Warga Gaza Akan Bangun Tenda di Puing-puing Reruntuhan

Gaza — 1miliarsantri.net : Warga Jalur Gaza memiliki kesabaran tingkat tinggi, memilih mempertahankan tanah mereka sebagai bentuk penolakan terhadap pengusiran paksa dari teroris Israel. Salah satunya adalah Taghreed Al-Najjar (46 tahun) terlihat menyiapkan roti dan teh hangat di tengah reruntuhan rumahnya di Kota Gaza, Jalur Gaza utara. Saat pengumuman gencatan senjata pada Jumat (24/11/2023) lalu, dia berjalan bersama keluarga dari Khan Yunis ke Jalur Gaza utara. Perjalanan panjang disertai teror dari militer Israel. Namun, dia berhasil sampai ke tempat rumahnya pernah berdiri kokoh. Ada rasa sedih sebagai seorang manusia. Tapi, dia menegaskan, bertahan sebagai murabith merupakan pilihan mulia. Taghreed tak peduli dengan semua ancaman teroris Israel. “Kami harus hidup. Kami yang membangun rumah ini, dan kami bisa melakukannya lagi dari sisa-sisa jendela dan dinding yang masih berdiri. Kami memhuat kamar kecil. Kami tidur di mana saja,” terang Taghreed kepada wartawan, Ahad (03/12/2023). Meskipun dalam kondisi sulit, Taghreed tetap berbagi teh hangat dan roti kepada tetangganya, Jamil Abu Athrah (64 tahun), yang juga tinggal di reruntuhan rumah bersama 15 anggota keluarga. “Semua rumah kami hancur di sini, tapi kami lebih memilih untuk tetap tinggal meskipun cuaca dingin dan kehancuran. Bahkan Anak-anak mau tinggal di sini. Mereka tidur di mana saja,” kata Abu Athra. Di seberang jalan, Bassam Abu Taima berdiri di depan reruntuhan bangunan berlantai empat tempat ia tinggal bersama istri, tiga anak, dan empat saudara.

Read More

Israel Serang dan Hancurkan Pusat Arsip di Gaza yang Sudah Berusia 150 tahun

Gaza — 1miliarsantri.net : Kepala Kotamadya Gaza, Yahya Al-Sarraj pada Jumat (01/12/2023) mengatakan, zionis Israel telah menghancurkan Pusat Arsip Gaza yang berisi ribuan dokumen sejarah berusia lebih dari 150 tahun. Al-Sarraj mengatakan, tentara zionis menargetkan Pusat Arsip untuk dihancurkan bisa menimbulkan bahaya besar bagi kota Gaza, karena di dalamnya terdapat ribuan dokumen bernilai sejarah bagi masyarakat “Dokumen-dokumen ini mewakili bagian integral dari sejarah dan budaya kita. Pusat Arsip memuat denah bangunan kuno bernilai sejarah dan dokumen tulisan tangan tokoh bangsa ternama,” terang Al-Sarraj. Al-Sarraj mengatakan, pendudukan Israel menargetkan banyak bangunan, termasuk pusat kebudayaan besar dan monumental, serta taman umum milik pemerintah kota. Sasarannya termasuk Pusat Kebudayaan Sejarah Rashad Al-Shawwa, sebuah pusat yang sangat penting yang mencakup teater dan perpustakaan pusat. Pendudukan Israel juga menargetkan Dewan Legislatif Palestina dan monumen peringatan di Taman Peringatan Prajurit Tak Dikenal (Al-Jundi Al-Majhol). Al-Sarraj mengatakan, upaya pendudukan Israel untuk menghancurkan segala sesuatu yang indah, menghapus ingatan orang Palestina, dan menerapkan kebijakan yang mengaburkan masyarakat, membuat kota-kota Palestina tidak dapat dihuni. “Dokumen-dokumen ini, yang sudah ada sejak lama, dibakar, menjadikannya abu, menghapus sebagian besar ingatan kita tentang Palestina,” ujar Al-Sarraj. Serangan yang dilakukan oleh Israel ini sebagai bagian dari penargetan terhadap rakyat Palestina dan segala sesuatu yang berkaitan dengan nilai-nilai, warisan, budaya dan identitas mereka. Israel menargetkan tugu peringatan di beberapa provinsi sejak dimulainya perang awal bulan lalu, termasuk Tugu Peringatan Para Martir Kapal Marmara di Gaza Port, monumen peringatan mendiang jurnalis Shireen Abu Akleh di Kamp Pengungsi Jenin, dan monumen peringatan mendiang Presiden Yasser Arafat di Tulkarem, Tepi Barat. Perpustakaan utama di Jalur Gaza juga tak luput dari serangan mesin perang Israel yang mengebomnya saat penggerebekan yang menyasar Kota Gaza sejak pecahnya perang pada 7 Oktober. Perpustakaan, yang dikenal sebagai Gedung Kantor Umum, adalah yang terbesar di Jalur Gaza, yang berisi dokumen dan buku sejarah. Juru bicara Kotamadya Kota Gaza, Hosni Muhanna, penduduk Gaza menganggap perpustakaan itu sebagai kenangan negara dan masa kini. Tentara Israel telah mengubah sebuah bangunan Palestina menjadi sinagoga Yahudi selama operasi darat mereka di Gaza utara. The Jerusalem Post mengatakan, tentara Israel telah mendirikan sinagoga di jantung Jalur Gaza selama invasi darat. Jerusalem Post tidak merinci lokasi bangunan yang diubah menjadi sinagoga tersebut. Tetapi surat kabar itu menerbitkan foto pintu masuknya, yang dilengkapi dengan tanda besar bertuliskan “Kuil Abraham.” Sementara foto lainnya menunjukkan interior yang dilengkapi dengan kursi, meja, dan buku-buku agama Yahudi.

Read More

Sekitar 6.500 Oang di Gaza Masih Dinyatakan Hilang

Gaza — 1miliarsantri.net : Kepala kantor media Gaza, Ismail al-Thawabta, meminta komunitas internasional untuk membantu otoritas lokal dalam melacak dan menyelamatkan ribuan warga Palestina yang hilang sejak 7 Oktober. Mereka diduga telah tertimbun reruntuhan bangunan akibat serangan Israel di Jalur Gaza. “Tim pertahanan sipil masih menemukan puluhan syuhada dari bawah reruntuhan, dan jalan dari selatan hingga utara Jalur Gaza,” terang Al-Thawabta kepada media, Jumat (01/12/2023). Menurut Al-Thawabta, ada sekitar 6.500 orang yang masih menghilang, termasuk lebih dari 4.700 anak-anak dan perempuan. Mereka mungkin berada di bawah reruntuhan atau masih belum diketahui nasibnya. Tim evakuasi Gaza membutuhkan peralatan, mesin, dan bahan bakar untuk menjangkau mereka yang berada di bawah reruntuhan. Namun, itu sangat sulit dengan kondisi yang saat ini terjadi di wilayah kantung itu, meski jeda pertempuran berlangsung. Al-Thawabta meminta masyarakat internasional untuk“mengintervensi dengan menyediakan alat berat dan tim khusus dalam pembersihan puing-puing. Bantuan tersebut sangat berguna untuk mengeluarkan orang-orang hilang atau jenazah dari bawah reruntuhan. Direktur eksekutif UNICEF Catherine Russell sebelumnya menyatakan, 1.200 anak lainnya diyakini masih berada di bawah reruntuhan bangunan yang dibom atau belum ditemukan. “Selain bom, roket, dan tembakan, anak-anak Gaza berada pada risiko ekstrim akibat kondisi kehidupan yang sangat buruk,” lanjutnya. Departemen Pertahanan Sipil Palestina menyatakan, dua lusin orang dari pasukan pencarian dan penyelamatan utama di Gaza telah meninggal akibat serangan. Sedangkan 100 pekerja lainnya terluka. Lebih dari separuh kendaraannya kini kehabisan bahan bakar atau rusak.

Read More

Kematian Diperkirakan Lebih Banyak Akibat Penyakit Pernafasan di Gaza

Kairo — 1miliarsantri.net : Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan jumlah orang yang meninggal di Jalur Gaza karena penyakit akan lebih banyak dibandingkan karena pengeboman. Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan ada peningkatan risiko wabah penyakit karena tempat penampungan yang penuh sesak dan kurangnya makanan, air, sanitasi dan obat-obatan yang tersedia. Ia mengatakan 111 ribu orang menderita infeksi saluran pernapasan dan 75 ribu lainnya menderita diare, lebih dari separuhnya berusia di bawah lima tahun. “Mengingat kondisi kehidupan dan kurangnya perawatan kesehatan, lebih banyak orang yang dapat meninggal karena penyakit daripada pengeboman,” terangnya, Kamis (30/11/2023) Ia menyerukan gencatan senjata yang berkelanjutan. “Ini adalah masalah hidup atau mati bagi warga sipil.” PBB mengatakan serangan Israel ke Gaza membuat 1,8 juta orang atau sekitar 80 persen dari populasi Gaza mengungsi. Sementara itu warga Palestina di Gaza khawatir perang Israel-Hamas, yang menyebabkan kematian, kehancuran, dan pengungsian yang belum pernah terjadi sebelumnya tersebut akan kembali pecah. “Kami sudah muak, kami ingin perang ini berhenti,” iba Omar al-Darawi, yang bekerja di rumah sakit Al-Aqsa Martyrs yang penuh sesak di pusat kota Deir al-Balah. Seorang ayah dari tiga anak yang tinggal bersama keluarga lain di selatan Gaza, Ihab Abu Auf mengatakan dua kali ia mencoba dua kali kembali ke rumahnya di utara, namun ditolak pasukan Israel.

Read More

Surat Eks Sandera Israel Berterima Kasih kepada Hamas Atas Kebaikan Selama Menjadi Sandera

Gaza — 1miliarsantri.net : Dua warga Israel, Danielle Aloni dan putrinya Amelia (5), disandera Hamas selama 49 hari di Gaza. Keduanya dibebaskan pada Jumat (24/11/2023), sebagai bagian dari perjanjian gencatan senjata sementara antara Hamas dan Israel. Danielle dan Amelia dipertemukan kembali dengan kerabat mereka. Sebelum meninggalkan Gaza, Danielle Aloni menulis surat “terima kasih” untuk Hamas, yang berbunyi, “Saya berterima kasih dari lubuk hati yang terdalam atas rasa kemanusiaan luar biasa yang Anda tunjukkan terhadap putri saya, Emilia.” Brigade Qassam, yang merupakan sayap bersenjata Hamas, membagikan surat tersebut di akun Telegram resminya pada pukul 16.49 GMT pada Senin, 27 November 2023. Surat itu awalnya ditulis dalam bahasa Ibrani dan disertai terjemahan bahasa Arab, bersama dengan foto ibu Israel dan putrinya. Dalam surat tulisan tangannya dalam bahasa Ibrani, Danielle berkata, “Dia (Emilia) mengakui bahwa Anda semua adalah temannya, bukan hanya teman, tapi benar-benar dicintai dan baik”. Danielle mengakui para sandera di Gaza mendapat perawatan yang baik dari Hamas. “Terima kasih atas waktu yang Anda habiskan sebagai perawat.” Lebih lanjut Danielle menyatakan putrinya tidak hanya terikat dengan Hamas tetapi juga merasa seperti seorang ratu. “Anak-anak seharusnya tidak disandera, namun terima kasih kepada Anda dan orang-orang baik lainnya yang kami temui selama ini, putri saya merasa seperti seorang ratu di Gaza. Dalam perjalanan panjang yang kami lalui, kami belum pernah bertemu dengan orang yang tidak baik padanya, Anda telah memperlakukannya dengan baik dan penuh kasih sayang.” ucapnya dalam surat tersebut.

Read More

Jeda Waktu Gencatan Senjata Yang Harus Dimanfaatkan Warga Gaza

Gaza — 1miliarsantri.net : Tahani al-Najjar memanfaatkan jeda pengeboman Israel ke Gaza pada Sabtu (25/11/2023) untuk kembali ke rumahnya yang sudah menjadi puing-puing. Ia mengatakan, rumahnya hancur dalam serangan udara Israel yang menewaskan tujuh anggota keluarganya dan memaksanya tinggal di pengungsian. Selama 24 jam jeda pertempuran yang dijadwalkan berlangsung selama empat hari, ribuan warga Gaza melakukan perjalanan dari tempat pengungsian sementara ke rumah mereka. Mereka ingin melihat seperti apa rumah mereka setelah pengeboman berminggu-minggu. “Di mana kami akan tinggal? Di mana kami akan pergi? Kami mencoba untuk mengumpulkan kayu-kayu untuk membangun tenda kami tapi tidak berhasil, tidak ada apa-apa untuk keluarga melindungi satu keluarga,” kata Najjar sambil memilah-memilih puing-puing dan memelintir besi di rumahnya, Ahad (26/11/2023). Najjar yang merupakan ibu lima orang anak berasal dari Khan Younis di selatan Gaza. Perempuan berusia 58 tahun itu mengatakan, militer Israel juga meratakan rumahnya dalam dua konflik sebelumnya pada 2008 dan 2014. Ia mengambil beberapa cangkir yang masih utuh dari reruntuhan, di mana sebuah sepeda dan pakaian yang penuh debu tergeletak di antara puing-puing. “Kami akan membangun kembali,” katanya. Bagi sebagian besar dari 2,3 juta orang yang tinggal di Jalur Gaza yang kecil, jeda dalam serangan udara dan artileri yang nyaris konstan memberikan kesempatan pertama untuk bergerak dengan aman, memeriksa kerusakan, dan mencari akses untuk mendapatkan bantuan. Di pasar-pasar terbuka dan depot-depot bantuan, ribuan orang berdiri mengantre untuk mendapatkan bantuan yang mulai mengalir ke Gaza dalam jumlah yang lebih besar. Bantuan ini bagian dari kesepakatan gencatan senjata. Di tenda-tenda darurat di luar Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, Mohammed Shbeir mengatakan sangat ingin membawa keluarganya kembali ke rumah ke kamp pengungsi al-Shati di utara. Mereka memutuskan untuk tidak melakukannya setelah mendengar desas-desus orang-orang yang mencoba melakukannya ditembaki pasukan Israel. “Saya tidak bisa tinggal di tenda seperti ini. Saya dulu punya rumah dan merasa nyaman dengan anak-anak saya,” katanya, sambil menyuapi anaknya yang masih bayi dengan sup miju-miju karena tidak ada susu formula yang tersedia, Selasa (28/11/2023). Sementara itu, blokade menambah krisis kemanusiaan. Hanya ada listrik untuk rumah sakit, sedikit air bersih, bahan bakar untuk ambulans, atau makanan dan obat-obatan. Di sebuah pasar jalanan di Khan Younis, di mana tomat, lemon, terong, paprika, bawang, dan jeruk berada di dalam peti, Ayman Nofal mengatakan ia dapat membeli lebih banyak sayuran daripada yang tersedia sebelum gencatan senjata dan harganya lebih murah. “Kami berharap gencatan senjata ini akan terus berlanjut dan permanen, bukan hanya empat atau lima hari. Orang-orang tidak dapat membayar biaya perang ini,” katanya. Selama tujuh pekan, Hussam Saleem hidup di bawah suara bom yang terus berdentum di sekitar rumahnya di Kota Gaza. Ketika gencatan senjata sementara yang disepakati antara Israel dan Hamas dimulai pada Jumat (24/11/2023), salah satu prioritas pertama pria berusia 60 tahun ini adalah tidur. “Kami sangat membutuhkan istirahat ini. Kami ingin tidur, pergi ke pasar, mencari kebutuhan dasar yang tidak dapat kami berikan kepada anak-anak kami selama beberapa minggu terakhir,” ujar Saleem, Selasa (28/11/2023). Akhirnya, Saleem dan 2,3 juta warga Palestina lainnya di Jalur Gaza akan mendapatkan jeda beberapa hari. Saleem percaya bahwa jeda waktu tersebut terlalu singkat. Ia mengatakan bahwa ia dan keluarganya berharap Israel dan Hamas menggunakan waktu ini untuk merundingkan gencatan senjata yang lebih lama untuk mengakhiri perang ini. “Kami tidak ingin jeda saja, kami ingin perang ini berakhir apapun yang terjadi. Kami sudah lelah, Jalur Gaza sudah hancur, kami tidak bisa menerima lebih banyak pembunuhan dan kehancuran,” sambungnya. Rimas Muhammad adalah seorang gadis berusia 13 tahun yang tetap tinggal di Kota Gaza bersama keluarganya meskipun ada ancaman dari tentara Israel, yang kini menduduki sebagian besar wilayah kota tersebut.

Read More

Otoritas Gaza Sebut Jumlah Korban Meninggal Sudah Tembus 15 Ribu Orang

Gaza — 1miliarsantri.net : Jumlah warga Palestina yang gugur sebagai syuhada akibat serangan mematikan Israel kini mencapai 15 ribu orang lebih. Otoritas Gaza mengatakan ribuan orang lainnya masih hilang belum ditemukan karena dipastikan masih di bawah reruntuhan bangunan pasca dibom bardir tentara zionis Israel. Pernyataan kantor media pemerintah yang berada di Gaza mengatakan jumlah korban wafat mencakup 6.150 anak dan 4.000 perempuan, ditambah lagi jumlah jasad yang berserakan di jalan-jalan. Menurut pernyataan kantor tersebut, ada sekitar 7.000 orang hilang di bawah reruntuhan, termasuk 4.700 anak dan perempuan. Disebutkan pula dari jumlah korban wafat, terdapat 207 staf medis, 26 anggota tim penyelamat pertahanan sipil, dan 70 jurnalis. Otoritas Gaza juga menyebutkan lebih dari 36.000 warga Palestina lainnya juga terluka, dengan 75 persen di antaranya adalah anak-anak dan perempuan. Sementara itu, hampir 50.000 unit rumah hancur total dan 240.000 unit rumah lainnya rusak parah.Total 88 masjid juga hancur lebur dan 174 lainnya hancur sebagian akibat pengeboman Israel di seluruh wilayah Gaza. Selain itu, tiga gereja menjadi sasaran Israel. Berdasarkan aturan perang, rumah-rumah ibadah dan tempat tinggal dilarang untuk diserang. Israel mengklaim kelompok perlawanan Hamas memanfaatkan bangunan-bangunan tersebut sebagai markas, namun hingga kini bukti yang ditunjukkan Israel terkait klaim itu masih membuat sebagian besar pengamat tidak percaya.

Read More

Ini yang Dilakukan Warga Gaza Ketika Gencatan Senjata

Gaza — 1miliarsantri.net : Gencatan senjata dan jeda kemanusiaan telah memberi kesempatan bagi warga kota Gaza untuk merasakan kenikmatan sementara tidur, makan dan pemulihan diri dari cidera fisik dan mental selama perang berlangsung. Warga Gaza mengatakan mereka berharap dapat kembali berjalan di jalanan, sementara yang lain akan mencari jasad orang-orang terkasih di bawah reruntuhan. Selama tujuh pekan, Hussam Saleem hidup di bawah suara bom yang terus berdentum di sekitar rumahnya di Kota Gaza. Ketika gencatan senjata sementara yang disepakati antara Israel dan Hamas dimulai pada hari Jumat (24/11/2023), salah satu prioritas pertama pria berusia 60 tahun ini adalah tidur. “Kami sangat membutuhkan istirahat ini. Kami ingin tidur, pergi ke pasar, mencari kebutuhan dasar yang tidak dapat kami berikan kepada anak-anak kami selama beberapa pekan terakhir,” kata Saleem kepada Middle East Eye, Sabtu (25/11/2023). Akhirnya, Saleem dan 2,3 juta warga Palestina lainnya di Jalur Gaza akan mendapatkan jeda beberapa hari. Dengan jeda pertempuran selama empat hari tersebut, memungkinkan pertukaran 50 tawanan Israel dan 150 tawanan Palestina. Atau begitulah harapan mereka. Gencatan senjata seharusnya dimulai pada Kamis, (23/11/2023), tetapi telah ditunda karena masalah “logistik” karena negosiasi yang penuh dengan penuh ketegangan akan terus berlanjut. Israel telah melancarkan kampanye pengeboman tanpa henti di Jalur Gaza sejak serangan yang dipimpin Hamas terhadap komunitas Israel pada tanggal 7 Oktober yang menewaskan lebih dari 1.200 orang. Pengeboman tersebut, dibalas Israel dengan blokade dan serangan darat, telah merenggut nyawa lebih dari 14 ribu warga Palestina, termasuk lebih dari 5.000 anak-anak. Setelah empat hari berakhir, gencatan senjata dapat diperpanjang satu hari untuk setiap 10 tawanan yang dibebaskan, dengan batas waktu 10 hari. Sekitar 240 orang yang diculik oleh pejuang Palestina pada tanggal 7 Oktober diyakini masih berada di Gaza. Saleem percaya bahwa jeda waktu tersebut terlalu singkat. Dia mengatakan bahwa ia dan keluarganya berharap Israel dan Hamas menggunakan waktu ini untuk merundingkan gencatan senjata yang lebih lama untuk mengakhiri perang ini. “Kami tidak ingin jeda saja, kami ingin perang ini berakhir apapun yang terjadi. Kami sudah lelah, Jalur Gaza sudah hancur, kami tidak bisa menerima lebih banyak pembunuhan dan kehancuran,” ungkapnya. Israel telah memutus sama sekali akses masuknya makanan, bahan bakar dan air ke daerah kantong pesisir tersebut, dan memaksa ratusan ribu warga Palestina di Gaza utara, termasuk Kota Gaza, untuk mengungsi ke daerah selatan. Perjanjian gencatan senjata akan memungkinkan masuknya bantuan kemanusiaan, serta kesempatan bagi warga Palestina untuk bergerak bebas lagi. Meskipun warga Gaza tidak dianjurkan kembali ke sektor utara yang diminta Israel untuk mengungsi. Rimas Muhammad adalah seorang gadis berusia 13 tahun yang tetap tinggal di Kota Gaza bersama keluarganya meskipun ada ancaman dari tentara Israel, yang kini menduduki sebagian besar wilayah kota tersebut. Dia mengatakan kepada MEE bahwa jeda waktu akan memberinya kesempatan untuk mengunjungi teman-teman dan kerabatnya yang masih tersisa di sana. “Saya akan berjalan di jalan-jalan Gaza karena saya rindu berjalan-jalan tanpa rasa takut. Saya akan pergi ke toko-toko jika mereka buka,” katanya. Meskipun jeda dari perang disambut baik, beberapa orang di Gaza merasa terganggu dengan persyaratan perjanjian tersebut. Seorang warga Gaza, yang tidak ingin disebutkan namanya karena alasan keamanan, mengatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata itu mengejutkan, karena tampaknya jelas-jelas lebih menghargai nyawa warga Israel daripada warga Palestina. “Empat hari gencatan senjata ini tidak sebanding dengan banyaknya orang yang terbunuh dan terluka, rumah-rumah yang hancur, dan banyaknya orang yang mengungsi atau kehilangan tempat tinggal,” ulasnya.

Read More

Pasukan Zionis Israel Tembaki Warga Gaza yang Pulang ke Utara

Gaza — 1miliarsantri.net : Terdapat ribuan penduduk Palestina di Jalur Gaza yang sebelumnya mengungsi ke wilayah selatan, memutuskan pulang ke rumah mereka di wilayah utara saat diumumkan nya gencatan senjata antara Hamas dan Israel dimulai pada Jumat (24/11/2023). Daerah utara merupakan medan pertempuran utama Israel dengan Hamas. Namun pasukan zionis Israel telah mengancam bahkan menyerang seluruh warga Gaza yang coba kembali ke kampung halaman nya ke utara selama gencatan senjata berlangsung. Dalam sebuah video Aljazirah, tampak ribuan warga Gaza berlarian menghindari tembakan peringatan yang dilakukan oleh tentara Israel. Tentara Israel menembak untuk memblokir warga yang mengungsi dari selatan kembali ke rumahnya di utara Gaza. Sedikitnya tujuh orang terluka akibat tembakan tersebut. Menurut PBB, sekitar 1,7 juta dari 2,4 juta penduduk Gaza telah mengungsi selama hampir 50 hari agresi Israel ke wilayah tersebut. Israel telah menyatakan bahwa gencatan senjata selama empat hari dengan Hamas hanya bersifat sementara. Hal itu mengisyaratkan bahwa Israel akan melanjutkan perangnya di Gaza. Selama masa gencatan senjata, Hamas akan membebaskan 50 warga Israel yang mereka sandera sejak 7 Oktober 2023. Sebagai balasannya, Israel juga akan membebaskan 39 warga Palestina yang mendekam di penjara-penjara Israel.

Read More

Israel Ancam Akan Menyerang Siapa pun Warga Gaza Yang Kembali ke Utara.

Gaza — 1miliarsantri.net : Ribuan penduduk Palestina di Jalur Gaza yang sebelumnya mengungsi ke wilayah selatan, memutuskan pulang ke rumah mereka di wilayah utara saat gencatan senjata antara Hamas dan Israel dimulai pada Jumat (24/11/2023). Daerah utara merupakan medan pertempuran utama Israel dengan Hamas. Pasukan Israel telah mengancam akan menyerang siapa pun warga Gaza yang kembali ke utara selama gencatan senjata berlangsung. Hal itu pun benar-benar dilakukan ketika warga Gaza berusaha kembali ke kampung halamannya. Dalam sebuah video Aljazirah, tampak ribuan warga Gaza berlarian menghindari tembakan peringatan yang dilakukan oleh tentara Israel. Tentara Israel menembak untuk memblokir warga yang mengungsi dari selatan kembali ke rumahnya di utara Gaza. Sedikitnya tujuh orang terluka akibat tembakan tersebut. Video shows forcibly displaced Palestinians fleeing as Israeli forces opened fire to stop them returning to northern Gaza during the temporary truce. Menurut PBB, sekitar 1,7 juta dari 2,4 juta penduduk Gaza telah mengungsi selama hampir 50 hari agresi Israel ke wilayah tersebut. Israel telah menyatakan bahwa gencatan senjata selama empat hari dengan Hamas hanya bersifat sementara. Hal itu mengisyaratkan bahwa Israel akan melanjutkan perangnya di Gaza.

Read More