi berkhotbah di depan umat Islam yang dikenal dengan Khotbah Wada’. Peristiwa penting lainnya adalah wafatnya seorang ulama ahli kalam yang sangat masyhur, Imam Abu Bakr al-Baqillani. Beliau wafat pada Sabtu, 7 Dzulqaidah Tahun 403 H. Perang Bani Quraizhah ini terjadi pada akhir Dzulqaidah dan awal Dzulhijjah Tahun ke-5 Hijriyah. Allah memerintahkan Rasulullah memerangi Bani Quraizhah, salah satu suku kabilah Yahudi di Madinah.
Kemunduran Islam di Era Syekh Syakib Arslan
Jakarta – 1miliarsantri.net : Faktor-faktor yang mempengaruhi umat Islam mengalami kemunduran adalah kebodohan, tanggung dalam menguasai ilmu pengetahuan, bobroknya akhlak, dan sifat pengecut. Benar kah demikian adanya? Apa sebenarnya kemajuan Islam yang dinginkan Syakib Arslan? Pertanyaan mengapa umat Islam mundur sedangkan non-Islam maju muncul di masa kolonial (1929) dari salah seorang Alim Ulama Indonesia, Syekh Basyuni Imran, dalam tafsir Al-Manar, karangan Syekh Muhammad Rasyid Rida. Siapakah Syekh Basyuni? Beliau pernah kuliah di Madrasah Dar-Al Da’wah wa Al-Irsyad Mesir asuhan Rasyid Rida. Pertanyaan tersebut oleh Rasyid Rida diserahkan kepada kawannya, Amir Syakib Arslan untuk menjawabnya. Berikut isi pertanyaannya: ١. ما أسباب صار إليه المسلمون (ولا سيما نحن مسلمو جاوة وملايو) “من الضعف والإنحطاط في الأمور الدنيوية والدينية معا, وصرنا أذلاء لاحول لنا ولا قوة, وقد قال الله تعالى في كتاب العزيز: ” ولله العزة ولرسوله وللمؤمنين”. فأين عزة المؤمن الآن؟ وهل يصح المؤمن أن يدعي أنه عزيز وإن كان ذليلا مهانا ليس عنده شيء من أسباب العزة إلا لأن لله تعالى قال: ولله العزة و لرسوله وللمؤمنين. ٢. ما الأسباب التي ارتقى بها الأوروبيون والأمريكانون واليبانيون ارتقاء هائلا؟ وهل يمكن أن يصير المسلمون أمثالهم في هذا الإرتقاء إذا اتبعوهم في أسبابه مع المحافظة على دينهم الإسلام أم لا؟ Syekh Syakib Arslan (1869-1946) adalah seorang pemimpin (amir) Druz, sebuah sekte Syiah Isma’iliyyah Fathimiyyah, Lebanon yang karena kepiawaian penanya dia diberi gelar “Amir Al-Bayan”. Dia sangat terinspirasi oleh Jalaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh, serta bersahabat erat dengan Rasyid Rida. Beliau juga salah seorang pendukung kebijakan-kebijakan Pan-Islamik Sultan Abdul Hamid II dan mendukung gagasan bahwa keberlangsungan Imperium Usmani adalah satu-satunya jaminan untuk menyatukan umat Islam yang terpecah belah dan berada di bawah penjajahan Eropa. Arslan menjawab pertanyaan-pertanyaan Basyuni Imran dalam beberapa bagian di kitab tafsir Al-Manar, yang kemudian diterbitkan olehnya sendiri sebagai sebuah karya buku dengan judul “Limadzaa taakhara Al-Muslimun wa taqaddama ghayruhum?” Pemikiran Syekh Syakib Arslan ini juga harus dipahami dalam konteks waktunya, yang terjadi di masa kolonialisasi dunia Islam oleh Barat dan masa antara dua Perang Dunia I dan II. Arslan gregetan melihat kemerosotannya semangat kaum muslim untuk meraih kejayaannya kembali, terutama keluar dari penjajahan dan ketergantungan dari Barat, lalu membangun peradaban atas prinsip spirit Islam. Dengan cermatnya Arslan mengidentifikasi sebab-sebab Islam bisa meraih kejayaan di masanya serta kemajuan yang sangat pesat, sebelum dia menganalisis sebab-sebab keruntuhannya. Pertama, Arslan percaya kalau sumber kemajuan Islam ialah “ada di dalam Islam itu sendiri” dengan mempertahankan identitas serta keautentikannya. Ini terbukti dari sejarah kemunculan Islam di semenanjung Arabia yang mampu menyatukan berbagai etnik dan ras yang ada di Arab, dan membawa mereka dari barbarisme menuju peradaban, dari kekejaman menuju cinta kasih dan sayang, serta menghapus politeisme dan merestorasi peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pada saat itu tidak ada kekuatan yang dapat mencegah perkembangan Islam ke segenap penjuru dunia, kecuali perpecahan dan perang saudara di antara mereka sendiri, seperti yang terjadi di akhir periode Utsman bin Affan dan periode Ali bin Abi Thalib. Dan Islam pun mampu membangun peradaban dunia di Abad pertengahan–tepatnya pada masa dinasti Abbasiyah- dengan gemilang. Menurutnya, sebagian besar bagian dari kekuatan inspirasi yang mengantarkan pada kemenangan dan capaian-capaian mereka itu pada masa dia telah hilang, walau jejaknya mungkin masih bisa dilacak. Dengan melihat dari segi geopolitik yang dulu negeri asing mulai memasuki Arab, seperti Persia yang menduduki Yaman, Romawi di ujung negeri Hijaz dan bagian timur Syam. Kemerdekaan mereka semua tidak lepas dari spirit serta inspirasi yang disalurkan oleh umat Islam. Namun setelah itu, justru ada pada orang lain, terutama, saat itu Eropa, Amerika, dan Jepang. Padahal Allah SWT telah menjanjikan kepada umat Islam di dalam Firman-Nya: و لله العزة ولرسوله وللمؤمنين ”Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, rasul-Nya, dan bagi orang-orang mukmin.” (Al-Munafiqun: 8) وكان حقا علينا نصرالمؤمني ”Dan merupakan hak Kami(Allah) untuk menolong orang-orang beriman.” (Ar-Rum: 47) Tentu beberapa kemunduran yang dialami oleh umat Islam tersebut bukan berarti Allah SWT tidak menepati janji sesuai dengan Firman-Nya. Al-Qur’an tidak akan ingkar dan bohong, akan tetapi umat Islam itu sendiri yang harus merevolusi itu semua, hal ini telah diperingatkan oleh Allah SWT: إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسه ”Sesungguhnya Allah SWT tidak akan merubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (Ar-Ra’d: 11) Kemudian muncul beberapa pertanyaan dalam mengomentari ayat tersebut. Mengapa justru Allah SWT tidak menggantikan semua kegagalan dan kemunduran umat Islam dengan mengangkat derajatnya kepada kemuliaan? kan itu mudah sekali bagi Allah? Bukankah hal semacam itu terhitung akan tidak adilnya Allah SWT kepada umat Islam?, Syekh Amir Syakib Arslan tanpa berpikir panjang langsung menanggapi:
Buya Yahya Menyesali War Tiket Konser ColdPlay
Jakarta – 1miliarsatri.net : Maraknya perbincangan tentang war ticket konser Coldplay diberbagai media, bahkan hampir diseluruh jejaring sosial ramai membicarakan tiket yang ditawarkan dengan beragam tersebut. Sedangkan konser Coldplay akan berlangsung di Indonesia pada November mendatang. Harga tiket yang ditawarkan bermacam-macam, bahkan ada yang mencapai puluhan juta rupiah. Namun terdapat cerita miris di balik perburuan tiket tersebut. Ada orang yang rela menggunakan uang berobat orang tua demi membeli tiket Coldplay dari calo yang mencapai puluhan juta rupiah. Menurut Buya Yahya, permasalahan utama bukan pada perang tiket. Namun, masalah cara hidup dan gaya hidup. Cara hidup yang tidak baik bisa merusak kehidupan seseorang. “Bahwasanya, ada cara hidup yang kurang baik, gaya hidup yang merusak, yaitu berbelanja sesuatu tidak memakai pertimbangan, yang bisa jadi karena itu terpengaruh karena lingkungan, yang biasa hidup dengan gaya tidak baik atau bisa jadi sebuah kesombongan,” terang Buya Yahya kepada 1miliarsantri.net, Sabtu (3/6/2023). Lebih dari itu, fenomena war tiket tersebut bisa menjadi ajang riya. Ada orang yang hanya ingin terlihat kaya, padahal belum tentu demikian. Ini merupakan cara hidup yang mesti diluruskan agar tidak terjerumus ke hal-hal yang tidak baik.


