Diantara Deretan Walisongo Yang Dianggap Keturunan Tionghoa

Surabaya — 1miliarsantri.net : Peranan Wali Songo dalam penyebaran Islam di tanah Jawa pada abad 15 dan 16 tercatat dalam sejarah perkembangan Islam Nusantara. Setiap wali dipanggil dengan sebutan sunan, yang berasal kata susuhunan, yaitu sebutan bagi orang yang dihormati. Bagi sebagian besar masyarakat Jawa, gelar Sunan untuk Wali Songo disebabkan para wali itu dianggap memiliki karamah atau kemampuan di luar kelaziman. Dalam menyebarkan agama Islam, para waliyullah yang merupakan kumpulan para ulama tersebut menamakan dirinya Dewan Dakwah yang melakukan pendekatan masyarakat melalui strategi budaya, pernikahan, maupun pendidikan. Berikut nama-nama sembilan wali yang dikenal dan diketahui sebagian besar masyarakat : Dinukil dari buku Prof Hembing Pemenang The Star of Asia Award oleh Siti Nafsiah, empat dari sembilan tokoh Wali Songo masih mempunyai hubungan dengan keturunan Tionghoa, yaitu Sunan Ampel, Sunan Kalijaga, Sunan Muria, dan Sunan Gunung Jati. Pengetahuan mengenai beberapa wali dari Wali Songo yang dianggap sebagai orang keturunan Tionghoa juga diungkapkan oleh Profesor Kong Yuanzhi, seorang profesor Jurusan Bahasa dan Kebudayaan Indonesia Universitas Peking, diantaranya : Menurut Lee Khoon Choy, Sunan Ampel sebenarnya adalah Bong Swee Hoo, yaitu seorang muslim Tionghoa yang menganut mazhab Hanafi yang tiba Indonesia pada tahun 1445. Sunan Ampel tinggal di muara Sungai Brantas, Jawa Timur pada 1447-1451. Kemudian pindah ke Ampel. Sunan Ampel sangat bersahaja dan piawai serta sederhana. la termasuk perintis berdirinya Kerajaan Demak Bintaro. Sunan Ampel juga berjasa dalam mengharumkan nama Glagah Wangi yang kemudian menjadi pusat pengajaran Islam pada masa itu dan ikut memprakarsai pembangunan Masjid Demak bersama Sunan Kalijaga. Menurut S. Wardi dalam bukunya yang diterbitkan oleh surat kabar Wahyu, dituturkan bahwa terdapat seorang Tionghoa yang bernama Oei Tik To yang berputra seorang bupati Tuban yang bernama Wirotikto. Selanjutnya, Wirotikto ini memiliki putra yang bernama Oei Sam lk atau biasa dipanggil dengan nama Said atau kini dikenal dengan nama Sunan Kalijaga. Selain pandai dalam bidang agama Islam, Sunan Kalijaga juga sangat pandai bergaul, baik dengan rakyat jelata maupun kalangan atas dan para pemikir karena memang ia seorang politikus, ahli tasawuf, dan filosof. Berkat perjuangannya bersama para wali yang lain, Islam berhasil disebarkan kepada 75 persen sampai 90 persen masyarakat Jawa.

Read More

Ini Kenapa Bulan Muharram Dijadikan Sebagai Awal Tahun Baru Hijriah

Jakarta — 1miliarsantri.net : Banyak yang mengira bahwa penetapan bulan Muharram sebagai awal tahun Hijriyah adalah karena peristiwa Hijrah Rasulullah SAW ke Madinah terjadi pada bulan itu. Benarkah demikian? Dikutip dari Buku Bulan Muharram Hukum dan Pelajaran, Perkiraan tersebut keliru, karena Rasulullah SAW memulai perjalanan Hijrahnya pada akhir bulan Shafar dan tiba di Madinah pada awal bulan Rabi’ul Awal. Akan tetapi memang benar adanya bahwa peristiwa hijrah dijadikan sebagai patokan untuk memulai penanggalan Hijriah, di mana tahun kejadiannya dijadikan sebagai tahun pertama dalam penanggalan hijriah. Maka kalau sekarang dikatakan sebagai tahun 1427 H, hal itu berarti telah berlalu 1427 tahun sejak peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah. Namun penetapan Muharram sebagai awal bulan dalam tahun Hijriyah adalah karena alasan lain.

Read More

Penampakan Nyi Roro Kidul Saat Pengajian Gus Miftah di Lampung

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Pimpinan Pondok Ora Aji, Sleman, Miftah Maulana Habiburrahman atau yang akrab disapa Gus Miftah, buka suara terkait video penampakan seorang wanita bermahkota yang sempat diunggah di Instagram pribadinya saat menghadiri acara pengajian di Lampung. “Oh iya mas, kemarin saya pengajian di Lampung ada anak kecil ngerekam di belakang itu ada muncul sosok pakai mahkota. Lha saya bongso klenik itu nggak begitu ngeh lah (macam klenik begitu tidak begitu memperhatikan-Red), karena saya orangnya rasional,” ujar Gus Miftah kepada 1miliarsantri.net, Selasa (18/07/2023). Gus Miftah mengatakan, seorang temannya yang mengetahui perihal tersebut, mengatakan bahwa sosok penampakan itu menyerupai Nyi Roro Kidul. Namun, ia malah bersyukur apabila sosok tersebut ikut mengaji padanya. “Beberapa teman yang memang dunianya seperti itu bilang kayak kanjeng Nyi Roro Kidul, ya saya bilang Alhamdulillah Nyi Roro kidul mau ikut mengaji sama saya,” imbuhnya.

Read More

Napak Tilas Makam Sunan Amangkurat 1

Tegal — 1miliarsantri.net : Jika kita nerkunjung ke wisata religi Sunan Amangkurat I di Tegal, terlihat tidak seperti berkunjung ke pemakaman pada umumnya. Wisata religi Sunan Amangkurat I memiliki pesona Islam yang terlihat masih religius. Bukan hanya itu, di dalam wisata religi ini juga menyimpan peninggalan kerajaan mataram. Di area wisata religi ini terlihat rapi dan bersih, bahkan jauh dari kata seram. Dari luar, bangunan ini dikelilingi oleh tembok bata dengan luas sekitar 1,1 Ha. Tempat ini bukanlah lahan biasa, namun di lahan yang diberi nama Tegal Arum tersebut terdapat petilasan dan makam Raja Mataram Sunan Amangkurat I, yang pernah berjasa membangun pemerintahan Mataram serta menyebarkan ajaran Islam hingga ke wilayah Barat. Area makam yang masih mempertahankan bangunan lama dengan pagar dinding dari bata merah masih tertata rapi, bahkan jalan setapak menuju makam telah dipaving. Sehingga nampak bersih dan dibalut pepohonan yang rindang serta hamparan rerumputan, menambah lingkungan tersebut menjadi bersih dan nyaman untuk di kunjungi para peziarah yang datang secara periodik. Bangunan yang tercatat sebagai petilasan Raja-raja Mataram ini dilindungi oleh undang-undang cagar budaya Indonesia yang harus dirawat keberadaannya. Untuk menjaga keaslian tempat tersebut masih mempertahankan pagar dan ornamen bangunan dengan bata merah meski telah mengalami pemugaran pada 1982 dan diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Dr Daoed Joesuf. Ornamen tersebut dipertahankan karena ada kesamaan ciri khas, seperti di kerajaan Kasultanan Plered, di Cirebon Jawa Barat. Di Plered inilah Sunan Amangkurat I pernah berkuasa. Memasuki kompleks makam raja Mataram ini kita harus melewati tiga pintu, masing masing pintu memiliki makna filosis yang masih bercampur dengan ajaran Kejawen. Pintu pertama dijadikan penanda awal kehidupan manusia dan pintu kedua sebagai perlambang kehidupan selanjutnya. Di pintu kedua ini juga terdapat makam keturunan Sunan Amangkurat dan orang-orang yang pernah dekat dengan Sunan Amangkurat. Di sini banyak ditumbuhi pohon sawo kecil sebagai pertanda kebaikan dari orang-orang yang disemayamkan di tempat tersebut, sedangkan pintu ketiga merupakan pintu pembatas dunia dan akhirat. Pada pintu kamu akan menuju makam utama yang berbentuk bangunan Joglo dengan dinding kayu jati yang kokoh dan terletak di gundukan tanah tinggi yang konon berbau harum. Sedangkan di sekitar makam utama di tanah datar disemayamkan juga Ratu atau isteri pertama Sunan Amangkurat dan dua anak Sunan Amangkurat yaitu Klenting Kuning. Sunan Amangkurat I merupakan putra ke sepuluh dari Sultan Agung yang lahir pada tahun 1619. Nama aslinya adalah Raden Mas Sayidin. Pada tahun 1645 beliau diangkat menjadi Raja mataram menggantikan ayahnya dan mendapat gelar Susuhunan Ing Alaga.

Read More

Masjid Jaffali Jeddah Dikenal Sebagai Masjid Qisas

Jeddah — 1miliarsantri.net : Jika anda melakukan perjalanan Umrah, pasti sudah mengenal Masjid Jaffali. Masjid ini merupakan salah satu masjid yang cukup terkenal di Jeddah, Arab Saudi. Masjid berwarna putih yang dihiasi kubah-kubah kecil di atasnya dan satu menara menjulang tinggi itu terletak di dekat Danau Al-Arbaeen dan taman kecil Masjid Jaffali memiliki halaman yang luas, menyatu dengan area parkiran kendaraan. Dulu, tempat parkir kendaraan di dekat Masjid Jaffali berupa area lapang, di tengahnya terdapat tenda berukuran sekitar 4 meter x 4 meter, di sampingnya agak jauh terdapat pula tenda yang menghadap ke tenda di tengah. Di tenda berukuran 4 meter x 4 meter itulah orang-orang yang berbuat kejahatan di Arab Saudi dieksekusi mati dengan cara dipancung. Dalam syariat Islam, hukuman mati tersebut dikenal dengan hukum qisas. Tenda di sampingnya yang letaknya agak berjarak dari tempat hukum qisas adalah tempat hakim membacakan keputusan dan tempat pihak keluarga penuntut. Syamsul Arif, seorang mukimin yang sudah sekitar 22 tahun tinggal di Arab Saudi menceritakan, masyarakat Indonesia yang telah melaksanakan ibadah haji atau umroh biasanya main ke Jeddah. Mereka jamaah haji atau umroh Indonesia mengenal Masjid Jaffali sebagai Masjid Qisas. “Padahal nama aslinya Masjid Jaffali, bukan Masjid Qisas, Masjid Jaffali ini tidak ada hubungannya dengan hukum qisas yang ada di halaman parkirnya,” urai Syamsul di halaman Masjid Jaffali, Jeddah, Senin (17/07/2023). Syamsul menceritakan, mungkin sebelum Masjid Jaffali dibangun seperti sekarang, hukum qisas di tempat yang sekarang dijadikan area parkiran ini sudah ada. Jadi tidak ada hubungannya antara Masjid Jaffali dengan hukum qisas. Jamaah haji dan umroh dari Indonesia menyebut Masjid Jaffali sebagai Masjid Qisas karena ada hukum qisas yang biasa berlangsung di halaman parkirnya. Menurut Syamsul, hukum qisas dilaksanakan di halaman parkir Masjid Jaffali hanya sampai tahun 2017. Sejak 2017 hingga sekarang, hukum qisas tidak lagi dipertontonkan ke publik seperti sebelum tahun 2017. Kini, hukum qisas hanya dilangsungkan di penjara.

Read More

Habib Nabiel : Momentum Tahun Baru Hijriah, Pemimpin Bangsa Harus Banyak Bertobat

Jakarta — 1miliarsantri.net : Pimpinan Majelis Rasulullah SAW sekaligus Wakil Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Habib Nabiel Almusawa, mengajak setiap elemen bangsa menjadikan momentum tahun baru Islam 1 Muharam 1445 Hijriah untuk bermuhasabah dan melakukan perbaikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Pesan saya untuk para penguasa, hendaknya momentum hijrah ini digunakan untuk bertobat, Istighfar. Jangan sampai rakyat kita jadi ngga percaya dengan penguasa, ngga percaya dengan pemimpin. Kita disuruh taat kepada Ulil Amri, tetapi bukan yang korup, bukan yang mengkhianati rakyat, bukan yang menyebarkan fitnah, bukan yang seperti itu,” imbau Habib Nabiel kepada media di Jakarta, Selasa (18/07/2023). Ia berharap di tahun baru 1445 H, para pemimpin bangsa semakin mengayomi rakyat dan menjadi teladan yang baik bagi rakyat. Habib Nabiel juga mengajak umat Muslim di Tanah Air agar menjadikan momentum tahun baru Islam tidak hanya untuk memperbaiki dan meningkatkan sisi spiritual, namun juga memperbaiki diri dalam kehidupan berbangsa.

Read More

Mengenal Rofiqoh Dharto Wahab, Umi Kultsum Indonesia

Jakarta – 1miliarsantri.net : Bagi generasi millenial saat ini bisa jadi belum pernah mendengar nama Rofiqoh. Dia adalah perempuan pertama yang mewarnai grup kasidah di Indonesia masuk dapur rekaman. Perempuan asal Pekalongan, Jawa Tengah ini wanita pertama menembus Istana Negara dengan lagu qasidah, lalu mempopulerkan. Dia memulai semua itu saat kondisi politik negara sedang mencekam. Pada 1960-an, saat organisasi Islam ditekan oleh pemerintahan Orde Baru, Rofiqoh memperkenalkan genre musik gambus atau kasidah berbahasa Arab kepada masyarakat. Liriknya berisi pujian-pujian kepada Tuhan yang diiringi alat musik. Dalam setiap penampilannya selalu menggunakan kebaya, kerudung, dan batik ciri khas perempuan Jawa pada masanya. Ia muncul pertama kali di depan publik pada tahun 1964 dan mencoba hijrah ke Jakarta pada tahun 1965. Pada tahun yang sama ia menikah dengan Dharto Wahab seorang wartawan yang beralih profesi menjadi pengacara. Ia pernah tampil di Istana Negara membawakan kasidah ‘Habibi Ya Rasulullah’ dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad, sebelum meletusnya pergerakan G30S/PKI. Suatu ketika Rofiqoh dikejutkan oleh suara sirine panjang di Istana Negara menjelang pecahnya Gestapu atau G30S PKI (Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia). Saat itu dia baru selesai melantunkan ayat-ayat suci Alquran. Dari podium dia leluasa melihat kecamuk di wajah para tamu perhelatan Isra Miraj di bulan September tahun 1965 itu. “Saya melihat pak Harto (Soeharto) melaporkan sesuatu ke pak Soekarno. Dan para tamu mulai berdiri dari kursi, saling pandang. Bingung ada apa? Saya juga khawatir,” ujar Hj Rofiqoh Dharto Wahab, saat itu dalam sebuah wawancara bersama wartawan, 2021 silam. Beberapa hari setelah insiden sirine itu, meletuslah G30S PKI. Peristiwa politik paling kelam yang menjadikan fitnah sebagai mesiu mematikan. Puluhan tahun kemudian, tepatnya hari ini aroma dupanya masih saja dihembus-hembuskan. “Waktu itu pak Karno naik ke podium ngasih pengumuman untuk menenangkan para tamu istana. Jadi selain saya, ada pak Karno dan Duta Besar Aljazair di atas podium,” lanjut Rofiqoh. Pengumuman yang disampaikan Presiden Soekarno saat itu, lebih mengejutkan Rofiqoh. “Pak Karno bertanya, apakah yang mengaji bisa bernyanyi? Saya bilang bisa. Lalu saya diminta bernyanyi,” ujar Rofiqoh yang lebih dari setengah usianya dihabiskan untuk berdakwah dan pendidikan umat.

Read More

Sejarah Awal Munculnya Tahun Baru Hijriyah

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Bagi kita, tentu sudah tak asing lagi mengetahui adanya Tahun baru Hijriyah yang merupakan penetapan awal tahun baru Islam, dimana hari pertama penanggalan tahun baru pada Hijriyah dimulai tiap 1 Muharam. Tahun baru Hijriyah atau Tahun Baru Islam pada tahun ini (1445 H) jatuh pada Rabu,19 Juli 2023. Bagi umat Islam, tahun baru Hijriyah merupakan suatu hari yang penting karena ada peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah pada 622 Masehi. Hijrahnya Nabi Muhammad ditetapkan sebagai hari pertama penanggalan Hijriyah, yakni 1 Muharram 1 Hijriyah. Ada perbedaan antara kalender Hijriyah dengan kalender Masehi. Kalender Hijriyah enggunakan perhitungan orbit bulan pada bumi, karenanya disebut dengan kalender lunar. Sedangkan kalender Masehi menggunakan perhitungan pergerakan matahari, karenanya disebut dengan kalender solar. Namun demikian, keduanya memiliki jumlah bulan yang sama, yaitu 12. Jika tahun Masehi dimulai pada Januari dan berakhir pada Desember, maka tahun Hijriyah dimulai pada Muharram dan diakhiri Dzulhijjah. Nama-nama bulan di kalender masehi adalah Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November, dan Desember. Sementara, nama bulan di kalender Hijriyah sebagai berikut: Muharram, Shafar, Rabi’ul Awal, Rabi’ul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Zulqaidah, dan Dzulhijjah. Satu tahun dalam kalender Hijriyah panjangnya 354 atau 355 hari tahun kabisat dengan nama-nama hari; al-Ahad (minggu), al-Itsnayn (Senin), ats-Tsalaatsa’ (Selasa), al-Arba’aa’ (Rabu), al-Khamiis (Kamis), al-Jum’aat (Jumat), dan as-Sat (Sabtu).

Read More

Masjid Agung Kota Tegal, Antara Kebesaran dan Bukti Sejarah Perjuangan Pangeran Diponegoro

Tegal — 1miliarsantri.net : Penting untuk mengetahui misteri sejarah dan keunikan Masjid Agung Tegal agar semangat dalam memperjuangkan kehidupan tetap terjaga. Inilah misteri sejarah dan keunikan Masjid Agung Tegal yang menjadi saksi bisu perang Dipenogoro. Selain bangunan masjid yang besar dan megah, ternyata terdapat sejarah di dalamnya serta keunikan yang masih jarang diketahui. Masjid Agung Kota Tegal berdiri diatas tanah yang diwakafkan oleh seorang Penghulu I yang juga berprofesi sebagai tokoh agama dan muballigh bernama Kiai Abdul Aziz. Luas tanah wakaf pembuatan masjid ini mencapai 2.864,36 m2. Masjid Agung Kota Tegal ini diperkirakan dibangun pada tahun 1825 M. Bagaimana sejarah tercipta pada masjid ini? Dan apa keunikan yang berada di dalamnya? Simak artikel ini sampai selesai. Di antara riwayat perang epik antara Pangeran Diponegoro dan penjajah Belanda yang dikenal sebagai Perang Jawa, terdapat sebuah bangunan yang menyimpan sejuta cerita. Masjid Agung Kotamadya Tegal, Jawa Tengah, memiliki hubungan erat dengan periode bersejarah tersebut. Pada rentang tahun 1825-1830, ketika Perang Jawa pecah, K.H. Abdul Aziz mulai membangun masjid ini. Kehadiran masjid ini pada masa perang menjadikannya saksi bisu perlawanan Pangeran Diponegoro dan pengikut setianya dalam mempertahankan kebenaran. K.H. Abdul Aziz, pendiri masjid ini, adalah seorang ulama dan penghulu pertama di kota Tegal. Dia juga memiliki hubungan keluarga dengan Raden Reksonegoro, Bupati Tegal saat itu. Karena ikatan kekerabatan dan ikatan ukhuwah islamiyah yang kuat, pembangunan Masjid Agung Tegal berlangsung lancar tanpa hambatan. Menurut catatan sejarah, Masjid Agung Tegal telah mengalami beberapa kali renovasi sejak didirikan. Pada tahun 1927, ruang paseban masjid direnovasi karena sudah tidak representatif lagi. Sebagai penggantinya, dibangunlah KUA (Kantor Urusan Agama), tempat bagi umat Islam Tegal untuk melangsungkan pernikahan. Pada tahun 1953-1954, Masjid Agung yang terletak di sebelah barat alun-alun kota Tegal ini mengalami renovasi besar-besaran. Serambi depan masjid diperluas ke arah depan sehingga menyatu dengan KUA. Untuk memenuhi kebutuhan jamaah akan air wudhu, tempat wudhu sebelah kanan masjid diperbaiki pada tahun 1970. Pada tahun 1985, atap masjid dirombak dan diganti dengan atap tumpang, memberikan tampilan yang lebih modern pada bangunan masjid ini. Namun, meskipun atapnya telah diperbaharui, jika kita melihat masjid ini dari belakang, gaya arsitektur modernnya tidak akan terlihat.

Read More

Sebanyak 9 Pelaku UMKM Kabupaten Biak, Terima Sertifikat Halal Dari Kementerian Agama

Biak — 1miliarsantri.net : Sebanyak sembilan pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Kabupaten Biak Numfor, Papua, menerima sertifikat halal pangan olahan dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). “Tahap pertama sertifikat halal produk UMKM diterima 22 sertifikat dan saat ini bertambah lagi sembilan sertifikat halal sehingga total 31 sertifikat halal produk MUI,” ujar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperibdag) Yubelius Usior kepada media di Biak, Senin (17/07/2023). Pemkab Biak Numfor melalui Disperindag mengajukan 65 penerbitan sertifikat halal produk UMKM Biak Numfor. Kadisperindag Usior mengatakan, jaminan produk halal menurut UU No. 33 Tahun 2014 sampai UU No. 39 Tahun 2021 di mana penyelenggaraan sertifikasi halal dilaksanakan pemerintah melalui BPJPH Kemenag Republik Indonesia. Sertifikasi halal pada produk olahan pangan UMKM Biak, menurut Kadisperindag Usior, perlu dilakukan karena dapat menjamin kepada masyarakat produk yang diproduksi pelaku usaha Biak benar-benar halal dan layak untuk dikonsumsi. Usior mengatakan, pemberian sertifikat halal sebagai upaya pemerintah dalam rangka memberikan fasilitas bagi masyarakat untuk menjalankan perintah sesuai dengan syariat dan aturan.

Read More