Catatan Kelam Jurnalis Peliput Perang Gaza dan Beberapa Bentuk Pembunuhan Terhadap Wartawan
Gaza — 1miliarsantri.net : Dalam unggahan di akun pribadinya, salah satu wartawan Palestina yang kerap mengabarkan kondisi terkini di Gaza, Palestina, menulis pesan mengharukan. Ia berpesan, “Dulu, saya selalu memakai rompi Press dan helm saya. Tapi, akhir-akhir ini saya merasa tidak aman di Gaza, bahkan saat tidur saya merasa tidak aman. Saya berharap mimpi buruk ini segera berakhir. Saya berharap kita tidak lagi kehilangan jurnalis,” tulisnya via @byplestia.
Postingan itu disertai gambar rompi Press berwarna biru muda. Rompi Pers berdarah itu milik wartawan yang menjadi korban pemboman Zionis.
Sebagaimana diketahui, Genosida tak hanya membunuh orang dewasa. Tapi juga paramedis, jurnalis, semua yang tak bersenjata, bahkan anak dan bayi-bayi tak berdosa. Genosida di Gaza mencatatkan sejarah kelam bagi dunia Barat.
Genosida di Gaza, membuka topeng kemunafikan Barat. Begitu sindir Jubir Brigade Al Qassam, Abu Ubaidah. Meski staf PBB, dokter sampai jurnalis pelbagai media tewas, tapi sampai detik ini tak ada sanksi apapun untuk Israel.
Organisasi nonprofit Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) yang berbasis di New York, Amerika Serikat menyebut bertambahnya kematian jumlah jurnalis dan pekerja media yang telah dikonfirmasi tewas di Gaza, menjadi 48 orang sejak 7 Oktober lalu.
Namun, hanya selang hari, jumlah itu bertambah lagi menjadi 60 orang. Hal itu terungkap lewat laporan saluran berita Aljazirah yang berbasis di Qatar, pada Minggu (19/11/2023).
Kementerian Luar Negeri Palestina menyampaikan lewat media sosial bahwa dua jurnalis Palestina, Sari Mansour dan Hassouneh Salim, telah dimakamkan pada Minggu. Mereka terbunuh dalam serangan udara Israel di kamp pengungsi Bureij yang terletak di bagian tengah Jalur Gaza, sehari sebelumnya.
Sementara itu kantor berita resmi Palestina Wafa melaporkan, serangan udara Israel terhadap sebuah rumah di Kota Gaza menyebabkan beberapa warga Palestina gugur, termasuk jurnalis perempuan Alaa’ Taher al-Hasanat. Artinya, jumlah jurnalis tewas bertambah lagi, lebih dari 60 jiwa.
Pembunuhan terhadap wartawan di Gaza, seakan menjadi hal biasa. Padahal dalam hukum internasional, wartawan perang yang meliput di area konflik, berhak mendapat perlindungan dan tidak boleh disakiti. Apalagi dibunuh. Tapi di Gaza, seakan itu semua tak berlaku.
Bukan saja jurnalis yang dibunuh, tapi juga keluarga mereka. Beberapa kali dikabarkan, rumah-rumah jurnalis menjadi sasaran pemboman Zionis Israel. Para penjajah itu seakan ingin menutupi kekejian mereka dengan membunuh semua jurnalis yang meliput kondisi realtime di Gaza.
Kalau dulu, kita hanya mendapat informasi dari media-media Barat, kini di Gaza berbeda. Para wartawan Palestina di sana, kerap menyiarkan siaran langsung melalui akun pribadinya. Ada pula yang membuat channel Telegram, mengabarkan waktu ke waktu apa yang baru saja terjadi di sana. Publik mendapat kabar terhangat tanpa sensor, langsung dari Gaza.
Yang tentu saja, hal itu membuat Zionis Israel kesal. Kebiadaban mereka begitu telanjang di depan mata dunia. Bahkan dampak liputan dan unggahan-unggahan wartawan di Gaza, memantik aksi damai nyaris di seluruh dunia. Beberapa membawa poster berisi foto-foto wartawan Gaza, dan mengapresiasi mereka. Media pro Israel, menjadi bullyan karena kerap kali hanya menyiarakan narasi sesuai keinginan Zionis.
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


