Arsitektur Tradisional Rumah Perahu Tanah Periuk

Jakarta — 1miliarsantri.net : Arsitektur tradisional merupakan wujud pengetahuan dan teknologi yang dihasilkan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Lahirnya bentuk-bentuk arsitektur tradisional menjadi perwujudan aktif manusia terhadap tantangan dan adaptasinya dengan lingkungan. Salah satu bentuk arsitektur tradisional yang selalu berdampingan dengan kehidupan manusia adalah bangunan tempat tinggal. Kita dapat menemukan berbagai macam bentuk, gaya bangunan, konstruksi, tata ruang, ragam hias, dan makna filosofis bangunan di masing-masing wilayah. Pembangunannya berlangsung turun temurun. Keanekaragaman wujud bangunan tersebut membuktikan kekayaan produk budaya setempat. Misalnya bangunan tempat tinggal Melayu Jambi yang dibedakan dalam tiga spesifikasi, yakni Rumah Suku Kerinci, Orang Rimba, dan Suku Batin. Ketiga jenis bangunan memiliki perbedaan dari sisi bentuk, ragam hias, tata ruang, fungsi, dan makna filosofisnya. Arsitektur tradisional Rumah Perahu di Tanah Periuk, Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi, juga memiliki keunikan. Secara fisik bangunan menyerupai bentuk perahu. Oleh sebab itu masyarakat menyebutnya rumah perahu. Rumah Perahu di Tanah Periuk menggambarkan simbol kehidupan masyarakat yang dekat dengan lingkungan perairan. Sungai menjadi sumber kehidupan penting sebagai jalur transportasi, interaksi sosial, dan sumber ekonomi. Untuk pengejawantahannya adalah membangun simbol perahu pada rumah sebagai tempat interaksi sosial keluarga dan masyarakat. Rumah tidak hanya dipandang sebagai tempat istirahat tetapi juga memiliki fungsi penting dalam membangun hubungan sesama manusia, manusia dan lingkungan, serta manusia dan Tuhan. Oleh sebab itu, rumah memiliki fungsi ganda, sebagai tempat tinggal sehari-hari sekaligus penyelenggaraan acara adat. Tata ruangnya berubah fungsi sesuai dengan aturan adat yang berlaku. Jika diperhatikan dari bentuk, fungsi, dan tata ruang, Rumah Perahu Tanah Periuk memiliki tiga akar budaya, yakni religi, adat istiadat, dan lingkungan kehidupan sungai. Konstruksi bangunan tidak menggunakan paku melainkan pasak yang terbuat dari kayu. Bagian bangunan dibagi menjadi tiga, yakni di bagian bawah, tengah, dan atas. Pada bagian bawah terdapat pondasi menggunakan batu kali yang permukaannya rata untuk memudahkan tiang berdiri. Masyarakat sering juga menyebutnya dengan istilah sendi. Untuk menguatkan posisi batu supaya tidak bergerak, sebagian permukaan batu ditanam dalam tanah. Ruang bagian bawah juga difungsikan sebagai tempat menyimpan kayu bakar dan memasak pada saat ada acara pesta. Tiang bangunan yang bertumpu pada sendi berjumlah 24 batang. Salah satu dari tiang tersebut berfungsi sebagai tiang tuo. Posisinya berada pada tiang ke dua ruang penteh. Penempatan tiang tuo berada di lantai ruang penteh sebagai simbol bahwa ruang tersebut merupakan tempat duduknya para tokoh adat pada saat ada upacara adat. Tiang dibuat dalam bentuk persegi delapan dengan tinggi 1,5 meter dari dasar tanah hingga lantai. Bagian tengah bangunan terdapat lantai. Lantai terbuat dari dua tingkat, yaitu lantai ruang tengah, kamar, dan gaho dibuat sama tinggi. Ruang penteh dibuat lebih tinggi sekitar 30 cm. Lantainya dibangun melintangi lantai ruang tengah. Dinding bagian depan dibuat lebih rendah dengan tinggi sekitar 50 cm. Saat orang duduk, maka kelihatan separuh badan. Dinding tersebut dibuat rendah agar orang yang ada di atas rumah dapat berkomunikasi dengan orang yang ada di bawah. Hal ini sejalan dengan aturan adat yang tidak membolehkan seorang laki-laki bertamu ke atas rumah, jika orang yang ada di atas rumah hanya perempuan, kecuali ada hubungan kekerabatan. Dinding papan dipasang melintang, pada bagian inilah terdapat motif ukiran. Pada kedua ujung papan dibuat melengkung ke atas hingga menyerupai haluan dan buritan. Di bagian dinding ruang tengah terdapat tiga jendela besar dan satu di ruang penteh. Jendela tersebut memiliki daun pintu yang sama besar ruang jendela. Jika daun pintu jendela diturunkan, maka sekaligus berfungsi sebagai dinding.

Read More

LP Ma’arif NU Bekasi Dorong Pemerintah Tingkatkan Pemberdayaan Pesantren

Bekasi – 1miliarsantri.net : Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU) Kabupaten Bekasi, Romdoni Sugianto Hasan menghadiri agenda Haul Syuhada Hizbullah yang diselenggarakan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bekasi di Gedung Hizbullah, Cikarang Selatan, Senin (21/10/2024) lalu. Hadir dalam acara tersebut Ketua PCNU Kabupaten Bekasi, KH Atok Romli Musthofa, H Tamam selaku Dzuriyah KH M Jamil Laskar Hizbullah, Iman dzuriyah (keturananan dari KH M Muslich. “Alhamdulillah, bersyukur sekali saat itu saya bisa berada di tengah-tengah para dzuriah keluarga pendiri Hizbullah ini merupakan nikmat yang luarbiasa buat saya,” terang Romdoni saat dikonfirmasi 1miliarsantri.net, Ahad (27/10/2024). Romdoni melanjutkan, perjuangan para syuhada Hizbullah ini harus kita terus ingat dan terus kita kobarkan semangat juangnya, menjadi tekad saya utnuk mendorong pemerintah daerah membuatkan buku saku untuk para anak-anak kita di sekolah agar mereka tahu, kita kabupaten Bekasi punya para pejuang untuk republik Indonesia. “Iya, anak-anak kita harus tahu, kita punya pejuang, kita punya idola, kita harus ingat agar menjadi semanagat cintah tanah air, dan turut ikut mendoakan para pejuang hizbullah dan pejuang lainnya yang ada di kabupaten Bekasi,” lanjut Romdoni

Read More

9 Keutamaan Aisyah Istri Rasulullah SAW

Jakarta — 1miliarsantri.net : Istri ketiga Rasulullah SAW, Aisyah binti Abu Bakar, merupakan salah satu figur paling berpengaruh dalam sejarah Islam. Ia dikenal karena kecerdasannya, wawasannya yang luas, serta ingatannya yang kuat. Dalam sebuah hadits, terdapat sembilan alasan yang menjelaskan keistimewaan Sayyidah Aisyah RA, yang menjadikannya teladan bagi Muslimah di seluruh dunia. Ustadzah Asiyah Farid binti Syeikh Abu Bakar dalam kajian ‘Indahnya Cinta Aisyah’, Ahad (27/10/2024), menyampaikan Abdullah bin Shafwan datang menemui Aisyah dan mendengar penjelasan dari Aisyah tentang sembilan keutamaan yang dimilikinya. Keutamaan Istri Nabi Muhammad, Aisyah binti Abu Bakar “Diriwayatkan dari Aisyah (r.a.), ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Aku diperlihatkan dirimu dalam mimpi selama tiga malam. Malaikat datang kepadaku dengan membawa dirimu dalam secarik kain sutra, lalu ia berkata, ‘Ini adalah istrimu.’ Aku pun membuka kain itu dan ternyata engkau (Aisyah) yang ada di dalamnya. Maka aku berkata, ‘Jika ini dari Allah, niscaya Dia akan melaksanakannya (Muttafaq ‘alaih).” Di antara semua istri Rasulullah SAW, hanya Aisyah r.a. yang dinikahi Nabi sebagai gadis. Keistimewaan ini menunjukkan kehormatan khusus bagi Aisyah, karena beliau adalah satu-satunya istri yang tidak pernah dinikahi oleh orang lain sebelumnya. Selama Rasulullah SAW hidup, wahyu dari Allah SWT turun kepada beliau dalam berbagai situasi. Salah satu keistimewaan Aisyah adalah bahwa wahyu turun kepada Rasulullah SAW saat beliau berada di dalam selimutnya.

Read More

Telik Sandi Ratu Kalinyamat

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Pada Zaman dahulu ada istilah yg disebut Telik Sandi, era sekarang dikenal Intelejen. Yakni seseorang yang diberi tugas khusus, biasanya dikemas dalam penyamaran untuk menutupi identitas, demi mengumpulkan data atau bukti-bukti, tidak lepas dari memantau gerak-gerik target operasi. Memiliki berbagai tujuan, intinya bermisikan rahasia. Susah ditebak, kecuali sesama Telik Sandi. Teringat sejarahnya Ratu Kalinyamat, Pendekar tanpa tanding, perempuan Jawa yang tangguh. Setidaknya memiliki 400-an Telik Sandi terlatih. Disebar di Jawa dan menyusup keberbagai kerajaan yang ada di luar Jawa. Bahkan ada yang pura-pura jadi antek-antek Portugis. Untuk apa demikian?! Silahkan baca keterangan saya diparagraf pertama. Biar tidak gagal fokus! Suatu hari seorang Pangeran, salah satu putra Kasultanan Samodra Pasai hendak diculik oleh pasukan Portugis. Targetnya dibunuh! Skenario pembunuhan direkayasa seolah-olah dilakukan oleh prajurit utusan Ratu Kalinyamat. Kemudian Portugis lepas tangan! Artinya jika terlaksana secara mulus, Ratu Kalinyamat akan bentrok dengan Sultan Samodra Pasai. Adu domba tingkat sadis! Portugis berpikir Wong Jawa tidak memiliki skill sebagai Intelegen yang berkapasitas brilian. Siasat pun dijalankan! Beberapa Wong Jawa dibeli dengan kepingan emas, wanita cantik-cantik dipersiapkan, arak kelas kakap dihidangkan. Berbulan-bulan pesta digelar, tentu demi menyenangkan beberapa Wong Jawa yang dianggap bisa dijadikan bonekanya. Dan Portugis beranggapan berhasil! Padahal gagal total! Beberapa Wong Jawa itu sesungguhnya pasukan Telik Sandi Ratu Kalinyamat. Sebelum beraksi perintah pembunuhan terhadap Sang Pangeran Kasultanan Samodra Pasai berlangsung, jauh-jauh hari Sang Ratu Kalinyamat sudah menyiapkan siasat lebih cerdik. Skenario pembunuhan ala Portugis dijalankan, namun yang dibunuh bukan Sang Pangeran, akan tetapi salah satu pesuruh Portugis. Penghianat wajib dibabat! Lebih awal lebih baik. Ini maklumat, mulut manis bermuka dua harus dilenyapkan dari Nusantara. Kemudian! Mayat yang disangka Pangeran, diserahkan! Dengan catatan, dijemput sendiri dengan kapal besar Portugis, tepatnya dipertengahan selat Malaka dan wajib diterima langsung oleh pemimpin pasukan. Ini sudah menjadi perjanjian sekaligus skema di awal.

Read More

Mengungkap Keajaiban 26 Rabiul Akhir dalam Sejarah Muslim

Jakarta — 1miliarsantri.net : Pernahkah Anda mendengar tentang hari yang mengubah wajah Islam? Tanggal 26 Rabiul Akhir mungkin terdengar biasa, namun di balik angka ini tersimpan kisah yang menggetarkan jiwa. Mari kita singkap tabir sejarah dan temukan mengapa hari ini begitu istimewa bagi umat Muslim di seluruh dunia. Bayangkan sebuah era di mana keadilan bukan hanya slogan, tetapi kenyataan yang hidup. Inilah yang terjadi di bawah kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, sosok yang wafat tepat pada 26 Rabiul Akhir. Kepeloporannya dalam menegakkan keadilan sosial membuat banyak orang menyebutnya sebagai “Khalifah Kelima” setelah empat khalifah utama Islam. Namun, kisah 26 Rabiul Akhir tidak berhenti di situ. Bulan ini juga menjadi saksi bisu atas pengangkatan Umar bin Khattab sebagai khalifah kedua Islam. Pria yang dulunya dikenal keras ini justru menjadi simbol ketegasan yang bijaksana dalam memimpin umat. Tidak hanya tentang kepemimpinan, Rabiul Akhir juga diwarnai dengan heroisme di medan perang. Perang Najran, Al-Ghabah, dan Ghamr – semua ini bukan sekadar pertempuran fisik, melainkan ujian keteguhan iman yang membuktikan bahwa kekuatan sejati berasal dari keyakinan yang tak tergoyahkan. Di tengah hiruk pikuk sejarah, 26 Rabiul Akhir menyimpan pesan tersembunyi. Hari ini mengajarkan kita bahwa perubahan besar dimulai dari hal kecil. Umar bin Abdul Aziz membuktikannya dengan kebijakan redistribusi kekayaan yang revolusioner. Meski tidak ada ritual khusus pada tanggal ini, 26 Rabiul Akhir menjadi momentum bagi umat Muslim untuk melakukan muhasabah. Ini adalah waktu yang tepat untuk merenung, memperbaiki diri, dan memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta.

Read More

Ilmuwan Perkirakan Kawah Tertua di Bulan Berusia 4,32 Miliar Tahun

Jakarta — 1miliarsantri.net : Ilmuwan telah menemukan bahwa cekungan tumbukan tertua dan terbesar di bulan, yang disebut cekungan Kutub Selatan-Aitken (SPA), berusia lebih dari 4,32 miliar tahun. Kawah besar ini, yang terletak di sisi terjauh bulan dan membentang lebih dari 2.000 kilometer, terbentuk oleh tumbukan asteroid besar. Penelitian baru ini mengungkap sejarah awal bulan dan memberikan wawasan tentang tumbukan yang membentuk permukaannya. Bulan, seperti Bumi, telah ditabrak oleh banyak asteroid dan komet selama miliaran tahun. Tumbukan ini telah meninggalkan kawah dan cekungan. Namun, para ilmuwan telah lama berjuang untuk mencari tahu kapan tepatnya tumbukan terbesar ini terjadi. Sekarang, dengan mempelajari meteorit bulan, para peneliti yakin mereka telah menentukan usia cekungan SPA. Tim yang dipimpin oleh para ilmuwan dari Universitas Manchester menganalisis sebuah meteorit bernama Northwest Africa 2995, yang ditemukan di Aljazair pada tahun 2005. Meteorit ini, yang dikenal sebagai breksi regolit, terdiri dari pecahan-pecahan berbagai jenis batuan yang dulunya merupakan bagian dari permukaan bulan. Batuan-batuan ini menyatu karena panas dan tekanan dari sebuah tumbukan purba. Dengan memeriksa jumlah uranium dan timbal dalam meteorit tersebut, para peneliti dapat menentukan tanggal pecahan-pecahan batuan tersebut kembali ke antara 4,32 dan 4,33 miliar tahun yang lalu. Ini berarti cekungan SPA terbentuk sekitar 120 juta tahun lebih awal daripada yang sebelumnya diperkirakan para ilmuwan sebagai periode tumbukan asteroid paling intens di bulan. Selama bertahun-tahun, para ilmuwan percaya bahwa pemboman paling signifikan di bulan terjadi antara 4,2 dan 3,8 miliar tahun yang lalu.

Read More

Waspadai Kaum Khawarij: Ahli Ibadah yang Suka Tebar Fitnah

Jakarta — 1miliarsantri.net : Kaum Khawarij merupakan sebuah kelompok yang membuat fitnah umat hingga akhir zaman. Mereka bahkan disebutkan akan menjadi kelompok yang mendukung Dajjal. Rasulullah SAW langsung mengecam kaum ini meski mereka merupakan ahli ibadah. Ustaz Dr Sufyan Baswedan, dalam sebuah kajian beberapa waktu lalu, menuturkan, ada beberapa sifat kaum Khawarij yang perlu diketahui oleh kaum Muslim. Sifat pertama, mereka adalah ahli ibadah. Bahkan, karena sangat berlebihannya orang-orang Khawarij dalam beribadah, Rasulullah SAW pun sampai-sampai mengatakan bahwa ibadahnya para sahabat tidak akan ada apa-apanya bila dibandingkan dengan ibadah mereka. Bacaan Alquran mereka jauh lebih banyak daripada bacaannya para sahabat. Mereka pun giat melaksanakan ibadah puasa. Tidak hanya itu, Rasulullah SAW juga menggambarkan bahwa mereka lebih rajin mengerjakan shalat daripada para sahabat. Akan tetapi, semua ibadah yang mereka lakukan tersebut sama sekali tidak memberi manfaat bagi mereka. Ayat-ayat Alquran yang mereka baca hanya sebatas di mulut, tidak sampai masuk ke dalam relung hati mereka. Sifat yang kedua, orang-orang Khawarij sangat gemar mengafirkan sesama Muslim. Menurut akidah mereka, Muslim yang berbohong adalah kafir, Muslim yang mencuri pun adalah kafir. Begitu pula dengan Muslim yang berzina, juga disebut kafir dan keluar dari Islam oleh mereka. Tidak hanya itu, mereka juga tidak segan-segan menghalalkan darah kaum Muslim yang tidak sepemahaman dengan mereka. “Betapa berbahayanya pemikiran kaum Khawarij sehingga wajar bila Rasulullah SAW mengecam mereka dengan bahasa yang sangat pedas,”ujar Ustaz Sufyan saat mengisi kajian sunah bakda Isya di Masjid as-Salam yang beralamat di Jalan Jatiluhur Raya Nomor 11, Jakasampurna, Bekasi, Jawa Barat.

Read More

Kaum Pertama yang Menyembah Berhala usai Banjir Nabi Nuh

Jakarta — 1miliarsantri.net : Kaum Nabi Hud Alaihissalam adalah bangsa Arab yang mendiami bukit-bukit pasir yang terletak di Yaman, mulai dari Aman sampai Hadramaut. Suatu wilayah yang dekat dengan laut yang disebut Asy-Syahr. Mereka tinggal di tenda-tenda bertiang besar. Mereka adalah kaum Aad yang pertama. Kaum Aad tinggal di kota yang disebut Iram. Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam bukunya Al-Bidayah Wan-Nihayah yang diringkas Ahmad Al Khani menjelaskan, ada pendapat yang mengatakan bahwa Kota Iram adalah kota yang berpindah-pindah di muka bumi, terkadang ada di Syam, Yaman, Hijaz, dan terkadang di tempat lain. Pendapat tersebut adalah sesuatu yang jauh dari kebenaran dan perkataan yang tidak diperkuat dengan dalil. Di dalam sebuah hadis yang panjang di dalam kitab Shahih karya Ibnu Hibban, diriwayatkan dari Abu Dzarr tentang para Nabi dan para Rasul, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Di antara mereka empat orang dari Arab yaitu Hud, Shaleh, Syuaib, dan Nabi kamu wahai Abu Dzarr. Kaum Aad adalah kaum yang pertama menyembah berhala setelah banjir di zaman Nabi Nuh Alaihissalam. Allah kemudian mengutus saudara mereka, Nabi Hud untuk menyeru kaum Aad agar menyembah Allah. Mereka adalah orang-orang Arab yang masih kafir dan menyembah berhala serta suka keras kepala, Nabi Hud diutus kepada mereka, akan tetapi mereka mendustakannya. Akhirnya Allah sebagai Dzat Yang Maha Perkasa dan Maha Kuasa, menyiksa mereka. Azab yang pertama diberikan kepada kaum Aad adalah tanah mereka dijadikan sangat tandus. Mereka lalu minta diturunkan hujan. Mereka menyaksikan sesuatu yang muncul di langit yang dikira air, sebagai rahmat, tetapi ternyata itu adalah siraman azab yang datang dalam bentuk badai, laksana lidah api.

Read More

Sejarah Sultan Selim I Meneguhkan Kedaulatan Turki

Jakarta — 1miliarsantri.net : Kemenangan dalam Perang Reydaniyya pada 1517 membuka jalan bagi Sultan Selim I untuk meneguhkan kedaulatan Turki Utsmaniyah di dunia Islam. Sebab, Dinasti Mamluk yang berhasil dikalahkannya mau tak mau mesti menyerahkan kepadanya kendali pemerintahan atas dua kota suci, Makkah dan Madinah. Berdasarkan catatan sejarah, Selim I tidak meneruskan titel yang biasa digunakan para penguasa Mamluk, yakni “Penguasa Dua Kota Suci” (Hakimu’l Haramain). Alih-alih demikian, sultan kesembilan Dinasti Utsmaniyah itu memilih gelar yang lebih bernada rendah hati: “Sang Pelayan Dua Kota Suci.” Dengan menguasai Haramain, Turki Utsmaniyah pun layak mengenakan julukan khilafah. Transisi kekhilafahan dari Dinasti Mamluk ke Turki ditandai dengan upacara simbolis di Konstantinopel (Istanbul) pada 1517. Mamluk diwakili al-Mutawakkil III, khalifah terakhir Dinasti Abbasiyah yang berlindung di Kairo setelah bangsa Mongol membumihanguskan Baghdad pada 1258—sehingga dirinya hanya menjadi “boneka” Dinasti Mamluk belaka sejak saat itu. Dalam perjalanannya ke ibu kota Turki, al-Mutawakkil III didampingi keluarganya. Selim I memperlakukan rombongan ini dengan penghormatan yang semestinya diberikan kepada kalangan ningrat. Menurut catatan sejarah tradisional Turki, upacara tersebut diiringi penyerahan beberapa lambang kekhilafahan Islam, seperti pedang dan mantel yang diyakini sebagai milik Nabi Muhammad SAW, dari khalifah lama kepada penguasa baru. Namun, narasi tentang prosesi tersebut sesungguhnya baru muncul di berbagai manuskrip pada 1780-an atau sesudah Perjanjian Kucuk Kaynarca yang mengakhiri perang antara Turki Utsmaniyah dan Rusia pada 1774. Cerita itu juga sering kali dikaitkan sebagai klaim yurisdiksi atas wilayah Muslim di luar Imperium Turki Utsmaniyah. Apa pun fakta sejarahnya, yang jelas jantung dunia Islam, yakni Makkah dan Madinah, sudah berhasil dikuasai Turki Utsmaniyah selama berabad-abad sejak kesuksesan Sultan Selim I dalam menaklukkan Mamluk.

Read More

Selim, Peneguh Status Kekhalifahan Turki Utsmaniyah

Jakarta — 1miliarsantri.net : Kemenangan dalam Perang Reydaniyya pada 1517 membuka jalan bagi Sultan Selim I untuk meneguhkan kedaulatan Turki Utsmaniyah di dunia Islam. Sebab, Dinasti Mamluk yang berhasil dikalahkannya mau tak mau mesti menyerahkan kepadanya kendali pemerintahan atas dua kota suci, Makkah dan Madinah. Berdasarkan catatan sejarah, Selim I tidak meneruskan titel yang biasa digunakan para penguasa Mamluk, yakni “Penguasa Dua Kota Suci” (Hakimu’l Haramain). Alih-alih demikian, sultan kesembilan Dinasti Utsmaniyah itu memilih gelar yang lebih bernada rendah hati: “Sang Pelayan Dua Kota Suci.” Dengan menguasai Haramain, Turki Utsmaniyah pun layak mengenakan julukan khilafah. Transisi kekhilafahan dari Dinasti Mamluk ke Turki ditandai dengan upacara simbolis di Konstantinopel (Istanbul) pada 1517. Mamluk diwakili al-Mutawakkil III, khalifah terakhir Dinasti Abbasiyah yang berlindung di Kairo setelah bangsa Mongol membumihanguskan Baghdad pada 1258—sehingga dirinya hanya menjadi “boneka” Dinasti Mamluk belaka sejak saat itu. Dalam perjalanannya ke ibu kota Turki, al-Mutawakkil III didampingi keluarganya. Selim I memperlakukan rombongan ini dengan penghormatan yang semestinya diberikan kepada kalangan ningrat. Menurut catatan sejarah tradisional Turki, upacara tersebut diiringi penyerahan beberapa lambang kekhilafahan Islam, seperti pedang dan mantel yang diyakini sebagai milik Nabi Muhammad SAW, dari khalifah lama kepada penguasa baru. Namun, narasi tentang prosesi tersebut sesungguhnya baru muncul di berbagai manuskrip pada 1780-an atau sesudah Perjanjian Kucuk Kaynarca yang mengakhiri perang antara Turki Utsmaniyah dan Rusia pada 1774. Cerita itu juga sering kali dikaitkan sebagai klaim yurisdiksi atas wilayah Muslim di luar Imperium Turki Utsmaniyah. Apa pun fakta sejarahnya, yang jelas jantung dunia Islam, yakni Makkah dan Madinah, sudah berhasil dikuasai Turki Utsmaniyah selama berabad-abad sejak kesuksesan Sultan Selim I dalam menaklukkan Mamluk.

Read More