Kisah Al-Fatih, Sang Penakluk dari Turki Utsmani

Dengarkan Artikel Ini

Jakarta — 1miliarsantri.net : Dimasa modern ini, siapa yang tak kenal sosok Al-Fatih? Sosok raja belia penguasa Turki Utsmani yang juga penakluk tanah suci bangsa Romawi, yakni Konstantinopel. Nama besarnya adalah Muhammad al-Fatih yang berarti Muhammad Sang Penakluk.

Nama panggilannya adalah Mehmed II, ia merupakan anak dari Murad II yang juga merupakan penguasa Turki Utsmani, selain menjadi sosok ayah Murad II juga adalah guru bagi Mehmed II. Murad II selalu menanamkan kepada Mehmed II sikap-sikap sebagai pemimpin yang layak bagi kaum muslimin dan menjadi sosok yang kelak akan menaklukkan Konstantinopel.

Konstantinopel adalah tanah suci bangsa Romawi yang juga merupakan puncak mimpi tertinggi para pemimpin muslim. Bagaimana tidak? Sejak zaman Rasulullah Muhammad SAW, kota ini adalah kota yang digadang-gadang hanya bisa ditaklukkan oleh sebaik-baik pemimpin dan sebak-baik pasukannya pula.

Hal inilah yang membuat banyak para pemimpin muslim dari zaman dahulu berlomba-lomba melakukan ekspedisi besar-besaran dalam rangka merealisasikan nubuwat tersebut.Secara geografis, Konstantinopel adalah kota yang berada diantara Eropa dan Asia.

Tanahnya yang subur dan berada di tempat yang strategis, membuat kota ini menjadi layak diperebutkan oleh banyak bangsa lainnya. Konstantinopel juga merupakan kota sebagai pusat pedagangan dunia yang melalui jalur laut.

Selat Borphorus merupakan ‘pintu gerbang’ jalur perdagangan laut sebagi tempat keluar-masuknya kapal-kapal para pedagang dari atau ke Asia-Eropa. Tingkat ekonomi yang luar biasa maju sekalilagi membuatnya menjadi kota yang layak ditaklukkan.

Ketika al-Fatih menduduki takhta kerajaan Utsmani menggantikan ayahnya Murrad II, beliau langsung mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk melakukan penaklukan.

Mulai dari perbekalan logistik untuk para pasukan selama masa penaklukkan, persenjataan lengkap bagi para pasukannya, baik berupa senjata ringan seperti pedang, busur dan anak panahnya, bahkan hingga meriam raksasa yang kelak menjadi kunci kemenangan pasukannya.

Salah satu momen paling memorable adalah ketika al-Fatih membuat keputusan diluar nalar untuk melayarkan kapalnya melintasi gunung di pinggiran Selat Bhorporus. Keputusan ini ia ambil dikarenakan saat itu kapal-kapal pembawa logistik pasukan tidak dapat melewati selat karena dihadang oleh rantai raksasa yang membentang melintangi selat.


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca