Mengenali Kampung Siluman Bekasi

Bekasi – 1miliarsantri.net : Di Kabupaten Bekasi, terdapat sebuah daerah yang bernama Kampung Siluman. Mendengar nama nya saja, mungkin Anda akan berimajinasi ke suatu lokasi serem, sebuah lembah dengan rumah penduduk yang jaraknya satu sama lain bisa puluhan bahkan ratusan meter. Bahkan Anda akan mengira kalau tempat itu sebuah lembah, atau areal makam bahkan bukit yang disekililingnya dipenuhi peninggalan-peninggalan mistik. Nyatanya tidak. Kampung Siluman berada di Desa Mangunjaya, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat atau lebih kurang 40 KM dari Ibukota Jakarta. Persisnya 1 km arah ke utara dari Stasiun KA Tambun dan Gedung Juang 45 (Gedung Tinggi) yang berada di Jl Diponegoro, Tambun Selatan, Bekasi, Jawa Barat. Kondisi di sana sekarang ini dipenuhi perumahan. Ada puluhan perumahan di sana Perumahan Mangunjaya Indah I, Perumahan Bumi Lestari, Perumahan Papan Mas, Perumahan Griya Persada, De Green serta sejumlah Cluster. Makanya jalan Tambun-Tambelang yang membelah Kampung Siluman tidak pernah ‘tidur’, selalu ramai malah cenderung sering macet. Kemacetan ini diperparah dengan titik pertemuan dan persimpangan. “Sekarang Kampung Siluman terdiri dari 9 Rukun Warga dengan 74 Rukun Tetangga,” kata Encep Hendra Gunawan, tokoh masyarakat Desa Mangunjaya. Dia sendiri asli warga Kampung Siluman, dia tahu kenapa wilayahnya ada yang di sebut Kampung Siluman. Napin Sumpena (75 tahun), salah satu tokoh masyarakat yang juga mantan pegawai Desa Mangunjaya dan tinggal di Kampung Siluman. Dia menyebutkan kalau Kampung Siluman diambil dari peristiwa penyerangan rakyat Bekasi terhadap trasportasi Kereta Api yang membawa tentara Jepang. Seperti dikutif dari Buku Sejarah Bekasi, bahwa Tentara Jepang saat itu menempati Gedung Tinggi, tahun 1943-1945, setelah tuan tanah keturunan Cina bernama Kouw Oen Huy, menyerahkan kepada Jepang. Gedung itu dijadikan sebagai pusat kegiatan tentara Jepang dalam menjajah Indonesia. Pasukan yang dikirim dari Jawa, dan turun di Stasiun Tambun, Cerita orang tua Napin Sumpena, Saat turun itulah rakyat Bekasi mencegatnya dan menyerang dengan senjata tajam golok dan bambu runcing.

Read More

PP Muslimat Al Washliyah Tegas Menolak Pertemuan LGBT Karena Merusak Esensi Kemanusiaan

Jakarta – 1miliarsantri.net : Pimpinan Pusat (PP) Muslimat Al Washliyah menyatakan diri menolak kegiatan pertemuan aktivis LGBT se-ASEAN di Indonesia. Hal tersebut ditegaskan Ketua Umum PP Muslimat Al Washliyah, Nurliati Ahmad. Pihak menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat agar menolak kegiatan yang diberi nama ASEAN QUEER ADVOCACY WEEK ini dan rencananya digelar di Jakarta 17 hingga 21 Juli nanti. “ASEAN QUEER ADVOCACY WEEK adalah tindakan yang tidak dapat diterima oleh akal sehat, hati dan nurani manusia, merusak hakikat dan esensi kemanusiaan. Tidak ada satupun alasan atas dasar nilai kemanusiaan, akal sehat dan hati nurani yang dapat membenarkan upaya memperjuangkan kepentingan LGBT,” terang Nurliati Ahmad, dalam keterangan tertulis yang dilkirim ke media, Rabu (12/07/2023). Indonesia disebut sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh dalam menjalankan aturan perundang-undangan, sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Sementara, kegiatan propaganda LGBT disebut dapat mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara, serta berpotensi memicu konflik sosial, karena pengabaian terhadap nilai-nilai yang hidup di masyarakat Indonesia. Indonesia juga disebut sebagai negara yang menyakini bahwa agama berperan penting dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Oleh karena itu, Negara harus mengaskan bahwa tidak ada tempat bagi propaganda LGBT di negara Indonesia. Sebagaimana hasil riset PEW, lanjutnya, yang menyatakan penerimaan homoseksualitas hanya tersebar luas di negara-negara di mana agama dianggap kurang penting dalam kehidupan (kecuali Rusia).

Read More

Prof Nasaruddin Umar : Tempat Membangun Di Era Peradaban Digital Adalah Masjid

Jakarta – 1miliarsantri.net : Ketua Harian Badan Pengelola Masjid Istiqlal (BPMI), Prof Dr KH Nasaruddin Umar, memaparkan, masjid merupakan tempat untuk membangun orang-orang yang bersujud serta membangun peradaban yang lebih tinggi dan lebih kuat. Masjid menjadi tempat membangun peradaban khusus nya di era digital saat ini. “Dibangunnya masjid tidak hanya sebagai tempat sujud, akan tetapi tujuannya adalah masjid juga sebagai tempat untuk membangun orang-orang yang sujud, membangun peradaban yang lebih tinggi dan lebih kuat,” ujar Prof Nasar saat menyampaikan kuliah umum di Universitas Insa Cita Indonesia (UICI), Jakarta, Rabu (12/07/2023). سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ “Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS Al-Isra: 1) Prof Nasar menjelaskan, ayat tersebut memberi isyarat tentang pembangunan peradaban dari masjid. Apalagi, ayat tersebut turun beradasarkan peristiwa Isra dan Mi’raj Rasulullah SAW. Peristiwa dikenal umat Islam sebagai salah satu tonggak gerakan dakwah Nabi Muhammad SAW dalam membangun peradaban di muka bumi. “Masjid Haram artinya tertutup, sangat limited. Sedangkan Aqsha unlimited, paling jauh. Jadi, kita starting poinnya dari tempat yang sangat tertutup kemudian menuju ke space yang unlimited (Aqsha),” ujar Prof Nasar.

Read More

Satu Jamaah Haji Yang Hilang Ditemukan Meninggal Dunia

Makkah – 1miliarsantri.net : Satu dari tiga jamaah haji Indonesia yang hilang saat puncak haji akhirnya ditemukan. Niron Sunar Suna (77) dari Embarkasi Surabaya Kloter 65 (SUB 65) hilang saat melempar jumrah di hari kedua di Mina pada 29 Juni 2023. Kabar ditemukannya Niron terungkap setelah petugas maktab mendatangi sang istri, Kamsani, di kamar hotelnya, Selasa (11/07/2023). Dia menunjukkan gambar di ponsel kepada Kamsani. “Ibu kuat apa tidak? Kalau tidak kuat, tidak usah melihat,” ucap Tiarso, salah seorang tetangga kamar Kamsani menirukan ucapan petugas maktab. Perempuan berusia 63 tahun itu mengangguk. Pertanyaan itu sempat diulang dan dijawab dengan jawaban sama. Awalnya petugas menunjukkan gambar dari arah kaki. Terlihat sarung yang melilit tubuh bagian bawah jenazah. Saat itu Kamsani langsung membenarkan itu sarung suaminya. Kamsani langsung lemas dan menangis. Gambar itu menjadi jawaban atas pencarian salah seorang jamaah yang telah hilang selama 13 hari. Sebelum hilang, Niron mengenakan sarung dan kaos warna putih dengan saku kotak di bagian perut. Sama persis dengan gambar yang ditunjukkan petugas. Setelah memastikan jenazah itu adalah Niron, Kamsani langsung menandatangani pernyataan yang membenarkan identitas pria tersebut adalah suaminya. Petugas maktab kemudian membawa Kamsani ke Rumah Sakit Al Noor untuk melihat jenazah Niron secara langsung. Perkembangan itu langsung dikabarkan ke keluarga yang ada di kampungnya di Desa Muneng, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo.

Read More

Sebanyak 1.000 Jamaah Oyo Terlantar di Arab Saudi

Riyadh – 1miliarsantri.net : Lebih dari 1.000 orang jamaah haji dari Negara Bagian Oyo di Nigeria, yang baru saja menyelesaikan ibadah haji 2023 di Arab Saudi terlantar. Dilansir Daily Post, Selasa (11/07/2023), ada beberapa jamaah asal Nigeria yang telah kembali dengan selamat. Namun, jamaah haji dari negara bagian Oyo tersebut belum mengetahui tanggal pemberangkatannya. Hal ini pun dibenarkan oleh Ketua Dewan Kesejahteraan Jamaah Muslim Negara Nigeria, Profesor Sayed Malik. Dia menekankan, otoritas di negaranya telah berupaya untuk memastikan kepulangan jamaah secara tepat waktu tetapi terhambat oleh masalah logistik. Rencana awalnya, kata Malik, jamaah dijadwalkan akan kembali ke Nigeria secara bertahap mulai 10 Juli. Namun ada hal-hal yang tidak berjalan sesuai rencana secara dramatis. Terutama ketika pihak maskapai menolak untuk menerbangkan para peziarah seperti yang telah disepakati sebelumnya.

Read More

MUI Tegas Tolak Acara LGBT Se Asia di Jakarta

Jakarta – 1miliarsantri.net : Ketua MUI KH Cholil Nafis, secara tegas menolak rencana pertemuan komunitas lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) se-ASEAN dengan nama ASEAN Queer Advocacy Week (AAW), akan dilangsungkan di Jakarta pada 17-21 Juli 2023. Dia menilai LGBT merupakan penyimpangan dan tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku di Indonesia. “Astaghfirullah. Ini sudah menyimpang terus masih mengampanyekan lagi. Saya selamanya menolak penyimpangan ini, khususnya di Indonesia. Jangan sampai dianggap normal apalagi dilegalkan. Ini bertentangan dengan norma agama, Pancasila dan kenormalan manusia. Tolak!,” tegas Kyai Cholil kepada media di Kantor MUI, Selasa (11/7/2023). Menurut Kyai Cholil, LGBT selamanya tidak bisa dibenarkan karena tidak sesuai dengan fitrah manusia. Maka itu, dia mengajak semua elemen masyarakat Indonesia untuk menolak acara tersebut.

Read More

KH Zuhdi Takeran : Kejadian Penculikan Para Kiai Selalu Kami Ingat Hingga Akhir Hayat

Magetan – 1miliarsantri.net : Rekam jejak kejahatan dan kebiadaban Partai Komunis Indonesia (PKI) sangat dirasakan bagi seluruh penghuni Pondok Pesantren Takeran Magetan, bukan hanya santri, pengasuh dan pengurus tapi juga seluruh jamaah sangat teringat betul ketika terjadi nya peristiwa penculikan Kiai Imam Mursyid Muttaqirn pada 18 September 1948. KH. MS Zuhdi Tafsir, S.Ag atau akrab disapa Mbah Zuhdi, pendiri sekaligus Pengasuh Ponpes Cokrokertopati, dan juga generasi penerus Pesantren Takeran Magetan, secara ekslusif menuturkan kisah pilu tersebut kepada 1miliarsantri.net. Habis shalat Jumat, saya bersama para santri pondok yang sedang duduk-duduk di serambi masjid melihat ada mobil datang ke pesantren. Mobil itu warnanya hitam dan bentuknya kecil. Bersama mereka terlihat beberapa orang membawa stand gun dan ada yang membawa karaben. Di situ saya lihat ikut datang seseorang yang katanya berasal dari Jombang sebagai pemimpin rombongan. Orang itu beberapa waktu kemudian saya tahu namanya Suhud. Sesampai di pesantren dan bertemu Kiai Imam Mursyid Mutaqin, ia kemudian berkata dengan mengutip ayat Alquran yang artinya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum (bangsa) kecuali mereka yang berusaha mengubah nasibnya sendiri. Jadi, katanya rombongan yang datang itu ingin mengubah nasib bangsa Indonesia. Tapi, sebelum mereka datang di sekitar pesantren sudah tersebar pamflet yang isinya: Muso, Moskow, Madiun. Pamflet itu tersebar di sepanjang jalan raya yang ada di depan pesantren. Saya yang saat itu duduk di bangku kelas 1 SMP ikut membaca pamflet itu. Nah, rombongan yang dipimpin Suhud yang di situ ada pejabat camat Takeran yang menjadi anggota PKI itulah yang menculik Kiai Mursid. Saat itu juga Kiai dibawa pergi. Jadi, Anda masih ingat peristiwa itu? Iya betul, bahkan sampai kini mimik wajah, warna pakaian para penculik itu semuanya saya masih ingat. Yang membawa pergi adalah seseorang yang memakai piyama warna krem. Dia pergi bersama Kiai Mursyid yang diapit oleh Suhud dan camat Takeran yang jadi anggota PKI itu. Setelah Kiai Mursyid dibawa pergi, kompleks pesantren ini saat itu kemudian di-stealing (dikepung) oleh para anggota PKI lainnya. Kami dikepung selama sekitar seminggu. Kami ingat betul pengepungan itu membuat persediaan garam di pesantren habis. Kami dikepung sekitar tujuh hari hingga pasukan Siliwangi datang membebaskan kami. Kemudian bagaimana nasib Kiai Mursyid? Semenjak dibawa pergi itulah, kami sampai kini tidak mengetahui dimana keberadaan Kiai Mursyid. Namun, seorang pemuda yang masih menjadi kerabat dan tinggal tak jauh dari pesantren melaporkan bila beberapa hari sebelum penculikan itu, desa-desa di sekitar Takeran dikepung oleh orang-orang yang berseragam hitam-hitam. Mereka juga mengepung kantor Kecamatan Takeran. Beberapa rumah haji juga di sekitar Takeran didatangi, didobrak pintunya, dan penghuninya diancam. Mereka juga memukulinya dan memaksa agar tunduk pada PKI. Kata mereka: Kamu mau tunduk tidak? Kalau tidak, terus dipukuli. Dan, baru berhenti setelah menyatakan menerimanya.

Read More

Baca Doa ini Sebanyak 3 Kali Sehari Agar Terhindar Dari Sifat Riya

Jakarta – 1miliarsantri.net : Riya adalah salah satu bentuk kegiatan yang kita lakukan untuk memamerkan amal, ibadah, prestasi atau sesuatu hal kepada orang lain dengan tujuan mendapat pujian dan penghargaan darinya. Riya juga merupakan perbuatan hati yang tercela, bahkan riya itu dianggap sebagai asy-syirk al-ashgar (syirik kecil). Terkadang, perbuatan riya sendiri ingin dilihat hebat atau saleh di depan orang lain. Misalnya saja ketika membicarakan ibadah kepada orang lain dan sebagainya. Dalam kehidupan sehari-hari, Islam sangat tidak menyukai umatnya yang senantiasa memamerkan segala bentuk ibadah dan amalannya kepada orang lain. Tentu sebagai umat yang beriman, tentu kita tidak ingin ada riya dalam diri kita saat beribadah kepada Allah SWT. Maka dari itulah, Islam mengajarkan doa supaya kita terhindar dari perbuatan riya saat ibadah. Pendakwah Buya Yahya mengungkap sebuah doa agar kita terhindar dari riya saat melakukan ibadah. Doa agar kita terhindar dari riya saat melakukan ibadah ini dianjurkan Rasulullah dan dibaca sebanyak tiga kali sehari. Selain itu, doa ini juga sangat cocok diamalkan disaat diri kita merasa ingin melakukan riya dan ingin dipuji. Buya Yahya yang juga pendiri pondok pesantren Al Bahjah, Cirebon ini mengungkap doa agar kita terhindar dari penyakit riya saat melakukan ibadah. Doa agar terhindar dari riya ini merupakan doa sering dipanjatkan Nabi.

Read More

Pelaksanaan Haji Sudah Selesai, 3 Jamaah Haji Indonesia Hilang

Makkah – 1miliarsantri.net : Puncak ibadah haji memang sudah lewat lebih dari sepekan, namun fase di Arafah dan Mina masih menyisakan cerita duka. Ada tiga jamaah haji Indonesia yang terpisah dari rombongan saat di Masyair dan hingga kini belum diketahui keberadaannya. Mereka semua adalah jamaah lanjut usia dan tercatat menderita demensia. Mereka adalah Idun Rohim Zen (87) dari Embarkasi Palembang Kloter 20 (PLM 20), Suharja Wardi Ardi (69) dari Embarkasi Kertajati Kloter 10, dan Niron Sunar Suna (77) dari Embarkasi Surabaya Kloter 65 (SUB 65). Kendati sama-sama hilang di kawasan Masyair (Arafah, Muzdalifah, dan Mina), tetapi mereka memiliki cerita awal mula lepas dari rombongan secara berbeda-beda. Fakta ini terungkap dari keterangan ketua kloter masing-masing berdasarkan laporan dari jamaahnya. Ketua Kloter 20 Embarkasi Palembang Maytizah Husna menjelaskan, Idun terakhir kali meminta izin kepada dirinya untuk ke toilet pada 27 Juni 2023, sekitar pukul 15.30 Waktu Arab Saudi (WAS), atau sore hari di tengah masa wukuf di Arafah. Sejak itu pula Idun belum kembali bersama kloternya. Sedianya, Idun bersama rombongannya pulang dari Tanah Suci pada 29 Juli nanti. “Ketika itu, izin ke toilet dan tak mau ditemani. Setelah itu, hilang sampai sekarang. Kita sempat sisir waktu itu di maktab di Arafah, tidak ketemu,” kata Maytizah, Jumat (07/07/2023) petang, di sela proses pencarian di kawasan Arafah. Dengan demikian, keberadaan Idun belum jelas ketika rombongannya siap-siap menuju Muzdalifah pada malam harinya. Begitu juga dengan Suharja Wardi. Menurut Ketua Kloter 10 Embarkasi Kertajati (KJT 10) Cece Moh Yahya, hilangnya Suharja bermula ketika Suraja bersama istrinya mengambil wudhu menjelang shalat dhuhur waktu wukuf di Arafah. “Pak Suharja lebih dulu, lalu istrinya masuk. Saat istrinya keluar, suaminya sudah tidak ada,” kata Cece, Sabtu (08/07/2023). Petugas pun saat itu langsung melakukan pencarian di area maktab sembari berkoordinasi dengan petugas-petugas terkait. Berbeda dari Idun dan Suharja yang hilang di Arafah, Niron terpisah dari rombongannya ketika berada di Mina pada tanggal 29 Juni 2023 (11 Dzulhijjah). Kala itu Niron beserta rombongan KBIH Nurul Haramain melaksanakan lontar jumrah hari kedua yang dilaksanakan setelah subuh. Sebenarnya jadwal mereka lontar jumrah adalah pada sore hari pukul 17.30 WAS.

Read More

Jejak Utsmaniyah Sangat Terasa di Negeri Kanguru

Melbourne – 1miliarsantri.net : Syiar perkembangan Islam terus tumbuh di Australia. Secara demografis, Negeri Kanguru menyaksikan tren peningkatan. Berdasarkan data dari biro pusat statistik setempat, pada 2016 terdapat 604.200 warga yang memeluk Islam di sana. Artinya, ada peningkatan sekitar 15 persen bila dibanding hasil sensus pada 2011 silam. Untuk mengakomodasi kepentingan warganya yang Muslim, pemerintah Australia mengupayakan lanskap tata ruang yang lebih mendukung. Sebagai contoh, di Melbourne, ibu kota negara bagian Victoria, terdapat sebuah masjid raya yang menjadi pusat kegiatan keislaman. Bangunan yang berdiri sejak tahun 1992 itu dikenal sebagai Masjid Sunshine. Namanya secara harfiah berarti ‘masjid cahaya mentari,’ tetapi sunshine itu pun merupakan sebutan untuk distrik setempat. Hingga kini, tempat ibadah itu merupakan masjid terbesar di seluruh Victoria. Informasi yang tersedia pada laman resmi Masjid Sunshine menyebutkan, pembangunannya bermula dari komunitas imigran Muslim asal Siprus. Mereka merantau ke Australia dari negeri pulau Mediterania itu. Bagaimanapun, silsilahnya mengakar hingga ke Turki. Karena itulah, perkumpulannya disebut sebagai The Cyprus Turkish Islamic Community of Victoria (Masyarakat Muslim Turki-Siprus di Victoria). Pada mulanya, mereka membangun sebuah mushala sederhana di kawasan Richmond, Clifton Hill. Lambat laun, tempat ibadah itu tidak lagi sanggup menampung jamaah yang jumlahnya kian bertambah. Setelah bermusyawarah, para tokoh Muslim setempat sepakat untuk merelokasi bangunan itu ke Jalan Ballarat, Sunshine, pada 1985. Tidak mungkin lagi untuk membangun tempat seluas mushola sebelumnya. Komunitas Muslim tersebut pun berupaya untuk menggalang biaya agar bisa memodali berdirinya sebuah masjid besar. Seorang anggota dengan ikhlas memberikan rumahnya sebagai jaminan untuk meminjam uang dari bank. Maka terkumpul dana sebesar 191 ribu dolar Amerika Serikat (AS) saat itu. Uang tersebut menjadi modal awal bagi komunitas Muslim Turki-Siprus ini. Mereka lalu membeli sebuah lahan di tepi Jalan Ballarat No 618. Sesudah itu, di atasnya dibangunlah sebuah masjid baru. Pembangunannya mengalami pasang-surut. Sempat terjadi mangkrak, tetapi umat Islam Victoria pantang menyerah. Mereka lantas berhasil menghimpun dana hingga 2,5 juta dolar AS Proyek pendirian masjid ini pun diteruskan. Beberapa tahun kemudian, fasilitas yang diidam-idamkan itu tuntas berdiri. Peresmiannya disaksikan tokoh-tokoh Islam serta pemerintah daerah lokal. Tampilan Masjid Sunshine menyuguhkan corak arsitektur Islam khas Turki Utsmaniyah. Pemilihan tema itu memang wajar karena para pendirinya merupakan orang-orang Australia yang keturunan Turki. Menurut Serkan Hussein dalam Yesterday and Today: Turkish Cypriots of Australia (2007), bentuk Masjid Sunshine menyerupai Masjid Sultan Ahmad alias Masjid Biru, salah satu bangunan ikonis yang ada di Istanbul.

Read More