Lagu tertua di dunia ditemukan sekitar abad ke-14 SM

Jakarta — 1miliarsantri.net : Para arkeolog telah menemukan seruling primitif yang terbuat dari tulang dan gading yang berasal dari 43.000 tahun yang lalu, dan kemungkinan besar banyak gaya musik kuno telah dilestarikan dalam tradisi lisan. Namun, jika menyangkut lagu-lagu tertentu, seperti apa lagu tertua di dunia? Yang dapat terdeteksi bisa dibilang masih relatif baru. Melansir History, fragmen notasi musik paling awal ditemukan pada lempengan tanah liat Sumeria berusia 4.000 tahun, yang mencakup instruksi dan nada untuk himne yang menghormati penguasa Lipit-Ishtar. Namun untuk judul lagu tertua yang pernah ada, sebagian besar sejarawan menunjuk kepada “Hurrian Hymn No. 6”, sebuah ode untuk Dewi Nikkal yang digubah dalam aksara paku atau prasasti oleh orang Hurrian kuno sekitar abad ke-14 SM. Lempengan tanah liat yang berisi nada tersebut digali pada 1950-an dari reruntuhan kota Ugarit, Suriah. Bersama dengan seperangkat notasi musik yang hampir lengkap, mereka juga menyertakan instruksi khusus tentang cara memainkan lagu tersebut pada sejenis kecapi bersenar sembilan. Ada juga beberapa upaya untuk memecahkan kode “Hurrian Hymn No. 6”, tetapi karena kesulitan dalam menerjemahkan prasasti kunonya, jadi tidak ada versi yang pasti. Salah satu interpretasi yang paling populer muncul pada tahun 2009, ketika komposer Suriah, Malek Jandali, membawakan himne kuno tersebut dengan orkestra lengkap. “Hurrian Hymn No. 6” dianggap sebagai melodi tertua di dunia, tetapi komposisi musik tertua yang bertahan secara keseluruhan adalah lagu Yunani abad pertama Masehi yang dikenal sebagai “Seikilos Epitaph”. Lagu tersebut ditemukan terukir pada kolom marmer kuno yang digunakan untuk menandai makam seorang wanita di Turki. Saya adalah batu nisan, sebuah gambar. Seikilos menempatkan saya di sini sebagai tanda abadi kenangan abadi,” demikian bunyi sebuah prasasti.

Read More

Kenapa Ada Banyak Raja Bernama Warman di Indonesia Zaman Dulu?

Jogjakarta — 1miliarsantri.nt : Sebelum ada Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Demak, ada banyak raja di Indonesia di masa lalu yang memiliki nama warman. Di Kalimantan ada Mulawarman, di Jawa Barat ada Purnawarman, belakangan di Sumatra ada Adityawarman yang tercatat lahir di Trowulan, Majapahit. Selain tiga warman itu, masih banyak lagi nama warman yang menjadi raja di Indoensia masa lalu. Apa arti warman, sehingga dipakai oleh para raja? Kutai di Kalimantan Timur tercatat sebagai kerajaan Hindu tertua di Kalimantan dengan raja-raja bernama warman. Raja pertama Kuia adalah Kudungga, tetapi kemudian berganti menjadi Dewawarman. Catatan Fa Hsien menyiratkan bahwa Dewawarman sangat mungkin adalah nama Hindu yang disandangkan kepada Kudungga oleh para brahmana dalam menulis ulang jalur nazab cucunya,” tulis Paul Michel Munoz di buku Kerajaan-Kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia. Menurut Paul Michel Munoz, Kudungga bukan dari bahasa Sanskerta. Ia menduga, Hinduisasi nama-nama raja Kutai dilakukan sejak anak Kudungga, Aswawarman, menjadi raja. Setelah Aswawarman, yang menjadi raja Kutai adalah Mulawarman, anak Aswawarman. Setelah Mulawarman ada Marawijayawarman, lalu Gajayanawarman, Tunggawarman, Jayanagawarman, Nalasingawarman, Gadinggawarman, Indrawarman Dewa, Sanggawarman, dan Candrawarman. Jumlah raja Kutai ada 20 orang. Tapi dari raja ke-13 hingga ke-20 yang menggunakan nama warman hanya satu, yaitu Wijayawarman, raja ke-15. Kutai berdiri pada 400 Masehi. Ada yang menulis berdiri pada 399 Masehi, ada juga yang menulis berdiri pada kisaran tahun 400-500 Masehi. Kutai runtuh pada 1635 Masehi. Di Jawa Barat pada tahun 358 Masehi berdiri Kerajaan Tarumanegara. Pendirinya bernama Jayasingawarman. Lalu digantikan oleh Dharmayawarman Anak Dharmayawarman, Purnawarman, menjadi raja Tarumanegara yang terkenal, berkuasa pada 395-434 Masehi. Ia digantikan oleh Wisnuwarman. Indrawarman kemudian menggantikan Wisnuwarman. Candrawarman menggantikan Indrawarman.

Read More

Pemerintah Saudi Bagi Waktu Kunjungan Hijr Ismail

Mekah — 1miliarsantri.net : Hijr Ismail adalah salah satu tempat mustajab untuk berdoa di Masjidil Haram, Mekkah. Memiliki bentuk seperti pagar setengah lingkaran, Hijr Ismail terletak di sebelah utara Ka’bah. Karena penuh berkah dan tempat yang mustajabah, Hijr Ismail menjadi salah satu tempat favorit jamaah Masjidil Haram. Otoritas Umum Urusan Dua Masjid Suci menetapkan waktu khusus bagi jamaah pria dan wanita untuk mengunjungi Hijr Ismail. Menurut otoritas tersebut, setiap pengunjung diperbolehkan menghabiskan waktu maksimal 10 menit di area Hijr Ismail. Pihak berwenang menjelaskan, waktu masuk bagi laki-laki mulai dari pukul 08.00 pagi hingga pukul 11.00 pagi, sedangkan waktu masuk malam diberikan untuk jamaah perempuan dari pukul 08.00 malam hingga pukul 02.00 dini hari. Sementara pintu masuk ke Hijr Ismail akan melalui gerbang barat. Pembagian waktu ke Hijr Ismail ini diambil untuk memastikan kelancaran pergerakan dan pengaturan kunjungan yang optimal.

Read More

Berkunjung ke Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Jakarta — 1miliarsantri.net : Museum Perumusan Naskah Proklamasi (Munasprok) terletak di Jalan Imam Bonjol No.1, RT.9/RW.4, Menteng, Jakarta Pusat. Sebelumnya gedung ini merupakan rumah dinas Laksamana Muda Tadashi Maeda, seorang perwira tinggi Angkatan Laut Kekaisaran Jepang. Selama berkecamuknya Perang Pasifik atau Perang Dunia Kedua, Rumah dinas ditempati Laksamana Maeda. Menurut catatan sejarah berdiri di atas tanah berukuran 3.914 meter persegi, dengan luas bangunan sekitar 1.138,10 meter persegi. Gedung ini terdiri dari dua lantai, lantai pertama bagian penting dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia, menjadi saksi perumusan naskah teks proklamasi, sedangkan lantai dua ditempati anggota keluarga Maeda sebagai tempat beristirahat. Laksamana Maeda merupakan tokoh memiliki peran di dalam peristiwa kemerdekaan Indonesia, dia mengizinkan rumah dinasnya dijadikan tempat berkumpul kaum pergerakan nasional untuk merumuskan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Laksamana Maeda sendiri tidak terlibat di dalam proses perumusan naskah itu, perannya di dalam peristiwa proklamasi menyediakan tempat saja. Oleh pemerintah Indonesia sosoknya tetap dianggap memiliki kontribusi, sehingga pada peringatan Kemerdekaan Indonesia tahun 1973, Laksamana Maeda menerima Bintang Jasa Nararya. Di dalam gedung museum kita bisa melihat peninggalan furnitur dari Laksamana Maeda, dari kursi, meja, piano, lemari, dan hiasan dinding. Tata letak dari berbagai artefak itu dipertahankan serta disesuaikan dengan aslinya, sehingga kita bisa turut merasakan atmosfer pada masa itu. Hal ini bisa memberikan pengalaman imersif seolah-olah pengunjung turut hadir menyaksikan langsung perumusan naskah proklamasi. Ketika memasuki museum kita akan melihat salah satu ruangan disebut Ruang Pra Perumusan Naskah Proklamasi, berupa ruang tamu khusus dipenuhi empat kursi berwarna coklat, terdiri dari satu sofa serta tiga kursi, ditengahnya terlihat satu meja bundar, di ruang ini terjadi pembicaraan antara Laksamana Maeda, Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ahmad Soebarjo. Inti dari pembicaraan mereka tentang akan diadakannya pertemuan para tokoh pergerakan, khususnya dari kelompok muda, untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Kemudian tidak jauh dari Ruang Pra Perumusan Naskah Proklamasi, kita bisa menjumpai Ruang Perumusan Naskah Proklamasi, merupakan sebuah ruang makan dengan meja kayu lebar dan panjang, serta ada deretan kursi kayu yang mengitari meja. Di tempat ini Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ahmad Soebarjo merumuskan teks proklamasi. Soekarno duduk di posisi tengah sambil mempersiapkan draf naskah, sedangkan Mohammad Hatta, dan Ahmad menyumbangkan pikiran secara lisan. Keduanya duduk mendampingi Soekarno di sebelah kanan dan kirinya. Kemudian kita bergeser ke Ruang Mengetik Naskah Proklamasi, setelah draf naskah proklamasi selesai disusun oleh Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ahmad Soebarjo, draf itu diperlihatkan kepada hadirin yang hadir, setelah semuanya menyepakati dan menyetujui isi naskah proklamasi, kemudian naskah itu diketik oleh Sayuti Melik di ruang dekat dapur ditemani oleh BM. Diah. Setelah naskah proklamasi itu selesai diketik, segara dibawa kembali ke tempat para hadirin yang hadir, kemudian naskah kemerdekaan Indonesia ditandatangani Soekarno dan Mohammad Hatta. Keduanya menandatangani naskah itu di atas piano yang terdapat di bawah tangga ruangan, kemudian akan dibacakan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Read More

Faktor Faktor yang Melatarbelakangi Berdirinya Muhammadiyah

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Muhammadiyah, sebuah organisasi islam yang lahir di Kauman Yogyakarta tanggal 18 November 1912 (8 Dzulhijjah 1330 Hijriah). KH Ahmad Dahlan, seorang ulama cerdas dan visioner yang juga dikenal seagai Muhammad Darwisy, yang merupakan sosok di balik berdirinya Muhammadiyah. Muhammadiyah didirikan dalam bentuk organisasi atau perkumpulan atau perhimpunan resmi, yang seting disebut dengan “Persyarikatan”, yang waktu itu memakai istilah “Persjarikatan Moehammadijah”. Muhammadiyah didirikan sebagai upaya konkrit untuk mendukung visi KH Ahmad Dahlan dalam mengembalikan kemurnian ajaran Islam yang dianggap telah terkontaminasi oleh praktik-praktik mistis. Pada tahap awal, Muhammadiyah juga aktif dalam dakwah, khususnya kepada kaum perempuan dan pemuda, melalui pengajian yang bertajuk Sidratul Muntaha. Muhammadiyah merupakan Gerakan islam berdasarkan pada dakwah Amar Makruf Nahi Munkar, beraqidah islam dan bersumber pada Al-qur’an dan Sunnah. Muhammadiyah didirikan oleh KH. A. Dahlan pada 8 Dzulhijjah 1330 Hijriah atau tanggal 18 November 1912 Masehi di Kota Yogyakarta. Muhammadiyah demikian Gerakan ini diberi nama oleh pendiri, dengan maksud untuk bertafa’ul (Pengharapan Baik), dapat mencontoh dan meneladani jejak perjuangan dalam rangka menegakkan dan menjunjung tinggi agama islam yang semata mata demi mewujudkan ‘Ihzul Islam wal Muslimin, kejayaan islan sebagai realita dan kemuliaan hidup umat Islam sebagai Realita. Latar belakang kelahiran Muhammadiyah sebagai gerakan progresif tidak terlepas dari kondisi masyarakat yang terbelakang atau tertinggal. Ditambah lagi keadaan politik imperialis yang berpihak kepada bangsa penjajah, serta kondisi umat yang berada dalam tekanan. Tahun tersebut bangsa Indonesia berada dalam kuasa Penjajah Belanda Muhammadiyah merupakan sebuah gerakan Islam yang berkomitmen untuk menyebarkan ajaran Islam yang benar (amar ma’ruf nahi munkar) dengan tujuan utama menegakkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat. Muhammadiyah berpandangan bahwa Islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari akidah, ibadah, akhlak, hingga hubungan sosial (muamalah), yang saling terintegrasi dan harus diterapkan dalam kehidupan pribadi maupun bermasyarakat. Berdirinya Muhammadiyah diawali dengan berdirinya sebuah sekolah dasar Islam bernama Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah pada awal tahun 1912 oleh KH Ahmad Dahlan. Sekolah ini didirikan secara mandiri oleh beliau tanpa bantuan dana dari pihak lain. KH Ahmad Dahlan mencurahkan seluruh tenaga dan hartanya untuk mewujudkan cita-citanya membangun lembaga pendidikan Islam modern. Kegelisahan akan kondisi sosial masyarakat yang jauh dari nilai-nilai agama yang benar menjadi salah satu faktor utama berdirinya Muhammadiyah. Kehidupan masyarakat yang ditandai oleh kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan dianggap sebagai akar dari berbagai permasalahan sosial, agama, dan moral. Berbagai faktor, baik dari dalam maupun luar masyarakat, saling berinteraksi dan mendorong munculnya organisasi ini sebagai sebuah solusi

Read More

KTT Arab-Islam tekankan bahwa Yerusalem adalah ibu kota Palestina

Riyadh — 1miliarsantri.net : Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Liga Arab dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang digelar di Riyadh, Arab Saudi menyepakati resolusi gencatan senjata dan kemerdekaan Palestina dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya. Mereka juga menegaskan, gangguan terhadap Masjid al-Aqsa akan jadi garis merah soal bagaimana menyikapi Israel. “Kami menegaskan kembali kedaulatan penuh Negara Palestina atas Yerusalem Timur yang diduduki, ibu kota abadi Palestina,” bunyi salah satu poin resolusi yang disepakati, seperti dilansir Aljazirah Arabia, semalam. Pernyataan itu menambahkan bahwa Masjid al-Aqsa adalah “garis merah” yang tak boleh diterobos Israel. KTT tersebut mengutuk “tindakan agresif Israel yang menargetkan tempat-tempat suci Islam dan Kristen di kota Yerusalem dan mengubah identitasnya”. Mereka juga menyerukan masyarakat internasional untuk menekan Israel agar menghentikan tindakan tersebut. Israel saat ini mengeklaim Yerusalem sepenuhnya sebagai ibu kota mereka. Sementara Palestina sejak lama mendambakan Yerusalem Timur, lokasi Masjid al-Aqsa bertempat sebagai ibu kota mereka. Sejak pemerintahan sayap kanan Israel yang dipimpin perdana menteri Benjamin Netanyahu terbentuk pada 2022 lalu, wacana pencaplokan bahkan penghancuran Masjid al-Aqsa menguat. Ancaman terhadap Masjid al-Aqsa itu juga salah satu alasan para pejuang Palestina di Gaza menggelar Operasi Topan al-Aqsa pada 7 Oktober 2023 yang kemudian dibalas secara brutal oleh Israel. KTT Arab-Islam dalam resolusinya juga mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengeluarkan resolusi yang mengikat untuk gencatan senjata di Gaza, dan juga menyerukan larangan ekspor atau transfer senjata ke Israel. Meskipun menuduh Israel melakukan genosida di Gaza, KTT tersebut menekankan bahwa tidak akan ada perdamaian sebelum Israel menarik diri dari garis perbatasan pada 4 Juni 1967. Hal ini disampaikan dalam pernyataan yang dikeluarkan oleh KTT Arab dan Islam yang diminta dan dipimpin oleh Arab Saudi untuk membahas perkembangan di Jalur Gaza dan Lebanon. KTT tersebut meminta Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi yang mengikat untuk gencatan senjata dan segera mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk ke Jalur Gaza. Para pemimpin mengecam “kejahatan yang mengerikan dan mengejutkan” yang dilakukan oleh tentara Israel di Gaza “dalam konteks kejahatan genosida” terhadap warga Palestina, merujuk pada “kuburan massal, kejahatan penyiksaan, eksekusi di lapangan, penghilangan paksa, penjarahan dan pembunuhan massal.” pembersihan etnis” khususnya di bagian utara Jalur Gaza. KTT tersebut memuji upaya Mesir dan Qatar, bekerja sama dengan Amerika Serikat, untuk mencapai gencatan senjata segera dan permanen di Jalur Gaza, dan meminta pertanggungjawaban Israel atas penarikan diri dari perjanjian tersebut. Para pemimpin yang berpartisipasi dalam KTT tersebut juga meminta semua negara untuk “melarang ekspor atau transfer senjata dan amunisi” ke Israel. Para pemimpin negara-negara Arab dan Islam menekankan bahwa tidak akan ada perdamaian dengan Israel sebelum penarikannya dari seluruh wilayah Arab yang diduduki “hingga tanggal 4 Juni 1967.” Pernyataan terakhir menyatakan, “Perdamaian yang adil dan komprehensif di kawasan yang menjamin keamanan dan stabilitas bagi seluruh negaranya tidak dapat dicapai tanpa mengakhiri pendudukan Israel atas seluruh wilayah Arab yang diduduki hingga garis 4 Juni 1967,” sesuai dengan relevansinya. Sebelumnya, Inisiatif Perdamaian Arab tahun 2002, yang menetapkan penarikan diri dari seluruh wilayah Arab yang diduduki dan pembentukan negara Palestina dengan imbalan normalisasi hubungan.

Read More

Rasulullah Mendatangi Bilal Melalui Mimpi

Jakarta — 1miliarsantri.net : Rasulullah Muhammad SAW berpulang ke rahmatullah pada Senin bulan Rabiul Awal, tahun ke-11 Hijriyah. Meski harinya tidak diperdebatkan, tanggal pastinya masih dipenuhi perdebatan di kalangan sejarawan. Ada yang menyatakan tanggal 2 Rabiul Awal. Ada pula yang menyebut tanggalnya adalah 12 Rabiul Awal. Yang pasti, jasad mulia Nabi SAW dikubur sehari setelah wafatnya. Berbagai riwayat menyebutkan, Bilal bin Rabah semenjak wafatnya Rasulullah SAW hanya melakukan azan tiga hari. Sebab, setiap sampai pada lafaz, “aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah” (asyhadu anna Muhammad Rasulullah), ia selalu jatuh tersungkur dan menangis. Siapapun Muslimin yang mendengarkannya juga akan turut terbawa suasana. Terkenang lagi bagaimana saat-saat Rasulullah SAW masih ada di tengah mereka. Begitu sedihnya Bilal akan kehilangan Rasulullah SAW. Sampai-sampai, dia meminta izin kepada khalifah agar boleh pergi dari Madinah. Sebab, kenangan-kenangan tentang Nabi SAW akan tetap menghantuinya. Sampailah hari ketika Rasulullah SAW mendatangi Bilal bin Rabah melalui mimpi. Nabi Muhammad SAW berkata kepadanya, “Wahai Bilal, mengapa engkau tidak pernah menjengukku lagi?” Bilal terhenyak. Begitu terbangun, ia langsung bergegas menyiapkan kudanya. Segera menuju ke Madinah. Kedatangan Bilal bin Rabah di Madinah diterima dua cucu Rasulullah SAW, Hasan dan Husain. Keduanya lantas meminta agar sang sahabat Nabi mengumandangkan azan begitu waktu shalat tiba. Inilah saat-saat yang teramat dirindukan segenap warga Madinah. Kota itu seakan-akan diliputi kebisuan. Hanya suara azan Bilal yang menggema ke segala penjuru. Betapa terkesimanya mereka karena merasa seolah-olah zaman kembali berputar. Ini seperti ketika kaum Muslimin masih bersama Rasulullah SAW.

Read More

Sumba Ternyata Habitat Asli Komodo

Sumba — 1miliarsantri.net : Tim ilmuwan internasional mengungkap temuan spektakuler di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal bergengsi ‘Proceedings of the Royal Society B’ mengungkap bahwa Sumba menyimpan rahasia besar sebagai habitat purba beragam spesies langka yang kini telah punah. Ekspedisi yang dilakukan Zoological Society of London (ZSL) selama tiga tahun dari 2011 hingga 2014 berhasil mengumpulkan bukti fosil mengejutkan. Penemuan ini membuka tabir misteri keberadaan berbagai spesies unik seperti gajah mini, spesies tikus endemik, hingga kadal raksasa yang pernah mendiami pulau tersebut sekitar 12.000 tahun silam. Yang lebih mencengangkan, tim peneliti menemukan fosil komodo di Sumba. Temuan ini memunculkan hipotesis baru bahwa komodo, yang saat ini hanya dapat ditemukan di Pulau Komodo dan Flores, kemungkinan besar berasal dari Sumba. Sumba merupakan bagian dari kawasan Wallacea, sebuah wilayah kepulauan yang dinamai mengikuti jejak peneliti ternama Alfred Russel Wallace. Wilayah ini mencakup beberapa pulau besar seperti Sulawesi, Lombok, Flores, Halmahera, Buru, dan Seram. “Kami menemukan bukti kuat bahwa Sumba adalah rumah bagi berbagai spesies unik yang telah punah. Ini membuka perspektif baru tentang sejarah evolusi fauna di kawasan ini,” ungkap Samuel Turvey, Peneliti Senior ZSL, dikutip Selasa (12/11/2024). Meski menyimpan potensi besar, penelitian di Sumba masih sangat terbatas. Minimnya eksplorasi ilmiah di pulau ini disebabkan oleh berbagai faktor.

Read More

Pulau Maratua Akan Dikembangkan Jadi Wisata Premium

Jakarta — 1miliarsantri.net : Pulau Maratua memiliki pantai dan pemandangan bawah laut indah sudah sejak lama menjadi destinasi wisata unggulan Kabupaten Berau dan Provinsi Kalimantan Timur. Penjabat Gubernur Kalimantan Timur Akmal Malik mengemukakan rencana pemerintah untuk mengembangkan Pulau Maratua menjadi destinasi wisata premium. Dia menilai potensi wisata Pulau Maratua masih bisa dikembangkan agar nilainya menjadi lebih tinggi. “Kita ingin mengembangkan pariwisata yang tidak murah dan tidak murahan. Kita ingin ada klasifikasi wisata yang bisa didatangi secara masif dan ada yang tertentu,” terang Akmal seperti dikutip dalam keterangan pers di Jakarta pada Senin (11/11’2024). Pemerintah daerah terus berupaya untuk mengembangkan usaha pariwisata di wilayah Kalimantan Timur. Daerah wisata seperti Pulau Maratua dan Kakaban di Kalimantan Timur, menurut dia, cocok dikembangkan menjadi destinasi premium.

Read More

Sumatera menjadi titik kumpul kapal dari Athena, Mesir, dan berbagai kawasan

Tapanuli Tengah — 1miliarsantri.net : Barus adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Terletak di pantai barat Sumatra, 60 kilometer di barat daya Sibolga dan sekitar 70 kilometer di timur laut kota Singkil. Barus adalah sebuah kota kecamatan yang sunyi dan terpencil sekarang ini. Siapa sangka, Barus pada masa-masa kejayaannya sebelum abad ke-17, kota ini masyhur sebagai pelabuhan yang ramai disinggahi kapal-kapal dagang asing terutama dari Cina, India, Arab, Persia, Turki dan Portugis selama berabad-abad. Berita atau catatan tertua mengenai Barus kita dengar dari catatan Ptolomeus, ahli geografi Yunani pada abad ke-2 M, demikian dikutip dari buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia. Menurut Ptolomeus, kapal-kapal dari Athena telah singgah Barus sepanjang abad ke-4 dan ke-3 Sebelum Masehi (SM). Begitu pula kapal-kapal dari era Firaun di Mesir untuk membeli kapur barus atau kamfer, bahan yang diperlukan untuk membuat mumi. Sebagai pelabuhan dagang, kota Barus baru mencapai kemakmuran pada abad ke-7 tidak lama setelah berdirinya kerajaan Sriwijaya. Sumber Cina menyebut Sriwijaya dan Barus sebagai kerajaan kembar. Bahkan I Ching, musafir Cina yang berkunjung ke Sumatra pada abad ke-7 mengatakan bahwa kota Barus merupakan pusat penyebaran aliran Mulasarvastivada, sebuah madzab dalam Buddha Mahayana yang banyak diikuti penduduk Sriwijaya. Tetapi pada abad ke-9 M pedagang-pedagang Arab dan Persia, kemudan Turki, mulai ramai berdatangan ke Barus untuk memperoleh emas, lada, kapur barus, dan lain-lain. Kapur dan lada yang dihasilkan di daerah ini terkenal tinggi mutunya dan merupakan bahan perniagaan penting pada masa itu. Sudah pasti mereka tinggal agak lama di wilayah Barus, karena pelayaran ke negeri asal mereka sangat jauh dan harus menunggu musim yang baik untuk berlayar. Mereka lantas kawin mawin dengan wanita setempat atau wanita pribumi Barus. Sehingga terbentuklah komunitas Muslim yang signifikan di situ. Sebelum nama Barus dikenal, kota ini diberi nama Fansur (Panchur) oleh orang-orang Mandailing dan Batak yang tinggal di sekitarnya. Sebelum suku-suku yang tinggal di sini memeluk agama Islam, dan kemudian Kristen, mereka itu dikenal karena kepandaiannya dalam ilmu sihir. Dalam bahasa Mandailing atau Batak, perkataan Pancur berarti ‘mata air’ dan berdasarkan nama ini orang Arab menyebutnya Fansur. Nama Barus diberikan kemudian oleh orang-orang Melayu yang berduyun-duyun pindah ke tempat ini dan kemudian bercampur baur dengan penduduk asal. Sehingga terbentuklah suku Mandailing yang beragama Islam. Nama Barus itu diberikan mengikuti nama sungai yang biasa dilalui oleh orang-orang Melayu untuk mencapai tempat ini. Bukti-bukti arkeologis belakangan juga telah ditemukan bahwa sebelum munculnya kerajaan-kerajaan Islam yang awal di Sumatra seperti Peurlak dan Samudra Pasai, yaitu sekitar abad ke-9 dan ke-10 M, di Barus telah terdapat kelompok-kelompok masyarakat Muslim dalam jumlah yang besar, terdiri dari saudagar-saudagar asing dan keturunan mereka dari perkawinan mereka dengan wanita-wanita pribumi. Prapanca, pujangga Majapahit abad ke-14, dalam buku Nagara Kertagama mengatakan bahwa Barus merupakan negeri Melayu yang penting di Sumatra, yang berhasil dijadikan taklukan Majapahit.

Read More