Kisah Al-Fatih, Sang Penakluk dari Turki Utsmani

Jakarta — 1miliarsantri.net : Dimasa modern ini, siapa yang tak kenal sosok Al-Fatih? Sosok raja belia penguasa Turki Utsmani yang juga penakluk tanah suci bangsa Romawi, yakni Konstantinopel. Nama besarnya adalah Muhammad al-Fatih yang berarti Muhammad Sang Penakluk. Nama panggilannya adalah Mehmed II, ia merupakan anak dari Murad II yang juga merupakan penguasa Turki Utsmani, selain menjadi sosok ayah Murad II juga adalah guru bagi Mehmed II. Murad II selalu menanamkan kepada Mehmed II sikap-sikap sebagai pemimpin yang layak bagi kaum muslimin dan menjadi sosok yang kelak akan menaklukkan Konstantinopel. Konstantinopel adalah tanah suci bangsa Romawi yang juga merupakan puncak mimpi tertinggi para pemimpin muslim. Bagaimana tidak? Sejak zaman Rasulullah Muhammad SAW, kota ini adalah kota yang digadang-gadang hanya bisa ditaklukkan oleh sebaik-baik pemimpin dan sebak-baik pasukannya pula. Hal inilah yang membuat banyak para pemimpin muslim dari zaman dahulu berlomba-lomba melakukan ekspedisi besar-besaran dalam rangka merealisasikan nubuwat tersebut.Secara geografis, Konstantinopel adalah kota yang berada diantara Eropa dan Asia. Tanahnya yang subur dan berada di tempat yang strategis, membuat kota ini menjadi layak diperebutkan oleh banyak bangsa lainnya. Konstantinopel juga merupakan kota sebagai pusat pedagangan dunia yang melalui jalur laut. Selat Borphorus merupakan ‘pintu gerbang’ jalur perdagangan laut sebagi tempat keluar-masuknya kapal-kapal para pedagang dari atau ke Asia-Eropa. Tingkat ekonomi yang luar biasa maju sekalilagi membuatnya menjadi kota yang layak ditaklukkan. Ketika al-Fatih menduduki takhta kerajaan Utsmani menggantikan ayahnya Murrad II, beliau langsung mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk melakukan penaklukan. Mulai dari perbekalan logistik untuk para pasukan selama masa penaklukkan, persenjataan lengkap bagi para pasukannya, baik berupa senjata ringan seperti pedang, busur dan anak panahnya, bahkan hingga meriam raksasa yang kelak menjadi kunci kemenangan pasukannya. Salah satu momen paling memorable adalah ketika al-Fatih membuat keputusan diluar nalar untuk melayarkan kapalnya melintasi gunung di pinggiran Selat Bhorporus. Keputusan ini ia ambil dikarenakan saat itu kapal-kapal pembawa logistik pasukan tidak dapat melewati selat karena dihadang oleh rantai raksasa yang membentang melintangi selat.

Read More

Sayyidina Ali bin Abi Thalib: Balasan Orang yang Bersedekah

Jakarta — 1miliarsantri.net : Kisah ini diriwayatkan oleh Ja’far bin Muhammad, dengan sanad dari ayah dan kakeknya. Suatu hari, kakek Ja’far, Sayyidina Ali bin Abi Thalib pulang ke rumahnya setelah bersilaturahmi dengan Rasulullah. Di rumah, ia mendapati istrinya, Sayyidah Fathimah, sedang memintal benang, sementara Salman al-Farisi duduk di depannya, membantu menggelar wol. “Wahai istri tercinta, adakah makanan yang bisa kau berikan pada suamimu?” tanya Ali. “Demi Allah, aku tidak punya apapun, kecuali enam dirham dari Salman karena aku memintal wol untuknya,” jawab Fathimah. “Uang ini sebenarnya ingin aku belikan makanan untuk Hasan dan Husain.” Ali meminta uang tersebut dan bergegas keluar untuk membeli makanan. Namun, di jalan ia bertemu seorang laki-laki yang meminta bantuan. “Siapa yang mau memberikan pinjaman karena Allah yang Maha Menguasai dan Mencukupi?” ujar seorang laki-laki. Tanpa ragu, Ali menyerahkan enam dirhamnya. Ketika kembali tanpa membawa makanan, Fathimah menangis, tetapi ia menerima tindakan Ali dengan ikhlas. Ali pun keluar lagi, kali ini untuk menemui Rasulullah. Di jalan, ia bertemu dengan seorang Badui yang menawarkan unta. “Beli unta ini dariku,” kata Badui. “Aku tak punya uang,” jawab Ali. “Tidak apa-apa, kau bisa bayar nanti. Harganya seratus dirham,” kata si Badui.

Read More

Apakah Nabi-Nabi Sebelum Rasulullah SAW Beragama Islam?

Surabaya — 1miliarsantri.net : Rasulullah Muhammad SAW memiliki hubungan yang kuat dengan semua Nabi yang diutus sebelumnya. Beliau menyampaikan pesan yang sama dan memimpin jalan yang sama seperti nabi sebelumnya, mulai dari Nabi Adam sampai Nabi Isa. Beliau adalah mata rantai terakhir dalam rantai para Nabi yang diberkahi. Hubungan ini sangat ditekankan baik dalam Alquran maupun biografi Nabi sebagai ikatan misi bersama, cinta, dan rasa hormat. Alquran menjelaskan dengan jelas bahwa pesan Nabi bukanlah hal baru bagi umat manusia: Allah SWT berfirman: قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِّنَ الرُّسُلِ وَمَآ اَدْرِيْ مَا يُفْعَلُ بِيْ وَلَا بِكُمْۗ اِنْ اَتَّبِعُ اِلَّا مَا يُوْحٰٓى اِلَيَّ وَمَآ اَنَا۠ اِلَّا نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku bukanlah Rasul yang pertama di antara para rasul dan aku tidak tahu apa yang akan diperbuat (Allah) kepadaku dan kepadamu. Aku hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan.” (QS Al-Ahqaf [46]:9) Di sini, menurut Imam Ar-Razi, Nabi bersabda: “Aku hanyalah seorang manusia seperti halnya semua pembawa pesan Tuhan yang mendahuluiku”. Artinya, inti pesan semua Nabi sejak Adam sampai Muhammad SAW adalah penyerahan diri sepenuhnya kepada Keesaan Tuhan. Pesan ini pun secara efektif dirangkum dalam kata bahasa Arab, yaitu “Islam”, yang secara harfiah berarti penyerahan diri. Alquran juga menyatakan bahwa satu-satunya jalan hidup yang diterima dan diridhai Allah adalah ‘berserah diri kepada-Nya’: اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِسْلَامُ Artinya: “Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah ialah Islam.” (Ali Imran [3]:19) Ayat ini dengan jelas menyatakan bahwa Islam adalah jalan hidup yang diterima Allah dari umat-Nya. Dalam ayat-ayat lain, Alquran menegaskan bahwa Islam adalah risalah yang dibawa oleh setiap Nabi. Allah SWT berfirman: وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا نُوْحِيْٓ اِلَيْهِ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدُوْنِ Artinya: “Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Nabi Muhammad), melainkan Kami mewahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku”. (QS Al-Anbiya’ [21]:25) Nabi Nuh, misalnya, berkata: يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗۗ اِنِّيْٓ اَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيْمٍ “Wahai kaumku, sembahlah Allah (karena) tidak ada tuhan bagi kamu selain Dia.” Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah) aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (hari Kiamat). (QS Al-A‘raf [7]:59) Nabi Nuh juga dengan lugas menyatakan bahwa dia adalah seorang Muslim:

Read More

Alquran Menyebutkan Soal Pernikahan Beda Agama

Jakarta — 1miliarsantri.net : Alquran menyebutkan soal pernikahan beda agama. Ini tercantum dalam Surat Al Baqarah ayat 221. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran.” (QS Al Baqarah ayat 221) Siddiq Hasan Khan Al Qonuji dalam kitab tafsirnya berjudul Fathul Bayan fii Maqasid Al Qur’an, memaparkan, nikah yang dimaksud dalam ayat itu ialah yang dengan akad, bukan persetubuhan. Dijelaskan bahwa dalam Alquran, tidak ada satu pun penjelasan yang menyebutkan bahwa makna pernikahan adalah persetubuhan, sekalipun yang melakukannya adalah orang yang beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Karena itu, dalam Islam, pengertian nikah merujuk pada akad pernikahan. Adapun dalam ayat 221 Surah Al Baqarah, juga disebutkan mengenai larangan menikahi perempuan musyrik. Dalam hal ini, yang dimaksud perempuan musyrik adalah perempuan ahli kitab, karena ahli kitab termasuk musyrik. Dari keumuman ayat 221 Surah Al-Baqarah itu, Allah SWT mengharamkan pernikahan kepada perempuan musyrik dan perempuan ahli kitab. Lalu turunlah ayat 5 Surah Al Maidah. Allah SWT berfirman: “Pada hari ini dihalalkan bagimu segala yang baik-baik. Makanan (sembelihan) Ahli Kitab itu halal bagimu, dan makananmu halal bagi mereka. Dan (dihalalkan bagimu menikahi) perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara perempuan-perempuan yang beriman dan perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu, apabila kamu membayar maskawin mereka untuk menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan bukan untuk menjadikan perempuan piaraan. Barangsiapa kafir setelah beriman, maka sungguh, sia-sia amal mereka, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” Hal tersebut sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Malik, Sufyan bin Said, Abdurrahman bin Amr dan al-Awza’i. Sebagian ulama berpendapat bahwa ayat 221 Surah Al Baqarah membatalkan ayat 5 Surah Al Maidah, sehingga, menurut pendapat ini, haram menikah dengan perempuan ahli kitab dan perempuan musyrik. Ini adalah salah satu dari dua pendapat Imam Syafi’i dan sebagian ulama lain juga berpendapat demikian. Namun, pendapat tersebut menghadapi fakta bahwa Surah Al-Baqarah ayat 221 itu lebih dulu diturunkan, dari Surah Al Maidah ayat 5 yang diturunkan setelahnya.

Read More

Aplikasi Qur’an Kemenag Kini Dilengkapi Terjemahan Bahasa Gayo

Aceh — 1miliarsantri.net : Aplikasi Qur’an Kemenag ada menu baru, yaitu terjemahan dalam Bahasa Gayo. Terjemahan Al-Qur’an Bahasa Gayo ini sudah dirilis Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Kemenag bersama IAIN Takengon. Rilis terjemahan ini dikemas dalam bentuk sosialisasi yang diikuti mahasiswa dan akademisi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam, serta pemerhati Al-Qur’an di Takengon. Hadir sebagai narasumber, Ketua Tim Penerjemah Zulkarnain. Menurutnya, masyarakat Gayo, yang tersebar di berbagai negara, menyambut gembira inisiatif ini. “Penerjemahan Al-Qur’an ke dalam Bahasa Gayo sangat diperlukan untuk menjaga dan memahami ajaran Islam bagi komunitas kami,” terangnya. Pj Bupati Aceh Tengah, Subandi, menyatakan bahwa peristiwa ini menandai sejarah baru. Sebab, ini adalah terjemahan Al-Qur’an pertama dalam Bahasa Gayo. Ia berterima kasih kepada Kementerian Agama yang telah menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam Bahasa Gayo, salah satu dari sepuluh bahasa yang ada di aplikasi Qur’an Kemenag. “Ini adalah titik tolak untuk pengembangan dan pelestarian bahasa dan budaya Gayo,” jelas Subandi. Rektor IAIN Takengon, Ridwan Nurdin, menambahkan bahwa terjemahan ini bukan hanya sekadar teks, tetapi juga menjadi panduan yang paling dekat dengan masyarakat Gayo. “Ini adalah produk pendidikan dan akan menjadi rujukan bagi perkembangan bahasa Gayo di masa depan. Dan kita patut bangga karena terjemah ini sudah masuk dalam bentuk digital pada aplikasi Qur’an Kemenag,” katanya.

Read More

Mengenal Sosok Waliyullah yang Dipuji Gus Dur

Surabaya — 1miliarsantri.net : Kiai Abdullah Zain Salam merupakan seorang teladan Muslimin Indonesia, khususnya bagi warga Nahdliyin. Mantan ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang juga presiden RI keempat, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur bahkan memujinya sebagai ulama besar. Cucu Hadratusy Syekh Hasyim Asy’ari itu memandang Kiai Abdullah Zain Salam sebagai seorang wali Allah yang memiliki makrifat. Mbah Dullah–demikian sapaaan akrabnya–dipandang sebagai satu dari tiga ulama pesantren panutan Gus Dur. Adapun dua nama lainnya adalah KH Abdullah Abbas dan KH Abdullah Faqih. Masing-masing berasal dari Cirebon (Jawa Barat) dan Tuban (Jawa Timur). KH Abdullah Zain Salam atau Mbah Dullah lahir di Kajen, Margoyoso, Pati (Jawa Tengah), pada 1920. Namun, ada sumber lain yang menyebut bahwa tokoh ini lahir pada 1910 atau 1915. Setelah menyelesaikan pendidikan di Kajen, Abdullah kemudian melanjutkan rihlah keilmuannya ke Pondok Pesantren Tebuireng yang diasuh Hadratusy Syekh Hasyim Asy’ari. Ia juga pernah melakukan safari keilmuan ke Kudus, Jawa Tengah, khususnya untuk menimba ilmu qira’ah sab’ah dari KH Arwani Amin Said. Di samping itu, dirinya belajar kepada seorang ulama-sufi, KH Abdul Hamid, asal Pasuruan. Setelah itu, barulah lelaki ini kembali ke Kajen untuk mengajar di Perguruan Islam Matholi’ul Falah sekaligus mengasuh Pondok Pesantren Mathali’ul Huda. Mbah Dullah masyhur sebagai pakar kajian dan tafsir Alquran. Dalam hal ini, ia sukses melakukan kaderisasi ilmu kepada sejumlah santrinya. Hal itu dilakukannya dengan penuh disiplin dan ketegasan. Dari orang-orang terdekatnya, bermunculan tokoh-tokoh umat yang disegani dan penuh keteladanan. Seorang di antaranya adalah KH Sahal Mahfudz, rais aam PBNU periode 1999-2014 dan ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) 2000-2010. Kiai Sahal merupakan keponakan Mbah Dullah. Sama seperti pamannya, ia lahir di Kajen, Pati.

Read More

Wadi Ranuna menjadi lokasi shalat Jumat pertama Rasulullah SAW

Jakarta — 1miliarsantri.net : Buku Hayatu Muhammad karya Husein Haykal mengungkapkan lokasi shalat Jumat pertama yang didirikan Rasulullah SAW. Tempat yang dimaksud adalah Wadi Ranuna. Jaraknya sekitar 1 kilometer dari Masjid Quba atau 4 km dari Madinah al-Munawarah. Hanafi al-Mahlawi dalam bukunya, Al-Amakin al-Masyhurah Fi Hayati Muhammad, menerangkan isi khutbah Nabi Muhammad SAW di Wadi Ranuna kala itu sebagai berikut. “Segala puji bagi Allah, kepada-Nya aku memohon pertolongan, ampunan, dan petunjuk. Aku beriman kepada Allah dan tidak kufur kepada-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan, aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Dia telah mengutusnya dengan petunjuk dan agama yang benar, dengan cahaya dan pelajaran, setelah lama tidak ada rasul yang diutus, minimnya ilmu, dan banyaknya kesesatan pada manusia di kala zaman menjelang akhir dan ajal kian dekat. Barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya ia telah mendapatkan petunjuk. Dan, barang siapa yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya ia telah melampaui batas dan tersesat dengan kesesatan yang sangat jauh. Aku berwasiat kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah. Itulah wasiat terbaik bagi seorang Muslim. Dan, seorang Muslim hendaknya selalu ingat akhirat dan menyeru kepada ketakwaan kepada Allah. Berhati-hatilah terhadap yang diperingatkan Allah. Sebab, itulah peringatan yang tiada tandingannya. Sesungguhnya ketakwaan kepada Allah yang dilaksanakan karena takut kepada-Nya, ia akan memperoleh pertolongan Allah atas segala urusan akhirat. Barangsiapa yang selalu memperbaiki hubungan dirinya dengan Allah, baik di kala sendiri maupun di tengah keramaian, dan ia melakukan itu tidak lain kecuali hanya mengharapkan ridha Allah, maka baginya kesuksesan di dunia dan tabungan pahala setelah mati, yaitu ketika setiap orang membutuhkan balasan atas apa yang telah dilakukannya. Dan, jika ia tidak melakukan semua itu, pastilah ia berharap agar masanya menjadi lebih panjang. ‘Dan Allah memperingatkan kamu akan siksa-Nya. dan Allah Mahasayang kepada hamba-hamba-Nya’ (QS Ali Imran [3]: 30). Dialah Zat yang benar firman-Nya, melaksanakan janji-Nya, dan semua itu tidak pernah teringkari. Allah berfirman, ‘Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah, dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku’ (QS Qaf [50]: 29). Karenanya, bertakwalah kalian kepada Allah dalam urusan sekarang maupun yang akan datang, dalam kerahasiaan maupun terang-terangan. ‘Sesungguhnya barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya’ (QS At-Thalaq [65]: 5).

Read More

Setahun Konflik Palestina-Israel Telan 42.000 Korban Jiwa

Jakarta — 1miliarsantri.net : Oktober 2024 menjadi menandai setahun konflik antara Palestina dengan Israel. Konflik besar yang dimulai pada 7 Oktober 2023 lalu ini diperkirakan menelan korban jiwa sebanyak 42.000 warga Palestina. Terkait konflik yang berkepanjangan itu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Cholil Staquf (Gus Yahya) menegaskan pentingnya menghentikan kekerasan di Gaza. Ia menekankan bahwa apapun alasannya, kekerasan harus diakhiri sebelum menyoal hal lain. Hal itu diungkapkan sebagai respons atas terjadinya konflik yang berujung pada genosida di Gaza, Palestina yang telah berlangsung selama setahun, sejak 7 Oktober 2023 lalu. “Kami sudah menyatakan, sejak itu (perang) meletus, pernyataan kami adalah hentikan kekerasan, hentikan kekerasan segera. Apapun alasannya, urusan yang lain, soal nanti kita berunding, tapi berhenti dulu kekerasan,” kata Gus Yahya. Dia juga memperingatkan, konflik yang tidak berkesudahan itu juga menjalar ke negara-negara tetangga yakni Lebanon, Iran, dan Yaman. Gus Yahya mewanti-wanti bahwa konflik yang tidak segera diatasi itu dapat mengancam dunia dari bayang-bayang perang besar. “Karena kalau kekerasan tidak berhenti, kekerasan apapun, selama tidak dihentikan, dia akan terus meluas, dan karena ini tidak dihentikan sampai sekarang, ini akan terus meluas,” ucapnya. Kalau tidak dihentikan, jangan kaget kalau kemudian meluas sampai kita berada dalam ancaman perang besar yang luar biasa berbahaya bagi dunia,” tambah Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah itu. Dalam konteks ini, PBNU mendorong dialog dan diplomasi dalam menghadapi situasi krisis di Gaza. Sementara itu, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti menyampaikan duka cita, dan Muhammadiyah terus berkomitmen untuk membantu rakyat Palestina supaya lepas dari penjajahan Israel. Muhammadiyah melalui Lazismu dan Muhammadiyah AID, kata Mu’ti, terus membantu rakyat Palestina baik dalam bentuk barang dan lain sebagainya, termasuk bantuan di bidang pendidikan bagi anak-anak Palestina terdampak konflik berkepanjangan.

Read More

Daftar 100 Pesantren yang Terima SK Izin Operasional

Jakarta — 1miliarsantri.net : Kementerian Agama (Kemenag) menyerahkan Surat Keputusan (SK) Izin Operasional 100 lembaga pendidikan pesantren jalur formal. Penyerahan SK ini berlangsung di kantor pusat Kementerian Agama, Jakarta, Senin (7/10/2024). Bersamaan itu, dilakukan penandatanganan pakta integritas oleh lembaga penerima SK. Sebanyak 100 lembaga pesantren yang menerima SK terbagi dalam tiga kategori. Pertama, tiga lembaga Ma’had Aly. Kedua, 28 lembaga Pendidikan Diniyah Formal (PDF). Ketiga, 69 lembaga Satuan Pendidikan Mu’adalah (SPM). Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren), Basnang Said menyebut penyerahan ini merupakan implementasi dari Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren. Regulasi ini memberikan rekognisi pesantren sebagai institusi pendidikan formal, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Basnang Said menekankan pentingnya pengakuan terhadap pesantren sebagai institusi pendidikan formal yang sejajar dengan lembaga pendidikan umum lainnya seperti madrasah, hingga perguruan tinggi. “Pesantren, tidak ada bedanya dengan pendidikan formal lainnya. Negara harus terus mendukung perkembangan pesantren. Negara juga harus berterima kasih lebih besar kepada pesantren. Karena pesantren adalah bagian dari perjuangan besar dalam menjaga dan mempertahankan bangsa,” ujarnya. Basnang Said lebih lanjut menjelaskan bahwa pesantren formal saat ini telah berkembang pesat, dengan banyak lembaga yang berhasil mengintegrasikan pendidikan dari jenjang dasar hingga perguruan tinggi. “Ma’had Aly, misalnya, kini sejajar dengan perguruan tinggi lainnya dalam hal pengakuan negara,” tambahnya. Penyerahan SK ini bukan hanya sebuah formalitas, tetapi juga memberikan hak-hak dasar bagi pesantren, seperti akses terhadap dana BOS untuk siswa-siswi pesantren. Dengan SK ini, diharapkan pesantren dapat terus meningkatkan kualitas pendidikan dan melahirkan generasi yang tidak hanya paham agama, tetapi juga siap menghadapi tantangan zaman. Sebagai penutup, Basnang mengingatkan bahwa Hari Santri Nasional yang akan diperingati pada 22 Oktober 2024 harus diperingati dan dimeriahkan. Menurutnya, ini merupakan momentum penting untuk mengenang perjuangan pesantren dalam mempertahankan NKRI. “Kami juga berharap pondok pesantren di seluruh Indonesia dapat melaksanakan upacara atau apel Hari Santri di lingkungan masing-masing,” pesannya. Berikut daftar 100 lembaga yang menerima SK Ijin Operasional:

Read More

Mengenal Suku Kajang yang Jadi Benteng Hutan Sulawesi

Jakarta — 1miliarsantri.net : Sinar matahari pagi menerobos kanopi hutan hujan, menerangi pondok bambu yang terletak di celah antara pepohonan. Seorang pria tua dengan wajah keriput duduk bersila, matanya tertutup, dan dia berbisik mengucapkan doa-doa kepada bumi. Setelah sang pemimpin spiritual, Ammatoa terdiam, sekelompok pria yang mengenakan sarung indigo gelap berdiri dan menuju ke hutan dengan membawa persembahan berupa keranjang rotan berisi nasi, pisang, dan lilin yang menyala. “Bumi marah kepada kita,” kata Budi, seorang anak laki-laki tanpa alas kaki yang duduk di tepi pondok, seperti dikutip dari artikel Washington Post yang dipublikasikan pada 2023. “Itulah mengapa cuaca semakin buruk. Hujan semakin sering dan banjir terjadi lebih sering. Udara juga semakin panas. Ini karena kita telah berdosa.” Ritual ini dikenal sebagai Andingingi, yang diadakan setahun sekali oleh Suku Kajang, suku di Kabupaten Bulukamba, Pulau Sulawesi, Indonesia. Seperti banyak bagian dunia lainnya, tanah mereka juga mengalami perubahan iklim yang menyebabkan cuaca semakin ekstrem. Namun, citra satelit menunjukkan hutan primer Kajang yang lebat bebas dari jalan dan pembangunan, sehingga mampu menyerap hujan deras yang menghancurkan wilayah lain di pulau itu. Di tengah maraknya deforestasi global, pemberdayaan masyarakat adat seperti Kajang muncul sebagai salah satu cara utama untuk melindungi hutan hujan dunia. Beberapa penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa ketika masyarakat adat diberi hak atas tanah, mereka terbukti menjadi penjaga yang sangat efektif dalam menjaga kelestarian hutan. Komunitas-komunitas ini mengelola sekitar setengah dari tanah dunia dan 80 persen keanekaragaman hayati. Di sisi lain, keraguan telah muncul mengenai efektivitas program-program seperti carbon offset dan inisiatif lain yang bertujuan untuk mengurangi deforestasi meskipun miliaran dolar telah dialokasikan untuk program tersebut. Kajian landmark dari PBB pada 2021, yang mengkaji lebih dari 300 penelitian, menyimpulkan bahwa budaya-budaya adat telah berkontribusi dalam mengurangi perusakan hutan dengan berbagai cara. Kajang memberikan contoh tentang bagaimana kelompok adat menjaga hutan mereka. Komunitas ini hidup berdasarkan “Pasang Ri Kajang”, hukum leluhur yang diwariskan secara lisan melalui legenda dan cerita. Menurut mereka, manusia pertama jatuh dari langit ke hutan mereka, yang membuatnya menjadi tempat paling sakral di Bumi. Dalam praktiknya, hal ini berarti bahwa hutan adalah pusat kehidupan. Kajang bergantung pada pertanian subsisten, tanpa adanya industri atau perdagangan. Menebang pohon, berburu hewan, bahkan mencabut rumput dilarang di sebagian besar wilayah mereka. Teknologi modern seperti mobil dan ponsel tidak diizinkan dalam wilayah adat. “Pohon itu seperti tubuh manusia,” kata Mail, seorang anggota suku Kajang berusia 28 tahun. “Jika kita melestarikan hutan, kita juga melestarikan diri kita sendiri. Tapi jika hutan hancur, tidak akan ada lagi kehidupan.” Meskipun begitu, hingga saat ini, suku-suku adat belum mendapatkan dukungan hukum, finansial, atau institusional yang memadai. Sebuah laporan dari Rainforest Foundation Norway pada 2021 mengungkapkan bahwa dalam satu dekade terakhir, masyarakat adat hanya menerima kurang dari 1 persen pendanaan donor untuk memerangi deforestasi. Namun, kebijakan mulai berubah dengan pengakuan peran penting masyarakat adat dalam menjaga lingkungan. Sebuah studi global yang diterbitkan di jurnal Nature Sustainability pada 2021 menemukan di wilayah tropis, lahan yang dikelola oleh masyarakat adat memiliki tingkat deforestasi 20 persen lebih rendah dibandingkan area yang tidak dilindungi. Pada Konferensi Perubahan Iklim PBB tahun 2021 atau COP26, para pemimpin dunia berjanji akan memberikan pendanaan sebesar 1,7 miliar dolar AS untuk komunitas-komunitas adat, menyebut mereka sebagai “penjaga hutan.”

Read More