Ini Penyebab Benjamin Netanyahu Menunda Gencatan Senjata

Tell Aviv — 1miliarsantri.net : Israel dan Hamas telah menyepakati adanya gencatan senjata selama empat hari. Kabinet Israel mendukung kesepakatan tersebut setelah pembicaraan yang dimediasi Qatar berlanjut hingga Rabu (22/11/2023) dini hari lalu. Media Israel melaporkan terjadi perdebatan sengit antarmenteri di pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Pada akhirnya, hanya tiga dari 38 anggota kabinet yang memberikan suara menentang gencatan senjata, yaitu Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir dan dua anggota partai politik sayap kanan lainnya. Gencatan senjata ini sudah beberapa kali dibahas tetapi selalu ditolak Israel. Hamas menuding Israel sengaja terus menerus menunda pembahasan gencatan senjata tersebut. Lalu apa yang membuat Netanyahu berubah pikiran? Netanyahu diduga mendapatkan tekanan dari keluarga sandera. Terlebih lagi beberapa laporan yang dikonfirmasi Hamas menyebutkan bahwa sandera tewas bukan karena perlakuan para pejuang Palestina melainkan pengeboman Israel yang tak berhenti. Hamas bahkan sempat merilis video yang menunjukkan dua sandera dibawa ke RS Al Shifa untuk mendapatkan perawatan. Namun, mereka tewas saat pengeboman terjadi. “Keputusan yang sulit, tapi merupakan keputusan yang tepat,” ujar PM Israel, Benjamin Netanyahu kepada para menterinya, dikutip laman Al Arabiya. Media Israel membeberkan rincian perjanjian gencatan senjata. Menurut laporan stasiun televisi Channel 12, kesepakatan tersebut diperkirakan mulai berlaku Kamis atau Jumat pekan ini. Berdasarkan perjanjian yang ditengahi Qatar itu, 50 warga Israel yang ditahan Hamas akan dibebaskan dengan imbalan pembebasan 150 tahanan Palestina dari penjara-penjara Israel. Kesepakatan itu juga meliputi jeda pertempuran selama empat hari dan masuknya 300 truk berisi bantuan kemanusiaan, termasuk bahan bakar, ke Jalur Gaza. Perjanjian tersebut juga memungkinkan gencatan senjata diperpanjang dan kemungkinan pembebasan anak dan perempuan yang ditahan oleh kedua belah pihak yang lebih banyak. Saluran TV tersebut melaporkan bahwa warga Israel yang akan dibebaskan meliputi 30 anak-anak, 8 ibu, dan 12 perempuan lainnya. Sebagai imbalannya, Israel akan membebaskan tiga tahanan Palestina dengan imbalan setiap orang Israel yang dibebaskan.

Read More

Catatan Kelam Jurnalis Peliput Perang Gaza dan Beberapa Bentuk Pembunuhan Terhadap Wartawan

Gaza — 1miliarsantri.net : Dalam unggahan di akun pribadinya, salah satu wartawan Palestina yang kerap mengabarkan kondisi terkini di Gaza, Palestina, menulis pesan mengharukan. Ia berpesan, “Dulu, saya selalu memakai rompi Press dan helm saya. Tapi, akhir-akhir ini saya merasa tidak aman di Gaza, bahkan saat tidur saya merasa tidak aman. Saya berharap mimpi buruk ini segera berakhir. Saya berharap kita tidak lagi kehilangan jurnalis,” tulisnya via @byplestia. Postingan itu disertai gambar rompi Press berwarna biru muda. Rompi Pers berdarah itu milik wartawan yang menjadi korban pemboman Zionis. Sebagaimana diketahui, Genosida tak hanya membunuh orang dewasa. Tapi juga paramedis, jurnalis, semua yang tak bersenjata, bahkan anak dan bayi-bayi tak berdosa. Genosida di Gaza mencatatkan sejarah kelam bagi dunia Barat. Genosida di Gaza, membuka topeng kemunafikan Barat. Begitu sindir Jubir Brigade Al Qassam, Abu Ubaidah. Meski staf PBB, dokter sampai jurnalis pelbagai media tewas, tapi sampai detik ini tak ada sanksi apapun untuk Israel. Organisasi nonprofit Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) yang berbasis di New York, Amerika Serikat menyebut bertambahnya kematian jumlah jurnalis dan pekerja media yang telah dikonfirmasi tewas di Gaza, menjadi 48 orang sejak 7 Oktober lalu. Namun, hanya selang hari, jumlah itu bertambah lagi menjadi 60 orang. Hal itu terungkap lewat laporan saluran berita Aljazirah yang berbasis di Qatar, pada Minggu (19/11/2023). Kementerian Luar Negeri Palestina menyampaikan lewat media sosial bahwa dua jurnalis Palestina, Sari Mansour dan Hassouneh Salim, telah dimakamkan pada Minggu. Mereka terbunuh dalam serangan udara Israel di kamp pengungsi Bureij yang terletak di bagian tengah Jalur Gaza, sehari sebelumnya. Sementara itu kantor berita resmi Palestina Wafa melaporkan, serangan udara Israel terhadap sebuah rumah di Kota Gaza menyebabkan beberapa warga Palestina gugur, termasuk jurnalis perempuan Alaa’ Taher al-Hasanat. Artinya, jumlah jurnalis tewas bertambah lagi, lebih dari 60 jiwa. Pembunuhan terhadap wartawan di Gaza, seakan menjadi hal biasa. Padahal dalam hukum internasional, wartawan perang yang meliput di area konflik, berhak mendapat perlindungan dan tidak boleh disakiti. Apalagi dibunuh. Tapi di Gaza, seakan itu semua tak berlaku. Bukan saja jurnalis yang dibunuh, tapi juga keluarga mereka. Beberapa kali dikabarkan, rumah-rumah jurnalis menjadi sasaran pemboman Zionis Israel. Para penjajah itu seakan ingin menutupi kekejian mereka dengan membunuh semua jurnalis yang meliput kondisi realtime di Gaza. Kalau dulu, kita hanya mendapat informasi dari media-media Barat, kini di Gaza berbeda. Para wartawan Palestina di sana, kerap menyiarkan siaran langsung melalui akun pribadinya. Ada pula yang membuat channel Telegram, mengabarkan waktu ke waktu apa yang baru saja terjadi di sana. Publik mendapat kabar terhangat tanpa sensor, langsung dari Gaza. Yang tentu saja, hal itu membuat Zionis Israel kesal. Kebiadaban mereka begitu telanjang di depan mata dunia. Bahkan dampak liputan dan unggahan-unggahan wartawan di Gaza, memantik aksi damai nyaris di seluruh dunia. Beberapa membawa poster berisi foto-foto wartawan Gaza, dan mengapresiasi mereka. Media pro Israel, menjadi bullyan karena kerap kali hanya menyiarakan narasi sesuai keinginan Zionis.

Read More

Israel Masih Mengepung Beberapa RS di Gaza, Termasuk RS Indonesia

Gaza — 1miliarsantri.net : Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendesak agar pemerintah dan warga global untuk tidak diam atas serangan-serangan zionis Israel ke fasilitas kesehatan di Gaza. Israel kembali melakukan serangan dan pengepungan ke rumah sakit, Rumah Sakit Indonesia yang juga menjadi target setelah sebelumnya Rumah Sakit al-Shifa. “Dunia tidak boleh tinggal diam ketika rumah sakit-rumah sakit ini, yang seharusnya menjadi tempat berlindung yang aman, berubah menjadi tempat kematian, kehancuran, dan keputusasaan,” ujar pernyataan badan kesehatan PBB itu pada Rabu (22/11/2023). WHO mengingatkan kepada pihak-pihak yang berkonflik mengenai kewajiban untuk mengikuti aturan berdasarkan Hukum Humaniter Internasional. Mereka seharusnya menghormati kenetralan, dan secara aktif melindungi fasilitas kesehatan. “Pelayanan kesehatan bukanlah sebuah target,” kata WHO. WHO pun mengaku terkejutkan dengan serangan terhadap Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara. Peristiwa itu dikabarkan membunuh sedikitnya 12 orang termasuk pasien dan pendampingnya yang berada di rumah sakit tersebut. Terdapat banyak serangan yang terus menerus terhadap fasilitas kesehatan dalam enam minggu terakhir. Serangan itu mengakibatkan evakuasi massal secara paksa dari rumah sakit. Banyak korban jiwa serta korban jiwa di antara pasien, pendamping, dan mereka yang mencari perlindungan di rumah sakit. Rumah Sakit Indonesia dilaporkan mengalami kerusakan akibat setidaknya lima serangan sejak 7 Oktober. Menurut laporan yang diterima WHO, puluhan orang terluka dalam serangan itu, termasuk beberapa orang yang mengalami luka kritis dan mengancam jiwa. “Petugas kesehatan dan warga sipil tidak boleh mengalami kengerian seperti itu ingin, terutama saat berada di dalam rumah sakit,” kata keterangan WHO. Kabar terkini, menurut WHO, RS Indonesia terus dikepung. Tidak ada seorang pun yang diizinkan masuk atau keluar rumah sakit dengan laporan penembakan terhadap mereka yang mencoba keluar.

Read More

Semua Bukti Jelas Memperlihatkan dan Israel Akui Telah Membunuh Rakyatnya Sendiri pada Festival Musik 7 Oktober

Tel Aviv — 1miliarsantri.net : Pasukan zionis Israel terbukti telah membunuh beberapa warganya sendiri saat berlangsung nya festival musik yang dihadiri ribuan warga Israel pada 7 Oktober. Hal tersebut dinyatakan menurut penyelidikan polisi Israel yang menyelidiki festival musik Nova di dekat perbatasan Gaza, Haaretz, Selasa (21/11/2023). Dengan kata lain, Israel telah berbohong dan telah menggunakan serangan kejutan 7 Oktober oleh Hamas sebagai alasan untuk melanjutkan pengeboman tanpa henti di daerah Gaza, yang sejauh ini telah merenggut nyawa sekitar 13.300 warga Gaza, Palestina. Laporan menyebutkan, sebuah helikopter tempur Israel dikirim dari pangkalan Ramat David untuk menargetkan para pejuang Hamas yang telah menyeberangi perbatasan dari Gaza ke Israel. Helikopter ini menjalankan misi Operasi Badai Al Aqsa yang belum pernah terjadi sebelumnya, di mana menewaskan total 364 orang warga Israel. Namun, sebuah sumber kepolisian kini telah mengkonfirmasi bahwa helikopter tersebut juga menembaki dan menewaskan beberapa pemukim Israel yang menghadiri festival musik tersebut. Pengakuan ini menandai pengakuan pertama bahwa pasukan pendudukan Israel (IOF) bertanggung jawab atas sebagian kematian di festival tersebut. Sebelumnya militer Israel telah menentang tuduhan itu, dan menyebut semua kematian korban adalah akibat dari pembunuhan yang disengaja yang didalangi oleh kelompok Hamas. Sedangkan laporan-laporan sebelumnya di media Israel telah mengisyaratkan bahwa pasukan Israel yang telah menyebabkan jatuhnya korban sipil warga Israel yang berada di dekat perbatasan Gaza. Di Be’eri, sebuah pemukiman yang dekat dengan perbatasan, pasukan Israel membunuh warga sipil Israel dan pejuang Hamas dengan peluru tank ketika mereka menanggapi serangan Hamas. Skenario serupa terjadi di Sderot, di mana para pejuang Hamas menguasai kantor polisi setempat dan mendorong pasukan Israel untuk menembakkan peluru tank, yang mengakibatkan beberapa korban di kedua belah pihak. Haaretz juga melaporkan “penilaian yang berkembang di pihak keamanan” bahwa para pejuang yang menargetkan festival tersebut “tidak mengetahui sebelumnya tentang festival Nova yang diadakan di dekat Kibbutz Re’im. Dan pihak Hamas baru memutuskan untuk datang ke tempat itu setelah mengetahui bahwa sebuah acara massal sedang berlangsung di sana.” Sedangkan pejabat keamanan senior Israel percaya bahwa para pejuang Hamas mengetahui keberadaan festival tersebut melalui pesawat tanpa awak dan mengarahkan para pejuangnya ke lokasi dengan menggunakan sistem komunikasi mereka, menurut Haaretz. Sebuah video dari kamera tubuh seorang pejuang Hamas yang tertangkap mendukung penilaian sebelumnya, karena ia terdengar bertanya kepada seorang warga Israel yang tertangkap untuk meminta petunjuk arah untuk mencapai festival tersebut. Sedangkan unsur yang mendukung teori bahwa Hamas sudah mengetahui festival ini adalah bahwa para pejuang Hamas pertama tiba di festival Nova dari arah jalan 232, bukan dari arah pagar perbatasan Gaza, seperti yang diasumsikan sebelumnya.

Read More

Menebang Pohon dan Mencari Kayu Bakar Menjadi Alternatif Bertahan Hidup Para Warga Jalur Gaza

Gaza — 1miliarsantri.net : Meski saat ini hampir sebagian besar warga Jalur Gaza berada dalam ancaman zionis Israel, namun tak menyurutkan warga Jalur Gaza untuk memiliki kreativitas dalam menghadapi situasi sulit seperti yang terjadi. Mereka memiliki ribuan cara untuk bertahan hidup meski zionis Israel memberlakukan blokade total. Lumrah melihat pemuda, anak-anak, bahkan orang tua berkeliaran di jalanan untuk mencari kayu bakar. Memanfaatkan kayu bakar hanyalah satu cara dari ribuan cara warga Gaza bertahan hidup. Tapi yang pasti, mereka tidak pernah mengeluh. Di dalam pemakaman tua Ansar di kota Deir al-Balah, puluhan pemuda berpindah dari satu pohon ke pohon lain sambil membawa kapak dan gergaji, dengan tujuan menebang sebanyak mungkin cabang pohon tua. Mereka mencari pohon tua yang sudah mati lalu ditebang menggunakan kapak atau geregaji. Hal itu terpaksa dilakukan untuk kebutuhan memasak roti. Sejak dini hari, banyak warga Gaza berkeliaran di jalan mencari kayu dan dedaunan kering untuk digunakan memasak roti. Abdullah Abu Khalil misalnya, ketika sedang menebang batang pohon dengan kapak, dia datang dari kamp Nuseirat ke pemakaman di Deir al-Balah ini. Dia menempuh jarak lebih dari 10 kilometer dengan sepeda untuk mengumpulkan kayu bakar dan menebang pohon. Pekerjaan Abu Khalil bisa dianggap mengandung banyak risiko. “Saya jatuh dari pohon dan terkena risiko patah. Pekerjaan kami juga sangat melelahkan, dan kami juga terkena pemboman Israel saat bekerja. Kami menebang pohon untuk menyalakan api, memasak roti, membuat teh dan makan, berbuka puasa, dan makan siang,” ungkapnya. Pasca pengeboman terus menerus yang dilakukan zionis Israel secara otomatis membuat mayoritas toko roti sudah tutup dan sulit membeli dari sedikit toko roti yang buka karena padatnya orang. Hal itu akhirnya memaksa sebagian besar warga terpaksa harus membeli tepung dan membuat roti dengan menggunakan kayu bakar. “Jika kami tidak datang untuk mendapatkan kayu bakar, kami akan mati kelaparan. Kami Ingin Memberi Makan Anak-anak kami,” tutunya.

Read More

Beberapa Rumah Sakit yang Menjadi Sasaran Target Zionis Israel

Gaza — 1miliarsantri.net : Serangan militer Israel di Gaza, Palestina menargetkan fasilitas umum, tak terkecuali rumah sakit. Sejumlah rumah sakit di Gaza dilaporkan kolaps akibat serangan zionis Israel dan menyebabkan pasokan bahan bakar yang menipis. Salah satu nya adalah Rumah Sakit Al-Shifa, pusat medis terbesar di Gaza ini pun tak luput dari serangan zionis Israel. Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan bahwa buldoser dan tank Israel telah menyerbu kompleks medis tersebut dari pintu barat. Sementara itu, Direktur Jenderal Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, serangan militer Israel ke RS Al-Shifa sama sekali tidak dibenarkan. Ia menegaskan, rumah sakit bukanlah medan pertempuran. “Rumah sakit bukanlah medan pertempuran. Kami sangat khawatir dengan keselamatan staf dan pasien. Melindungi mereka adalah hal yang terpenting,” ungkap Tedro pada konferensi pers di Jenewa. Dia menyatakan, WHO telah kehilangan kontak dengan petugas kesehatan di RS Al-Shifa. Baginya, fasilitas kesehatan, petugas kesehatan, ambulans dan pasien harus dijaga dan dilindungi tidak hanya dari segala tindakan perang, tetapi juga selama perencanaan militer. Berikut beberapa kondisi RS di Gaza yang kolaps imbas dari serangan Israel sejak 7 Oktober 2023 RS Al-ShifaSerangan udara dan kurangnya pasokan medis, makanan, air bersih, dan bahan bakar telah mengganggu sistem kesehatan di Gaza. Rumah sakit telah beroperasi jauh melebihi kapasitasnya, lantaran melonjaknya jumlah pasien serta pengungsi warga sipil yang mencari perlindungan. Al-Shifa, rumah sakit dengan kapasitas 700 tempat tidur itu telah berada di bawah kepungan Israel selama sepekan terakhir, sejak Kamis (9/11/2023). Dilansir WAFA, Kementerian Kesehatan Palestina menyatakan bahwa buldoser dan tank Israel telah menyerbu kompleks medis tersebut dari pintu barat. WHO bahkan mengatakan, pihaknya telah kehilangan kontak dengan petugas di RS Al-Shifa selama tiga hari terakhir. WHO belum menerima informasi terkini mengenai jumlah kematian atau cedera di Gaza sehingga mempersulit mereka untuk mengevaluasi fungsi sistem kesehatan. Setidaknya terdapat 2.300 orang yang masih berada di dalam rumah sakit, sekitar 650 pasien, 200-500 staf dan sekitar 1.500 orang yang berlindung. RS Indonesia RS Indonesia yang terletak di Beit Lahiya, Gaza Utara lumpuh setelah pasokan bahan bakar dan persediaan obat-obatan habis. Direktur RS Indonesia Atef al-Kahlot mengatakan, rumah sakit dengan 110 tempat tidur itu hanya beroperasi pada 30-40 persen dari kapasitasnya. Ia kemudian meminta bantuan komunitas internasional. “Kami menyerukan kepada orang-orang terhormat di dunia, jika ada di antara mereka yang masih tersisa, untuk memberikan tekanan pada pasukan pendudukan untuk memasok Rumah Sakit Indonesia dan rumah sakit lainnya di Jalur Gaza,” katanya.

Read More

Iran Tegaskan Tidak Mau Ikut Terlibat Perang Gaza

Teheran — 1miliarsantri.net : Pemerintah Iran menegaskan bahwa eskalasi regional bukanlah prioritasnya. Karenanya mereka tidak akan ikut berperang di Gaza. Iran telah mengatakan kepada Amerika Serikat (AS) bahwa mereka tidak ingin konflik antara Israel dan Hamas menyebar. Tetapi serangan Israel lebih lanjut di Gaza dapat memicu konflik regional. “Selama 40 hari terakhir, pesan-pesan telah dipertukarkan antara Iran dan AS, melalui kedutaan besar Swiss di Teheran,” terang Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amirabdollahian dalam sebuah wawancara dengan Financial Times, Jumat (17/11/2023). Menurutnya, kejahatan terhadap rakyat Gaza dan Tepi Barat jika tidak dihentikan, segala kemungkinan dapat dipertimbangkan, dan konflik yang lebih luas dapat menjadi tidak terelakkan. Iran selalu mengatakan bahwa mereka tidak diberitahu tentang serangan 7 Oktober terhadap Israel, sesuatu yang juga disetujui oleh Washington. Amirabdollahian juga menolak gagasan bahwa Iran mengendalikan kelompok-kelompok regional seperti Hamas, Hizbullah di Lebanon, atau Houthi di Yaman. Masing-masing kelompok ini memiliki identitas politiknya sendiri yang berakar di negaranya, tetapi ia memperingatkan bahwa Iran “tidak acuh terhadap pembunuhan terhadap rekan-rekan Muslim dan Arab mereka di Palestina”. Amirabdollahian menepis bahwa AS telah mengancam Iran dengan serangan jika Hizbullah melancarkan serangan terhadap Israel. Sebaliknya, ia memperingatkan bahwa Washington menambah bahan bakar ke dalam api regional sambil meminta Iran “untuk menahan diri”. Amirabdollahian menambahkan bahwa ancaman Amerika terhadap Hizbullah tidak akan berhasil dan kelompok Lebanon itu akan membuat keputusan sendiri. “Para pejabat militer kami berpendapat bahwa pengerahan kapal induk AS di dekat wilayah kami, yang membuat mereka dapat diakses, bukanlah sebuah keuntungan bagi AS. Sebaliknya, hal itu membuat mereka lebih rentan terhadap kemungkinan serangan. Fakta bahwa tentara Houthi Yaman menyerang wilayah Palestina yang diduduki Israel dengan rudal dan pesawat tak berawak berarti perang telah mulai meluas. Fakta bahwa Hizbullah bertempur dengan sepertiga tentara Israel menunjukkan bahwa perang telah meluas,” ungkapnya.

Read More

Militer Israel Bagikan Selebaran Imbauan Agar Warga di Khan Younis Untuk Mengungsi

Gaza — 1miliarsantri.net : Angkatan Udara Israel menjatuhkan selebaran di wilayah timur Khan Younis di selatan Jalur Gaza pada Kamis (16/11/2023) malam. Informasi itu memberitahukan orang-orang untuk mengungsi ke tempat perlindungan demi keselamatan. Selebaran itu mengindikasikan Israel akan menggelar operasi militer besar-besaran di wilayah tersebut. “Demi keselamatan Anda, Anda perlu segera mengungsi dari tempat tinggal Anda dan menuju ke tempat perlindungan yang diketahui,” ungkap selebaran tersebut, yang menyebutkan lingkungan Khuzaa, Abassan, Bani Suhaila, dan Al Qarara. Selebaran serupa telah dijatuhkan sekitar dua minggu sebelumnya. Namun kali ini disusul dengan penembakan tank besar-besaran Israel di wilayah timur. “Siapapun yang berada di dekat teroris atau fasilitas mereka membahayakan nyawa mereka, dan setiap rumah yang digunakan oleh teroris akan menjadi sasaran,” kata selebaran tersebut. Khan Younis terletak di bagian selatan Jalur Gaza. Puluhan ribu orang yang mengungsi dari wilayah utara telah mencari perlindungan di sekolah-sekolah dan tenda-tenda, sehingga menyebabkan kepadatan penduduk yang parah di tengah kekurangan makanan dan air. Sebanyak dua pertiga dari 2,3 juta penduduk Jalur Gaza kehilangan tempat tinggal akibat perang dan setiap ruang yang tersedia di Khan Younis dan kota-kota selatan lainnya sudah penuh sesak. Kepala hak asasi manusia PBB mengatakan, wabah penyakit menular dan kelaparan tampaknya tidak dapat dihindari mengingat kondisi kehidupan yang mengerikan dan intensitas kerumunan orang.

Read More

Konflik Gaza Memperlihatkan Wajah Persaudaraan, Murabith dan Syuhada

Gaza — 1miliarsantri.net : Konflik peperangan yang terjadi di Gaza menjadi wajah ‘persaudaraan muslim’ yang disebutkan dalam Surah Al-Hujurat ayat ke-10. Gaza tak hanya menjadi tanah para murabith, tapi juga menjadi saksi ribuan syuhada. Warga Gaza juga memberikan contoh terbaik dalam pengamalan Surah Al-Hasyr ayat 9, “Mereka mengutamakan (kaum muhajirin) atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga membutuhkan.” Adalah Muhammad Abu Rujaila, seorang pemuda yang berdiri di pinggir jalan menunggu para murabith dari utara Gaza. Dia bersama pemuda-pemuda di selatan Gaza bersiap menyambut rombongan murabith yang terdiri dari anak-anak dan perempuan beserta pemuda yang menyertai perjalanan tersebut. Abu Rujailah menyambut mereka dengan air minum, selimut, dan kebutuhan pokok. Meski kondisi Gaza selatan pun tak luput dari pengeboman, tapi mereka menyediakan kebutuhan untuk mereka yang baru datang. Al Jazeera menggambarkan mereka sebagai pahlawan yang memberikan ketenangan. Berjalan kaki 15 sampai 30 kilometer dari utara Gaza bukan perkara mudah. Letih tiada terkira, dan hanya membawa pakaian di badan dan perkebakalan seadanya. Tapi, mereka disambut bak saudara saat tiba di tujuan. Muhammad al-Kafarna, seorang ayah yang mengantar keluarga besarnya ke Gaza selatan untuk mengungsi. Dia harus menempu perjalanan 20 kilometer dari Beit Hanoun, Gaza utara menuju lokasi penyintas di sebuah sekolah di Kota Rafah, Gaza selatan. Dia berangkat tanpa air, makanan, dan alat tidur. Di perjalanan, tank-tank militer Israel dan penembak jitu menjadi teror. Pesawat tempur seperti capung beterbangan. Dia tak bisa mengingkari rasa penat dan rasa takut. Namun, semua perasaan itu hilang saat melihat sambutan hangat dari sesama murabith di Gaza selatan. “Saudara-suadara kami di selatan, yang meringankan penderitaan. Kita semua adalah keluarga dan penderitaan kita sama,” kenangnya.

Read More

Pasukan Israel Bombardir Wilayah Tulkarem Selama 15 Jam Berturut-turut

Tepi Barat — 1miliarsantri.net : Pasukan Israel membunuh tujuh warga Palestina dalam serangan selama 15 jam berturut-turut tanpa henti di kota Tulkarem di Tepi Barat pada hari Selasa (14/11/2023). Middle East Eye melaporkan, pasukan Israel mengebom sebuah rumah dengan pesawat tak berawak (drone). Selain itu tentara Israel juga melancarkan serangan gas air mata ke rumah sakit, menghalangi ambulans untuk menjangkau korban luka, dan menyebabkan kehancuran massal di jalan-jalan dan toko-toko. Hal ini terjadi di tengah meningkatnya kekerasan Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat yang bertepatan dengan kampanye agresi militer Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober. Serangan terbaru di Tulkarem, yang terletak di bagian utara Tepi Barat, dimulai pada Senin (13/11/2023) malam ketika pasukan khusus Israel menyerbu kamp pengungsi di kota itu dan menembak dua warga Palestina di dalam sebuah kedai kopi. Mereka diidentifikasi sebagai Mahmoud Hadaida, 25, dan Hazem al-Hosari, 29, ayah tiga anak dan pemilik supermarket di dekat kamp. Abu Suhaib al-Hosari, paman Hazem, mengatakan kepada Middle East Eye bahwa dia sedang duduk bersama temannya di sebuah kafe ketika pasukan Israel mengejutkan mereka dan menembak mereka dari jarak dekat. “Ketika kami menerima berita tersebut, saya meninggalkan kamp bersama saudara laki-laki Hazem dan pergi ke rumah sakit dan melihat dia tertembak di dada,” ujar Abu Suhaib. Segera setelah penembakan, militer Israel mengirimkan bala bantuan dalam jumlah besar ke kamp tersebut yang memicu bentrokan dengan warga sipil Palestina. Serangan pesawat tak berawak semalam menghantam sebuah rumah yang berada di dalam kamp tersebut, dan menewaskan sedikitnya tiga orang. Sementara itu, buldoser militer menghancurkan jalan-jalan di kamp tersebut, merusak bangunan dan etalase toko. Militer Israel juga menempatkan sejumlah penembak jitu di gedung-gedung tinggi.

Read More