Persahabatan KH Hasan Mustapa dengan Kolonial

Bandung – 1miliarsantri.net : Haji Hasan Mustapa adalah seorang Sastrawan Sunda terbesar. Lahir di Cikajang, Garut pada tahun 1852 dan menutup usia di Bandung di tahun 1930. Sebagai sastrawan yang tentu banyak menghasilkan karya, mulai dari prosa hingga puisi. Karya nya juga tidak hanya berbahasa Sunda, tetapi juga dalam berbagai bahasa, seperti Arab, Melayu, dan Jawa—walau dalam jumlah yang lebih sedikit dibanding dalam bahasa Sunda. Disamping sebagai sastrawan, Haji Hasan Mustapa juga merupakan salah satu pejabat penting di Pemerintahan Kolonial Belanda. Ia pernah menjabat sebagai penghulu di Aceh dan Bandung hingga pensiunnya. Hidupnya berada di akhir periode Cultuurstelsel dan Politik Etis hingga awal masa pergerakan nasional. Latar belakang sosok Haji Hasan Mustapa adalah pesantren dan tarekat. Sejak kecil dididik dalam lingkungan pesantren dan jaringan tarekat di sekitaran tanah Sunda. Keluarga dari Ibunya pun berasal dari ulama Pesantren sekaligus penganut tarekat, seperti KH. Hasan Basari (Kiarakoneng, Garut) dan Kiai Muhammad (Cibunut, Karangpawitan Garut). Bahkan dalam salah satu karya nya ia menceritakan bagaimana pengalaman ia sebagai santri. Berpindah pindah dari satu pesantren ke pesantren lain—setelah menyelesaikan pendidikan di sana. Berbekal ilmu pesantren yang ia dapat, ia dapat mempelajari ilmu agama lain, seperti Fiqh dan Bahasa Arab. Namun, minat utama Haji Hasan Mustapa adalah kepada mistisme (tasawuf). Hubungan ia dengan guru tarekat nya, Kiai Muhammad membuat ia diminta menggantikan guru nya yang lain setelah meninggal. Mereka kemudian berangkat ke Mekkah yang kemudian tinggal disana selama 6 tahun. Selama di Mekkah, ia juga berguru kepada banyak ulama tarekat disana. Baik dari kalangan Qadiriyah, Naqsabandiyah, maupun Syattariyah. Bahkan C. Snouck Hurgronje pun pernah menyatakan bahwa Haji Hasan Mustapa pernah berguru kepada Ulama Terkenal Asal Banten, Syaikh Nawawi Al-Bantani. Singkatnya, Haji Hasan Mustapa tidak bisa dilepaskan dari poros jaringan Sayyid Ulama Hijaz. Pertemuan pertama antara Haji Hasan Mustapa denga C. Snouck Hurgronje diperkiran ketika Haji Hasan Mustapa tinggal di Mekkah selama belasan tahun (1860-1862, 1869-1873, 1880-1885), pertemuan itu diperkirakan pada tahun 1885 M. Saat C. Snouck Hurgronje ‘menimba’ ilmu selama 6 bulan di Mekkah. Pertemuan itu semakin mempererat keduanya. Komunikasi antar keduanya terus berlanjut. Karena keduanya sama-sama menguasi Bahasa arab, maka korenspondensi antar kedua nya dilakukan dalam Bahasa arab. Hubungan persahabatan itu berlanjut bahkan kedua nya berjanji bertemu di Hindia Belanda. Tahun 1889, C. Snouck Hurgronje tiba di Hindia Belanda. Bahkan istri kedua Snouck di Hindia Belanda, Siti Sadijah adalah putri dari wakil penghulu Priangan saat Haji Hasan Mustapa menjabat sebagai penghulu priangan. Kemudian, karena kedekatan keduanya, C. Snouck Hurgronje pun mengajak Haji Hasan Mustapa berkeliling di daerah Sunda dan Jawa. Mengunjungi Ponorogo, Madiun, Surakarta, Yogyakarta, termasuk ke beberapa pesantren. Haji Hasan Mustapa selepas melakukan perjalanan banyak menyalin berbagai primbon, kitab, dan pustaka jawa yang kemudian diserahkan kepada C. Snouk Hurgronje. Termasuk perihal buku-buku tasawuf. Untuk itu, Haji Hasan Mustapa dibayar sekitar f 50 per bulan. Selanjutnya, ia pun disarankan oleh C. Snouck Hurgronje menjadi Penghulu di Kutaraja Aceh. Sebab C. Snouck Hurgronje kagum terhadap sosok Haji Hasan Mustapa. Menjelang pengangkatan sebagai Penghulu Kutaraja Aceh, C. Snouck Hurgronje mengirimkan surat kepada sekertaris pemerintahan di Buitenzorg yang berisi : Haji Hasan Mustapa telah dikenal sangat dekat sejak kurang lebih 10 tahun dan selama waktu itu rasa hormat C. Snouck terhadap watak dan bakatnya yang benar-benar langka, semakin bertambah. Pemukimannya selama 13 tahun di negara Arab didahului oleh telaah beberapa tahun di Priangan, kampung halamannya, telah menyebabkan ia mencapai tingkat yang luar biasa tingginya mengenai syariat Islam untuk daerah-daerah ini. Di negara Arab maupun sesudah ia pulang ke kampong halamannya pada 1885, ia seorang guru yang dihormati dan dicintai. Beberapa karya telah diterbutkannya dalam Bahasa Arab..

Read More

Baiat Para Sahabat dihadapan Rasulullah

Surabaya – 1miliarsantri.net : Dalam membantu dakwah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, para Sahabat lah yang menjadi garda terdepan. Hal ini dibuktikan dengan ucapan sumpah setia (baiat) para sahabat yang diucapkan langsung di hadapan Rasulullah. Syekh Muhammad Yusuf Al-Kandahlawy dalam Sirah Sahabat membagi macam-macam baiat yang dilakukan sahabat di hadapan Rasulullah: Pertama, baiat untuk Islam. Dari Mujasyi bin Mas’ud dia berkata, “Aku menemui Nabi bersama saudaraku lalu kukatakan kepada beliau, ‘Kami hendak berbaiat untuk hijrah’. Beliau bersabda, “Hijrah telah berlalu, diperuntukkan bagi orang-orang yang melakukannya,”. Aku bertanya, “Lalu untuk apa engkau membaiat kami?”. Beliau menjawab, “Untuk Islam dan jihad,”. Kedua, baiat untuk melaksanakan amal-amal Islam. Ahmad mentakhrij dari Jarir, dia berkata, “Aku berbaiat kepada Rasulullah untuk melaksanakan shalat, mengeluarkan zakat, dan memberikan nasihat kepada setiap orang Muslim,”. Ibnu Ishaq, Ibnu Jarir, dan Ibnu Asakir dari Ubadah bin Ash-Shamit, dia berkata, “Aku termasuk salah satu dari 11 orang yang ikut dalam baiat Aqabah yang pertama. Kami berbaiat kepada Rasulullah SAW seperti baiat para Muslimah Makkah yang hendak hijrah, sebelum beliau mewajibkan perang kepada kami. Kami mengucapkan baiat kepada beliau untuk tidak menyekutukan sesuatu pun dengan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membuat-buat kedustaan di antara tangan dan kaki kami, tidak membunuh anak-anak kami, tidak mendurhakainya dalam hal yang makruf. Siapa yang memenuhinya maka baginya surga, dan siapa yang melanggar sebagian di antaranya, maka urusannya kembali kepada Allah. Apabila menghendaki, maka Allah akan mengadzabnya dan jika menghendaki maka Allah akan mengampuninya,”. Ketiga, baiat untuk hijrah. Dari Al-Harits bin Ziyad As-Sa’idy dia berkata, “Aku menemui Nabi sewaktu perang Khandaq. Saat beliau sedang membaiat orang-orang untuk hijrah. Kami mengira bahwa orang-orang selain mereka itu (dari kalangan Anshar) juga diminta untuk berbaiat,”.

Read More